Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+
Warning : OOC, OC, headcanon author.
.
.
Iwatooshi tidak pernah lengah. Sebagai satu-satunya anggota kelas naginata yang ada di honmaru itu, ada sebuah impresi awal bahwa ia toudanshi yang sangat kuat.
Nyatanya, ia juga harus memulai dari awal seperti toudanshi lain.
(Kalau disuruh untuk mengulang lagi latihan spartan dari sang aruji hingga sampai ia ada di level sekarang, dengan tegas ia akan menolak.)
Sebagai yang termasuk baru datang ke honmaru, waktunya bersama dengan sang saniwa bisa dibilang tak sebanyak yang lain.
Tentu saja hal itu tak mengurangi respek yang ia miliki pada sang saniwa. Terlepas dari urusan dengan bayi waktu itu, Iwatooshi mendapat kesempatan melihat sendiri kemampuan sang saniwa dalam beberapa misi setelah itu.
Contohnya, seperti saat ini.
"Hei, bilang ya kalau kau sudah tidak bisa berlari."
Iwatooshi menoleh ke samping kiri, posisi sang saniwa yang juga berlari dengan wajah pucat. Satu anggukan dari sang saniwa membuatnya kembali memperhatikan arah lari mereka.
Situasi dan kondisi dapat berubah kapan saja, seperti cara mereka bisa terlempar ke tempat seperti ini.
Satu detik yang lalu, mereka sedang menjalankan misi seperti biasa. Detik berikutnya, tanah di bawah kaki sang saniwa berubah menjadi semacam portal. Bahkan Iwatooshi yang berusaha menariknya keluar malah ikut terseret masuk.
"Tempat apa ini…"
Dan sekarang mereka berada di tempat aneh ini, terpisah dari anggota kelompok misi yang lain.
"...Entahlah."
Iwatooshi melirik sekilas pada jawaban terlambat dari sang saniwa, tapi ia kembali fokus pada arah lari mereka.
Lurus, berbelok kanan. Beberapa reruntuhan yang menghalangi jalan. Lantai-lantai kayu patah sepanjang mata, kadang timpang tindih dengan material asing— mungkin besi, Iwatooshi jarang melihat lapisan besi sebesar itu selain bilah pedang. Salah satunya ada di atas mereka, lapisan besi raksasa tersebut tampak bisa roboh kapan saja hingga Iwatooshi segera menarik sang saniwa saat berlari di bawahnya.
Beberapa belokan lagi. Kiri, mereka nyaris jatuh karena ternyata lantai kayu yang terputus. Iwatooshi melompat, tangan berhasil meraih sang saniwa tepat waktu, lalu mereka lanjut berlari.
Butuh beberapa saat bagi Iwatooshi untuk menyadari ada sesuatu yang salah pada orang yang ia bawa di tangan kirinya. Sang saniwa tak pernah diam selama ini, atau keadaan mereka saat ini lebih serius dari yang ia kira. Dan area perut yang dipegang oleh tangannya ini….
"Kau terluka?!"
Iwatooshi akan berhenti dan menurunkan sang saniwa. Perempuan itu segera menghentikannya.
"Cari tempat aman dulu." Sang saniwa meringis, mengedarkan pandangan pada area terbuka penuh reruntuhan di sekitar mereka.
Ia hanya melirik sekilas ke arah perutnya. Warna merah mulai merembes dari kain putih, nyaris menetes ke arah baton dengan ujung penuh potongan kain —sebuah saihai. Benda itu di bawah sang saniwa khusus untuk misi kali ini. Entah apa gunanya untuk keadaan mereka saat ini.
"Ini hanya tergores yari saja. Kita harus tetap bergerak."
Iwatooshi hendak menyanggah lagi, berujung dengan menggelengkan kepala pada dirinya sendiri sebelum kembali berlari membawa sang saniwa. Perkataan tadi ada benarnya, sebuah klaim yang membuat sifat keras kepala sang saniwa dalam keadaan seperti ini semakin terlihat.
Karena itulah sang naginata semakin khawatir ketika ia merasakan deru napas sang saniwa semakin melambat.
Di ujung matanya, Iwatooshi menangkap sebuah reruntuhan besar yang jatuh sedemikian rupa hingga hanya menyisakan ruang seperti gua. Sebuah tempat yang cocok untuk istirahat sesaat.
Segera ia berganti arah menuju area itu.
"Kiri-kanan kita tertutup banyak reruntuhan."
Dengan nada tak ingin mendapat protes dari sang saniwa, Iwatooshi menurunkan perempuan itu ke posisi duduk bersandar dan mulai membuat perban darurat.
"Anggap saja aman."
Ada yang aneh dengan sang saniwa. Entah apa, naginata itu tak dapat mengatakan dengan tepat. Kalau benar lukanya tidak terlalu berat, ia pasti sudah menyerocos panjang lebar seperti yang biasa dilakukan untuk mengalihkan tatapan khawatir para toudanshi yang pergi bersamanya saat misi.
Lihat saja sekarang. Selama ia sibuk membalut luka sang saniwa, tangan perempuan itu sibuk memainkan kalung di lehernya. Sebuah kebiasaan baru saat memikirkan sesuatu.
'Kalau bukan karena masalah luka fisik…'
Terkejut, amarah, takut— Iwatooshi sempat melihat perasaan seperti itu tersirat sesaat dari mata sang saniwa. Mungkin rasa familiaritas itu yang membuat perempuan itu terguncang, ketika mereka pertama kali membuka mata pada tempat yang seperti kastil tua ini.
Setelah itu mereka harus menghadapi beberapa gelombang musuh dan terus berlari tanpa henti.
Baru sekarang Iwatooshi dapat memperhatikan baik-baik topografi tempat mereka berada.
Tempat ini tampak terbentuk dari reruntuhan kayu dan hiasan kertas dinding terbengkalai setelah perang. Ada kesan asing dari semua khas arsitektur Jepang yang tersisa. Sebagian besar karena banyak bahan yang ia pikir adalah besi, seakan menabrak kastil itu dari segala arah. Beberapa tampak bersih, beberapa tampak berkarat dan siap rubuh kapan saja.
Iwatooshi dapat melihat keluar bangunan yang tampak sangat tinggi ini, setelah mereka memanjat tangga yang ada, hanya saja tak ada pemandangan yang dapat dilihat. Kegelapan saja yang bisa ia lihat, garis horizon pun tak bisa ditemukan.
Bau khas laut yang sangat menyengat seolah memberi ilusi kalau mereka ada di sebuah pagoda di tengah samudra.
...Ia mulai berharap Yamanbagiri Kunihiro yang ada di sini sekarang. Mungkin uchigatana yang paling pertama berada bersama sang saniwa lebih tahu dengan medan area ini. Atau setidaknya diberi tahu sesuatu oleh sang saniwa.
Mereka harus tetap bergerak dan Iwatooshi membutuhkan arahan sang saniwa untuk membawa mereka keluar dari sini, entah bagaimana caranya.
"Aruji, tetaplah berbicara." Bujuk Iwatooshi. "Ceritakan sesuatu. Apa saja."
Pandangan kosong sang saniwa akhirnya kembali fokus pada suara Iwatooshi.
"Cerita…? Hm…Tentang apa?"
"Entahlah? Tempat kerjamu?" Semua penghuni honmaru mereka tahu, selain pergi misi dan berada di depan hologram, sang saniwa masih memiliki tugas lain selain dimensi waktu ini.
Sang saniwa masih punya kekuatan untuk mendengus setelah mendengar itu.
"...Kamu curiga dengan tempat aneh ini kan, Iwatooshi?"
Iwatooshi tertawa. Sang saniwa masih dapat menimpali apa yang ia katakan. Untung saja darah yang keluar dari luka di perut tadi sudah diperban. Untuk sementara, keadaan tampak terkendali.
"Bagaimana kalau kita bicara tentang… Kenapa kita bisa ada di tempat seperti ini?"
"Aruji."
Bisa-bisanya sang saniwa berusaha merubah topik.
"Kita sedang mencari bilah yari bernama Nihongou. Imanotsurugi mengintai, tapi tak kembali cukup lama. Mutsunokami, Uguisumaru, Hotarumaru, Shokudaikiri dan kamu memutuskan untuk menyusul saja. Lalu entah bagaimana, aku sudah setengah jalan ke bawah tanah karena lubang hitam aneh itu."
Dan selama memberikan rangkuman seperti itu, sang saniwa hanya berhasil membuka sebuah hologram kecil sebesar telapak tangan. Mata Iwatooshi mengikuti gerakan tangan sang saniwa yang mengguncang hologram itu dan menekan beberapa tombol.
"Ah, lalu," sang saniwa tersenyum lelah, "sekarang kita terperangkap di sebuah dimensi tanpa sinyal. Tidak ada Konnosuke, tak bisa mengontak kontrol pusat."
"Tapi kau punya… Satu benda hologram itu?"
"Ini? Ini hologram personal dari chip yang ditanam dalam tubuh. Fungsinya berbeda."
"Ditanam?!"
"Oh, setiap orang dari alur waktuku wajib memilikinya."
"Hoh?" Iwatooshi bergumam. "Dan kurasa di masa depan tidak banyak bangunan seperti ini. Kalau tidak, tak mungkin kau kaget seperti tadi. "
"...Kamu ini... benar-benar ingin membicarakannya, ya?"
Helaan napas sang saniwa terdengar seperti tanda menyerah.
"Baiklah— ini hanya perkiraanku saja, mungkin tempat ini terbentuk dari campuran memori kita berdua."
"...Kenapa?"
Sang saniwa menoleh ke sekitar mereka, menunjuk ke arah reruntuhan pintu kertas dan pilar kayu terdekat. Area itu tidak bercampur dengan beberapa pilar besi seperti area lainnya. Malahan yang mencolok dari reruntuhan kayu itu adalah gambar detail yang tersisa dari pintu kertasnya.
"Aku memang tinggal di bangunan seperti honmaru, tapi tak sampai mengingat detail pintu seperti itu. Lagipula... jenis gambarnya, terlihat sangat antik. Itu datang dari era dari apa yang fisikmu dulu lihat."
Iwatooshi tak menyangkal apa yang dikatakan sang saniwa. Meski ia sendiri tidak yakin, tapi memang ia tak merasa asing dengan tipe bangunan seperti itu.
Yang lebih asing baginya adalah...
"Kalau besi-besi yang kau lihat ini…" sang saniwa melanjutkan, "sebenarnya bukan dari alur waktu tempatku berasal."
"Hah?" Iwatooshi langsung mengernyit. Dia sangat yakin sang saniwa mengenali benda-benda itu, tapi ternyata bukan dari kehidupannya sehari-hari? "Lalu, kau tinggal ditempat seperti apa sampai melihat banyak besi ini?"
"...Dekat sebuah pangkalan laut abad 19."
Cukup lama, sampai bentuknya dapat kuingat cukup seperti ini. Sang saniwa membuka mulut, tapi segera menutupnya lagi. Ia memberikan gestur agar Iwatooshi membantunya berdiri.
Mereka berdua lanjut berjalan untuk mencari jalan keluar.
"Sepertinya mimpi buruk yang waktu itu adalah uji coba mereka untuk membuat… semua ini."
Butuh beberapa saat sampai Iwatooshi mengerti apa yang dibicarakan. Ah, ia ingat. Cerita itu, sebuah kejadian yang terjadi sebelum ia datang ke honmaru.
"Dan sekarang," sang saniwa menatap sesuatu di kejauhan, "dugaanku semakin kuat karena itu."
Tak ada sumber cahaya yang terlihat jelas, tapi titik dengan spektrum warna yang ditunjuk sang saniwa membuat mulut Iwatooshi terasa kering.
Sebuah jembatan, kokoh membentang dibalik reruntuhan.
"Sepertinya ingatanmu tentang kejadian itu sangat kuat— dan aku juga tahu karena legendanya sangat terkenal."
Meski sang saniwa mengatakannya seperti itu, pikiran Iwatooshi sempat pergi ke arah lain. Jembatan ketika tuannya yang dulu bertemu Minamoto no Yoshitsune? Atau simbolisme jembatan terakhir tempat tuannya mati berdiri.
Seakan ia diingatkan bahwa tuannya yang dulu hanya melindungi satu orang saja. Sama seperti saat ini.
Gerakan di ujung jembatan membuatnya segera berlutut, menarik sang saniwa untuk bersembunyi di balik puing dinding kayu. Sang saniwa mengikuti arah pandangnya dan terkesiap.
Imanotsurugi yang menghilang di awal misi, kini berada di atas jembatan. Bersama satu kelompok Kebiishi.
Tangan Iwatooshi yang menekan pelan bahunya membuat sang saniwa menyadari bahwa tubuhnya hendak bergerak menuju jembatan itu.
"Ada yang aneh."
Segera menenangkan diri, sang saniwa baru menyadari apa yang dimaksud sang naginata.
"...Mereka sedang berbicara."
Sebuah situasi yang membuat keduanya lega karena Imanotsurugi baik-baik saja. Tapi dengan jarak yang tak dapat mendengar atau membaca bibir, mereka tak tahu situasi seperti apa yang sedang terjadi di atas jembatan.
"Sekarang bagaimana, aruji?"
Mereka sudah menemukan toudanshi yang mereka cari, mereka tak perlu berlama-lama lagi di tempat ini.
Sang saniwa melirik ke arah saihai yang masih tergantung di pinggangnya.
"...Aku punya rencana."
.
.
Situasi ini sangat, sangat, salah.
Imanotsurugi hanya bisa berharap sang saniwa mengerti apa yang sedang ia lakukan saat ini.
Hari ini seharusnya berjalan seperti biasa. Imanotsurugi mengintai musuh terlebih dulu sebelum kelompok mereka mulai menyerang, sama seperti misi-misi sebelumnya. Seharusnya ia menyadari hawa dingin yang tiba-tiba muncul. Seharusnya ia cepat menyadari cengkeraman di kakinya. Hanya gelap dan kelam yang menyambut, padahal ia sudah membuka mata.
Seharusnya ia segera lari, tapi tubuhnya membeku di tempat setelah pemandangan di sekitarnya berubah. Aroma tanah pegunungan. Warna merah kayu kuil yang tersebar di antara hijau pepohonan.
Pengalamannya sebagai toudanshi dan pergi ke berbagai alur waktu bersama sang saniwa membuatnya sering melihat satu tempat dengan alur waktu yang berbeda. Tempat ini tidak seperti itu. Tempat ini meneriakkan sebuah rasa familiar baginya.
"Ini…"
"Nyata, setidaknya, untuk kita."
Imanotsurugi sudah siap dengan kuda-kuda untuk bertarung, bilahnya segera terhunus di tangan.
Suara sedingin es. Musuh yang tiba-tiba muncul di belakangnya adalah satu Kebiishi yari. Beberapa kali bertemu dengan mereka tak pernah membuatnya terbiasa.
Tapi selain kata-kata tadi, Kebiishi yari itu tidak melakukan gerakan lain.
"Apa maumu?!"
Yang paling mengerikan bagi Imanotsurugi adalah gestur tubuh sang musuh. Tampak sangat santai.
"Tidak ada. Kami hanya berpatroli seperti biasa. Lihatlah sendiri."
Bagaimana bisa Imanotsurugi melupakan itu. Tugas asli kelompok Kebiishi pada jaman Heian berjaya.
Seakan ada sebuah aba-aba, terdengar riuh rendah suara manusia.
Kebiishi itu sudah berbalik pergi dengan rombongannya, bergerak melawan arus orang-orang berpakaian pendeta dan para dayang yang berbaris rapi.
Tanpa tujuan, tanpa tahu cara untuk bertemu sang saniwa. Bagai terhipnotis, Imanotsurugi mengikuti langkah mereka.
Dari sibuknya persiapan ritual di area para aristokrat, hingga ramainya jalanan utama ibu kota. Imanotsurugi mulai mengerti konsep 'ilusi', melihat bagaimana para sosok manusia tampak tak memperhatikan mereka. Rupa tinggi menjulang dalam cahaya kebiruan para Kebiishi tampak normal saja bagi mereka.
"Tempat apa ini…?"
Ia mengatakannya lebih kepada dirinya sendiri, tapi Kebiishi yari itu mengeluarkan suara seperti tertawa.
"Kamu sendiri yang paling tahu."
Itulah hal yang tidak ingin Imanotsurugi dengar. Tantou itu sudah merasa semakin goyah dalam situasi seperti ini. Dalam kebinungannya itu, langkah kakinya masih mengikuti kumpulan Kebiishi itu. Mereka sudah setengah jalan menyeberangi jembatan.
"Tidak, tidak. Ini aneh! Kenapa aku ada di tempat seperti ini?" Cengkeraman di kakinya tadi. "Kenapa aku dibawa ke tempat ini?!"
"Kau tidak ingin berada di tempat ini?"
Imanotsurugi tidak langsung menjawab.
Jika ia tidak melihat lagi era dengan suasana persis seperti yang ia ingat, mungkin Imanotsurugi tidak akan merasa seperti ini. Tidak ingin pergi. Ingin tetap berada di sini. Selamanya.
"Aneh sekali. Kalian mencoba strategi baru ya?"
Suara ringan itu segera membuatnya tersadar.
Iwatooshi datang dari sisi lain jembatan. Kedua tangan melingkar pada gagang naginata yang tersampir di pundak. Bersama langkah kakinya, gambaran pepohonan dan langit mulai membuyar menjadi hitam kelam dan reruntuhan pilar kayu.
"Gahahaha! Untuk apa kalian, yang 'ingin menjaga alur waktu', berusaha memberi ilusi seperti ini?"
Sangat berkebalikan dari tujuan mereka.
"Ilusi? Era ini tidak pernah tersentuh tangan kalian."
"Benar sekali. Karena aku, Ima dan kalian, kita tidak seharusnya punya ingatan tentang tempat seperti ini."
Imanotsurugi tak mengerti apa yang dibicarakan Iwatooshi. Nadanya terdengar pahit, ragu. Apa yang naginata itu ketahui dan ia tidak ketahui? Imanotsurugi ada bersama sang saniwa lebih dulu, kenapa Iwatooshi seakan ada lebih lama?
Tampaknya sang Kebiishi yari mengerti apa yang dibicarakan, karena suaranya saat bicara menjadi seperti geraman dan sangat kasar.
"Tidak! Era inilah yang… Alur waktu ini yang seharusnya…!"
"Aah, tapi kalian tidak bisa mengatakan itu. Kalian hanya sekumpulan jiwa dari bilah pedang yang digunakan Kebiishi yang asli."
Mata Imanotsurugi bertemu sesaat dengan sang naginata. Ia juga melihat gerakan tangan yang dibuat Iwatooshi saat merubah posisi naginata dari pundaknya. Sebuah gerakan yang dibesar-besarkan. Ke arah… sana? Kiri? Sang tantou berharap ia tidak salah mengira.
Senyuman hilang dari wajah Iwatooshi, bersamaan dengan dentuman ujung tumpul naginata bertemu lantai kayu jembatan.
Imanotsurugi memakai kesempatan ini untuk keluar dari arah pandang para Kebiishi.
"Karena kalian bukan manusia. Kalian tidak ingin menghilang. Ini adalah dimensi yang ideal hanya untuk kalian."
Setelah itu Imanotsurugi mendengar raungan menusuk telinga, dentum amunisi mesiu, desing panah dan batu dari seluruh arah mata angin.
Ia fokus pergi ke arah kiri, melompati tiap tiang jembatan dengan cepat dan gesit. Lompatan terakhirnya di atas bilah naginata Iwatooshi yang diarahkan sebagai pijakan, membawanya melambung tinggi di atas tempat pertarungan.
Dari posisinya di atas jembatan, meski beberapa detik saja, ia dapat melihat bagaimana pemandangan tempat itu berubah sepenuhnya menjadi reruntuhan digenangi air. Benar-benar sebuah ilusi yang sangat nyata.
Imanotsurugi juga menemukan sang saniwa, yang bersembunyi di balik reruntuhan dan para pasukan pemanah yang membantu Iwatooshi— bagaimana cara aruji memanggil mereka ke tempat ini?
Gemuruh mengerikan mengubah nada suara yang hendak dikeluarkan Imanotsurugi.
"Aruji! Lari!"
.
.
Ia terlambat mendengar peringatan sang tantou. Suara memekakkan telinga dari arah belakangnya menelan suara lain disekelilingnya.
Tidak ada tanda-tanda hal seperti ini akan terjadi. Sejak Iwatooshi membawanya berlari tadi, hanya ada reruntuhan kayu dan plat baja berkarat saling tumpuk di atas genangan air tenang.
Tidak, mengingat sebagian dari tempat ini berasal dari ingatannya…
Tapi mengingat dan mengalaminya lagi, merupakan dua hal yang berbeda.
Tangannya melempar saihai pada Imanotsurugi. Rumbai dari bahan kulit berwarna putih kekuningan itu melambai kaku di udara. Matanya tak lagi mengawasi area Iwatooshi di jembatan. Ombak raksasa di depannya bergerak sangat cepat dan menelan semua yang ada di depannya.
Yang membuat sang saniwa memejamkan mata dan menghirup napas sebanyak mungkin adalah refleks. Banyak pikiran lain berseliweran dalam otaknya; lelucon macam apa ini, ombak itu besar sekali, Iwatooshi dan Imanotsurugi mungkin akan terseret juga bersama para Kebiishi itu dalam ombak ini, lalu…
Kenapa saihai yang ia kibaskan sesuai protokol dan energi spiritual yang diperlukan belum berfungsi juga?
Jawaban dari pertanyaan terakhir dari kepalanya datang dalam bentuk cahaya terang di atas permukaan air. Sang saniwa mengabaikan denyut tak asing dari punggungnya dan mulai berenang ke atas sana. Hanya ada tekanan dan dengung dari pergerakan air.
Lalu ia mendengar pekik nyaring. Tidak, itu sumber dari getaran air aneh di bawahnya.
Cakar besar menyambar kakinya. Sang saniwa mengernyit, menahan diri untuk tidak berteriak atau membuka mulut. Ia menoleh ke bawah dan menghentakkan kaki sekuat mungkin. Ada berapa banyak Kebiishi di tempat ini?!
Sang saniwa masih memiliki kekuatan untuk memakai energi spiritualnya yang tersisa, membuka kipas tessen di dalam tekanan air, menebas air dengan satu sapuan hingga menghentakkan dirinya dari cakar itu. Meski gerakan itu membuat luka di perutnya terbuka kembali.
Apa yang terlihat seperti permukaan air sudah ada di depan mata.
Ia cukup percaya diri dengan kemampuannya menahan napas di dalam air. Bahkan dalam keadaan seperti ini.
Hingga panik mulai mendatangi, ketika terasa lagi cengkeraman yang menusuk kaki dan punggung.
Sang saniwa dapat merasakan darah keluar dari tubuhnya. Mulut refleks menjerit, hanya disambut dengan degukan panik dan semburan gelembung udara.
Tidak, tidak, tidak. Ia tidak bisa berakhir di sini.
Tebersit sebuah pikiran lain.
Tidak apa kalau berakhir seperti ini, bukan? Ini yang seharusnya terjadi waktu itu.
Pegangannya pada tessen mengendur. Semua terasa kebas. Air memasuki paru-paru. Tangan tak bisa menarik bilah pedang miliknya yang masih tersampir di pinggang. Air di sekelilingnya menyeruak. Sebuah cahaya di atas sana.
Siluet kerang tampak di depan matanya. Kalungnya secara ajaib masih melekat di leher.
Oh.
Sebelum ia menutup matanya yang terasa berat, ia melihat sebuah wajah familiar.
Sang saniwa menutup mata dengan rasa lega merambati sekujur tubuh.
