Kakashi mendengarkan ocehan genin-genin nya. Sasuke dan Naruto seperti biasa berdebat dan tidak mau mengalah, walaupun mereka terlihat lelah sehabis sparring satu sama lain, tetapi energi untuk berdebat masih membara di tubuh mereka. Azura hanya menatap dengan pasrah dan datar kepada kedua teammate nya, dia terlihat seperti ingin tidur di tengah lapangan pelatihan.

Melihat mereka, mengingatkan Kakashi pada tim genin nya dulu. Bagaimana dia dan Obito selalu-

Stop.Tidak perlu memikirkan hal itu sekarang.

Kakashi tahu dia tidak punya banyak pilihan. Dia tidak ingin menjadi sensei, dia hanya ingin terus bekerja di ANBU, lapangan kerja yang sangat familiar dan cocok untuk orang sepertinya.

Kakashi tidak cocok menjadi sensei, terutama menjadi sensei kepada genin-genin yang mengingatkannya pada tim nya dahulu.

Tetapi politik tetap politik. Hal-hal politik selalu diluar jangkauannya. Hokage dan dewan-dewannya tentu saja memberikan satu-satunya Uchiha di Konoha kepada nya, orang yang memiliki dan mengerti cara kerja sharingan.

Mereka juga memberikan Naruto dibawah naungannya. Kakashi adalah shinobi yang memiliki sharingan dan salah satu jounin terkuat di Konoha. Tentu saja Hokage dan dewan-dewannya memberikan Jinchuuriki kepadanya.

Selain itu Naruto adalah satu-satunya warisan dan orang berharga yang ditinggalkan oleh Minato-sensei, satu-satunya orang yang seharusnya memiliki hubungan dekat dengan Kakashi, orang yang seharusnya dia jaga jika dia tidak melarikan diri ke ANBU seperti orang pengecut.

Sungguh menyakitkan. Kakashi tahu bahwa dirinya selfish dan pengecut.

Kakashi tidak bisa menatap wajah campuran antara dua orang yang dahulu dekat dengannya, campuran antara wajah Minato-sensei dan Uzumaki Kushina. Rambut pirang seperti Minato-sensei dan kepribadian yang mirip dengan Kushina. Sangat menyakitkan mengingat bagaimana orang-orang terdekat dengan nya pergi satu persatu. Maka dari itu Kakashi tidak ingin mendekatkan dirinya kepada Naruto, dia tidak ingin Naruto mengikuti jejak orangtua dan teammate nya.

Satu-satunya orang yang tidak memiliki hubungan atau mengingatkannya pada masa lalu adalah kunoichi dibawah naungannya, Uzukiro Azura.

Oh, Kakashi mendengar bahwa sebagian besar, tidak, 99% kunoichi seangkatan Uchiha Sasuke menatap Sasuke seperti dia adalah satu-satunya makanan terlezat di dunia ini. Kakashi tahu sekali betapa menyeramkan mempunyai fangirls yang maniak. Teammate nya sendiri, Rin, adalah seorang fangirl nya Kakashi, untung saja Rin bukan seorang fangirl yang maniak.

Kakashi berekspetasi bahwa dia akan mendapatkan seorang fangirl. Betapa jauh ekspetasi dengan realita disaat Kakashi bertemu dengan perempuan berambut merah itu. Azura tidak mengagumi Sasuke, bahkan Azura tidak menyukai Sasuke. Dan kunoichi itu tidak segan-segan memperlihatkan ketidaksukaannya.

Kakashi yang awalnya tidak ingin mengajari atau memberikan instruksi kepada siswa-siswa nya, akhirnya menyerah. Bukan karena teamwork, tidak, bahkan jika mereka bertiga memperlihatkan kerja sama yang baik, Kakashi masih enggan untuk mengajari mereka.

Itu karena Kakashi bisa melihat betapa serius nya Azura untuk berlatih. Melihat Azura berusaha untuk membantu Naruto, melihat Azura yang mentoleransi Sasuke disaat dia tidak menyukainya, Melihat Azura yang menatap Kakashi dengan pandangan bahwa ia tahu segala rahasia terdalam Kakashi.

Seperti saat Minato-sensei menatapnya.

Hal itu mendorong Kakashi untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai sensei. Mendorong Kakashi untuk memberikan pelatihan dan instruksi kepada genin nya. Mendorong Kakashi bahwa dia tidak akan mengecewakan Minato-sensei.

Itu membuat Kakashi sedikit jengkel, Kakashi menarik kembali opini nya terhadap Azura. Azura mengingatkan Kakashi pada Minato-sensei.

Tentu saja mereka memiliki kepribadian yang jauh berbeda. Tetapi cara dan tatapan Azura saat menanggapi orang-orang disekitarnya mengingatkan Kakashi pada Minato-sensei.

"-kamu tetap kalah melawan Azura! Walaupun kamu memakai ninjutsu, kagune nya Azura tetap hebat dan-"

Kakashi menepuk kedua telapak tangannya. Membuat Naruto menutup mulutnya. Genin-geninnya menatap Kakashi, menunggu nya untuk berbicara.

"Maa... istirahat sudah cukup. Ayo kita lanjutkan pelatihannya. Naruto, kamu butuh latihan banyak untuk mengontrolkan chakra mu, pergi ke kolam, berjalan di atas air. Sasuke, lari di sekitar lapangan pelatihan sebanyak 35 putaran untuk melatih stamina mu. Azura, lacak Pakkun, gunakan kemampuan sensor dan kepekaanmu, aku berikan waktu 15 menit untuk melacaknya." Jelas Kakashi memberikan siswa-siswanya mata senyuman palsu.

Naruto mengerang tidak suka, Sasuke memandang dengan marah, Azura hanya mengehela nafasnya.

Naruto membuka mulutnya untuk protes. "Kenapa-"

"Azura." Kakashi memotong perkataan Naruto dan memberikan Azura senyuman tipikalnya dan membuka buku icha-ichanya.

Tentu saja Kakashi tidak membaca bukunya dengan serius. Kakashi masih memperhatikan sekitarnya, dia hanya ingin membuat genin nya jengkel terhadap kelakuannya.

Kakashi bisa melihat Azura memutar bola matanya dengan jengkel, lalu melipat tangan ke dadanya dan memandang Naruto dan Sasuke yang masih terlihat geram.

"Naruto, kamu memiliki chakra yang sangat banyak. Ingat, semakin banyak chakra yang dimiliki semakin dibutuhkan kontrol chakra yang baik. Jadi latihan untuk mengontrol chakra secara rutin sangat dibutuhkan agar memudahkanmu untuk melakukan ninjutsu dengan baik.

Sasuke, diantara kita bertiga, kamu yang paling cakap dalam berbagai hal, tetapi stamina mu kurang dibandingkan aku dan Naruto.

Kakashi-sensei memberikan ku latihan tracking karena aku adalah ninja sensor, ditambah kepekaan penciuman dan pendengaranku yang cukup baik." Jelas Azura dengan tipikal nada datar nya. Naruto cemberut setelah mendengarkan penjelasan Azura lalu pergi ke kolam dengan pasrah.

Sasuke masih berdiri diam tidak terima, menatap Azura dengan marah setelah mendengar penjelasannya. Kakashi menahan tawanya dan menutup wajahnya dengan buku icha-icha saat Azura melirik nya dengan putus asa, Kakashi yakin Azura mengutuk dirinya dalam hati.

"Apa maksud mu stamina ku kurang dibandingkan dengan mu dan Naruto?" Sasuke mendengus, bibirnya terkatup rapat di sudut karena marah. Meniru Azura melipat tangan di dadanya.

Sasuke memang memiliki stamina yang baik dibandingkan rookie genin pada umumnya. Tetapi dibandingkan dengan Naruto, seorang jinchuuriki, dan Azura, seseorang dari Klan Uzukiro yang dikenal memiliki stamina yang kuat daripada orang biasa, stamina Sasuke jauh lebih lemah. Karena itu Kakashi ingin fokus untuk melatih stamina nya Sasuke sebelum beralih ke latihan ninjutsu.

"Bisa disimpulkan saat sparring tadi, kamu menang lawan Naruto karena kamu memang jauh lebih cakap dalam taijutsu.

Tetapi kamu kalah melawanku karena aku jauh lebih cepat dan defense ku kuat sehingga kamu menjadi kelelahan saat melawanku, walaupun taijutsu mu lebih kuat daripada ku. Maka dari itu Kakashi-sensei ingin melatih stamina mu." Jelas Azura dengan terus terang dan serius.

Azura menatap Sasuke yang masih terlihat marah dengan pandangan datar. Setelah beberapa detik, Sasuke berbalik dan memulai untuk berlari.

"Ini seharusnya pekerjaanmu, Sensei." Gumam Azura, menendang kerikil kecil di kakinya dengan jengkel, Kakashi hanya tersenyum lalu menurunkan buku nya.

"Maa... kamu itu translator yang handal, Azura. Jadi aku tidak ingin membuang sia-sia skill mu untuk menjelaskan isi pikiranku." Jawab Kakashi dengan riang tetapi tidak menghilangkan nada cemoohan nya. Kakashi akui bahwa Azura adalah salah satu orang yang cukup perspektif dan observan yang ia temui.

Mengingatkan Kakashi pada Minato-sensei.

Azura hanya mendengus, Kakashi menyeringai lalu menggapai tangannya untuk mengacak rambut Azura, tetapi kunoichi itu langsung berlari menjauh.

"Aku akan melacak Pakkun!"

Kakashi melambaikan tangannya lalu kembali membaca buku icha-icha.

Hm, melatih genin tidak seburuk yang ia pikirkan.


Aku berjalan bersama Kakashi-sensei keluar dari gedung menara Hokage dengan lelah dan rasa mengantuk. Mengikuti Naruto dan Sasuke yang berjalan di depan, saling mencemooh satu sama lain. Mereka tidak terlihat seperti biasa, tidak berdebat dengan suara keras, mereka kelelahan setelah Kakashi-sensei memberikan latihan ditambah dengan misi D-rank setelah latihan.

Aku ingin segera pulang, membersihkan diri, lalu tidur dengan nyaman.

Hokage memberikan Tou-san misi ke luar Konoha kemarin, aku berspekulasi kemungkinan Tou-san mencari tahu tentang Tobi dan pria misterius yang dibicarakan Tou-san dan Hide saat itu.

Sedangkan Hide sudah tiga minggu tidak pulang dari misi ANBU nya.

Jadi hanya aku sendiri yang berada di rumah.

"Azura-chan." Suara yang aku kenal memanggil namaku dari belakang, diikuti dengan ketukan lembut kaki yang menyentuh tanah.

Aku berbalik ke arah suara itu, secara langsung melihat Sarutobi Tatsuya yang berdiri dengan wajah pucat dan lemas.

Aku berjalan dengan cepat ke arahnya, jantung berdebar-debar ketakutan. Rasa lelah dan kantuk terlupakan dalam sekejap.

"Tatsuya. Ada apa?" Tanyaku dengan cemas. Ini pertama kalinya aku melihat Tatsuya berwajah pucat dan lemas.

Aku bisa merasakan chakra Kakashi-sensei yang masih berada di tempat yang sama saat Tatsuya memanggil, chakra Naruto dan Sasuke yang kembali berjalan mendekati arahku dan berhenti disamping Kakashi-sensei.

"Hide sudah pulang dari misinya. Kondisi nya cukup parah. Ayo aku antarkan kamu ke rumah sakit." Jelas Tatsuya dengan lemas dan nada parau. Aku mencengkeram tanganku lalu mengangguk singkat.

"Kakashi-sensei, Naruto, Sasuke, aku pamit duluan ya." Kata ku dengan singkat, tanpa menoleh ke arah tim ku dan mengikuti Tatsuya ke rumah sakit.

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit aku tidak berbicara, hanya berjalan dengan diam dan jantung masih berdebar-debar. Tatsuya juga tidak mengajak ku untuk berbicara.

Hide masih hidup. Dia tidak mati.

Aku menaruh tanganku ke dada, menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri.

Tatsuya membawaku langsung ke kamar inap yang ditempati oleh Hide. Aku tidak pernah berada di bagian rumah sakit ini. Bahkan sebelum aku menginjakan kaki ke bagian ini, ada petugas yang memeriksa ku secara ketat, menyuruh ku untuk menulis identitas ku, alasan mengapa aku datang ke tempat ini.

Kamar inap yang ditempati Hide berada di tempat yang cukup tertutup dari publik dan terlihat beberapa ANBU berlalu lalang secara jelas, bahkan ada ANBU yang tidak memakai topeng mereka. Biasanya mereka tidak memperlihatkan diri mereka secara terus terang, apalagi membuka topeng mereka.

Aku yakin ini adalah bagian khusus untuk para ANBU.

Jantungku masih berdebar-debar ketakutan, akhirnya aku tenang setelah meletakkan telapak tangan ku di dada Hide. Aku bisa merasakan detak jantung Hide dibawah telapak tangan ku. Merasakan gerakan naik dan turun secara pelan tapi pasti di setiap tarikan nafas nya.

"Apa yang terjadi?" Tanyaku pelan, tidak mengalihkan pandangan ku dari wajah pucat nya Hide dan perban yang membaluti tubuhnya.

Tatsuya menghela nafas dan duduk di kursi di samping ranjang rumah sakit Hide.

Hide tidak berada di kamar pribadi, terlihat beberapa pasien yang mengisi ruangan, tetapi setiap pasien di ruangan ini tidak sadarkan diri atau mengalami koma, aku tidak cukup tahu untuk bisa membedakannya.

Aku bahkan merasakan beberapa chakra yang bersembunyi di ruangan ini. Mungkin para ANBU yang ingin membesuk rekan sesama ANBU mereka dan mereka tidak ingin terlihat.

"Racun." Jawab Tatsuya dengan lelah. "Kehabisan chakra dan terkena jutsu angin di bagian perutnya, beruntung penyembuhan tubuhnya cukup cepat, jika tidak dia akan kehabisan darah dan nyawa nya akan terancam."

Kehabisan darah.Nyawa nya akan terancam.

"Dan anehnya tubuh Hide tidak menerima injeksi IV. Tubuhnya menolak obat dan nutrisi makanan. Saat kami memberikan itu, Hide secara tidak sadar memuntahkan semua yang sudah kami berikan. Jadi kami menghentikan pemberian obat dan nutrisi."

Itu berarti Hide membutuhkan konsumsi darah lebih banyak bukan? Hide adalah seorang ghoul, dia tidak membutuhkan injeksi IV atau nutrisi makanan, energi yang dibutuhkan oleh ghoul adalah berasal dari daging dan darah manusia.

Hide adalah ghoul dengan tipe kagune ukaku, stamina dan regenerasi mereka jauh lebih lambat dibandingkan tipe kagune rinkaku seperti Azura dan Tou-san.

Jadi yang sangat dibutuhkan Hide saat ini adalah makanan ghoul.

Penyembuhan Hide akan berlangsung lama jika dia tidak mengkonsumsi darah dan daging manusia.

Tetapi aku yakin selain keluargaku, hanya Hokage yang tahu. Bagaimana cara ku menjelaskan bahwa Hide hanya butuh konsumsi darah dan daging manusia untuk penyembuhannya?

Aku butuh Tou-san untuk menangani masalah ini. Tetapi dia sedang berada di luar Konoha.

Aku merasakan tangan Tatsuya menepuk pundakku dengan lembut. "Azura-chan, aku yakin Hide akan cepat sembuh. Penyembuhan tubuhnya cukup cepat dari orang biasa dan aku akan mencari cara untuk mempercepat penyembuhannya, jadi jangan khawatir."

Aku yakin Tatsuya tidak akan tahu cara mempercepat penyembuhan Hide. Dan jika ia tetap memberikan injeksi IV dan nutrisi makanan, itu hanya membuat Hide semakin kewalahan dan kelelahan karena muntah secara terus menerus.

Aku hanya menganggukan kepala ku dengan lambat, mengambil nafas dalam-dalam lalu mundur setengah langkah dan melihat sekeliling ruangan yang sebagian besar sunyi. Hanya mesin-mesin medis yang berbunyi.

Setelah beberapa menit, Tatsuya berdiri, tangannya kembali menepuk pundakku.

"Ayo Azura-chan, waktu kunjungan sudah berakhir, kita tidak bisa berlama-lama disini."

Setelah menatapi Hide untuk beberapa detik, memastikan bahwa dia masih bernafas, aku mengikuti Tatsuya keluar dari ruangan inap.

Setelah keluar dari rumah sakit, Tatsuya berhenti dan menoleh kepadaku.

"Kazumi-san sedang menjalankan misi ya?"

Aku mengangguk. Lalu melihat seorang pria berambut pirang dan berpakaian medis memanggil Tatsuya dari dalam rumah sakit.

Tatsuya membalas pria itu dengan melambaikan tangan. Ia menghela nafasnya, lalu tangannya menyisir rambut cokelat nya dengan lelah.

"Azura-chan, kamu tidak apa-apa sendirian kan? Maaf aku tidak bisa menemani mu karena aku sibuk dengan pekerjaan ku di rumah sakit. Shion juga tidak bisa karena dia sedang menjalankan misi. Jika kamu ingin menemui Hide, temui saja aku. Karena genin harus ditemani oleh jounin untuk masuk ruangan itu, mengerti Azura-chan?"

"Mengerti, Tatsuya. Terima kasih sudah memberitahuku." Jawabku pelan. Tatsuya hanya tersenyum dengan lelah dan rasa kasihan. Dia menepuk pundakku dua kali lalu kembali berjalan menuju rumah sakit.

Untuk beberapa detik aku hanya diam di depan rumah sakit, menatap Tatsuya yang berbicara dengan pria yang memanggilnya tadi.

Aku berbalik dan berjalan dengan lesu menuju rumah.


Keesokan harinya jam tujuh pagi, aku berlari di atas atap-atap rumah menuju gedung menara Hokage dengan ketekadan yang sudah aku persiapkan kemarin.

Biasanya setiap jam tujuh pagi, aku, Naruto, dan Sasuke sudah berkumpul dan berada di lapangan latihan. Menunggu Kakashi-sensei yang biasa terlambat selama beberapa jam.

Kami menghabiskan waktu untuk berbicara atau berlatih secara ringan. Kalau Naruto, dia akan memakan ramen instan nya atau bento yang sesekali aku buatkan untuknya, bahkan aku juga membuatkan bento tambahan untuk Sasuke akhir-akhir ini.

Untuk kali ini aku mengikuti jejak buruk Kakashi-sensei, datang terlambat ke lapangan latihan.

Gedung menara Hokage sudah terlihat sibuk, aku melewati shinobi yang berlalu lalang untuk mengambil misi, atau baru saja kembali dari misi mereka, lelah dan pakaian mereka kotor, bercak darah kering terlihat jelas di pakaian mereka.

Ruangan utama Hokage berada di lantai paling atas, dimana biasanya Hokage melakukan pekerjaannya, memberikan misi-misi tingkat atas kepada ninja nya, atau mendengarkan laporan-laporan penting oleh ninja nya. Ruangan itu biasanya juga digunakan untuk diskusi-diskusi penting.

Dan genin sepertiku seharusnya tidak berada di bagian gedung ini, kecuali jika keadaan yang sangat penting atau dipanggil secara pribadi oleh Hokage.

Aku bisa melihat beberapa ninja yang duduk di ruang tunggu, hanya terdapat tiga shinobi yang terlihat baru pulang dari misi mereka, menunggu giliran mereka untuk menemui Hokage. Mereka menatapku, seorang genin yang seharusnya tidak berada disini, dengan penasaran.

Dan aku tidak peduli. Aku ingin menemui Hokage.

Aku berhenti tepat di depan meja asisten Hokage. Mengetuk mejanya seperti yang biasa dilakukan oleh Kakashi-sensei saat dia meminta misi di ruangan misi.

"Ya?" Jawab kunoichi berambut hitam panjang, berwajah serius, dan memakai kacamata bewarna silver. Setelah beberapa detik dia menoleh kepadaku.

Kunoichi itu mengerecutkan bibirnya saat melihatku. "Genin tidak diperbolehkan masuk ke ruangan Hokage kecuali jika Hokage-sama memanggilmu secara pribadi." Katanya dengan nada merendah. Tidak suka melihat genin mengganggu waktunya.

Aku menarik nafasku, mencoba menahan emosiku untuk tidak geram terhadap asisten Hokage di depanku.

"A3965U702." Kata ku dengan nada yang sangat pelan kepada kunoichi di balik meja. Tidak ingin ninja yang lain mendengarkan perkataanku. "Aku ingin menemui Hokage-sama dan berbicara masalah A3965U702."

Kunoichi di depanku menatapku dengan mata yang terbuka lebar. Terkejut saat aku menyebutkan salah satu kode rahasia yang hanya diketahui oleh Hokage dan orang-orang yang terlibat dalam kode tersebut.

Tou-san memberikan ku kode tersebut jika terjadi masalah yang berkaitan dengan ghoul. Situasi dimana aku harus menghubungi Hokage untuk mendiskusikan masalah tersebut.

Aku sendiri tidak tahu arti dari kode tersebut, aku yakin setiap rahasia memiliki kode tertentu, aku berspekulasi bahwa kode yang berawalan A menandakan bahwa itu adalah rahasia kelas A-rank. Kode yang berawalan S adalah rahasia kelas S-rank.

Pasti kode rahasia tentang Ayah Naruto alias Yondaime dan rahasia tentang pembantaian Uchiha diawali dengan huruf S.

Kunoichi itu dengan cepat berbalik dan berjalan menuju rak-rak lemari kecil yang menempel di dinding, setiap lemari kecil itu tertutup dan tersegel oleh fuinjutsu.

Kunoichi tersebut berhenti di salah satu rak, membuka segel di salah satu lemari kecil dengan chakra nya, meraih scroll kecil dari dalam lemari kecil itu.

Dia kembali ke meja nya, meletakkan scroll itu di depan ku. "Teteskan darahmu dan salurkan sedikit chakra mu pada scroll ini."

Setelah mengikuti instruksinya, aku bisa melihat scroll itu secara perlahan-lahan memperlihatkan kode yang sama persis dengan kode yang aku sebutkan tadi.

Kunoichi itu mengangguk, menyuruhku untuk menunggu giliran menemui Hokage.


Pertemuan ku dengan Hokage hanya berlangsung selama beberapa menit. Setelah aku menjelaskan keadaan Hide, Hokage mengangguk mengerti dan tersenyum padaku.

Dia memanggil salah satu ANBU nya yang memakai topeng tanuki, menjelaskan secara singkat bahwa ANBU Tanuki tahu tentang kondisi keluargaku dan akan membantu mengurus Hide. Lalu menyuruhku untuk mengikuti ANBU Tanuki ke salah satu ruangan privat di gedung menara Hokage.

"Jadi kamu tahu bahwa kami adalah ghoul, Tanuki-san." Kataku setelah aku dan ANBU Tanuki bertatapan dan menilai satu sama lain selama dua menit.

ANBU Tanuki menganggukan kepalanya dengan singkat. Tanpa mengubah postur tubuhnya.

Aku menyipitkan mataku. "Apakah Tou-san dan Hide-ojisan tahu tentang ini?"

ANBU Tanuki kembali menganggukan kepalanya dengan singkat tetapi pasti.

Aku menatapnya lebih lama, ANBU Tanuki memiliki aura seperti ANBU pada umumnya, misterius dan mematikan. Dia memiliki rambut cokelat yang cukup panjang, diikat dengan ikatan simpel. Memiliki bentuk dan tipe tubuh yang hampir sama dengan Kakashi-sensei, hanya saja Kakashi-sensei lebih tinggi dan memiliki postur tubuh yang santai. Sedangkan ANBU Tanuki berdiri dengan tegang membatu.

Sepertinya dia adalah agen ANBU biasa yang dipercaya oleh Hokage. Aku berharap dia bukan mata-mata atau ANBU Root dibawah perintah Danzo.

"Baiklah."

Aku menjelaskan kembali tentang kondisi Hide. Bahwa dia tidak bisa menerima injeksi IV. Menjelaskan jika diberikan obat-obatan dan nutrisi makanan akan membuat tubuh Hide semakin lemas dan tidak berhenti muntah. Bahwa ghoul membutuhkan daging dan darah manusia untuk proses penyembuhannya.

Aku menjelaskan bahwa Hide butuh mengkonsumsi seluruh tubuh daging manusia dewasa untuk mempercepat penyembuhannya.

ANBU Tanuki hanya diam, tidak merespon apa-apa saat aku menjelaskan kondisi Hide. Setelah selesai, aku berbalik untuk keluar dari ruangan, tetapi berhenti saat ANBU Tanuki untuk pertama kalinya berbicara.

"Apakah kamu juga membutuhkannya?" ANBU Tanuki bertanya dengan suara monoton.

Aku tersentak kaget dan berbalik menghadap pria yang masih berdiri di posisi yang sama.

"Membutuhkan apa?" Tanya ku dengan perlahan.

"Makanan." Jawabnya singkat, masih dengan suara monoton.

Apakah semua ANBU memang diwajibkan untuk berbicara dengan suara monoton dan sedikit menakutkan? Aku yakin aku pernah mendengar bagaimana aneh nya suara monoton Hide saat dia memakai seragam dan topeng ANBU nya.

Aku menggeleng kepalaku dan mengangkat bahu. "Aku sudah memakan jatahku 3 hari yang lalu."

ANBU Tanuki tidak merespon, tapi aku bisa melihat tangannya tersentak tidak terkendali.

Aku menyeringai dan terkekeh dengan pelan melihat reaksinya. "Terima kasih atas bantuanmu, Tanuki-san. Semoga berhasil dalam memburu makanan untuk Hide-ojisan."

Aku membungkuk, lalu berbalik keluar ruangan, melambaikan tanganku tanpa menoleh ke belakang.