sendirian.

tatapan dari mata bewarna darah itu melukiskan kesendirian, kosong tak berarti. kehilangan sesuatu yang berharga di hidupmu adalah sesuatu pukulan yang menyakitkan.

dia masih berumur tujuh tahun, tapi dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya. dia terlalu dimanja oleh kedua orang tuanya, kehilangan mereka menganggu mentalnya, dia bagaikan anak yang hidup tanpa emosi.

mata merahnya beralih menatap rembulan, suasana sunyi di taman membantunya untuk merenung tak menentu.

"kenapa?" ucapnya tanpa makna berarti. "kenapa kalian meninggalkanku" ucapnya lagi.

"hey, kau baik-baik saja?" sebuah suara dari belakang ayunan yang dia duduki selarang, menyentak kesadarannya. dia berbalik menemukan seorang anak laki-laki seusianya berjalan cepat kearahnya.

"kau... siapa?" tanyanya datar meski dalam suaranya mengandung kegugupan. ia segera berdiri dan mengambil jarak dengan anak laki-laki itu.

"harusnya aku yang bertanya begitu, kenapa gadis sepertimu malam-malam ada disini?" anak laki-laki itu ingin mendekat tapi ia segera melangkah mundur.

anak laki-laki itu paham, sepertinya ia masih sedikit takut.

"oke aku paham, aku bukan orang jahat, tau. lagipula tidak baik anak-anak berada di luar sendirian" ucap anak laki-laki dengan lagak orang dewasa. dia mengernyit, bukankah dia juga masih anak-anak.

"tapi kamu juga masih anak-anak"

"beda lah, aku ini laki-laki"

"tapi kita sama"

"gah baiklah. eh, tapi kan disini gelap, kau tidak takut?" anak laki-laki itu mengambil ayunan di depannya karena gadis itu sepertinya enggan untuk duduk kembali di tempatnya.

"tidak"

"kenapa?"

"aku lebih takut sendirian"

anak laki-laki itu dengan cepat berdiri dan memegang pundaknya sebelum ia sempat menghindar.

"tidak, kau tidak sendirian, masih banyak orang disini"

"tapi orang tuaku meninggalkanku, aku sendirian" kalimat itu keluar bersama dengan perasaan kosong. perkataannya sukses mengejutkan anak laki-laki itu.

"kerabat, teman, kau pasti memilikinya, kan?" anak laki-laki itu bertanya dengan cemas, seperti paham dengan emosi dimilikinya.

"teman? apa itu teman?" pertanyaan itu semakin mengejutkan anak laki-laki itu yang terdiam dengan mata melebar dan mulutnya menganga lebar.

dia benar-benar sendirian.

dengan cepat anak laki-laki menarik pundaknya semakin mendekat membuatnya terkejut.

"dengar, teman adalah seseorang yang ada disaat kau senang atau sedih, berbagi perasaan itulah teman" anak laki-laki menjelaskan dengan sedikit tergesa. "aku tau kau pasti belum memilikinya, kan? tapi ingat aku akan menjadi temanmu" anak laki-laki itu membiarkannya untuk menyela. menatap mata merahnya, anak laki-laki itu seperti membentuk tekad hanya dengan tatapan.

"apapun yang akan kau butuhkan, atau kau butuh teman untuk berbagi, aku akan datang disini menunggumu dan bermain bersama mu. jangan merasa sendiri, oke?" anak laki-laki itu hampir berteriak jika saja tidak mengingat dia yang membeku.

"teman kah?" dia mengucapkannya dengan kosong.

"benar itu aku, kau bisa memanggilku teman" anak laki-laki itu melepaskan bahunya dan menjulurkan kelingkingnya di hadapannya.

dia bingung, tapi anak laki-laki itu menyuruhnya untuk melakukan hal yang sama. ketika ia mengeluarkan kelingkingnya, anak laki-laki itu mengaitkan kelingking mereka satu sama lain.

"ini janji dan tangan ini menjadi saksi" anak laki/laki itu tersenyum. "ah namaku, Uzumaki Naruto, kau?"

"Satou, Matsuzaka Satou"

"baiklah, Satou-chan, kita sekarang berteman"


Disclaimer :

Naruto punya Masashi Kishimoto

Happy Sugar Life punya Tomiyaki Kagisora

Warning : typo, OOC, bahasa tidak teratur, cerita amburadul pokoknya, ide ceritanya gak jelas, di buat karena iseng, dan masih banyak lagi.

Catatan : cerita ini tidak memungkinkan mengandung unsur romance, hanya friendship. saya tidak terlalu pandai menyajikan cerita romance.


BUG!

BUAKH!

DUG!

suara pukulan dan tendangan memenuhi gang kosong yang jarang di lalui orang. ada 4 orang laki-laki yang sedang berkelahi, namun lebih tepatnya 1 lawan 3. meski kalah kuantitas, pemuda itu menunjukkan kualitasnya. 3 laki-laki itu jatuh meringis di tanah karena di hajar habis-habisan oleh seorang pemuda, meski tak bisa di tampik kalau pemuda itu mengalami memar sana sini.

"dengar, jika kalian melakukan itu lagi pada Satou-chan, aku akan menghancurkan kalian lebih daripada ini" pemuda itu berkata dengan nafas tersengal-sengal sehabis berkelahi. tangan kanannya menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya yang robek.

"maaf, maafkan kami Naruto, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi" salah satu laki-laki itu memandang ngeri kearah pemuda itu.

"bagus, jika kalian masih punya nyali. lakukan lagi dan aku menghancurkan kalian lagi", Naruto meninggalkan ketiga pemuda itu yang terus meringis menahan sakit di gang kosong.

Naruto memasuki cafe Cure a Cute tempat ia bekerja. suasana cafe sedang tidak kondusif, di karena kan, beberapa menit yang lalu. salah satu pegawai tempatnya bekerja baru saja hampir mengalami pelecehan seksual dari beberapa pelanggan.

"Naruto-kun, kau tidak apa-apa?" seorang perempuan bertanya dengar suara khawatir. mendekati Naruto yang sudah terlihat babak belur di wajahnya.

Naruto dengan menyeringai pelan, menggosok hidungnya dengan wajah sedikit kesombongan. "hahah tenang saja Satou-chan, aku ini kuat. kalau masalah begini aku bisa mengatasinya" ucap Naruto, dia menunjuk dadanya dengan bangga.

"benarkah", Satou masih merasa khawatir

"tentu sa..."

PANG!

"itte, kenapa kau memukul ku Shoko-chan?" gerutu Naruto ketika sebuah nampan besi mampir ke kepalanya yang berasal dari rekan kerjanya, Shoko Hida. tangannya mengelus dengan pelan bekas pukulannya.

"jangan merasa sombong, kalau luka mu di sentuh begini saja sudah sakit", Shoko menekan sedikit keras luka memar Naruto yang berada di pipinya.

"itte"

"tuh kan, nah Satou-chan, bawa bodyguard kesayanganmu ini kebelakang untuk di obati" Shoko mendorong Naruto untuk mendekat kearah Satou.

"oi"

"ayo Naruto-kun"

Satou membawa teman kecilnya kebelakang, untuk di obati. urusan pelanggan lain yang masih berada di cafe, sudah di urus dengan pegawai lain.

"kau tidak apa-apa, kan?" tanya Naruto khawatir yang kini sudah duduk di kursi ruangan ganti, sementara Satou mencari kotak p3k yang berada disana.

tangan Satou berhenti sejenak mencari kotak obat, lalu beralih menatap kearah Naruto dengan tatapan bingung.

"seharusnya aku yang bertanya begitu"

"tidak, aku melakukan sesuatu yang benar. aku ini laki-laki tau, yang seperti ini sudah biasa. tapi kau beda Satou-chan. ini bukan pertama kalinya untukmu kan?" Naruto paham, teman yang ia dapat di taman waktu itu menjadi incaran beberapa pria-pria mesum di luar sana.

dia tidak heran kenapa, Satou itu cantik, Naruto berani mengatakan bahwa diantara rekan-rekannya dia yang paling cantik. Satou adalah gadis berkulit putih dengan rambut pink bubblegum tipis sepanjang paha.Di setiap sisi kepalanya ada roti kecil, yang kiri dihiasi dengan pita merah dan putih.Dia memiliki mata merah besar. itu membuatnya terlihat imut.

Satou adalah idola bagi rekan kerjanya dan dikagumi oleh orang-orang di sekitarnya, selalu ramah dan tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi apa pun.Shoko mengatakan bahwa Satou memiliki banyak penguntit, itu karena dia populer di sekolahnya.

alasan itulah mengapa Naruto harus bekerja ekstra untuk melindungi teman kecilnya, sahabatnya. dia tidak ingin, Satou mengalami hal buruk.

"yah memang, aku takut menjadi orang populer" Satou membawa kotak obat itu dihadapan Naruto. tangannya mengambil kain kasa, dia ingin membersihkan beberapa bekas darah di wajah Naruto sebelum di obati. "tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi" lanjutnya di sela-sela membersihkan wajah Naruto.

tangan Naruto menghentikan pergerakan Satou di wajahnya.

"eh"

dia mengenggam tangannya lalu dia menaruhnya di atas pahanya. mata birunya bertemu dengan mata merah milik Satou.

"disini Satou-chan..." Naruto mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan, tatapannya menjadi lebih serius dari biasanya, "sejak pertemuan kita 10 tahun yang lalu, aku tidak akan pernah berubah, aku temanmu. teman pertamamu, apapun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu, tidak peduli apa yang di butuhkan. kau bisa memanggilku kapanpun kau mau. luka ku ini menjadi saksi bahwa ini kesekian kalinya bukti bahwa aku benar-benar temanmu" lanjutnya panjang lebar

Naruto melepaskan tangan Satou, lalu mengarahkan kedua jarinya mengetuk dahi temannya.

"aduh"

Naruto tersenyum ketika Satou memegang keningnya.

"jangan bersedih terus, masih banyak kebahagiaan di luar sana yang perlu dicari", Naruto melemparkan senyum paling manisnya kearah Satou.

gadis bubble itu membalasnya tak kalah manisnya. ia meletakkan tangannya diatas pahanya.

"terima kasih Naruto, karena selalu ada untukku. aku harap kita akan selalu bersama" ucap Satou dengan nada tulusnya.

Naruto menyilangkan kedua tangannya, matanya tertutup.

"apa itu, bilang 'terima kasih, Naruto-sama' kenapa tidak ikhlas begitu" Naruto berucap dengan sedikit candaannya.

"baik, terima kasih Naruto-sama"

kedua matanya terbuka, melihat Satou yang masih mempertahankan senyumanya. keduanya saling menatap, sebelum tawa mereka menghiasi ruang ganti karyawan.

yah seperti itulah teman sejati.


"terima kasih sudah mengantarku Naruto-kun"

keduanya saat ini sudah di depan apartemen milik Satou. Naruto mengantar temannya hingga sampai ke tempat tujuan. hari sudah malam, Naruto tak ingin masih penguntit berkeliaran.

"kau sudah berterima kasih tau, seandainya itu makanan. mungkin aku sudah kekenyangan" ujar Naruto sedikit malas, "lagipula rumah kita memang searah" lanjutnya lagi. Satou hanya mengangguk.

"apa kau tidak ingin mampir dulu?" tanyanya. Naruto menggelengkan kepalanya.

"tak perlu, lain kali saja. aku pulang dulu" Naruto berjalan meninggalkan Satou, namun belum terlalu jauh melangkah ia kembali berbalik kepada temannya membuat Satou bingung.

"ada apa?"

TUK!

"sampai jumpa teman kecil, ingat, panggil aku kapanpun jika kau butuh" teriak Naruto sambil berlari pelan meninggalkan Satou setelah mengetuk dahinya. meninggalkan Satou yang tersenyum kecil.

senyuman kecilnya berubah jadi seringaian ketika Naruto sudah tak terlihat. wajahnya tertunduk sedikit menutupi kedua matanya.

"benar, kau adalah temanku, jadi jangan terlalu dekat dengan orang lain. hanya aku yang boleh dekat denganmu" ucapnya dengan nada sedikit senang. tawa kecil keluar dari bibirnya.

wajahnya terangkat memperlihatnya mata merahnya yang menyala terang di kegelapan malam, menatap jalan yang di lalui Naruto

"kan, Naruto-kun?", suaranya menjadi tanpa emosi dari sebelumnya.

entah kenapa hawanya ikut berubah.


the end.