Disclaimer : Naruto belong's Masashi Kishimoto and Citrus belong's Ichijinsha.

typo(s), netorare, straight and etc. (trial)


(Naruto point of view)

aku benci pengkhianat.

aku merasa tidak aneh akan hal itu, semua orang pasti benci orang yang berkhianat. aku menjadi salah satu dari mereka.

apalagi ketika hatiku di permainkan sesuka hati seperti ini aku benar-benar benci.

tapi hari ini, tepat di depan mataku, gadis yang aku cintai, mengkhianati cintaku dan bermain di belakangku. sebenarnya apa salahku? aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya nyaman dan bahagia bersamaku, tapi apa balasannya.

gadis itu adalah pacar– ah mungkin mantanku –meskipun aku belum memutuskannya secara langsung– tapi aku merasa semenjak dia mengkhianatiku, maka hubungan kita berakhir.

hubungan yang kita bangun selama 4 tahun rusak karena mantanku berselingkuh bersama mantan sahabatku, yang lebih dulu mengkhianatiku.

hahaha, memang cocok pengkhianat berpasangan dengan pengkhianat.

aku marah, kecewa dan sakit. melihat mereka bermesraan seolah-olah mereka adalah satu-satunya pasamgan paling bahagia di dunia ini.

tanganku mengepal erat, tatapanku menatap jalanan aspal. di seberang jalan, tepatnya di dalam sebuah cafe, aku melihat mereka dari balik jendela. mereka mungkin belum menyadari keberadaanku.

aku mengambil gambar mereka untuk jadi bukti agar hubunganku bebas dari gadis pengkhianat itu. astaga, aku benar-benar benci.

setelah itu aku pergi meninggalkan mereka, terlalu sakit melihat mereka bersama.

cih, aku sangat ingin menghancurkan mereka.

tanpa aku sadari, setetes demi setetes mengalir air mata dari pelupuk mataku. aku menyekannya dengan kasar.

"apa kau tangisi, bodoh. mereka itu pengkhianat" tapi bukannya berhenti, air mataku terus keluar.

aku berhenti di dekat taman yang sangat sepi, aku duduk di bangku yang terletak disana. aku menunduk dan menutup wajahku.

"meski aku benci tapi aku juga sakit melihatnya. apa kurang ku selama ini" aku menangis. biarlah orang berkata apa, aku juga masih punya hati. masih bisa merasa sakit ketika orang yang dicintai mengkhianatiku.

"kuso"

aku berusaha mengeluarkan semua rasa sakit di hatiku dengan menangis sendirian di taman.

aku bertekad, setelah ini aku tidak sudi berurusan dengan para pengkhianat itu. namun, sebelum itu aku harus mengeluarkan rasa sedih di hatiku karena pengkhianatan ini.

–oxo–

(normal view)

setelah tiga hari lamanya mengurung diri dan memutuskan semuanya di apartemannya sendirian. hari ini Naruto membuat janji dengan pacar– mantannya maksudnya, untuk bertemu hari ini.

"Naruto!"

Naruto menatap gadis itu yang kini sudah berlari kearahnya dengan wajah senang, setelah jarak mereka semakin dekat, gadis itu melompat masuk dalam pelukan Naruto.

"aku merindukankanmu, kemana kamu selama tiga hari ini? kenapa ponselmu mati?" gadis itu menuntut Naruto dengan pertanyaan, tak lupa wajahnya yang cemberut lucu.

seandainya Naruto tak melihat kejadian tiga hari yang lalu, mungkin dia mencubit pipi tembemnya. sayangnya perasaan itu hancur lebur sekarang.

"Yuzu, lepaskan pelukanmu, orang-orang melihat" ucap Naruto sedikit dingin.

Yuzu, gadis itu mengerutkan kening dengan tingkah pacarnya yang hari ini berbeda. dia biasanya ramah dan dia bahkan tidak peduli dimanapun mereka, biasanya Naruto akan memeluknya, tapi hari ini...

"ada apa Naruto? kamu ada masalah?" tanya Yuzu bingung, dia melepaskan pelukannya dan menatap Naruto.

belum.

belum Naruto.

"tidak ada, ayo kita pergi" Naruto berjalan lebih dulu meninggalkan Yuzu yang terkejut melihat sikap kekasihnya yang tampak berbeda, lebih dingin dan cuek. biasanya mereka berjalan sambil bergandengan tangan.

tujuan mereka hari ini adalah wahana bermain yang cukup terkenal Disneyland.

"wah, aku mengingat kencan pertama kita" Yuzu tertawa senang. mengingat awal kencan mereka, di tempat sama. berbeda dengan Yuzu yang antusias, Naruto terkesan tak peduli.

"ayo!"

selama menaiki wahana yang berbeda-beda, hanya Yuzu yang menikmatinya, sementara Naruto hanya memasang wajah datar. ini bagian dari rencananya agar bisa memutuskan Yuzu, bersenang-senang bersamanya sebelum berpisah.

"Naruto, terima kasih sudah mengajakku hari ini, aku benar-benar menikmatinya" Yuzu berlari kecil ke depan meninggalkan Naruto. mereka saat ini sudah berada di jalan menuju pulang. mereka memutuskan untuk mengakhirinya setelah hari sudah mulai gelap.

"hmm"

Yuzu cemberut mendengar respon Naruto, dia berbalik dan berdiri di hadapan Naruto yang berhenti melangkah. dia menunjuk tepat di wajahnya.

"kamu ini kenapa sih, kayak orang gak mood. kalau kamu memang gak bisa pergi hari ini seharusnya kamu gak perlu memaksakan diri" ucap Yuzu kesal. selama permainan, dia seperti berbicara dengan patung karena terkadang Naruto mendiamkannya.

Naruto menundukkan pandangannya, matanya tertutup oleh rambutnya. seharusnya dia yang marah.

"ne- Yuzu"

"apa?"

"aku mau kita putus"

"hah?" tubuh Yuzu membeku mendengar kalimat itu dari bibir Naruto. sebelum Yuzu tertawa, karena mengira dia sedang bercanda. Naruto kan orangnya suka jahil.

"Naruto, hahahah bercandaan kamu tidak lucu" Yuzu menyeka air mata yang keluar karena tertawa. beruntung suasana jalan sedang sepi.

"aku serius!"

saat itulah raut wajah tak percaya dan terkejut muncul di wajah Yuzu. apalagi wajah dingin dan perubahan sikap Naruto yang tak biasa hari ini.

"tapi kenapa? apa kamu bosan padaku? apa aku tak menarik lagi?" Yuzu sudah memajang wajah sendunya, dia hendak memegang lengan Naruto tapi pemuda itu lebih dulu menjauhkan lengannya.

Naruto mengangkat wajahnya dengan cepat lalu menatap Yuzu dengan tatapan marah.

"kenapa katamu? kamu bilang kenapa aku memutuskanmu?" gertak Naruto, dia mengepalkan tangannya dengan erat. dia tak peduli dengan Yuzu yang terkejut melihatnya menggertaknya. "...karena kamu berkhianat padaku!"

"apa maksudmu? aku tidak mengkhianatimu, Naruto" Yuzu membuat Naruto percaya padanya, dia berusaha mendekati pemuda itu, sayangnya pemuda itu dengan cepat menjaga jaga jarak darinya.

"Yuzu, aku benci pembohong dan aku benci pengkhianat!" ucap Naruto tajam.

perlahan-lahan mata Yuzu berkaca-kaca.

"tapi aku tidak berbohong padamu" Yuzu berteriak untuk meyakinkan Naruto.

Naruto menggertakkan giginya marah. tanpa mengatakan apapun, Naruto mengambil ponselnya dan memperlihatkan layarnya pada Yuzu yang terkejut melihatnya.

"lalu ini apa, hah? apa?!"

Yuzu terdiam membisu melihat layar ponsel Naruto.

"Na-Naruto- i-tu... aku bisa jelaskan"

"sudah, cukup! mulai saat ini hubungan kita berakhir! jangan pernah menghubungiku lagi!" bentak Naruto. menolak mendengarkan seluruh omong kosong dari mantannya.

Yuzu mulai menangis. dia tidak ingin hubungan mereka berakhir. Naruto adalah orang yang berharga baginya setelah mereka menghabiskan waktu bersama 4 tahun lamanya.

tanpa mengatakan apapun lagi, Naruto meninggalkan Yuzu sendirian tak peduli walau gadis itu menangis.

"Naruto, tunggu!" Yuzu dengan cepat memeluk Naruto dari belakang, menahan agar laki-laki itu tak meninggalkannya.

"lepaskan, aku!" ujar Naruto dingin

namun, bukannya melepaskan, Yuzu semakin mengeratkan pelukannya. dia menangis dan membenamkan wajahnya di punggung lebar Naruto.

"tidak! sebelum kamu mendengarku"

"buat apa?"

"kamu salah paham"

"salah paham apanya, kamu harus tau kalau sekarang 'dia' tak ada hubungan apapun lagi setelah dia mengkhianatiku lalu kamu dengan mudahnya berhubungan di belakangku!" Naruto bisa merasakan tubuh Yuzu menegang.

"Naruto..."

"cukup, Yuzu! aku tidak ingin mengatakan ini lagi, kita sudah tidak memiliki hubungan sekarang" dengan kasar Naruto melepaskan pelukan Yuzu dan pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.

Yuzu berjongkok dan menangis, memandangi punggung Naruto yang kian menjauh. apa yang harus dia lakukan sekarang.

tidak!

dia tidak boleh kehilangan Naruto.

Naruto hanya miliknya.

dan Naruto tidak boleh mengakhiri hubungan mereka begitu saja.

dengan cepat Yuzu berdiri dan mengejar Naruto, setidaknya dia harus berjuang kembali agar hubungan mereka tidak berakhir.

pikirannya kacau, meski Naruto sudah memikirkan ini matang-matang seharusnya semuanya berjalan dengan lancar. dia tidak perlu repot-repot lagi memikirkan perasaan ini. tapi bagaimanapun semua itu tak mudah.

4 tahun bukan waktu yang sebentar, banyak mereka lalui bersama. meski sakit, dia senang beberapa momen yang mereka bangun bersama.

Naruto berjalan linglung menyebrangi, dia sedikit merasa putus asa. sakit tetaplah sakit, itu tak akan berubah.

dia sibuk menyelami pikirannya hingga tidak sadar sebuah mobil berkecepatan cepat menuju kearahnya.

"NARUTO!"

BRAK!

CKIT!

belum sempat Naruto melihat kebelakang, dia merasa tubuhnya terlempar ke depan menabrak trotoar jalan, karena seseorang baru saja mendorong punggungnya.

"aduh-"

mata Naruto melirik tempat dia berjalan tadi, beberapa orang mulai berkerumun dan beberapa pengendara berhenti. dengan cepat Naruto menerobos kerumunan itu, dia merasa seseorang menyelamatkannya.

"YUZU!"

Naruto dengan cepat memeluk tubuh Yuzu yang bersimbah darah, terlebih kepalanya.

"panggil ambulans, CEPAT!" teriak Naruto ketakutan. dia tidak peduli dengan perhatian orang-orang.

dia memangku kepala Yuzu yang kini sudah tidak sadarkan diri. Naruto menangkup wajah Yuzu dan dengan lembut mengusap pipinya.

"Yuzu, bangun! Yuzuuuuuu!"

oxo

Naruto duduk termenung di ruang tunggu unit gawat darurat, dia tidak peduli jika tangan dan tubuhnya masih terdapat bekas darah, yang terpenting adalah keselamatan Yuzu.

bukan ini yang dia inginkan. dia tidak membenci Yuzu hingga ingin menghilangkan itu dari dunia ini.

meski rasa bencinya ada tapi tetap saja cintanya pada masih memegang tahta tertinggi di hatinya. tidak semudah itu melupakannya.

Naruto hanya ingin setelah hubungan mereka berakhir, mereka punya kehidupan sendiri-sendiri. tapi bukan seperti ini. dia masih ingin melihat Yuzu lagi.

"Naruto-kun"

Naruto menoleh untuk melihat seorang wanita paruh baya datang dengan wajah penuh cemas dan khawatir.

"bibi" Naruto berdiri menyambut wanita itu, lebih tepatnya ibu Yuzu, Ume.

Ume menatap Naruto ngeri karena darah yang sudah mengering di sekujur tubuhnya. dia menjadi takut akan nasib putrinya.

"apa yang terjadi?" Ume masih berusaha meminta kejelasan dari Naruto soal peristiwa yang terjadi terhadap putrinya.

Naruto menundukkan kepalanya merasa bersalah. "Yuzu menolongku dari kecelakaan" ucapnya sesal

Ume menutup mulutnya tak percaya, dia tau bagaimana putrinya mencintai pemuda di hadapannya.

"maafkan aku bibi, seharusnya aku yang..."

"tidak apa-apa, Yuzu melakukannya karena dia mencintaimu" Ume memotong ucapan Naruto, agar pemuda itu tidak merasa bersalah. dia tidak menanggapi ucapan Ume.

sayangnya ucapan Ume semakin Naruto merasa marah dan menyesal. marah karena kalimat itu terdengar omong kosong dan menyesal karena melibatkan orang lain dalam kejadian tadi.

"lebih baik bersihkan dirimu terlebih dahulu"

Naruto menurut. dia pergi ke toilet. dia membersihkan noda darah yang ada di tangannya, sebelum menatap dirinya di cermin besar yang terletak disana.

"menyedihkan sekali"

Naruto mengcengkram kepalanya frustasi. dia tidak ingin ini terjadi.

oxo

Naruto menunggu Yuzu untuk sadar, dia tidak meninggalkan rumah sakit. dokter mengatakan kondisi Yuzu sudah stabil, dia mengalami cedera pada kepala, dia hanya tertidur karena obat bius. sedikit banyaknya Naruto bersyukur karena kondisi Yuzu yang baik-baik saja.

Ume pergi untuk menebus obat untuk putrinya. meninggalkan mereka berdua di ruang rawat Yuzu.

"aku lega kamu baik-baik saja..." Naruto memecah keheningan setelah terdiam cukup lama, dia tersenyum tipis. "...tapi maaf Yuzu, meski kamu sudah menolongku, hubungan kita tetap berakhir. tapi aku berjanji untuk merawatmu terlebih dahulu sampai kamu sembuh" jelas Naruto, dia menatap Yuzu yang masih di bawah pengaruh bius.

Naruto terus memperhatikan Yuzu hingga gadis itu mulai menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Naruto dengan cepat memencet tombol yang terletak di samping brankar.

"Yuzu, bisakah kamu mendengarku?" ucap Naruto pelan di samping Yuzu.

mata Yuzu perlahan-lahan terbuka, dia masih menyesuaikan objek yang ada di sekitarnya. tatapan Yuzu pertama kali menangkap langit-langit rumah sakit.

"Yuzu..."

Yuzu mengalihkan pandangannya pada Naruto.

"Naruto?" Yuzu berusaha mengingat apa yang terjadi tetapi sayangnya dia tidak menemukan apapun dalam memorinya. "apa yang terjadi?" tanyanya.

"banyak hal yang terjadi" jawab Naruto seadanya.

Yuzu kembali menatap langit-langit kamar rawatnya, tangannya memegang kepalanya yang di perban.

"begitu, yah? maaf kalau aku merepotkanmu"

Naruto enggan menjawab.

"Yuzu..."

"oh yah, Naruto, bagaimana dengan ujian masukmu?" Yuzu memotong ucapan Naruto dengan pertanyaan.

Naruto mengerutkan keningnya bingung.

"ujian masuk?"

"bukankah ujian kelulusan SMP kita seminggu lagi, kenapa kamu masih bertanya. bukannya kamu ingin masuk ke Aihara Akademi yah?" Yuzu bertanya seolah-olah itu adalah hal yang normal.

Naruto berdiri dari tempat duduknya, terkejut dengan jawaban Yuzu.

"Yuzu jangan bercanda"

Yuzu tersentak dengan suara Naruto yang cukup tinggi.

"aku bertanya sesuatu yang salah?"

"yah, kamu tau kan ini sudah tahun berapa?"

"hmm, tahun..."

Naruto terkejut mendengar jawaban Yuzu yang mengatakan kalau tahun ini adalah tahun awal kelulusan sekolah menengah mereka.

"Yuzu, ini..."

"permisi"

seorang dokter dua suster masuk ke dalam kamar Yuzu dengan Ume yang mengekor di belakangnya.

"biarkan kami memeriksa pasien" dokter itu berkata dengan ramah.

"dokter, sepertinya terjadi sesuatu pada kepala Yuzu" Naruto melapor, berharap kalau ini gurauan Yuzu semata.

"baik, biarkan kami bekerja"

Naruto memberikan ruang pada dokter agar memeriksa Yuzu secara menyeluruh. dokter mengajukan beberapa pertanyaan.

bukan hanya Naruto, Ume ikut terkejut mendengar jawaban putrinya selama sesi pertanyaan.

"dokter ada apa dengan putriku?" tanya Ume cemas.

"bisakah kita berbicara di ruanganku, biarkan pasien beristirahat"

Ume dan Naruto mengikuti dokter dan membiarkan Yuzu beristirahat.

.

.

.

Naruto menutup pintu apartemennya, tubuhnya menyandar pada pintu apartemennya dan merosot ke bawah lantai.

ingatan masih segar akan perkataan dokter yang memeriksa Yuzu.

["pasien mengalami amnesia ringan, dimana beberapa memori otaknya sebagian terhapus. sebagaimana tadi waktu pertanyaan, ingatan pasien berhenti pada usia 15 tahun dan ingatannya memulai setelah itu"]

jika memang benar ingatan Yuzu menghilang dalam kurun waktu 4 tahun awal, itu berarti Yuzu hanya mengingat awal jadian mereka.

Naruto menjambak rambutnya frutasi, itu berarti Yuzu melupakan kejadian semalam. belum ada yang tau mengenai berakhirnya hubungan mereka.

jika orang-orang terdekatnya tau bahwa dia memutuskan Yuzu disaat seperti ini. itu berarti semua masalah yang menimpa mereka akibat pengkhianatan Yuzu akan berbalik padanya. Yuzu tidak mengingat perbuatannya.

terlebih lagi dokter melarang agar tidak memberikan tekanan psikis pada Yuzu, itu berarti jika Naruto meminta pisah pada Yuzu sekarang, itu berakhir buruk pada kesehatannya.

apa-apaan dengan keadaan ini. padahal Naruto sudah mempersiapkan diri agar terbebas dengan hubungan mereka tapi takdir seakan melarang mereka berpisah.

Yuzu tidak mengingat apapun dan Naruto tak memiliki saksi.

"aaaaargghhhhh"

Naruto merenung, kenapa ini bisa terjadi?

oxo

Naruto dengan lemas memasuki kawasan Aihara Akademi. dia sudah menghubungi Yuzu karena tidak bisa menjengukan dua hari, dia ingin menenangkan pikirannya. tentu saja dengan alasan yang bohong, Yuzu memaklumi.

"Naruto-senpai"

Naruto menoleh ketika seseorang memanggilnya.

"oh, hai Aihara"

Naruto menyapa gadis itu, Aihara Mei.

"senpai, kamu baik-baik saja? kamu terlihat pucat"

Naruto melambaikan tangannya.

"semuanya baik-baik saja"

namun, Mei tak percaya begitu saja, dia menaruh tangannya di kening Naruto, memeriksa jika laki-laki itu tidak terkena demam.

"kamu agak hangat, apakah sebaiknya kamu beristirahat di uks?" Mei menawarkan perawatan pada Naruto.

Naruto terkekeh pelan, dia merasa lucu sikap Mei yang khawatir dengan wajah datarnya.

"tidak perlu, aku baik-baik saja" Naruto memperhatikan bagaimana anggota osis bekerja dan bersiaga di sepanjang gerbang memastikan siswa dan siswi tak melanggar aturan. "bukankah kamu juga punya tanggung jawab, kamu kan ketua osis. aku baik-baik saja"

"tapi..."

"kita akan membicarakannya makan siang nanti, jangan sekarang, oke" Naruto mengacak rambut Mei dengan gemas, lalu meninggalkan gadis itu yang kini memegang kepalanya.

Mei menatap Naruto yang perlahan menjauh dengan pandangan netralnya seperti biasa.

.

.

.

"senpai, apa sudah selesai?" Mei bertanya pada Naruto yang masih sibuk menulis dan menandatangani beberapa berkas, membantu osis mengerjakan dokumennya yang terbilang tidak sedikit.

"sebentar lagi"

saat ini hanya mereka berdua yang berada di ruangan osis, anggota lain bekerja sesuai divisi masing-masing dan hanya Naruto yang memiliki luang untuk membantu Mei.

"nah, ini sudah selesai" Naruto menyusun beberapa kertas yang berserahkan, sebelum menggesernya pada Mai yang duduk di sebelahnya.

"ah- uhm, terima kasih senpai" Mai mengambil berkas yang sudah terisi lalu memberikan yang kosong pada Naruto lagi.

"hmm"

"maafkan kami merepotkanmu lagi" Mei mengalihkan pandangannya dari dokumen itu dan menatap Naruto yang tertawa kecil di sela-sela kegiatannya.

"ini kan bagian tugasku juga"

"yah, tapi bukankah seharusnya kamu mempersiapkan diri untuk kelulusan?"

"kalau itu masalah gampang, kami akan bekerja sama nanti dengan kelas lain dan bukankah osis juga ikut berpartisipasi?"

Mei mengangguk dan kembali memeriksa berkasnya.

Naruto kembali menyerahkan berkas yang tersisa pada Mei lagi.

"huaaa, akhirnya selesai juga" Naruto meregangkan tubuhnya setelah beberapa lama berkutat dengan kertas-kertas yang tidak akan ada habisnya. beruntung sekali jabatannya sebagai ketua osis sudah di ambil alih oleh Mei.

"terima kasih atas bimbinganmu selama dua tahun ini senpai"

"hahaha tidak perlu, aku hanya mengarahkan lalu kamu yang mengatur, tidak salah kamu di tunjuk sebagai ketua osis"

"ini juga dorongan dari senpai"

"ya, ya, jangan merendah seperti itu" Naruto berdiri dari tempat duduknya dan bersiap untuk pergi, "kalau begitu sampai jumpa" Naruto menepuk kepala Mei ketika dia melewati gadis itu.

"senpai"

Mei menahan Naruto sebelum pemuda itu membuka pintu ruang osis dan pergi.

"hmm?" Naruto menoleh menatap Mei yang masih membelakanginya.

Mei perlahan-lahan berdiri dari duduknya dan menghampiri Naruto yang berdiri di dekat pintu. tatapan Mei sangat serius, dia menatap Naruto intens.

"aku ingin mengatakan sesuatu"

"apa itu? apa ada masalah?"

"tidak ini antara aku dan kamu, senpai"

Naruto memutar tubuhnya agar bisa berdiri berhadapan dengan juniornya.

"ada apa?"

Mei tidak mengatakan secara langsung, dia menarik nafas sejenak dan memejamkan matanya sebelum menatap Naruto serius.

"senpai, aku menyukaimu"