AN: Maaf karena lama gak update. Banyak masalah di dunia nyata soalnya.
Bagaimanapun juga, silahkan membaca dan saya harap kalian terhibur!
Chapter 3
Darah dan Amarah
Pukul 12:27. Jalan Raya Kuta.
Para goblin dan makhluk makhluk setengah hewan sedang sibuk membunuh dan membuat kekacauan di dalam gedung gedung sekitar.
Mereka nampak bingung dengan teknologi yang mereka temukan tapi yah, mereka tidak terlalu peduli dengan alat alat tersebut.
Para goblin sedang mengambil beberapa "trofi" dari orang orang yang mereka bantai selagi atasan manusia mereka sedang "mencicipi" beberapa perempuan muda yang mereka temukan.
Salah satu manusia babi sedang melihat lihat isi dari ruko yang baru saja dia dan timnya "bersihkan". Dia berjalan dan melangkahi beberapa mayat orang yang tergeletak di lantai. Dia tidak menyangka kalau misi ini akan jadi lebih mudah dari yang dia pikirkan. Dia mendengus, mengingat betapa mudahnya semua ini.
Disaat dia akan memeriksa lantai atas, suara tembakan terdengar diluar. Sontak, dia pun mengeratkan pegangannya pada palu miliknya.
Dia bisa mendegar salah satu rekannya berteriak sebelum suara tembakan lain terdengar dan semuanya menjadi sunyi. Penasaran, dia pun melangkah keluar ruko perlahan lahan.
Disaat dia keluar dari pintu ruko, dia langsung dikejutkan dengan benda benda tajam dan suara berisik yang langsung melukai perut dan dadanya.
Dia terjatuh dan hal terakhir yang dia lihat adalah orang orang dengan pakaian serba hijau dengan tongkat hitam aneh dan sebuah kendaraan yang belum pernah dia lihat sebelum dia hilang kesadaran dan tak lama kemudian nyawanya.
"Wah, memang babi yang nyerang rupanya. Anjir." Kata Agus sebelum dia tertawa karena leluconnya sendiri.
"Apa apaan ini...?" Tanya Siti dengan wajah yang penuh pertanyaan dan rasa jijik.
"Yah, ini loh. Orang babi yang sering orang tua omongin dulu. Ini orang banyak buat dosa makanya jadi babi." Jawab Agus. Tidak ada yang tertawa selain Agus sendiri.
"Dia bilang apa?" Tanya Kuribayashi dengan bahasa Inggris kepada Kopral Ari.
"Dia sedang membuat lelucon disaat yang tidak tepat. Agus memang biasa begitu." Ari merespon sambil menghela nafas.
"Baiklah semuanya! Kita harus membersihkan daerah sekitar." Sersan Ketut berteriak dengan tegas. "Letnan Dua Itami. Sebagai komandan dari Rombongan Gabungan Indonesia-Jepang ini, apa yang harus kita lakukan?"
"Loh, aku yang memimpin?" Tanya Itami dengan wajah yang bingung dan terkejut.
"Iyalah, kan Letnan Satu Fujiwara sendiri yang bilang kalau kau akan menkomandoi grup ini sebelum kita berpisah dengan rombongan Fujiwara."
"Oh, I-iya. Aku tadi hanya melatih daya ingatmu saja, sersan." Kata Itami yang terlihat gugup.
Dasar payah. Pikir Kuribayashi.
Ini orang kok bisa jadi letnan ya? Kata Ari dalam pikirannya.
"Baiklah hal pertama yang akan kita lakukan adalah-" Kata kata Itami terpotong saat tiba tiba terdengar suara seperti teriakan perang.
Semua orang langsung menolah kearah suara teriakan tersebut dan melihat sekitar 20 orang dengan pedang sedang berlari kearah mereka.
"Sialan- Semuanya! temukan perlindungan dan mulailah menembaki bajingan ini segera!" Teriak Sersan Ketut.
Dengan cepat, semua personel berlindung dibelakang puing puing, tempat sampah, atau kendaraan kendaraan mereka.
Prajurit Kepala Aguslah yang menembak pertama sambil tertawa.
"HAHA! Mati kalian anjing-anjing primitif!" Teriak Agus sambil menembakkan senapan SS2-V5 A1 miliknya ke arah penyerang.
Yang lainpun mulai menembaki para penyerang.
Russo tidak percaya akan apa yang dia lihat, sebuah kentaur. Meski terpukau dengan makhluk makhluk mitologi yang dia lihat, dia tetap menembaki mereka.
Udin melempar sebuah granat dan 5 manusia serigala langsung terhempas karena ledakan.
20 orang menyerang, namun mereka langsung tumbang hanya dalam hitungan menit.
Satu orang manusia yang selamat berusaha untuk kabur denngan menyeret badannya sendiri dengan tangannya. Setelah dilihat lihat, ternyata dia kehilangan satu kaki.
Ekspresi Udin penuh dengan kemarahan. Dia langsung mendekati orang tersebut sambil memegang SS2-V5 A1 miliknya.
"Hey, Mari! Ada yang selamat! Aku ingin kau-" Lagi lagi, ucapan Itami terpotong lagi. Kali ini karena suara senapan yang ditembakkan berkali kali.
Ternyata, Udin menghabisi tentara sadera tersebut dengan cara menghujaninya dengan peluru.
"Hey! Apa apaan kau?! Kita harusnya menahan-"
"Hey, orang Jepang. Yang diserang itu negaraku, bukan negaramu. Selama orang orang ini menghirup udara di Indonesia, AKU yang memutuskan nasib mereka." Udin membalas bentakan Itami dengan bahasa Inggris yang sangat jelas.
"Baiklah, Baiklah. Cukup dengan semua ini. Tidak ada gunanya berkelahi karena tentara musuh dan mungkin seorang pemerkosa yang sudah mati." Tegur Sersan Ketut.
Memang benar, beberapa laporan dari POLRI dan polisi militer setempat mengatakan bahwa beberapa tentara aneh ini didapati memerkosa seorang gadis dibawah umur di dalam sebuah gedung, mungkin beberapa pembunuhan diluar hukum tidak masalah. Itu tidak seperti para masyarakat akan meratapi kematian orang orang seperti mereka. Pikir Russo yang mendukung aksi Udin.
"Baiklah, semuanya. Mari kembali ke dalam kendaraan masing masing. Kita akan coba memeriksa keadaan para tentara Australia, Malaysia, dan Timor Leste yang sedang menangkis serangan para penyerang." Ucap Sersan Ketut. Itami setuju dengan gagasan Ketut dan langsung memerintahkan regunya untuk kembali ke kendaraan mereka.
Sersan Ketut dan regunya langsung kembali masuk ke dalam Anoa mereka.
Kejadian hari ini dan seterusnya akan sngat membekas di pikiran mereka.
Mereka akan hidup dengan ingatan akan pembunuhan yang mereka lihat hari ini.
Pukul 12:38. Di dekat gerbang.
Kontingen Australia, Malaysia, dan Timor Leste melakukan pekerjaan yang bagus dalam memukul mundur pihak musuh.
Rencananya adalah tentara Australia akan menghadapi para Orc, Minotaur, dan makhluk non-manusia lainnya menggunakan ASLAV milik mereka, tentara Malaysia membersihkan jalanan dari tentara musuh, dan tentara Timor Leste akan membersihkan gedung gedung atau perumahan dan menghancurkan atau menangkap musuh.
Centurion Vesper La Uritinus terbunuh saat berusaha menyerang seorang tentara Timor Leste. Dengan kemation Uritinus, 80 tentara yang dia pimpin menjadi tidak terkendali dan dengan mudah ditaklukan oleh pasukan gabungan.
Tujuan pasukan gabungan ini adalah untuk mendorong kembali para penyerbu ini kembali ke tempat asal mereka. Dan mereka bisa dibilang hampir berhasil.
Para minotaur lah yang menjadi masalah. Mereka melempar mobil, motor, dan apapun yang bisa mereka lempar ke arah prajurit dan ASLAV milik Australia.
Beberapa minotaur ini berhasil dilumpuhkan dan beberapa menyerah kepada pasukan Australia dengan berlutut, menyatakan penyerahan diri mereka kepada tuan baru mereka.
Salah seorang tentara Malaysia sedang menembaki tentara sadera yang sedang berlari lari tanpa arah di jalanan.
Dia nampaknya menikmati menembaki para bajingan bajingan ini. Saking senangnya dia, dia tidak menyadari bahwa sebuah Anoa 6x6 dan Toyota Mega Cruiser BXD10 parkir disebelahnya.
Sersan Ketut, Itami, dan yang lainnya keluar dari kendaraan mereka dan melihat lihat sekitar mereka.
Yang mengganggu mereka (kecuali Agus dan Udin) adalah banyaknya mayat tentara Sadera yang tergeletak di jalanan. Beberapa mayat orang orang Sadera ini bahkan dilindas oleh ASLAV milik Australia.
"Hey, permisi, tuan. Apa kami bisa membantu?" Tanya Sersan Ketut kepada tentara Malaysia tersebut yang masih menikmati pemandangan mayat mayat yang dilindas ASLAV.
"Hah? Apa? Oh ya, awak boleh menembak bajingan ini mati. Berhati-hatilah dengan makhluk bukan manusia. mereka itu liar." Jawab sang prajurit tersebut dengan bahasa melayu.
"Baiklah. Itami! Aku punya rencana." Kata sang sersan.
"Apa itu?"
"Rombongan gabungan kita akan dibagi lagi menjadi dua grup. Aku akan mengambil alih reguku dan kau akan mengambil alih regumu. Reguku akan bergabung dengan pasukan Australia sedangkan regumu akan membantu pasukan Malaysia membersihkan jalanan." Sersan Ketut menjelaskan. Itami membalas dengan sebuah anggukan sebelum dia menyuruh regunya untuk membantu prajurit Malaysia.
Sersan Ketut berbalik ke arah regunya dan berkata "Baiklah, semuanya. Kalian lihat ASLAV itu?" Ketut menunjuk ke arah ASLAV Australia yang sedang melindasi mayat mayat tentara Sadera "Bagus, kita akan ikut dengan kontingen Australia. Kalau bisa, kita bantu orang Timor Leste untuk membersihkan rumah rumah. Mengerti, semuanya?"
""""""""""Ya pak!""""""""""" 10 orang menjawab sang sersan dengan tegas.
Pukul 12:47. Jalan Imam Bonjol.
Sekitar 10 tentara Timor Leste sedang membersihkan Jalan Imam Bonjol dari penyerang. Yang berusaha lari ditembak. Yang ketahuan memerkosa perempuan...yah, nasib mereka jauh lebih parah.
2 tentara keluar dari sebuah rumah dengan 3 tentara musuh mengangkat tangan mereka. 2 tentara tersebut diikuti dengan seorang gadis yang bahkan terlihat seperti gadis 16 tahun. Sang komandan regu Timor Leste ini nampaknya tahu apa yang terjadi, tapi dia harus memastikannya dulu.
Sersan Pedro Ximenes, pria berumur 31 tahun ini sangat tidak menyukai orang yang asal serang warga sipil. Tapi yang dia benci lagi adalah pemerkosa.
"Hey, perempuan itu diperkosa?" Sersan Ximenes bertanya kepada dua prajurit yang membawa tiga tahanan itu.
Kedua prajurit itu terdiam untuk beberapa saat sebelum salah seorang prajurit menjawab. "Ya, perempuan ini diperkosa sama yang ditengah." Kata prajurit tersebut sambil menunjuk ke arah tahanan yang berdiri di barisan tengah.
Ximenes memperhatikan orang hidung belang tersebut dengan jijik.
"Hey! Hey, tembak orang itu!" Teriak Ximenes kepada seorang tentara yang memegang FN MAG di tangannya sambil menunjuk ke arah pria genit tersebut.
"Yang ini?"
"Ya, si pria hidung belang sialan itu. Tembak dia, Jose." Ucap Ximenes ke tentara tersebut (Jose).
Jose tersenyum dan langsung mendekati pria kurang ajar tersebut yang nampak ketakutan.
Jose memegang bahu pria tersebut (yang berusaha berjalan pergi) dengan kuat dan tertawa. "Hey, hey. Mau kemana? Kau itu istimewa, jangan bergerak ya." Bisik Jose ke telinga pria tersebut sebelum dia mundur dari pria tersebut sejauh 3 meter sambil membidik FN MAG-nya.
"Adeus, desgraçado." Kata Jose sebelum dia menarik pelatuk senjatanya dan menembaki si pria hidung belang. Pria tersebut jatuh ke tanah dengan banyak luka peluru di tubuhnya. Dua tentara Sadera lainnya hanya melihat dengan rasa takut dan pasrah.
"Bawa dua tahanan ini ke polisi Indonesia. Badan Intelijen Negara Republik Indonesia akan bersenang senang dengan tawanan ini." Kata Ximenes kepada prajurit-prajuritnya.
Para tahanan yang tersisa diseret secara paksa dan dilempar ke dalam sebuah truk pengangkut dan dibawa pergi ke "masa depan yang cerah dan menyenangkan".
Pukul 12:52. Regu Ketut.
Menggunakan senapan mesin yang ada di Anoa, Sersan Ketut berusaha sebisa mungkin untuk menjatuhkan sebuah Orc yang tiba tiba menabrak ASLAV milik Australia, mungkin dia mau menggulingkan ASLAV tersebut.
Yang satu ini mungkin yang terbesar.
Dengan tinggi sekitar 7 meter, dia mengayunkan tongkat kayu miliknya secara liar dan berhasil mengenai beberapa tentara Australia sebelum dia dijatuhkan oleh rentetan tembakan oleh Ketut dan para prajurit lainnya.
Untuk ASLAV dan penumpang-nya sendiri, mereka hanya terguncang akibat serang tiba tiba dari orc tersebut.
Beberapa meter (kira kira hampir 100 meter) didepan, Ketut dan para prajurit bisa melihat sesuatu yang berbentuk seperti gerbang raksasa.
Mereka diberitahu bahwa musuh musuh ini datang dari gerbang tersebut.
Para Zeni akan mengamankan perimeter di sekitar gerbang tersebut sebelum lebih banyak musuh datang.
Russo, Siti, dan Agus sedang menangani beberapa manusia setengah hewan yang menyerah setelah orc besar tadi berhasil ditaklukan.
"Kenapa, anjing? Kok muram? Tadi sok sokan mau bunuh orang." Ejek Agus sebelum dia mulai cekikikan dan kadang dia akan menjewer telinga salah seorang tawanan hanya untuk menganggu mereka.
Ketut melihat apa kabar Itami dan pasukan Malaysia. Mereka melakukan tugas yang baik.
Walau mereka tak mengerti bahasa yang dipakai di bumi, orang orang ini cukup bijak untuk menaruh senjata mereka dan mengangkat kedua tangan.
Prajurit Malaysia akan mengikat, memborgol, dan menahan para prajurit yang sudah menyerah sementara para prajurit Jepang akan mengurusi mereka yang terluka sambil memastikan tidak ada yang akan menyerang mereka dari belakang.
Udin berdiri di sebelah mayat sebuah naga dan penunggangnya yang sudah dijatuhkan.
Perasaan Udin bercampur aduk, dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi pada kejadian hari ini. Apakah dia harus marah? Sedih? Bingung?
Yang pasti adalah, dia akan membawa siapapun yang bertanggung jawab atas serangan di Kuta dan Denpasar ke pengadilan...atau...dia bisa saja langsung membunuh pimpinan orang orang ini.
Tapi tentu saja, yang lain tidak akan membiarkannya melakukan apa yang dia mau lakukan.
Tiba tiba saja ada orang yang memegang bahu Udin. Udin menoleh dan melihat wajah yang tak lain adalah milik Siti.
"Hey, Udin. Aku tahu kau marah. Aku lihat apa yang kau lakukan saat kita diserbu di dekat ruko tadi...kalau bisa...jangan jadi terlalu ganas." Ucap Siti dengan suara lembut, tangannya tak lagi berada di bahu Udin.
"Kalau seorang nasionalis melihat warga dan negaranya diserang, tidak mungkin mereka masih akan mengingat Konvensi Jenewa." Udin membalas. Dia masih menahan niatnya untuk langsung mengeksekusi tawanan perang yang baru saja menyerah.
"Dengar, Udin. Untuk sekarang, tenanglah dulu-"
Tiba tiba terdengar suara helikopter. Udin, Siti, dan yang lainnya melihat sebuah CH-47 Chinook milik Amerika yang membawa tentara AS terbang di langit yang mulai mendung.
"-Untuk sekarang, mari beristirahat dan biarkan para zeni mengambil alih." Kata Siti sebelum dia bergabung kembali dengan Agus untuk menjaga para tahanan perang.
Dua Hari Kemudian...12 Maret 2029. Pukul 09:35. Di sebuah rumah.
Udin menghidupkan Televisi di rumahnya dan langsung menukar ke saluran berita CNN.
Dia ingin mendengar pidato presiden soal 'Pembantaian Kuta-Denpasar' yang disiarkan langsung.
Headline dari beritanya adalah 'Presiden Buka Suara Soal Kejadian Di Bali'.
Dari layar TV, dia bisa melihat Presiden Ahmad berjalan ke arah podium sambil didampingi oleh Marsekal TNI Tarno Gitarjo dan KASAD Jenderal Fritz Batubara.
Sang presiden terdiam sebentar, mengamati para hadirin yang menunggu pidatonya sebelum dia menghela nafas dan berbicara.
"Rakyatku, saudara saudariku, sebagian besar dari kita sudah tahu soal pembantaian yang terjadi di Kuta dan Denpasar dua hari lalu. Pada 10 Maret 2029, suatu...fenomena terjadi. Fenomena yang bahkan ilmuwan terhebat Indonesia tidak bisa jelaskan
Sebuah gerbang raksasa muncul di perempatan lalu lintas pada pukul 11:54 Waktu Indonesia Tengah. Sekumpulan orang berpakaian layaknya prajurit Romawi kuno berjalan keluar dari gerbang dan berbicara dalam bahasa yang kita sebut Latin. Mereka membunuh dan menaklukan apapun yang mereka lihat. Setelah beberapa penyelidikan dan interogasi, kita mengetahui bahwa para penyerbu ini bertarung atas nama sebuah kekaisaran di dunia di balik gerbang yang bernama...'Sadera'"
Ada beberapa suara bisik bisik terdengar dan tiba tiba saja ada pria yang berteriak. "Sadera anjing!"
Amarah pria tersebut mengejutkan sang presiden. Pak Ahmad memejamkan matanya untuk beberapa detik sebelum membukanya kembali.
"Ya. Orang-orang 'Sadera' ini telah merenggut 531 nyawa manusia. 471 diantaranya warga sipil, 39 anggota kepolisian, dan 21 tentara (baik tentara Indonesia atau tentara negara lain).
Mereka juga bertanggung jawab atas hilangnya 97 orang. Pria, wanita, dan bahkan anak-anak mereka bawa pergi ke dunia di balik gerbang! Ke tempat yang disebut 'Falmart'!"
Pak Ahmad berhenti sejenak, nada suaranya mulai tinggi dan dia mulai menjadi sedikit "berantakan".
"Aku...tidak akan membiarkan orang orang berengsek tidak bermoral tersebut pergi membawa saudara saudariku begitu saja!"
Kata "berengsek" membuat para hadirin terngangah, bahkan Udin juga ikut terkejut.
Tidak pernah dalam hidupnya dia berpikir akan mendengar presiden Indonesia berbicara seperti itu.
"Orang Sadera ini...'kekaisaran' ini akan menyesali perbuatan mereka!" Teriak Ahmad dengan lantang.
"Kita akan tunjukan kepada bajingan bajingan ini bahwa mereka tidak seharusnya datang, membunuh, memerkosa, dan menculik rakyat Indonesia! Kita akan tunjukkan siapa yang punya taring yang lebih tajam! Mereka punya pedang, kita punya senapan! Mereka punya 'kebangsawanan', kita punya keterampilan! Kita akan tunjukkan bahwa mereka tidak seharusnya macam macam dengan negara dari abad ke dua puluh satu!" Teriak Ahmad dengan kencang sambil melambaikan tangannya di udara dengan cepat layaknya orator yang marah.
"Karena itu aku ingin meminta sesuatu kepada kalian rakyatku, saudara saudariku! Aku ingin kalian percaya satu sama lain dan bersatu lagi! Bersatulah karena kita akan melawan bangsa asing lagi! Kita pernah melawan bangsa asing sebelumnya dan hasilnya memuaskan...kita menang! Kita merdeka! Kita akan melakukan hal yang sama lagi! Mari bersatu demi ibu pertiwi, tidak peduli apa kepercayaanmu! Mari bersatu demi kedaulatan Indonesia! Berjayalah Ibu Pertiwi!" Ahmad dengan cepat mengangkat tinju tangan kanannya ke langit langit dan para hadirin melakukan hal yang sama sambil meneriakkan "Berjayalah Ibu Pertiwi!".
Dia tidak bisa menahan senyum "jahat" miliknya setelah mendengar apa yang dia asumsikan sebagai deklarasi perang.
Udin terus tersenyum, mengetahui bahwa orang orang ''Sadera'' ini akan membayar sangat mahal...
Bukit Alnus, dunia di balik gerbang.
Dua hari sudah berlalu semenjak Pasukan Ekspedisi 1 pergi melintasi gerbang.
Dari 4,000 orang lebih yang dikirim, hanya TIGA PULUH orang yang kembali.
Beberapa yang beruntung masih mempunyai anggota tubuh lengkap terus menerus berbicara soal sekelompok penyihir dengan tongkat hitam aneh yang menembakkan proyektil ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
Yang lain mengaku melihat Legatus Martinus dibunuh oleh makhluk aneh berwarna hijau yang terbang tepat diatas mereka menggunakan bola api.
Ada juga yang mengaku dikejar oleh sebuah makhluk besar aneh dengan "moncong" yang panjang dan kulit sekuat besi.
Sekarang hanya ada 120 orang di bukit Alnus. Mereka harus melaporkan ini ke Kaisar Molt dan menunggu perintah lebih lanjut.
10 Maret 2029. Beberapa menit sebelum pasukan gabungan mengambil alih gerbang.
"Apa kau yakin ini ide bagus, Tom?"
"Oh tolong, panggil saja aku Tommy, dan ya. Kalau orang yang membunuh keluargaku dan keluargamu ada di balik gerbang itu, ada baiknya kita kesana duluan sebelum militer mengambil alih gerbang ini dan tidak memperbolehkan kita masuk."
Dua orang, yang satu berumur 20 tahun, orang Amerika kelahiran Alabama. Sedangkan yang satunya lagi berumur 19, orang Jerman kelahiran Bavaria.
Yang orang Amerika bernama Tom Garrison.
Sedangkan si orang Jerman bernama Hans Hauptmann.
Mereka berdua turis yang datang ke Bali bersama keluarga mereka untuk bersenang senang dan melihat para tentara dari mancanegara. Mereka tidak pernah terpikir kalau hari ini akan menjadi seperti ini.
Keduanya melihat keluarga mereka masing masing dibantai tepat di hadapan mereka.
Tommy melihat ibu dan adik perempuannya ditikam dengan pisau.
Hans melihat sebuah panah menembus melewati dada ayahnya.
Keduanya merasakan hal yang sama: Kesedihan dan kemarahan.
Tommy yang paling parah.
Tidak seperti Hans yang memutuskan untuk lari, Tommy balas menyerang pembunuh keluarganya menggunakan pisau yang tergeletak di trotoar.
Jubah berkerudungnya berhasil menyembunyikan bercak darah di wajahnya.
Tommy mengaku dia telah menikam orang yang membunuh ibu dan adiknya di mata selama 5 menit tanpa henti.
Mereka kebetulan bertemu saat mencari tempat berlindung. Tommy kemudian datang dengan ide yang gila.
"Aku sebenarnya tidak mau melakukan ini Tommy...tapi aku merasa menyesal karena meninggalkan ayahku disana...jadi aku rasa operasi balas dendam ini mungkin bisa membuatku merasa lebih...baik." Ucap Hans dengan suara yang agak lemah.
"Kalau begitu ayo cepat, aku mulai mendengar suara tembakan mendekat." Kata Tommy dengan wajah tanpa emosi dan mulai berjalan ke arah gerbang.
"Hey, bagaimana soal perlindungan?! Kita tidak punya senjata!" Protes Hans.
Tommy masih berjalan ke arah gerbang sambil mengeluarkan sebuah pisau dari sakunya dan mengangkatnya ke langit.
"Ta-tapi satu pisau tidak bisa melawan seluruh pasukan musuh!"
"Kalau John Wick bisa menang denga pensil, maka aku juga."
"Ah! Kau..." Hans melihat lihat sekitar dan menemukan sebuah pistol milik polisi yang sudah mati.
Hans mengambil pistol MAG 4 tersebut beserta 4 magasin berisi peluru 9 19 mm Parabellum.
Hans tidak begitu tahu cara menggunakan pistol atau senapan, tapi dia tahu banyak soal senjata api. Dia bahkan berencana untuk bekerja di Heckler Koch GmbH saat pulang dari Bali...tapi nampaknya rencananya akan berubah.
Desa Ovidius, desa di dekat Pegunungan Es dan Salju.
Di dekat atau lebih tepatnya di selatan dari Pegunungan Es dan Salju, terdapat sebuah desa kecil bernama Ovidius.
Desa ini dulunya tempat tinggal sebuah suku Volralden sebelum Kekaisaran Sadera mengusir mereka pergi.
Sekarang, tempat in dihuni setidaknya 132 orang. Dua diantaranya adalah Ludo Alvinius dan saudarinya, Rosalind Alvinius.
Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk yang mereka sebut rumah.
Mereka bekerja sebagai petani padi. Mereka biasanya akan menjual hasi tani mereka kepada pedagang dengan harga yang bisa dibilang acak.
Ladang padi mereka bukan yang terbesar dan yang paling menarik. Meski begitu, mereka tetap bekerja untuk menghidupi diri mereka sendiri semenjak orang tua mereka meninggal.
Mereka jarang berkomunikasi dengan orang orang di desa, mereka biasanya berbicara ke orang lain hanya untuk menegosiasikan soal harga atau membeli makan dan minuman.
Ludo berumur 28 sementara adik perempuannya 18 tahun. Ludo memiliki rambut cokelat tua -seperti ayahnya- sedangkan Rosalind memiliki rambut putih seperti ibunya.
Rambut Ludo bisa dibilang pendek dan agak sedikit berantakan sedangkan rambut putih milik Rosalind diikat kuncir dua.
Diantara mereka berdua, dapat diketahui bahwa yang paling "menarik" adalah Rosalind. Karena itulah Ludo biasanya menyuruh Rosalind agar tetap berada di sekitar gubuk dan ladang padi mereka.
Suatu malam di sebuah bar, Ludo memutuskan untuk membeli sebuah minuman untuk dirinya sendiri selagi Rosalind tertidur pulas di rumah mereka.
Uangnya tidak banyak, setidaknya cukup untuk membeli segelas anggur.
Biasanya dia hanya akan pesan minuman, minum, lalu pergi. Namun malam ini, dia memutuskan untuk tinggal lebih lama.
Disaat duduk diam di salah satu meja paling ujung, dia tidak sengaja mendengar percakapan sekelompok pria.
"Hey, apa kau jadi pergi ke Italica?" Kata seorang pria berkumis.
"Hah? kenapa?" Jawab rekannya yang memakai kacamata.
"Yah itu loh, kompetisi makan kue? Kau tidak tertarik? Hadiahnya itu 50 Suwani loh!"
"Kalau 100 Suwani mau, tapi kalau 50...yah, gak tertarik."
Ludo hampir tersedak saat mendengar bahwa hadiahnya adalah 50 Suwani.
AN: 1 Suwani di fanfic ini itu sekitar 420,000 rupiah. Jadi 50 Suwani itu 21,000,000 (21 Juta) Rupiah.
Hadiah dari sebuah lomba makan itu 50 Suwani, dan orang ini tidak tertarik. Sebuah ide langsung muncul di pikiran Ludo.
Baiklah. Kalau kau tidak tertarik mengambil 50 Suwani, biar aku saja. Pikir Ludo.
Dengan 50 Suwani, hidupnya dan Rosalind akan jadi lebih mudah. Mereka bisa makan enak, punya rumah sungguhan, dan kalau bisa, mendirikan sebuah usaha.
Pagi pagi nanti, aku akan tanya Rosalind soal ini. Pikir Ludo saat dia menghabiskan minumannya dan pergi keluar, menuju gubuk miliknya.
Bersambung...
AN: Dan dengan begitu, serangan kekaisaran akan Indonesia telah berakhir.
Ya aku tidak akan membuat seluruh pembantaian Kuta-Denpasar menjadi tiga chapter atau lebih karena aku ini seorang pemalas dan aku ingin Indonesia dan kawan kawan untuk cepat menjelajahi Falmart.
Omong-omong, aku sudah memperkenalkan 4 orang baru: Tom Garrison; Hans Hauptmann; Ludo dan Rosalind Alvinius.
Apa peran mereka dalam fanfic ini? Tunggu saja...
Oh ya, aku juga berpikir untuk menerjemahkan cerita ini ke bahasa Inggris untuk bisa menarik lebih banyak pembaca.
Jadi yah, begitu saja. Bertemu lagi lain waktu!
SomeRandomGuy13 keluar...
