Disclaimer :

Naruto punya Masashi Kishimoto

Happy Sugar Life punya Tomiyaki Kagisora

dan karakter lainnya punya penciptanya masing-masing.

Warning : typo, OOC, bahasa tidak teratur, cerita amburadul pokoknya, ide ceritanya gak jelas, di buat karena iseng, dan masih banyak lagi.

—o0o0o0o0o—

"Naruto-san berhenti bermalas-malasan, waktunya sekolah" Sayu menarik kerah belakang seragam Naruto ketika laki-laki itu ingin merebahkan diri di sofa.

"tapi, tapi... aku malas Sayu" ujar Naruto lesu. dia tidak siap untuk sekolah setelah tiga hari izin sakit.

dua hari lalu dia sudah keluar dari rumah sakit berkat Satou merawatnya dan kini dia sudah kembali kerumah. sebenarnya lukanya tidak terlalu parah, hanya perlu perawatan tapi Naruto menggunakan kesempatan ini untuk bolos sekolah.

"tidak ada alasan, kau harus sekolah Naruto-san. otakmu perlu diasah" Sayu berdecak kesal melihat Naruto.

Naruto mendengus, "tau deh, yang otaknya encer" gumamnya.

"Naruto-san, pergi atau ramenmu semua ku bakar" ancam Sayu tak main-main. buru-buru Naruto berdiri tegap, layaknya seorang prajurit berbaris.

"baik, Sayu-sama. sebagai prajurit siap mati demi negara, akan ku lakukan apapun" ujar Naruto memberikan hormat pada Sayu. lalu berlari menyambar tasnya untuk berangkat sekolah.

Sayu terkikik melihat tingkah Naruto. menggelengkan kepalanya pelan, dia hendak melanjutkan pekerjaan sebelum suara bell pintu Naruto menghentikan langkahnya.

"hmm? apa ada tamu?" tanyanya pada diri sendiri.

sangat tidak mungkin jika itu Naruto. dia pemilik rumah, jadi tidak perlu membunyikan bell. tapi semenjak dia tinggal disini, jarang sekali Naruto menerima tamu.

sedikit bimbang untuk menemui tamu Naruto tapi mungkin tamu itu perlu keperluan. sepertinya menemuinya sebentar tidak apa.

Sayu membuka pintu, menemukan seorang perempuan seumurannya dengan wajah blesteran dengan rambut diikat twintail, mengenakan seragam sekolah.

"maaf, anda mencari siapa?" tanya Sayu menatap perempuan asing itu sedikit intens. "jika anda mencari Naruto-san, dia sudah berangkat sekolah baru-baru ini"

perempuan itu tersenyum manis, "ara~ nama saya Sasha, sebenarnya saya ingin bertemu dengan Ogiwara Sayu"

Sayu terkejut, perempuan asing ini mencarinya tapi untuk apa.

"ano... apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya lagi.

Sasha tersenyum manis, "ah tidak, justru ini pertama kali bertemu"

Sayu mengerutkan keningnya, jika ini pertemuan pertama mereka. lantas apa yang membuat perempuan ini mencarinya.

"eh, lalu untuk apa anda mencari saya?"

senyum manis Sasha menghilang, dia menatap Sayu dengan tatapan khasnya yang lurus. Sasha tersenyum tipis. perlahan dia mendorong bahu Sayu untuk masuk kedalam rumah Naruto mengejutkan Sayu dengan tindakannya.

"saa~ kenapa kita tidak bicarakan saja di dalam" ujar Sasha dengan nada sayunya. dia menutup pintu dan tak lupa menguncinya. matanya bersinar biru. "aku tidak ingin pembicaraan kita di ganggu"

Sasha memiringkan kepalanya dan menatap Sayu penuh makna. kekehan kecil terdengar keluar dari bibirnya.

mata Sayu terbelalak dengan tingkah Sasha. "apa maksudmu?" bentaknya.

"ara~ ufu..fu..fu..."

Sasha hanya terkekeh kecil.

-o0o-

Naruto melangkah dengan malas masuk ke dalam kelas. sesekali dia menguap menambah kesan malas pada dirinya.

beruntung suasana kelasnya masih ramai, artinya sang guru yang ingin mengajar belum datang.

"oi, Naruto. seperti biasa, selalu malas" ujar Gaara melihat kedatangan temannya yang cukup malas bersekolah itu. Naruto mengangkat bahunya tak peduli.

perhatian kelas tiba-tiba mengarah kedatangan Naruto.

"Naruto-san, kau sakit apa?"

"wah, kepalamu masih di perban Naruto?"

"Naruto-kun kau baik-baik saja?"

beberapa dari teman kelasnya, perempuan dan laki-laki bertanya pada Naruto. mereka memang cukup dekat dengan Naruto.

Naruto melambaikan tangannya. "tenanglah kawan-kawanku, selama aku masih hidup itu berarti aku masih baik-baik saja dan sehat walafiat. tenang saja" ujar Naruto.

"seperti biasa, membuat orang lain khawatir" celetuk Gaara. Naruto mendengus.

"syukurlah"

"cepat sembuh Naruto-san"

Naruto mengancungkan jempolnya. mereka kembali aktivitas masing-masing. meninggalkan Naruto dan Gaara berbicara.

"sebenarnya ada apa Naruto?" tanya Gaara

Naruto paham maksud Gaara, "biasalah cewek" balasnya tak tertarik, Gaara mengangguk. "ngomong-ngomong, kenapa kau tidak datang kerumah sakit, kampret" ujar Naruto menunjuk wajah sahabat karibnya itu.

Gaara menaikkan kedua bahunya, "tanpa aku datang pun, kau sudah punya dokter pribadi. ngapain repot-repot datang. aku yakin, aku jadi obat nyamuk kalau kau kesana" balasnya

Naruto kembali mendengus, dia paham maksud Gaara siapa dokter pribadinya. siapa lagi kalau bukan, Matsuzaka Satou-sama, sahabat kecilnya.

"ya, ya, ya"

tak lama guru yang akan mereka datang, suasana kelas Naruto hening seketika.

"baik anak-anak, sebelum kita memulai pelajaran. aku ingin memberitahukan, kalau ada seorang siswi bergabung bersama kalian" perkataan guru itu membuat sebagian dari mereka berbisik-bisik akan murid baru itu.

"heh, serius? murid baru?"

"di tengah semester"

"aku penasaran dengan wajahnya. cantik, gak yah?"

"diam!" guru itu memukul mejanya karena suara murid-murid yang mulai berisik. "hey, kamu yang di luar silahkan masuk"

Naruto sebenarnya tidak terlalu peduli dengan murid baru itu toh. nanti dia juga bakalan berteman seperti yang lainnya.

murid baru itu masuk ke dalam kelas Naruto sambil tersenyum manis.

mata Naruto membulat melihat siapa murid baru itu. dia familiar dia gadis itu, gadis yang sekarang berdiri di hadapan mereka semua.

"salam kenal, namaku Sasha Necron. mohon bantuannya semuanya" Sasha menyebarkan senyuman manis. menghipnotis semua orang dalam senyumnya. tapi tatapannya terkunci pada satu orang yang menjadi pusat perhatiannya beberapa hari yang lalu.

"wah, gadis cantik di kelas kita"

"eh marga belakang, dia blesteran?"

"woaaahhh kita punya teman baru"

"diam!" guru itu kembali memukul meja untuk menenangkan murid-muridnya yang mulai riuh. "Sasha. silahkan duduk di bangku yang kosong"

"terima kasih, sensei" Sasha berjalan menuju bangkunya. sesekali dia melemparkan senyum manis ketika bertemu dengan murid lain.

mata Naruto tak lepas dari Sasha sejak gadis itu masuk ke dalam kelas, hingga tatapannya bertemu dengan Sasha. gadis itu sepertinya menyadari tatapan Naruto.

merasa tidak sopan karena memperhatikan orang lain, buru-buru Naruto mengalihkan pandangannya dari Sasha. tanpa sempat dia sadari, seringaian tipis dari bibir Sasha.

.

.

.

suara bell istirahat makan siang berbunyi, Naruto sudah mengeluarkan bento buatan Sayu. seperti biasa dia akan bertemu Satou, lalu makan siang bersama di atap sekolah.

"Naruto-san"

mendengar seseorang memanggilnya, Naruto membatalkan niatnya untuk segera beranjak dan memilih untuk melihat siapa yang memanggilnya.

Sasha, gadis yang di tolongnya kemarin kini berdiri di sebelahnya lalu tersenyum manis. suasana kelas sudah sepi, hanya mereka berdua yang ada di kelas.

"Sasha!" Naruto berdiri agar gadis itu tidak berdiri sendirian. "kenapa kamu bisa sekolah disini?" tanyanya penasaran.

"ayahku memindahkanku kembali ke Jepang dan aku juga memustukan untuk tinggal dan bersekolah disini" balasnya. Naruto hanya manggut-manggut tak jelas.

"ngomong-ngomong, Naruto-san. mau makan siang bersamaku? aku sebenarnya belum tau seluk beluk sekolah ini" ujarnya dengan wajah yang di buat sedikit sedih.

Naruto jadi tidak tega, tapi dia sudah janji dengan Satou. tidak mungkin Naruto membatalkannya kan. Satou masih berharga di hidup Naruto, tau.

"ano, Sasha..."

"hmm?"

"sebe–"

"Naruto-kun"

suara seseorang di daun pintu memanggil Naruto mengalihkan perhatian keduanya menatap pintu masuk kelas Naruto. disana ada Satou yang berdiri dengan wajah netralnya dengan pandangan lurusnya kearah mereka berdua, lebih tepatnya Sasha.

"Satou-chan, maaf. kau pasti sudah menungguku yah" ujar Naruto melihat kedatangan Satou.

Satou mendekat, matanya tak lepas dari Sasha yang berdiri terlalu dekat dengan Naruto.

"Naruto-kun, waktunya makan siang" Satou hendak menarik tangan Naruto dan mengabaikan kehadiran Sasha. gerakannya terhenti ketika Sasha menahan lengan Naruto.

Sasha tersenyum ramah pada Satou, "Matsuzaka-san. bisakah aku meminjam Naruto-san hari ini?"

Satou melirik Sasha lewat ujung matanya, "maaf, kami punya urusan sendiri. kau bisa meminta tolong pada orang lain"

senyum ramah Sasha menghilang, hanya senyuman tipis yang tersungging di bibirnya. "ara~ Matsuzaka-san aku hanya mengenal Naruto-san saja. aku tidak populer sepertimu Matsuzaka-san. tidak ada orang yang menawarkan dirinya dengan senang hati kepadaku, sepertimu"

"aku tidak punya urusan untuk peduli pada urusanmu" Satou berujar dengan dingin.

"maa, maa... berhenti disana teman-teman. kita bisa bicarakan ini baik-baik" Naruto meletakkan kedua tangannya di hadapan Sasha dan Satou agar mereka tidak saling menyerang lewat kata-kata. karena suasananya semakin tidak kondusif.

"kenapa kita tidak jalan bersama saja untuk membuat kalian berdua semakin dekat. dengan begini adil kan?"

Satou menatap Naruto penuh perhitungan, dia ingin menyela tapi Sasha mendahuluinya.

"aku tidak masalah Naruto-san. aku juga ingin mengenal Matsuzaka-san" tatapan Sasha menuju mata Satou yang dingin. dia tersenyum tipis.

"jaa, kalau begitu. ayoo"

Naruto menarik kedua temannya untuk segera keatap. terlalu lama di kelas membuat mereka kehabisan waktu istirahat.

ketiganya menghabiskan waktu di atap sekolah, setelah berkeliling mengenalkan Sasha tentang sekolah mereka.

"ara~ aku lupa membeli minum" Sasha memegang lehernya.

"minum saja airku" Naruto memberikan botol minumnya.

"eh, lalu Naruto-san?"

"aku bisa ke kantin. lagian aku sudah selesai. kalian tunggu saja disini" Naruto mengemasi kotak bentonya, lalu bersiap untuk pergi. "ngomong-ngomong kalian tidak ingin menitipkan sesuatu?" Satou menggelengkan kepalanya.

"terima kasih, Naruto-san. tapi aku tidak butuh apapun"

Naruto mengangguk lalu berjalan pergi. sebenarnya ini rencananya untuk mendekatkan keduanya, tanpa tau apa yang mereka sembunyikan.

"kalau begitu aku pergi dulu" teriak Naruto di balik pintu penghubung atap sekolah. Sasha melihat kepergian Naruto.

"semoga saja mereka tambah akur" gumam Naruto sambil berjalan.

setelah yakin Naruto sudah pergi, Satou berdiri dan menundukkan wajahnya. matanya tertutup oleh poni rambutnya.

"berhenti bermain-main, apa maumu?" Satou bertanya dengan nada dinginnya.

Sasha tersenyum tipis.

"bermain-main apa maksudmu?" Sasha berbalik bertanya dengan tenang. dia ikut berdiri setelah menyelesaikan semuanya.

"kau!" mata kanan Satou muncul dari balik poninya, dia menunjuk Sasha tanpa emosi. "kau tidak punya tempat disini!" ucap Satou dengan nada dinginnya.

Sasha menyeringai, "kau pikir kau siapa? tidak ada yang bisa menghalangi jalanku untuk tetap disini" balas Sasha dengan tenang. "bahkan jika hanya untuk orang sepertimu" Sasha tertawa kecil.

Satou membulatkan matanya, matanya bersinar merah.

"kau! apa yang kau inginkan?" tanyanya dingin.

Sasha memejamkan matanya sejenak, lalu menatap Satou dengan tatapan netralnya. "tentu saja, Naruto-san" Sasha menyeringai tipis.

Satou semakin melebarkan matanya. sinar merah terus terpancar dari matanya. "Naruto-kun..." suaranya semakin dingin.

"Naruto-kun, katamu?! untuk orang asing sepertimu ingin dekat dengannya? kau pikir kau siapa?" penyataan Satou semakin menyudutkan Sasha.

senyum Sasha menghilang. raut datar kini mendominasi di wajahnya.

"ternyata kau kasar juga, Matsuzaka" Sasha menatap Satou dengan penuh kemenangan. "ha..ha...ha..." Sasha tertawa dengan nada yanderenya, dia memegang perutnya karena tertawa.

"Matsuzaka, kau pikir kau bisa menang dariku?" Sasha memperbaiki posisi berdirinya dan menatap lurus kearah mata Satou. dia tersenyum lebar, matanya bersinar biru. "dengan kekuatanku, aku bisa menyingkirkan siapapun itu"

Sasha mendekat kearah Satou, dia mengelus pipi Satou yang berdiri tanpa emosi. "kau terlalu naif, Matsuzaka. sangat mudah bagiku untuk mendapatkan Naruto-san" Sasha berbisik di telinga Satou. "tidak ada yang tidak mungkin bagiku, aku akan mendapatkan Naruto-san hanya untuk diriku" ujarnya di samping telinga Satou. dia menjilat bibirnya sendiri.

Satou mendorong Sasha hingga menjauh darinya hingga gadis itu hampir terjatuh jika tidak mengendalikan tubuhnya sendiri.

.

.

"kira-kira Satou-chan dan Sasha sedang apa, yah? apa mereka sudah akrab dan membicarakan hal hal tidak penting?" gumam Naruto yang kini memasuki kantin sekolahnya.

dalam imajinasinya, dia melihat Satou dan Sasha tertawa berbagi cerita. gosip lah di kalangan gadis. lalu mereka berbicara tentang hal - hal perempuan lainnya.

"hmm? kurasa begitu" ucap Naruto pada dirinya sendiri sambil menganggukkan kepalanya seolah menyetujui apa yang pikirannya katakan.

"kurasa aku harus lama-lama, agar tidak menganggu pembicaraan mereka" gumam Naruto lagi.

.

.

"Ha Ha Ha" Sasha tertawa, merasa berhasil mempengaruhi Satou. "kenapa? kau takut?" Sasha bertanya dengan nada liciknya.

Satou hanya terdiam dengan wajah menunduk, poninya menutupi raut wajahnya jadi Sasha tak bisa mendeskripsikan perasaan Satou saat ini.

"tak kusangka kau sepenakut ini, Matsuzaka" Sasha tersenyum miring.

"diam!"

"hmm?"

Satou mengangkat wajahnya cepat, dia mendorong tubuh Sasha hingga membentur pembatas pagar yang terpasang di atas atap. dia mengcengkram leher Sasha.

"ku bilang diam!" ujar Satou tanpa emosi, suaranya naik beberapa oktaf.

senyum kemenangan semakin mekar di bibir Sasha. "kau frustasi?"

"diam!"

"kau takut?"

"diam!"

"atau kau..."

"DIAM!"

Satou semakin mengcengkram leher Sasha. membuat gadis itu semakin sulit untuk bernafas.

"diam! diam! diam!" mata Satou menggambarkan jiwanya tanpa emosi. tatapannya menggelap. matanya yang bersinar merah menatap mata Sasha tanpa emosi. dia kehilangan kendali.

"ayo, bunuh aku Matsuzaka. aku yakin Naruto-san akan membencimu setelah ini" ucap Sasha memprovokasi Satou yang kehilangan kendali. meski dia sulit untuk berbicara karena Satou seperti ingin menghancurkan lehernya.

"diam! diam! diam!" Satou kembali berbicara dengan jiwanya tanpa emosi. "Naruto-kun milikku! temanku! tidak akan ku biarkan kau mengambilnya" ujar Satou dengan marah meski ekspresinya dan intonasi suaranya tidak berubah.

Sasha memegang tangan Satou dan berusaha melawan kekuatan kecil dari Satou. "mau melihatnya? kau mau melihat bagaimana aku merebut semuanya darimu? merebut dari Naruto-san darimu?" tantang Sasha.

merasa usahanya sedikit sia-sia karena kekuatan Satou seperti sulit di patahkan. Sasha menarik kerah kemeja Satou hingga wajah mereka hampir dekat, mata birunya yang bersinar bertemu dengan mata Satou yang bersinar merah.

"aku sudah tau semuanya, tentang dirimu, tentang keluargamu dan..." Sasha mendekat kearah Satou lebih tepatnya ke telinganya lagi, "tentang bibimu" bisiknya.

Satou terkejut ucapan terakhir Sasha. dia mendorong gadis itu hingga terbentur dengan pagar cukup keras.

"apa yang kau tentang bibiku?" tanyanya dengan marah.

Sasha tersenyum, "terlalu banyak hingga cukup untukku menjatuhkanmu" dia berdiri meski sedikit meringis ketika merasa sakit di punggungnya.

"kau..." Satou benar-benar marah. gadis di depannya benar - benar sangat licik hanya untuk menjatuhkannya. "jadi kau ingin bermain denganku? baik, aku akan meladeni mu" ujarnya dengan sangat dingin. matanya tak lepas dari Sasha.

"aku akan membiarkanmu mengeluarkan semua permainanmu, sebelum aku menghancurkanmu" ujar Satou. dia beranjak pergi karena benar-benar merasa marah. sebelum pergi dia melirik Sasha dengan ujung matanya. "dan tunggu kejutan dariku" ucapnya sebelum meninggalkan Sasha sendirian di atap.

Sasha tersenyum kejam melihat kepergian Satou. "selamat bemain, Matsuzaka"

.

.

.

Naruto dengan cepat menaiki tangga yang menuju atap hanya berhenti pada tangga ketiga, melihat Satou menuruni tangga dengan wajah menunduk.

"Satou-chan, ada apa? kau sudah selesai berbicara dengan Sasha?" tanya Naruto menghentikan Satou dengan memegang pundaknya.

tak ada jawaban dari sahabat kecilnya.

"Satou-ch..."

Naruto terkejut ketika teman kecilnya memojokkannya di dinding dekat tangga dan memeluknya erat. tak lama sebuah isak tangis terdengar dari Satou, semakin mengejutkan Naruto.

"Satou-chan, ada apa?" tanya Naruto panik, dia membalas pelukan Satou dengan erat. tak lupa dia mengelus punggungnya agar temannya tenang.

Satou mengangkat wajahnya dan menatap Naruto dengan uraian air mata.

"Naruto-kun, jangan tinggalkan aku. aku tidak ingin sendirian lagi. tetaplah bersamaku" ujarnya dengan sedih.

Naruto tersenyum, dia meraih kepala Satou dan menenggelamkan wajahnya di dadanya, seolah melindungi sahabatnya.

"bukankah aku sudah berjanji. aku tidak akan menarik kata-kataku" ucap Naruto dengan lembut. diam-diam tersenyum.

Satou perlahan melepaskan pelukannya dan menatap Naruto. menolak unruk memberi jarak antara dia dan Naruto.

"aku ingin memberikan sesuatu padamu"

"apa itu?"

Satou melingkarkan tangannya di leher Naruto dan menarik lehernya kebawah agar wajah mereka bisa berdekatan.

Naruto berusaha mencerna apa yang terjadi, otaknya mengalami macet total. dia dan Satou...

"aku mencintaimu"

-o0o-

Naruto berulang kali menggelengkan kepalanya, mengingat kejadian di tangga tadi. saat ini dia menunggu sahabatnya untuk berangkat ke tempat kerja bersama.

"Naruto-kun, maaf membuatmu menunggu" Satou datang dengan senyum manis.

wajah Naruto memerah melihat Satou, dia memalingkan wajahnya agar sahabatnya tak melihatnya.

"emm, tidak apa-apa" balas Naruto malu-malu.

Satou terkikik geli melihat tingkah Naruto yang menurutnya lucu.

"kalau begitu ayo berangkat" Satou menarik tangan Naruto untuk ke halte terdekat.

"eh tunggu Satou-chan" Naruto terkejut dengan tarikan Satou yang tiba-tiba.

tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan tingkah mereka. orang itu mendorong kacamatanya yang melorot.

"aku akan membuatmu menjadi milikku, Matsuzaka-san"

-o0o-

Naruto mengerutkan keningnya bingung, dia berulang kali mengirimkan pesan pada Sayi tetapi tidak di balas sama sekali. Sayu hanya membacanya. tumben sekali. pikir Naruto.

"ada apa Naruto-kun?" tanya Satou yang melihat Naruto yang sepertinya gelisah.

"ah tidak, aku mengirimkan pesan pada temanku tapi dia tidak membalas. tidak biasanya" jawabnya. saat ini mereka berjalan menuju cafe tempat mereka bekerja.

"mungkin dia sedang sibuk" ucap Satou seadanya.

"mungkin" Naruto menaruh ponselnya kembali di saku celananya. "ngomong-ngomong aku belum mengenalkan kalian, yah"

"hmm? siapa?"

"temanku itu loh. kau bisa malam ini? kalau mau nginap juga gak papa" ucap Naruto.

"eh, apa aku tidak menganggu?"

"tidak lah, lagipula dia cewek"

Satou berhenti melangkah dan menatap Naruto penuh selidik. "cewek?" Naruto menganggukkan kepalanya.

"kau tidak menculik seseorang dan menyembunyikan di rumahmu kan, Naruto-kun?" tanya Satou dengan wajah seriusnya. Naruto berkeringat jatuh mendengar itu dari sahabatnya.

"kau pikir aku apaan?"

"siapa tau"

"kau kejam tau"

"kau tersinggung, berarti aku benar" ujar Satou dengan santai.

Naruto menunjukkan wajah sewotnya. "oi, oi, oi aku tidak seperti itu tau"

"bercanda" Satou menjulurkan lidahnya pada Naruto dan berlari menghindari Naruto.

"aku di kerjain lagi" gumam Naruto pelan. "tunggu Satou-chan" teriaknya sebelum mengikuti langkah Satou.

.

.

saat ini suasana cafe Cure a Cute cukup ramai, mereka bekerja keras untuk melayani para pembeli yang datang silih berganti.

"huhhh, aku lelah"

Naruto menyandarkan tubuhnya pada kursi pelanggan. dia cukup lelah melayani pelanggan. masih ada 10 menit waktu di butuhkan agar cafe tertutup.

"nih minum dulu" Satou memberikan sahabatnya air mineral yang di terimanya dengan senang hati. lalu Satou duduk samping Naruto.

"kau memang terbaik, Satou-chan" Naruto mengelus lehernya ketika merasa rasa hausnya menghilang.

Satou tersenyum, dia mendekatkan dirinya pada Naruto.

"aku akan selalu berusaha melakukan yang terbaik buat kamu" dia memberikan senyuman manis pada Naruto.

Naruto menolehkan kepalanya kesamping hanya menemukan wajah Satou yang terlalu dekat dengannya. wajah Naruto memerah, apalagi ketika teringat dengan kejadian di tangga tadi.

"te-tentu, a-aku juga akan melakukan hal yang sama" Naruto berusaha untuk tidak menatap wajah Satou. jantungnya berdegub cukup cepat jika dia terlalu dekat dengan sahabatnya.

Satou menaikkan sebelah alisnya.

"kau kenapa Naruto-kun"

Naruto melambaikan tangannya tanpa melihat Satou.

"aku. oke"

Satou tersenyum jahil, "kenapa wajahmu memerah?"

Naruto menegang, dia bersiul-siul agar menghilangkan kegugupannya. "karena suasananya sedang panas, yah panas" ujarnya tanpa menatap Satou.

"benarkah?" Naruto mengangguk cepat. Satou terkikik geli.

Satou menjulurkan tanganya untuk meraih wajah sahabatnya. "kalau begitu tatap aku"

"hahaha" Naruto tertawa garing

"berhenti tertawa"

Naruto mengatupkan bibirnya. Satou tersenyum, kembali mendekatkan wajahnya pada Naruto.

anak tunggal Namikaze itu terkejut jantungnya semakin berdetak cepat. dia memejamkan matanya.

"oi, kalau kalian mau bermesraan, dibelakang sana. jangan disini" seseorang mengintrupsi kegiatan keduanya membuat wajah Naruto semakin memerah.

"ah sumimasen" buru-buru Naruto berdiri dan pergi tanpa mengucapkan apapun.

Satou terkikik pelan, dia menatap Shoko yang menganggu mereka.

"kau mendapatkannya, kan?"

"siapa tau" Satou berdiri dan menuju ke belakang untuk berganti baju. dia sudah bersiap untuk pulang.

.

.

"Naruto-kun, kita singgah sebentar di sebentar di minimarket, bisa?" tanya Satou pada sahabatnya yang kini berjalan beriringan bersamanya.

kedua kini berjalan menuju rumah Naruto setelah pulang bekerja.

"boleh, kebetulan aku juga ingin membeli sesuatu" ujar Naruto

mereka memasuki minimarket yang terletak tak jauh dari tempat mereka tadi.

"ngomong-ngomong Naruto-kun, apa temanmu sudah membalas pesanmu?" tanya Satou, matanya sedang memilah barang yang ingin dia beli dan memasukkannya ke dalam kerajang.

"aku tak tau" Naruto mengeluarkan ponselnya, masih menemukan bahwa pesannya tidak berubah. hanya di baca, tidak ada balasan. "jarang sekali dia tidak membalas pesanku, aku jadi khawatir" ujar Naruto. dia mencoba mengirimkan pesan sekali lagi. tak cukup semenit pesannya hanya berakhir di baca.

"bagaimana kalau kita pulang sekarang"

"apa kau sudah membeli yang kau mau"

Satou mengangguk.

setelah membayar semua belanjaan Satou. keduanya kembali menuju rumah Naruto.

selama perjalanan tak henti-hentinya Naruto merasa khawatir. dia menelpon Sayu berkali-kali dan mengirimkan pesan hanya operator yang menjawab dan pesannya hanya di baca.

"sabar, Naruto-kun, mungkin temanmu sudah tidur" Satou berusaha menenangkan sahabatnya. Naruto mengangguk meski hatinya masih gelisah.

sesampainya mereka disana, dari luar Naruto melihat rumahnya dalam keadaan gelap. semakin menambah ke khawatiran Naruto. malam begini, jarang sekali Sayu tidak menyalakan lampu apalagi dia belum pulang.

"Naruto-kun, kau belum membayar listrik yah?" tanya Satou, menemukan rumah sahabatnya dalam keadaan gelap gulita.

Naruto yang awalnya khawatir hampir terjengkang ke depan mendengar pertanyaan Satou.

"itu tidak lucu Satou-chan"

"aku kan cuman bertanya"

Naruto menghela nafas pelan, dia membuka pagarnya dan membiarkan Satou masuk terlebih dahulu.

"apa Sayu lupa menyalakan lampunya" gumam Naruto pelan. dia merogoh saku celananya untuk mencari kunci rumahnya.

CLEK!

suasana gelap gulita yang Naruto dapatkan ketika membuka pintu.

"Sayu, kau di dalam?" teriak Naruto

tak ada jawaban.

"Naruto-kun, cepat periksa ke dalam"

Naruto masuk ke dalam rumahnya, tangan meraba-raba dinding mencoba mencari saklar lampu. di belakangnya ada Satou yang memegang jaketnya agar tidak terpisah.

"hmm gelap sekali" gumam Satou

"aku menemukannya" Naruto menekan saklar lampunya.

seketika rumah Naruto diisi oleh cahaya yang terang benderang. tetapi, saat itu juga mata Naruto membulat sempurna, rasa terkejut yang sangat menguasainya ketika melihat Sayu.

"SAYU!"