Disclaimer :

Naruto punya Masashi Kishimoto

Happy Sugar Life punya Tomiyaki Kagisora

dan karakter lainnya punya penciptanya masing-masing.

Warning : typo, OOC, bahasa tidak teratur, cerita amburadul pokoknya, ide ceritanya gak jelas, di buat karena iseng, dan masih banyak lagi.

—o0o0o0o0o—

(beberapa saat yang lalu)

Naruto menghela nafas lega setelah menyelesaikan urusannya di toilet umum. dia menepuk perutnya yang terasa lega.

tak ingin Sayu terlalu lama menunggu, Naruto ingin segera kembali tetapi samar-samar dia mendengar suara teriakan minta tolong.

suara itu berasal dari gang yang cukup sepi. suara itu di telan keramaian. tanpa pikir panjang, dia segera memeriksa asal teriakan itu.

mata Naruto terbelalak, melihat tiga orang preman menangkap seorang gadis dan melakukan sesuatu tidak senonoh gadis itu.

"apa-apaan mereka itu" gumam Naruto marah.

tanpa berpikir panjang, Naruto segera berlari dan menendang salah satu preman yang hendak merobek baju gadis itu hingga terjungkal kesamping.

kedua preman yang memegangi gadis itu terkejut, melihat temannya tersungkur. kedua preman itu melepaskan gadis itu dan berlari dengan sempoyongan kearah Naruto.

Naruto menebak, mereka di bawah pengaruh alkohol terbukti dengan cara jalan mereka yang tidak seimbang.

"anak kurang ajar, hajar", salah satu dari mereka mencoba memukul Naruto.

meski tubuh mereka lebih besar dari Naruto tetapi karena di bawah pengaruh alkohol mereka tidak bisa mengendalikan tubuh mereka. alhasil Naruto bisa melawan mereka.

gadis itu hanya bisa berdiri, menatap pemandangan itu dengan ngeri. ketiga preman itu terkapar di tanah karena di hajar Naruto dan karena tidak kuat berdiri lagi.

Naruto segera menuju gadis itu, mungkin masih syok karena hampir menjadi korban pelecehan seksual dari para preman itu.

"hey, kau tidak apa-apa?" tanya Naruto dengan khawatir. gadis itu hanya menggeleng kaku.

Naruto memaklumi karena kejadian itu. dilihatnya pakaian gadis itu seperti kusut dan robek di bagian lengan atasnya. dia membuka jaketnya dan memakaikannya pada gadis itu.

Naruto membawa gadis itu ke keramaian untuk mengantarkannya.

"pergilah dari sini, aku akan membawa mereka ke kantor polisi", gadis itu terkejut ketika Naruto mengenakan jaket padanya.

"ta-tapi.."

"pergilah, cepat!"

gadis itu mengangguk dan segera pergi dari sana tetapi dia berbalik, "siapa namamu?" tanyanya sebelum Naruto kembali ke para preman itu.

"Namikaze Naruto" teriak Naruto tanpa berbalik menatap gadis itu dan terus berlari kearah preman itu.

mata gadis itu menyendu, matanya menatap punggung Naruto yang menghilang di balik tembok.

Naruto melihat para preman itu terkapar, dia mencoba meraih salah satu diantara mereka. tanpa dia sadari, salah satu diantara mereka juga, sadar meski masih di pengaruhi alkohol.

dia melihat botol alhokolnya yang sudah kosong yang tak jauh darinya. preman itu mengambilnya dan berjalan menuju Naruto dengan sempoyongan.

merasa ada seseorang berjalan kearahnya, Naruto segera berbalik tetapi—

PRANG!

sebuah botol kaca menghantam kepalanya.

Naruto meringis kesakitan ketika rasa perih memenuhi kepalanya. dia merasakan darah keluar dari lukanya cukup banyak. rasa pusing menyerangnya.

"bagaimana sia*an, kau menikmatinya", preman itu memukul Naruto.

melihat Naruto hanya meringis kesakitan di tanah. preman itu memanggil kedua temannya, hingga mereka terbangun dan memukul Naruto. setelah puas, mereka meninggalkannya sebelum orang-orang menyadari keributan yang mereka buat.

Naruto ingin berteriak tetapi dia seperti kehilangan tenaga untuk berteriak. hingga akhirnya kegelapan menelannya, dia pingsan.

—o0o—

mata Naruto mengerjap pelan, cahaya matahari menusuk matanya memaksanya untuk segera terbuka.

pemandangan pertama yang dia lihat adalah langit-langit putih serta hidungnya mencium bau obat-obatan yang cukup menyengat.

Naruto berpaling kearah kirinya, melihat sebongkah rambut sedang me yangga kepalanya di ranjangnya dan tertidur. dia segera duduk dan memastikan dimana dia berada.

"Sayu", tidak respon dari gadis itu, Naruto menyentuh kepalanya dan mengusapnya pelan, mencoba membangunkannya sekali lagi. "Sayu!"

gadis itu merespon, dia melengguh pelan sebelum mengerjap kaget. dia menatap Naruto yang kini tersenyum manis. meski kepala dan beberapa bagian wajahnya di perban.

"selamat pagi, Sayu" Naruto tersenyum manis. sementara Sayu sudah ingin menangis melihat Naruto. "eh, Sayu kau kenapa? ada yang sakit?" tanya Naruto panik, ketika melihat air mata Sayu sudah menentes.

tanpa menjawab pertanyaan Naruto, Sayu segera memeluk Naruto dan terisak pelan.

"huhu, aku pikir kau akan mati Naruto-san" ucap Sayu dengan sedikit nada ejekannya. membuat Naruto memutar matanya malas.

"woy, aku masih hidup woy. kau doang yang doain kayak gitu" ucap Naruto sedikit kesal, meski ujung-ujungnya di tersenyum tipis.

"aku tidak perlu repot-repot mengurus rumahmu sendirian dan aku tidak akan takut kau menghantuiku nanti Naruto-san" ucap Sayu, lalu melepas pelukannya dan menyeka air matanya yang jatuh.

"terserah kau lah"

Naruto memutar matanya malas.

"berapa jam aku tertidur?" tanyanya.

"cukup lama, kau baru bangun pagi ini, semalam aku benar-benar khawatir tau", Sayu mengambil makanan dan minuman khusus orang sakit yang di bawakan oleh suster. "nah, ayo makan Naruto-san", Sayu menyuapkan bubur buatan rumah sakit.

"tidak mau, aku tidak suka bubur", Naruto memalingkan wajahnya. menghindari makanan lembek itu.

sendok itu kembali diatas piring, Sayu berkacak pinggang melihat tingkah Naruto.

"Naruto-san, kau itu sakit harus makan. kau juga harus minum obat" kata Sayu sedikit kesal. Naruto mendengus pelan.

"tapi aku tidak suka bubur. ganti yah, ramen gitu" rengek Naruto, wajahnya memelas tapi Sayu tidak tertipu dengan wajahnya.

"tidak, makan sekarang atau menyembunyikan semua cup ramen di rumahmu" ujar Sayu mengancam Naruto. mau tak mau Naruto hanya bisa berdecak kesal.

"oke, okey, kau ini seperti ibuku saja"

"diam dan makan saja"

"ya, ya, ya"

—o0o—

Satou berulang kali memencet bell rumah Naruto, tetapi tidak ada tanda-tanda sang pemilik rumah menampakkan batang hidungnya.

mendengar Naruto tak masuk sekolah dan tidak ada kabar mengenai sahabat kecilnya. membuat perasaan khawatir di hati Satou menyeruak keluar. dia memilih untuk bolos sekolah dan mencari Naruto. dia takut jika terjadi sesuatu buruk pada sahabatnya. apalagi sejak semalam, dia tidak menanyakan kabar apapun padanya.

belum lagi pesan-pesannya tidak di balas sama sekali. Satou hanya ingin tau kabar sahabatnya. tidak biasanya dia menghilang tiba-tiba.

"Naruto-kun" ucapnya lirih. dia mengecek ponselnya sekali lagi.

sedikit terkejut dia mendapatkan balasan. namun, keterkejutannya semakin bertambah ketika menemukan balasan dari sahabatnya bahwa dia sedang di rawat di rumah sakit.

tanpa mempedulikan yang lain lagi, sesegera mungkin Satou bergegas kerumah sakit. tidak biasanya sahabat kecilnya itu berakhir dirumah sakit. jika begini, kemungkinan Naruto mengalami sesuatu hal yang buruk.

sesampainya dirumah sakit, Satou tidak perlu repot-repot untuk bertanya pasa resepsionis tentang kabar kamar Naruto. sahabatnya lebih dulu memberitahunya.

saat tangga lift terbuka, Satou merasa seseorang melintasinya, rasanya familiar. tapi dia abaikan untuk bergegas ke kamar Naruto.

"Naruto-kun", pintu kamar rawat Naruto, Satou buka dengan tergesa. melihat sahabatnya duduk di ranjang rumah sakit sambil menonton tv, sendirian.

mata Naruto beralih menatap Satou yang menampakkan ke khawatirannya.

"yo, Satou-chan, apa ka..." suara Naruto berhenti sebelum selesai. pelukan Satou lebih dulu membungkamnya.

"bodoh, kau bodoh", pelukan Satou mengerat, mengeluarkan perasaannya. Naruto tersenyum tipis sebelum membalas pelukan sahabatnya.

"maaf yah, kau pasti mengkhawatirkanku" ucap Naruto dengan suara lembutnya.

"tentu saja bodoh, kau menghilang tanpa kabar dan sekali aku dapat kabar, kau masuk rumah sakit. mana mungkin aku tidak khawatir" ujar Satou dengan suara bergetar menahan tangis. wajahnya dia benamkan pada ceruk leher Naruto.

Naruto mengelus punggung Satou dengan lembut. dia membiarkan sahabatnya untuk tenang. dia paham, ini sepenuhnya adalah salahnya. mungkin jika di posisi Satou, mungkin dia bertindak lebih lagi.

"sudah tenang?" tanya Naruto ketika pelukan Satou mengendur.

Satou melepaskan pelukannya, dia menatap wajah Naruto yang di perban, kepala dan pipinya.

"Naruto-kun, sekarang jelaskan, kenapa kau bisa masuk rumah sakit, hmm?" tanya Satou sambil tersenyum manis.

meski Satou tersenyum manis, tetapi hawanya membuat bulu kuduk Naruto meremang. aura hitam tipis, entah mengapa Naruto bisa melihatnya menguar dari tubuh Satou.

"ba-baik, aku jelaskan, duduk dulu"

Naruto tersenyum kikuk.

Satou tidak protes, dia segera duduk disamping Naruto, mendengar alasan apa yang menyebabkan sahabatnya ini berakhir dirumah sakit.

"jadi, gini..."

.

.

.

Satou mengangguk paham, sudah tidak heran dengan sikap Naruto yang 'terlalu' baik pada orang menurutnya. selalu menolong orang tanpa pamrih meski berakhir buruk pada dirinya sendiri. selain itu, dia terlalu keras kepala untuk di beritahu agar tidak ceroboh.

"tapi tetap saja ini juga salahmu, selalu bertindak ceroboh" ujar Satou yang kini dalam mode nasehatnya. memarahi sahabat kecilnya agar tidak mengulangi tindakan yang membuat dalam masalah.

"hahahah, maaf Satou-chan, aku mana tau kalau preman itu masih bisa bangun" cicit Naruto berusaha mengelak. tangannya mengusap belakang kepalanya.

"tidak, kau tetap salah. jadi apa perlu aku menghukum mu" kata Satou dengan nada berbahaya.

Naruto berjengit takut, dia menangkup kedua telapak tangannya.

"maafkan saya, Satou-sama"

pada akhirnya Naruto harus menerima hukuman akibat dari perbuatannya.

—o0o—

tok! tok! tok!

suara ketukan pintu yang berasal dari kamar tidur yang cukup besar dan luas. seorang laki-laki di usia awal 30-an mengetuk pintu kamar mewah itu.

"masuk"

suara gadis remaja membalas ketukan pintunya. pria itu segera masuk kedalam setelah di perintah.

matanya menangkap seorang gadis muda sedang berbaring di atas ranjangnya sambil memeluk sebuah jaket milik seorang laki-laki. sangat mengherankan pria itu tetapi tidak berani menyela.

"ada apa?" gadis itu bertanya.

pria itu menyentuh dada kirinya dengan tangannya dan membungkuk pelan khas seorang butler.

"maaf menyela kegiatan anda ojou-sama, saya hanya ingin mengirimkan biodata seseorang yang anda pesan", setelah mengucapkan itu pria itu kembali berdiri tegak.

gadis itu segera beranjak dari rebahannya, tak lupa mengenakan jaket milik laki-laki di badannya lalu mengambil sebuah map bewarna coklat di tangan pria itu. membukanya dan membacanya.

"selain itu, saya mendapatkan kabar bahwa Namikaze Naruto di rawat dirumah sakit milik paman anda, ojou-sama", pria itu kembali melanjutkan

gadis itu tersenyum manis, setelah membaca biodata penolongnya semalam. pahlawan dadakannya, Namikaze Naruto.

"terima kasih, Yahiko-san"

"tidak perlu berterima kasih ojou-sama" ujar Yahiko. dalam hatinya dia sangat ingin bertanya, ada apa dengan tingkah laku majikannya yang meminta sesuatu mengenai biodata seorang laki-laki. tetapi dia sadar, dia tidak punya hak untuk menanyakan itu.

"saya pamit undur diri, ojou-sama" ujar Yahiko, dia menundukkan tubuhnya sebentar lalu hendak keluar dari kamar majikannya.

"Yahiko-san"

Yahiko berhenti, dia menatap gadis muda itu.

"kita akan ke rumah sakit, antar aku kesana" ujar gadis itu.

"sesuai permintaan anda ojou-sama"

setelah itu Yahiko meninggalkan gadis itu sendirian di kamar. tersenyum penuh makna. terbayang-bayang dengan kejadian semalam.

"Namikaze Naruto", gadis itu melirik foto yang terpampang disana. "ara~ ternyata seumuran denganku"

gadis itu meletakkan map coklat itu pada sofa yang terletak di kamarnya. lalu mengeratkan jaket yang di kenakannya.

"hmm~ harum sekali, hihi"

gadis itu terkikik pelan.

—o0o—

"hahahaha"

Naruto tertawa keras, sementara Satou hanya cemberut.

"kau kalah lagi, Satou-chan", Naruto melemparkan kartunya diatas ranjang.

saat ini keduanya bermain kartu di atas ranjang rumah sakit Naruto untuk membuang kebosanan mereka.

Satou menolak untuk pulang agar bisa merawat Naruto. sahabatnya tidak keberatan, dia sendirian sekarang.

Naruto menyuruh Sayu untuk pulang kerumah karena takut Sayu tak punya cukup waktu beristirahat dirumah sakit. jadi Naruto kembali melewatkan acara perkenalan Satou dan Sayu.

"kau bermain curang, Naruto-kun" ujar Satou kesal, dia mengembungkan pipinya sebal.

"mana mungkin aku bermain curang, kau saja yang tidak tau main" ucap Naruto, mengejek sahabatnya yang kini membuang kartunya.

Satou menunjuk wajah Naruto dengan kesal.

"kau membuat kartunya bisa di menangkan"

"mana bisa begitu, yeh, memang begitu kok permainannya"

"kau membohongiku kan?"

"tidak"

"bohong"

"aku bilang tidak"

"kau pembohong"

"tidak"

"Naruto-kun, bodoh"

karena terlalu kesal, Satou menubruk tubuh Naruto dan memukul pelan dadanya. beruntung infus Naruto sudah di lepas pagi tadi.

"kalah ya, kalah aja yah" ucap Naruto masih dengan suara ejekannya. tangannya memegang tangan Satou agar berhenti memukulnya.

"diam, kau bermain curang"

"aku bilang tidak–"

tok! tok! tok!

suara ketukan pintu mengintrupsi kegiatan mereka, keduanya kompak berpaling melihat pintu, Naruto menatap Satou yang juga menatapnya. keduanya berbagi pandangan, sebelum Naruto mengangguk pelan. Satou kembali pada posisinya.

"masuk"

seorang perawat masuk kedalam ruangan Naruto.

"maaf menganggu waktunya Namikaze-san, seseorang ingin bertemu dengan anda", perawat itu mengatakan tujuannya.

Naruto mengerutkan keningnya bingung.

"denganku?" gumam Naruto pelan, "hmm panggil saja dia masuk"

"baik", perawat itu keluar untuk memanggil orang yang ingin bertemu dengan Naruto.

Satou menatap sahabatnya, "siapa?" tanyanya.

Naruto mengangkat kedua bahunya tak tau, "kenapa kita tidak melihatnya sebentar lagi" jawabnya.

Satou turun dari ranjang Naruto dan memilih untuk duduk di kursi samping ranjang Naruto.

"permisi"

seorang gadis masuk kedalam kamar Naruto, wajahnya ramah dan tersenyum lembut kearah dua sejoli yang berada di kamar rawat Naruto.

keduanya menatap bingung gadis itu terutama beberapa pengawal yang berdiri di belakang gadis itu.

"ano, kau siapa yah?" tanya Naruto penasaran, membuka pembicaraan mereka. gadis itu tersenyum.

"apakah kamu lupa denganku? semalam kamu menolongku", gadis itu menatap Naruto dengan tatapan lembutnya.

"e, eh?!", Naruto terkejut melihat gadis. wajahnya seperti tidak mengalami trauma atau apapun. tapi Naruto menggelengkan kepalanya, mungkin saja gadis itu menyembunyikan kegelisahannya.

"ah, ahahah, maaf, etto... silahkan duduk" ujar Naruto gugup, dia segera turun dari ranjangnya lalu mengambil salah satu kursi untuk gadis itu.

"kalian bisa menungguku di luar"

"siap, ojou-sama", pengawal gadis itu meninggalkan ruang rawat Naruto. memberikan ruang untuk majikannya.

gadis itu duduk. Naruto menggaruk pipinya karena gugup.

"ano, etto... namaku Naruto, ehm kalau kau?" tanya Naruto. sebenarnya dia bingung ingin berbicara apa. dia terlalu terkejut gadis ini datang tiba-tiba.

gadis itu tersenyum anggun.

"Sasha Necron"

"marga belakang, kau campuran?" tanya Naruto terkejut. Sasha mengangguk. "ahahah, itu bagus, aku sangat jarang menemukan orang blesteran", wajah Naruto memutih tiap kali berbicara. dia benar-benar gugup.

"selain itu, kenalkan, ini sahabatku. namanya Matsuzaka Satou", Naruto mengambil tangan Satou tanpa permisi dan mengulurkannya di depan Sasha.

"Sasha Necron", Sasha mengambil tangan Satou dan menjabatnya. Sasha tersenyum ramah, matanya tertutup.

Satou bukan orang bodoh, dia menyadari sesuatu.

"Matsuzaka Satou", Satou mengeluarkan suara netralnya.

Sasha melepaskan jabat tangan mereka dan masih tetap menampakkan wajah ramahnya. matanya menatap Naruto dan Satou bergantian.

"ara~ kalian ini bersahabat?" tanyanya

Naruto merangkul Satou dan tersenyum, "tentu saja, dia ini sahabat kecilku. kan, Satou-chan" ujarnya.

"iya"

"ahahah, maaf, Satou-chan tidak terbiasa bertemu orang baru" ungkap Naruto jujur.

Sasha tersenyum maklum.

"tidak apa-apa Namikaze-san"

"ah tidak perlu kaku begitu, panggil Naruto saja", kini Naruto mulai santai untuk berbicara.

"baiklah, Naruto-san"

"aku ingin bertanya, maaf kalau lancang. tapi sebenarnya aku sedikit bingung dengan kedatanganmu. dan lagi darimana kau tau aku masuk rumah sakit?" tanya Naruto dengan hati-hati.

"sebelumnya aku ingin berterima kasih, karena Naruto-san sudah menolongku semalam. aku datang secara khusus ingin membalas perbuatan baik Naruto-san kepadaku" jawab Sasha. dia menepuk tangannya dua kali, lalu salah satu pengawalnya masuk membawa paper bag cukup besar, memberikannya pada Sasha lalu kembali keluar.

"ini adalah salah satu tanda ucapan terima kasihku, Naruto-san", Sasha menghampiri Naruto yang duduk diatas brangkarnya dan memberikan paper bag itu pada Naruto.

"eh?", Sasha terkejut ketika Naruto menahan tangannya. dia menatap Naruto bingung.

"untuk berbuat baik pada orang, aku tidak membutuhkan balasan. aku ikhlas menolongmu, kau sedang kesusahan dan aku yakin jika orang lain mendengarmu semalam, dia mungkin langsung menolong mu" ujar Naruto. memberikan cengiran khasnya pada Sasha yang terkesiap.

"tapi, Naruto-san..."

"aku tidak perlu hal-hal seperti Sasha, aku hanya kita berteman. yah, anggap saja ini langkah awal kita saling mengenal. kau bisa minta tolong padaku, jangan sungkan", Naruto melanjutkan ucapannya, dia mengedipkan matanya dengan lucu pada Sasha.

Sasha menundukkan wajahnya, menyembunyikan ekspresinya yang memerah. tapi diam-diam Satou melihat sesuatu dari sudut bibirnya yang melengkung.

"begitu, kah?"

"tentu saja, dan jangan malu padaku, Sasha" ujar Naruto.

Sasha kembali menegakkan kepalanya, menatap Naruto dengan penuh makna.

"terima kasih Naruto-san, kamu pria yang baik. tapi aku tetap memberikan hadiah ini padamu. anggap sebagai tanda awal pertemanan kita", Sasha memaksa memberikan paper bag itu pada Naruto.

mau tak mau, Naruto tetap menerimanya.

"uh, baiklah. terima kasih, Sasha"

"waktuku sudah habis, aku akan segera pergi Naruto-san", Sasha menatap Naruto yang mengangguk. Naruto segera turun dari ranjangnya, bermaksud untuk mengantar Sasha. "Naruto-san, aku punya permintaan, bolehkah?" tanyanya.

"hmm, apa itu?"

"aku ingin memelukmu"

"ha, hah?!", Naruto terkejut dengan permintaan Sasha. "serius?"

Sasha tersenyum malu-malu, "yah anggap saja ini tanda kamu menerimaku sebagai temanmu" ujarnya dengan suara malu-malu.

Naruto menepuk jidatnya.

"tidak mau, yah?"

"ah, bukan begitu. aku hanya terkejut saja, silahkan", mendengar suara sedih dari Sasha membuat Naruto menjadi tidak tega, lagipula hanya pelukan biasakan. dia segera membuka lebar tangannya. Sasha hendak memeluk Naruto tetapi sebuah tangan memegang lengannya.

Sasha berpaling melihat Satou yang berdiri disamping kanan Naruto menatapnya intens.

"eh, Satou-chan", Naruto terkejut dengan tindakan sahabatnya. "ada apa?", Satou tidak menjawab.

"bukankah itu sedikit berlebihan?" tanya Satou, pandangan tak lepas dari tatapan Sasha. "kau belum mengenal terlalu jauh", Satou mengeluarkan penyataan entah untuk siapa.

pandangan mereka beradu, Naruto menjadi tak enak, dia memegang puncak kepala Satou dan tersenyum gugup.

"Satou-chan santai saja. Sasha akan menjadi teman okey, dia orang baik", Naruto mengusap kepala sahabatnya.

Satou melepaskan cekalan tangannya. dia membiarkan permintaan Naruto kali ini. Sasha tersenyum lembut.

"Naruto-san benar", Sasha tersenyum simpul.

mendapat kode dari Naruto, Sasha segera memeluk Naruto. Naruto membalas.

tatapan Satou dan Sasha kembali bertemu. Sasha mencondongkan sedikit kepalanya kesamping kanan Naruto, mendekatkan bibirnya di telinga Satou.

"milikku" bisik Sasha pelan dengan nada berbahaya. sangat pelan hingga Naruto tak cukup menyadari.

mata yang Satou bersinar merah bertemu dengan mata Sasha yang bersinar biru.

seringaian Sasha tercetak jelas. mata Satou terbelalak lebar.

"terima kasih, Naruto-san", Sasha melepaskan pelukan Naruto dan menampakkan wajah ramahnya.

"ah, tidak. seharusnya aku bilang begitu. terima kasih sudah repot-repot menjengukku dan memberiku hadiah" ucap Naruto tak enak hati.

"ehem, tidak apa-apa. kalau begitu aku permisi", Sasha melirik sejenak Satou, mengirimkan tatapan dari sudut matanya.

Naruto melambaikan tangannya sampai Sasha keluar.

"tak ku sangka, gadis itu datang, hahah" gumam Naruto. dia melirik Satou yang menundukkan sedikit wajahnya, hingga poninya menutupi kedua matanya.

Naruto menghela nafas pelan, mengira Satou tersinggung dengan sikapnya tadi.

"maaf Satou-chan. aku hanya ingin kau berteman dengan banyak orang", Naruto menarik Satou dalam pelukannya, Satou membalas dengan melingkarkan tangannya di pinggang Naruto.

"tidak perlu, aku hanya ingin berteman denganmu", suara Satou berubah menjadi lebih santai.

"aku akan selalu jadi temanmu tau"

Naruto menggemas Satou dalam pelukannya dan mengoceh beberapa hal. Satou tidak menghiraukan, tatapannya terus menatap pintu, seolah-olah melihat Sasha disana, matanya bersinar di balik pelukan Naruto.

"mau bermain denganku?" gumam Satou dalam hati. mengingat sesuatu yang bersembunyi di dalam Sasha.

—o0o—

"Naruto-san, kamu benar-benar orang baik, yah"

Sasha memeluk erat jaket Naruto dan mencium dalam-dalam bau yang masih menempel pada jaket Naruto.

dia meringkuk diatas ranjangnya. wajah ramahnya menghilang dengan senyuman penuh dengan keinginan.

"Naruto-san, Naruto-san, Naruto-san. aku ingin Naruto-san"

Sasha tidak bisa menahan gejolak di dalam dadanya yang menginginkan Naruto miliknya. garis bawahi hanya miliknya sendiri.

rasa keinginan dan obsesi menguar di balik hati Sasha.

senyumnya menghilang. wajahnya menggelap. matanya bersinar terang bewarna biru.

"aku ingin Naruto-san!" ucapnya dengan datarnya.


hai, maaf uploadnya telat. terima kasih sudah menunggu, 'Hope' lagi dalam pengerjaan. sabar, yah.