Disclaimer : Naruto [Masashi Kishimoto].Dan Highschool DxD [ Ichie Ishibumi ].

Warning : Gaje, bahasa tdk baku, OC, OOC, Au, Abal, Typo(s), Miss Typo dan lainnya.(Selalu ngikutin)

DON'T LIKE... DON'T READ

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 4

"Terimakasih, Ddraig. Mungkin jika tadi kau tidak menyadarkanku, aku akan lepas kendali" Ucap Issei kepada partner-nya, Ddraig.

Kini kondisi Issei sangat memprihatikan, sekujur tubuh penuh luka sayatan akibat pertarungannya dengan Sasuke, armornya kini tidak membalutnya. Sementara Rias beserta budaknya dalam keadaan pingsan tidak berdaya, Seakan mereka telah dipermainkan oleh sosok lawannya itu.

"Tak masalah partner, itu sudah menjadi tugasku" Ucap sosok naga yang mendiami tubuh Issei.

Terlihat Sasuke tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya, ia masih menunggu Issei untuk melakukan serangan. Kondisi Sasuke sendiri terlihat baik-baik saja, setelah pertarungannya melawan mereka semua.

'Ddraig, apakah aku bisa memasuki Balance Breaker lagi?'

'Tidak bisa partner, tubuhmu tidak akan kuat menanggung beban lagi'

'Sialan, apa yang harus kulakukan!' Issei mulai menggertakan giginya setelah tahu ia tidak bisa berbuat banyak. Lawannya sangat kuat tidak bisa tersentuh, kecepatannya lawannya tidak bisa ditangkap mata, apalagi kekuatan anehnya itu yang tidak bisa ditebak.

Swing

Tiba-tiba sebuah serangan berbentuk cincin bergerigi berwarna putih kebiruan melesat ke arah Sasuke.

Sasuke yang melihat serangan itu hanya mengangkat satu tangannya. Setelah dekat, serangan itu tiba-tiba terserap ke dalam tangan Sasuke secara perlahan.

"Hahaha, akhirnya aku menemukanmu... Setelah apa yang kau perbuat, kau tidak bisa lari begitu saja!" Ucap sosok itu dibaluti armor berwarna putih.

Issei tentu saja tahu siapa itu. Vali, pemegang Longinus Divine Dividing yang bersemayam jiwa Albion sang naga putih, sekaligus rival dari Ddraig yang kini dimiliki Issei.

Issei sama sekali tidak tahu apa maksud kedatangan Vali kesini. Kalau Vali bermaksud ingin bertarung dengannya dalam kondisi seperti ini, itu sangat tidak memungkinkan. Apalagi pertarungan terakhirnya dengan Vali menghasilkan kekalahan telak bagi Issei.

"Mau apa kau kesini, Vali!" Teriak Issei tidak suka akan kehadirannya.

"Ouh Sekiryuutei... Aku tidak lagi tertarik denganmu. Kau masih lemah, sama seperti dulu aku mempecundangimu. Aku kesini hanya ingin bertarung dengan orang yang kau lawan itu" Ucap Vali dengan nada merendahkan.

Issei cuman bisa mengepalkan tangannya, tentu saja ia marah akan perkataan Vali. Tapi setidaknya ia sudah berkembang pesat dari terakhir kali ia bertarung dengan Vali.

"Jangan sombong kau brengsek!!!... Jika saja aku tidak terluka, aku bisa saja menghajarmu saat ini!" Ucap Issei seakan tidak terima, ia memang mengakui kekalahannya, tapi kali ini jika ia bertarung dalam kondisi maksimal akan sedikit berbeda hasilnya.

"Ho ho ho... Aku takut mendengarnya" Tentu saja perkataannya tidak sesuai dengan nada yang dia berikan. Seakan membuang-buang waktu dengan Issei, Vali lalu menatap Sasuke yang hanya berdiam diri.

"Ayo kita bertarung... Kali ini aku tidak akan terjebak lagi dengan ilusi sialan itu"

Sasuke hanya menatap datar Vali, Lalu ia mulai mengaktifkan salah satu jurus matanya.

Deg!!!

Tiba-tiba tempat berubah, tadinya pabrik bekas pertarungan menjadi tempat yang sangat gelap tanpa ujung, juga terdapat dua naga berwarna putih dan merah di tempat itu.

"Ddraig/Albion" Ucap kedua naga itu.

"Apa yang terjadi?" Tanya Albion kebingungan, pasalnya ia bisa bertemu dengan Ddraig secara langsung yang sangat tidak memungkinkan, mengingat jiwa mereka disegel dalam bentuk sacred gear.

"Oh, jadi mereka yang menyuplai kekuatan kalian" Ucap Sasuke yang keberadaannya tidak jauh dari mereka.

Mereka semua sontak melihat Sasuke yang berjalan santai kearah mereka.

"Grrrr... Apa mau mu?" Ucap Ddraig terlihat kesal merasa dipermainkan.

.

.

.

"Gabriel, Aku berangkat dulu" Ucap Naruto pergi berangkat sekolah.

"Hati-hati di jalan, Naruto-kun" Ucap Gabriel seperti biasa.

Gabriel lalu mulai membersihkan semua piring sisa makanan. Menjalani hari bagaimana ibu rumah tangga. Sesekali ia merona sela pekerjaannya, membayangkan bagaimana ia menjadi istri Naruto kelak.

Menjalani hari seperti ini terus, menyambut Naruto pulang, memasakan makanan untuk Naruto, menyiapkan bekal untuknya. Tidak hanya itu, ia juga senang akan perlakuan Naruto terhadapnya, senyum hangatnya bagai matahari, candaan darinya yang berhasil membuatnya tertawa, dan juga tingkah konyolnya itu yang membuat dirinya merasa nyaman. Ia senang bersama Naruto, tanpa memikirkan hal-hal berbau supranatural.

Tok tok tok

Gabriel lalu melangkah ke arah pintu setelah mendengar suara ketukan. Ia merasa aneh, baru kali ini ada orang yang mau mengetuk pintu rumah yang di tempatinya kini. Pasalnya, Naruto sendiri pernah bilang, bahwa ia tidak punya siapapun atau kenalan yang mau ke rumahnya ini, kecuali Akeno yang memang sudah dekat dengan Naruto. Tapi Akeno tidak mungkin, mengingat dia pasti sekolah bersama Naruto.

Pintu dibuka, menampakan seorang pria berambut kuning dengan senyum menghiasi wajahnya, serta baju aneh melekat pada badannya. Gabriel tahu orang itu.

"Gabriel-sama, Saya diminta oleh Michael-sama untuk membawa anda pulang ke surga" Ucap sosok itu.

"Dulio"

.

.

.

Di dalam pegunungan dekat kota Kuoh terdapat seorang pemuda yang tengah tiduran di atas pohon. Pemuda itu terlihat menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya yang tampan.

Pemuda itu mulai membukakan matanya yang terlihat berbeda dari manusia umumnya. Pemuda berambut raven itu mulai merasakan kehadiran seseorang yang tidak jauh darinya.

Sementara terlihat seorang gadis berambut hitam dengan dua ekor sedang mengamati pemuda itu di balik pohon yang tak jauh dari orang yang diamatinya.

"Ara, pemuda itu menghilang nyan~" Ucap gadis itu saat melihat pemuda itu menghilang secara tiba-tiba dalam pandangannya.

"Apa maumu?" Tanya Sasuke tepat di belakang gadis yang tadi memata-matainya.

"Ehhh, ke-kenapa kau bisa di belakangku nyan~?" Ucap gadis itu kaget, lalu mundur beberapa langkah.

"Apa maumu?" Tanya Sasuke lagi sambil maju melangkah untuk memisahkan jarak dari gadis di depannya ini.

"A-aku ingin meminta tolong kepadamu nyan~" Jawab gadis cepat.

"Meminta tolong?" Tanya Sasuke bingung

"Yah, kata Vali-kun kau pemuda yang kuat dan juga baik nyan~" Ucap gadis itu penuh harap.

"Aku tidak seperti itu, jadi menjauhlah" Ucap Sasuke yang mulai pergi berjalan.

"Tidak, walau kau membuat Vali-kun dan Sekiryuutei babak belur, tapi kau tidak membunuhnya nyan~"

Sasuke terus berjalan, ia tidak peduli pada gadis ini, yang ia pedulikan saat ini keberadaan Naruto.

"Aku tahu kau mencari seseorang yang ke kota ini setahun yang lalu nyan~"

Sasuke berhenti berjalan, lalu menghilang dan langsung tiba di depan gadis ini.

"Katakan" Ucap Sasuke memandang tajam.

"Jadi maukah kau menolongku nyan~?"

.

.

.

Kring~ Kring~ Kring~

Bunyi bel tanda pulang sekolah berbunyi, para murid mulai berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah mereka masing-masing, atau melakukan kegiatan lainnya di luar sekolah.

"Mungkin besok aku akan menjenguk Akeno" Ucap Naruto berjalan keluar sekolah.

Naruto mendapati info dari Azazel sensei, bahwa Akeno sedang tidak bisa hadir karena sakit. Saat ditanya Akeno sakit apa, gurunya itu hanya menjawab 'Ouh Naruto, sebaiknya kau menjenguk pacarmu itu' dan itu membuat ia disumpahi oleh semua lelaki di kelas, karena memang mereka yang di kelas atau hampir semua orang di sekolahnya menyukai Akeno.

Ia sendiri juga baru tahu, selama ia berteman bersama Akeno, baru kali ini Akeno bisa sakit. Selama itu juga Akeno terlihat baik-baik saja kelihatannya. Tidak hanya Akeno yang absen, Rias juga Absen dari kelas. Tapi Rias beralasan karena ada urusan keluarga.

Naruto mulai berjalan ke arah tempat ia bekerja, tidak memakan waktu banyak hanya berjalan 10 menit dari sekolahnya. Saat sudah tiba di depan kedai ramen yang lumayan besar, Naruto langsung masuk untuk memulai pekerjaannya.

"Kau sudah datang Naruto-kun" Ucap seseorang gadis berambut hitam.

"Yah, seperti yang kau lihat Raynare" Ucap Naruto tersenyum hangat kepada gadis yang diketahui bernama Raynare.

Setelah bertegur sapa, Naruto langsung mengganti pakaiannya yang sudah disediakan dari pemilik kedai ini. Lalu Naruto mulai melakukan pekerjaannya, seperti mengantarkan makanan kepada pelanggan, mencuci piring yang kotor, bersih-bersih di dapur, tidak hanya itu ia juga kadang memasak ramen untuk pelanggan, tak jarang dari mereka yang hanya ingin dibuatkan ramen olehnya, katanya ramen buatannya terasa sangat enak di lidah. Mendengar itu tentu saja membuat Naruto semangat dalam menjalani pekerjaannya.

Tak terasa waktu menunjukkan hampir tengah malam. Sementara Naruto masih sibuk dengan pekerjaannya yang saat ini sedang mencuci piring bekas makanan.

"Sudah kubilang, kau tidak perlu bekerja terlalu keras, Naruto-kun!" Ucap Raynare melihat Naruto masih sibuk bekerja.

"Aku hanya ingin saja, Raynare" Ucap Naruto kepada anak pemilik kedai ini.

"Biar aku saja, kau langsung pulang" Suruh Raynare yang menatap kasihan Naruto.

"Tidak, ini hampir selesai" Ucap Naruto keras kepala.

"Huft" Raynare hanya bisa menghela nafas melihat Naruto bekerja terlalu keras.

Setelah selesai dengan pekerjaannya, Naruto langsung mulai mengganti pakaiannya yang sebelumnya ia pakai. Mulai berjalan keluar dapur, ia melihat masih ada tiga orang di dalam kedai itu.

"Yo Naruto, kau mau pulang" Ucap seorang pria berambut hitam berusia 35 tahunan.

"Iya paman Dohnaseek, aku baru mau pulang" Jawab Naruto tersenyum hangat kepada mereka.

"Kalau begitu hati-hati, Naruto-kun" Ucap seorang wanita berambut biru.

"Arigatou bibi Kalawarna... Kalau begitu sampai jumpa" Pamit Naruto lalu keluar dari kedai itu.

Naruto POV

Aku berjalan di tengah malam, suasana sepi menyelimuti hati dengan cahaya bulan ikut menghiasi. Aku melihat bangku taman itu, teringat pertama kali bertemu dengan Gabriel. Melihat kenangan itu, aku mulai tersenyum.

Aku terus berjalan menuju rumah yang memakan waktu 20 menit. Di jalan tidak ada orang-orang yang berlalu lalang yang memang ini sudah waktunya jam malam, di mana hampir semua orang tertidur dengan pulasnya mengistirahatkan tubuh mereka untuk berkerja atau bersekolah besok.

Aku sudah tiba di depan rumah, lalu membuka pintu dengan kunci cadangan yang aku punya. Lalu masuk tanpa salam, karena menurutku Gabriel pastinya sudah tidur di dalam kamar.

Akan tetapi aku melihatnya tertidur dengan kepala bersandar di atas meja, tertidur dengan pulasnya. Gabriel, ia menunggu kepulanganku. Hatiku langsung tersentuh saat ia dengan sabarnya menungguku.

Aku melihat seporsi makanan yang sudah disiapkan untukku. Aku merasa bersalah kepadanya. Seharusnya aku pulang lebih awal agar ia tidak menungguku seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus bekerja sedikit melembur dari biasanya untuk kebutuhan sehari-hari.

Jangan tanyakan tabunganku, tabunganku habis untuk membeli pakaian gadis yang terlelap di depanku. Bukan berarti kehadirannya merepotkanku, aku malah bersyukur akan kehadirannya. Karena kehadirannya membuat hatiku terisi setelah sekian lama aku sendiri.

Aku mendekat ke arahnya, mulai mengangkat tubuh yang lebih kecil dariku, berniat membawanya ke kamar. Sembari berjalan, aku melihat Gabriel mencari posisi nyaman dalam gendonganku. Ia mulai bergumam tak jelas. Aku tersenyum melihat itu.

Setelah sampai di dalam kamar, aku mulai menurunkannya perlahan tepat di atas kasur. Aku mulai melihat wajah terlelap itu, wajah yang terbuai akan sebuah mimpi, wajah yang sangat cantik dengan bulu mata yang lentik, dan pipi yang terlihat sangat manis untuk dikecup.

'Sialan, apa yang aku pikirkan'.

Seakan-akan aku tidak ingin berpikir yang terlalu jauh. Aku mulai berjalan keluar kamar, akan tetapi entah nafsu dari mana. Aku mulai berbalik, melangkah ke arah Gabriel. Aku mulai mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku berhenti, sempat ragu untuk melakukannya. Jantungku terpompa lebih cepat dari biasanya. Kemudian...

Cup

Aku berhasil mendaratkan satu ciuman di pipinya. Aku tidak berani melakukan hal lebih, hanya kecupan di pipi yang manis itu.

Aku langsung keluar setelah melakukan hal memalukan tadi. Mulai berjalan ke arah meja makan. Setelah duduk, aku mulai memakan makanan yang sudah dingin itu, walau dingin ini tetap terasa enak di lidah. Masakan yang dibuat Gabriel memang selalu enak. Mungkin kelak, ia akan menjadi istri yang hebat.

Menurutku sendiri, Gabriel adalah gadis yang sangat cantik, dengan sifat yang lemah lembut, penyabar serta penyayang, pandai memasak, segala kategori perempuan yang sempurna ada padanya. Aku yakin yang menjadi suaminya kelak akan sangat bahagia memilikinya.

Tapi, selama beberapa hari ini aku merasakan sesuatu di hatiku, gejolak perasaan yang membuncah yang ingin keluar, perasaan saat aku dekat dengan Gabriel. Aku tidak mengerti perasaan ini, tapi aku tahu satu hal bahwa diriku ingin memilikinya, seorang.

"Naruto-kun, sejak kapan pulang?"

Aku menoleh ke asal suara. Melihat Gabriel dibibir pintu dengan tangan yang mengucek kedua matanya. Sesekali dia menguap, menutupi mulutnya menggunakan punggung tangan kirinya. Ia terlihat manis.

"Aku baru tiba Gabriel... Apakah aku membangunkanmu?"

Gabriel hanya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaanku. Ia lalu menghampiriku, duduk di kursi di depanku, menatapku dengan senyum, seolah senang makanan yang ia buat dimakan olehku.

"Maaf... Aku tidak sempat menghangatkan makanannya"

Aku langsung menatap wajahnya yang kini merasa bersalah. Seharusnya aku yang meminta maaf kepadanya, karena ia mau merepotkan dirinya untuk membuat makanan ini, sekaligus menunggu kepulanganku sampai ia sendiri ketiduran.

"Tidak... Seharusnya aku berterima kasih kepadamu, Gabriel. Kau sudah membuatkanku makanan, aku sudah bersyukur" Ucapku tulus kepadanya.

Dia tersenyum manis kepadaku, dengan pipi yang memerah. Aku memalingkan muka malu, karena langsung teringat akan kejadian tadi. Kejadian dimana aku mengambil kesempatan. Seharusnya aku tidak melakukan itu.

"Naruto-kun, biar aku saja yang membereskan semuanya" Ucapnya setelah melihat aku selesai makan.

Tentu saja aku menolak setelah kebaikan yang ia buat.

"Aku saja, Gabriel. Kau langsung tidur saja"

"..."

Dia tidak menjawab, hanya duduk sambil melihatku. Aku membawa piring itu ke arah wastafel, lalu mencucinya. Suasana hening seketika sebelum Gabriel mendekat ke arah tempat ku berada.

Aku merasakan sepasang tangan melingkar di badanku, saat menoleh ku lihat itu Gabriel, yang entah kenapa tiba-tiba memeluk ku seperti ini.

"Naruto-kun, apakah kau mau berjanji ?"

Aku bingung maksud dari perkataannya, tapi aku merasakan nada sedih dalam ucapannya.

"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku"

Perkataan itu mirip seperti permohonan yang terdengar rapuh. Aku tidak tahu apa yang dialami Gabriel, akan tetapi aku langsung tahu bahwa gadis ini membutuhkan seseorang untuk bersamanya.

Aku mulai melepaskan tangan Gabriel perlahan. Berbalik menghadapnya, aku pegang kedua bahunya dan aku tatap langsung matanya yang penuh harap.

"Aku berjanji, Gabriel"

Dia meragukan perkataan ku dengan tatapan seakan belum puas akan jawabanku.

"Aku janji... Bahkan jika dunia menjauhimu, aku akan selalu ada untukmu, selalu" Ucapku dengan penuh keyakinan.

Gabriel langsung memelukku erat, seakan tidak mau lepas dariku. Menyalurkan segala semua rasa dalam pelukan. Aku membalas pelukannya dan mengusap surai pirang indahnya dengan lembut, penuh kasih sayang.

Tentu, janji yang aku ucapkan bukan sekedar omong kosong, karena itu janjiku seumur hidup, dan aku tidak akan menarik perkataanku sendiri.

Entah kenapa tiba-tiba aku melihat ada serpihan ingatan masuk ke dalam kepalaku. Tapi, aku tidak terlalu memikirkannya. Saat ini, aku peduli pada gadis manis ini, setelah semua yang dilakukannya kepadaku. Aku janji itu, karena tidak bisa dipungkiri bahwa aku menyukai Gabriel.

Selang beberapa menit dalam pelukan. Aku mendengar suara dengkuran halus dari gadis yang kupeluk ini. Aku tersenyum lembut, lalu menatap atap rumah. Menerawang akan apa yang terjadi selanjutnya.

Naruto POV End

.

.

.

Underworld

Di dalam suatu ruangan yang sangat megah, terdapat beberapa orang yang sedang mendengarkan penjelasan dari seorang gadis berambut merah.

"Jadi begitu ceritanya onii-sama" Ucap Rias kepada kakaknya.

"Hmm... Menurut ceritamu, pemuda itu bisa menanamkan ilusi lewat matanya dan cara bertarungnya tidak bisa ditebak" Ucap Sirzerch yang mendengarkan kronologi pertarungan Rias beserta peeragenya.

"Yah, saat ini keadaan Akeno terutama Koneko kondisi mental mereka dalam keadaan tidak baik, berbeda dengan Kiba yang bisa sembuh hanya dengan air mata Phoenix" Ucap Rias menjelaskan kondisi peerage mereka.

"Dan kenapa Sekiryuutei sepertimu bisa kalah Issei-kun" Tanya Serafall kakak dari Sona Sitri.

"Maafkan aku, aku saat itu juga hampir lepas kendali saat orang itu menanamkan ilusi kepadaku" Ucap Issei tertunduk merasa bersalah.

Melihat Issei tertunduk Asia yang sedari tadi di sampingnya, mulai menggenggam tangan Issei. Issei yang melihat tangannya digenggam mulai tersenyum ke arah Asia, lalu ia mulai bercerita kembali.

"Saat aku bertarung dengannya berdua, saat itu juga Vali pemegang Longinus Divine Dividing ikut serta dalam pertarungan itu" Ucap Issei menjelaskan kehadiran Vali.

"Lalu bagaimana kelanjutannya Issei-kun?" Tanya Ajuka penasaran.

"Awalnya aku dan Vali dibawa olehnya ke dunia yang entah di mana itu, saat itu kami bertemu langsung dengan Ddraig dan Albion untuk pertama kalinya"

"Apa?, bagaimana bisa?... Seharusnya mereka berdua tidak bisa bertemu lagi setelah jiwa mereka tersegel di dalam Sacred Gear" Ucap Sirzechs keheranan.

"Maaf Lucifer-sama, tapi kejadiannya memang seperti itu... Setelah itu kami terbebas dalam dunia itu dan kembali ke tempat semula, lalu Vali mulai bertarung dengan pemuda itu sendirian dan berakhir dengan kekalahannya"

"Setelah itu apalagi Issei-kun?" Tanya Sirzechs penasaran akan kelanjutannya.

"Lalu Vali mulai mengajakku bekerja sama untuk mengalahkan pemuda itu, awalnya aku menolak tapi mengingat keadaan teman-temanku aku langsung menyetujuinya, ia memberikanku air mata Phoenix supaya aku bisa bertarung dalam keadaan maksimal, tak lupa ia juga meminum air mata itu. Lalu kami bertarung dengan brutal di sana yang memang sudah dipasang kekai di tempat itu"

"Lalu apa yang terjadi" Tanya Ajuka semakin penasaran, karena untuk pertama kalinya mereka berdua bisa bekerja sama dalam sejarah.

"Kami kalah"

"Apa!?" Hampir semua orang berteriak di sana, tak terkecuali Rias yang memang baru mendengarnya.

"Yah kami kalah, pemuda itu menciptakan sosok tengu raksasa setengah badan dan juga menciptakan seekor naga yang besar terbuat dari petir" Jelas Issei

Hampir semua orang terkaget di sana, pasalnya manusia mana yang punya kemampuan gila seperti itu, apalagi manusia itu melawan dua pengguna Longinus, yang mana itu hampir mustahil untuk dilawan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Yo, saya bingung apa yang harus dikatakan di chapter ini hehehe.

Intinya, sesuai apa yang saya bilang sebelumnya bahwa di chapter ini, saya buat Naruto dan Gabriel dalam masa pendekatan dulu, yah untuk mendalami atau menjiwai perasaan satu sama lain :v, sehingga... itu rahasia wkwkwk. Dan di chapter berikutnya juga.

Di sini juga saya sendiri membuat para malaikat jatuh menjadi baik, karena bagaimanapun sejahat-jahatnya malaikat jatuh tetap mereka punya sisi yang baik.

Kalau ada yang nanya kenapa pertarungannya tidak ditampilkan, karena untuk nanti Sasuke akan melawan beberapa orang yang kuat, lawannya tentu saja rahasia.

Sasuke juga di sini juga bertemu Kuroka untuk kelanjutannya saya sendiri tidak ingin membocorkannya.

2 atau 4 Chapter berikutnya kira-kira ada sebuah kejutan.

Dan Chapter sesudah ini akan sedikit menarik untuk Naruto dan Akeno.

Kalau ada yang nanya pasangan Naruto, itu rahasia. Kemungkinan kalian tidak menduganya wkwkwkwk

Untuk kalian yang membuat cerita, jangan dengerin kata mereka, teruslah berkarya, sejelak apapun dan sebagus apapun karya karya kalian. Tetap semangat dalam berkarya.

Soal Fic New Document dalam masa pengerjaan, soalnya itu last chapter.

Juga Fic POM dan I Know It's Worth akan saya Remake menjadi satu dengan judul masih sama Power Of Magic, agar berbeda dengan fic lain yang sering kalian baca. Jangan marah yah, soalnya fic 2 yang seperti itu udah banyak yang buat. Saya sendiri hanya ingin berbeda dari yang lain.

Untuk kalian yang review terima kasih banyak, dan juga yang sekedar Lanjut itu juga sangat membantu untuk saya, serius itu membantu.

Segitu dulu, karena tidak mau spoiler dari awal. Jangan lupa review.

Sekian terima kasih

~Salam Pengangguran Tanpa Jasa~