Disclaimer :

Naruto punya Masashi Kishimoto

Happy Sugar Life punya Tomiyaki Kagisora

dan karakter lainnya punya penciptanya masing-masing.

Warning : typo, OOC, bahasa tidak teratur, cerita amburadul pokoknya, ide ceritanya gak jelas, di buat karena iseng, dan masih banyak lagi.

—o0o0o0o0o—

"guaaaaah, kepalaku hampir pecah!"

Naruto mengusap-ngusap kepalanya dengan kedua tangannya. waktu istirahat makan siang telah tiba, semua murid sekolah di bebaskan mata pelajaran yang baru saja berlangsung.

"jangan heran, kimia adalah pelajaran sedikit sulit" sahut salah satu anak laki-laki yang berasal dari kelas yang sama dengan Naruto dan sahabtnya juga, Gaara.

"sedikit katamu? oke, orang pintar memang beda" dengus Naruto sebal. dia menyandarkan tubuhnya di bangkunya. suasana kelasnya perlahan mulai sepi, beberapa orang sudah berhamburan keluar kelas.

Gaara duduk diatas meja belajar milik Naruto, dia menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya di belakang punggungnya.

"ngomong-ngomong Naruto, aku ingin membicarakan sesuatu padamu", tanpa menatap satu sama lain, Gaara yang melihat langit-langit sekolah dan Naruto yang memejamkan mata.

"apa itu?"

"kau tau Kitaumekawa-sensei?"

"hmm, yah, ada apa dengannya?", Naruto membuka kedua matanya dan menatap sahabatnya. kedua tanganya menyilang di belakang kepalanya.

"aku merasa aneh dengan guru itu?", Gaara melirik sahabatnya. Naruto mengangkat alis sebelah kirinya.

"apa maksudmu?"

"dia aneh, dia selalu memandangmu tidak suka. awalnya ku kira itu hanya perasaanku tapi setiap kali kuliat dia menatapmu dia tidak menyukaimu dari awal, apalagi kalau kau bersama Matsuzaka-san" jelas Gaara serius. dia beberapa kali memperhatikan salah satu sensei di sekolah ini, menatap Naruto dengan tatapan tak biasa. entah dendam atau benci, dia tak tau. "Naruto, kalau aku menebak, Kitaumekawa-sensei mungkin menyukai Matsuzaka-san" lanjutnya lagi.

Naruto mengerutkan keningnya tidak suka mendengar itu.

"omong kosong, Kitaumekawa-sensei sudah menikah, mana mungkin dia mencoba menggoda murid disini. lagipula, guru dan murid tidak boleh memiliki hubungan kan?" ucap Naruto sedikit kesal. Gaara berdecak pelan.

"kau belum mendengar rumornya yah?"

"rumor apa?", perasaan Naruto berubah menjadi penasaran.

"dia beberapa kali mengajak murid disini untuk berkencan, dia selalu mengaku masih lajang. sudah banyak korbannya" ujar Gaara, mengejutkan Naruto.

menurut Naruto, dia selalu memperhatikan guru itu bertindak profesional, banyak siswi menyukainya karena sifatnya yang suka menolong tapi mendengar itu dari sahabatnya. dia tidak mungkin salah. Naruto ingat, jangan menilai orang dari sampulnya.

"apalagi sahabatmu tuh, Matsuzaka-san. dia cantik, aku yakin banyak laki-laki menginginkannya. kau pasti lebih paham karena kau selalu bersamanya kan?", Gaara turun dari meja Naruto dan menepuk pelan pundak sahabatnya. "jaga dia Naruto, dia perempuan. kau dan aku pasti paham, bagaimana setiap kepribadian laki-laki" lanjutnya

Naruto mengepalkan kedua tangannya, hendak membalas ucapan Gaara, tapi beberapa siswi masuk ke kelasnya dan membicarakan topik yang sama dengannya.

"aduh, aku tidak menyangka jika Kitaumekawa-sensei seperti itu" salah satu diantara mereka membuka pembicaraan. Naruto dan Gaara diam mendengarkan.

"aku juga, aku hampir tertipu tapi dia memang sudah menikah" yang lain ikut berkomentar.

"benarkah? enggak banget deh, aku tidak ingin jadi perebut rumah tangga orang. dia memang keren, tapi tidak" sahut temannya juga.

Naruto semakin mengeratkan kepalan tangannya.

"eh, tapi tadi aku melihat Matsuzaka-san di panggil Kitaumekawa-sensei"

"eh, benarkah? aku jadi kasihan dengan Matsuzaka-san"

"ah mudah-mudahan Matsuzaka-san baik-baik sa..."

"oi, Naruto mau kemana?" teriak Gaara ketika melihat Naruto tiba-tiba berlari meninggalkan kelas. ketiga siswi itu menghentikan pembicaraan mereka dan melirik Gaara.

—o0o—

melirik kesana kemari, Naruto berlari sepanjang koridor sekolah tapi tidak menemukan temannya.

"Satou-chan, dimana kau?" gumam Naruto pelan. ketika hendak berbelok di koridor sepi, dia mendengar dua orang sedang berbicara. Naruto berhenti sejenak. mengintip melihat siapa itu.

di dekat tempat Naruto berdiri. Satou dan Kitaumekawa sedang berbicara. Naruto memasang telingannya baik-baik untuk mendengar pembicaraan mereka. jika guru itu bertindak tidak pantas, maka Naruto akan ikut campur.

Naruto mendengar mereka hanya membahasa seputar panggilan orang tua. dia menghela nafas lega. tapi dia mencoba mengintip lagi. tetapi suara alarm tanda masuk sudah berbunyi, dia menggerutu sebentar. dia belum mengakhiri kegiatannya sebelum keduanya berpisah.

tatapan Naruto berubah menjadi sedikit tajam, ketika Satou ingin mengakhiri pembicaraan mereka tetapi Kitaumekawa-sensei menahan tangannya.

"ah, tunggu sebentar, Matsuzaka-san"

Satou menatap guru itu dengan tatapan netral, dia melirik tangannya yang di pegang oleh Kitaumekawa sejenak sebelum kembali menatap guru itu.

"jika ada masalah, datanglah kepadaku dan bicaralah. kamu ini, terlihat seperti gadis yang rapuh dari yang lain. sebagai seorang guru, bapak merasa khawatir" ujar Kitaumekawa dengan nada lembutnya.

diam-diam di balik dinding, Naruto berusaha menahan diri untuk tidak muntah karena rayuan yang keluar dari bibir pria yang sudah menikah.

"bapak ini sudah dewasa" ujar Kitaumekawa, tangannya yang awalnya menahan Satou, kini menggenggam tangan muridnya, "bapak yakin bisa membantumu" lanjutnya lagi diikuti senyuman manisnya.

"terima kasih atas perhatian anda, Kitumekawa-sensei. tapi saya sudah memilki teman yang saya percayai, jadi anda tidak perlu khawatir" ujar Satou dengan ramah. dia berusaha melepaskan genggaman tangan milik Kitaumekawa, tapi pria itu menahannya.

tatapan lembut milik Kitaumekawa berubah menjadi datar.

"maksudmu anak laki-laki berandalan yang sering bersamamu. Namikaze, kan?" tanya Kitaumekawa datar. dia enggan melepaskan tangan Satou.

Kitaumekawa tidak suka jika membicarakan anak laki-laki itu. dia terhambat mendekati Satou, karena Naruto selalu ada disampingnya. membuat Kitaumekawa menjadi kesal.

Satou berusaha menjaga sikap ramahnya, meski dia tidak suka jika guru itu, menghina teman kecilnya, Naruto.

"ya sensei, tapi Naruto-kun anak baik. dia bukan anak berandalan" jawab Satou dengan ramah. dia kembali menarik tangannya dari genggaman Kitaumekawa tapi pria itu masih menahan.

"dengar, Matsuzaka-san. di banding dia, aku lebih dewasa, aku lebih mengerti. dia masih anak-anak sepertimu. sebagai seorang laki-laki, aku paham, laki-laki di usia yang masih remaja, hanya main-main dengan perasaan gadis. aku takut Namikaze-san, hanya menyakitimu" jelas Kitaumekawa dengan nada sedikit tajam, meskipun di dalam suaranya, Satou menangkap rasa frustasi.

"anda tidak berhak menilai Naruto-kun hanya di luarnya, Kitaumekawa-sensei. saya temannya, tentu saja saya lebih tau", kini ucapan berubah menjadi netral, wajahnya datar. dia tidak suka jika ada yang berbicara buruk pada teman kecilnya. "dan tolong lepaskan tangan anda, saya harus masuk ke kelas" lanjutnya lagi.

"tidak!" suara tajam dan datar itu menusuk telinga Satou. "Matsuzaka-san, saya me..."

PLAK!

genggaman tangan Kitaumekawa terlepas dari Satou, ketika seseorang datang dan menggeplak tangannya begitu keras.

"Kitaumekawa-sensei, bukankah Satou-chan bilang untuk minta di lepaskan" ujar Naruto sambil tersenyum, meski urat-urat kekesalan muncul dipelipisnya.

Naruto berdiri di depan Satou dan melindungi temannya itu di balik punggungnya. wajah Kitaumekawa menatap Naruto dengan tajam dan sinis.

"Namikaze, tidak baik menyela pembicaraan orang lain" Kitaumekawa menegur dengan suara tidak suka.

"tapi bukankah anda seharusnya mengajar, sudah waktunya untuk belajar, sensei" ucap Naruto menekankan setiap katanya. senyum Naruto menghilang, tatapannya menatap Kituamekawa penuh perhitungan. "saya dan Satou-chan, pamit untuk ke kelas, sensei", Naruto berbalik dan menarik tangan Satou menjauh dari sana.

Kitaumekawa mendecih tidak suka.

.

.

.

.

.

"terima kasih, Naruto-kun. kau menyelamatkanku lagi" ujar Satou tulus, melempar senyum manis pada temannya.

saat ini keduanya menuju jalan pulang. setelah kejadian di koridor. Naruto mengantar Satou langsung ke kelasnya.

"sudah ku bilang, tidak sudah mengatakan 'terima kasih', kau seperti merasa aku orang asing saja", Naruto mendecakkan lidahnya tak suka. dia sudah lelah mengatakan itu berulang kali, tapi Satou terlalu keras kepala.

"karena kau temanku, jadi akan terus berterima kasih", keduanya menunggu bus untuk mengantar mereka. Naruto menghela nafas pelan.

dia mengangkat tangannya dan menaruh diatas kepala Satou. "berhentilah mengucapkan terima kasih. karena aku akan selalu datang menolongmu, okey" ucap Naruto sedikit memelas. Satou terkekeh pelan.

"kalau begitu, aku akan terus berterima kasih"

"gahh, Satou-chan keras kepala" Naruto mengacak rambutnya frutasi. Satou hanya tertawa melihat tingkah sahabat kecilnya.

—o0o—

malamnya, cafe Cure a Cute sedang ramai. banyak pengunjung yang datang, maklum saja malam ini malam minggu. banyak pasangan muda-mudi yang datang, terlebih lagi laki-laki hanya sekedar menikmati pelayanan dari pelayan cafe.

saat ini sebagian dari pelayan Cure a Cute berkumpul di dekat meja kasir. Naruto baru saja keluar dari ruangan manajer. kali ini dia mendapat tugas untuk membagikan brosur iklan cafe mereka dengan memakai seragam butlernya.

"apa perlu aku temani, Naruto-kun?" tanya Satou ketika melihat temannya sudah bersiap-siap.

"ah tidak perlu, Satou-chan, aku bisa sendiri. jika aku terlambat pulang, jangan menungguku. ingat langsung pulang, tidak usah singgah di tempat yang tidak penting. jika terjadi sesuatu, langsung menghubungiku. paham?" ujar Naruto pada temannya, seperti seorang ayah yang menasehati putrinya tentang keselamatannya.

Satou terkekeh pelan, Shoko memutar matanya malas.

"kau ini seperti ayahnya saja Naruto", di samping meja kasir, Shoko berkacak pinggang. mendengar petuah Naruto yang hampir setiap saat dia dengar ketika Naruto kebagian jadwal membagikan brosur.

"tentu saja, tugasku melindungi Satou-chan dan kalian semua juga" Naruto berkata dengan sedikit nada angkuhnya sementara Shoko hanya mendesah malas.

"bla, bla, bla"

"kalau begitu hati-hati, Naruto-kun", Satou melambaikan tangannya dan tersenyum manis.

"yosh, aku pergi dulu. Shoko aku titip Satou-chan padamu", Naruto berlari keluar dari cafe.

"dia itu terlalu perhatian padamu" gumam Shoko sedikit kesal dengan tingkah protektif Naruto. tapi di sisi lain dia memakluminya. Satou memiliki banyak penguntit, Naruto hanya khawatir.

Satou terkekeh lagi, "kau benar, tapi aku merasa selalu aman karena Naruto" ucapnya.

Shoko tersenyum, "kau benar, dia pengawal pribadi kita, hihi"

keduanya kembali bekerja.

—o0o—

"jangan lupa berkunjung di cafe kami"

Naruto membagikan brosur pada setiap orang yang berlalu lalang. tak lupa senyum manisnya terus terukir di bibirnya. brosurnya sudah hampir habis, mungkin sekitar 7 lembar lagi, lalu dia selesai dengan pekerjaannya.

sejenak dia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tujuh belas menit. itu berarti cafe segera tutup tiga belas menit lagi.

"oke semangat Naruto, ayo kita selesaikan", Naruto kembali mencari orang yang tepat untuk membagikan brosurnya.

BUKH!

karena terlalu semangat bekerja, Naruto tidak sengaja menabrak seseorang.

"aduh maafkan saya, saya tidak sengaja", Naruto membungkuk sedikit. dia melirik orang yang di tabraknya.

seorang perempuan seumurannya, memakai seragam sekolah. berjalan dengan wajah lesu dan sedikit menunduk. Naruto mengerutkan keningnya, seperti merasa familiar dengan gadis itu.

"anda tidak apa-apa?" tanya Naruto dengan sedikit cemas. jiwa penolongnya bangkit ketika melihat gadis itu.

gadis itu menggeleng pelan.

"apakah anda butuh sesuatu? jika bisa, saya ingin membantu", mendengar tawaran itu, gadis itu mengangkat wajahnya karena terkejut penawaran yang di dapatnya.

keterkejutannya bertambah lagi, ketika tau siapa yang menawarinya.

"Na-Naruto-san!" pekik gadis itu, menutup mulutnya karena terkejut.

"em, apakah anda mengenal saya?" Naruto menunjuk dirinya sendiri, gadis itu mengangguk. dia segera berhambur memegang lengan Naruto.

"kau tidak mengingatku?"

Naruto mengerutkan kening, sebelum menyadarinya. "O-Ogiwara-san, kan? apa yang kau lakukan di Tokyo?", kini giliran Naruto yang terkejut dan bersuara keras, mengundang sedikit perhatian orang-orang. sadar dari tingkahnya, Naruto tersenyum kikuk.

"Naruto-san, beruntung kita bertemu disini", gadis Ogiwara itu seperti lega dan sedih secara bersamaan. dia melepaskan rangkulan tangannya di lengan Naruto

"aku seharusnya bertanya, kenapa kau bisa sampai disini?", Naruto menepuk jidatnya.

Ogiwara menunduk malu, "aku kabur dari rumah"

"hah?! kenapa, Ogiwara-san?"

Ogiwara kembali menatap Naruto, mengembungkan pipinya kesal. "Naruto-san, berhenti memanggil margaku, kau seperti baru mengenalku" ucapnya sedikit kesal.

Naruto memijit keningnya pelan. "baiklah, Sayu. kutanya sekali lagi, apa yang kau lakukan disini? dan kenapa kaburmu sejauh ini? kau tidak berniat kawin lari kan?" tanya Naruto beruntun pada gadis di depannya, Ogiwara Sayu.

Sayu berdecak kesal mendengar pertanyaan Naruto yang terakhir.

"aku masih 17 tahun, Naruto-san"

"kalau begitu jelaskan padaku dan selama ini dimana kau tinggal?" tanya Naruto, tangannya menyilang di atas dadanya. Sayu terdiam, sebelum memainkan jari-jarinya dengan gaya malu-malu.

"aku akan jelaskan tapi bisakah kita makan malam dulu, uangku habis dan aku belum makan malam" ucap Sayu dengan malu-malu. Naruto kembali menepuk jidatnya.

"kenapa kau tidak bilang, ini sudah larut malam. ayo kita cari makan. tenang saja, aku yang bayar", Naruto menarik gadis itu karena menunjukkan wajah ragu-ragu.

Naruto mana tega membiarkan gadis kelaparan di tengah malam kayak gini.

"terima kasih, Naruto-san"

"'terima kasihnya' nanti saja, ayo kita cari makan"

keduanya pergi mencari restoran yang masih terbuka.

—o0o—

Cafe Cure a Cute tertutup tepat pukul 10.30 PM. seluruh karyawan sudah diizinkan untuk pulang. neamun, mereka berganti baju terlebih dahulu.

"jadi kau pulang sendiri?" tanya Shoko ketika hanya tinggal mereka berdua di depan cafe yang sudah tertutup.

"iya, Naruto-kun pulang terlambat", Satou dan Shoko berjalan menuju halte terdekat.

"eh, kau mau aku antar? ini sudah larut malam" tawar Shoko sedikit khawatir.

Satou menggelengkan kepalanya.

"tidak perlu, jalan masih jam segini masih ramai kok", Satou tidak ingin merepotkan temannya.

"kau sudah mengabari Naruto"

"yah, dan dia menyaranku untuk hati-hati dan menghubunginya jika terjadi sesuatu", Satou menunjukkan ponselnya pada Shoko.

"baiklah, tapi ingat hati-hati, okey?" Shoko masih khawatir tapi dia harus percaya pada temannya. Satou mengangguk pelan. tak lama kemudian, bus jalur menuju apartemennya telah tiba.

"kalau begitu aku pergi dulu, Shoko-chan. bye"

"bye"

setelah berkendara sekitar 7 menit. bus berhenti di halte dekat apartemen Satou. masih ada beberapa blok yang perlu di lewati jadi dia berjalan sendiri karena suasana sudah sepi.

insting Satou berteriak. seseorang sepertinya mengikutinya dari tadi. dia dengan cepat mencari jalan buntu untuk mengungkap penguntitnya.

"jadi kamu sudah sadar, yah?" Satou berbalik, melihat Kitaumekawa berdiri di belakangnya dengan seringaiannya. "padahal kamu di untungkan disini, tapi kalau kamu sudah tau begitu, kenapa kamu malah berhenti di gang buntu seperti ini?" tanya Kitaumekawa dengan wajah menyeramkannya.

"aku ingin kamu berhenti", Satou berkata dengan tenang, menghilangkan keformalan karena tidak berada di sekolah. "menurutku kamu akan menunjukkan dirimu sendiri" lanjutnya lagi.

Kitaumekawa tertawa kecil, "kamu tau semuanya, yah", cahaya rembulan menyinari wajahnya yang mulai menggila. "inilah diriku yang sebenarnya" Kitaumekawa mengekarkan senyum jahatnya.

"aku melihat dari matamu, kamu adalah gadis yang pintar. kamu berbeda dengan mereka yang bodoh itu. itulah yang membuatku tertarik padamu" ujar Kitaumekawa dengan sedikit terengah-engah.

Satou masih berusaha untuk tenang.

"kenapa kamu melakukan itu? bukankah kamu itu seorang guru? apa menguntit seorang murid itu di perbolehkan?" Satou bertanya dengan tenang.

Kitaumekawa tersenyum bejat, "kamu benar, itu tidak di perbolehkan. tapi, aku menyukaimu", Kitaumekawa seperti kehilangan kendali. "aku sudah memperhatikanmu sejak upacara masuk sekolah, kamu adalah tipeku. selama ini, aku sangat ingin tau betapa manisnya aroma lembut rambutmu itu" suara Kitaumekawa semakin terengah-engah.

perlahan kakinya mendekat kearah Satou tapi dia tidak berhenti berbicara, "aku ingin membelai, kulit halusmu dan menjadikanmu milikku. hanya membayangkannya membuatku tidak bisa menahannya", Kitaumekawa berhenti di depan Satou yang menutup mulutnya dengan tangannya.

wajah Kitaumekawa menjadi datar, "tapi anak berandalan itu selalu menghalangi rencanaku, dia selalu mengangguku", tatapan Kitaumekawa menjadi benci hanya mengingat Naruto. "anak itu tidak pantas di sampingmu. dia menjadi parasit yang selalu menempel padamu" lanjutnya lagi hanya disambut tatapan datar dari Satou.

Satou tidak suka jika ada yang merendahkan temanya.

waja Kitaumekawa kembali menjadi mesum, dia mengambil tangan Satou dan mengenggamnya. "aku akan menunjukkan padamu, kalau aku lebih baik daripada anak berandalan itu", Kitaumekawa terus menarik tangan Satou ke tempat yang lebih sepi.

"apa ini?" gumam Satou dalam hati. emosinya perlahan menghilang, seiring Kitaumekawa mengoceh tentang temannya. wajahnya menggelap.

"bagaimana jika aku menyingkirkan anak itu, agar kita berdua bisa bebas" tawa jahat Kitaumekawa terdengar di kegelapan malam.

"bunuh, bunuh, bunuh" gumamnya lagi dalam hati. Satou seperti perlahan kehilangan kendali atas dirinya. matanya menunjukkan jiwanya tanpa emosi.

Kitaumekawa hendak mendorong Satou di dinding tapi dia mendengar seseorang berteriak.

"SATOU-CHAN, DIMANA KAU?"

"tch, anak itu benar-benar menganggu" wajah Kitaumekawa mengeras, sebelum berbalik menatap Satou, "kamu selamat kali ini, tapi tidak lain kali", Kitaumekawa dengan cepat meninggalkan Satou sendirian sebelum Naruto menemukannya.

Satou jatuh berlutut di tanah ketika Kitaumekawa perlahan menjauh. tatapannya masih tanpa emosi. dia menunduk, poninya menutupi matanya.

"bunuh, bunuh, bunuh" gumamnya pelan.

"SATOU-CHAN", Satou merasa seseorang memegang pundaknya. wajahnya terangkat melihat siapa yang memanggilnya.

"Satou-chan, kau baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir, dia ikut berlutut di depan Satou. wajah Satou menatapnya tanpa emosi. Naruto menduga, bahwa Satou mengalami trauma mendalam.

Satou belum memahami dan menyadari apa yang terjadi. sesaat kemudian dirinya sadar, jika seseorang memeluknya dan mengusap punggungnya.

"semuanya baik-baik saja, aku disini"

"semuanya baik-baik saja, aku disini"

Satou perlahan kembali, ketika mendengar suara Naruto berulang kali menenangkannya. perasaannya kembali tenang, dia merasa aman sekarang.

"Naruto-kun", perlahan Satou ikut melingkarkan tangannya di leher Naruto dan membenamkan wajahnya di pundak Naruto. "terima kasih" lanjutnya lagi.

dia tidak tau mengapa Naruto bisa disini, yang dia tau, Naruto akan selalu menemukan dan menolongnya lagi dan lagi.

—o0o—

(beberapa saat yang lalu)

-Restoran Western-

Naruto berulang kali menghela nafas pelan mendengar cerita Sayu. karena bertengkar dengan ibunya, Sayu memilih untuk kabur dari rumah dan pergi menenangkan diri. dia tidak menjelaskan mengapa dia bertengkar dengan ibunya.

mungkin jika Sayu berasal dari Tokyo, Naruto bisa maklum. tapi dia kabur dari Hokkaido ke Tokyo. jauh banget, gila. di tambah lagi dia sudah hampir sebulan disini dan dia tidak tau.

Sayu adalah tetangga yang tinggal di dekat rumah kakek Naruto yang ada di Hokkaido, ayahnya berasal dari sana. dia pernah tinggal di Hokkaido beberapa tahun, bahkan mereka pernah satu sekolah sebelum Naruto pindah ke Tokyo.

"jadi kau naik apa kesini?" tanya Naruto, dia menatap Sayu dan menopang pipinya dengan tangan kirinya.

Sayu menghentikan makanannya sejenak. "hmm, naik pesawat"

"hah?! siapa yang membayarnya dan bagaimana kau bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup selama ini?" tanya Naruto terkejut. dia mengenal Sayu, cukup lama. dia anak yang manja tapi bukan berarti dia ketergantungan dengan ibunya, meski dia anak yang cukup mandiri juga.

"kakakku tentu saja, dia mengantarku ke bandara dan dia juga memberikan aku uang untuk bertahan disini tapi sudah habis" jawabnya tanpa rasa bersalah. entah kenapa Naruto tidak kaget di bagian akhir ucapannya.

"jadi, Issa-san sudah tau kalau kabur?", Sayu menganggukkan wajahnya dengan polos, Naruto menepuk jidatnya lagi, "itu bukan kabur namanya, Sayu", entah mengapa Naruto merasa gemas sendiri dengan mantan tetangganya.

"tapi kan..."

"oke cukup, jadi setelah ini, kau mau kemana lagi?" tanya Naruto.

Sayu menunduk lesu, "itu dia Naruto-san, aku tidak tau tidur dimana lagi. biasanya aku tidur di hotel tapi semenjak uangku menipis, aku tidur di bangku taman di pinggir jalan" ujar Sayu lesu, dia memainkan sendok makannya.

kalau begini, rasa iba Naruto perlahan-lahan menyeruak ke permukaan.

"Sayu", Sayu mendongakkan kepala dan menerima sentilan di keningnya dari Naruto. membuatnya mengaduh kesakitan.

"untuk apa itu, Naruto-san" cicit Sayu kesal. dia mengusap dahinya yang terasa nyeri.

"karena kau bodoh. kau sudah selesaikan? ayo kita pulang", Naruto bersiap-siap untuk pulang. dia mengambil brosur yang masih tersisa.

sementara Sayu mengerutkan keningnya bingung.

"apa maksudmu Naruto-san?"

Naruto mendengus pelan, "kau mau tidur di pinggir jalan lagi?", Sayu menggelengkan kepalanya. "kalau begitu ayo pulang kerumahku. di rumah masih ada kamar kosong" lanjutnya lagi.

wajah Sayu berubah menjadi sumringah. beruntung malam ini dia bertemu Naruto.

"kalau sudah selesai, ayo"

"baik", Sayu mengambil tas-nya dan mengikuti Naruto kerumahnya, setelah membayar makan mereka tentu saja.

tepat pukul sebelas malam, keduanya sampai di depan rumah Naruto.

"wah, rumah Naruto-san cukup besar" ungkap Sayu kagum melihat rumah Naruto, meski hanya satu lantai, tapi rumahnya terbilang cukup luas. Naruto membuka pagarnya dan mempersilahkan Sayu untuk masuk.

"yah, walau besar aku tinggal sendiri"

"eh, Minato-ojisan kemana?"

"dia tinggal di apartemen dekat kantornya"

Naruto merogoh sakunya untuk mengambil kunci, namun gerakan terhenti ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.

wajah Naruto menjadi pucat membaca pesan itu dari Shoko.

"Naruto-san ada apa?" tanya Sayu penasaran. sebelum terkejut, Naruto menarik tangannya dan meletakkan kunci rumahya di tangannya

"Sayu, masuklah lebih dulu. pilih kamar yang kau suka dan bersihkan dirimu. aku akan segera kembali, jangan lupa kunci pintunya, tunggu sampai aku datang"

belum sempat Sayu bertanya, Naruto sudah berlari kencang keluar dari rumahnya mengundang rasa penasarannya. mungkin Naruto masih ada urusan.

Naruto berlari panik menuju sekitaran apartement milik Satou. pesan yang di kirimkan Shoko membuatnya kalang kabut.

Shoko tidak sengaja melihat seseorang mengikuti Satou. ketika hendak mengejarnya. Shoko kehilangan jejak dan dia mengirimkan pesan untuk Naruto karena Satou tak kunjung pulang.

"maaf, Satou-chan"

Naruto berteriak memanggil Satou, berharap temannya menjawab. tapi hanya keheningan yang di dapat.

tak sengaja matanya melihat gang kosong yang cukup sepi, dia memberanikan diri untuk melihat disana. dan betapa terkejutnya dia, ketika melihat temannya, terkulai lemas di tanah tanpa emosi. persis seperti pertama kali dia menemukannya di taman waktu itu. dia berpikir Satou mengalami trauma karena sesuatu terjadi padanya.

tanpa berpikir panjang, Naruto mendekati temannya. dia berusaha menanyakan keadaannya tetapi dia tidak menjawab. Naruto ketakutan. dia memeluk Satou untuk menenangkannya.

Naruto menghela nafas lega ketika akhirnya Satou membalas pelukannya, menenggelamkan wajahnya di pundaknya dan mengucapkan terima kasih.

"maaf, Satou-chan" gumam Naruto pelan dan mengeratkan pelukannya. dia takut, dia hampir membiarkan temannya di lecehkan oleh orang lain.

diam-diam merasa marah dan ingin menemukan orang itu.

Satou sudah merasa nyaman, dia tidak ingin melepaskan pelukannya.


a/n : Sayu disini gak ketemu sama pasangan pertamanya yang di canon (saya tidak tau namanya) tapi dia bertemu dengan Naruto. jadi dia gak tinggal dirumah yang berbeda-beda.

dia juga gak 'tidur' sama laki-laki untuk bertahan hidup. karena Naruto lebih dulu mungut dia, eh ups.

sebelum masuk ke inti cerita. saya akan memperkenalkan karakter-karakter yang berperan penting.

see you, next chapter.