Disclaimer :

Naruto punya Masashi Kishimoto

Shingeki no Kyojin punya Hajime Isayama

Warning : OOC, bahasa kurang baku, typo dan masih banyak lagi


(Eren's Dream)

"ayah, apa yang kamu lakukan" Eren berteriak ketika ayahnya mencoba menahannya untuk tetap berbaring di tanah.

sementara tangan kanan Grisha menahan Eren, tangan kirinya memegang sebuah jarum suntik berukuran sedikit besar.

"dengar Eren, diam saja dan turuti ayah" Grisah berteriak frustasi, air matanya terus keluar dari matanya.

Eren berontak, menolak apa yang di lakukan Grisha, dia tampak berbeda. "aku tidak mau, lepaskan aku ayah" Eren semakin berteriak tak karuan. tangan ayahnya mengcengkramnya begitu erat.

"ini untuk kebaikanmu"

"kau bertindak aneh ketika kau kehilangan ibu dan Naruto, lepaskan aku!" Eren berteriak keras, berusaha untuk berontak lebih keras.

"Eren! ini untuk kebaikanmu"

"TIDAK!"

"DENGARKAN AYAH"

"LEPASKAN AKU"

Grisha meraih tangan Eren dan mencoba untuk menyutikkan cairan itu pada lengan putranya.

"Eren! ingat kuncinya"

"ayah!"

(end's Dream)

.

.

.

.

.

"Eren!"

"HaH?!" wajah Eren terbuka lebar, nafasnya memburu seiring kesadarannya yang belum terkumpul sepenuhnya. matanya masih membelalak karena terlalu terkejut. perlahan dia menaruh tangannya menyentuh dadanya, jantungnya berdetak tak beraturan.

"Eren"

anak laki-laki itu sadar, seseorang yang duduk disampingnya. ia berpaling, menemukan anak perempuan itu menatapnya khawatir.

"Mikasa"

"ada apa? kau berteriak dalam tidurmu" tanyanya dengan cemas.

Eren berpaling berusaha mengingat sisa-sisa mimpinya yang masih tergenang dalam otaknya. ia menatap telapak tangannya seolah-olah ada bayangan tersisa di sana.

"aku merasa, aku bertemu ayah" gumamnya pelan. Mikasa mengerutkan kening sebelum berdiri.

"mungkin itu hanya mimpimu, kita belum ketemu ayahmu sebelumnya" Mikasa menatap Eren yang masih terbayang oleh mimpinya.

"lalu dimana Armin?" Eren bertanya ketika hanya mereka berdua di penampungan.

"mencari makan, ayo kita keluar", Eren hanya mengikuti langkah Mikasa.

mata Eren melebar melihat keadaan kota penampungan tempat ia tinggal sementara waktu, kata-kata yang ingin dia ucapkan serasa tertinggal di kerongkongannya. Mikasa paham, mungkin Eren terkejut dengan keadaan yang sekarang.

"penduduk yang selamat dari desa kita terlalu banyak, mereka tidak punya makanan cukup untuk memberi makan kita semua" jelas Mikasa melihat penduduk sipil yang mengantri untuk mengambil makanan. ada yang ricuh karena mereka berebut antrian untuk makan.

"Eren! Mikasa!"

kedua remaja tanggung itu beralih, melihat Armin berlari kearah mereka dengan wajah sumringah, di tangannya ada tiga roti yang didapatnya untuk kedua temannya.

"kakekku mengumpulkan ini untuk kita bertiga" Armin membaginya kepada kedua temannya dengan senang hati, "beruntung kita mendapatkan ini" lanjutnya dengan wajah senang

namun, Eren hanya menatap rotinya dengan pandangan penuh pikiran. tetapi pandangannya beralih ketika ia melihat salah seorang anggota garnisun wall Rose melirik mereka sinis, tak lupa decihan kesalnya sebelum meninggalkan mereka. Eren menatap pasukan itu dengan pandangan benci.

kegaduhan kembali terjadi, beberapa pria paruh baya berkelahi memperutkan antrian. pasukan garnisun itu berkumpul bersama salah satu temannya, menatap tidak dengan kejadian di depannya.

"kenapa kita harus menampung mereka, kita kekurangan makanan disini" cibir salah satu diantara mereka.

"kau benar, seharusnya titan-titan memakan mereka lebih banyak lagi" anggota garnisun yang pertama yang Eren lihat ikut berkomentar.

sayangnya, kalimat itu mengundang amarah Eren. anak laki-laki itu berlari kearahnya dan menendang tulang keringnya.

"hey apa yang kau lakukan anak nakal" ucapnya marah, tangannya menampar wajah Eren keras, sebelum temannya di sampingnya ikut menendang Eren hingga terjatuh.

"kalian tidak tau bagaimana para titan memakan orang. seharusnya kalian tetap diam!" teriak Eren melampiaskan amarahnya pada anggota itu.

anggota garnisun itu terdiam sebelum menggeram tak suka, ia ingin memukul Eren lagi. tapi seorang anak menghentikannya.

"maaf, maafkan temanku, dia lapar jadi dia bertindak tidak rasional. karena dia kehilangan keluarganya, jadi dia tidak bisa berpikir jernih" ujar Armin dengan nada memelas, berusaha untuk tidak membuat Eren semakin kacau.

sementara Mikasa membantu Eren di belakang Armin. beberapa tatapan penduduk menjadikan mereka pusat perhatian.

anggota garnisun itu sedikit canggung, ia mendecih pelan, "kalau begitu rawatlah temanmu baik-baik, jangan lupakan jasa kami yang membantu kalian" anggota garnisun itu melangkab pergi, menarik temannya untuk segera pergi dari sana. tatapan penduduk membuatnya risih.

setelah menenangkan Eren yang masih dalam mode kesal. roti Armin dan Mikasa sudah habis, mereka sudah kenyang meski hanya sebuah roti. Eren hanya terdiam dan terus menatap rotinya. perkataan anggota garnisun begitu melekat dalam ingatannya.

"aku akan kembali ke wall Maria dan membunuh semua titan yang ada disana, lalu merebut kembali rumah kita" Eren berkata dengan penuh tekanan dalam setiap suaranya. mengejutkan kedua temannya.

"Eren, kau bercanda?" tanya Armin sedikit kikuk

"aku serius" wajah Eren mengeras hanya memikirkan beberapa titan yang merebut rumah mereka, yang merebut ibunya dan saudara satu-satunya. "aku tidak ingin menjadi seperti mereka yang bersembunyi di balik dinding dan bertindak seolah-olah mereka adalah pahlawan" lanjutnya dengan nadanya naik beberapa oktaf.

Mikasa hanya memandang Eren, menyaksikan bagaimana dia bertindak.

"aku tidak membutuhkan semua omong kosong dari pasukan itu" Eren melemparkan rotinya pada Armin yang panik menangkapnya sebelum jatuh ke tanah.

"Eren, apa yang kau lakukan" Armin berteriak agar membuat Eren sadar akan tindakannya. namun, bukannya merasa tenang, Eren semakin merasa panas.

"apa?! kau marah?! kau hanya mau bertindak di dalam sini sama seperti mereka? kau hanya duduk diam terus menerus dan menunggu belas kasihan mereka?" suara Eren semakin meninggi, menatap tajam Armin yang menatapnya tak percaya.

"kita seharusnya tetap disini, kita bahkan belum punya kekuatan untuk melawan titan-titan itu. bukankah kita masih membutuhkan orang lain agar kita bertahan hidup?" Armin semakin berusaha untuk menyadarkan temannya, walau suara masih beberapa di bawah Eren.

"itu hanya alasan mu saja"

"sekarang hanya itu yang di butuhkan"

"kalau begitu tetaplah seperti itu pengecut, lanjutkan saja ketakutanmu seperti hewan ternak yang tak bisa bebas! dasar lemah" teriak Eren tepat di wajahnya Armin. mengejutkan temannya melihat tingkah Eren yang semakin di luar kendali.

BUG!

"Mikasa" Armin semakin terkejut ketika perempuan diantara mereka, meninju wajah Eren sedikit keras.

Mikasa akhirnya kalah, dia tidak bisa membiarkan Eren semakin bertindak diluar batas dan menyakiti mereka. jika cara lembut gagal menyadarkan Eren, maka sedikit kekerasan akan dia gunakan.

"jika Armin lemah, berarti kau dan aku lemah" ujar Mikasa dengan nadanya tanpa emosi di dalamnya. ia meraih, roti di tangan Armin dan mendekat kearah Eren. "bahkan kita membutuhkan orang lain untuk kesini. kalau kau memang merasa kuat, bukankah kita bisa menyelamatkan ibumu, menyelamatkan Naruto" lanjutnya dengan nada dingin, menyentak kesadaran Eren.

mengingat saat terakhir ketika mereka ingat bahwa mereka melupakan saudara Eren. air matanya mengenang di pelupuk matanya, mengingat kehilangan keluarganya.

Eren ingin mengatakan sesuatu, tapi Mikasa lebih dulu menutup mulutnya dengan roti, memaksanya untuk makan.

"makanlah, bagaimana mungkin kau bisa bertahan hidup jika tidak makan" ucap Mikasa masih mempertahankan wajah dinginnya.

pada akhirnya Eren merasa kalah, seiring ia mengunyah rotinya, semakin deras air matanya keluar. tatapan terakhir ibunya dan wajah Naruto memenuhi benaknya. Mikasa benar, dia harus melanjutkan hidup untuk membasmi titan-titan itu.

—Hope—

Naruto berhadapan dengan dokter yang baru saja menangani Carla, awalnya ia ingin segera menemui ibunya namun dokter menghalanginya. sepertinya dokter itu ingin memberitahukan terlebih dahulu kondisi ibunya.

"apakah disini, pasien memiliki keluarga? atau wali mungkin?" dokter bertanya pada anggota Scouting Legiun yang berdiri berjejer di samping kanan dan kiri Naruto.

"yah, ini putranya" Erwin merangkul Naruto dan memperkenalkannya. Dokter itu berdehem sebentar.

"maksud saya, orang dewasa atau suami pasien?" dokter itu kembali bertanya, Erwin menatap anggotanya sejenak.

"maaf, dokter tapi sepertinya hanya anak ini yang bertahan" Erwin mengatakan dengan sedikit pelan sepertinya ia tidak ingin Naruto terganggu. "tapi anda bisa mengatakannya pada kami dan pada putranya juga" lanjutnya

dokter itu paham apa yang terjadi, ia menatap salah satu putra pasiennya sejenak sebelum beralih pada anggota Scouting Legiun.

"sepertinya kaki sebelah kiri nyonya Carla mengalami beberapa masalah. kaki kirinya mengalami fraktur tibia (tulang kering) dan fibula (tulang betis)" jelas sang dokter. "saya menyarankan agar pasien segera di operasi untuk menindak lanjuti, sebelum keadaan semakin parah, tapi kami memerlukan wali untuk menyetujui sebelum kami mengambil tindakan" ungkapnya, sebelum matanya melirik Naruto yang terdiam.

"saat ini yang kita punya hanya anak ini", Erwin berlutut menyamakan tinggi badannya dengan anak bungsu keluarga Yeager. "Naruto aku tidak tau, kau paham atau tidak. tapi apakah kau setuju untuk menolong ibumu?" tanya Erwin, tangannya memegang pundak Naruto.

"tentu saja, dokter bisa menyelamatkan ibuku" Naruto melirik kesamping untuk melihat dokter itu. "tapi aku ingin bertanya" lanjutnya lagi

"silahkan" dokter itu mempersilahkan. Erwin sudah berdiri untuk membiarkan Naruto berbicara.

"dokter, apakah fraktur ibu termasuk jenis fraktur kominutif?"

"fraktur kominutif?", Hanji menyela sebelum dokter menjawab. Naruto menatap Hanji sepenuhnya.

"Hanji-san, jenis fraktur kominutif merupakan bagian dari patah tulang lengkap atau total. pada fraktur kominutif, tulang pecah menjadi tiga bagian atau lebih dan tidak lagi sejajar. umumnya, fraktur ini terjadi di area tulang kecil yang rentan patah, seperti di tangan atau kaki, akibat kecelakaan atau kejadian serius lainnya" jelas Naruto dengan nada riang seperti biasa.

dokter itu tersedak, terkejut mendengar rincian penjelasan singkat dari Naruto. matanya sedikit melebar sebelum menetralkan keterkejutannya.

"anak ini, darimana dia mempelajari tentang pengetahuan itu di umur segini" tanya dokter itu pada anggota Scouting Legiun.

"ada banyak penjelasan dokter, tapi bukankah sebaiknya anda bertindak pasien membutuh pertolongan anda" Erwin berusaha menunda sejenak pembicaraan mereka, dia tidak ingin terlalu banyak berbagi informasi sebelum semuanya jelas. dokter itu menatap Erwin dengan tatapan netral.

"baiklah", sebelum pergi dari sana, dokter itu menaruh tangannya diatas kepala Naruto "kau akan jadi dokter yang hebat, siapa namamu?" tanyanya.

"Naruto Yeager"

dokter terkejut lagi walau tidak menunjukkannya.

"Naruto, kah. namaku Kenzo Tenma, semoga kita bertemu di lain waktu", dokter Tenma melangkah pergi dari sana sebelum tatapannya menatap penuh perhitungan kearah Erwin.

Erwin sangat paham tatapan itu. wajahnya netral, berusaha untuk memikirkan kedepannya. Naruto masih anak-anak, dia penyandang disabilitas. sangat berbahaya jika ada yang tau dia menggunakan Naruto menjadi batu lompatan untuk kepentingan umat manusia. dia bukan memperalat Naruto untuk kepentingan sendiri. Erwin menjaga agar Naruto tetap aman bersamanya.

"Erwin, apa rencanamu selanjutnya?" Levi bertanya dengan dinginnya. dia tidak bodoh untuk menyadari arti dari tatapan dokter Tenma.

"kita akan berbicara dengannya"

dan tidak ada yang mengeluarkan komentar.

—Hope—

kelopak mata Carla terbuka sedikit demi sedikit, menyesuaikan cahaya mengisi retina matanya, tatapannya pertama kali menangkap langit-langit rumah sakit. rasa kelelahan tercetak jelas di wajahnya, meski dia sudah tertidur sepanjang hari– ah lebih tepatnya kesadarannya menghilang.

"ibu, kau sudah sadar" suara kekanak-kanakan berasal dari sebelah kanannya, membuatnya teralih.

Naruto berdiri disana, menatapnya sambil tersenyum senang. Carla hanya bisa membalasanya dengan senyuman tipis. tangannya meraih pipi putranya dan mengusapnya pelan.

"halo Naruto, kau tidak apa-apa kan?" Carla bertanya pada putranya.

"aku lebih dari baik ibu, Hanji-san merawatku dengan baik" Naruto menjawab kesenangan.

"Hanji...-san?"

"yah, Hanji-san, dia pasukan pengintai yang menolong ibu" Naruto menatap ibunya dengan polos. Carla tau, Scouting Legiun yang menolongnya tapi dia tidak tau setiap nama pasukan itu. "aku akan memanggilnya untuk ibu", Naruto berlari keluar dari ruangan ibunya tanpa sempat mempedulikan panggilan Carla.

Naruto datang seraya menarik tangan Hanji masuk kedalam ruangan Carla. ibunya sudah bangkit dari posisi baringnya, dia duduk manis bersandar pada headboard ranjang rumah sakit.

"ibu, ini Hanji-san dia orang baik. ada juga Erwin-san, Levi-san dan Mike-san. tapi mereka pergi berbicara dengan dokter" ujar Naruto, membawa Hanji mendekat ke ibunya.

"selamat sore, nyonya Carla", Hanji menyapa dengan ramah.

"selamat sore Hanji-san, terima kasih sudah merawat putraku dan menolong ku"

"ah tidak masalah. sebelumnya saya memohon maaf nyonya Carla, telah menganggu waktu istirahat anda. kami ingin berdiskusi dengan anda tentang beberapa hal" ungkap Hanji serius, ini tidak boleh ditunda-tunda.

sebenarnya dia tak ingin menyampaikan pada Carla dengan kondisinya seperti ini tapi keadaan memaksanya untuk segera bertindak.

"tentang apa itu, Hanji-san"

Hanji mengambil posisi duduk disamping ranjang Carla.

"baik, saya ingin berbicara mengenai putra anda..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

(beberapa saat yang lalu)

dokter Tenma menghela nafas pelan, setelah bergelut dalam operasi pemasangan pen di kaki Carla. tenaganya terkuras cukup banyak. tapi dia puas melihat pasiennya dalam kondisi stabil. dia beristirahat sejenak sebelum keluar memberitahu keadaan kondisi Carla.

dokter Tenma kembali teringat pembicaraannya dengan komandan Scouting Legiun, Erwin Smith.

"Naruto, kah?"

"dokter Tenma, pasien sudah siap di bawa ke ruang ICU sebelum di bawa ke ruang perawatan" seorang suster datang, menyela ingatan dokter Tenma.

"ah, iya. aku akan segera memeriksanya"

setelah memberikan serangkaian pemeriksaan yang di perlukan, Carla bisa di bawa ke ruang perawatan.

"tolong bawa pasien ke ruangannya"

"baik, dokter"

dokter Tenma kembali mengingat tujuannya, dia masih punya urusan dengan Erwin. segera ia kesana sebelum pasukan itu pergi. namun, beruntung baginya, Erwin masih ada disana. kedua anggotanya telah pergi, hanya seorang perempuan berkacamata dan Naruto yang masih menunggu.

Naruto menyadari dokter Tenma yang datang, dia segera berlari kearahnya.

"dokter, bagaimana keadaan ibu?" tanya Naruto, tangannya memegang lengan dokter Tenma.

tangannya yang bebas, mengusap kepala Naruto.

"ibumu sudah baik-baik saja, suster akan membawanya" balasnya dengan tersenyum manis.

"benarkah?"

"benar", tatapan dokter Tenma beralih kearah Erwin, wajahnya berubah menjadi lebih serius. "Erwin-san, jika anda berkenan, bisakah kita berbicara" tanyanya dengan suara netralnya.

Erwin sudah menunggu saat-saat ini.

"Hanji, temani Naruto"

"baik"

"ayo kita berbicara di ruangan saya", dokter Tenma menunjuk dengan cepat lokasi pembicaraan mereka.

suasana hening memenuhi ruangan dokter Tenma setelah pintunya tertutup dan memastikan tidak ada yang menyela untuk beberapa waktu ke depan.

"silahkan duduk, Erwin-san" dokter Tenma mempersilahkan tamunya untuk duduk berhadapan dengannya. posisi keduanya terhalang meja kerja yang cukup besar milik dokter Tenma. "terima kasih sudah meluangkan waktu untuk berbicara, Erwin-san" dokter Tenma melanjutkan pembicarannya.

"tidak masalah. tapi maaf, jika anda ingin berbicara, katakan sekarang. saya tidak punya waktu banyak" Erwin to the point.

"begitu, kah", Tenma menyatukan jari-jarinya dan meletakkan sejajar dengan dagunya, dengan sikunya sebagai penyangga.

"anda pasti mengerti, ini mengenai Naruto. anak dari keluarga Yeager itu. saya tidak mengerti mengapa, pasukan militer khusus menemani anak itu terlalu lama?" tanyanya masih mempertahankan suaranya.

"kami menolong anak itu sewaktu penyerangan distrik Shiganshina berhasil di taklukkan oleh para raksasa, tidak ada alasan lain" Erwin menjawab seringkas mungkin.

"tapi apakah itu tidak membuang waktu anda? setahu saya, pasukan anda sedang sibuk untuk meneliti para raksasa itu"

"saya masih memiliki anggota terpercaya untuk menggantikan saya sementara waktu"

"yah itu bisa jadi, tapi..." dokter Tenma hendak melanjutkan lagi tapi Erwin terburu memotongnya.

"maaf dokter, tapi kenapa anda harus peduli dengan urusan kami? saya rasa kita punya privasi sendiri untuk menjalankan peran masing-masing" Erwin berujar dengan sedikit datar.

dokter Tenma tersenyum tipis.

"yah, anda benar. tapi sebagai seorang dokter, saya juga punya kepekaan yang cukup untuk memahami kondisi pasien tertentu", tatapan dokter Tenma menjadi lebih serius dan tajam. "anda seharusnya, bahwa anak itu tidak seperti anak normal. anda tidak bisa mengklaim bahwa urusan anak itu bukan urusan kami. pada dasarnya, kesehatan anak itu tergantung pada kami juga", dokter Tenma kembali melanjutkan ucapannya.

suasana menjadi sedikit tegang.

"apa maksud anda?"

"Naruto, anak itu menderita 'Autism Spectrum Disorder', kan?" tebak dokter Tenma. mengejutkan Erwin. "dengan melihat tingkah dan caranya berbicara, tidak terlalu sulit untuk menebaknya. Erwin-san, saya seorang dokter. interaksi antara pasien dan dokter sudah menjadi hal umum dalam pekerjaan kami. kami sudah terlatih untuk mengetahui kondisi pasien" dokter Tenma berdiri dari duduknya dan menuju rak-rak yang berisi buku di sebelah kanan mejanya.

"sepengetahuan saya, autisme adalah gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan penderita dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. di samping itu, autisme juga menyebabkan gangguan perilaku dan membatasi minat penderitanya. penyakit ini menyerang mental. pada dasarnya, penyakit ini bawaan lahir dan penderita mengidap penyakit ini seumur hidup. tetapi, meski tidak bisa di sembuhkan, penyakit seperti ini memerlukan terapi. umumnya, penyandang autisme cenderung memiliki masalah dalam belajar dan kondisi kejiwaan lainnya, seperti gangguan hiperaktif atau disebut juga Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan kecemasan, dan depresi", dokter Tenma mengeluarkan sebuah map berisi data-data pasien yang di tanganinya. dia menaruhnya diatas meja. "selama saya menjabat sebagai dokter. saya sering berkeliling dalam tembok ini dan saya jarang mendapat kasus seperti ini" lanjutnya, dia mengetuk map yang terletak diatas meja.

Erwin hanya terdiam, menunggu dokter Tenma melanjutkan penjelasannya, diam-diam dia menyimpan informasi itu, sejujurnya Erwin juga baru pertama kali menemukan hal itu dalam hidupnya. dokter Tenma berdiri di samping meja. dia menumpu tubuhnya diatas meja.

"selain itu, anak itu, dia luar biasa. baru pertama kali aku melihat seorang anak penderita autis mengetahui sesuatu hal yang belum cocok dengan seumurannya, belum lagi masalah interaksi sosial tidak terlalu menganggunya, biasanya anak penderita autisme terlalu takut untuk bertemu orang asing. sepertinya, orang tuanya melakukan terapi dengan baik, tapi itu hanya dugaanku, saya belum mengetahuinya secara pasti", dokter Tenma melipat kedua tangannya. tangan kananya memegang keningnya. "jika saya menebak, anak itu mengidap bukan penyakit autisme biasa" lanjutnya.

"maksud anda? apakah penyakit ini memiliki jenis yang berbeda?"

"ya, beberapa saya ketahui, tapi kemungkinan anak itu mengidap Syndrom Savant"

"Syndrom Savant?"

dokter Tenma menatap Erwin sejenak sebelum mengangguk. "Savant Syndrome atau sindrom savant adalah kondisi langka yang mencerminkan adanya tingkat kecerdasan tertentu yang sangat menonjol. sindrom ini amat mencolok karena biasanya dikaitkan dengan kondisi tertentu, umumnyagangguan spektrum autisme, juga pada orang non-autis dengan tingkat intelegensi (IQ) di bawah rata-rata. keahlian khusus yang dimiliki oleh orang dengan savant syndrome berbeda-beda" jelasnya lagi

"jadi maksud anda, ini seperti dia punya kemampuan khusus tertentu yang tidak di miliki orang lain, begitu?" Erwin bertanya dengan penasaran. informasi ini semakin menguatkan Erwin untuk menggaet Naruro dalam tim-nya.

"yah, pada dasarnya seperti itu"

"lalu, bagaimana dengan kondisi fisiknya? seperti berlari jarak jauh atau kegiatan berat yang melibatkan fisiknya?" tanyanya lagi.

dokter Tenma bersandar di dinding rak-rak bukunya dia menyilangan kedua tangannya di dada dan menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatap Erwin.

"selama dia tidak punya riwayat penyakit berbahaya saya kira itu tidak apa-apa. justru menurutku itu bagus, anak itu perlu mengembangkan kemampuan motorik halus, keterampilan motorik kasar, dan daya tahan tubuhnya. latihan bisa membantunya menjadi bugar dan mungkin membantunya juga bersosialisasi lebih luas lagi", dokter Tenma kembali duduk di kursinya.

"begitu, kah?"

"ya. tapi Erwin-san, bisakah saya bertanya satu hal lagi?", dokter Tenma kembali dalam mode seriusnya.

"apa itu?"

"salah kah saya, jika menebak bahwa anda memiliki niat untuk merekrut anak itu?" tanya dokter Tenma serius. mengejutkan Erwin dan menunjukkan wajahnya yang berkerut.

"saya rasa itu bukan urusan anda" kata Erwin datar.

"tentu saja ini urusan saya, Erwin-san. bagaimanapun anak itu memerlukan bantuan medis", dokter Tenme tersenyum miring melihat reaksi Erwin yang tak suka tapi itu merupakan fakta.

"jadi apa mau anda?"

"wah, anda benar-benar seorang komandan yang cerdas, langsung menangkap inti pembicaraan kita" puji dokter Tenma, dia bertepuk tangan pelan. "tapi jika anda mau, kita bisa bekerja sama" lanjutnya.

Erwin mengerutkan kening.

"lanjutkan"

"jika anak itu menerima tawaran anda untk bergabung, saya ingin mengajukan permintaan. anak itu belajar untuk menjadi dokter di bawah naungan saya dan menjadikan anak itu dokter milik rumah sakit. bagaimanapun juga, anak itu perlu belajar lebih banyak, pelatihan dan pengalaman di butuhkan untuk meningkatkan kemampuannya. saya rasa anda membutuhkannya di garis belakang untuk memberi pertolongan pertama di pasukan anda" ujar dokter Tenma dengan tersenyum tipis.

Erwin memikirkan, lagipula dia tidak dirugikan disini. lagipula dokter Tenma benar, Naruto memang pintar, tapi dia butuh pengalaman tentang penanganan mengobati untuk menolong orang.

"baiklah saya setuju"

dokter Tenma tersenyum puas.

"tapi sebelum itu, saya mengajukan syarat"

"apa itu?"

"pertama, selama masih dalam pembelajaran saya, Naruto tidak di izinkan untuk keluar tembok. kedua, dia tidak diperkenankan belajar menggunakan pedang, cukup alat 3D manuver gear. dan ketiga dia masuk dalam pasukan garis belakang dan wajib di lindungi" ujar dokter Tenma.

"saya tidak keberatan", Erwin memaklumi, bagaimanapun Naruto salah satu 'alat' penting untuk kemanusiaan.

"bagus, saya akan menulis kesepakatan kita", dokter Tenma mengambil salah satu kertasnya dan menuliskan kesepakatan mereka berdua. "silahkan tanda-tangani disini", dokter Tenma menyondorkan kertas itu pada Erwin setelah dia mengisinya terlebih dahulu.

"terima kasih meluangkan waktu, Erwin-san, senang bekerja sama dengan anda", dokter Tenma menjabat tangan Erwin setelah menandatangani surat kesepakatan mereka.

"yah, saya juga. saya pamit undur diri"

"silahkan"

senyum tipis Tenma tak pernah luntur, matanya terus melihat Erwin yang berjalan pelan keluar dari ruangannya.

dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah buku yang cukup tebal bersampul tebal bewarna merah maron. judul buku itu tertulis 'Sejarah : Darah Murni'

"aku menemukan satu, yah?" gumam dokter Tenma, sebelum membuka halaman pertama dan membacanya.

.

.

.

.

.

.

.

Carla merenungi pembicaraannya dengan Hanji beberapa waktu lalu. salah satu squad Leader itu memintanya untuk menyetujui persetujuan untuk memasukkan Naruto ke dalam pasukan pengintai.

iris matanya terus menatap Naruto yang tertidur beberapa menit yang lalu di sampingnya sambil mengusap kepalanya agar putranya merasa nyaman. dokter memperbolehkan untuk membiarkan putra bungsunya tidur diruangannya.

"apa yang harus ibu lakukan sekarang Naruto?" gumam Carla lirih.

jika saja rumah mereka masih aman dari para raksasa. mungkin Carla dengan tegas menolak permintaan Hanji tanpa perlu bersusah payah berpikir. tapi keadaannya berbeda. kakinya butuh waktu cukup lama untuk sembuh. dia tidak bisa berjalan. dia tidak bisa mengurus putranya. apalagi putra sulungnya belum kunjung di temukan.

"sepertinya keadaannya berubah, mulai sekarang. apapun yang ingin kau lakukan, maka lakukanlah. ibu hanya bisa mendukungmu dan teruslah meraih mimpimu, sayang. ibu menyayangimu" ucap Carla, dia mengecup kening putranya yang masih tidur. lalu mendekapnya lebih erat sebelum ia tertidur.

Carla sudah membuat keputusan, sepertinya membiarkan putranya tumbuh adalah pilihan tepat. sekarang yang dia perlukan adalah menonton dan mendorong putranya untuk terus maju.

.

.

.

.

.

.

.

.

keesokan harinya, Carla meminta untuk putra sulungnya dan putri angkatnya di temukan tetapi bahkan hampir sebulan lamanya dia tidak ditemukan. pasukan pengintai tak bisa berbuat banyak.

meski di rundung kecewa tapi dia yakin, suatu saat mereka akan berkumpul kembali. masih ada harapan. tak peduli berapa banyak waktu di butuhkan. rencananya setelah dia sembuh, Carla ingin segera menemukan putra dan putrinya. namun, sayangnya dokter tidak mengizinkannya.

Hanji meyakinkannya untuk tetap sabar. karena mungkin dia bisa menemukannya tanpa perlu bersusah payah mencarinya.

dan pertemuan itu akan terjadi. meski mengambil waktu cukup lama.

—Hope—

(dua tahun setelah wall Maria jatuh di tangan para titan)

sesuai dengan janji mereka bertiga. Eren, Mikasa, dan Armin melanjutkan hidupnya masuk kedalam Korps Pelatihan Militer sebelum melanjutkan masuk kedalam Military Policy, Scouting Legiun dan Stationary Guard. meskipun banyak pilihan yang lebih baik, Eren tetap memilih untuk masuk kedalam Scouting Legiun.

melihat kondisi Carla waktu itu meski ia tidak melihatnya secara detail apa yang terjadi, sungguh menganggu ketenangan jiwa Eren yang dendam akan para titan. lebih buruknya, ia bahkan tidak menemukan saudaranya dimanapun, entah dia mati atau masih hidup, dia tidak tau. namun, mengingat seberapa kacaunya kondisi saat itu, Eren tidak bisa menjamin keselamatan saudaranya yang membuatnya terjerumus dalam lubang penyesalan.

"selamat pagi anggota training unit ke-104. aku Keith Sadis bertanggung jawab atas pelatihan militer kalian disini, aku di sini bukan untuk memberikan sambutan hangat! kalian semua hanya ternak yang menunggu untuk dimakan oleh para raksasa! tidak, kamu bahkan lebih buruk dari hewan ternak!" suara keras dan tegas keluar dari pemimpin pasukan barisan kadet yang baru, Keith Sadis.

para anggota berdiri dengan tegak menyambut kata-kata tajam dan pedas menohok hati lembek para pasuka militer. Keith Sadis, tidak main-main melatih mental mereka. mengintrogasi mereka untuk menguji mereka.

ditengah kegiatannya, seseorang mengintrupsi kegiatan mereka, seorang kadet senior.

"pak, saya membawa sebuah pesan. Scouting Legiun mengirim salah satu pasukan khususnya untuk melakukan uji coba bersama para kadet" orang itu berkata, Keith Sadis meninggalkan sejenak pada kadet itu. beberapa dari mereka berbisik-bisik oleh kedatangan pasukan khusus itu.

"jadi sudah sampai yah" gumam Keith pelan, ia sudah mendapat kabar dari ketua Scouting Legiun, "bawa dia kemari" titahnya dengan tegas. kadet itu mengangguk paham lalu pergi menjemput anggota khusus dari anggota Scouting Legiun.

"dengarkan aku, kita kedatangan anggota khusus dari pasukan Scouting Legiun. saranku, jangan mengganggunya atau membuatnya tidak nyaman, atau kalian mendapatkan pengurangan poin" ucap Keith tegas, ia sudah tau kondisi anggota yang dimaksud.

kadet senior itu kembali menghadap Keith Sadis namun, kini membawa seseorang bersamanya. seseorang itu memakai kemeja putih dengan rompi merah, ia memakai celana kain bewarna hitam panjang. kedatangannya membuat 3 pasang mata yang sangat mengenal orang itu membulat tak percaya.

"anggota khusus kita, sambutlah dia, Naruto Yeager. bersikap hangat padanya" Keith berteriak lantang pada kadet unit ke-104.

Naruto berdiri kaku di samping Keith Sadis, ia enggan menatap ke depan. ia masih sedikit kaku untuk bertemu orang asing, meski sudah di latih bersosialisasi tapi dia belum terbiasa dengan orang-orang seumurannya, kebanyakan dari senior-seniornya. itulah alasan kenapa ia juga masuk ke dalam Korps Pelatihan Militer ini.

"perkenalkan dirimu" Naruto mendengar suara Keith memerintahkannya, yang di balas dengan anggukan. ia maju selangkah ke depan Keith. membungkuk 45 derajat pada kadet. ini menimbulkan sebagian tatapan aneh, heran dan masih banyak lagi.

"Naruto Yeager, salam kenal" ucap Naruto singkat, padat dan jelas. masih menolak menatap kedepan, lalu mundur untuk kembali sejajar dengan Keith. Naruto memegang ujung rambutnya yang bewarna pirang lurus sebelah kiri dan memelintirnya perlahan. kebiasaannya ketika gugup.

"baiklah, aku membuka satu pertanyaan, silahkan bertanya" Keith paham diantara mereka ada yang heran dengan kejadian ini. hingga salah satu diantara mereka berani mengangkat tangannya. Keith masih menatap dengan sangar.

"iya kamu, siapa namamu dan apa pertanyaanmu?"

"saya Marco Bott, dari Distrik Jinae, Sisi Selatan Tembok Rose. maaf pak, kenapa bisa Naruto bisa menjadi anggota khusus Scouting Legiun dan kenapa ia malah bergabung dengan kami?" tanyanya dengan nada takut-takut. Keith sudah menduga, pasti pertanyaan mereka sama.

"baiklah, dengarkan ini. Naruto anggota khusus dari Scouting Legiun karena kemampuan medis yang luar biasa, dia disini untuk membantunya berinteraksi dengan orang-orang. selain itu, dia juga akan membantu kalian cara menghadapi para raksasa. dia anak 'spesial' jadi bersikap baiklah padanya" ucap Keith dengan tegas. sebagian orang berbisik-bisik membicarakan anggota khusus dari Scouting Legiun itu.

di lain sisi, Eren mengepalkan tangannya karena tidak tahan mendengar bisikan itu. dia tidak suka, jika ada yang berbicara 'miring' mengenai saudaranya. tapi dia senang, saudaranya masih hidup, sehat dan utuh.

Mikasa hanya bisa terdiam kaku di barisan kadet melihat Naruto berdiri di samping Keith dengan sehat, utuh, tanpa kekurangan apapun. dia ingin menangis sekarang. tapi dia bisa menyembunyikan emosinya dengan baik.

sementara Armin hanya bisa merasa senang, sedih, dan terharu. setelah sekian lama, mereka akan berkumpul lagi.

tampaknya ketiganya harus menahan diri hingga waktu kadet di istirahatkan, sebelum mereka benar-benar melompat kearah Naruto dan memeluknya.

merasa sudah cukup untuk memperkenalkan Naruto, Keith Sadis kembali melanjutkan pelatihannya.


a/n : dokter Tenma atau Kenzo Tenma adalah karakter dari anime Monster. search aja di google. okey.

sebelumnya maaf, chapter ini membosakan karena berisi pembahasan awal-awal. Naruto belum debut. Eren, Mikasa, dan Armin baru memulai menjadi kadet.

mungkin chapter depan, saya akan memulai untuk serius. (semoga saja)

oke saya akan menjawab beberapa pertanyaan dulu dan memperjelas sesuatu.

dan saya mengucapkan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk cerita ini dan memberikan review. terus berikan review yah (berharap)

yang pertama, Naruto di cerita ini original dari AoTverse. tidak ada cerita dari Narutoverse tapi karakternya mungkim ada yang masuk tapi kalau keseluruhan cerita, murni dari attack on titan tapi cerita dan sejarahnya versi saya. (mungkin, hehe)

yang kedua, Naruto disini tidak memiliki kurama dan biju lainnya, meskipun saya suka banget liat Naruto berpartner sama peliharaan saya. xixixixi. tapi memikirkan dia anak normal, saya tidak berpikir begitu kalau berdasarkan kemampuan yeu. yah anggap ajalah begitu kalau kalian.

yang ketiga, untuk hubungan Naruto dan Yeager. yah dia di adopsi. dan untuk hubungan darah, nanti saya jelaskan. yang ada saya malah spoiler.

that's enough. sampai jumpa chapter depan. (emot batu)