Hari sudah mulai gelap. Aku berjalan dengan lamban menuju rumah, baru saja pulang setelah menjalankan latihan dan beberapa misi D-rank dengan tim tujuh.

Menuju rumah yang kosong lagi.

Aku tidak tahu kapan Tou-san pulang. Dan kapan Hide bangun.

Semoga ANBU itu telah mengurus Hide dengan baik.

Aku ingin membesuk Hide, tetapi aku tidak tahu kepada siapa aku harus bertanya. Jika aku bertanya kepada Tatsuya, dia akan kembali bertanya mengapa Hide dipindahkan ke ruang inap privat. Dan mencari cara bagaimana mempercepat penyembuhan Hide.

Tatsuya tidak tahu bahwa Hide adalah ghoul. Dan aku tidak ingin membocorkan hal itu.

Sesaat aku mendekati rumah, aku merasakan chakra yang cukup ku kenal tetapi aku tidak melihat seorang pun yang berada di depan rumah.

"...Tanuki-san?"

ANBU Tanuki yang tadinya bersembunyi, menampakkan dirinya tanpa suara dari balik bayangan rumah ku yang gelap karena lampu rumah yang belum dinyalakan.

Dia memberi aura tokoh serial killer dari drama-drama thriller atau detektif yang sering aku tonton di dunia pertamaku.

Ew ANBU.

Selalu membuatku merinding.

"Bagaimana keadaan Hide-ojisan?" Tanyaku dengan datar, tidak memperlihatkan sepersen pun bahwa aku sempat merinding melihatnya.

ANBU Tanuki terdiam selama beberapa detik, seperti ingin menimbang-nimbang jawabannya.

"Sudah dipindahkan ke ruangan pribadi," jawabnya singkat, masih dengan nada monoton. Tetapi Aku bisa menangkap keraguan dari suaranya.

"Hide-ojisan belum makan." Aku tebak.

ANBU Tanuki menganggukan kepalanya dengan pelan.

Bingo.

Tentu saja Hide belum menyantap makanannya karena dia belum sadar. Bagaimana orang yang tidak sadar bisa makan?

"Dia sudah diberikan transfusi darah. Penyembuhan nya lebih cepat dari yang kemarin."

Hm... tetapi apakah transfusi darah cukup? Ghoul juga membutuhkan konsumsi daging manusia untuk mempercepat regenerasi tubuh. Tetapi aku tidak tahu bagaimana cara memberi makanan kepada orang yang tidak sadar.

"Tanuki-san bisa kah aku melihat Hide-ojisan sekarang?"

ANBU Tanuki menganggukan kepalanya. Menginstruksikan untuk mengikutinya secara non verbal. Lari dari atap ke atap rumah menuju rumah sakit.

Tidak cukup semenit, kami berhenti di salah satu pohon Hashirama yang berada di samping rumah sakit. ANBU Tanuki mengulurkan tangan kirinya.

Aku menatap nya untuk beberapa detik. Sedikit ragu, tetapi akhirnya aku meraih tangan kirinya.

Tanpa aba-aba ANBU Tanuki melakukan shunshin.

Itu pertama kalinya aku merasakan shunshin. Rasanya sangat aneh, membuat kepalaku sedikit pusing.

Aku dengan cepat menempelkan telapak tanganku ke dinding rumah sakit. Mengambil nafas untuk beberapa detik.

Setelah menenangkan diri, aku melihat sekeliling ku. Kamar rumah sakit yang polos, di tengah ruangan itu hanya terdapat satu ranjang rumah sakit yang didiami oleh Hide dan satu meja kecil.

Tubuhnya sudah tidak pucat seperti kemarin. Transfusi darah benar-benar membantu penyembuhannnya.

Tetap saja dia membutuhkan makanan. Orang biasa yang tidak sadar akan diberikan injeksi IV sebagai obat dan nutrisi makanan. Tetapi bagaimana dengan ghoul? Aku bukan dokter, aku tidak tahu cara kerja medis.

Setelah beberapa menit menatap Hide dengan pandangan kosong. Aku melihat jari-jari Hide yang mulai bergerak.

Hide bangun.

"Oji-san!"

Aku berjalan dengan cepat mendekati ranjang rumah sakit Hide. Melihatnya membuka mata dengan perlahan.

Hide berkedip untuk beberapa kali, pandangannya tidak fokus. Aku meraih tangannya dan menggenggam dengan erat.

Pandangannya beralih kepada ku dengan perlahan. Dan mencoba untuk membuka bibirnya yang kering.

"Zu-" Hide memanggilku dengan suara parau.

"Tenang oji-san. Sebaiknya kamu minum dulu." Aku memotongnya.

Aku dengan cepat meraih segelas air putih yang berada di meja di samping ranjang Hide. Membantu Hide untuk minum menggunakan sedotan.

Setelah selesai, aku kembali berbicara. "Kamu pulang dari misi mu kemarin, Tatsuya mengabari ku bahwa kamu dirawat di rumah sakit. Dan Tou-san sedang menjalankan misi di luar Konoha."

"Nii-san pergi?" Tanya nya dengan bingung.

Hide pasti bertanya-tanya mengapa dia bisa dirawat di ruang inap privat disaat Tou-san tidak berada di Konoha. Karena Tou-san lah yang biasa mengurus permasalahan rumah sakit jika salah satu dari kami harus dirawat. Seperti yang telah dijelaskan oleh Hokage kepadaku tadi pagi.

"Aku menemui Hokage-sama. Memberi tahu tentang kondisi mu. Lalu dia memberi ku ANBU Tanuki untuk membantu mu." Jelasku lalu menunjuk ANBU Tanuki yang berdiri di dekat pintu kamar.

Aku melihat Hide mengerutkan keningnya, lalu matanya jatuh dimana ANBU Tanuki berada. Dia tersenyum dengan kecut.

"Heh. Tanuki. Kamu sudah ngerasa tidak aneh lagi saat berada di dekat ku?" Hide bertanya dengan nada lemas, tetapi aku bisa menangkap ekspresi nya yang senang dicampur dengan berharap.

ANBU Tanuki tiba-tiba mengeluarkan scroll yang berasal entah darimana lalu melemparkan nya kepadaku.

Bersamaan saat aku menangkap scroll, ANBU Tanuki berkata dengan nada monoton nya.

"Kamu berutang padaku, Cheetah."

Lalu dia menghilang dengan shunshin. Tetapi aku masih bisa merasakan chakranya yang tepat berada di luar kamar, di dekat pintu.

Hide tertawa, menggelengkan kepalanya dengan ekspresi lega dan senyuman kecil terlukis di wajahnya.

"Aku baru tahu kode ANBU mu itu cheetah." Lontar ku.

"Kamu sudah melihat topeng ANBU ku, kenapa baru tahu?" Tanya Hide, mengangkat satu alis matanya kepadaku.

Aku mengangkat bahu ku. "Aku tidak tahu. Susah membedakan antara cheetah, macan tutul, sama jaguar."

Hide mendengus lalu terkekeh. "Aku sudah mendengarkan itu ratusan kali." Lalu dia terbatuk. "Zura-chan, air."

Aku mengambil gelas air putih, dan memberikannya kepada Hide.

"Ngomong-ngomong, kenapa Tanuki-san tahu bahwa kita adalah ghoul?" Tanya ku dengan penasaran sambil menaruh kembali gelas air putih di atas meja.

Hide terdiam sejenak, membawa tangannya untuk mengacak rambut merahnya.

"Beberapa tahun yang lalu aku berada di tim yang sama dengannya. Waktu itu kami menjalankan misi S-rank. Dua teammate ku yang lain... gugur saat kami menjalankan misi itu, jadi hanya tinggal aku dan Tanuki saja."

Dia menghela nafasnya lalu melanjutkan. "Ketika kami pulang menuju Konoha, tiga jounin dari Kusa menyerang. Dan saat itu kondisi aku terluka parah dan lapar."

"Apakah kamu tidak membunuh saja tetapi memakan mereka sekaligus?" Tanyaku penasaran.

Hide menganggukan kepalanya. "Yup. Nafsu ghoul ku membara. Aku langsung melahap dua Kusa shinobi. Dan Tanuki melihatnya."

Hide tersenyum dengan lemah. "Saat tiba di Konoha, Tanuki langsung melapor ke Hokage-sama. Dan Hokage-sama memberi tahu kondisi Klan kita dan membuatnya untuk tidak memberi tahu siapa pun rahasia Klan kita. Semenjak itu, Tanuki menjauhi ku dan kita tidak berada dalam satu tim lagi."

Oh. Jadi itu alasan reaksi aneh Hide saat melihat ANBU Tanuki.

"Zura-chan buka scroll nya, aku lapar."

Aku mengangguk, lalu duduk di lantai, diikuti oleh Hide yang bangkit dengan perlahan dan duduk di depan ku.

Aku membuka scroll yang diberikan oleh ANBU Tanuki.

Scroll itu berisi mayat pria berkisaran umur dua puluh tahunan, semua pakaian dan aksesori di tubuhnya tidak ada, telanjang tanpa ada darah, tapi aku bisa melihat lehernya dalam kondisi patah.

Pria ini pasti seorang bandit.

Jika dia adalah seorang shinobi, ANBU Tanuki menggunakan senjata atau jutsu untuk membunuhnya sehingga terdapat bercak darah di tubuhnya.

Kecuali dia memakai senbon atau racun untuk membunuhnya. Tetapi ANBU Tanuki memilih untuk mematahkan lehernya dengan cepat.

"Oji-san, kamu perlu bantuan untuk memotong daging ini?"

"Yup."

Sekitar tiga puluh menit, Hide selesai menyantap makanannya dan membersihkan dirinya ke kamar mandi.

Aku juga membersihkan tangan ku dari darah pria... makanan yang disantap oleh Hide tadi.

"Jadi karena itu alasan kenapa kamu bilang nafsu ghoul itu ada konsekuensi nya ya?" Tanya ku setelah Hide kembali berbaring di ranjang rumah sakitnya.

Aku bisa melihat regenerasi tubuhnya berjalan dengan cepat setelah menyantap makanannya.

Hide berkedip lalu tertawa dengan suara yang serak. "Hahaha iya, itu salah satu alasannya."

Aku menganggukan kepala ku.

"Besok aku ada misi C-rank di luar Konoha." Gumamku dengan pelan.

"Oh?" Hide bertanya, menatapku dengan penasaran. "Untuk berapa lama?"

"Tidak tahu, kata Kakashi-sensei sekitar sebulan."

Hide menganggukan kepalanya. "Hm... aku sepertinya tidak akan diberi misi untuk satu minggu atau lebih. Mungkin diberi tugas untuk membantu arsip-arsip... tch."

Dia menggerutu dan mendengus dengan kesal. Aku tertawa dengan pelan melihat ekpresi nya.

"Ketika Nii-san pulang nanti akan ku beritahu bahwa kamu keluar Konoha." Sambungnya lalu dia menguap.

"Ngomong-ngomong, misi nya pergi kemana Zura-chan?" Tanya Hide dengan suara pelan, matanya mulai berat, mengantuk.

"Misi ke Negeri Ombak."

"Kakashi-sensei, kamu ingin aku di posisi depan untuk memeriksa keadaan sekitar?"

"Yep."

"Karena aku seorang sensor."

"Yep."

Aku menyipitkan mataku kepada Kakashi-sensei yang bersandar santai di pohon, membaca novel icha-ichanya.

Jam tujuh di pagi hari, kami menunggu klien kami di depan gerbang pintu utama Konoha.

Untuk pertama kalinya Kakashi-sensei tidak terlambat, menjelaskan tentang posisi kami saat perjalanan nanti.

Sasuke dan Naruto setuju dengan posisi yang diberikan oleh Kakashi-sensei, tapi seperti biasa, tiada hari tanpa berdebat.

Dan kali ini mereka berdebat tentang bagaimana bahwa 'elemen petir lemah terhadap elemen angin, berarti kamu lemah dariku Sasuke-teme!' vs 'tch, aku bisa elemen api, dan elemen angin lemah terhadap elemen api, usuratonkachi.'

"Karena kamu juga yang paling tercepat dari Naruto dan Sasuke. Jadi jika ada sesuatu yang mencurigakan kamu bisa melaporkan dengan cepat. Tapi tenang saja, di misi C-rank tidak akan terjadi hal-hal yang menyusahkan, mungkin hanya para bandit atau perampok yang menyerang." Jelas Kakashi-sensei, lalu memberikan senyuman mata melengkung tipikalnya.

Tapi permasalahannya misi C-rank ini bukan misi biasa, ini misi C-rank yang berubah menjadi misi A-rank. Ini misi C-rank yang terkutuk!

Tentu saja Kakashi-sensei tidak tahu tentang hal itu. Aku mencoba untuk sabar, mengambil nafas dengan perlahan.

Hm aku mendapatkan sebuah ide.

"Bagaimana jika aku membawa satu clone Naruto bersamaku. Jika terjadi apa-apa clone-Naruto bisa menyalurkan informasi ke Naruto yang asli?" Tanyaku dengan datar. Menyembunyikan perasaan berharap dicampur dengan kegelisahan.

Kakashi-sensei menatapku untuk beberapa detik lalu menganggukan kepalanya. "Ide bagus. Naruto, beri Azura satu clone."

Naruto yang ingin membentak Sasuke terhenti saat Kakashi-sensei memanggil nya. Lalu dia memberikanku sengiran yang setiap hari aku lihat.

"Okay!"

Puff.

Clone-Naruto muncul bersamaan dengan pria paruh baya berjalan ke arah kami, dia menggunakan kacamata, mengenakan pakaian bewarna gelap tanpa lengan dilengkapi dengan obi. Dia juga membawa handuk di lehernya dan memakai topi runcing.

Dan dia bau minuman keras.

Aku mengernyitkan hidungku yang sensitif terhadap bau. Aku bisa melihat Kakashi-sensei yang melihat ku dengan tatapan meledek.

Ugh mentang-mentang punya masker!

"Baik klien kita sudah datang. Ayo."

Aku sudah lama berspekulasi bahwa kali ini tim tujuh tidak akan mendapatkan misi C-rank terkutuk ke Negeri Ombak karena aku sudah mengubah banyak hal. Terutama dengan adanya aku di tim tujuh, bukan Sakura.

Dahulu sebelum aku lahir di dunia ini, aku sering membaca tentang teori butterfly effect. Yang menjelaskan bahwa perubahan yang kecil saja dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga di masa depan.

Tetapi sepertinya tim tujuh benar-benar ditakdirkan untuk menjalankan misi C-rank terkutuk ini.

Ugh.

[•••••]

"Aku... aku masih tidak bisa percaya... kamu membiarkan gadis kecil itu... mengambil posisi depan." Cerca Tazuna, kata-katanya bercampur dengan cegukan karena meminum minuman keras.

Sabar.

Sabar.

Tch.

"Daritadi kamu berisik sekali. Kamu tidak tahu kapan harus tutup mulut?" Ketus ku tidak suka.

"Azura." Timpal Kakashi-sensei, memberikan ku senyuman tipikalnya, tetapi aku bisa menangkap nada peringatan pada suaranya.

Aku memutar bola mataku, memberikan instruksi kepada clone-Naruto mengikutiku untuk melesat ke depan, mendahului kelompok yang melindungi Tazuna yang berjalan dengan kecepatan warga biasa.

Naruto dan Sasuke berada di posisi kanan dan kiri Tazuna, sedangkan Kakashi-sensei berada di belakang, dan aku berada di depan bersama clone-Naruto untuk merasakan tanda-tanda yang mendekat ke arah kami, Kakashi-sensei juga membiarkan ku pergi duluan melompat dari pohon ke pohon untuk memeriksa keadaan sekitar.

Butuh waktu dua hari, saat kami sudah mendekati pantai timur Negara Api, aku merasakan dua chakra tingkat chuunin yang menuju ke arah kami.

Aku berhenti diikuti oleh clone-Naruto yang sudah aku instruksikan untuk diam tanpa suara. Kami bersandar pada cabang pohon yang berdaun lebat.

Pertemuan dengan Demon Brothers tidak seperti yang aku ingat di manga yang telah aku baca sebelumnya, mereka tidak membuat genangan air untuk menyembunyikan diri mereka.

Aku melihat dua gadis yang tidak terlalu mencolok, berjalan dengan kecepatan warga biasa, tetapi aku bisa merasakan chakra mereka ukuran chuunin dan aku bisa merasakan chakra yang membaluti tubuh mereka karena henge yang mereka pakai.

Posisi mereka tidak jauh dari kelompok Kakashi-sensei yang menjaga Tazuna, tidak lebih dari setengah kilometer.

Aku memberikan clone-Naruto instruksi untuk mengikuti ku, meninggalkan pohon yang telah kami tempati untuk menuju tempat yang cukup jauh dari dua shinobi yang memakai henge.

"Bilang ke Kakashi-sensei bahwa ada dua ninja, posisi tidak lebih dari setengah kilometer, chakra berukuran chuunin, mereka memakai henge dan berjalan mendekat menuju ke arah kelompok kalian." Bisikku dengan jelas kepada Clone-Naruto.

Clone-Naruto menyengir, memberiku hormat lalu menghilang tanpa suara.

Setelah clone-Naruto menghilang, aku segera berlari kembali ke posisi kelompok yang menjaga Tazuna.

Apakah sebelum Demon Brothers membuat genangan air, mereka memakai henge untuk mencari informasi?

Atau ini adalah sesuatu yang berubah dari alur asli Naruto?

Ingatan ku samar-samar mengenai detail pertemuan mereka dengan tim tujuh. Yang aku ingat hanya genangan air.

[•••••]

Adegan yang menyambutku ketika aku mendarat di depan kelompok penjaga Tazuna adalah salah satu Demon Brothers yang tidak aku ketahui namanya di interogasi oleh Kakashi-sensei, tidak jauh darimana Naruto dan Tazuna berada.

Aku mendarat di depan Sasuke yang berdiri di depan satu mayat yang keadaan nya cukup mengenaskan. Membuatku tidak ingin memakan tubuhnya.

Sasuke memandang kosong tetapi tidak terlihat ketakutan. Beberapa detik kemudian dia mengangkat kepalanya untuk menatapku yang berdiri di depan nya.

"Pembunuhan pertama mu?" Tanyaku, mengangkat satu alis mataku.

Sasuke tidak bergerak untuk beberapa saat lalu menganggukan kepalanya.

"Kamu ingin mengurus mayatnya atau butuh bantuanku?"

Sasuke menggertakkan giginya, memberikan ku tatapan tajam. "Aku bisa mengurus nya sendiri."

Aku mengangkat tanganku.

"Heh tenang. Aku tahu kamu bisa mengurusnya." Kataku cukup canggung, tidak mengira bahwa Sasuke cukup agresif setelah melakukan pembunuhan pertamanya.

Sasuke mengabaikan ku lalu mengambil scroll bewarna hitam, yang di khususkan untuk menyimpan mayat musuh. Scroll itu nanti bisa ditukarkan ke tempat yang memberikan uang kepada pemburu yang sudah memburu ninja yang berada di dalam daftar buku bingo.

Ninja seperti Demon Brothers hanya berharga cukup kecil, tetapi uang tetaplah uang.

Mungkin dalam kasus Sasuke, dia ingin mengingat tentang pembunuhan pertamanya yang sudah berhasil dengan mulus.

Setelah beberapa menit kemudian, Kakashi-sensei memanggil Tazuna yang sudah tampak gelisah dan berkeringat dingin dibawah tatapan tajam Kakashi-sensei.

"Sekarang kita semua sudah berada di sini," kata Kakashi-sensei. "Jadi jelaskan mengapa ada dua ninja yang menyerang kita, Tazuna-san?"

"Aku tidak tahu," jawab Tazuna dengan gugup, mengambil langkah mundur. "Mereka mungkin saja ninja-ninja pengembara atau ninja pemburu yang ingin mengambil kepala mu. Kalian melakukan hal seperti itu bukan?"

"Keduanya menyamar menggunakan henge," jelasku dengan nada datar, tetapi menatap Tazuna dengan tidak suka.

"Mereka berjalan seperti warga biasa. Jika mereka adalah ninja pengembara, mereka akan bepergian dengan kecepatan ninja dan tidak akan menyamar. Ninja-ninja tingkat chuunin seperti mereka tidak akan bodoh untuk memburu kepala Kakashi-sensei, seorang elit ninja. Mereka tidak ingin menyerang kami, tapi mereka ingin menyerang mu Tazuna-san."

Kakashi-sensei menatap ku, mata tajamnya menilai ku untuk beberapa detik lalu menganggukan kepalanya.

"Azura benar. Jebakan yang mereka pasang ditujukan untuk warga biasa, bukan ninja, artinya mereka tidak mengejarku atau timku, mereka mengejarmu. Jadi, jawab pertanyaan ku, mengapa ada dua ninja yang ingin memburu mu Tazuna-san?"

Tazuna meneguk sake nya. Lalu mulai menceritakan tentang keadaan negeri nya yang mengenaskan dibawah kuasa Gato, seorang pebisnis korup dan licik yang ingin membunuhnya.

Aku tidak terlalu menyimaknya, karena aku tahu inti dari apa yang dia katakan. Aku menghabiskan waktu ku untuk melacak keadaan sekitar, memeriksa jika ada musuh yang ingin menyerang lagi.

"Kakashi-sensei, kita harus membantu mereka!" Seru Naruto, menarik perhatianku kembali ke percakapan di antara mereka. "Dia hanya berusaha membantu desanya!"

"Dia berbohong kepada kita," timpalku. "Dia menempatkan kita di keadaan yang berbahaya, Naruto."

"Karena itu kita harus membantunya! Kita adalah ninja, kita bisa membantu mereka dari keadaan yang berbahaya!" Kata Naruto dengan tegas, mata biru langitnya menatapku dengan tajam.

Aku menghela nafasku. "Kita seharusnya menjalankan misi sesuai dengan level yang diminta. Misi seperti ini sudah melampaui level yang diberikan, bukan C-rank lagi."

"Aku tidak peduli! Aku ingin membantu orang. Ayolah! Kita juga punya Kakashi-sensei!" Seru Naruto. Kebulatan tekad aura protagonis terlukis dengan jelas di wajahnya.

"Kenapa, kamu pikir kita tidak bisa mengatasinya? Kamu takut, Azura?" Tanya Sasuke, mengangkat satu alis matanya.

Aku membuka mulutku tetapi dipotong oleh Kakashi-sensei.

"Aku yang akan melawan ninja jika mereka datang. Kalian bertiga cukup hanya melindungi Tazuna-san. Aku ragu Gato mempunyai seseorang yang bisa mengalahkanku dalam pertarungan."

Aku mengerutkan keningku. Melipat tangan di dada.

Andaikan saja kamu tahu siapa musuh yang akan datang, Kakashi-sensei.

Aku tahu Kakashi-sensei adalah ninja yang elit, tetap saja keinginanku, ke-selfish-an, ku berteriak agar tidak melanjutkan misi ini, berteriak agar menjauh dari bahaya, berteriak untuk pulang.

Aku terdengar seperti pengecut.

Tetapi aku juga menyadari bahwa banyak hal yang terjadi di misi ini. Salah satunya adalah adegan dimana Sasuke mengaktifkan sharingan nya.

Tetapi ini adalah dunia nyata, sedikit saja salah, maka nyawa akan melayang. Bagaimana jika Kakashi-sensei tidak menang lawan Zabuza? Bagaimana jika Sasuke benar-benar mati saat melawan Haku?

Tetapi tidak ada yang bisa aku lakukan disini, Kakashi-sensei telah mengatakan bahwa kita akan melanjutkan misi ini. Benar dia itu adalah guru kami, tetapi dia tetaplah seorang atasan kami jadi keputusan mutlak berada di tangannya. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Aku menghembuskan nafasku, akhirnya menyerah.

"Aku akan kembali ke posisi seperti sebelummya dan melacak jika ada pergerakan yang mencurigakan. Naruto, berikan aku clone mu lagi."

[•••••]

Sebuah chakra yang besar dan mengerikan menghantam indra ku dan otot tubuhku tegang ketakutan, setiap insting ku berteriak untuk melarikan diri.

Zabuza.

Aku hampir saja terpeleset tetapi untung saja clone-Naruto menangkap lenganku dengan cepat.

Bahkan clone-Naruto terlihat cemas, bisa merasakan gelombang killing intent yang menuju dengan cepat ke arah kami.

Anjing. Tai. Babi.

Berbagai umpatan kasar melintas di pikiranku.

Dia semakin mendekat. Bergerak lebih cepat daripada kami. Aku bisa merasakan chakra nya yang bergerak tepat menuju ke lokasi kami.

Dengan cepat aku mengeluarkan kunai, lalu menusuk clone-Naruto yang berubah menjadi asap.Aku berharap Naruto dengan cepat memberi tahu Kakashi-sensei jika ada seorang jounin yang ingin memburuku.

Persetan.

Dia seharusnya tidak berada disini! Kami seharusnya masih mempunyai waktu setengah hari lagi untuk dekat dengan lokasi desa yang kami tuju. Yang dimana seharusnya Zabuza melemparkan pedang Kubikiribōchō miliknya ke arah tim tujuh!

Persetan dengan alur di manga. Semuanya berubah!

Apakah ini adalah hasil dari teori butterfly effect?!

Aku berharap setidaknya konsekuensi nya itu tidak secara langsung menimpa ku.

Tapi tidak.

Tuhan benar-benar membenciku!

[•••••]

Author's Note : Azura lu panik ya? Panik ga? Panik ga? Panik ga? Panik lah masa engga! Bwahahahahaha! *evil laugh*

Thanks for reading!

(fanfiction net aneh banget, buat teks italic atau bold aja gabisa)