Noted: Mulai chapter ini akan ad sedikit perubahan dari Sena untuk memanggil orang tuanya. Tou-chan (panggilan Sena untuk Inaho) akan berubah menjadi 'Ayah'. Dan Kaa-chan (panggilan Sena untuk Slaine) akan berubah menjadi 'Papa'

REACHING YOU

(chap 10)

Lost Memory

BUMI. Sebuah pulau tak berpenghuni di Samudera Hindia

Matanya memicing, nafas sedikit memburu saat melihat sesosok manusia yang sedang tidak sadarkan diri di bawah puing puing besi berwarna orange. Dengan cepat pria tinggi berambut hitam itu menghampiri sosok tersebut, tanpa sadar dia menghembuskan nafas leganya setelah memeriksa sosok itu dan masih menunjukkan tanda-tanda bahwa orang tersebut masih hidup. Kembali dia edarkan pandangannya ke segala arah, namun nihil target pencariannya tidak lagi di sana. Buru buru Harklight menghidupkan alat komunikasinya, memerintahkan pasukannya yang juga masih berada di sekitar sana untuk Kembali ke mesin aldnoahnya dan melanjutkan misi pencariannya. 'Maaf, hanya ini yang bisa kulakukan. Semoga kau bisa bertahan sampai teman-temanmu datang menjemputmu'. Harklight menoleh sekilas kepada pria berambut coklat di bawah sana, sebelum ikut memasuki mesin aldnoah miliknya sendiri dan meninggalkan pulau yang sudah hancur tersebut.

Deucalion

Pria bersurai kuning pucat itu perlahan membuka matanya. Tengkuknya terasa sakit, tapi pergelangan tangan kirinya yang terborgol dan disatukan dengan sisi tempat tidur lebih menarik perhatiannya. Matanya beberapa kali mengerjap saat melihat 'sosok Inaho' di depannya hampir menangis. Seumur hidup dalam ingatannya, Inaho bukanlah orang yang akan menangis.

"Orenji, kau… kenapa mengecat rambut?"

Bukannya mendapat jawaban, sosok yang dipanggil Orenji itu malah menghambur memeluknya. Slaine hampir kehabisan nafas seandainya Yuki-nee tidak menarik 'sosok Inaho' itu.

"Slaine-san…"

Si pirang terkesirap, ingin rasanya dia memberi hormat terdalamnya kepada Putri Asseylum di hadapannya. Hanya saja, borgol di tangannya membuat gerakannya terbatas. Masih dengan kepala penuh tanda tanya, dia menatap putri tersebut, menuntut jawaban dari pertanyaan yang bahkan belum sempat dia lontarkan. Terlalu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan.

MARS. Kastil Pendaratan Barouhcruz

Lemrina menggigit ujung kuku ibu jarinya, sangat terlihat di wajahnya bahwa perempuan itu sedang tidak dalam mood yang baik. Berkali-kali dia berteriak sambil memerintah melalui alat komunikasinya. Memerintahkan Harklight dan pasukannya untuk segera menemukan Slaine dan Sena miliknya. Beberapa kali membentak para bawahannya yang berada di ruang kontrol untuk segera memeriksa rekaman satelit. Nihil, tidak ada tanda tanda dari mereka yang berhasil melacak Slaine ataupun Sena. Matanya berkabut penuh amarah, melemparkan gelas berisi wine yang sedari tadi di pegangnya hingga mengenai salah satu bawahannya yang berada di ruang kontrol

"KALIAN TIDAK BERGUNA!" hardiknya lalu meninggalkan ruangan itu.

Deucalion

Slaine mematung mendengarkan penjelasan yang masuk secara bertubi tubi. Tangannya sudah tidak terborgol lagi. Kini tangannya mengusap pelan rambut 'sosok Inaho' berambut warna sama dengannya. Kepalanya masih mencerna semua cerita yang didengarnya. 'sosok' itu bukan Inaho, perawakannya mungkin seperti Inaho dengan warna rambut yang berbeda. Hanya saja itu bukanlah Inaho yang di kenalnya. Itu anaknya, Slaine masih tidak ingat.

Ingatan terakhir yang ada di kepalanya adalah saat dirinya dan Inaho sedang bermain catur di ruang penjara khususnya. Dia dan Inaho sudah tidak saling benci tapi masih terlalu cepat juga untuk dikatakan berteman. Yang dia ingat, Inaho setiap minggu pasti datang mengunjunginya. Sekedar bermain catur atau ngobrol tentang perkembangan dunia luar. Kepalanya masih tidak bisa menerima jika ternyata dia dan Inaho sudah menikah dan bahkan dirinya melahirkan seorang anak hasil pernikahannya dengan Inaho dan anak tersebut yang sedang diusap olehnya.

BUMI. Sebuah pulau tak berpenghuni di Samudera Hindia

Inaho akhirnya sadar, pandangannya kabur karna matanya hampir tertutup oleh darah yang kini sudah mulai mengering. Pasir pantai yang terasa asin dan bau asap masuk ke dalam indera penciumannya. Badannya sakit jangankan untuk keluar dari tumpukan puing puing besi kataphrak yang kini bahkan sudah tidak berbentuk, untuk menggerakkan ujung jarinya saja dia sudah kepayahan. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Inaho menyentuh mata kanannya. Mengirimkan sinyal sos langsung menuju Deucalion sebelum akhirnya kesadarannya hilang Kembali.

Deucalion, Armada itu terbang rendah, mengitari pulau kecil tempat sinyal sos terakhir Inaho terdeteksi. Hanggarnya terbuka, terlihat beberapa unit kataphrak berwarna hijau keluar dari sana. Dari ruang kontrol armada, terlihat Sena sibuk menatap semua layar besar satu persatu untuk mencari sosok ayahnya. Di sebelahnya, Slaine yang masih bingung dengan keadaan yang terjadi juga ikut membantu. Sebenarnya Sena sangat ingin turun sendiri, sayangnya Asseylum dan Yuki-nee serta 'papa'nya tidak mengijinkannya.

Sepuluh menit berselang, Rayet yang juga turun langsung mencari keberadaan Inaho akhirnya memberikan kabar. Unit kataphrak yang tadi berpencar segera menuju titik koordinat rayet, dengan amat pelan mereka mengangkat tumpukan puing besi berwarna orange itu agar tidak mengenai tubuh Inaho. Dokter Yagari, yang sejak awal memang ikut di armada Deucalion langsung memeriksa tubuh Inaho begitu semua puing besi yang menimbunnya sudah terangkat. Wajahnya manampakkan perasaan lega setelah melakukan pemeriksaan singkat. "Kaizuka-san masih hidup" lapornya langsung kepada kapten Magbaredge. Semua yang berada di ruang terlihat menghembuskan nafasnya lega. Slaine bahkan tanpa sadar jatuh terduduk. Lega.

MARS. Kastil Pendaratan Barouhcruz

"Berapa lama lagi sampai pengisian energi Bom meteor terisi" Lemrina mengetuk ngetuk sandaran tangan di kursi yang didudukinya. Matanya masih terlihat nyalang penuh kilat amarah. Sekitar satu jam lalu, Harklight menghubunginya, bahwa sampai detik ini mereka masih tidak menemukan tanda tanda keberadaan Slaine dan Sena.

"Sekitar 2 hari lagi Lemrina-Hime" jawab salah satu anak buahnya dengan suara mencicit. Takut, Intimidasi sang Putri masih terasa mencekam di ruangan itu.

"Temukan Slaine dan Sena. Kuberi kalian waktu 2 hari! Jika dalam waktu itu kalian tidak menemukannya, kalian akan kubinasakan Bersama makhluk bumi lainnya!" tegas, itu yang dikatakan Lemrina kepada Harklight dan para pasukannya yang masih berada di bumi untuk mencari Slaine.

Lemrina tidak mendapatkan sahutan dari Harklight dan pasukannya. Lebih tepatnya dia langsung mematikan alat komunikasinya. Fikirannya sudah penuh, tidak ingin lagi dia menambahkan dengan pendapat Harklight yang menurutnya belakangan ini menjadi aneh.

Deucalion

Hampir semua teman dekat Inaho duduk di Lorong ruang perawatan Deucalion perasaan lega yang mereka rasakan tadi mendadak hilang saat melihat tubuh lemah Inaho diangkut masuk ke dalam armada tempur itu. Hampir seluruh tubuhnya ditutupi darah yang sudah mulai mengering Bersama dengan pasir-pasir pantai. Dokter Yagarai keluar dari ruang pemeriksaan, serentak, semua yang ada di sana mengelilingi sang dokter. Kaizuka baik-baik saja, ingat kasus Slaine-san waktu melahirkan Sena? Sel-selnya sangat cepat menutup. Sepertinya berkah aldnoah dari Asseylum juga diterima dengan sangat baik oleh Kaizuka. Tidak ada lagi luka dalam dan luar, dia hanya sedikit kehilangan darah. Sebentar lagi dia akan sadar. Tapi mungkin efek dari rasa sakit yang dideritanya masih belum hilang.

"Uhmmm…" Slaine bersuara dengan sedikit takut-takut.
"Tentu saja, silahkan liat keadaannya. Tapi hanya 1 orang yah" imbuh dokter Yagarai mempersilahkan Slaine masuk. Si pria bersurai kuning pucat itu menatap semua yang ada di sana. Mereka semua mengangguk, perasaannya masih belum stabil, Takut, khawatir, lega, semua menjadi satu. Setiap Langkah yang dia ambil mendekat untuk melihat Orenjinya, membuat keberaniannya menjadi semakin kecil.

…..

Lampu berwarna merah Kembali berkedip di semua tempat di dalam Deucalion. Dari ruang operator, salah satu anak buah kapal mengabarkan bahwa mereka terkena serangan mendadak. Musuhnya tidak terdeteksi radar, namun sayap kiri belakang armada terbang itu terkena serangan vital. Dengan cepat Magbaredge memerintakan pendaratan darurat. Melihat keadaan sayap kirinya yang hampir hancur itu, cukup mustahil untuk melarikan diri dengan aman dari tempat itu. Pendaratan darurat dilakukan, menimbulkan guncangan yang cukup besar di dalam armada. Beberapa barang yang berada di meja cafetaria sampai terjatuh dari tempatnya. Sementara itu di ruang perawatan, dengan sigap Slaine melindungi Inaho agar tidak terjatuh dan menambah lukanya. Sena yang sejak tadi berada di Lorong depan ruang perawatan segera melesak masuk, khawatir dengan kedua orang tuanya di dalam sana.

[Mustang 17] "Tidak bisa, bahkan kami tidak mendeteksi adanya kataphrak orang Mars di sekitar sini."

Laporan kelima yang sama diterima Magbaredge sejak semenit lalu. Kepalanya pening bagaimana mungkin pasukannya tidak mendeteksi sinyal apa apa sementara Deucalion hampir jatuh karna sayapnya baru saja terkena serangan. Belum lagi konsentrasinya Kembali, sebuah alarm Kembali berbunyi. Kali ini sayap sisi kanan Deucalion yang terkena serangan dari musuh yang bahkan tidak diketahui wujudnya. Terlihat sedikit raut lega dari si Kapten Kapal Armada, pasalnya saat ini Deucalion sudah mendarat, tentu saja dengan pendaratan darurat. Bunga api menyala, diikuti serpihan puing puing besi yang jatuh dari langit seperti sebuah hujan deras. Gemuruh besi-besi itu memekakkan telinga saat menghujam menyentuh tanah.

"Ada yang berhasil menemukan musuhnya?" Magbaredge bertanya kepada pasukannya yang sedang berada di luar Deucalion.
[Mustang 01] "Di sini Yuki, Mustang 01, kami bahkan belum tau di mana tempat dan bentuk musuhnya bagaimana, serangan tadi bukan dari kami"

Madbaredge mengernyitkan alisnya bingung, 'lantas siapa?' tanya nya kepada diri sendiri. Belum sempat pertanyaannya terjawab. Kembali bunga api terlihat di langit. Kali ini tidak hanya satu tapi lima sekaligus. Diikuti dengan masuknya sebuah transmisi komunikasi illegal ke dalam Deucalion.

[Prototype 01] Tolong Hentikan Lemrina-Hime. 2 Hari lagi, dia akan Kembali meluncurkan bom meteor. Skalanya lebih besar dari yang pernah menghancurkan pangkalan rahasia kalian beberapa bulan lalu.

"Kau siapa?"

[Prototype 01] Harklight, salah satu pendukung Slaine-sama. Aku tau, Slaine-sama ada di dalam sana. Aku diperintahkan untuk membawanya kemabli ke Mars, tapi menurutku di sana bukanlah tempat yang tepat untuknya. Kumohon jaga Slaine-sama dan Sena, serta hentikan Lemri…

Belum sempat Harlight menyelesaikan kalimatnya, Kembali sebuah bunga api meledak di udara. Bersamaan dengan putusnya transmisi komunikasi dari Harklight.

MARS. Kastil Pendaratan Barouhcruz

"Beraninya tikus itu mengkhianatiku!" Lemrina mengepalkan tangannya, memukul sandaran tangan hingga menimbulkan bunyi gedebuk yang lumayan keras.

OWARI

100% yakin udah gak ada yang nunggu ini, bahkan udah lupa. Tapi tetap akan kuselesaikan. Berasa utang gak sih wkwkwkwkkwkw