Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Highschool DxD © Ichiei Ishibumi

Every element from other anime belongs to their respective owners.


The Pinnacle

Summary :

Dia adalah yang pernah ditolak dari kedua dunia, masa lalunya penuh diskriminasi dan hal-hal berharganya direnggut. Bahkan ketika ia bisa menghentikannya, ia tidak mampu. Namun kini ia kembali sebagai sosok yang melampaui keduanya, dan berdiri sebagai 'The Pinnacle.'


Prologue

...

Kuoh City.

"Korbannya seorang wanita umur 37 tahun, menghilang di daerah pabrik lama hum?" Seorang pria berambut pirang pucat berseragam tengah melihat sebuah catatan dengan foto seorang wanita sambil bersandar di mobilnya.

"Opsir Naruto, kami sudah menyelesaikan input berkasnya, apa kita akan berangkat sekarang?" Tanya seorang polisi lain. Pria yang dipanggil 'Naruto' itu memasukkan berkas yang ia pegang kedalam mobil.

"Tidak usah, aku akan mencarinya sendiri, lagi pula shift soremu hampir habis bukan?" Balas Naruto membuka pintu dan masuk kedalam mobilnya.

"Iya, tapi tetap saja, jika anda pergi sendiri... apa tidak sebaiknya menunggu yang shift malam untuk datang?" Tanya Polisi itu.

"Tidak, aku hanya akan mencari sedikit buktinya saja, aku tidak berpikir ada penculik yang cukup bodoh untuk menyembunyikan korbannya ditempat terakhir ia hilang, selamat malam." Balas Naruto memacu mobilnya tanpa menghidupkan sirine, meninggalkan polisi yang hanya mengangguk ragu itu.

Beberapa menit selanjutnya, seorang polisi lain datang dengan motornya.

"Hei, kau, apa yang kau lakukan disini? Shiftmu sudah habis bukan?" Tanya polisi itu.

"Ah? Eh, benar, aku harus segera pulang, Opsir Naruto pergi duluan memeriksa tempat penculikan, kau bisa menyusulnya." Balas Polisi tadi berbalik pergi.

"Are? Opsir Naruto? Siapa itu?" Beo Polisi yang masih diatas sepeda motornya.

Polisi yang tadi berhenti sebentar lalu berbalik dengan wajah heran. "Kau tidak tahu? Itu loh!"

"Itu siapa? Aku tidak ingat ada nama itu?"

"Eh? Siapa ya? Opsir?" Wajah Polisi tadi tiba-tiba berubah kebingungan.

Polisi lainnya hanya geleng-geleng kepala saja. "Sudah, pulang sana, bekerja terlalu lama membuatmu berhalusinasi!"

With Naruto,

Pria itu sedang menyetir mobil polisinya dengan tenang. Ia melirik jam tangannya. Itu menunjukkan pukul 09.00 malam, waktu yang lumayan malam untuk kota kecil seukuran Kuoh.

"Sudah berbulan-bulan aku mencarinya, syukurlah ketemu disini dan bukannya di Romania."

Tak lama kemudian, ia sampai di lokasi yang ia tuju, sebuah pabrik tua dan dengan tanpa beban, ia menjebol pagar jaring alumunium dengan mobilnya.

Tap!

"Aku sudah mengamati hampir seminggu, seharusnya sebentar lagi, aku harus segera bergerak." Naruto melangkah kedalam pabrik dan mengambil pistol yang tersarung di ikat pinggangnya.

Clack!

Ia menyiapkan pistolnya dan menendang pintu pabrik dengan sepatu bootnya.

Gelap. Dingin. Sunyi. Bau anyir.

Hanya empat kata itu yang menggambarkan keadaan dalam pabrik itu. Tetapi pabrik yang telah lama ditinggalkan tidak seharusnya berbau anyir.

Naruto menarik sebuah pistol lain dan menembakkannya kedalam pabrik. Itu adalah Flare Gun, pelurunya masuk kedalam pabrik dan menyinari tempat itu.

"Yarouuu..." Gumam Naruto melihat beberapa mayat manusia yang tergeletak dalam kondisi tubuh tidak lengkap, seperti dicabik-cabik hewan buas. Tidak, bahkan lebih parah lagi.

"Manusia... hm? baumu aneh... tapi aku bisa merasakan kesegaran dagingmu bahkan dari sini..."

Naruto segera mendongak kearah sumber suara dan sedikit melebarkan matanya. Sesosok makhluk aneh dengan tubuh laba-laba raksasa dan setengah manusia wanita yang telanjang bergantung dibawah atap dengan jaringnya.

"Aku tidak sabar... mimuhehehehe!!"

Wanita laba-laba itu menjulurkan pantat laba-labanya kearah Naruto dan menembakkan beberapa cairan lengket.

"Cih!!" Naruto menghindari semua cairan itu dengan melompat ke belakang dan mundur hampir ke mobilya.

"Bisa menghindarinya? Menarik, kau manusia yang- Uhhh!!!"

Buagh!!

Sebelum ia laba-laba itu menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ia terjatuh karena ikatan jaring yang ia gunakan untuk bergelantungan lepas.

"Dasar besi tua karatan!!!" Geramnya mengutuk pabrik tua itu.

Dor! Dor!

"Kau pikir senjata itu bisa mengalahkanku?!" Ia bangkit dan berlari kearah Naruto dengan kedelapan kakinya. "Baiklah, akan kumakan langsung kau! Perutku sangat siap menerimamu!!"

Naruto kembali mendecih, ia mengambil sebuah senjata api antik, sebuah flintlock dari dalam tas kecil yang ada di ikat pinggangnya dan segera mengarahkannya pada monster yang hampir mencapainya itu.

"Percumaaaaa!!!"

Dor!!

"Eh? Arhhh!!"

Monster itu terjatuh kesakitan saat luka tembak muncul di perut, dada, dan tubuh laba-labanya.

"I-ini! Ini peluru suci!! K-kau!!!" Geram Monster itu melompat kearah Naruto.

Dengan jarak sedekat itu, hanya butuh waktu kurang dari lima detik untuk mencapai tubuh Naruto dan mengoyaknya. Apalagi, pemuda itu terlihat mengisi Flintlocknya.

"Matii!!!"

Naruto selesai mengisi Flintlocknya, dan kini tidak butuh dua detik sampai tubuhnya terkena serangan monster tadi.

...

"The World!!!"

Stup!

Naruto melihat kaki-kaki tajam itu berhenti tepat satu sentimeter sebelum mengenai wajahnya. Tidak hanya kaki-kakinya, namun seluruh tubuh monster-monster itu juga berhenti. Begitu juga dengan beberapa ekor merpati yang hendak hinggap di kabel listrik. Mereka terhenti di udara.

"The World, waktu terhenti untuk enam detik kedepan."

Sesosok humanoid dengan tubuh berwarna silver dan armor kuning aneh muncul dari samping Naruto. Humanoid itu menatap datar monster laba-laba itu dengan sepasang kelopak mata hitam berpupil putihnya yang terlihat mengerikan.

Dor! Dor! Dor!

Naruto berjalan kesamping monster itu dan menembakkan flntlocknya tiga kali kearah tubuh laba-laba itu. Peluru-pelurunya berhenti di udara tepat sebelum mencapai monster itu.

"Dua detik berlalu... Agak aneh memang, tetapi hitungan itu hanyalah konsep... The World!"

Humanoid yang dipanggil The World itu juga berpindah kesamping dan mengepalkan tangan kanannya.

"Tiga detik berlalu..."

Bam!

The World menghantamkan kepalan tangannya pada sisi tubuh laba-laba itu dengan keras dan menembusnya dengan mudah. Juga terlihat retakan-retakan kecil muncul.

"Empat detik berlalu..." The World kembali masuk kedalam tubuh Naruto.

"The World... Benar-benar kekuatan untuk menguasai dunia... Tapi, ambisi itu tidak ada artinya untukku... Monster sepertimu tidak mungkin bisa menandinginya..."

Ia menatap monster yang tidak sadar kalau ia telah terluka itu dengan sepasang mata merah rubnya yang dingin.

"Lima detik..."

"Enam detik..."

"Dan waktu kembali berjalan..."

Burung-burung merpati berhasil hinggap di kabel listrik seakan tidak terjadi apapun. Begitu juga peluru-peluru tadi kembali bergerak dan mengenai target semestinya.

"Iii- Aaaaaaaa!!!"

Monster laba-laba tadi tiba-tiba terlempar kesamping dengan luka tembak dan sebuah lubang yang lebih besar daripada kepalan tangan manusia.

Ia terlempar ke tumpukkan besi-besi yang berkarat. Besi-besi itu ambruk dan beberapa menusuk tubuh laba-laba dan melukai tubuh seperti manusianya.

"A-apa yang terjadi? D-dari mana asal serangan ini?" Monster itu bersusah payah untuk bangkit dan menyingkirkan besi-besi tadi. Hanya saja, tubuhnya seolah-olah kehilangan tenaganya.

Clack!

Ia melebarkan matanya saat Naruto telah di depannya dan mengacungkan flintglocknya pada kepala monster itu.

"Bye Bye... Jika saja bukan karena tubuh laba-labamu, Oppaimu pasti akan menarik."

Dor!!

Dengan satu tembakan suci, Monster itu menjerit dan ambruk.

"Fuuh." Naruto meniup senjatanya dan menyimpannya kembali. Ia mengedarkan pandangannya kearah lain, seakan menyadari sesuatu dan tersenyum tipis.

Deg!

"Ohok!!!!!"

Ia tiba-tiba jatuh berlutut dan memuntahkan sedikit darah dan terbatuk-batuk.

"Penyakit ini ternyata... cukup... menyakitkan..." Gumamnya mengusap darahnya dan hendak berdiri.

"Kau... Bersamaku...!!!"

Dengan mata melebar, Naruto menoleh kesamping hanya untuk menemukan sebuah kaki tajam mengarah padanya.

"Sial, T-!!"

Jrash!!

Sebelum sempat ia bertindak, kaki laba-laba itu menembus perutnya, menciptakan lubang besar disana.

"Khe... khe... khe... kau memuji oppaiku... maka matilah bersamaku..." Monster lalu itu hancur menjadi abu dan ditiup angin.

"H-harusnya a-aku lebih was—... Agh!"

Ia jatuh terkapar dengan lubang menganga di perutnya dan darah yang mengalir deras membasahi rerumputan. Bahkan beberapa rumput terlihat menjulang melewati luka menganga itu.

...

"Seorang Polisi, selain itu ia mengalahkan Iblis liar itu sendirian." Ujar seorang gadis berambut merah yang keluar dari lingkaran sihir merah bersama dengan beberapa orang lainnya.

"Aneh sekali bukan, Buchou? Apa ia pengguna Sacred Gear?" Tanya pemuda berambut cokelat.

"Entahlah Issei, kita belum bisa mengetahuinya sebelum membangkitkannya." Balas gadis merah itu. Mereka melangkah melewati mobil polisi dan mendekat kearah tubuh Naruto yang terkapar dalam kubangan darahnya.

"Rias, kau yakin ingin membangkitkannya? Kita baru saja melihatnya." Ujar Gadis berambut hitam.

"Tenanglah Akeno, mataku tidak mungkin salah." Gadis berambut hitam bernama Akeno itu mengangguk mendengarkan balasan dari gadis merah yang ia panggil Rias itu.

"Koneko, apa ia masih hidup?" Rias menatap gadis putih pendek yang terlihat berfokus pada tubuh Naruto.

"Buchou... kurasa aku masih bisa mendengar denyut jantungnya walau sangat lemah..." Ujar gadis yang dipanggil Koneko itu.

"Berhentipun tidak masalah, fakta bahwa ia mengalahkan iblis liar dan bertahan hidup dengan luka seperti ini, ia bisa menjadi bidak yang bagus." Balas Rias mengeluarkan sisa bidaknya. Dari semua posisi yang tersedia, bida Rook-lah yang merespon dengan pendar merah.

Segera, lingkaran sihir merah muncul dibawah tubuh Naruto, dan bidak Rook itu terlihat perlahan masuk ke tubuhnya.

"Uhu.. Jadi seperti ini Evil Pieces bekerja..." Gumam gadis berambut pirang, aka Asia sedikit murung mengingat hari dimana ia dibangkitkan menjadi Iblis, dan Issei hampir terbunuh karena dia.

"Dengan ini Rook kita sudah lengkap, Rias." Ujar Akeno menyaksikan proses pembangkitan dan menyaksikan luka-luka pemuda itu sembuh, meskipun ia terlihat belum sadar.

"Benar, sekarang mau kita bawa atau bagaimana? Dari seragamnya ia Polisi, apa untuk sementara kita tinggalkan dia di mobilnya?" Gumam Rias.

"Mobil? Mobil yang mana Buchou?" Beo pemuda berambut cokelat, aka Issei heran.

"Mobil polisi tad-?" Rias berhenti saat tak menemukan mobil apapun kecuali rongsokan yang terlihat sudah sangat usang disana. "Aneh... Perasaan aku melihat mobil dan bukan rongsokan..." Ujar Rias dan disambut pandangan bingung yang sama dari peeragenya.

"Mungkin itu kemampuan ilusi Iblis tadi dan itu hilang dengan kematiannya." Ujar pemuda berambut silver dengan sebuah pedang ditangannya, dia adalah Kiba Yuto.

"Mungkin Kiba benar, kalau begitu, Issei, Kiba, bawa opsir ini ke gedung kita, besok dia akan bingung saat bangun," Ujar Rias tersenyum. "Tapi dengan sedikit penjelasan, dia pasti akan mengerti." Lanjutnya.

"Baik, Buchou." Kedua peerage laki-laki itu mengangguk. Mereka membalikkan badan Naruto lalu membawanya. "Opsir Naruto-san huh? Dia cukup berani melawan iblis tadi, dan punya kemampuan yang misterius." Gumam Kiba.

"Oi pemuda cantik, apa yang kau lakukan? Ayo jalan!" Ujar Issei dengan muka sebal.

"Oke, Issei-kun."

...

"The Fool..."

TBC


Author Note :

Wujud dan bentuk tubuh Stand milik Naruto, 'The World' dari Jojo Bizzare Adventure, disini lebih ramping. Lebih mirip kearah Diego Brando ketimbang Dio Brando. Naruto mati konyol disini? Well, mungkin, tapi itu bagian dari plot yang akan dibahas di chap selanjutnya. Dan terakhir entah mengapa keinginan menulis muncul kembali melihat beberapa fict baru. #RamaikanFFN2021.