Disclaimer :
Naruto punya Masashi Kishimoto
Shingeki no Kyojin punya Hajime Isayama
Warning : OOC, bahasa kurang baku, typo dan masih banyak lagi
cerita ini sebagian terinspirasi dari film Good Doctor.
"NARUTO!!" teriakan melengking itu menggema di sebuah lapangan luas yang di tumbuhi rumput dan pohon. anak laki-laki berusia hampir sebelas tahun itu tak beralih meski mendengar namanya di panggil, ia sibuk melakukan sesuatu di dekat sebuah pohon. hingga sebuah tangan menariknya dengan kasar memaksanya untuk berpaling.
"sudah kubilang jangan main terlalu lama disini, ayo kita pulang", sesosok anak laki-laki itu berusia hampir sebaya dengannya meneriaki dan menarik tangannya. namun, seorang anak perempuan datang menolongnya.
"Eren, berhenti bersikap kasar pada Naruto" anak perempuan menegur sikap anak laki-laki di panggil Eren itu. ia melepaskan cengkraman tangan Eren dari Naruto.
"jangan memanjakannya, Mikasa. kalau begitu kau yang bawa dia pulang" ucap Eren geram, perlahan meninggalkan Naruto dan anak perempuan itu, Mikasa.
Mikasa menghela nafas pelan, selalu dan selalu ia melihat Eren bersikap kasar pada saudaranya sendiri. perlahan ia beralih ada Naruto.
"Naruto ayo kita pulang" ucapnya lembut. anak laki-laki itu menatap Mikasa lalu berdiri dan mengikuti Mikasa untuk pulang
di tangannya ia memegang sebuah miniatur yang terbuat dari batang pohon, Mikasa sedikit terkejut melihatnya. ia mendekatkan tubuhnya pada Naruto dan melihat karya buatan Naruto.
"apa itu Naruto?"
"kapal" anak laki-laki itu menjawab seadanya.
"kapal? kapal apa?" Mikasa bertanya lagi, Naruto membawanya kedepan dan memperlihatkan pada Mikasa.
"aku suka naik kapal" ucap Naruto dengan suara senang. "kapal ini bisa berjalan diatas air" lanjutnya dan memperlihatkan hasil karyanya pada Mikasa. anak perempuan itu menyambutnya dengan penuh kekaguman.
"wah kau hebat Naru..."
"kalian ini lama sekali" gerutu Eren yang kini berdiri tak jauh dari mereka, di punggungnya membawa kayu bakar, disampingnya masih ada satu.
Mikasa mendekat kearah Eren dan mengambil kayu bakar itu di pundaknya.
"Eren, lihat ini" Naruto memperlihatkan sebuah miniatur kapal itu pada Eren. anak laki-laki itu mengerutkan keningnya sebelum merebutnya dari tangan Naruto.
suasana hatinya berubah menjadi gembira, ia mengamati dengan seksama buatan saudaranya itu. "kau hebat Naruto, darimana kau membuatnya?" Eren bertanya dengan antusias.
"dari batang pohon"
"jenius, kita akan memperlihatkannya pada ibu, ayo pulang" ucap Eren antusias, ia menarik Naruto dengan semangat.
Mikasa memperhatikan keduanya dengan padangannya seolah-olah terbiasa dengan itu. Eren memang sering marah pada saudaraya dan kadang-kadang pula ia terlalu menunjukkan kegembiraan pada saudaranya.
di tengah perjalanan mereka seseorang menghambat perjalanan mereka.
"halo Eren, Naruto"
"Hannes-san" Eren terkejut melihat pria tua di panggil Hannes itu, berdiri di hadapan mereka dengan wajah yang terlihat memerah.
"Eren kau menangis, kenapa? apa Mikasa marah padamu?" Hannes bertanya dengan nada sedikit mengolok. Eren terjengit.
"tidak, mana mungkin aku menangis hanya gara-gara itu" Eren berteriak kesal sebelum akhirnya menutup hidungnya, "bau alkohol, kau mabuk" lanjutnya dengan geraman.
Hannes tertawa pelan
"Eren, ayo pulang" Naruto mengintrupsi keduanya, kini beralih menjadi pusat perhatian.
"Naruto, apa itu?" Hannes bertanya ketika melihat sesuatu di tangannya.
"ini kapal"
"itu bagus, darimana kau membuatnya?"
"dari batang poh..."
"kenapa kau bersantai-santai disini, bukankah kalian harusnya berjaga" Eren berujar kesal, ketika melihat anggota garnisun tertawa sambil minum alkohol.
"tentu saja, kami sudah terlatih dan kami bisa langsung bergegas menyerang titan jika mereka masuk, tapi tidak mungkin titan itu masuk jika dinding setinggi 50 meter" Hannes berkata sambil tersenyum sedikit meremehkan ucapan Eren.
"justru kalau terlalu santai. titan akan menyerang kapan saja, begitu kata ayahku" teriak Eren tepat di hadapan Hannes. Mikasa hanya memperhatikan keduanya tanpa berniat menyela.
Naruto hanya menatap mereka bingung, apa yang di perdebatkan keduanya. bahkan ketiga teman Hannes anggota garnisun sesekali tertawa mendengar ucapan Eren. namun, ia tak tahan untuk terlalu tinggal di sana. perlahan ia menarik tangan Eren.
"Eren, ayo kita pulang" Naruto menarik tangan Eren menjauh dari Hannes dan anggota garnisun itu karena terlalu lama berdebat.
"jangan menarik ku Naruto" ucap Eren kesal namun tetap memilih untuk mengikuti Naruto diikuti Mikasa di belakangnya dan mengabaikan panggilan Hannes padanya.
"Eren, aku menyarankanmu untuk tidak mengikuti sebagai Pasukan Pengintai", setelah cukup jauh dari perbatasan, Mikasa mengeluarkan suaranya. Eren terkejut sementara Naruto hanya memiringkan kepalanya bingung.
"hah?! kenapa? apa kau juga berpikir Pasukan Pengintai itu tidak berguna" Eren mengeraskan suaranya pada Mikasa. anak perempuan itu hanya melirik sebentar.
"ini bukan masalah bergunanya atau tidak"
"apa itu pasukan pengintai?" Naruto menyela keduanya. perhatian keduanya beralih pada anak laki-laki pirang itu.
"Naruto, sebaiknya tidak us..."
"mereka adalah pasukan dari luar tembok. Naruto suatu saat kita akan masuk kesana, bersama" kata Eren dengan antusias, ia menepuk pundak saudaranya. Mikasa terkejut dan menarik Naruto menjauh dari Eren.
"jangan mengajak Naruto untuk itu" Mikasa berkata dan menatap Eren tajam.
"hah? kenapa? dia kan saudaraku, aku yakin dia mendukungku" ujar Eren kesal.
"dia tidak seperti kita Eren"
"memangnya kenapa?"
"luar tembok, aku mau keluar dari tembok" Naruto memotong perdebatan mereka dan berkata dengan antusias, kali ini tatapan Mikasa beralih pada Naruto
"Naruto berhenti mengikuti Eren" ucap Mikasa dengan nada sedikit tajam.
Eren hendak berteriak dan menyerang Mikasa, namun suara lonceng yang berada di bawah tembok berbunyi, membuat perasaan Eren menguap menjadi senang.
"datang, mereka datang", Eren berbalik dan menarik Naruto untuk mengikutinya "ayo kita lihat mereka" lanjutnya dengan senang. Naruto hanya mengikuti langkah kaki saudaranya, entah dibawa kemana. Mikasa mengikuti keduanya dari belakang.
karena sedikit terlambat untuk sampai, mereka tidak bisa melihat pasukan pengintai itu karena banyaknya orang dewasa yang ikut berkerumun di pinggir jalan. Eren, tak sengaja melihat sebuah kotak persegi yang memudahkan melihat sedikit lebih tinggi.
ketiga anak itu menyaksikan bagaimana nasib para pasukan pengintai yang lewat. bahkan mereka melihat kejadian, dimana seorang ibu dari pasukan pengintai itu mencari anaknya yang sudah dimakan oleh para titan.
Eren menatap tak percaya dengan kejadian itu, sementara Mikasa hanya menatap itu dengan datar dan Naruto hanya melihatnya dengan tatapan bingung.
"Mikasa lepaskan aku" teriak Eren karena anak perempuan itu menyeretnya ketempat sepi setelah memukul seorang pria tua yang berkomentar buruk.
Mikasa menghempaskan Eren pada tembok rumah salah satu penduduk membuat kayu bakar yang dibawanya berhamburan. Naruto hanya menatap mereka tanpa berkomentar.
"Eren, apa kau benar-benar ingin bergabung dengan pasukan pengintai?" tanya Mikasa dengan nada dinginnya. sesaat mata Eren terbelalak kaget mendengar pertanyaan itu sebelum akhirnya memilih untuk mengabaikan pertanyaan itu.
"bantu aku untuk mengumpulkan kayunya", Eren memungut kayu yang berserahkan. melihat pertanyaannya di abaikan, Mikasa hanya menghela nafas pelan.
"biar aku tak membantumu, kau seharusnya bisa melakukannya sendiri" meski berkomentar seperti itu. Mikasa tetap membantu Eren untuk memungut kayu bakar yang berserakan
"kami pulang" Eren membuka pintu rumahnya dan berjalan masuk diikuti Naruto dan Mikasa dibelakangnya. mereka di sambut Carla, ibunya yang sedang menghidangkan makan siang untuk keluarga kecilnya.
"selamat datang"
Grisha, sang kepala keluarga melihat anak-anaknya yang baru datang sedikit menyunggingkan senyuman tipis.
Eren menaruh kayu bakar itu ke tempat biasa penyimpanan di rumahnya. ingatannya sedikit melayang mengingat pertikaiannya dengan Mikasa sebelum pulang.
"wah, Eren hari ini kamu membawa kayu bakar cukup banyak hari ini", Carla memuji anak bungsunya itu, Eren hanya membalas dengan deheman tak peduli.
"itte" Eren menatap ibunya yang menarik telinganya
"telingamu memerah, pasti Mikasa membantumu kan?" Carla meninggalkan Eren yang mendengus kesal dan mengusap telinganya.
ibu rumah tangga dari keluarga Yeager itu berjalan ke meja makan untuk menemui anaknya yang lain.
"wah Naruto kamu membawa apa lagi?" Carla bertanya pada anaknya yang kini sudah duduk manis di kursi makan, diatas meja terdapat kapal buatan Naruto.
"ini kapal, ayah sering mengajakku naik ini" Naruto memberikan miniatur kapal ini pada Carla dengan perasaan senang. Carla menerimanya senang hati. "aku memberikannya pada ibu" lanjutnya lagi.
"wah terima kasih Naruto", Carla mengusap lembut kepala anaknya lalu mencium pipinya.
bagaimanapun kondisi Naruto. Carla tetap menyayanginya. baginya Naruto sudah seperti anaknya sendiri, meski memiliki keterbatasan. Naruto adalah anak yang jenius. penyakit 'Autism Syndrom Disorder' yang di derita Naruto tidak menghalangi Carla untuk membandingkannya dengan anaknya yang lain. baginya Naruto adalah anak yang spesial.
"apa ini? Naruto ku kira kau akan memberikannya untukku" Eren berkata dengan kesal melihat saudaranya memberikan ibunya hasil karyanya. anak laki-laki itu duduk di hadapan Naruto berdampingan dengan ayahnya. Mikasa juga sudah duduk manis di ujung meja makan itu.
"kau sudah memiliki banyak hasil karya Naruto. kali ini biarkan ibu yang memilikinya" ucap Carla, lalu membawa hasil buatan Naruto pada lemari dan menaruhnya disana. lalu ia melanjutkan acara cuci piringnya.
"Eren ingin bergabung pasukan pengintai" tanpa di duga Mikasa mengatakan sesuatu yang Eren sembunyikan membuat seluruh orang terkejut kecuali Naruto yang diam tak mengatakan apa-apa dan tetap menyantap rotinya.
"Mikasa, kenapa kau mengatakannya" Eren yang awalnya terkejut, kemudian menatap marah kearah Mikasa yang enggan menatap Eren.
"Eren", Carla meninggalkan aktivitas cuci piringnya dan berjalan kearah anaknya, tatapannya berubah menjadi marah. Carla memegang kedua pundak anaknya.
"apa yang kamu pikirkan, hah? kenapa kamu ingin bergabung dengan mereka? kamu tau banyak dari mereka yang mati karena berada di luar tembok" Carla menjelaskan dengan sedikit tergesa. mendengar anaknya ingin masuk kesana, Carla menentang dengan keras, ia tau seberapa berbahayanya mereka jika keluar dari tembok.
"aku tau itu"
"kalau sudah tau kenapa kau..."
"aku juga ingin masuk kesana ibu!" seru Naruto yang selesai menyantap rotinya dan menatap Carla dengan antusias yang menimbulkan tatapan kaget dari semua orang kecuali saudaranya yang tersenyum senang.
"Naruto, kenapa?"
"Eren bilang ingin keluar tembok, aku juga ingin keluar tembok" Naruto meletakkan piringnya lalu berjalan kearah Carla dan memegang tangannya.
"aku ingin melihat lautan seperti di buku Armin, ibu" Naruto berkata antusias. Carla hanya bisa termegap-megap melihat tingkah laku anaknya. rupanya Eren sudah meracuni otak Naruto.
"tidak!" ucap Carla tegas
"Eren" kini giliran Grisha yang memanggil Eren, semua mata tertuju padanya. "kenapa kau ingin keluar dari tembok?" tanyanya pada si sulung Yeager.
mata Eren berbinar cerah, "aku ingin melihat seperti apa dunia luar, aku tidak ingin hanya berada di dalam tembok tanpa tau apa-apa selain itu aku ingin melanjutkan perjuangan pasukan pengintai agar kita semua tidak mati sia-sia"
"begitu" tatapan Grisha sejenak melunak sebelum berdiri dari kursinya, membawa tas kerjanya. hari ini dia ingin kedalam tembok memeriksa pasien, "kapalnya segera tiba, aku akan berangkat" Grisha berjalan kearah pintu yang disusul Carla yang protes tindakan anaknya.
"Naruto, ingat baik-baik, tetap belajar seperti biasa di ruangan ayah" Grisha memegang kepala Naruto yang di balas dengan anggukan. Naruto hanya menatap kedua orang tuanya yang berdebat tentang keinginan anak-anaknya.
"Eren, jika ayah pulang. ayah akan menunjukkan ruang bawah tanah padamu" Grisha mengeluarkan kuncinya yang mengalung di lehernya.
"benarkah? baiklah" Eren menyambutnya dengan tatapan senang. lalu mereka mengantar kepergian Grisha untuk bekerja.
"pokoknya tidak ada yang boleh bergabung dengan pasukan pengintai. tidak boleh!" tukas Carla dengan nada tegasnya. oh, membayangkan mereka berada di luar tembok sudah sangat menganggunya, apalagi jika itu benar-benar terjadi. terlebih lagi Naruto, apa yang terjadi pada anak bungsunya itu jika berada di tengah-tengah titan. sungguh, Carla sulit membayangkannya jika mengingat kondisi psikis Naruto.
"aku akan tetap bergabung dengan mereka" Eren berteriak kesal sebelum berlari menjauh dari rumahnya.
Carla mendecih pelan sebelum berbalik menatap Mikasa dan menatap anak perempuan itu dengan tatapan memohon.
"Mikasa bantulah Eren, dia terlalu keras kepala" ucap Carla dengan nada memohonnya. Mikasa hanya mengangguk, sebelum meninggalkan rumah, ia menatap Naruto.
"mau ikut Naruto?" Mikasa hendak menarik tangan Naruto namun anak laki-laki itu menolaknya. Mikasa memaklumi sebelum ia pergi menyusul Eren. Carla menatap tempat perginya Eren dan Mikasa.
"ibu, aku ingin pergi bersama Eren", Carla tersentak, ia lupa dengan Naruto.
"tidak, Naruto dengarkan ibu. lebih baik kamu seperti ayah menjadi dokter, sayang, bukan menjadi pasukan pengintai" Carla berujar lembut, Naruto sulit untuk dikasari. Carla yakin dengan ucapan lembut mampu membuat Naruto mengerti.
"tapi kenapa, bu?" tanya Naruto dengan tatapan innocentnya seperti biasa.
"kita bicara didalam" Carla menggiring anaknya untuk masuk. berbicara hati ke hati adalah yang terbaik untuk, sebelum anaknya benar-benar terpengaruh ucapan dari Eren.
"jadi ini yang kau sering perlihatkan pada Naruto" Eren melihat buku Armin yang memperlihatkan hal-hal tentang dunia luar. setelah menyelamatkan Armin dari beberapa penganggu, mereka duduk bertiga di pinggir danau. sesuai permintaan Carla, Mikasa mengikuti Eren dan membujuknya.
"iya, Naruto terlalu antusias jika aku menceritakannya" Armin tersenyum mengingat temannya, meski Naruto memiliki keterbatasan tapi Armin menyayanginya seperti saudaranya sendiri.
"aku tidak heran jika Naruto terlalu antusias menceritakan isi bukumu" celetuk Mikasa melihat Armin yang kini sudah menutup bukunya.
"aku juga tidak menyangka dia bisa sesenang itu"
"kalau begitu ayo kita ke dunia luar, tidak mungkin kita harus berada di dalam sini. aku ingin menunjukkannya pada Naruto kalau dunia luar itu luas" Eren menunjuk tembok yang tinggi menjulang di hadapannya. "aku tak ingin terus berada di dalam sini, aku ingin bergabung dengan pasukan pengintai" lanjutnya.
"tapi itu tidak mungkin, banyak dari mereka yang mati" ucap Armin sedikit tidak percaya dengan ucapan sahabatnya.
"kalau begitu aku akan masuk kesana juga" ucap Mikasa yang akhirnya memilih untuk mengikuti Eren.
"Mikasa?"
"selain itu Armin, Naruto juga akan masuk kesana juga" Eren berkata dengan senang. Armin membelalakkan matanya tak percaya.
"hah?! itu gila, Naruto tidak mungkin masuk kesana", gila! mana mungkin Naruto bisa melawan titan jika mentalnya mengalami masalah. Armin takut jika Naruto benar-benar bergabung dengan mereka. Eren mendengus kesal.
"kenapa tidak mungkin. aku akan berlatih bersama saudaraku" Eren mengepalkan tangannya di dadanya, seperti ingin bergabung. Armin bingung ingin berkata apa. apa Eren tidak sadar dengan kondisi saudaranya sendiri, entahlah Armin bingung. tepukan pelan di bahu kanannya membuatnya berbalik.
"tenang, semuanya akan aman" Mikasa berkata dengan nada netralnya. membuatnya menghela nafas lega, Armin yakin jika Mikasa berkata seperti itu. semuanya akan baik-baik saja, mungkin.
"ayo kita pulang"
DUAR!
suara ledakan membuat ketiga anak itu terkejut, tatapan mereka tertuju dalam satu pusat yang sama yaitu berada tepat di belakanh tembok.
KRAK!
suara retakan tembok membuat ketiga anak itu membelalak tak percaya. sebuah tangan yang terbuat dari otot bewarna merah, memegang tembok itu.
"tidak mungkin, tembok itu setinggi 50 meter" ucap Eren lirih, perlahan semua orang membeku hingga titan itu menampakkan wajahnya yang terbuat dari otot. semua orang hanya bisa mematung menyaksikan titan itu berdiri di balik tembok hingga.
BOOM!
titan itu menjebol dinding bagian bawah dari tembok itu dengan tendangan kakinya. beberapa dari warga berlarian panik hingga ada yang tertimpa potongan batu dari tembok itu.
"TITANNYA MASUK, LARI!!!" seru seorang warga yang kini melihat titan masuk melalui celah dinding yang jebol. warga berhamburan menyelamatkan diri mereka.
"tidak! tidak! tidak! ibu, Naruto" Eren berlari panik ke arah rumahnya, pikirannya tersangkut pada keluarganya. Eren berlari panik menuju rumahnya.
"Na-Naruto" Mikasa berucap dengan bibir yang bergetar, ia berlari mengikuti Eren. mengabaikan Armin yang terus memanggil mereka.
"rumahku masih aman, ibu dan Naruto baik-baik saja" Eren mengsugesti dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja meski ketakutan membumbung tinggi dala hatinya. kakinya terus melangkah menuju rumahnya.
"ibu! ibu!" Eren berteriak memanggil ibunya penuh ketakutan ketika melihat rumahnya hampir rata dengan tanah.
perasaan Eren semakin ketakutan tatkala melihat ibunya sedang tertindih bangunan rumah yang rubuh, di tambah pecahan batu dari tembok itu membuatnya sulit untuk keluar dari sana.
"Mikasa, kau angkat sebelah sana" Eren berkata dengan panik. Mikasa hanya mematuhi. keduanya perlahan mengangkat reruntuhan itu. sesaat mereka berhenti ketika titan mulai berjalan ke tengah-tengah kota. pada ujung setapak jalan rumahnya, ada satu titan yang perlahan mendekat kearah mereka.
"Mikasa ayo cepat angkat" Eren semakin panik. pikiran jernihnya tersapu dengan ketakutan.
"ba-baik" Mikasa ikut merasa panik, dia tidak tau berbuat apa, pikirannya hanya terpaku pada penyelamatan Carla
"titannya sudah masuk, tidak ada jalan untuk keluar" gumam Carla lirih. matanya beralih pada salah satu anaknya yang kini berusaha mengangkat beban yang lebih berat darinya, "Eren! Mikasa! lari dari sini" teriaknya panik.
"aku akan dari sini ketika selesai menyelamatkanmu" Eren balas berteriak panik juga. Carla terdiam sejenak.
"tidak bisa, kakiku patah terkena tindihan aku tidak bisa berlari" ucap Carla dengan tegas, memaksa mereka meninggalkannya.
"aku akan menggendongmu, tenang saja!" Eren semakin berteriak tidak karuan karena ketakutannya.
"kapan kamu akan mendengarkan ibu. Mikasa, bawa Eren menjauh" Mikasa tidak tau harus berbuat apa. ia juga bingung ingin melakukan apa, situasi seperti ini tidak ia harapkan. perlahan ia menundukkan wajahnya. rasa kehilangan memeluk kuat hatinya.
"tidak, aku tidak bisa"
"ibu jangan berbicara lagi aku akan menolongmu" setetes cairan bening terkumpul di pelupuk mata Eren. Carla berusaha keras meyakinkan keduanya untuk meninggalkannya sendiri. namun, suara pengait dari pasukan garnisun mengalihkan perhatiannya. dilihatnya Hannes sedang berlari kearah mereka, harapan Carla sedikit terpenuhi.
"Hannes-san, tolong! bawa anak-anakku menjauh dari sini" Carla memohon, ia bisa merasakan titan itu semakin mendekat kearah mereka.
Hannes tersenyum sejenak, "jangan meremehkan ku Carla", Hannes mengeluarkan pedangnya dan berlari kearah titan.
"Hannes tidak, bawa saja anak-anakku" Hannes tak mendengarkan, ia terus berlari kearah titan itu.
Eren dan Mikasa tetap berusaha mengangkat titan itu. namun, sebuah tangan menarik mereka menjauh dari reruntuhan itu.
"tidak Hannes-san, ibuku masih ada disana!" Eren berteriak keras, berusaha menggapai ibunya yang perlahan terasa jauh darinya. ia tidak bisa melepaskan dirinya dari tangan Hannes.
Mikasa hanya bisa berpasrah ketika Hannes menggotong mereka semakin jauh dari dari rumah Eren beserta Carla yang masih tertimpa disana.
Carla menyaksikan punggung Hannes yang semakin menghilang membawa anaknya. ia menutup mulutnya untuk berusaha tidak bersuara meskipun itu sia-sia, titan itu semakin dekat dengannya. perlahan air matanya menuruni pipinya.
getaran dari langkah titan itu semakin dekat, setidaknya Carla lega, anak-anaknya selamat. sesaat wajahnya mematung, ia teringat anak bungsunya, Naruto. dia tidak melihatnya dimanapun. hati Carla menjadi panik, namun ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa berharap Naruto sudah berada di kapal.
semakin dekat dan semakin dekat, titan itu mungkin beberapa centi darinya namun Carla menjadi bingung ketika titan itu melewatinya dan pergi kearah dinding pembatas.
apa ini? kenapa titan itu tidak menangkapnya? apakah dia bisa melihatnya?
Carla terus terdiam melihat titan itu semakin menjauh meninggalkannya. ada perasaan lega ketika titan itu tak menangkapnya, walaupun situasinya ia tetap berada dalam runtuhan. waktu terasa sangat lambat, ketika sebuah langkah kaki mendekat kearahnya.
"ibu" Carla mengalihkan pandangannya ketika suara familiar menyapu telinganya, di temukannya Naruto berlutut di samping rumahnya yang rubuh dan menatapnya dengan tatapan seperti biasa.
"Na-Naruto. apa yang kau lakukan disini?" ucap Carla panik. pengharapannya tidak berjalan sesuai keinginannya. Naruto ada disini, bersamanya. tidak, titan-titan itu sedang berkeliaran di dalam sini.
"aku mencari ibu", Carla benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang. tubuhnya sudah benar-benar tidak bisa di gerakkan dan Naruto masih ada disini. Carla tak menyalahkannya karena kondisi mental Naruto.
"Naruto" gumam Carla lirih
tatapan Eren membeku, dia dan Mikasa di antar Hannes ke kapal. pikirannya kosong, setelah berdebat singkat dengan Hannes, mengapa ia tak menyelamatkan ibunya. tapi Eren harus menerima kenyataan, ia bukanlah manusia super atau apapun. semua orang punya ketakutan terhadap titan. Mikasa sendiri tidak jauh lebih baik, tapi ia berusaha menutupi semuanya. melihat Carla yang ditinggalkan, mengingatkannnya pada kematian orang tuanya, kini ia merasakan kehilangan lagi dan lagi.
Eren dan Mikasa berjalan tanpa suara keatas kapal, Hannes membawa mereka masuk kedalam kapal lebih cepat karena ini kapal terakhir. mereka memilih duduk bersadar pada dinding kapal, terdiam dan tak tau berbuat apa. trauma dan pemandangan mengerikan terjadi dimana-dimana. mereka bahkan mengabaikan kerusuhan orang-orang yang berlomba untuk bisa naik ke kapal.
"Eren! Mikasa!" teriakan Armin sejenak menarik mereka pada kenyataan.
"Armin" hanya Mikasa yang membalas teriakan Armin. ketika anak laki-laki pirang itu mendekat kearah mereka. Eren hanya diam menatap kosong. jiwanya sedikit terguncang melihat kondisi terakhir ibunya sebelum ia diselamatkan.
"syukurlah kalian selamat", nafas Armin menjadi teratur ketika melihat kedua temannya selamat sampai kapal senyum senang terukir di bibirnya tapi tetap ia merasa ada yang kurang. ia celingak-celinguk mencari seseorang, "dan dimana Naruto?" tanyanya.
pertanyaan Armin menyentakkan kesadaran sepenuhnya kedua anak berbeda gender itu. Eren bahkan langsung berdiri dengan panik, wajahnya benar-benar di penuhi kepanikan, keduanya benar-benar melupakan Naruto. Eren dan Mikasa tak melihat keberadaan anak sulung dari keluarga Yeager.
mata Eren mengkilat tajam, Mikasa terduduk lemas sedangkan Armin hanya bisa terkejut hanya melihat ekspresi mereka.
"jangan bilang..." ucapan Armin menganggatung, tubuhnya bergetar tak percaya.
"kita melupakannya" Mikasa berkata lirih, kesedihan semakin menjadi menguasai hatinya. sementara Eren menolak kenyataan itu.
"tidak! Naruto pasti sedang berada di dalam kerumunan itu, dia pasti bisa keatas kapal!" teriak Eren menolak kenyataan menyakitkan lagi, bahwasannya saudaranya tertinggal di dalam sana.
Eren berlari ke pinggir kapal, lalu hendak berteriak mencari saudaranya.
BOOM!
namun, belum sempat ia berteriak, suara dinding pecah sekali lagi. sebuah titan menerobos masuk merusak dinding, sama seperti titan yang menghancurkan dinding pertama. titan ini berlagak seperti manusia, dia pintar.
"tidak mungkin" tatapan Eren semakin menggelap, suaranya seperti tertinggal di dalam kerongkongannya. pikirannya benar-benar macet.
"NARUTO!!!!!!!!!" teriakan memilukan milik Eren menggema di tengah kerusuhan. tanpa sadar air matanya mengalir di ujung pelupuk matanya. Armin dan Mikasa mendekat kearah Eren. kapal itu mulai berjalan meninggalkan distrik Shiganshina.
"Eren, tenangkan dirimu" Armin berkata dengan bibir bergetar, kesedihan ikut menyelimutinya namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Mikasa hanya bisa terisak pelan di samping Eren tanpa berniat menenangkannya, kesedihan juga sangat menyelemuti hatinya.
tangan Eren mengcengkram kuat penyangga kapal, suara gemeletuk giginya terdengar di telinga Armin. tatapannya berubah marah, benci dan dendam menjadi satu.
"aku berjanji akan membunuh titan-titan itu. mereka mengambil semuanya dariku" meski tatapannya berubah menjadi marah. namun, air mata mengalir terus dari matanya.
"Eren" ucap Armin lirih, ia juga merasakan apa yang Eren rasakan. Mikasa menyembunyikan wajahnya di balik syal-nya, terisak didalam sana.
Carla tidak tau harus berkata apa. melihatnya salah satu putranya baik-baik saja, tanpa merasakan luka apapun sudah membuatnya lega dan yang terpenting putranya menyelamatkannya. meski secara buka secara langsung putranya menolongnya tapi tetap saja dia menyelamatkannya nyawanya.
saat ini mereka berada di kereta, sudah hampir sembilan jam mereka berangkat menuju trost bersama anggota Legiun. Carla sebenarnya tidak tau, bagaimana bisa Naruto bertemu anggota Scouting Legiun dan menyelamatkannya dari reruntuhannya rumahnya. beruntung ia tidak berakhir di dalam perut titan.
"Naruto" panggil Carla lemah. ia memang sudah mendapatkan pertolongan pertama, namun darah yang keluar membuatnya lemas. mungkin beberapa waktu untuk membantunya pulih.
"ada apa bu?", Carla mengulurkan tangannya dan mengusap kepala putranya dengan penuh kasih sayang, senyum lemahnya tersungging pada bibirnya.
"terima kasih" ucap Carla lirih. Naruto hanya menganggukkan kepalanya tanpa perlu bertanya ini dan itu.
"kita akan segera tiba" salah satu anggota Legiun berkata. Carla hanya bisa bersyukur, pertama-tama ia harus di rawat, setelah itu mungkin ia akan mencari anak-anaknya yang lain.
kereta yang menggotong Carla langsung di bawa ke rumah sakit untuk di periksa lebih lanjut. kini beberapa dari anggota Legiun menemani Naruto menunggu Carla sedang di periksa oleh dokter.
"apa kau mau makan?" seorang perempuan berambut coklat, berkacamata bertanya pada Naruto.
Naruto mengangguk senang, ia mengusap perutnya "aku lapar" ucapnya. perempuan itu memberikan sebuah roti untuk dimakan. Naruto menerimanya dan memakannya.
salah seorang laki-laki berambut pirang klimis mendekati Naruto yang menyantap rotinya. ia memilih duduk di hadapannya.
"halo, namaku Erwin Smith, aku ketua dari Scouting Legiun" laki-laki itu memperkenalkan dirinya pada Naruto. anak laki-laki menatapnya dengan tatapan innoncent seperti biasa.
"aku Naruto Yeager, salam kenal" Naruto mengulurkan tangan kanannya pada Erwin yang sedikit menatapnya bingung. "ibu bilang, perkenalan yang baik di mulai dengan jabat tangan" lanjutnya, membuat Erwin terkesiap lalu menerima jabatan itu.
"okey, halo Naruto. dan ini anggotaku, Levi, Mike dan perempuan yang memberikanmu roti itu adalah Hanji" Erwin memperkenalkan mereka tak lupa menunjuk mereka agar Naruto tak bingung.
Naruto mengangguk antusias, ia berjalan kearah mereka satu persatu dan menyalami mereka.
"Naruto Yeager, salam kenal", mereka menyambut Naruto dengan formal kecuali Hanji yang sedikit antusias juga.
"aku ingin bertanya padamu, Naruto. boleh?" Erwin bertanya dengan hati-hati, cemas jika anak laki-laki itu sedikit tersinggung. Naruto memiringkan kepalanya kekanan.
"tentu saja"
"baiklah, mulai darimana yah", Erwin menarik nafas sejenak, sebenarnya ia tau kondisi Naruto yang err... 'berkebutuhan khusus' Carla sempat membeberkan kondisi Naruto sebelum mereka berangkat menuju Trost. "kamu mengetahui banyak ilmu medis Naruto?" tanya Erwin dengan perlahan.
"iya, ayah mengajarkan medis padaku. kata ayah, aku bisa menjadi dokter kalau aku belajar. selain itu ayah bilang, jadi dokter itu bagus, bisa menyelamatkan banyak umat manusia. aku ingin seperti ayah" ucap Naruto seperti nada kekanak-kanakan, namun Erwin tidak mempermasalahkannya.
anggota Legiun memperhatikan tingkah Naruto dengan diam. Naruto mengambil tangan Erwin dan menggerakan jarinya diatas telapak tangan Erwin.
"sebagai contoh, telapak tanganatau bahasa medisnya metacarpus merupakan area di sisi bawahtanganmulai dari jari hingga pergelangantangan. sebanyak 17 dari total 34 otot yang menyambungkan jari-jari terletak ditelapak tangan. otot-otot itu terhubung dengan kerangka tulangtanganmelalui serangkaian tendon" jelas Naruto panjang lebar sambil mengitari telapak tangan milik Erwin. namun, dia tidak berhenti sampai disitu, "kulit telapak tangan memang tidak luas, hanya 2 persen dari seluruh kulit tubuh. namun, bila kulit telapak mengalami masalah, bisa mengganggu aktivitas. ketika telapak tangan sakit, seseorang bisa kesulitan untuk memegang atau menyentuh benda, sehingga menghambat pekerjaannya. penyebab dan jenis telapak tangan sakit bisa dibedakan menurut letak sakitnya, yaitu apakah di bagian kulit, otot, saraf, atau tulang" jelasnya lagi, setelah itu Naruto melepaskan tangan Erwin.
para anggota Legiun itu hanya bisa termenung mendengar penjelasan ringkas dan padat dari bibir seorang anak yang bahkan belum mencapai usia 12 tahun. ini sesuatu yang luar biasa.
berbeda dengan Hanji yang menampakkan wajah senangnya, sepertinya ia punya seseorang yang bisa diajak untuk penelitiannya kedepan.
Erwin berdehem sebentar. tidak menyangka bahwa Naruto memiliki sesuatu yang spesial seperti ini meski memiliki 'keterbatasan mental'
"bagus Naruto, darimana kamu mempelajarinya?" Erwin bertanya lagi.
"ayah mengajarkan ku banyak hal. aku juga suka membaca buku tentang medis" ucap Naruto dengan nada senangnya.
Hanji yang tak tahan dengan percakapan keduanya, mendekat kearah Naruto dan menggenggam tangannya.
"bagus sekali, Naruto-kit. aku juga sama, seperti apa medis yang kamu pelajari? bisakah kita bertukar cerita? aku juga suka ilmu medis, kamu tau" celoteh Hanji dengan nada menggebu-gebu, wajahnya berbinar cerlah seolah olah menemukan berlian dalam tumpukan emas.
Naruto menatap Hanji dengan tatapan bingung. Levi yang merasa Hanji sudah masuk mode abnormalnya, menarik kerahnya kebelakang.
"berhenti disana, kacamata. kau membuat bocah itu bingung" ucap Levi dengan nada dinginnya. Naruto hanya bisa menatap mereka tanpa berkomentar. Erwin berusaha kembali untuk menarik perhatian Naruto.
"nah, Naruto. kamu tau siapa kami?" Erwin bertanya lagi. dengan polosnya Naruto menggelengkan kepalanya, pertemuannya dengan anggota Scouting Legiun sangat tidak terduga jadi wajar dia belum tau.
"kami dari Scouting Legiun" jawab Erwin dengan wajah seriusnya.
Naruto kembali memiringkan kepalanya, "apa itu?"
"kami dari pasukan pengintai", Naruto terdiam sejenak, lalu memegang kepalanya seperti berpikir. ia pernah mendengar kata itu tapi ia sedikit lupa.
"pasukan pengintai? apa itu dari luar tembok?" kini giliran yang Naruto bertanya. Erwin menganggukkan kepalanya, sebelum terkejut dengan tindakan Naruto yang memegang lengannya.
"itu bagus, Eren bilang dia ingin masuk kesana, dia juga mengajakku. Armin juga bilang diluar tembok ada laut, aku ingin memancing disana" ucap Naruto dengan antusias, ia menggerakkan lengan Erwin.
Erwin melepaskan rangkulan Naruto dan memegang bahu anak laki-laki itu. "bagus, kamu bisa bergabung dengan kami kalau kamu mau" ucap Erwin dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya.
"oi, Erwin. apa yang kau pikirkan", Levi yang sedari tadi memperhatikan keduanya terkejut mendengar pernyataan Erwin meski ia masih menutupi dengan wajah datarnya seperti biasa. "kamu membawa anak ini bunuh diri?" lanjut Levi lagi. hei, apa yang kalian pikirkan jika anak 'berkebutuhan khusus' berada di tengah titan.
"benarkah?"
"benar, aku akan membawamu keluar tembok" jawab Erwin. ia mengabaikan pertanyaan Levi dan memilih untuk menemani Naruto berbicara. anak laki-laki senang bukan kepalang.
"aku akan mengatakannya pada ibu", Naruto berlari keruangan Carla dengan wajah gembira, bertepatan dengan dokter yang selesa memeriksanya.
"Erwin, kau gila mengajaknya untuk kedalam squad?" Levi bertanya dengan nada sedikit marah walau ekspresi wajahnya meminimalisir.
"aku setuju dengan Levi. Erwin apa itu tidak terlalu sembrono?" Mike yang dari tadi hanya memperhatikan keduanya, kini angkat suara.
"tidak, aku punya rencana. Naruto, dia anak yang cerdas, kita tidak bisa mengabaikannya, dia bisa jadi penambah kekuatan militer kita" Erwin mengajak ketiganya untuk berdiskusi. Erwin melirik Hanji "dia akan masuk dalam squad Hanji" lanjutnya lagi.
"Erwin, kau mengerti sekali apa yang aku mau" Hanji berkata dengan semangat, wajahnya merona karena senang. sudah kebiasaannya berhubungan dengan sesuatu yang abnormal.
"tch, aku tidak mengerti tapi aku akan berusaha untuk menyerahkan ini padamu" ucap Levi. Mike juga menyetujui.
"terima kasih tapi, Levi, kau yang akan melatihnya" ucap Erwin final mengejutkan Levi.
"kau benar-benar gila" gumam Levi. namun, Erwin hanya tersenyum simpul.
keempat anggota Scouting Legiun itu mengikuti langkah Naruto keruangan Carla dan berbincang tentang proses pemasukan Naruto dalam pasukan pengintai.
cerita ini mungkin mengandung sedikit nilai-nilai ilmu medis. sebagian cerita ini terinspirasi dari film Good Doctor versi drama Korea.
dimana seorang pengidap penyakit sindrom savant.
Savant syndrome adalah kondisi yang langka terjadi, biasanya terlihat kecerdasan tertentu yang sangat menonjol pada orang dengan autisme. Sindrom ini bisa terlihat bahkan mencolok, karena biasanya muncul dengan kondisi tertentu, biasanya gangguan spektrum autisme, yang juga dimiliki orang nonautis dengan tingkat intelegensi (IQ) di bawah rata-rata.(sumber : google)
menikmati? bab 2?
