Disclaimer : Touken Ranbu © DMM & Nitro+

Warning : OOC, OC, headcanon author.

.


.

Ia tidak menyangka akan ada hari seperti ini di honmaru mereka.

Tentu, matahari tetap terbit dari timur. Kicau burung di pagi hari masih terdengar. Mereka semua mengerjakan tugas mereka hari itu sesuai jadwal masing-masing. Percakapan masih terdengar dari berbagai sudut ruangan, meski lebih pelan dan sedikit dari biasanya.

Hanya kurang satu suara saja selama tiga hari ini.

Dari semua yang pernah mereka hadapi, baru kali ini situasi nyawa sang saniwa membuat mereka resah.

"Sudah kejadian seperti ini, baru terasa kalau dia itu manusia."

Mikazuki Munechika memberi senyuman simpul pada celetukan toudanshi di sampingnya.

Tak ada imo-kenpi yang biasanya menjadi cemilan, hanya dua gelas teh dan teko yang mulai mendingin. Kogitsunemaru bahkan belum menyentuh gelasnya sama sekali.

Suasananya memang kurang bagus untuk bersantai. Mikazuki sendiri masih bisa tersenyum karena tahu saniwa mereka masih bisa bertahan hidup.

"Haha, benar. Dia adalah seorang manusia yang sangat beruntung."

"Dan sangat berpikir cepat." Kogitsunemaru ikut tersenyum, tapi tak lama. "Untung saja benda baru itu berfungsi baik."

Mereka berdua berada dalam kelompok lain saat misi tiga hari yang lalu. Mikazuki juga ingat bahwa sang saniwa bahkan tak pernah memakai benda bernama saihai itu selama sistem misi yang baru. Satu kelompok akan maju terus sampai bertukar tempat dengan kelompok lain. Benda itu berfungsi untuk memanggil kembali kelompok yang sudah selesai gilirannya.

Semua terkejut ketika kelompok yang dipimpin Yamanbagiri Kunihiro, yang baru saja menyelesaikan urutan mereka, kembali memasuki portal. Hal aneh kembali terjadi ketika hanya empat dari enam toudanshi yang kembali. Mutsunokami masih sempat menjelaskan bagaimana mereka terpisah dengan sang saniwa, sebelum kericuhan berikutnya terjadi.

"Kalau keadaannya normal, pasti dia akan rapat lama dengan atasannya sampai hari ini." Gumam Kogitsunemaru.

"Kurasa mereka juga paham kondisinya saat ini bahkan belum stabil."

Hal itu membuat Mikazuki Munechika teringat sesuatu.

"Apa Konnosuke sudah muncul lagi?"

Kogitsunemaru memandangi tehnya yang sudah dingin. "Kalau menurut orang itu, rubah honmaru kita sudah berfungsi normal lagi sekarang."

"Ah, baguslah."

Dari tempat mereka berdua duduk, terlihat sosok dengan jubah putih familiar melintas dalam naung bayangan koridor luar. Pemandangan yang sering terjadi akhir-akhir ini.

"Kuharap dia juga cepat bangun…"

.


.

Ketenangan ini membuatnya resah.

Seharusnya 'tenang' adalah hal yang baik. Setelah kericuhan beberapa hari yang lalu, keadaan saat ini dapat dibilang lebih terkendali.

Mungkin karena bawaan dasar suasana malam. Mungkin karena ia dapat mendengar deru napas sang saniwa mulai membuat ritme normal.

Yamanbagiri Kunihiro akhirnya mengerti istilah 'jantung nyaris berhenti'. Ia masih tak percaya mereka dapat keluar dari misi yang nyaris gagal itu.

Sistem misi yang mereka jalankan hari itu agak berbeda. Dengan rotasi empat kelompok, sang saniwa dapat memanggil dan menukar kelompok berdasarkan medan tempur mereka.

Kelompok yang dipimpin Yamanbagiri Kunihiro baru saja beristirahat setelah giliran mereka. Kira-kira setengah jam sudah berlalu, ketika sebuah portal terbuka lagi di hadapan mereka.

Tsurumaru tertawa, berkomentar bahwa cepat sekali mereka dipanggil lagi. Komposisi kelompok mereka lebih ke arah pertempuran di malam hari, dengan Tsurumaru sebagai satu-satunya tachi untuk berjaga-jaga.

Tetapi ini pertama kalinya saniwa mereka memanggil lagi kelompok yang sudah bertugas. Yamanbagiri Kunihiro berusaha berpikir positif saat memasuki portal itu.

Ketika udara dingin dan hitam kelam yang menyambutnya di sisi lain portal, wajah uchigatana itu memucat.

Apa yang terjadi?

Sayo Samonji segera membantu Imanotsurugi yang tampak terguncang. Akita, Honebami dan Tsurumaru mendarat di kiri-kanan Iwatooshi yang babak belur melawan Kebiishi.

Kenapa hanya ada Imanotsurugi dan Iwatooshi? Di mana yang lain?

Gokotai meneriakkan sesuatu kepadanya. Yamanbagiri Kunihiro sudah bergerak ke arah energi spiritual yang memanggilnya di bawah air.

Uchigatana itu memejamkan mata. Ia tak mau memikirkan apa yang akan terjadi pada perempuan itu jika ia terlambat meraih tangannya saat itu. Untuk mengirim sang saniwa kembali ke alur waktunya sendiri, sang saniwa harus dalam keadaan sadar dan mengeluarkan energi spiritualnya sendiri. Namun, keadaannya saat ini…

Jika harus memilih, ia akan lebih tenang jika sang saniwa yang harus dipaksa beristirahat setelah lembur seperti biasa.

"Dia akan baik-baik saja."

Apa yang ada dipikirannya, tiba-tiba tersuarakan.

Yamanbagiri Kunihiro nyaris lupa ada orang lain di ruangan ini. Orang yang memasang benda-benda itu untuk membantu kesempatan hidup saniwa mereka.

Ia mengalihkan matanya dari mesin dan selang di sekeliling sang saniwa yang terbaring di atas futon. Konnosuke mereka terbaring diam di dekat kepala sang saniwa, ekor bergerak sesekali dengan lesu. Telinganya terus turun selama tiga hari ini.

Pria di sisi lain ruangan itu memunggunginya— Yamanbagiri Kunihiro belum terbiasa dengan kilat lengan pria itu di bawah sinar lampu. Lengan kanan itu terbuat dari besi, mengeluarkan bunyi klik-klik pelan setiap bergerak menggeser hologram yang sedari tadi ditekuni. Sesekali pria itu melakukan sesuatu terhadap mesin yang tersambung dengan selang dan benda yang membantu sang saniwa bernapas.

Kedatangan pria itulah yang membuat kepanikan segera reda.

Beberapa menit setelah Yamanbagiri Kunihiro membawa saniwa mereka kembali. Konnosuke muncul dengan panik, terpecah-pecah dari udara kosong. Tampaknya Konnosuke mereka sudah memiliki protokol tersendiri dalam keadaan seperti ini.

Lalu pria itu keluar dari portal asing di gerbang honmaru mereka. Setelah mengucapkan beberapa hal, ia segera mengambil alih keadaan. Itu sebabnya mereka ada dalam keadaan seperti ini.

Lamunan sang uchigatana terpecah ketika pria itu bersuara lagi.

"Dia pernah melewati yang lebih buruk dari ini."

Sang uchigatana menarik napas dan menjaga agar suaranya tak bergetar.

"Saya tahu, Saniwa Reizei."

Jemari besi pria bernama Reizei itu terhenti sebentar, lalu lanjut menggeser hilang sebuah hologram.

"Aku bukan saniwa..." gumamnya, "jadi dia menceritakannya padamu."

Tidak mengejutkan kalau pria itu tahu— Reizei datang dari alur waktu yang sama dengan saniwa mereka. Untuk seorang 'kenalan biasa', Reizei cukup dekat dengan saniwa mereka. Terbukti dari ucapannya yang mengetahui perempuan itu sebelum menjadi saniwa.

"Saat pertama kali dia sampai, tidak terlalu rinci." Yamanbagiri Kunihiro akhirnya menjawab. "Sudah tidak seperti itu lagi, untuk saat ini."

"...Hm." Reizei mengernyit mendengar itu. "Kejadian kali ini…?"

"Menurut Iwatooshi, saniwa kami mengatakan situasi itu adalah hasil percobaan terbaru para Kebiishi. Sesuatu tentang gabungan memori."

Kali ini, Reizei benar-benar berbalik ke arah sang uchigatana.

Yamanbagiri Kunihiro masih tak terbiasa dengan pandangan mata kanan palsu pria itu. Ada sebuah suara aneh yang tidak ia kenali ketika pupil mata itu membesar dan mengecil dengan ritme teratur. Sebuah gerakan yang tak terlihat jelas dibalik kulit penuh luka.

"Dia bilang begitu?"

"Kami juga kurang mengerti apa artinya."

"Di mana Iwatooshi kalian sekarang?"

"Konnosuke bisa menunjukkan arahnya."

Mendengar namanya disebut, rubah itu membuat kibasan kecil dengan ekornya. Menoleh sebentar ke arah saniwa mereka yang masih tak sadarkan diri, lalu mulai berjalan ke arah pintu.

Reizei juga mulai bangkit berdiri. Pria itu hendak mengatakan sesuatu pada Yamanbagiri, sebelum disela suara desis pelan dari dalam matanya. Pria itu mematung beberapa saat.

Setengah mendengus, Reizei membuka sebuah hologram dengan cepat dan menggesernya dengan cepat. "Panggil aku kalau dia bangun."

"Tentu saja."

###

Bersama pintu yang digeser menutup, keheningan kembali dalam ruangan itu. Yamanbagiri Kunihiro menghitung waktu dari ritme teratur dari mesin.

Ia tak bergerak dari tempatnya. Mata memandangi wajah pucat sang saniwa. Pikirannya berusaha menjauh dari kemungkinan terburuk.

"Kau pernah bilang..." uchigatana itu berbicara, entah pada dirinya atau sang saniwa, "...suatu hal baru terasa jika sudah terjadi."

Entahlah, kata-kata persisnya bukan seperti itu. Salah satu ocehan panjang-lebar yang keluar dari sang saniwa ketika hanya ada mereka berdua saja di honmaru. Ia sudah lupa persisnya, hanya maknanya saja yang tertinggal.

"Kurasa yang lain masih terguncang juga."

Bibirnya terasa kering. Meski percakapan satu arah, ia tak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk disampaikan.

"Biasanya kau akan mengelilingi seluruh honmaru. Menghindari membuat laporan atau mencari harimau Gokotai— entahlah, mungkin dua-duanya."

Tangan di atas selimut itu dingin ketika ia raih. Tak ada genggaman balik diiringi suara candaan, hanya napas teratur yang menandakan sang saniwa masih bersamanya di tempat ini. Jujur saja, Yamanbagiri Kunihiro lebih menyukai jika sang saniwa ribut seperti biasa— sehat dan baik-baik saja. Sebenarnya...

Dibawanya mendekat tangan itu ke wajahnya. Yamanbagiri Kunihiro menarik napas panjang.

"...Cepatlah bangun."

Hanya itu yang ia perlukan saat ini. Ia tak butuh kalimat panjang untuk menyampaikan keinginannya.

"..."

Butuh waktu beberapa saat untuk menyadari, ada sebuah tekanang di tangannya.

Yamanbagiri Kunihiro sontak menoleh.

Mata sang saniwa terbuka, memandang sayu ke arah sang uchigatana.

"Hei."

Ia tahu sang saniwa ingin mengatakan sesuatu atau bahkan tertawa, keadaan fisiknya yang tak memungkinkan. Satu kata serak itu saja yang keluar setelah lama tak bangun.

"Jangan nangis dong…"

"Aku tidak menangis."

"Kalau kau nangis, aku juga nangis nih…"

Sang saniwa masih punya kekuatan untuk terkekeh, ia ingin menjitaknya.

"Kau ini membuat semua khawatir."

"Tidak akan kulakukan lagi." Balas sang saniwa. "Tenang saja."

Yamanbagiri Kunihiro mengeluarkan tawa singkat.

"Akan kupegang kata-katamu itu."

###

Pada suatu hari, di sebuah honmaru, suara riuh kehidupan terjadi seperti biasa.

.

.


A/N: Halo! Saya mau mengucapkan terima kasih banyak untuk yang sudah membaca dan like fanfic ini dari awal sampai chapter akhir! \(≧▽≦)/