DISCLAIMER: Aoyama Gosho, pemilik sah hak cipta Detective Conan. Daku hanya reader kentang karya beliau dari kelas 3 SD yang sangat menyukai chemistry ConanXAi atau ShinichiXShiho. Maaf aku terjangkit Second Lead Syndrome!
WARNING: OOC, Typo, Plot lebay, maksa, dan ngebosenin hahahahaha.
A/N: Aku sudah beberapa kali mengakui kalau aku belum begitu mampu membangun diksi yang bagus, jadi ceritaku akan didominasi dengan dialog, tapi aku akan berusaha membuat diksi bagus yang tidak membosankan. Harap maklum semuanya.
HEART
CHAPTER 14
Back in the Game
.
.
"BINGO! Tepat sekali! Kau akan menyusul Shin-chan ke Kyoto setelah kembali ke wujudmu sebagai Miyano Shiho!"
.
.
"Itu tidak mungkin, Yukiko-nee! Aku tidak mungkin muncul sebagai Miyano Shiho. Bagaimana jika ada anggota Organisasi yang melihatku? Aku akan membahayakan Shinichi dan lainnya," Haibara menggelengkan kepalanya, tidak menyetujui pilihan Yukiko.
"Tenanglah, Ai-chan. Apa kau lupa aku ini ahli dalam penyamaran? Tentu saja kau tidak akan muncul sebagai Miyano Shiho secara terang-terangan. Aku tidak mungkin membahayakan dirimu," Yukiko mencoba menenangkan Haibara.
"Tapi aku tidak mungkin menemuinya, Yukiko-nee. Kau tahu kondisi Ran-san masih belum pulih kan? Jadi, untuk apa aku malah menyusul Shinichi kesana? Bukankah aku malah akan semakin menyakiti Ran-san?"
"Aku yakin Ran akan baik-baik saja, kekasihnya juga ada disana kan? Dia pasti akan melindungi Ran. Lagipula, apa kau tidak ingin memberi kejutan untuk ulang tahun Shin-chan besok?"
"T-tapi, Yukiko-nee…"
"Sudahlah, Ai-chan. Kau tenang saja. Aku sudah merencanakan semuanya, kau hanya tinggal perlu menjalankannya saja. Berakting sedikit tidak masalah untukmu, kan?"
"Akting? Jadi Shinichi tidak mengetahui rencanamu ini, Yukiko-nee?"
"Tentu saja ini rahasia! Dia bahkan tidak tahu kalau aku pulang ke Jepang," Yukiko mengerlingkan matanya. "Bagaimana, Ai-chan? Kau siap kembali menjadi Miyano Shiho?"
"A-aku tidak tahu, Yukiko-nee. Bagaimana jika ini tidak berhasil? Aku sudah lama tidak mengonsumsi antidote itu," Haibara masih tampak ragu.
"Kau tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya kan? Dimana pil itu? Aku akan mengambilkannya untukmu. Di laboratorium bawah tanahmu?"
"Tidak, tidak perlu, Yukiko-nee. Aku menaruhnya di dalam kotak obat di tasku. Baiklah, aku akan mencobanya," Haibara akhirnya menyetujui rencana Yukiko.
"Good girl! Aku akan menunggu di bawah," ucap Yukiko beranjak dari tempat duduknya.
"Terima kasih, Yukiko-nee."
Ucapan Haibara menghentikan langkah Yukiko.
"Sama-sama, Ai-chan," balas Yukiko dengan senyum ramahnya.
Setelah Yukiko keluar dari kamarnya, Haibara segera mengambil kotak obat dari dalam tasnya dan mengambil sebutir pil berwarna merah putih, sudah lama sekali dia tidak meminum pil ini lagi. Apakah dia bisa kembali menjadi Miyano Shiho untuk sementara?
Haibara kemudian memasukan pil itu ke dalam mulutnya dan meneguk air, ia sudah menelan pil itu. Tiba-tiba rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Rasanya seperti tulang-tulang di tubuhnya ditarik paksa. Keringat mulai bercucuran di sekujur tubuh ringkihnya. Detak jantung Haibara tidak beraturan, sangat cepat, dan terasa seperti akan meledak. Ia tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini, ia tidak bisa lagi mengontrol tubuhnya, yang terdengar hanyalah teriakan kesakitan dari dalam ruangan itu.
Haibara membuka matanya, ia melihat tubuhnya sendiri. Sepertinya antidote sudah bekerja pada tubuhnya, karena ia merasa tubuhnya membesar, tapi kenapa Haibara berada di tempat tidur? Pakaian yang ia kenakan pun berbeda. Setelah sekian lama ia tidak mengonsumsi antidote sementara itu, ia lupa aturan dasar sebelum mengonsumsi pil itu. Ia lupa mengganti pakaiannya ke pakaian ukuran dewasa, mungkin karena terlalu cemas juga, ia bisa melupakan hal penting itu. Jadi, seharusnya sekarang ia tidak mengenakan apapun atau minimal pakaian yang ia kenakan tadi sudah sobek karena tubuhnya membesar. Tapi saat ini kenapa ia sudah mengenakan piyama ukuran dewasa?
"Kau sudah sadar, Ai-chan?" Yukiko masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir minuman hangat yang dari aromanya sepertinya chamomile tea dan semangkuk bubur panas. "Mungkin efek pil nya terlalu menyakitkan untuk tubuhmu, sampai kau pingsan seperti itu. Setelah kau berteriak, kau tidak juga keluar kamar, jadi aku berniat mengecek kondisimu, ternyata kau sudah tidak sadarkan diri."
"Sudah berapa lama aku pingsan, Yukiko-nee? Lalu, pakaian ini?"
"Hampir satu jam kau tidak sadarkan diri Ai-chan dan tentu saja aku yang mengganti pakaianmu. Tidak mungkin aku menyuruh Hakase mengganti pakaianmu. Sebaiknya kau minum teh ini dulu untuk merilekskan tubuhmu dan jangan lupa makan bubur ini, kau belum sarapan kan? Aku ada di bawah jika kau membutuhkanku," ucap Yukiko ramah, membiarkan Haibara untuk mengistirahatkan tubuhnya dulu. Teriakan Haibara tadi terdengar sangat menyakitkan. Yukiko cemas dengan kondisi kekasih anaknya itu.
"Terima kasih, Yukiko-nee."
Sebelum keluar kamar, Yukiko menoleh ke arah Haibara lagi dan kemudian ia tersenyum padanya. "Kau cantik sekali, Ai-chan, eh, atau mungkin aku akan memanggilmu Shiho-chan untuk saat ini."
Hai –Shiho menutupi wajahnya dengan selimut, pipinya merona merah, apakah benar Miyano Shiho sudah kembali walaupun untuk sementara?
Shiho bangkit dari tempat tidurnya menuju meja belajarnya, ia ingin melihat pantulan dirinya di cermin yang ada di meja itu. Benar saja, saat melihat dirinya sendiri dari cermin, hatinya berdebar-debar. Sudah lama ia tidak melihat wajah ini. Sudah 4 tahun lamanya. Miyano Shiho telah kembali. Shiho tersenyum lebar melihat pantulan wajah dewasanya, tidak bisa menahan dirinya dari euphoria kebahagiaan ini. Image ratu es mencair saat ini.
Segera ia meminum teh dan memakan buburnya, tidak ingin membuat Ibu dari kekasihnya itu menunggu lebih lama.
"Ai-kun, bagaimana kondisimu? Astaga, aku tidak menyangka akan bisa melihatmu dalam wujud dewasa seperti ini. Kau cantik sekali, Ai-kun!" Hakase takjub melihat gadis yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri ini berdiri di hadapannya.
"Terima kasih, Hakase. Kondisiku baik-baik saja," jawab Shiho tersenyum manis. Bagaimana pun suasana hatinya sedang baik, jadi ia juga tidak bisa menahan senyumannya. "Dimana Yukiko-nee, Hakase? Aku pikir dia sedang bersamamu disini."
"Dia sedang ke rumahnya sebentar. Yukiko sudah menceritakan semuanya kepadaku. Lebih baik sekarang kau mandi dulu, Ai-kun. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Kau bisa merilekskan tubuhmu sebelum berangkat ke Kyoto."
"Hakase, bisakah kau memanggilku Shiho? Walau hanya sebentar, aku sudah lama tidak mendengar orang lain selain Shinichi yang memanggil nama asliku."
Hakase tersenyum mendengar permintaan gadis di hadapannya ini. "Baiklah, Shiho-kun. Selama dalam wujudmu ini aku akan memanggilmu Shiho."
"Terima kasih banyak, Hakase."
Shiho bergegas menuju kamar mandi, saat ini ia memang butuh sekali untuk merilekskan otot-ototnya yang lumayan menegang karena perubahan tubuhnya. Lagipula, ia juga berkeringat banyak saat proses perubahan itu.
15 menit kemudian Shiho yang sudah selesai dengan mandi air hangatnya, keluar dari kamar mandi dan hendak menuju ke kamarnya, tapi langkahnya terhenti saat di ruang tamu ia bertemu dengan Hakase, Yukiko, dan… Hattori Heiji?
"WOW! Benarkah ini little onee-chan bermata sadis itu?" tanya Heiji tanpa basa-basi.
"Apa maksudmu dengan bermata sadis?" Shiho memberikan death glare andalannya pada Heiji.
"Lihatlah! Tidak salah kan jika aku menyebut ia bermata sadis? Tatapannya mengerikan!" goda Heiji yang membuat Hakase dan Yukiko sweat drop.
"Sudahlah Heiji-kun! Jangan menggodanya lagi! Shin-chan bisa marah jika dia tahu kau menggoda kekasihnya. Dan kau Shiho-chan, bisakah kau duduk dulu sebentar? Aku akan menceritakan rencana kau di Kyoto nanti," ucap Yukiko.
"Aku hanya bercanda lagipula aku tidak… APA? KAKAK INI? DENGAN KUDO? SEJAK KAPAN?" Heiji terkejut mendengar informasi dari Yukiko.
"Kenapa? Ada masalah dengan itu?" tanya Shiho dingin.
"B-bukan begitu. Aku hanya terkejut, kupikir Kudo masih menyukai kakak dari kantor detektif itu," jawab Heiji gugup.
Shiho memutar bola matanya mendengar jawaban dari Heiji. Tidak ingin terlalu menanggapi. Ia lalu duduk di sofa di sebelah Hakase.
"Ehem… Baiklah, Oba-chan, jadi apa yang kau rencanakan hingga aku harus ke Beika tanpa memberitahu Kudo? Kemarin dia meneleponku untuk meminta bantuan, tapi kemudian kau menghubungiku, jadi aku harus membatalkan pertemuanku dengan Kudo dan membohonginya. Ada apa ini?" tanya Heiji serius.
"Jadi begini, kau sudah tahu dari Shin-chan tentang kondisi Ran, kan?" Yukiko bertanya balik.
"Ya, aku tahu jika kakak itu terkena amnesia setelah mengalami kecelakaan dan ingatannya selama 4 tahun terakhir ini menghilang. Apakah rencanamu ada hubungannya dengan kakak itu?"
"Tepat sekali! Saat ini Shin-chan sedang dalam perjalanan menuju Kyoto untuk menemui Ran, kurasa kau juga sudah mengetahui hal itu. Tapi, aku yakin kau belum mengetahui bahwa saat ini Ran sudah memiliki kekasih dan kekasihnya juga ikut dalam perjalanan itu dan seperti yang kau tahu, Shin-chan juga sudah menjalin hubungan dengan Shiho-chan. Jadi, aku memanggilmu ke Beika untuk membantu Shiho-chan membuat kejutan untuk Shin-chan," jelas Yukiko.
"Aku masih tidak paham, kenapa aku harus membantu kakak ini? Maksudku, apa peranku disini? Lagipula bukankah Kudo akan curiga jika melihatku juga ada di Kyoto nanti?" Heiji meletakkan jari di dagunya, sedang berpikir.
"Kau tenang saja, aku juga akan membuat penyamaran untukmu. Kalian berdua harus berakting sebagai sepasang kekasih. Ok!" jawab Yukiko santai, membuat Shiho dan Heiji membelalakkan matanya.
"APA?" ucap mereka berbarengan.
Hakase hanya bisa sweat drop mendengar rencana Yukiko. Sebagai orang yang sudah mengenal keluarga Kudo selama bertahun-tahun, ia paham betul jika mereka selalu memiliki rencana yang sedikit ekstrim dalam menyelesaikan masalah, termasuk juga Yukiko.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendirian ke Kyoto, Shiho-chan. Aku juga tidak bisa meminta Hakase untuk menemanimu, karena akan memakan waktu lebih lama untuk mempersiapkan penyamarannya. Jika aku mengajak Subaru-san, sepertinya kau akan keberatan. Aku tahu hubungan kalian belum seakrab itu, jadi satu-satunya orang yang cocok adalah Heiji-kun!" jelas Yukiko lagi sambil menunjuk Heiji.
"T-tapi aku dan kakak ini? Kenapa kami harus jadi sepasang kekasih?" tanya Heiji masih terkejut.
"Iya, Yukiko-nee. Kenapa aku harus menjadi pasangannya? Aku bahkan tidak seakrab itu dengannya," tanya Shiho melirik tajam ke arah Heiji.
Heiji memutar bola matanya setelah melihat Haibara melirik tajam ke arahnya.
Sebenarnya mereka bukan tidak akrab, hanya saja Heiji sering melontarkan candaan yang menurut Shiho tidak lucu. Sedangkan menurut Heiji, Shiho terlalu menakutkan untuk didekati.
"Oh, ayolah. Anggap saja aku meminta tolong sebagai ibu dari sahabatmu, Heiji-kun. Apakah kau tega membiarkan Shiho-chan sendirian? Kau tahu kan betapa bahayanya di luar sana bagi dia? Kau juga detektif, setidaknya aku bisa mempercayakan Shiho-chan padamu," pinta Yukiko memelas.
"Tapi kenapa harus menjadi sepasang kekasih, Yukiko-nee?" tanya Shiho lagi.
"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin tahu apakah dia sudah berubah lebih peka, lagipula aku juga ingin membayangkan wajah Shin-chan yang cemburu melihatmu bersama pria lain."
Jawaban Yukiko itu membuat Shiho dan Heiji saling berpandangan. Lalu Heiji mengangkat bahu dan tersenyum pada Shiho, Shiho yang paham maksudnya hanya bisa mengela napas.
"Baiklah, aku setuju untuk menemaninya. Lagipula, kau benar Oba-chan, aku harus melindungi dia. Kudo juga sering membantuku, jadi tidak ada salahnya kali ini aku membantumu," ucap Heiji sambil memutar topinya. Ciri khas Heiji jika berhasil memecahkan kasus.
"Shiho-chan…" Yukiko menatap Shiho, menunggu jawaban darinya.
"Baiklah, walau sebenarnya aku merasa kau terlalu berlebihan. Aku tidak perlu dilindungi olehnya, Yukiko-nee," jawab Shiho pada akhirnya.
"Aku tidak melakukan ini karenamu. Aku melakukannya karena Oba-chan yang memintaku," balas Heiji jahil.
"Terserah!" Shiho memutar bola matanya. "Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang, Yukiko-nee?"
"Kau tunggu saja di kamarmu, aku akan kesana sebentar lagi."
"Baiklah."
Shiho meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya. Ia melihat layar ponselnya menyala.
Shiho's POV
Aku lupa kalau ponselku ada di kamar
13 Missed Calls From: Idiot Tantei
7 New Messages From: Idiot Tantei
Astaga, sudah sebanyak ini dia menghubungiku. Aku membuka pesan pertama darinya.
Apakah kau sudah bangun, Shiho?
Aku melihat pesan itu diterima sekitar jam 8 pagi, saat aku pingsan?
Aku memang tidak sempat mengecek ponselku, karena mungkin pikiranku terlalu teralihkan dengan perubahan tubuhku.
Lalu aku membuka pesannya yang kedua, pesan yang ia kirim 10 menit kemudian.
Shiho, kenapa kau belum membalas pesanku?
Pesan-pesan Shinichi selanjutnya juga kurang lebih sama, menanyakan keberadaanku, kenapa aku belum membalas pesannya, kenapa aku tidak menjawab panggilannya, bahkan dia mengira aku marah padanya.
Aku tertawa membayangkan betapa paniknya dia saat ini.
Benar saja, ponselku memainkan lagu Dandelion, Shinichi meneleponku lagi.
Aku mengambil dasi pengubah suara untuk menjawab panggilannya. Bagaimanapun, ada perbedaan suara pada diriku yang saat ini berusia 21 tahun dan diriku yang berusia 11 tahun.
"Moshi-moshi, Shiho! Kau darimana saja? Kenapa baru menjawab panggilanku?" nada bicaranya terdengar sangat panik.
"Ada apa?"
"Ada apa? Kau masih bertanya ada apa? Aku menghubungimu daritadi dan tidak ada jawaban darimu!"
Aku berpura-pura menguap, "Aku baru bangun tidur, Shinichi."
"Tidak biasanya. Kau tidak apa-apa, Shiho?"
"Kepalaku sedikit pusing, sepertinya aku demam."
Aku berbohong padanya.
"Hah? Kemarin kau masih sehat, kenapa hari ini tiba-tiba demam? Kau sudah minum obat?"
Seperti biasa, detektif satu itu tidak mudah percaya sebelum berhasil menganalisa.
"Aku sudah minum obat. Kau sudah berangkat ke Kyoto?"
"Iya, aku sudah berangkat sekitar setengah jam yang lalu. Kau yakin tidak apa-apa? Maaf aku malah meninggalkanmu padahal kau sedang sakit seperti ini."
"Tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku."
Karena beberapa jam lagi aku akan menemuimu di sana.
Tok… Tok… Tok...
"Aku ingin istirahat, Shinichi. Kepalaku agak pusing."
Aku harus mengakhiri panggilan ini, karena sepertinya Yukiko-nee menunggu di luar kamar.
"Aku mengerti. Kau istirahatlah dulu. Ku hubungi lagi nanti saat aku sudah sampai di Kyoto. Maaf, aku tidak bisa menemanimu di sana, Shiho."
"Sudahlah, Shinichi. Itu bukan masalah, ada Hakase di sini yang menjagaku. Kau juga harus berhati-hati, karena efek antidote ini lebih menyakitkan dari yang sebelumnya. Saat kau meminumnya, tubuhmu rasanya seperti benar-benar akan meledak. Jadi, minta lah bantuan Masumi-san untuk mengawasimu saat kau akan meminum antidote itu dan jangan lupa ganti bajumu sebelum meminumnya!"
"Apa kau takut dia akan melihatku dalam kondisi…"
"Shut up! Sudah, akan aku matikan teleponnya!"
Aku yakin sempat mendengar tawanya sebelum ku akhiri panggilannya. Dasar mesum!
"Aku masuk ya, Shiho-chan," suara dari balik pintu kamarku membuatku tersadar kembali.
"Silahkan, Yukiko-nee," aku membuka pintu kamarku.
"Apa Shin-chan yang meneleponmu barusan?" tanyanya.
"Iya, aku tadi tidak sempat melihat ponselku, ternyata dia menghubungiku sejak tadi," jawabku.
"Huh, dia bahkan jarang sekali menghubungi aku, tapi baru sebentar saja kau tidak menghubunginya, dia sangat khawatir. Aku jadi cemburu."
Ucapan Yukiko-nee membuatku terdiam. Rasanya canggung sekali jika ibu dari kekasihmu berkata seperti itu.
"Hahaha… Lihat ekspresimu itu, Shiho-chan. Lucu sekali! Aku hanya bercanda, sayang. Aku tidak cemburu. Aku senang dia menepati janjinya untuk menjagamu walau sekarang dia sedang jauh darimu, Shiho-chan."
"T-terima kasih, Yukiko-nee," aku rasa wajahku kembali merona merah. Aku masih belum terbiasa mendengar hal-hal seperti ini di hidupku.
"Sebaiknya sekarang kita mulai transformasi dirimu. Aku sudah tidak sabar mendandanimu!" ucap Yukiko-nee penuh semangat.
"Aku sudah membawa beberapa macam model wig dengan beberapa warna, jadi kita lihat nanti mana yang akan cocok dengan penyamaranmu. Heiji-kun sedang sarapan, sebentar lagi dia akan membawakan koperku ke kamarmu. Kalian akan berangkat jam 2 siang, aku sudah mengatur tiketnya, jadi kau dan Heiji hanya tinggal duduk tenang di dalam kereta," jelasnya lagi masih dengan penuh semangat.
"Baiklah, terima kasih banyak, Yukiko-nee. Aku sangat merepotkan kalian," ucapku tulus, jujur saja aku merasa ini terlalu banyak untuk ku terima.
"Kau tidak merepotkan sama sekali, Shiho-chan. Aku sangat senang bisa membantumu, lagipula justru kami lah yang terlalu sering merepotkanmu, terutama Shin-chan. Jadi, seperti yang sudah ku katakan tadi, kau tidak perlu merasa sungkan. Aku juga ibumu."
"Ehmm… maaf mengganggu momen mengharukan ini, tapi aku kesini membawakan koper Oba-chan."
Hattori-kun berdiri di depan kamarku dengan koper yang cukup besar di sebelahnya.
"Terima kasih, Heiji-kun. Aku akan mengurusmu setelah Shiho-chan. Kau tunggu saja di bawah," Yukiko-nee menutup pintu kamarku setelah berbicara dengan Hattori.
Kemudian, ia membuka kopernya dan memperlihatkan beberapa wig serta beberapa model pakaian.
"Ini beberapa pakaianku saat dulu aku masih aktif menjadi aktris, aku rasa ini cocok untukmu dan kalau Shin-chan sedikit peka, seharusnya dia bisa mengenali pakaian ini," ucapnya sambil mengeluarkan pakaian-pakaian tersebut, rata-rata adalah floral dress berwarna pastel dan beberapa cardigan berwarna netral.
Aku menyukainya. Sesuai dengan selera fashion ku.
Selama hampir 1 jam, Yukiko-nee memulas wajahku dan mencoba berbagai macam wig untukku, pada akhirnya pilihannya jatuh pada wig ikal panjang berwarna platinum blonde. Kemudian ia memilihkan V-neck floral dress lengan panjang berwarna lilac, dengan panjang dress sedikit di bawah lutut.
Malu-malu, aku mencoba dress itu, karena sudah lama sekali rasanya aku tidak memakai dress dalam wujud Shiho. Lagipula, dulu aku juga jarang memakai dress kecuali turtle neck dress favoritku karena kesibukanku di laboratorium tidak memungkinkanku untuk bebas memiliki waktu luang sekadar berjalan-jalan santai di mal dan berbelanja pakaian.
Aku menatap gugup ke arah Yukiko-nee yang sedang mengamatiku dari atas hingga bawah, menunggu responnya terhadap penampilanku sekarang.
"Kau cantik sekali, Shiho-chan!"
Lagi-lagi aku tersipu malu, benarkah penampilanku secantik itu? Aku hampir tidak pernah memakai make up setelah menjadi Haibara Ai, jadi rasanya sedikit asing, dan bukannya aku tidak mengakui kemampuan Yukiko-nee, aku hanya belum terbiasa dengan ini. Ku lihat pantulan wajahku di cermin. Make up yang Yukiko-nee pulaskan pada wajahku malah membuatku semakin merasa mirip dengan mendiang ibuku.
"Ayo kita kejutkan para lelaki di bawah!"
Yukiko-nee menggenggam tanganku dan menarikku keluar dari kamar. Ia menuju ruang tamu dimana Hakase dan Hattori-kun sedang berbincang.
Aku secara reflek langsung bersembunyi di belakang Yukiko-nee. Kebiasaanku ini tetap ada walau dalam tubuh Shiho.
"Ehem… Maaf kalian harus menunggu lama. Akan ku perkenalkan kepada kalian, Shiho -tidak, maksudku, Miss Elena Danzel (A/N: Ini nama asal banget hahahaha!).
Aku sedikit terkejut saat Yukiko-nee menyebutkan nama ibuku sebagai nama samaranku. Elena.
"Hei, Shiho-chan, kenapa kau masih bersembunyi di belakangku? Dua orang pria di hadapanku ini sudah tidak sabar melihat perubahanmu."
Aku bergeser ke kanan untuk memperlihatkan hasil kerja keras Yukiko-nee yang membantu dalam penyamaranku. Aku melihat mereka terpana menatapku. Hakase dan Hattori belum mengeluarkan sepatah kata pun, hanya terkesiap melihat perubahanku.
"Sepertinya berhasil ya, Shiho-chan. Lihat, mereka sampai tidak bisa berkata-kata," ucap Yukiko-nee sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku.
"Shiho-kun! Kau sangat cantik!" ucap Hakase riang.
Sedangkan Hattori-kun masih menunjukkan keterpanaannya kepadaku.
"Kau yakin dia adalah onee-chan yang sama, Oba-chan?" tanya Hattori-kun tidak percaya.
"Sepertinya kau begitu terpesona melihatku hingga tanpa sadar menunjukkan kebodohanmu," jawabku menyeringai sembari melipat kedua tanganku di depan dada.
"Oh, sekarang aku percaya kau adalah onee-chan bermata sadis itu! Lihatlah perangaimu, masih tetap dingin seperti biasa walau tampilanmu sedikit berbeda," Hattori balas menyeringai.
"Ku anggap itu sebagai pujian. Terima kasih, Detektif dari Barat!"
"Kalian ini…" Yukiko-nee ber-facepalm melihat interaksiku dengan Hattori-kun. "Kau, ikut denganku! Aku sudah menyiapkan penyamaran untukmu, Heiji-kun! Shiho-chan, aku akan mengurus dia dulu, kau bisa bersiap untuk berkemas atau menunggu disini dengan Hakase, terserah padamu, jam 1 kalian sudah harus berangkat. Ok!"
Yukiko-nee lantas menarik Hattori menuju kamar belakang, tempat Shinichi terbiasa tidur jika sedang menginap di sini. Aku mengangguk lalu duduk di sebelah Hakase. Masih ada waktu sekitar 1,5 jam lagi sebelum aku berangkat. Tidak banyak barang yang perlu ku kemas, jadi aku memilih berada di ruang tamu ini dulu dengan Hakase.
"Apa kau gugup, Shiho-kun?" Hakase sepertinya menyadari sesuatu.
"Menurutmu, yang ku lakukan ini benar atau salah, Hakase? Aku yang menyuruhnya untuk menemui Ran-san, tapi jauh di dalam hatiku, aku juga merasa sakit membayangkan dia menemui Ran-san sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti rencana ini."
Ya, aku masih merasa gugup dalam menjalankan rencana ini. Apakah aku terlalu egois?
"Tidak ada yang salah mengenai hal ini, Shiho-kun. Kau membuat prototype antidote itu agar Shinichi bisa bertemu Ran, kau mengabaikan rasa sakit hatimu dan tetap membuatnya, lalu kau berhasil menyelesaikannya. Rasa sakitmu itu adalah hal yang wajar, tapi kau bukan orang egois, Shiho-kun. Kau tetap membantu Ran walau kau sendiri harus menahan sakit, kau tetap menyuruh Shinichi menemuinya walau dia sudah berkali-kali menolak hal itu, dan jika pada akhirnya kau menyusul Shinichi ke sana, aku rasa tindakanmu itu benar. Kau pun berhak untuk bahagia, Shiho-kun. Ran sudah memiliki kekasih, jadi kau tidak merebut Shinichi darinya. Jangan terus-terusan merasa bersalah. Aku dan Shinichi sudah beberapa kali memberitahukanmu tentang sifat burukmu itu, Shiho-kun!" Hakase menepuk pundakku, menenangkanku.
Aku tersenyum membalas tatapan lembut Hakase. Sekarang aku yakin jika tindakanku ini benar.
Aku melanjutkan perbincanganku dengan Hakase, termasuk mengingatkan untuk ia tetap mematuhi aturan dietnya selama aku tidak ada. Aku tetap harus mengawasi diet Profesor yang sudah semakin menua ini. Jika tidak, kadar gula darahnya pasti tidak akan terkontrol lagi. Hakase hanya pasrah mendengar perintahku. Aku tahu, dia sudah membayangkan beberapa makanan manis yang akan dia beli saat aku pergi. Ini demi kebaikannya juga!
Setelah hampir satu jam berbincang dengan Hakase, aku pamit ke kamarku untuk berkemas.
"Kau sudah selesai berkemas, Shiho-chan?" Yukiko-nee sudah berdiri di belakangku.
"Iya, Yukiko-nee. Lagipula aku tidak perlu membawa banyak barang, sudah ku kemas semua di dalam tasku."
"Kau ingat kan teknik make up yang sudah ku jelaskan padamu tadi? Tidak terlalu rumit, ku rasa kau pasti bisa menirunya," tanya Yukiko-nee sambil merapikan wig ku.
"Iya, tentu saja aku ingat. Aku tidak yakin apakah aku bisa sebaik dirimu nanti saat memakai make up ku sendiri, tapi akan aku coba."
"Oh, ayolah. Tidak perlu merendah seperti itu, kau ini wanita jenius! Jadi, aku rasa hal ini mudah bagimu. Kau sudah siap? Kekasih mu sudah menunggu di bawah," godanya dengan sengaja menekankan kata kekasih padaku.
Aku tertawa kecil melihatnya. Lucu sekali jika ibu dari kekasihmu malah menyuruhmu menemui kekasihmu yang lain.
Aku dan Yukiko-nee menuju ruang tamu untuk melihat "kekasih" lain ku itu.
"Shi –sorry, maksudku Miss Elena Danzel. Perkenalkan dia adalah Mr. Ishikawa Raiden. Seorang mahasiswa asal Jepang berusia 24 tahun yang sedang melanjutkan kuliahnya di London dan bertemu dengan Elena sampai akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih dan sudah menjalani hubungan selama 1 tahun dan dia mengajak kekasihnya untuk berlibur ke Kyoto. Bagaimana, Miss Elena Danzel?" Yukiko-nee dengan bangga menceritakan kisah karangan yang ia buat.
Aku menyeringai melihat perubahan wajah Hattori-kun. Dengan wig hitam sebahu dan tampilan "wajah barunya" yang terlihat sedikit lebih dewasa dan manly karena Yukiko-nee menambahkan "brewok" (A/N: aku bingung harus menggunakan kata apa selain jenggot dan kumis, jadi aku pakai kata brewok walau terdengar aneh, tolong abaikan keanehan ini!) pada wajahnya. Cukup menarik! Aku yakin Shinichi pasti tidak akan mengenali sahabat konyolnya ini.
"Mister Raiden, ku harap kau tidak mengeluarkan jokes konyolmu itu disana," ucapku menantang Hattori-kun.
Aku tidak membenci dia, hanya saja aku tidak tahan mendengar jokes konyolnya yang sama sekali tidak lucu menurutku.
"Dan ku harap kau tidak membuat badai salju di Kyoto karena sikap dinginmu itu, Miss Elena!" balasnya dengan suara yang terdengar lebih berat dari suara dia sebelumnya.
Sepertinya dia memakai alat pengubah suara ciptaan Hakase.
"Aku sudah memesan taksi, kalian akan berangkat sebentar lagi," ucap Yukiko-nee sambil memberikan tiket kereta kepadaku dan Hattori.
"Maaf Ai-kun aku tidak bisa mengantarmu, kau tahu kan mobilku sedang ada di bengkel," ucap Hakase.
"Tidak apa-apa, Hakase. Lagipula Yukiko-nee sudah memesankan taksi untuk kami," balasku.
Tidak beberapa lama kemudian, taksi itu pun datang. Aku dan Hattori kemudian pamit pada Hakase dan Yukiko-nee dan berangkat menuju Stasiun Tokyo.
End of Ai's POV.
Normal POV
"Kau yakin mereka akan aman di Kyoto, Yukiko?" tanya Hakase setelah Shiho dan Heiji pergi.
"Kau tenang saja, Hakase. Di sana ada 3 detektif yang akan melindungi Shiho-chan jika itu yang kau khawatirkan. Lagipula, aku sudah meminta bantuan dari agen terbaik FBI untuk mengawasi mereka disana," jawab Yukiko santai.
"Maksudmu? Subaru-san?" Hakase nampak terkejut dengan jawaban Yukiko.
Namun Yukiko tidak menjawab pertanyaan Hakase secara langsung, hanya membalas dengan senyuman manisnya seperti biasa dan lagi-lagi berkata, "kau tenang saja, Hakase."
Hakase menghela napas panjang mendengar jawaban tetangganya itu, "baiklah, aku percaya padamu Yukiko."
Flashback
Ding… Dong… Ding… Dong…
"Yukiko-san, anda tidak perlu menekan bel untuk masuk ke rumah anda sendiri," ucap seseorang dari mesin intercome di depan rumah keluarga Kudo.
Lalu, seseorang keluar dan membukakan pagar rumah itu, mempersilahkan sang pemilik rumah masuk.
"Sudah lama tidak bertemu, Subaru-san!" sapa Yukiko riang.
"Bagaimana kabar anda, Yukiko-san? Dimana Yusaku-san?" tanya Subaru.
"Kabarku baik dan Yusaku sedang di New York, aku ke Jepang sendiri."
"Sebentar aku buatkan minum, bukankah tidak sopan jika membiarkan seorang tamu datang tanpa disuguhi apapun?"
"Dan aku bukan tamu, aku masih pemilik sah rumah ini, tapi aku hargai kebaikanmu, Subaru-san."
Subaru menuju ke dapur untuk membuat teh, tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa teh dan sepotong cheesecake.
"Aku membuat ini kemarin," jelasnya pada Yukiko.
"Terima kasih, Subaru-san. Aku tidak akan terkejut jika nanti tiba-tiba kau membuat toko roti."
"Sepertinya ada hal penting yang ingin anda sampaikan kepadaku, Yukiko-san," ucap Subaru to the point.
"Kau bahkan sudah tahu sebelum aku memberitahukanmu. Kau pasti sudah tahu hubungan anakku dengan gadis kecil di rumah Hakase."
"Ya, sungguh aneh karena tiba-tiba dia memintaku mengajarinya membuat cokelat. Lagipula, aku sudah mendengar semuanya. Jadi, apa ada hal lain yang belum aku tahu?" Subaru membuka matanya, menampilkan sorot mata tajam Akai Shuichi.
"Bisakah kau menyuruh anak buahmu menjaga dia di Kyoto? Atau mungkin justru kau sendiri yang akan menjaga dia langsung di Kyoto?" tanya Yukiko terlihat lebih serius.
"Hmmm…" Subaru tampak sedang berpikir.
"Dia sudah meminum penawar racun sementara itu, sosoknya sudah kembali menjadi seorang Sherry," jelas Yukiko.
"Berapa lama dia akan ada di Kyoto?"
"Sekitar 2 sampai 3 hari jika tidak ada masalah."
"Baiklah, aku mengerti. Prioritasku saat ini untuk melindunginya, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Subaru.
"Ok, aku mempercayakan dia dan anakku kepadamu," ucap Yukiko tersenyum senang.
Flashback end
"Aku juga harus segera ke Bandara, Hakase," Yukiko menarik koper yang ia bawa tadi.
"Kau langsung kembali ke Amerika?"
"Tentu saja, aku akan menyusul Yusaku ke New York. Kau jaga diri baik-baik, Hakase. Ingat dietmu atau Shiho-chan akan terus memarahimu!" ucap Yukiko sambil tertawa.
Hakase juga tertawa mendengar nasihat Yukiko. "Tenang saja, aku juga tidak mau terus-terusan dimarahi olehnya. Kau juga hati-hati di jalan Yukiko. Sampaikan salamku pada Yusaku."
"Baiklah, sampai jumpa Hakase."
Yukiko pun masuk ke dalam taksi setelah pamit dengan Hakase. Tugasnya disini sudah selesai.
Sementara itu di dalam taksi menuju Stasiun Tokyo.
Heiji memilih duduk di samping supir taksi, sedangkan Shiho duduk di belakang sendirian, pandangannya terkunci ke jalanan Beika yang lumayan ramai di akhir pekan.
Lagu Dandelion mengalun dari ponsel Shiho, ia melihat layar ponselnya dan tampak ragu untuk menjawab panggilan itu. Pada akhirnya ia memilih me-reject panggilan itu dan mematikan ponselnya.
Heiji melirik sedikit ke arah Shiho dan sepertinya ia bisa menebak siapa yang menelepon "kekasih palsu" nya itu.
"What? Is there something on my face?" tanya Shiho dingin.
"Nothing," jawab Heiji tak kalah dingin.
'Sepertinya ini akan jadi perjalanan yang panjang,' keluh Heiji dalam hati lalu kembali mengalihkan pandangannya ke jalan menuju Stasiun Tokyo diiringi keheningan di dalam mobil.
.
.
.
To Be Continued.
