Reaching You
(Chapter 11)
THANK YOU, FOR REACHING ME
Tahun 2040 Masehi, Kastil Pendaratan Barouhcruz
Sena memandang keluar, tangannya menempel pada dinding kastil yang merefleksikan pemandangan di luar sana. Sebuah satelit alami dari planet Saturnus yang dikenalnya bernama Enceladus terlihat sangat jelas, sepintas benda itu mirip dengan bulan dari planet asalnya. Ada sedikit rasa rindu yang dia rasakan setiap kali mereka melewati benda itu. Sudah hampir 5 tahun dirinya dan kedua orang tuanya meninggalkan Bumi dan Mars.
"Sena..."
Suara panggilan itu membuyarkan lamunannya, dengan cepat dia mengubah ekspresinya sebelum menghampiri kedua orang tuanya yang sejak tadi sibuk bermain catur.
"Sena rindu Bumi?" pertanyaan dari Slaine dijawabnya dengan sedikit gelengan lalu mengangguk. Slaine yang mendapat jawaban Sena tersenyum, menggerakan tangannya memanggil Sena untuk duduk di Kursi tepat di sampingnya. "Maaf, gara-gara kami yang jadi orang tuamu, kamu harus ikut terasing jauh" Slaine mengusap helai halus milik Sena.
"Sebenarnya kamu bisa kembali ke bumi. Tidak perlu ikut ke sini dengan kami." Inaho yang sejak tadi diam akhirnya bersuara yang langsung mendapatkan lemparan bantal kursi dari Slaine yang duduk tepat di hadapannya. "Anak kita tidak salah, dia hanya korban. Untuk apa dia ikut ke pengasingan?"
"Untuk manja manja sama Papa lah. Ini, Sena tahu nih, kenapa Ayah ngomong begitu. Ayah mau monopoli Papa kan? EGK DULU ya! Pokoknya Papa punyaku!" Sena langsung berhambur memeluk Slaine dan menjulurkan lidahnya mengejek ayahnya sendiri. Di tempatnya Inaho hanya tertawa kecil melihat tingkah anak semata wayang mereka yang menurutnya sangat amat terlalu manja.
"Mau kemana?" sekarang Slaine yang bertanya kepada Inaho yang dilihatnya berdiri dari posisi duduk nyamannya.
"Buat makan siang" jawabnya sambil melirik jam digital yang ada di atas pintu ruangan itu.
Tahun 2035 Masehi, Deucalion
Armada itu sedikit berguncang saat ledakan prototype yang dikendarai Harlight meledak. Bunga apinya ikut menyambar Deucalion yang juga masih berantakan. Para awak kapal mau tidak mau harus berpegang pada yang mereka anggap kokoh agar tidak jatuh tersungkur. Sementara itu, di ruang perawatan, Slaine yang sejak tadi memang mendekap Inaho agar si surai coklat tidak terjatuh sedikit kaget saat merasakan orang yang didekapnya membalas pelukannya erat. Matanya membulat saat tatapan mereka bertemu.
"Inaho-san..." cicit Slaine salah tingkah.
Inaho tidak menjawab. Malah mempererat pelukannya, seolah tidak ingin si surai kuning hilang lagi dari pandangannya.
...
Hampir semua petinggi berkumpul di ruang rapat Deucalion, tentu saja Inaho juga ada di sana. Tangannya masih menggenggam Slaine, tidak ingin melepasnya. Tidak ada yang berkomentar dengan apa yang dilakukan Inaho, mereka semua fokus dengan yang sedang dibahas. Masalah yang cukup genting terlebih dari info terakhir yang mereka dapatkan dari Harlight beberapa saat yang lalu. Tanpa membuang waktu Kapten Magberedge mengumumkan untuk diadakannya rapat darurat ini.
"Garis besarnya, kita sudah tahu siapa musuh kita sebenarnya. Dan apa tujuan mereka. Kita bahkan sudah tahu langkah apa yang akan diambil oleh mereka. Masalahnya, waktu dan sumber daya kita sekarang. Saya rasa tidak akan cukup untuk menghentikan serangan mereka selanjutnya."
Magberedge menghembuskan nafas berat. Menatap satu persatu semua yang hadir di ruangan itu, hampir semua dari mereka terlihat lelah, penuh luka dan perban. Kembali dia menghembuskan nafasnya sebelum melanjutkan "Adakah dari kalian yang mungkin memiliki strategi? Maaf sudah menjadi Kapten yang tidak kompeten" lanjutnya sambil menundukkan badan tanda maaf kepada semua yang hadir di sana.
"Maaf..." Sela Slaine yang mendapatkan tarikan untuk duduk kembali oleh Inaho, saat si Surai kuning mencoba memberikan ide. Sontak semua yang ada di sana menoleh, begitupun sang Kapten armada yang sudah kembali berdiri tegap.
"Saya yakin, kalian sangat membeci saya saat ini. Mengingat apa yang telah saya lakukan kepada Bumi beberapa bulan terakhir. Meskipun saya sendiri sebenarnya lupa apa yang saya lakukan." Slaine diam sebentar, merasakan atmosfer di sana menjadi semakin gelap dengan apa yang baru dia utarakan. "Saya punya rencana, saya yakin kalian akan susah untuk setuju dan mengikuti rencana saya. Tapi hanya ini rencana yang terpikirkan oleh saya" lanjutnya, sekilas menatap Inaho yang masih memegang tangannya semakin erat
...
"Inaho-san..." cicit Slaine salah tingkah.
Inaho tidak menjawab. Malah mempererat pelukannya, seolah tidak ingin si surai kuning hilang lagi dari pandangannya.
"Maaf, ingatanku belum kembali sepenuhnya. Yang kuingat hanya sampai saat aku diasingkan di sel khusus setelah pertempuran kita di moonbase. Aku... Aku bahkan tidak ingat apa yang terjadi setelah itu."
Inaho menggeleng, kedua telapak tangannya yang sejak tadi memeluk slaine erat akhirnya berpindah ke pipi pucat si pemuda pirang. Menangkup baik-baik wajah indah yang sangat dirindukannya lebih dari 15 tahun itu. Masih indah, sangat indah dengan surai pirang yang tentu saja masih sangat halus sesuai ingatannya. "Tidak apa-apa, aku akan membuat mu mengingatnya lagi. Kita punya banyak waktu"
Slaine tidak menjawab, entah keberanian dari mana akhirnya si surai pirang menggenggam tangan Inaho yang masih menengkup pipinya. Desiran hangat dirasakan dadanya, degupan di dadanya meningkat tapi perasaanya senang. Lebih senang dari saat melihat Asseylum-hime yang selama ini memenuhi fikirannya. Seakan perutnya dipenuhi kupu-kupu yang ricuh berterbangan.
"Aku akan menyerahkan diriku kepada orang-orang itu" Slaine melanjutkan ucapannya. "Mereka menginginkan ku, setidaknya begitu yang kudengar dari penjelasan teman-temanmu dan Sena"
"TIDAK" suara Inaho sedikit meninggi, dia tahu apa yang ada di fikiran Slaine, bahkan meskipun ingatannya hilang sekalipun. Inaho tahu betul apa yang sedang direncanakan oleh Slaine nya saat ini.
"Semuanya akan baik-baik saja. Tolong, ijinkan aku menebus dosaku" Slaine manetap mata Inaho sungguh-sungguh.
Kastil Pendaratan Barouhcruz (Beberapa saat sebelum Slaine dan Sena meninggalkan Kastil)
"Hentikan.. sampai berapa lama lagi kau akan berbuat seperti ini? Lihat, tubuhmu bahkan sudah babak belur.. Semakin kau memaksakan diri, semakin kau menyakiti Slaine-sama" ucap Harklight sambil mengobati Sena yang baru saja mendapat hukuman dari Slaine. "Jika suatu saat ingatannya kembali dan sadar kalau kau adalah anaknya, bayangkan bagaimana perasaan bersalahnya." Imbuh lelaki jangkung berambut hitam itu. Dilihatnya anak berumur lima belas tahun itu, kesadarannya hampir hilang, matanya sudah hampir tertutup. Sakit, badannya sangat amat sakit setelah dihajar habis-habisan oleh orang yang pernah melahirkannya ke dunia ini.
"Jika ada kesempatan, larilah dari sini bersama Slaine-sama. Akan kuulur waktu agar Lemrina-hime tidak cepat menangkap kalian. Kurasa itulah hal terakhir yang bisa kulakukan untuk Slaine-sama dan untukmu" lanjutnya yang dijawab anggukan kecil oleh Sena sebelum akhirnya si anak benar-benar kehilangan kesadarannya, kalah akan rasa sakit disekujur tubuhnya.
Tahun 2035, Moonbase ( Setelah rapat terakhir di Deucalion)
Inaho mengarahkan pistolnya tepat ke pelipis Slaine, hatinya sakit. Terakhir kali dia melakukan itu tujuh belas tahun lalu saat pertempuran terakhirnya dengan Slaine sebelum diumumkan bahwa Bumi dan Mars akhirnya menjadi aliansi. Tidak mudah baginya untuk mengikuti rencana Slaine ini, terlebih rencana ini sangat amat berbahaya untuk keselamatan Slaine. Namun, seperti biasa pria pirang itu keras kepala, sangat.
Tahun 2035 Masehi, Kastil Pendaratan Barouhcruz
Sebuah saluran transmisi, menampilkan video realtime di ruang kendali kastil. Buku buku putih tampak dari tangan Lemrina-Hime yang mengepal. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat jelas. Slaine nya sedang dalam bahaya. Sebuah mulut pistol tengah mencium pelipis pucat Slaine. Di sebelahnya seorang pria dengan surai coklat tertawa sinis.
[Lama tidak bertemu, Lemrina] jeda sesaat sebelum si surai coklat itu kembali berbicara [Ayo luangkan waktu sedikit untuk bernegosiasi]
"Kau kira aku akan masuk ke perangkapmu? Negosiasi? Omong kosong dari makhluk Bumi rendahan!" Lemrina tau saat ini, Inaho sedang memancingnya untuk keluar dari kastilnya. "Aku tahu, kamu tidak akan tega menyakiti Slaine." Tambahnya percaya diri. Namun rasa percaya dirinya langsung hilang begitu video di depannya menampilkan adegan dimana Inaho dengan tampa rasa kasihan menambakkan peluru tepat ke arah paha Slaine. Sebuah pekikan keras meluncur dari bibir Slaine, memekakkan telinga semua orang yang ada di dalam ruang kendali kastil.
"HENTIKAN. BAIK KITA AKAN BERNEGOSIASI!" ucap Lemrina akhirnya dengan suara teriakan. Tanpa sadar dia menangis, masih menyaksikan Slaine di layar sana yang sudah berlutut memegang pahanya yang masih terus mengucurkan darah deras. Sementara itu, Inaho kembali mengarahkan pistolnya tepat di pelipis Slaine sambil tersenyum sinis.
Tahun 2035, Sabuk Asteroid
Bunga api tanpa henti terlihat di pekatnya ruang hampa, serpihan debu debu asteroid berhamburan di ruang hampa udara tersebut. Alarm merah tanda bahaya sejak tadi tidak henti berbunyi diikuti pendar lampu merah di seluruh ruangan Deucalion. Hanya beberapa orang yang tersisa di armada itu. Magberedge terlihat menguatkan genggamannya, melirik Nina sebelum mengeluarkan perintah untuk membelokkan badan kapal beberapa derajat agar bisa terhindar dari tembakan Kastil Pendaratan Barouhcruz yang masih terus memuntahkan peluru berat dan lasernya silih berganti.
Di luar Deucalion sang kapten dapat dengan jelas melihat satu persatu anak buahnya yang menggunakan kataphrak hijau gugur. Begitu pula dengan aldnoah milik musuh. Seperti sedang bermain catur, satu persatu silih berganti, bidak bidak dari kedua belah pihak gugur.
...
Lorong Koridor Kastil Barouhcruz
"Maaf" Sekali lagi Inaho mengatakan permintaan maafnya kepada Slaine yang saat ini sedang berada tepat di sampingnya. Lampu alarm bahaya juga berbunyi dan berkedip-kedip di sini, tidak jauh beda dengan yang terjadi di Deucalion.
"Sudahlah, lihat? Berkat anugerah aldnoah yang ada ditubuhkan, lukanya langsung berhenti. Ingat, rencana kita belum selesai" Slaine mempercepat langkahnya, dia hapal betul seluk beluk koridor ini, mengingat beberapa bulan setelah sadarnya dari koma yang panjang, dia menghabiskan waktu di sini. Tidak beberapa lama, mereka berdua akhirnya sampai ke ruangan pribadi Lemrina. Sebelum pintu terbuka sempurna, Inaho langsung mengarahkan kembali pistolnya ke arah Slaine sesuai rencana si Pirang.
...
Lemrina mengarahkan mulut pistolnya ke arah Inaho yang saat ini sedang terduduk lemas akibat sebuah pukulan yang mendarat di tengkuknya. Seoarang anak buah Lemrina menginjak punggung Inaho, menyebabkan si surai coklat tertelengkup ke lantai besi yang dingin. Sementara itu satu orang lagi anak buah Lemrina memegang Slaine. Tangan si pirang kebas karna dipelintir paksa ke balik tubuhnya oleh anak buah Lemrina yang sedang memegangnya.
"Ayo, ucapkan kata terakhirmu makhluk Bumi rendahan" Lemrina menarik pengaman pistolnya, maju selangkah makin mendekati Inaho.
"Semua yang terjadi bukan salahmu Kou, kamu, aku dan anak kita hanya kebetulan menjadi korban perang konyol ini. Jadi jangan pernah salahkan dirimu di masa depan. I love you" Kalimat panjang Inaho berakhir diikuti dengan suara letusan senjata api yang menggema di ruang pribadi milik Lemrina. Mata Inaho terbelalak saat dilihatnya Slaine justru menjadikan dirinya sebagai perisai saat senjata yang dipegang Lemrina memuntahkan isinya. Sepersekian detik, Slaine bisa membebaskan dirinya dari genggaman anak buah lemrina dan tanpa pikir panjang menerjang tepat di hadapan Inaho saat Lemrina akan menembak Inaho. Membuat justru dirinya yang terkena peluru. Rongga dada sebelah kirinya mengeluarkan darah segar.
Lemrina yang melihat ini semua mendadak panik, terkejut akan perbuatannya sendiri. Wanita berambut pink itu mendadak histeris. Menembakkan kesembarang arah senjata api yang dipegangnya. Anak buahnya yang sejak tadi menindih tubuh Inaho tanpa sengaja terkena tembakan membabi buta Lemrina. Inaho tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Segera dia menghampiri Slaine yang sudah tidak sadarkan diri di depannya.
Lemrina yang masih histeris mengeluarkan sebuah benda kotak kecil dari saku bajunya. Fikirannya sudah tidak lagi berfungsi. Keterkejutannya karna telah menambak Slaine membuat fikirannya semakin kacau. Tanpa aba-aba, wanita itu menekan tombol merah di atas remot kontrol yang dipegangnya. Dari remangnya lampu tanda bahaya, sebuah suara menggema di seluruh kastil. Pemberitahuan bahwa baru saja bom meteor ditembakkan dan sasarannya adalah Bumi. Sebuah penghitung mundur muncul hampir di semua dinding kastil. Menunjukkan waktu sebelum bom meteor tersebut sampai ke Bumi.
Inaho yang masih belum sembuh dari keterkejutannya tidak bisa mangambil tindakan apa apa. Matanya nanar melihat Slaine yang saat ini berada di pelukannya, menutup luka tembakan yang diterima Slaine sembarangan dengan tangannya. Tanpa dia sadari, seorang anak kecil yang sejak tadi mengikuti mereka keluar dari balik tiang kastil. Merebut remot yang dipegang Lemrina setelah memukul tengkuk sang putri. Dengan cepat tangannya mengacak-ngacak sebuah komputer yang berada di ruangan itu.
PIP, sudah hampir sepuluh kali bunyi itu terdengar sejak si anak berambut pirang mengutak atik komputer milik Lemrina. Dengan kesal dia memukul meja kerja Lemrina dengan tangan yang terkepal. "Tidak bisa Yah!, Bom meteornya tidak bisa dibatalkan setelah ditembakkan" tatapan anak kecil itu nyalang melihat waktu yang semakin terhitung mundur di sekeliling mereka. "Satu satunya cara adalah dengan mengubah target tembakannya"
"Moonbase"
"Hah?"
"Ubah targetnya ke moonbase. Saat ini di sana sudah tidak ada orang. Hanya itu satu satunya cara" jawab Inaho masih dengan fikiran kalutnya
Tanpa bertanya lagi, si anak pirang itu akhirnya kembali mengutak atik komputer tersebut dan mengubah target Bom meteor ke arah moonbase. Sepuluh detik kemudian, layar yang tadinya menampilkan perhitungan waktu mundur menampilkan gambar moonbase yang hancur menjadi serpihan kecil setelah terkena serangan bom meteor.
...
Bumi, Kota Shinawara (beberapa minggu setalah Moonbase hancur)
Berita tentang ditangkapnya Lemrina dan para pemberontak masih ramai di seluruh dunia. Kengerian tentang perang masih terbayang di penduduk bumi. Mimpi buruk tentang desingan peluru, ledakan, dan hancurnya kota kota serta banyaknya korban masih sangat amat membekas. Asseylum-hime sebagai pemimpin Mars merasa sangat bersalah tentang apa yang dilakukan oleh Lemrina yang merupakan adiknya serta para bawahan Lemrina. Dengan sangat berat hati, akhirnya dia sendiri yang memutuskan untuk menghukum mati semua yang terlibat dalam menciptakan kembali perang antara Bumi dan Mars.
Keputusannya tidak hanya itu, dengan berbagai pertimbangan. Asseylum mencabut semua anugrah Aldnoah yang telah didapatkan oleh orang-orang Mars untuk menghindari kejadian seperti ini di masa mendatang. Tidak hanya itu, kabar tentang kematian Inaho juga menyebar bersamaan dengan hancurnya moonbase. Entah siapa yang menyebarkan kabar tersebut. Tapi, satu hal yang pasti, kabar itu membuat hampir seluruh penduduk bumi terpukul mengingat Inaho adalah salah satu pahlawan di perang kedua Bumi dan Mars belasan tahun silam.
Decualion
"Kalian tidak harus ke sana kan? Kalian tidak harus menghukum diri kalian sendiri karna perbuatan yang bahkan tidak kalian lakukan" Yuki masih memegang tangan adiknya, berusaha membujuk adik satu-satunya itu.
"Kami sudah mati. Begitu yang ramai di berita. Kami tidak bisa mengambil resiko jika tetap di Bumi. Bagaimana jika ada yang mengenali kami?" Inaho tersenyum kepada kakak satu-satunya itu. Semua awak kapal Deucalion tidak bisa menahan tangis saat Inaho dan keluarga kecilnya akhirnya menuju hanggar dan memasuki ZeThar buatan Inaho. Sena melambaikan tangan kepada Yuki dan teman teman seperjuangan ayahnya.
Sebuah tempat di satelit Mimas Planet Saturnus
Tiga orang itu duduk berhadapan, bersila di atas karpet ruang santai di salah satu ruangan kastil Barouhcruz. Kastil itu belum sepenuhnya selesai diperbaiki, masih ada beberapa bagian yang rusak sisa sisa dari perang yang terjadi beberapa minggu lalu. Sudah setengah jam mereka seperti itu, tidak ada satupun yang berbicara.
"Itu..." Si pirang yang lebih tua akhirnya bersuara. Masih takut takut. "Maaf, bahkan sampai detik ini, aku belum bisa mengingatmu. Maksudku tentang pernikahan kita, tentang anak kita."
Inaho mengusap pipi Slaine, senyumnya mengembang. Senyum yang jarang ditampakkan selama hidupnya. "Aku akan membantumu mengingatku. Mengingat anak kita. Bahkan jika kau tetap tidak mengingatnya, kita akan selalu membuat memori baru di sini. Hanya kita bertiga."
"Terima kasih. Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih selalu tidak pernah lelah untuk menemukanku"
END
Akhir kata saya ucapkan banyak terima kasih, kepada yang selalu setia membaca dan menantikan tulisan ini. Bahkan dighosting hampir tiga tahunpun masih ada yang baca, agak terharu aslinya saya nangis sih. Selamat menikmati, maafkan kalo endingnya seakan dipaksakan. Semoga kita bertemu lagi di karya saya selanjutnya eheeee~~~ MUAAACCCCHHH
