Author Note : Bagi pembaca lama, disarankan untuk baca ulang cerita nya lagi yaa, soalnya aku merevisi dan mengubah beberapa bagian.
Enjoy! :D
"Azura! Naruto!" Suara yang cukup tidak asing memanggil, membuatku berkedip dan memperhatikan orang-orang di sekitar secara teliti, gedung menara Hokage sangat sibuk dengan shinobi-shinobi yang berlalu lalang, aku juga bisa merasakan chakra yang cukup kuat dimana-mana, membuatku sedikit pusing dan lama mencari darimana asal sumber suara itu.
"Ah, Kiba," Gumamku ketika tatapanku mendarat pada si Inuzuka dan Akamaru, dia juga ditemani oleh tim nya yang berjalan mendekat ke arah kami.
"Yo Kiba!" Naruto menyengir dan melambaikan tangannya.
Kiba adalah salah satu anggota 'grup bolos belajar' saat kami masih berada di akademi. Sama seperti Shikamaru dan Chouji, kami cukup akrab karena sama-sama menjalankan hukuman dari Iruka-sensei.
"Sudah lama tak berjumpa." Tambahku setelah jeda yang mungkin terlalu lama. "Hai Akamaru, hai juga Aburame-san, Hyuuga-san."
Kiba menyengir, memperlihatkan taring-taring tajamnya. Akamaru membalas sapaanku dengan gonggongan nya.
Aburame Shino mengangguk ke arahku, sedangkan Hyuuga Hinata sedikit tersentak saat aku menyapanya, tetapi dengan cepat dia menganggukan kepalanya. Wajahnya memerah malu.
"Kalian tampak lelah sekali." Kiba terkekeh melihat ekspresi lelah kami.
"Kami sehabis menjalankan misi D-rank, lalu Kakashi-sensei membawa kami lagi untuk misi D-rank berikutnya." Naruto begumam kesal, menghentakan kakinya, sedetik kemudian dia memberikan sengiran dan tos kepada Kiba.
Dasar anak bipolar.
"Bagaimana kabarmu?" Aku bertanya menoleh kepada Kiba, saat tim kita berjalan menuju ruang misi bersama. Kurenai dan Kakashi-sensei juga mengobrol berdua di belakang mereka.
"Oke-oke saja." Kiba mengangkat bahu, membiarkan Naruto mengelus kepala Akamaru yang berada di bahunya. "Kami sudah menjalankan beberapa misi D-rank, tapi kebanyakan latihan sih."
Huh.
"Kami hanya menjalankan misi bodoh D-rank!" Jawab Naruto dengan cemberut, melempar tatapan masam ke Kakashi-sensei yang sibuk mendengarkan pembicaraan Kurenai, sepertinya dia mendengarkan kata-kata Naruto tapi ia mengabaikannya.
"Hah, kalian tidak ada pelatihan?" Tanya Kiba sedikit terkejut, memandang Sasuke yang melipat tangannya di dada, hanya diam dengan muka kesalnya.
Naruto membuka mulutnya untuk membalas tetapi dipotong oleh Kurenai. "Baik Tim 8, ayo ikuti aku."
Kurenai berjalan menuju salah satu meja pembagian misi. Tim 8 mengikuti nya dari belakang, Kiba tidak lupa melambaikan tangannya kepada kami. Aku hanya mengangguk.
"Sampai jumpa!" Sahut Naruto. Lalu menoleh kepadaku dan berbisik. "Ne ne Zura-chan, kenapa Sensei tidak memberikan kita latihan?"
Aku hanya mengangkat bahu, tidak tahu sebenarnya apa yang dipikirkan Kakashi-sensei. Aku tahu dia malas mengajarkan kami, tapi sepertinya bukan hanya itu saja alasannya.
Kakashi-sensei berjalan dengan postur tubuh malasnya menuju salah satu meja pembagian misi, kami mengikuti nya tanpa berbicara banyak.
Aku menatap meja pembagian misi, melihat beberapa shinobi yang bertugas dibalik meja terlihat lelah dan tampak stres. Mereka adalah salah satu kelompok shinobi yang overworked.
Tidak seperti yang ditayangkan oleh Anime, Hokage tidak memberikan misi-misi secara pribadi dengan terus-menerus kapada ninja-ninja nya. Di gedung menara Hokage terdapat ruangan pembagian misi-misi yang dikelola oleh para shinobi yang terpilih oleh Hokage. Kebanyakan shinobi-shinobi tersebut adalah chuunin-chuunin yang terpilih atau jounin-jounin yang terluka berat, tidak bisa menjalankan misi.
Hokage memang memberikan misi secara pribadi, tapi hanya terbatas pada misi-misi yang penting dan harus didiskusikan secara tatap muka. Hokage juga memberikan misi pertama tim-tim genin dibawah naungan jounin-sensei, untuk menilai dan melihat secara langsung ninja-ninja baru yang akan bekerja untuknya.
Aku melihat Kakashi-sensei mengetuk meja pembagian misi di depan kami.
"Misi D-rank untuk Tim 7, jounin Hatake Kakashi." Kakashi-sensei meminta dengan datar kepada shinobi yang duduk di belakang meja.
"Huh, oke. Tunggu sebentar." Gumam shinobi tersebut tanpa menoleh kepada kami, dengan cepat dia memeriksa scroll-scroll misi yang tersusun dengan teratur di mejanya.
Setelah beberapa detik, dia mengambil salah satu scroll, mencatat secara singkat misi yang kami dapatkan beserta nama dan nomor identitas ninja kami ke dalam buku besarnya, lalu melemparkan scroll misi tersebut ke arah Kakashi-sensei, yang menangkapnya dengan mudah dan mengangguk singkat. Kakashi-sensei berbalik dan menggiring kami menjauh dari meja dan ruangan pembagian misi.
"Jadi misi seperti apa yang kita dapatkan, Sensei?" Aku bertanya dengan suara pelan begitu kita meninggalkan gedung menara hokage dan mengikuti Kakashi-sensei menuju ke arah menuju rumah sakit.
"Ugh jangan bilang kita dapat misi untuk rumah sakit lagi!" Naruto mengeluarkan suara gerangan, menarik rambut pirangnya.
"Tch." Aku juga mendengar Sasuke mendengus pelan.
Kakashi-sensei tersenyum dengan tipikal senyuman mata nya yang melengkung. "Maa... rumah sakit membutuhkan bantuan kita untuk hal-hal yang ringan, tidak berat kok."
Yeay. Misi menjadi pembantu staff rumah sakit lagi.
Naruto mengeluarkan rengekan tidak sukanya, bahkan Sasuke tampak semakin geram, sementara aku menghela nafas dalam hati. Sudah sekitar 5-7 misi yang kami dapatkan untuk membantu rumah sakit. Dimulai dari membuang sampah-sampah, menyapu, mengepel, menyuci. Bahkan Kakashi-sensei yang biasanya hanya bersantai dan membaca novel icha-icha nya saat kami menjalankan misi, dia sering diminta untuk mengantarkan pasien atau menjemput para petugas medis ke ruang-ruangan tertentu dengan shunshin nya. Walaupun itu sebenarnya adalah salah satu bagian tugas ANBU yang sedang bertugas di rumah sakit. Tempat itu sangat sibuk, karena itu Kakashi-sensei juga ikut berpatisipasi.
Ketika kami sampai di rumah sakit, salah satu suster yang bertugas menemui kami di depan pintu. Dia langsung memberikan kain pel ke tangan Sasuke, memberikan Naruto beberapa kantong sampah, serokan sampah, berserta sapu, dan dia memberikan ku sabun deterjen, sakantong pakaian-pakaian dan seprai yang kotor.
Naruto menyengir saat menerima sekitar 10-12 kantong sampah, 7 serokan sampah, beserta 10 sapu. Lalu dengan mudahnya mengaktifkan jurus bayangannya, membuat lima belas clones.
Kami sangat beruntung mendapatkan Naruto di tim kami, jurus bayangannya sangat membantu. Bahkan Kakashi-sensei tidak mengatakan apa-apa soal menyalahgunakan clones untuk misi D-rank. Biasanya dia melarang Naruto menggunakan lebih dari tiga clones saat misi D-rank yang lain.
Rumah sakit adalah gedung yang sangat besar dan Kakashi-sensei sendiri tidak menyukai rumah sakit. Karena itu dia hanya diam saja saat Naruto menggunakan jurus bayangannya.
Bahkan staff-staff rumah sakit cukup puas dengan tim kami, menjalankan misi dengan cepat, dengan cheat menyalahgunakan clones.
Naruto memberikanku dua clones nya untuk membantuku dalam tugas laundry.
Kami memulai pekerjaan kami, aku berharap di dalam hati agar Sasuke dan Naruto melakukan pekerjaan mereka dengan fokus tanpa beradu buku tangan.
Heh, semoga Kakashi-sensei melerai mereka jika hal itu terjadi.
Setelah dua jam menyuci pakaian-pakaian dan seprai kotor, aku bersama dua clones Naruto berjalan menuju atap rumah sakit.
Kami membawa keranjang cucian kami untuk menjemurnya di tali jemuran, dan juga tidak lupa untuk menjepitnya agar tidak berterbangan.
Aku bersyukur tidak mendengar adanya perkelahian diantara Sasuke dan Naruto, yang biasanya membuat keributan dimana-mana.
Setelah selesai aku mengangguk berterima kasih kepada dua clones Naruto, mereka memberikan sengiran khas Naruto, lalu menghilang.
Aku menghela nafasku, beristirahat dan berbaring di lantai atap rumah sakit. Seprai-seprai yang kujemur menghalangiku dari sinar matahari. Aku menutup mata dan merasakan angin sepoi-sepoi berhembus ke arahku.
Beberapa menit kemudian, aku bisa merasakan chakra nya Kakashi-sensei menuju ke arahku. Tanpa membuka mata dan tidak merubah posisi, aku menyapanya dengan malas. "Yo Sensei."
Aku bisa mendengar Kakashi-sensei bersenandung dan tanpa membuka mata aku tahu Kakashi-sensei sedang membaca novel icha-icha nya.
"Kamu tidak banyak bicara hari ini." Kakashi-sensei berkomentar.
Aku membuka mataku untuk meliriknya. Dia sedang duduk di salah satu keranjang pakaian yang telah terbalik, entah bagaimana keranjang itu tidak hancur oleh berat badannya, aku tidak tahu.
Aku mendengus kepadanya dan membalas. "Aku tidak sependiam si emo di tim kita. Lagian tidak banyak yang bisa dibicarakan, Naruto dan Uchiha-san sedang sibuk dengan tugas mereka, dan aku mengurus cucian yang berarti teman mengobrol ku adalah burung-burung yang lewat."
Sedetik kemudian terdengar suara burung yang terbang melewati atap rumah sakit, seolah-olah mereka mengerti apa yang aku katakan. Dan untungnya mereka tidak mengeluarkan kotoran mereka tepat dimana cucian ku berada.
Kakashi-sensei mengangkat tangannya, "hei hei, jangan bersikap agresif, aku hanya bertanya."
Aku menghela nafas, memposisikan tubuhku untuk duduk di depannya. "Sensei... kamu tidak mau melatih kita ya?"
Kakashi-sensei berkedip, dia memberikan ku senyuman mata melengkung tipikalnya. Aku menyipitkan mataku, tidak mempercayai ekspresi itu sepersen pun.
"Seseorang memberi tahuku bahwa kamu itu orang yang cukup tajam dan observan Azura," dia masih memberikan ku senyuman tipikalnya itu, dan kembali membaca icha-icha yang berada di tangannya.
Aku mengerutkan keningku lalu membuka mulutku untuk membalas. "Sensei, walaupun kamu menilaiku atau mendengarkan dari seseorang bahwa aku adalah orang yang cukup tajam dan observan, bukan berarti aku bisa membaca pikiranmu."
Aku tahu dia malas, ditambah lagi tidak mempunyai pengalaman dan cukup canggung untuk mengajarkan anak-anak genin, tetapi aku tidak ingin menunggu dia mulai melatih kami pada saat misi melawan Zabuza seperti di Anime.
Lagian itu adalah tugasnya sebagai guru di tim kami, mengajarkan dan menuntun kami untuk menjadi ninja yang berguna. Bukan hanya menemani dan memperhatikan kami untuk menjalankan misi D-rank saja.
"Jika kamu masih membutuhkan kerjasama diantara kami, kamu benar-benar konyol Sensei." Aku berkata dengan terus terang.
"Hmm..." Kakashi-sensei menghela nafasnya dan menutup novelnya. "Tapi apakah kalian telah memperlihatkan kerjasama kalian? Bukan hanya kamu dan Naruto saja. Sasuke juga berada di tim kalian."
Aku menarik ikatan rambutku dengan frustasi. "Tapi dia itu-"
"Walaupun kamu menyembunyikan perasaanmu dengan baik, tapi aku tahu kamu tidak menyukainya, Azura." Potong Kakashi-sensei, aku hanya mendengus.
"Berikan dia kesempatan seperti apa yang kamu berikan kepada Naruto." Dia mengacak rambutku. "Dan temui aku dalam tiga menit di depan rumah sakit," lalu dia menghilang dengan shunshin sebelum aku bisa memprotes bahwa Naruto dan Sasuke itu sangat berbeda.
Aku menghela nafasku, membawa keranjang-keranjang yang kosong bersamaku dan meninggalkan atap rumah sakit.
Kami bertemu kembali di depan rumah sakit setelah selesai mengerjakan misi kami. Kakashi-sensei mengiring kami menuju gedung menara Hokage untuk melaporkan bahwa misi kami telah selesai dan mangambil pembayaran kami. Aku hanya mengikuti dengan diam, memikirkan apa yang dikatakan oleh Kakashi-sensei.
Tentu saja Sasuke dan Naruto itu sangat berbeda, mengapa aku harus memberikan kesempatan yang sama kepada Sasuke seperti yang aku berikan kepada Naruto?
Sasuke itu adalah seseorang yang akan menghancurkan tim tujuh dengan ambisi dan balas dendamnya, menghancurkan tim tujuh dengan pengkhianatannya, dan dia adalah seseorang yang akan membuat sahabatku, Naruto, sedih dan mengejar bayang-bayangannya bertahun-tahun.
Tentu saja dia sangat berbeda dengan Naruto.
Tapi apakah itu benar? Bisik suara kecil di pikiranku. Aku mengerutkan keningku, menerima hasil pembayaran kami dari Kakashi-sensei dengan otomatis.
Sasuke hanyalah seorang anak kecil yang keluarga nya dibunuh oleh kakaknya sendiri, orang yang dikagumi nya semenjak dari kecil. Dia tidak mengerti mengapa kakak yang sangat ia kagumi membantai seluruh klannya, dan Itachi sendiri memanipulasi Sasuke agar dia menjadi kuat dan memburu Itachi.
Aku menatap Sasuke yang juga menerima uang dari hasil misi kami. Aku bisa melihat muka wajahnya yang datar tapi tidak bisa menghilangkan betapa lelahnya dia menjalankan beberapa misi D-rank seperti aku dan Naruto.
Dia itu hanyalah seorang anak kecil yang keluarganya dibantai kakaknya sendiri.
Dia itu bukan karakter anime yang kamu tonton, seperti Naruto, dia itu adalah manusia yang hidup di dunia ini. Bisik suara kecil di kepalaku.
Aku menghela nafasku dengan tenang.
Oke.Sepertinya gaji ku kali ini akan ku habiskan untuk makanan. Walaupun bukan untukku.
"Naruto, Uchiha-san ayo ke restoran BBQ, aku yang traktir." Kataku dengan senyuman kecil, Naruto bersorak gembira. Sasuke ingin memprotes tetapi aku menarik lengannya bersamaan dengan Naruto. Tidak mengacuhkan protesannya.
"Ayo Kakashi-sensei!" Aku bersorak kepada Kakashi-sensei yang masih berdiri di belakang, dia sepertinya cukup terkejut, aku bisa melihat senyuman nya dengan sekilas, bukan senyuman menjengkelkan nya seperti biasa, lalu dia mengikuti kami dengan santai dari belakang.
"Uzukiro-!"
"Hei kita ini satu tim, panggil aku Azura saja. Aku akan memanggil mu Sasuke ya."
"Benar itu teme! Zura-chan bahkan berbaik hati mentraktir kita, jangan protes!"
Dua hari setelah aku menghabiskan hampir seluruh gajiku dan mentraktir mereka di restoran BBQ (Naruto dan Kakashi-sensei tidak segan-segan memesan banyak makanan), akhirnya Kakashi-sensei memberikan kami pelatihan.
Selama dua hari tersebut kami masih menjalankan misi D-rank kami seperti biasa, tapi dengan situasi yang tidak tegang dan canggung, walaupun Naruto dan Sasuke sudah sering berinteraksi satu sama lain, aku kali ini juga mengajak Sasuke sesekali berbicara denganku, walaupun jawabannya selalu singkat.
Dan Sasuke tampaknya tidak terlalu tegang akhir-akhir ini.
Kakashi-sensei tidak segan-segan memberikan kami berbagai macam latihan sehingga kami pulang dengan kondisi yang sangat lelah dan dengan tubuh yang pegal dimana-mana. Dimulai dengan sparring satu sama lain, lalu Kakashi-sensei menyuruh kita berlari, dan berbagai macam workout seperti push-up, sit-up, dan lain-lain untuk melatih tubuh kami dan stamina kami agar lebih kuat.
Aku tidak tahu dan tidak bisa memilih diantara Kakashi-sensei adalah guru yang sadis atau tidak tahu batas bagaimana pelatihan untuk tim genin. Hide bahkan menertawai ku dan memberi tahuku bahwa mungkin Kakashi-sensei memberikan kami latihan seperti latihan dasar untuk rekrutan ANBU baru.
Faktanya adalah bahwa Kakashi-sensei itu guru yang cukup disiplin, walaupun dia terlambat selama satu sampai dua jam sebelum latihan.
Aku bahkan tidak bisa memprotes banyak, justru aku lebih berterima kasih, karena dia benar-benar melatih kami menjadi ninja yang kuat. Aku juga bisa melihat Naruto dan Sasuke yang puas dengan pelatihan yang diberikan Kakashi-sensei.
Sesekali Kakashi-sensei memberikan kami misi D-rank setelah berlatih, dia tidak peduli dengan tubuh kami yang lelah. Dia tidak segan-segan mengiring kami menuju ruangan pembagian misi dan tidak mengacuhkan beberapa shinobi yang menatap tim kami dengan heran dan rasa kasihan.
"Ayo beridiri. Sekarang kita akan melakukan pelatihan bagaimana mengontrol chakra. Latihan pertama yaitu berjalan di pohon," kata Kakashi-sensei, kami bertiga berusaha bangkit dari tanah dengan berbagai macam protes.
"Maa... ayo semangat genin-genin imutku." Ciut Kakashi-sensei, aku bisa melihat senyuman konyol tipikal nya
"Aku sudah bisa berjalan di pohon, Sensei." Kataku dengan letih, berjalan ke pohon untuk mendemonstrasikan latihan yang sudah diberikan Hide. Aku mempersiapkan chakra di kaki ku lalu berjalan di pohon dengan santai. Setelah mendarat di atas aku melambaikan tangan dengan malas ke bawah, dan kembali berjalan ke bawah dengan santai.
"Bagus Azura." Kakashi-sensei mengacak rambutku sebelum aku bisa menjauh darinya. Ugh. Rambutku semakin tidak rapi. "Bagaimana dengan kalian, Naruto, Sasuke?"
Aku berusaha merapikan rambutku lalu berkedip saat Naruto dan Sasuke menatapku. Kemudian menatap satu sama lain, lalu berlari ke pohon.
"Lihat saja aku akan sampai di atas duluan, teme!"
"Itu sangat mustahil, dobe."
Aku hanya mengeluarkan nafasku dengan letih, menatap Naruto dan Sasuke yang kini berusaha untuk berjalan di pohon. Entah darimana stamina mereka datang secara tiba-tiba.
"Bagaimana dengan berjalan di air, Azura?" Tanya Kakashi-sensei yang menggapaikan tangannya untuk mengacak rambutku lagi, tetapi kali ini aku berhasil menjauhkan kepala ku dari jangkauannya.
"Aku belum bisa yang itu." Jawabku. "Dan bukankah kita membutuhkan air untuk berjalan di air?" Tanyaku, merentangkan kakiku ke tanah, membungkukkan badanku ke depan lalu berdiri kembali, melihat Kakashi-sensei yang memperhatikanku dengan geli.
Aku mengangkat alis mata kananku.
"Kesadaran situational mu dimana, Azura?" Tanya nya dengan nada geli, menggelengkan kepalanya.
Aku mengerutkan keningku, bingung, tetapi mengikuti Kakashi-sensei tanpa protes, berjalan melalui semak-semak dan pohon kecil di sisi kanan lapangan latihan. Lalu aku tertawa.
"Ups?" Kataku setelah selesai tertawa. Tersenyum lebar ke arah Kakashi-sensei.
Ternyata ada sebuah kolam air yang berbentuk bulat.
Kakashi-sensei hanya mendengus geli. "Berjalan di air," katanya, melangkah ke arah permukaan air, yang seolah-olah itu adalah zat yang padat, dengan mudahnya dia berjalan ke kolam dengan tenang. "Tidak sama seperti berjalan di atas pohon."
Aku duduk di rumput di tepi kolam untuk mendengarkan.
"Air mungkin terlihat diam di permukaan, tetapi sebenarnya air bergerak, tidak seperti pohon, gerakan air harus bisa kamu sesuaikan dengan chakra mu," Kakashi-sensei berhenti sejenak lalu melanjutkan. "Akan lebih sulit berjalan di atas air yang bergerak dengan cepat, seperti laut atau sungai. Tetapi kolam ini adalah tempat yang baik untuk memulai pelatihan berjalan di atas air."
Aku mengangguk mengerti kepada Kakashi-sensei.
"Apakah kolam ini buatan manusia, Sensei?" Aku bertanya dengan penasaran.
Kakashi-sensei mengangguk. "Ya, ada banyak kolam seperti ini di seluruh lapangan latihan Konoha."
Aku menyadari bahwa kolam-kolam ini dibuat untuk beberapa alasan. Tidak hanya sebagai sumber tambahan air minum saat keadaan darurat, tetapi digunakan untuk kemungkinan invasi atau serangan dari luar. Konoha tidak memiliki banyak shinobi dengan elemen air, tetapi mereka bisa tahu persis dimana menemukan air untuk digunakan sebagai senjata. Atau kolam air ini bisa digunakan untuk kasus kebakaran atau jutsu api yang berujung salah.
Dan bonusnya yaitu digunakan seperti ini, untuk latihan.
Aku berdiri dan menatap kolam air di depan ku. Mengangkat bahu, aku mulai mengikat rambutku dengan erat, melepas kantong-kantong senjataku, diikuti dengan baju ku. Meninggalkan ku hanya dengan bra dan tanktop yang kugunakan, celanaku, dan sendal ninjaku.
Aku tahu bahwa dalam pelatihan berjalan di air ini membuat tubuhku basah dan kemungkinan besar aku akan terjatuh ke dalam kolam air. Cukup hanya celana dan pakaian dalamku yang basah.
"Baiklah, jadi aku hanya mencoba hal yang sedikit berbeda dengan berjalan di pohon?" Tanyaku, mengintip air dengan waspada.
Aku bisa berenang, tetapi sepertinya air di kolam ini cukup dingin. Dan sedikit berlumpur.
"Kamu bisa mencoba nya secara langsung, Azura." Jawab Kakashi-sensei tanpa ragu.
Aku memberikannya tatapan masam dan aku merasakan bahwa Kakashi-sensei menertawakan ku dengan diam, walaupun ekspresinya ditutupi oleh master wajahnya.
Dengan dengusan kecil, aku memulai latihan berjalan di atas air.
Beberapa jam kemudian, aku tidak tahu sudah berapa lama aku mencoba berjalan di atas air. Tetapi selalu gagal, membuat tubuhku basah kuyup. Akhirnya aku bisa bertahan selama beberapa detik, tidak cukup semenit, diatas air. Lalu tiba-tiba tercebur kembali.
Huh, beruntung sekarang tidak musim dingin.
Kakashi-sensei kembali setelah melihat proses Naruto dan Sasuke, memandang ku dengan pandangan yang mengejek dan menertawai ku, aku hanya menatapnya dengan kesal.
Pada akhirnya Kakashi-sensei memutuskan untuk mengakhirkan latihan hari ini. Dia menyuruhku keluar dari kolam air dan berpakaian.
Ketika aku dan Kakashi-sensei sampai ke lapangan semula, aku melihat Naruto dan Sasuke... yang sedang sibuk beradu tinju dan mencekik satu sama lain.
"Bukankah kamu seharusnya menghentikan mereka, Sensei?" Tanyaku sambil berusaha memeras celana basah yang kupakai.
Kakashi-sensei hanya bersenandung dan mengeluarkan novel icha-icha nya, tidak mengacuhkan kedua genin laki-lakinya yang sibuk berkelahi.
Aku menghela nafas, aku bisa merasakan nafsu laparku perlahan-lahan keluar. Kemudian menoleh kepada Kakashi-sensei.
"Bolehkah aku pulang duluan, Sensei? Tou-san menyuruhku pulang cepat hari ini."
Untuk jatah makan dalam bulan ini. Sambungku dalam hati.
Kakashi-sensei berkedip, aku tidak menjauh darinya saat dia mengacak rambutku, terlalu lelah untuk menolak. "Hati-hati menuju rumah ya, Azura."
"Oke Kakashi-sensei, sampai jumpa besok."
Aku berlari meninggalkan anggota-anggota tim ku, mengabaikan Naruto dan Sasuke yang masih berkelahi, nafsu lapar ku semakin bertambah, aku tidak ingin nafsu laparku menyuruhku untuk memakan tim ku sendiri.
