Seorang jounin yang memburuku dengan kecepatan tinggi mengingatkanku pada Kakashi-sensei yang mengejarku untuk mengambil novel icha-ichanya pada saat tes lonceng.
Tetapi yang aku rasakan saat ini sangat berbeda dengan waktu itu, dimana Kakashi-sensei hanya mengeluarkan sedikit killing intent dan tidak benar-benar berniat untuk membunuhku, sedangkan yang aku rasakan saat ini adalah seorang missing nin tingkat A yang tidak segan-segan mengeluarkan semua killing intentnya dan benar-benar berniat untuk membunuhku.
Aku tidak bodoh untuk melawannya sendirian secara langsung. Walaupun aku memiliki kekuatan ghoul dan regenerasi yang sangat cepat, aku hanyalah seorang genin. Sedangkan Zabuza adalah seorang jounin dan shinobi yang sangat berpengalaman.
Aku berlari dengan kecepatan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku memaksakan seluruh tubuhku untuk berlari sekuat yang aku mampu dan berfokus pada chakra Kakashi-sensei yang meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi ke arahku.
Zabuza kini hanya berada dalam waktu sepuluh detik di belakangku. Karena aku tidak memiliki keberanian untuk melihat ke belakang, aku tidak melihat Zabuza melemparkan kunainya tepat ke arah tengkuk leherku.
Dan untuk kali ini aku benar-benar berterima kasih kepada tuhan yang sudah menciptakanku sebagai ghoul di dunia ninja sialan ini.
Bersamaan dengan kunai yang mengenai tengkuk leherku (aku tidak terluka), Kakashi-sensei muncul dengan kunai di tangan, sharingan menyala, dan aku bisa merasakan chakranya yang berdentum karena adrenalin.
Kakashi-sensei berdiri di tengah tanah lapang yang terbuka, tidak ada satupun air di sekitarnya.
Jauh berbeda dengan situasi di alur Naruto, dimana mereka bertarung di atas air.
Persetan dengan semua ini.
Aku jatuh ke tanah, membiarkan lututku tertekuk karena benturan. Sekejap kemudian aku kembali berdiri, membuka mulutku untuk berbicara tetapi panik dan adrenalin menyentak seluruh anggota tubuhku.
Dengan cepat aku melemparkan tubuhku ke sisi kanan tanah lapang bersamaan dengan pedang milik Zabuza yang hampir saja menyayat leherku.
Aku memang seorang ghoul yang tidak bisa terluka akibat benda tajam seperti pisau atau kunai. Tetapi benda seperti pedang, apalagi pedang legendaris seperti kubikiribōchō dapat membuatku terluka dengan cukup parah karena kekuatannya.
Dan aku tidak ingin merasakan betapa tajamnya pedang legendaris milik Kiri itu.
Kakashi-sensei dengan cepat pindah dari posisinya, kini dia berdiri di depanku. Membiarkan dirinya sebagai perisai manusia. Zabuza berdiri di seberang, kubikiribōchō tertimbun di batang pohon dan satu tangan memegang pada gagang pedang, matanya menatapku dengan penuh geli.
"Hah, lihat siapa disini," cemooh Zabuza dengan suara bariton yang bergemuruh. "Seorang gadis kecil yang bermain kunoichi dan sharingan no Kakashi."
Semua ketakutan di seluruh anggota tubuhku seketika menghilang setelah mendengar kata-kata Zabuza.
Gadis kecil?! Bah!
Secara refleks, mataku memelototinya dengan tajam dan tidak suka.
Satu alis Zabuza terangkat, dia menyeringai melihat perubahan lagakku.
"Dan sepertinya kunaiku tidak membuatmu terluka gadis kecil, aku yakin aku mengenai tengkuk lehermu. Apakah kunaiku tidak cukup tajam?"
Aku membuka mulut untuk menjawab tetapi dipotong oleh Kakashi-sensei.
"Oh, betapa cerdiknya dirimu," ucap Kakashi-sensei, suara penuh dengan nada sarkastik.
Zabuza menarik gagang pedangnya, batang pohon menjadi retak lalu tumbang ke tanah setelah dia menarik pedangnya.
"Kamu tidak akan memberi tahuku dimana si pembuat jembatan itu, kan?" Tanya Zabuza.
"Yup," jawab Kakashi-sensei dengan datar.
"Sayang sekali," cetus Zabuza. "Aku hanya perlu membunuh kalian berdua lalu memburunya. Aku bisa menemukan si pembuat jembatan itu dengan mudah, aku sudah mencium bau sakenya dari sini."
Lonjakan chakra keluar dari tubuh Zabuza setelah ia selesai berbicara. Zabuza memutar bahunya, meretakkan leher, lalu membuka posisi bersiap untuk menyerang. Killing intentnya menyapu seluruh tanah lapang.
Aku merasakan betapa tebalnya energi itu mengalir ke sekeliling tanah lapang. Tanganku mulai bergemetar ketakutan, tetapi kukepal tanganku dengan cepat.
Akan kubuktikan bahwa aku bukan gadis kecil seperti yang ia bilang.
Persetan dengan alur cerita asli Naruto.
Aku akan memakan Zabuza.
Aku bisa merasakan mata kiriku berubah, rinkaku berteriak untuk keluar mengambil dan mencabik seluruh daging tubuh Zabuza, nafsu ghoul berteriak untuk memakan seluruh tubuhnya.
"Azura."
Kakashi-sensei memanggilku dengan tajam, dia melirikku dari balik bahunya, mataku berkedip beberapa kali menatapnya dengan pandangan kosong.
"Tenang Azura," ucapnya pelan.
Oke.
Oke.
Aku menarik nafas secara perlahan, menenangkan diri dan meredam semua nafsu ghoulku dengan perlahan, mata kiri yang bewarna ungu terang berubah menjadi biru laut.
"Baik, Kakashi-sensei," gumamku dengan pelan.
"Bagus. Pergilah berkumpul dengan anggota tim lainnya," perintah Kakashi-sensei dengan tenang.
Aku ingin menolaknya, aku ingin berteriak padanya bahwa aku bisa melawan Zabuza, bahwa aku bisa mencabik seluruh tubuhnya.
Tetapi pikiran dan logika menyuruhku untuk mengikuti perintahnya, menyuruhku untuk percaya pada Kakashi-sensei yang bisa mengurus Zabuza sendirian karena dia adalah ninja elit. Salah satu jounin terkuat yang dimiliki Konoha. Bahwa aku hanya akan menghalanginya karena secara bersamaan dia tidak hanya berfokus melawan Zabuza saja tetapi juga berfokus untuk melindungi geninnya.
Dan akhirnya aku mengikuti logikaku.
"Baik," jawabku dengan singkat, bersiap untuk menuju ke arah dimana Naruto dan Sasuke berada.
Tetapi Zabuza tidak bodoh, langkahku terhenti saat merasakan replika tubuh Zabuza yang terbuat menggunakan jutsu clone air. Kakashi-sensei dengan cepat melemparkan kunai untuk mencegat clone-Zabuza yang ingin menyerangku, tetapi clone-Zabuza meloncat ke salah satu batang pohon, kunai yang dilempar oleh Kakashi-sensei mengenai batang pohon yang didiami oleh clone-Zabuza.
Sedetik kemudian, Zabuza yang asli menyerang Kakashi-sensei dengan kubikiribōchō tetapi tidak mengenai Kakashi-sensei yang menggunakan shunshin untuk berdiri di depanku.
"Kakashi-sensei, biarkan aku mengurus clone nya," ucapku dengan serius, memotong Kakashi-sensei yang ingin mengatakan sesuatu.
Mata kiriku kembali berubah, kagune rinkaku keluar secara perlahan.
"Benda tajam tidak akan melukaiku," sambungku.
Tetapi pedangnya bisa melukaiku.
Aku tidak mengatakan itu pada Kakashi-sensei.
Kakashi-sensei memandangku dengan serius, mata kiri sharingan menatap secara langsung ke mata kiri kakugan milikku.
Pada akhirnya Kakashi-sensei menganggukan kepalanya.
"Kamu cukup melukai clone itu untuk menghilangkannya. Setelah itu kamu langsung pergi kembali ke timmu, mengerti?"
Aku tersenyum. "Mengerti sensei."
"Sudah selesai berbicara?" Sahut Zabuza, nada mencemooh. "Mari kita bertarung."
Melawan clone-Zabuza tidak separah yang kuperkirakan. Karena kekuatan clone-Zabuza tidak sama dengan kekuatan Zabuza asli yang kini sedang bertarung sengit melawan Kakashi-sensei.
Aku merasakan waktu berjalan cukup lambat, merasakan bahwa aku sudah bertarung dengannya berjam-jam tetapi pada kenyataannya hanya dua menit yang berlalu.
Clone-Zabuza dengan cepat menyadari bahwa kunai tidak bisa melukaiku, dia menggunakan pedangnya untuk melawanku, tetap saja kekuatannya itu tidak sama dengan yang asli, karena lawanku adalah clone berserta dengan atribut senjatanya.
Clone-Zabuza juga tidak mengeluarkan jutsu. Aku bisa merasakan chakranya tidak cukup untuk mengeluarkan jutsu.
Keberuntungan berada dipihakku.
Clone-Zabuza kembali menyerangku dengan pedangnya, dia lebih cepat dan lebih kuat dariku, tetapi pedang clone itu tidak bisa melukai kagune rinkaku. Butuh kekuatan dari Zabuza yang asli untuk bisa melukai kaguneku.
Aku kembali menangkis pedangnya dengan tentakelku.
Clone-Zabuza menyeringai. "Tidak buruk untuk gadis kecil sepertimu."
Aku mendengus dengan kesal, memelototinya dengan tidak suka.
Dia sudah memanggilku dengan sebutan itu untuk kesekian kalinya!
Aku mengepal tanganku. Menyerang clone-Zabuza dengan tentakel kedua, dia meloncat dengan cepat untuk menghindarinya.
Tetapi itu kesalahannya.
Aku menyeringai saat tentakel ketiga bergerak dengan sangat cepat menuju ke tempat dimana ia meloncat, clone-Zabuza masih bisa menghindarinya dengan cepat, namun tentakel pertamaku sudah menunggu untuk mengunci tubuhnya di tempat dimana clone-Zabuza melompat.
Bingo.
Tentakel pertama mengikat tubuhnya dengan erat, ia terjatuh ke tanah bersamaan dengan kubikiribōchō miliknya. Aku bisa merasakan clone-Zabuza melawan dengan sekuat tenaga untuk melepaskan dirinya dari ikatan kagune rinkaku.
"Tch," gerutuku pelan.
Tentakel yang kedua bergerak dengan cepat untuk menikam kepalanya, tetapi clone-Zabuza membuktikan bahwa dirinya adalah seorang jounin tingkat A, dengan cepat ia melemparkan kubikiribōchō ke arahku menggunakan dua telapak kakinya sebelum tentakelku menikam kepalanya.
Aku bisa merasakan tajamnya kubikiribōchō yang tepat mengenai perutku. Pedang itu menghilang bersamaan dengan clone-Zabuza.
"What the fuck," gerutuku tidak percaya, menatap bagian kiri perutku yang terluka, aku bisa melihat tubuhku beregenerasi dengan cepat. Tetapi pedang yang menyerangku tadi melukai tubuhku dengan luka yang cukup dalam, sehingga proses regenerasi membutuhkan beberapa waktu untuk mengobati luka secara total.
Aku mulai berkonsentrasi untuk merasakan chakra Naruto, Sasuke dan Tazuna. Dan memeriksa keadaan sekitar untuk merasakan gerak-gerik lainnya, merasakan jika ada Haku yang menunggu, bersiap untuk menyerang.
Aku hanya merasakan chakra teammateku yang kini tidak jauh dari lokasi dimana aku berada, hanya setengah menit.
Menghela nafas lalu aku berlari menuju ke arah Naruto dan Sasuke, seperti apa yang diperintah oleh Kakashi-sensei. Satu tentakel rinkaku membaluti perutku yang terluka.
"What the fuck, Zabuza," ulangku kembali, ketidakpercayaan masih terlukis dengan jelas di wajahku. "Menggunakan telapak kaki?! What the fuck Zabuza?!"
Pikiranku mengenai bagaimana Zabuza bisa melemparkan pedang besar seperti kubikiribōchō dengan dua telapak kakinya buyar setelah aku melihat Naruto dan Sasuke berlari, meninggalkan Tazuna yang terpongoh-pongoh mengikuti mereka dari belakang.
Naruto dan Sasuke berhenti saat melihatku. Mereka menatapku dari atas ke bawah dengan teliti. Aku tahu kondisiku sangat kacau, rambut yang berantakan, pakaian kotor oleh tanah dan darah. Terlihat baru saja pulang dari medan perang.
Aku melambaikan tangan dengan tidak semangat menirukan gaya Kakashi-sensei saat ia terlambat.
"Yo."
"Azura..." mata Naruto membola saat melihat kondisiku, sekejap kemudian ia menyipitkan mata biru langitnya pada tentakel yang membaluti perutku.
"Azura, mengapa kagunemu melingkari perutmu?" Tanya nya dengan pelan.
Aku menelan air liurku, kerongkongan terasa kering. Melihat Naruto tenang seperti saat ini membuatku merinding.
Naruto mulai mendekatiku, melangkah maju dengan perlahan, masih menatap kaguneku.
Kagune yang berlumuran darah.
Naruto membuka mulutnya tetapi dipotong oleh Sasuke.
"Itu darahnya siapa?"
Sasuke mulai berjalan mengikuti Naruto, berdiri di depanku, menatapku tanpa ekspresi.
Dari sudut pandanganku, aku bisa melihat Tazuna yang baru sampai di belakang Naruto dan Sasuke, nafasnya tidak teratur karena berlari mengikuti dua ninja itu.
"Kalian tidak menjaga Tazuna-san," ucapku, mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka.
"Itu darahnya siapa."
Sasuke mengulang kata-katanya, kali ini mata hitamnya menatapku dengan tajam.
Aku menghela nafas. Menahan emosi agar tidak membentak kedua teammateku.
"Azura, buka tentakelmu... kamu... kamu terluka. Aku tahu kamu terluka, itu darahmu. Kamu selalu menyembunyikan lukamu dengan kagunemu," ucap Naruto dengan pelan, dia memelototi kaguneku.
Itu memang kebiasaanku untuk menutupi luka dengan kaguneku. Naruto tahu tentang itu karena kami sering berlatih bersama sebelum menjadi genin. Pada saat latihan bersama Hide, aku sering terluka oleh pisau-pisau kecil ukaku miliknya. Dan aku selalu menutupi lukaku dengan kaguneku.
"Tidak bisa Naruto," aku menarik nafasku dengan perlahan. "Lukaku cukup dalam."
"Bagaimana kamu bisa terluka Azura?"
"Siapa yang melukaimu seperti itu? Dimana Kakashi?"
Naruto dan Sasuke bertanya dalam waktu yamg bersamaan, mereka memelototi satu sama lain selama beberapa detik, kemudian mengalihkan perhatian mereka kembali kepadaku.
"Dia sedang melawan missing-nin," gumamku sambil mengambil botol air minum dari scroll ninja dikantongku.
"Apa?" Seru Naruto, matanya kembali menatap kaguneku. "Kita harus pergi membantunya."
"Tidak Naru-"
"Missing-nin itu yang membuatmu terluka kan?" Tanya Naruto, tangannya mengepal. "Bagaimana jika Kakashi-sensei juga terluka olehnya?"
"Kakashi-sensei itu seorang jounin, Naruto. Dia kuat," jawabku.
"Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja!" Mata biru langitnya bersinar dengan determinasi yang kuat. "Kita harus membantu rekan setim kita!"
"Jika kita mencoba untuk membantunya, kita hanya menghalanginya, Naruto," kataku dengan sabar. "Kita harus tetap disini, biarkan dia berjuang, dan kita harus menjaga klien untuk tetap aman."
Naruto mengepalkan kedua tinju, aku bisa merasakan chakranya bergetar. "Tidak!"
Naruto dengan cepat lari melewatiku, lari menuju ke arah pertarungan dimana Zabuza dan Kakashi-sensei berada.
"Naruto!" Teriakku frustasi.
"Dasar bodoh," Sasuke mendengkus.
"Aku akan mengejarnya," kataku lalu menoleh kepada Sasuke. "Bisakah kamu tinggal-"
"Aku ikut."
Ah betapa inginnya aku menarik seluruh rambutku dengan frustasi. "Kakashi-sensei memerintahkan kita untuk menjaga klien, Sasuke."
"Aku bisa melakukannya secara bersamaan," jawab Sasuke, matanya kembali melirik kagune yang membaluti tubuhku lalu ia menoleh ke arah dimana Naruto pergi.
"Aku tidak akan membiarkanmu dan si idiot itu melakukan sesuatu yang bodoh dan membahayakan misi."
"Astaga- oke oke baiklah," aku menghela nafasku.
"Tazuna-san, mohon tahan sebentar."
Aku tidak menunggu responnya, dengan cepat kagune rinkaku kedua mengikat tubuh Tazuna.
Tazuna mulai memprotes, tapi aku mengabaikannya.
"Ayo ikuti aku."
"Hn."
Bersamaan saat kami tiba di lokasi, aku melihat Naruto yang melemparkan dirinya di antara Zabuza dan Kakashi yang sedang melakukan pertarungan jutsu antar jutsu.
"NARUTO!"
Aku melemparkan Tazuna ke arah Sasuke, lalu dengan cepat melompat ke salah satu pohon untuk menyelamatkan Naruto dengan tentakelku pada saat dua jutsu saling bertabrakan.
Aku bisa merasakan chakra Kakashi-sensei yang bergerak cepat menuju ke arah Naruto. Dengan cepat aku mengarahkan kagune rinkaku ketiga ke arah Kakashi-sensei. Masing-masing dua tentakelku mengikat tubuh mereka dan aku membawa mereka menuju ke tempat dimana Sasuke berada.
Beberapa detik kemudian aku merasakan chakra asing lainnya yang memasuki tanah lapang, melihat seseorang yang memakai topeng dan menggunakan seragam khas hunter-nin dari Kirigakure yang melemparkan tiga senbon tepat mengenai leher Zabuza.
Haku.
Kakashi-sensei yang tadinya berdiri di depan Naruto dan Sasuke, menggunakan shunshin menuju ke lokasi dimana tubuh Zabuza terjatuh. Ia membawa jarinya untuk memeriksa leher Zabuza, memastikan bahwa pria itu sudah tidak bernyawa.
Zabuza memang terlihat sudah mati. Denyut nadinya sudah tidak ada.
Tetapi aku masih merasakan sedikit chakra dari tubuhnya. Menandakan bahwa Zabuza masih hidup.
Aku mengambil kunai dari kantong celanaku. Genggamanku terhadap kunai sangat erat.
Persetan dengan alur asli.
Kakashi-sensei bisa melihat gerakanku dari tempat dimana ia berdiri. Mata abu-abu tunggalnya menyipit, aku bisa melihat postur tubuhnya menegang.
Kami saling bertukar pandang untuk beberapa detik.
Dengan cepat aku melemparkan kunai tepat ke arah leher Zabuza.
Haku bergerak cepat untuk mencegat kunai yang kulempar. Kakashi-sensei mengikuti Haku, menyerang seperti halnya ular berbisa, dalam satu gerakan yang fasih ia menikam tenggorokan Haku dengan kunai.
Tubuh Kakashi-sensei terhuyung ke depan bersamaan dengan Haku yang terjatuh ke tanah di depan kakinya. Kunai tertanam di lehernya dan darah mengalir dengan deras dari tubuhnya.
Makan. Makan. Makan.
Stop.
Aku menarik nafas dengan perlahan, meredam semua nafsu ghoulku yang berteriak untuk menyantap tubuh Haku.
Kepala Haku terbentur ke tanah, topeng terlepas memperlihatkan wajah cantik dari anak laki-laki yang tidak pantas mati dengan cara yang mengerikan seperti itu. Tersedak oleh darahnya sendiri, kunai tertancap dalam di tenggorokannya, matanya terbelalak dan satu tangan berada di sekitar tenggorokannya, usahanya yang lemah untuk mencabut senjata itu sia-sia.
Aku bisa melihat mata Kakashi-sensei yang menatap tubuh Haku dengan rasa kasihan, ia membungkuk dan menyelesaikan pekerjaannya. Kakashi-sensei mengambil kunai yang lain dari kantong celananya dan menikam leher Haku dengan sekali sentakan untuk mempercepat proses kematian.
Aku meredam semua emosiku, meredam semua logika yang membanjiri pikiranku dengan berbagai skenario dimana aku bisa mencegah kematian anak laki-laki itu.
Aku selfish. Aku lebih memilih keselamatanku dan timku daripada menempatkan diri dalam bahaya.
Dari sudut pandanganku, aku bisa melihat Naruto dan Sasuke berwajah pucat, meringis saat melihat Kakashi-sensei menyelesaikan pekerjaannya.
Mereka sudah melihat banyak kematian dalam satu misi C-rank terkutuk ini. Melihat Haku, seseorang yang berusia tidak begitu jauh daripada mereka, menyadarkan mereka bahwa dunia shinobi tidak memilih-milih untuk membunuh, siapapun musuhnya baik itu orang dewasa atau anak-anak di bawah umur, mereka semua akan menjadi target.
Kakashi-sensei berjalan menuju dimana Naruto dan Sasuke berdiri, aku mengikutinya dari belakang. Sekejap kemudian aku tersentak melihat tubuh Kakashi-sensei yang mulai terhuyung-huyung tidak terkendali, dengan cepat aku menangkap tubuhnya dengan kaguneku sebelum dia jatuh ke tanah.
Aku berlutut, memeriksa tubuh Kakashi-sensei. Dia memiliki beberapa luka-luka di sekitar lengan dan paha. Tetapi tidak ada luka yang cukup dalam seperti luka di perutku. Kakashi-sensei pingsan karena kehabisan chakra.
Tetapi luka-luka seperti ini jika tidak diobati maka akan terinfeksi dengan mudah. Aku mengingat kata-kata Tatsuya bahwa nyawa seseorang dapat melayang hanya karena infeksi, bukan karena kehabisan darah saja.
Aku mengeluarkan scroll khusus peralatan medis dari kantongku, karena di sekitar tidak ada air bersih, aku hanya membaluti luka-lukanya dengan perban.
Dibutuhkan waktu tiga menit dibantu oleh Sasuke untuk membaluti luka-luka di tubuh Kakashi-sensei.
"Siapa yang akan mengurus mayat-mayat itu?" Tanya Sasuke.
Aku meliriknya dengan sekilas, kulitnya sangat pucat, ia menatap mayat Haku dengan pandangan jijik yang tidak tersembunyikan oleh matanya.
"Mayatnya hanya satu," jawabku.
Aku melihat mata Sasuke terbelalak kaget. "Maksudmu-"
"Pria yang besar itu masih hidup."
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Naruto.
Wajah Naruto tidak kalah pucat dengan Sasuke. Kedua tangan bergemetar, pandangannya mondar-mandir dari Kakashi-sensei, mayat Haku, tubuh Zabuza, dan kagune yang masih membaluti perutku.
Dan sekarang Kakashi-sensei tidak sadar, dia tidak bisa memberi kami perintah atau mengarahkan kami seperti biasa. Kakashi-sensei juga tidak menunjuk siapa yang harus menjadi komando untuk menggantikan dirinya.
"Aku yang akan mengurusnya," gumamku.
"Kenapa kamu yang mengurusnya?" Tanya Sasuke. Matanya menyipit menatapku dengan tajam. "Aku bisa-"
"Aku bukan bermaksud seperti apa yang kamu pikirkan, Sasuke," aku menghela nafasku. "Aku tahu kamu bisa mengurusnya, aku tidak bilang bahwa kamu tidak bisa melakukannya. Aku akan mengurus bagian ini, sementara kamu dan Naruto kembali menjalankan misi menuju rumah Tazuna dan melindunginya. Aku yang paling cocok untuk pekerjaan ini karena aku bisa melacak lokasimu, sedangkan kalian tidak tahu dimana lokasi rumah Tazuna. Aku tidak berpikir bahwa kamu tidak bisa mengurusnya, Sasuke."
Aku tahu bahwa Sasuke itu tidak bodoh, dia mengerti sekali maksudku. Hanya saja harga diri Uchiha nya tidak menerima bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Sasuke menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya. Pada akhirnya dia menganggukan kepalanya dengan singkat.
"Bagaimana dengan Kakashi-sensei?" Tanya Naruto dengan pelan. Rasa bersalah dan putus asa terlukis dengan jelas di wajahnya.
Aku membawa tanganku untuk menyapu kuncir rambutku sambil menghela nafas. "Naruto, kamu masih bisa mengeluarkan clone mu kan? Kamu bisa membawa Kakashi-sensei dengan bantuan clones."
Naruto mengangguk, ia membentuk segel tangan dan dua replika dirinya muncul untuk membawa tubuh Kakashi-sensei.
"Aku mengenal lokasi ini," timpal Tazuna. Dia tidak begitu terganggu oleh bau darah dan pemandangan mayat di depannya. "Aku akan mengarahkan kalian menuju rumahku."
Sasuke mengangguk singkat dan mengikuti Tazuna, dua clones-Naruto yang membawa Kakashi-sensei juga mengikuti mereka.
Naruto hendak pergi tetapi kakinya terhenti saat dia melewatiku. Dia melirik kagune di perutku lalu menatap wajahku dengan berbagai emosi; gugup, takut, putus asa, rasa bersalah.
Aku hanya menepuk bahunya dengan lembut. Mengarahkan tubuhnya untuk mengikuti Sasuke.
Setelah beberapa menit menunggu mereka yang sudah berada cukup jauh dari lokasiku, aku memulai pekerjaanku mengurus mayat Haku dan membunuh Zabuza.
Aku bisa menyantap setiap tubuh mereka, aku bisa mencicipi betapa lezatnya daging mereka, aku bisa melahap seluruh-
Stop.
Aku meredam paksa nafsu ghoulku. Sepertinya jika aku terluka parah, nafsu ghoulku semakin liar. Padahal aku sudah menyantap porsi makananku untuk bulan ini.
Aku tidak bisa menyantap kedua mayat ini karena mayat mereka akan dibawa ke Konoha untuk diperiksa lebih lanjut. Dan aku tidak ingin mereka melihat kejanggalan di tubuh mayat-mayat ini, karena mereka akan membandingkan hasil laporan pertarungan oleh tim tujuh dengan hasil autopsi mayat-mayat ini.
Setelah mengurus mayat Haku, menyimpannya di scroll hitam. Aku berjalan menuju dimana tubuh Zabuza terbaring tidak bergerak.
Chakra di tubuhnya samar-samar, jika kau bukan seorang sensor yang tidak terlalu sensitif terhadap chakra maka kau tidak akan menyadarinya.
Karena itu Kakashi-sensei tidak merasakan chakra di tubuh Zabuza. Kakashi-sensei bukan sensor, tetapi kebanyakan jounin dan khususnya jounin elit seperti Kakashi-sensei sudah terbiasa merasakan chakra, hanya saja mereka tidak begitu sensitif terhadap chakra seperti sensor nin.
Aku berdiri di depan tubuh Zabuza, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membunuhnya, kagune rinkaku menikam lehernya dengan cepat.
Chakra Zabuza menghilang.
Aku menarik nafasku dengan perlahan, menyimpan mayatnya di scroll hitam.
Huh.
Kubikiribōchō, pedang sialan itu masih tergeletak di tanah.
Protokol Konoha tentang mengurus mayat menyatakan bahwa, shinobi tidak boleh meninggalkan jejak pertarungan kecuali pada saat perang atau situasi yang tidak memungkinkan. Tidak boleh meninggalkan mayat termasuk senjata yang tersisa.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan terhadap salah satu pedang legendaris dari Kiri ini. Aku hanya mengingat bahwa Suigetsu yang akan mengambil pedang ini nanti dari makamnya Zabuza. Tetapi tidak mungkin juga aku meninggalkan pedang ini tergeletak di sembarangan tempat.
Pada akhirnya aku menyegel pedang legendaris itu. Membawanya bersama dua scroll hitam.
Author's Note : weiiii zabuza! Si azura itu paling gasuka dibilang 'gadis kecil' tiati kalo ngomong!
Thank you for reading! Hope you like this chapter!
Btw aku baru saja membaca spoiler kalo (awas spoiler, boleh diskip) setengah ghoul alami macam si Eto Yoshimura bisa makan makanan manusia, karena setengah ghoul alami itu emang punya sistem campuran antara manusia dan ghoul.
Kalau Kaneki dia tidak bisa makan makanan manusia karena dia dapet transplant ghoul si Rize, full ghoul, jadi tubuhnya ngikutin sistem kerja tubuh si Rize. Aku juga ga begitu ngerti sistemnya tapi emng setengah ghoul alami dari lahir itu bisa makan makanan manusia.
Dan aku udh terlanjur buat Azura gabisa makan makanan manusia. Jadi anggep aja setengah ghoul alami itu gabisa makan makanan manusia di fanfic ku ini ya :(
