Disclaimer :

Naruto punya Masashi Kishimoto

Happy Sugar Life punya Tomiyaki Kagisora

dan karakter lainnya punya penciptanya masing-masing.

Warning : typo, OOC, bahasa tidak teratur, cerita amburadul pokoknya, ide ceritanya gak jelas, di buat karena iseng, dan masih banyak lagi.

—o0o0o0o0o—

Kitaumekawa Daichi adalah seorang guru yang bekerja di SMA Makisuhara, tempat dimana Satou dan Naruto menuntut ilmu.

dia adalah seorang laki-laki yang sudah menikah tetapi meskipun statusnya sudah beristri, dia masih tidak puas. dia ingin memiliki hubungan lebih banyak dengan perempuan. Matsuzaka Satou, salah satu muridnya yang cantik, dia tertarik dengannya. dia berusaha menjadikan, anak muridnya sebagai salah satu gadisnya.

namun, dia harus menelan bulat-bulat keinginannya karena Satou memiliki seorang bayang-bayang yang selalu menjaganya. dia memiliki penghalang terbesar untuk mendekati Satou.

Daichi sudah siap berangkat bekerja. dia berpamitan pada istri dan anaknya.

"selamat pagi, Sensei", Daichi terkejut melihat Satou berdiri di depan rumahnya sendirian dan tersenyum manis.

"ah, murid dari sekolah?" istri Daichi tersenyum menyambut Satou yang berdiri di depan pagar.

"iya, saya Matsuzaka Satou", Satou tersenyum dengan ibu satu anak itu. "sebenarnya, ada yang ingin kutanyakan tentang pelajaran" lanjutnya lagi dan menatap penuh arti kearah Daichi yang terkejut.

"hmm, murid yang cukup bersemangat, ya. mulai sekarang, mohon bantuannya yah" istri Daichi tersenyum manis kearah Satou.

Satou membungkuk pelan, "senang berkenalan dengan anda"

"ah iya"

"Matsuzaka-san, kita bicarakan sambil berjalan" ujar Daichi yang perlahan-lahan menyeringai senang. lalu dia dan Satou meninggalkan kediamannya.

"sensei, kamu memiliki istri dan anak yang imut, ya. meskipun kamu bilang, kamu masih lajang", Satou membuka percakapan diantara mereka di sela-sela perjalanan mereka, menatap Daichi yang terus melihat jalanan. "kenapa kamu menyembunyikan kebenarannya?" tanyanya.

"aku ini dengan satu saja belum puas" jawab dengan jujur. dia berhenti melangkah tatapannya mendongak sedikit seakan-akan menyelami imajinasinya, "aku ingin memiliki hubungan dengan banyak wanita, mencintai mereka dan dicintai. itulah pengertian cintaku" lanjutnya lagi sebelum berbalik menatap Satou dan tersenyum miring.

"Matsuzaka-san, jujurlah padaku, kamu memiliki hubungan spesial selain anak berandalan itu, kan? yang artinya, kamu memiliki beberapa pasangan juga, kan?" tanya Daichi dengan senyum jahatnya. dia menekan kacamatanya yang melorot.

SRET!

Daichi terkejut, ketika Satou menarik dasinya, membuatnya nyaris tercekik. dia menatap mata Satou, entah mengapa dia bisa melihat matanya bersinar merah menakutkan.

"aku sama sekali tidak paham" kata Satou dengan suara dinginnya. "sensei hanya ingin wanita memberikan kesenangan. kesenangan yang memberikanmu sensasi yang bisa ketahuan, kan?" lanjutnya lagi dengan nada berbahaya.

Daichi berjengit pelan, dia tidak melihat muridnya yang penuh keramahan dan ceria itu. semuanya berubah. keringat dingin membasahi wajahnya, entah mengapa.

Satou yang terlalu kesal menendang Daichi hingga pria itu terduduk di tanah dan memojokkannya di tembok pagar salah satu rumah penduduk. Satou menekan perut Daichi dengan kakinya.

"apa aku perlu memberitahu istrimu dan menghancurkan keluargamu? aku membongkar kelakuanmu di sekolah dan mempermalukanmu? selain itu, aku bukan murid pertama yang kamu incar, kan?" tanya Satou beruntun dengan suara dinginnya. menatap jijik kearah Daichi yang semakin terus mengeluarkan keringat. "sampah sekali" ucapnya lagi. kakinya semakin menekan perutnya dan perlahan-lahan kebawah.

Daichi terengah-engah dengan tingkah Satou.

"sensei, kamu dan Naruto-kun itu berbeda. tentu saja, Naruto-kun jauh berkali-kali lebih baik darimu. sampah sepertimu bahkan tidak bisa dibandingkan dengannya. Naruto-kun lebih tau bagaimana cara menghargai seorang gadis daripada dirimu yang haus belaian wanita" kata Satou dengan nada tajamnya. mengingat Daichi terus menghina sahabat kecilnya, membuatnya marah.

"bagiku, sensei hanyalah seorang cabul yang masokis", Satou menurunkan kembali kakinya di tanah. "orang yang mabuk karena hasratnya sendiri sebaiknya jangan membandingkan dirinya dengan Naruto-kun yang jauh lebih baik darimu, sensei" lanjutnya lagi.

Satou kembali menarik dasi Daichi lebih kuat lagi hingga membuat Daichi tercekik. matanya menatap tajam kearah mata pria itu.

"dan jangan pernah menghina Naruto-kun lagi di hadapanku atau kamu akan tau sendiri akibatnya", Satou melepaskan Daichi dan meminggalkan pria itu sendirian yang masih terengah-engah dengan tingkah Satou.

—o0o—

Naruto menguap pelan, hari ini dia telat bangun pagi, karena tidur terlalu larut. semalam, setelah mengantar Satou pulang, dia sedikit memaksa untuk menginap dirumah saja, takut sahabatnya mengalami kejadia yang sama padanya namun Satou menolak halus.

berkali-kali sahabat pinky-nya itu meyakinkannya, bahwa dia tidak apa-apa untuk tinggal sendirian di apartemen pemberiannya.

Naruto mengalah tetapi dia selalu mencecoki Satou untuk menelponnya segera jika terjadi sesuatu.

Naruto melihat sebuah pesan masuk di ponselnya. Satou sudah berangkat terlebih dahulu karena ada sesuatu penting yang ingin di kerjakannya. Naruto membalasnya dengan berhati-hati. jika di pagi hari atau siang hari, Naruto tidak terlalu mencemaskannya, karena sudah banyak orang beraktivitas di luar.

"hmm, bau apa ini?", Naruto mencium bau harum khas makanan yang menyengat di hidungnya ketika melangkahkan kakinya keluar kamar.

"makanan? siapa yang memasak?", karena penasaran. Naruto bergegas kearah dapurnya. dapat dilihatnya beberapa mangkok nasi dan peralatan makan tersedia di meja makan, sisa lauk yang belum tersedia. Naruto melirik kearah dapurnya. seorang perempuan memakai kaosnya yang kebesaran sebatas lututnya bewarna putih polos, berdiri membelakanginya.

"siapa kau? apa yang kau lakukan dirumahku?" tanya Naruto sengit, pada perempuan yang masih asik memasak sarapan pagi.

perempuan itu berbalik, "are, Naruto-san, selamat pagi", Sayu tersenyum manis ketika berbalik melihat Naruto sudah terbangun dan siap berangkat sekolah.

"Sayu, apa yang kau lakukan dirumahku, ah tidak, di Tokyo?" tanya Naruto linglung. dia seperti orang idiot.

Sayu cekikikan melihat tingkah Naruto. dia membawa yakizakana dan sup miso buatannya keatas meja.

"kau tidak berubah Naruto-san, selalu saja pelupa. bukankah semalam kau membawaku kerumahmu" ucapnya lalu memilih duduk di salah satu kursi yang terletak disana.

"ah, iya? benarkah? umm, hahaah maaf-maaf" Naruto tertawa kikuk, tangannya mengusap kepala belakangnya. lalu mengikuti Sayu, duduk di hadapannya.

"Naruto-san tidak banyak berubah", Sayu dan Naruto cukup lama mengenal. mereka tau sifat masing-masing karena hubungan pertemanan mereka ketika masih tinggal di kota yang sama.

"ahaha, ngomong-ngomong kau yang memasak ini semua? kelihatannya enak", Naruto berkomentar melihat masakan Sayu. dia mengambil sumpit dan bersiap untuk makan.

gadis Ogiwara itu memutar matanya malas.

"memangnya ada orang lain dirumah ini, Naruto-san?"

"yah juga sih, tapi aku tidak enak karena merepotkanmu menyiapkan sarapan untukku", Naruto menatap Sayu, menggerakan sumpitnya yang masih bersih menunjuk sarapan buatan Sayu.

"ah, justru aku yang seharusnya bilang begitu. maaf karena aku, Naruto-san harus repot-repot menampungku disini" kata Sayu dengan sedikit sesal.

"jaa, kalau begitu jadi pembantu saja dirumahku. bagaimana?" tanya Naruto bercanda. matanya mengerling nakal, membuat Sayu menggembungkan pipinya sebal.

"mou~ Naruto-san, jahat"

"hahahah bercanda. saa, mari kita makan, aku harus berangkat sekolah"

Sayu mengangguk, mereka sarapan bersama pagi ini.

"ittadakimasu"

—o0o—

"Satou-chan, selamat pagi" sapa Naruto yang baru saja sampai di sekolah, melihat Satou yang melewati koridor sekolah dengan membawa tumpukan buku. "sini ku bantu", tanpa menunggu respon sahabat kecilnya, Naruto memindahkan tumpukan buku itu ke tangannya.

"selamat pagi, Naruto-kun, maaf merepotkanmu" kata Satou hangat, sedikit terkejut tingkah tiba-tiba Naruto sebelum memakluminya.

"merepotkan bagaimana? ini tidak berat tau" ucap Naruto, menaikkan-turunkan buku di tangannya.

mereka berjalan beriringan menuju perpustakaan untuk mengantar buku itu.

"kau selalu mengatakan itu untuk menenangkan ku, kau tau?" tanya Satou, suaranya terdengar seperti khas gadis yang khawatir namun enggan menampakkannya.

"tidak tau, lagian ini biasa aja" Naruto mengankat bahunya tak peduli, sebelum melirik sahabat kecilnya. "semalam kau baik-baik saja kan? tidak ada yang menganggumu, kan?" tanyanya.

Satou tersenyum manis, "hmm tidak ada Naruto-kun"

"benarkah?"

"benar, Naruto-kun"

"apakah itu benar?"

"iya, Naruto-kun"

"tidak berbohong?"

"tidak"

"kau mengakatan sebenarnya?"

"iya"

"iya, kah?"

"stop, Naruto-kun" Satou sadar, bahwa Naruto hanya mengerjainya.

"hahahaha" Naruto tertawa ketika melihat wajah Satou yang kesal. itu terkesan imut di matanya.

"Naruto-kun, bodoh" Satou memukul pelan punggung Naruto yang masih tertawa. "berhenti tertawa, Naruto-kun" ucap Satou yang mendengus pelan.

"baik, baik, ahh Satou-chan pemarah sekali" ucap Naruto dengan suara gelinya. "dan urusan penting apa yang membuatmu harus berangkat pagi-pagi?" tanya Naruto penasaran. kini giliran yang menyeringai.

Satou mendekat kearah telinga Naruto, "dasar Knowing Every Particular Object" Satou berbisik pelan.

"hah?! apa itu?"

Satou terkikik pelan, "disingkat KEPO, dasar kudet. bwee" setelah mengucapkan itu, Satou berlari meninggalkan Naruto di belakang, tak lupa dia memeletkan lidahnya kearah sahabatnya.

"oi, Satou-chan, jangan lari. woy, Satou-chan", Naruto berteriak memanggil teman kecilnya, karena dia membawa buku dia tidak bisa berlari. ah, mungkin nanti di akan menghukum temannya itu.

.

.

.

.

.

"ahh senangnya bisa beristirahat", Naruto duduk bersandar pada pagar tinggi yang terletak di atap sekolah.

siang ini, Naruto dan Satou bertemu untuk makan siang bersama di atap sekolah. Satou duduk di hadapan Naruto dan menaruh kotak bentonya.

"Naruto-kun, ayo makan dulu", Satou membuka kotak bentonya, membuat aromanya menguar hingga ke hidung Naruto.

"ah, Satou-chan, masakanmu selalu enak. dari baunya saja, sudah mengundang rasa laparku" puji Naruto, Satou terkekeh pelan, meski dia tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.

"tapi, aku juga membawa bento", Naruto mengeluarkan kotak bentonya yang berbentuk kotak, bewarna silver. bento buatan Sayu.

Satou mengerutkan kening, melihat kejadian langka ini. sangat jarang Naruto membawa bento sendiri. walaupun dia tau, Naruto masih bisa memasak hal-hal sederhana. tapi pemuda itu terlalu malas untuk menyiapkan, biasanya dia selalu meminta bento milik Satou.

"tumben kau membawa bento Naruto-kun"

Naruto mengangguk, "aku di buatkan" Naruto membuka kotak bentonya. baunya tak kalah sedap dengan milik Satou.

"sama siapa?" selidik Satou

"sama teman, dia diru–, eh aku belum memberitaukanmu, yah?", wajah Naruto berubah terkesiap ketika mengingat hal penting. wajah Satou semakin menunjukkan kebingungan.

"teman? dan apa itu Naruto-kun?"

"ah, aku punya teman, dia sekarang tinggal dirumahku", Naruto membuka lebar mulutnya untuk memakan tamagoyaki buatan Sayu.

"eh, sejak kapan?" tanya Satou sedikit terkejut.

"sejak semalam, ehm mantan tetanggaku dulu sih. nanti ku kenalkan dia padamu" jawab Naruto

"hmm, aku sedikit sedih dan senang juga", Satou memandang kotak bekal miliknya dan Naruto bergantian.

"kenapa?"

"yah, dengan begini mungkin Naruto-kun tidak perlu makan bento ku lagi dan senang karena sudah ada yang menyiapkan makan siang untuk Naruto-kun" ucap Satou, berusaha terlihat senang. dia tersenyum kearah Naruto hingga matanya tertutup. namun, Naruto membacanya.

"apa itu?"

"eh?"

HAP!

Naruto memakan sushi buatan Satou.

"aku ini makannya banyak, jadi Satou-chan, bikinkan aku seperti biasa. perutku akan selalu merindukan masakanmu, tau" ucap Naruto di sela-sela kunyahannya. "ehm, enak, Satou-chan" pujinya lagi.

Satou tersenyum manis. dia suka perasaan ini bersama Naruto. sejak pertemuan mereka sepuluh tahun lalu, Naruto selalu ada bersamanya, suka ataupun duka. dia tidak pernah meninggalkannya. dia melakukan apapun untuk membuatnya tersenyum dan terlindungi jika bersamanya. Satou menyukainya.

Satou mendongak keatas menatap langit biru yang bersinar terang.

"cinta, kah?"

—o0o—

"tadai–"

mata Naruto membulat.

"–maaaaaa, kenapa rumahku bisa sebersih ini?", Naruto melihat sekeliling rumahnya yang nampak berkilau cerah.

yah, dia memang sering membersihkan rumahnya tapi ini terlalu bersih. Naruto menganga lebar.

"ini beneran rumahku, kah?" tanyanya pada diri sendiri. dia masih menjelajahi rumahnya.

dari arah ruang keluarga, Sayu keluar menuju pintu masuk rumah Naruto.

"ah, Naruto-san, selamat datang", Sayu menyambut kepulangan Naruto dengan senyuman manis.

"kau ingin mandi dulu? atau mau makan dulu? aku sudah menyiapkan semuanya" oceh Sayu bak seorang istri yang menunggu kepulangan suaminya.

Naruto memijit pelan keningnya.

"terima kasih, Sayu. tapi kamu seharusnya tak perlu bekerja sekeras ini tau. ketika aku menawarkanmu untuk tinggal disini. bukan berarti aku menyuruhmu bekerja keras melakukan apapun untukku. kau bisa bersantai" jelas Naruto menatap Sayu, dia menghela nafas pelan. dia menarik tangan Sayu untuk keruang keluarga.

Naruto menunjuk nomor telepon berbeda-beda pada kertas yang tertempel di dinding di atas telpon rumah.

"ini nomor asisten rumah tangga, jika aku terlalu malas atau letih bekerja, aku menghubungi mereka untuk melakukan pekerjaan rumah dalam setiap satu hari. kau bisa melakukan itu untuk dirimu juga" jelasnya lagi.

Sayu menggelengkan kepalanya, cengkraman tangannya pada kemoceng mengeras.

"tidak perlu, Naruto-san. aku tidak bekerja keras kok. lagipula ini kemauanku. aku hanya bosan duduk seharian dirumah" balas Sayu.

"kalau begitu bemain game saja kalau bosan. di kamarku banyak edisi game terbaru" kata Naruto.

"tidak perlu Naruto-san, aku lebih suka melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat" ucap Sayu dengan senang, namun sesaat wajahnya menunduk. "dan lagi, aku tidak tau bermain game" ucapnya pelan.

"kalau begitu ayo ke kamarku. akan ku ajar kau bermain hingga lupa waktu", Naruto paham, dia segera menarik tangan Sayu ke kemarnya. membuat Sayu terkejut karena tarikan itu.

"tunggu, Naruto-san, pekerjaanku"

"tinggalkan saja dulu, ayo kita bermain"

Naruto mengenalkan banyak sekali game pada mantan tetangganya. mulai dari PC, PS, PsP dan masih banyak lagi. Naruto benar-benar mengajarkan Sayu hingga mereka lupa waktu.

—o0o—

hari minggu ini, Naruto libur sekolah, dia juga dapat cuti dari tempatnya bekerja. Naruto memanfaatkan ini dengan menemani Sayu untuk berbelanja. dia ingin membelikan kebutuhan sandang untuk Sayu. kasihan juga kalau bajunya hanya satu, sekaligus jalan-jalan memperkenalkan Tokyo pada Sayu.

awalnya Naruto ingin mengajak Satou juga, ingin memperkenalkan mereka berdua. sayangnya, Satou mengatakan bahwa Shoko lebih dulu mengajaknya. Naruto memaklumi, biasalah cewek, mungkin lain kali mereka mempertemukannya.

"Naruto-san, setelah ini apa lagi?", Sayu memasukkan daging ke dalam keranjang yang penuh dengan kebutuhan rumah tangga. setelah membelikan Sayu beberapa pakaian. Naruto juga mengajaknya untuk membeli kebutuhan rumah tangga, mengisi stok yang sudah hampir habis.

"ah, cup ramen. kita lupa membelinya"

"mou~ Naruto-san, kau terlalu banyak mengomsumsi makanan tidak sehat itu"

Naruto berdecak pelan, dia melepaskan tangannya pada keranjang yang dia dorong.

"kau ini tidak mengerti selera yah? makanan enak gitu kok di bilang tidak sehat"

"kau dan obsesi ramenmu", Sayu lebih baik berhenti menegur Naruto sekarang. jika tidak, sepanjang hari dia harus mengorbankan telinganya mendengar Naruto berbicara kelezatan ramen.

Naruto mendengus pelan ketika Sayu beranjak mencari apa yang Naruto cari.

setelah memastikan belanjaan mereka sudah lengkap dan tidak kurang. mereka bergegas untuk membayar dan rencananya Naruto ingin mengajak Sayu untuk nongkrong ke cafe terdekat.

"eh, Naruto-san, kita mau kemana?" tanya Sayu ketika Naruto menarik tangannya ke dalam cafe yang terletak yang tidak jauh dari supermarket.

"nongkrong lah, mau ngapain lagi", Naruto memilih untuk duduk di pojokan, suasana cafe sedikit sunyi karena jam makan siang sudah lewat. mereka duduk berhadapan. belanjaan mereka di taruh di bawah meja agar tidak menganggu.

Naruto membuka buku menu dan memilih salah satu makanan disana, setelah diantar oleh pelayan cafe. Sayu terdiam, Naruto meliriknya sebentar.

"hoi, kenapa diam, pilihlah makanan yang kau suka", Naruto kembali mengamati daftar makanan itu.

"ano, Naruto-san"

"hmm?"

"kau sering ke tempat seperti ini?" tanya Sayu sedikit canggung. Naruto menaikkan sebelah alisnya bingung mendengar pertanyaan Sayu.

"hmm tidak sering sih, tapi aku bekerja di cafe. yah jika ada tugas kelompok sih biasanya teman-temanku memilih tempat seperti ini", Naruto menutup menunya, dia sudah memilih untuk memesan apa. "kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyanya balik. dia melihat Sayu tersentak sebelum menunduk pelan.

"anu– itu, euh..." Sayu bingung untuk menjelaskan apa yang dirasakannya.

"maa, kalau kau tidak nyaman tidak usah di jawab. aku tidak memaksa. Sayu, aku akan menunggumu untuk terbuka padaku, jika kau sudah siap. kapapun kau butuh aku, maka datanglah padaku", Sayu terkejut mendengar itu, dia menegakkan kepalanya kembali dan menatap Naruto yang melipat kedua tangannya diatas meja dan tersenyum lembut kearahnya.

"Naruto-san?"

"aku ini temanmu juga tau, aku khawatir jika sesuatu terjadi padamu", Sayu terenyuh, dia teringat ketika mereka masih bersekolah di tempat yang sama meski tidak sekelas.

Sayu memantapkan untuk berbicara pada Naruto.

"sebenarnya ini pertama kali aku nongkrong di cafe. baru pertama kali seseorang mengajakku untuk ke cafe" ungkap Sayu jujur, dia mengepalkan tangannya diatas pahanya.

Naruto diam mendengarkan, meski terkejut bahwa Sayu belum pernah memgunjungi cafe sebelumnya. anak SMA sudah sering keluar masuk cafe bersama teman-temannya.

"setiap kali pulang sekolah, aku langsung pulang. ibu akan memarahiku jika aku pulang terlambat" ujarnya lagi, Sayu menghela nafas pelan sebelum melanjutkan. "aku sering melihat anak SMA singgah di tempat seperti ini dan kadang aku berpikir 'seperti itu kah kehidupan anak SMA' dan lagi, tidak ada seorang pun mengajakku untuk nongkrong bersama mereka" lanjutnya lagi.

"Naruto-san, semenjak kau pindah ke Tokyo, aku benar-benar tidak memiliki teman. aku bingung untuk bagaimana berbicara dengan mereka. mereka seperti menganggapku anak yang anti sosial dan kaku jika diajak bicara. dulu, hanya Naruto-san yang bisa memahamiku. meski pertemuan kita terlalu singkat, aku bersyukur berteman denganmu. dan sekarang lagi-lagi kau membantuku, aku berhutang banyak padamu, terima kasih Naruto-san" kata Sayu dengan penuh kepedihan dalam suaranya. air mata menggenang di pelupuk matanya siap untuk mengalir deras meski beberapa bulir sudah jatuh melewati pipinya.

Sayu tersentak ketika tangan Naruto mengambil tangannya dan menaruhnya atas meja. Naruto menggenggam tangan Sayu.

"Sayu, kau gadis yang hebat kau tau," Sayu terkejut mendengar pujian dari Naruto. "maaf jika dulu aku meninggalkanmu pada saat kau membutuhkan seseorang untuk berbagi kesedihan. tapi sekarang aku ada disini, kau dan aku adalah teman, dulu, sekarang dan hingga nanti" lanjutnya lagi.

"kau tidak perlu khawatir sekarang, aku ada disinj, jangan sungkan jika kau butuh sesuatu. dan lagi, aku berjanji akan membawakan teman serat– ah tidak seribu teman jika kau mau" ucap Naruto berusaha untuk mengembalikan mood Sayu. tangan kanannya menghapus air mata Sayu yang sudah jatuh ke pipinya.

"aku menunggumu untuk membawakannya padaku Naruto-san", Sayu terkekeh di sela-sela tangisnya.

"baik, baik. sekarang waktunya memesan", Naruto membuka menu dan memberikannya pada Sayu.

"aku sedikit bingung untuk memilih Naruto-san. bisakah aku merekomendasikan aku sesuatu"

"tentu saja, aku akan memesankanmu. permisi" Naruto memanggil pelayan cafe untuk memesan.

"baik, anda memesan apa?"

"saya memesan latte macchiato, matcha latte, red velvet dan blackforest"

"baik, ada lagi?"

"itu saja"

"baiklah, silahkan menunggu pesanan anda" pelayan cafe itu meninggalkan mereka berdua.

"matcha latte?" tanya Sayu bingung.

"untuk mengembalikan mood mu, aku yakin kau menyukainya dan juga kue blackforest enak tuh" Naruto tersenyum miring. Sayu mengangkat kedua bahunya. mungkin pilihan Naruto tidak buruk.

.

.

.

.

.

setelah mampir kerumah untuk menaruh belanjaan mereka. Naruto kembali mengajak Sayu jalan-jalan di malam hari. makin malam, Tokyo makin di padati oleh orang-orang.

"nih" Naruto memberikan salah satu taiyaki ice cream pada Sayu. setelah makan malam, Naruto mengajak Sayu untuk jajan street food.

mata Sayu berbinar cerah melihat makanan yang di bawah Naruto. dia menerimanya dengan senang hati.

"terima kasih Naruto-san"

"mukanya biasa aja dong" ejek Naruto

"ini ini enak tau" Sayu menyuapkan eskrim itu ke mulutnya.

Naruto menyenggol lengan Sayu dengan sengaja, ketika gadis itu menyuapkan eskrim itu membuat pipinya sedikit belepotan.

"Naruto-san!"

"hahahah, maaf, sengaja"

Sayu memukul lengan Naruto yang tertawa.

lalu Naruto kembali mengajak Sayu untuk menikmati jajanan street food yang lain. keduanya menikmati waktu hangout berdua.

"Sayu, kau tunggu aku disini, aku ingin menyelesaikan sesuatu" ucap Naruto dengan wajah seperti menahan sesuatu.

"baiklah, hati-hati Naruto-san"

"jangan kemana-mana, tunggu aku disitu. aku akan segera kembali, hubungi aku jika terjadi sesuatu" Naruto berlari dengan cepat ketika dia sudah tidak bisa menahannya. Sayu hanya tercengang melihat tingkah Naruto.

"hmm aku ingin berjalan-jalan di sekitar sini", Sayu melihat-lihat beberapa stan-stan pernak pernik yang tersedia.

DUGH!

"maafkan saya, saya tidak sengaja" ucap Sayu ketika tidak sengaja menyenggol pundak seseorang.

"iya", entah kenapa Sayu merasa merinding mendengar gadis seumurannya itu berbicara.

gadis itu berjalan melewati Sayu yang tersentak.

"Satou-chan, kita kearah sana", Sayu mendengar teman gadis yang dia tabrak memanggil namanya.

"tunggu sebentar, Shoko-chan", Satou mengikuti langkah lebar temannya.

Sayu memandang mereka cukup lama, sebelum akhirnya dia kembali fokus untuk melanjutkan kegiatannya.

hampir satu jam lamanya Sayu menunggu Naruto, namun pemuda itu belum juga kembali. Sayu menjadi khawatir karena pemuda itu juga tak kunjung menjawab telponnya.

karena tak tahan, dia segera mengelilingi tempat itu untuk menemukan Naruto, tetapi dia belum menemukannya. Sayu berhenti sejenak untuk mencari Naruto.

"Naruto-san, dimana kau?", Sayu mencoba untuk menelponnya lagi tetapi sama. namun, dia mendengar suara nada dering yang familiar di telinganya dari arah gang kosong yang tau jauh darinya.

"eh, ini, kan?", Sayu memasuki gang kosong itu dengan takut-takut. tapi dia memaksakan diri, siapa tau memang Naruto disana. semakin lama suara dering itu semakin jelas.

"Naruto-san?" panggil Sayu berharap Naruto menjawab. gang itu nampak gelap. panggilannya terputus. Sayu menyalakan senter ponselnya untuk menyoroti gang kosong itu. dia semakin masuk kedalam.

"Naruto-san, kau disitu?" panggilnya lagi. dia melihat kedepan.

mata Sayu melebar karena terlalu terkejut. dia melihat Naruto berbaring telungkup di tanah, kepalanya berdarah, wajahnya babak belur. dia tidak sadarkan diri disana.

Sayu berlari kearah Naruto dan mengangkat dengan kepala Naruto di pahanya.

"Naruto-san, sadarlah! apa yang terjadi padamu? Naruto-san! Naruto-san!" wajah Sayu sudah penuh dengan air mata ke khawatiran, dia berteriak menyadarkan Naruto untuk membuatnya sadar namun nihil.

"tolong! tolong! tolong! seseorang tolong bantu aku"

Sayu memanggil orang-orang untuk membantunya.

beruntung beberapa orang masuk kedalam gang itu setelah mendengar teriakan Sayu.

tak lama sebuah ambulans datang untuk menolong Naruto.

"aku mohon, bertahanlah Naruto-san" ucap Sayu, air matanya terus keluar. tangannya mengenggam tangan Naruto yang pingsan. saat ini mereka sedang menuju perjalanan kerumah sakit.