Disclaimer :

Naruto punya Masashi Kishimoto

Shingeki no Kyojin punya Hajime Isayama

Warning : OOC, bahasa kurang baku, typo dan masih banyak lagi


Eren bingung.

Eren tidak tau harus merasa bagaimana perasaannya pada saudaranya, Naruto. senang, sedih, dan bangga, semuanya campur aduk.

senang, melihat saudaranya masih hidup dan sehat. sedih, karena tidak sempat menolongnya. bangga, karena Naruto bergabung dengan tim pasukan impiannya lebih dulu.

dari semua itu, Eren merasa sangat bahagia. jika orang lain melihat, Eren sering berbuat kasar pada Naruto tapi bukan berarti dia tidak menyayanginya. diantara keinginannya yang paling dia impikan adalah Naruto menjadi anak yang normal seperti dirinya. tapi dia sadar, dia belum menemukan obatnya sampai sekarang.

melihat saudaranya kembali ke sisinya adalah sesuatu perasaaan bahagia yang tidak bisa di ukur dengan kata-kata. dalam hatinya, mulai sekarang dan seterusnya, dia akan lebih menjaga saudaranya. satu-satunya keluarga yang akan dia jaga. Naruto akan selalu membutuhkan orang yang menjaganya, dan itu dia. ikatan mereka kuat, Eren sangat yakin. itulah mengapa dia merasa, Naruto akan selalu kembali pada padanya, pada Mikasa, dan pada Armin juga.

setelah barisan di bubarkan. tidak ada yang ingin Eren lakukan sekarang selain mendekap saudaranya. ingin membuktikan dia benar-benar nyata bukan sekedar imajinasinya belaka. selama dua tahun ini, Eren kadang-kadang menangis sendirian ketika merasa merindukan ibu dan saudaranya.

"maaf", jika Eren tidak mengingat dimana sekarang dia berada. dia mungkin akan menangis keras, sekeras yang dia bisa untuk meluapkan perasaannya hingga titik terendah.

seadainya mereka baru kemarin mereka mengenal Eren. Armin dan Mikasa akan terkejut tapi melihat pemandangan dan ucapan Eren.

mereka paham dari siapapun, bahwa Eren benar-benar menyayangi saudaranya. hanya saja cara menyampaikannya berbeda. tingkahnya seolah-olah dia membenci Naruto.

"Eren, kau tidak apa-apa? aku senang kau sehat" Naruto menyambut pelukan Eren dengan perasaan senang. Eren mengangguk pelan. mereka ada di pinggir lapangan, semua orang kembali beristirahat sebelum makan malam. Keith memberikan waktu untuk mereka.

Eren melepaskan pelukannya, dia mencoba untuk tetap tenang. seharusnya dia yang bertanya seperti itu.

"Naruto!" Armin melompat masuk dalam pelukan Naruto. anak bungsu Yeager itu terkekeh pelan. Armin benar-benar senang, melihat Naruto masih hidup hingga sekarang. "kali ini kita akan melakukan impian kita bersama" Armin berkata dengan antusias setelah melepas pelukannya. Naruto mengangguk.

Mikasa mendekat kearah Naruto, sebelum memeluknya dia mengusap pipi kanan Naruto dengan lembut. air matanya mengenang di pelupuk matanya, dia teringat ketika melihat Naruto yang berlarian di padang rumput bersama Eren.

dua tahun waktu yang lama, dia melihat anak kecil itu tumbuh lebih besar sekarang. Naruto tersenyum lebar sampai matanya tertutup. setetes cairan bening itu tumpah dari mata Mikasa. dia segera berhambur memeluk anak bungsu dari keluarga Yeager. melepaskan setiap rindu yang melekat di dadanya. sama seperti Eren, dia terkadang diam-diam merindukan momen mereka di waktu kecil.

namun sekarang, mereka berkumpul lagi. dia benar-benar senang.

"aku senang kau kembali Naruto", Mikasa memeluk Naruto cukup lama. dia memejamkan matanya menikmati pelukannya. dia berharap setelah ini, mereka tidak akan terpisah lagi.

"hmm, aku juga senang. kita akan bermain lagi kan?" Naruto menatap Eren dan Armin di balik pundak Mikasa yang masih memeluknya. pikiran anak-anaknya masih terbawa sampai sekarang.

Mikasa melepaskan pelukannya setelah merasa puas. dia mundur untuk sejajar dengan Eren dan Armin. mereka bertiga bertukar pandang sebelum menatap Naruto yang berdiri di hadapan mereka dengan tatapan bingung.

"tidak hanya bermain" Eren bersuara.

"tapi kita akan menjelajah" Armin melanjutkan.

"bersama-sama" Mikasa tersenyum.

Naruto tersenyum senang. sebelum tawa bahagia mereka mengisi lapangan. melupakan bahwa petualangan berat menunggu mereka.

—Hope—

suasana ruang makan milik kadet unit 104 nampak bising. setelah mengetahui Eren berasal dari Shiganshina, sebagian dari mereka mengelilingi Eren. mereka hanya ingin tau tentang distrik Shinganshina yang takluk oleh para titan, kabar itu berhembus cukup jauh hingga ke daerah masing-masing. mereka bertanya seputar titan-titan yang masuk kesana, bahkan titan yang menghancurkan tembok, titan colossal.

Eren berulang kali meyakinkan mereka bahwa dia memang melihat titan-titan itu.

"bagaimana bentuknya?"

"dia sedikit lebih tinggi dari tembok?" Eren sesekali menyuapkan supnya ke dalam mulutnya.

"benarkah? aku mendengar bahwa titan itu melompati tembok"

"aku juga" beberapa orang mendengar opini yang sama.

Eren mendengus, "dia tidak sebesar itu?"

"lalu wajahnya?" seorang perempuan bertanya.

"dia tidak memiliki kulit dan mulutnya lebar sekali", Eren kembali menyuapkan sup itu ke mulutnya.

salah satu dari mereka belum merasa puas.

"bagaimana titan lainnya"

tubuh Eren membeku, mengingat salah satu titan yang ingin menangkap ibunya yang dia lihat. dia tidak melihat sampai hari itu. hingga detik ini pun dia belum tau, kalau Carla masih hidup.

seorang rekrutan, Marco Bott, seperti mengerti bahwa mungkin Eren memiliki trauma pada titan tertentu. sebelum suasana hati Eren berubah, dia harus mengambil tindakan.

"teman-teman, berhenti bertanya lagi. sepertinya dia punya kenangan buruk jadi jangan memaksa itu mengingatnya", Marco berusaha untuk menjelaskan.

salah satu diantara mereka seorang laki-laki berambut tipis, Connie Springer, menyadari maksud Marco.

"maaf, kami sud–"

"tidak, bukan begitu" Eren dengan cepat memotong ucapan Connie. dia mengambil rotinya dan menggigitnya sedikit keras. "sebenarnya titan-titan itu lemah, mereka tidak ada apa-apanya. jika perlengkapan 3D manuver gear kita kuasai, mereka tidak bisa melawan kita", Eren berkata dengan nada menggebu-gebu.

"sekarang kita punya kesempatan menjadi prajurit. aku akan bergabung dengan pasukan pengintai dan membasmi semua raksasa di dunia ini" Eren melanjutkan penjelasannya tanpa menatap mereka, dia lebih tertarik menatap meja. "aku akan membunuh mereka–"

"oi, kau masih waras kan?" seseorang dari seberang meja Eren, memutuskan untuk ikut dalam pembicaraan si sulung Yeager. "barusan kau bilang ingin bergabung dengan pasukan pengintai?" tanyanya pada Eren.

Eren melihat kesamping, menatap siapa yang berbicara.

"kau benar" tatapan Eren sedikit lebih tajam, "kalau kau tidak salah, kau tadi mengatakan ingin bergabung dengan polisi militer agar bisa hidup dengan santai" Eren berkata sambil menatap sesama rekrutan itu. mengingat namanya waktu di lapangan tadi, Jean Kirschtein.

"aku ini orang yang jujur" Jean berkata dengan sedikit merendahkan. "setidaknya aku lebih baik dari seseorang yang bergaya seperti orang hebat padahal dia hanya seorang penakut", Jean tersenyum mengejek.

Eren berdiri, dia tidak menyukai Jean yang seakan menyindirnya. tatapannya menggelap. "apa kau menyindirku?" tanya Eren dengan nada dinginnya.

"hei, hentikan", seseorang bersuara untuk menghentikan keduanya.

Jean tertawa pelan, "aku tak bermaksud menyinggungmu", dia ikut berdiri.

keduanya mendekat satu sama lain. tatapan tajam Eren bertemu dengan tatapan rendah dari Jean. namun, suara lonceng berdentang mengintrupsi keduanya.

Jean menghela nafas pelan, "sudahlah, maaf yah" wajah Jean berubah menjadi normal, "aku tak bermaksud menghakimi pemikiranmu. kita lupakan saja hal ini", Jean mengulurkan tangannya, salam untuk perdamaian.

"ya, aku juga minta maaf" wajah Eren tidak berubah namun tetap menerima salam damai dari Jean. lalu, dia meninggalkan ruang makan.

Jean menatap punggung Eren yang semakin menjauh. sebelum tatapannya membeku ketika melihat Mikasa melintas di depannya. rambutnya seakan mengikuti gerakannya, dia terpesona.

"hei, kamu!" Jean mengambil tindakan sebelum perempuan itu pergi.

merasa di panggil, Mikasa berbalik dan melihat Jean menatapnya dengan gugup.

"ano, aku jarang melihatmu di sekitar sini" Jean berkata dengan gugup, matanya berulang kali melirik Mikasa dan lantai bergantian. "maaf, rambut hitammu cantik sekali" pujinya gugup.

"terima kasih" Mikasa berkata dingin dan tidak tertarik. lalu meninggalkan Jean yang tersipu malu.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto keluar dari ruangan Keith setelah berdiskusi cukup lama dan belajar disana. Keith memberikan dia kelonggaran untuk menggunakan ruangannya untuk sekedar belajar atau praktikum. dia selalu membawa buku-bukunya, karena dokter Tenma selalu mencecokinya untuk tidak berhenti belajar.

Naruto memiliki ingatan yang kuat, dia bisa mengingat hal-hal detail di otaknya. itu mengapa dokter Tenma mengajarkannya sesuatu dengan cepat. namun, karena usianya masih terlalu muda, gelar dokter belum bisa dia raih. pengalamannya belum banyak dia dapatkan, meski pengetahuan soal teori dia sudah sangat menguasainya.

arloji sederhana pemberian dari dokter Tenma, selalu di pakainya, dimanapun dan kapapun, kecuali dia sedang mandi. dokter Tenma mengatakan, seorang dokter membutuhkan jam untuk melihat waktu. selain itu dia juga membawa stopwatch untuk berjaga-jaga.

suasana malam di sekitar kamp serta udara segar yang berhembus membuatnya merasa sehat. hutan di sekitar kamp sangat baik untuk membantu para prajurit itu.

melihat hutan di samping kamp, Naruto tertarik untuk bermain disana. sudah lama dia tidak bermain di hutan. sesampainya disana, dia tidak melihat siapapun, hanya penerangan dari bohlam menghiasi bibir hutan. Naruto tidak ingin mengambil risiko dengan bermain di dalam hutan di malam hari tanpa penerangan.

Naruto mencari beberapa rating pohon yang cukup tebal untuk membuat kerajinan lagi, sudah lama dia tidak mengasah kemampuannya lagi.

setelah merasa cukup, dia duduk bersandar di salah satu pohon dan mengeluarkan pisau dari tas pinggangnya dan mulai berkreasi.

terlalu sibuk dengan kegiatannya, dia tidak sadar seseorang keluar dari hutan dan melihatnya.

"kau tidak takut berada disini?" orang itu bertanya pada Naruto yang diabaikan.

Naruto memang memiliki kebiasaan yang terlalu fokus pada satu tujuannya maka lingkungannya akan terabaikan. orang itu berniat meninggalkan Naruto untuk tidak menganggunya. tetapi, ketika dia sudah beberapa langkah ke depan, dia kembali berbalik. melihat anak itu terlalu sibuk, menarik perhatiannya.

orang itu menghela nafas pelan, sepertinya rasa penasaran terlalu menguasainya, dia kembali berbalik dan mencoba berbicara dengan Naruto.

"hei, sedang apa kau disini?" tanyanya lagi, kali ini dia memegang Naruto untuk membuatnya merasa dia tidak sendirian.

usahanya berhasil Naruto mendongak untuk melihat siapa yang berbicara padanya. dia tersenyum manis.

"hai, apa kabar?" Naruto bertanya dengan nada khasnya yang sedikit ceria.

orang itu memilih untuk bergabung dengan Naruto. dia duduk di samping Naruto.

"baik, sedang apa kau disini?" tanyanya lagi.

Naruto memperlihatkan kerjaannya yang hampir jadi. "membuat kerajinan. hmm, namaku Naruto Yeager. punyamu?" tanyanya balik.

"Annie Leonhart", perempuan pirang itu berkata dengan singkat. Naruto mengangguk senang.

"ne, Annie, apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto

"tidak ada"

"hmm, apa kau mencari udara segar?" tanya Naruto lagi.

Annie menatap tanah di hadapannya. "sepertinya begitu" jawabnya seadanya.

"itu bagus, udara segar sangat dibutuhkan oleh manusia" Naruto berkata dengan nada khasnya. Annie mulai tertarik.

"misalnya?"

"pohon, menggunakan fotosintesis untuk mengubah karbondioksida menjadi oksigen yang kita perlukan untuk bernapas. dalam setahun, kehadiran pohon bisa menyelamatkan 850 nyawa dan mencegah 670.000 penyakit pernapasan akut. pohon akan mengusir polusi dari udara sehingga lebih sehat untuk masuk ke dalam paru-paru. polusi udara sendiri diketahui berdampak sangat buruk, bahkan paparan dalam jangka panjang bisa menyebabkan kanker dan bayi lahir cacat" jelas Naruto tanpa jeda, sudah kebiasaannya jika menjelaskan sesuatu. maka dia akan menjelaskan sejelas mungkin. persis yang tertulis dalam buku, meski ini dianggap hal-hal umum. "manfaatnya, menyelamatkan nyawa, meningkatkan sistem imun, mengatasi stress dan meningkatkan energi" lanjutnya lagi.

"aku mengerti, tapi apa kau juga mencari udara segar?" tanya Annie.

Naruto menggeleng pelan, dia menatap kerajinan yang dia buat. Annie sepertinya menangkap pandangan Naruto.

"kau membuat sesuatu?" tanya Annie. Naruto mengangguk pelan sebelum menyelesaikan kerjaannya.

"aku membuat ini" Naruto menunjukkan hasilnya pada Annie yang di terima tatapan tertarik.

"apa itu?"

"kereta kencana, aku membuatnya dengan empat roda. kereta ini di tarik oleh kuda untuk bisa berjalan. aku pernah naik ini dengan Kenzo-sensei" Naruto bercerita tentang pengalamannya bersama dokter Tenma.

miniatur kereta kencana dengan roda empat, dua pintu serta memiliki atap itu menggelitik keinginan Annie untuk memilikinya.

"itu bagus" Annie berkata dengan seadanya dengan tatapan tak lepas dari miniatur Naruto.

"kau menginginkannya?" tanya Naruto mengejutkan Annie.

"hmm, iya" Annie menjawab dengan pelan.

"kalau begitu ini buatmu", Naruto memberikan miniatur itu di pangkuan Annie yang semakin mengejutkannya.

"apa ini tidak apa-apa di berikan padaku?", Annie bertanya dengan kaget meski suaranya masih netral. Naruto mengangguk senang.

"iya, karena sekarang kita adalah teman dan itu hadiah dariku" pernyataan sederhana dari Naruto membuatnya merasa hangat di hatinya.

"teman?"

"benar, ibu bilang jika bertemu orang, dia memberikan namanya dan dia adalah orang baik maka dia adalah teman. kan, Annie?" Naruto tersenyum lebar hingga matanya tertutup.

"kau benar-benar menganggap aku teman?" Annie betanya lagi.

"tentu saja, karena Annie adalah orang baik" ucap Naruto dengan polosnya. dia menatap Annie dengan tatapan innocentnya.

disebut 'orang baik' oleh seseorang entah mengapa perasaan hangat semakin menyelimuti perasaan Annie tapi dia tidak menunjukkannya.

"begitu, yah?" tatapan Annie beralih pada miniatur itu. diam-diam tersenyum tipis tanpa Naruto sadari. "kalau begitu, aku pergi dulu, aku sudah mengantuk", Annie berdiri dan membawa miniatur itu bersamanya.

"terima kasih, Naruto", Annie perlahan meninggalkan Naruto yang masih disana dan melambaikan tangan kearahnya.

"sama-sama" balas Naruto dengan nada riangnya dan terus melambaikan tangan pada Annie yang semakin menjauh.

Annie terus tersenyum tipis sepanjang perjalanan menuju kamp. untuk pertama kalinya dia merasa senang memiliki ikatan yang terasa berbeda, disini.

—Hope—

wajah Eren merengut, dia di papah oleh Armin menuju ruang kesehatan, kepalanya berdarah karena terbentur dengan tanah. dia memaksakan diri untuk menguasai alat dasar perlengkapan bermanuver 3D.

"Eren, kau kenapa?" tanya Naruto menyambut kedatangan Eren yang berdarah, Armin dan Mikasa yang mengikuti dari belakang.

"Naruto, sedang apa kau disini?" tanya Eren balik, mengabaikan pertanyaan Naruto.

Naruto menunjukkan buku yang cukup tebal, "belajar", lalu menaruh bukunya di atas nakas samping brankar. "duduklah, aku akan mengobatimu", Naruto menepuk brankar itu, Armin segera membantu Eren untuk naik.

Naruto datang bersama kotak p3k yang di bawanya. dia menaruhnya di samping Eren, lalu mencari sesuatu yang di butuhkan.

"apa itu Naruto?" Mikasa bertanya dengan sedikit penasaran.

di tangan Naruto yang sudah memakai sarung tangan lateks, ada kain kasa dan sebuah botol kecil berisi cairan bewarna bening persis seperti air.

Naruto menuangkan cairan itu kedalam kasa dan membersihkan luka Eren.

"ini antiseptik dengan kandungan polyhexamethylene biguanide (PHMB)" jawabnya dengan tenang, tangannya terus membersihkan luka Eren.

"apa ini sama dengan alkohol? aku merasa luka ku tidak perih seperti tadi?" tanya Eren penasaran juga. melupakan kejadian yang baru saja menimpanya.

ketiganya memperhatikan bagaimana Naruto bekerja.

"tidak, sebenarnya membersihkan luka menggunakan cairanalkoholmemang efektif untuk mencegah pertumbuhan bakteri diluka. namun, zat ini ternyata tidak boleh digunakan untuk membersihkanluka. sebab, cairanalkoholbisa menimbulkan sensasi terbakar pada kulit. alkohol sendiri memiliki tingkat cairan tertentu untuk membersihkan luka. contohnya, alkohol 70% 100 ML merupakan cairan yang digunakan sebagai antiseptik (membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme), untuk membersihkan luka dan pembersih alat-alat medis" jelas Naruto, setelah merasa luka Eren sudah di bersihkan. dia melilitkan perban agar pendarahannya tidak terlalu parah.

"lalu apa bedanya dengan menggunakan cairan itu?" tanya Armin melirik antiseptik dengan kandungan polyhexamethylene biguanide (PHMB) di tangan Naruto.

"polyhexamethylene biguanide atau PHMB mampu membersihkan sekaligus melakukan perawatan luka. selain itu antiseptik ini bisa juga melawan bakteri yang tadinya menjadi penyebab infeksi bahkan tidak ada lagi rasa nyeri ketika menggunakan produk ini. bahkan dalam sebagian kasus ternyata produk ini bisa memberikan bantuan dalam mengurangi rasa perih pada luka" jelas Naruto seraya membuka kedua sarung tangannya, setelah selesai mengobati luka Eren.

Eren tersenyum bangga, dia meraih pundak Naruto dan menggucangnya pelan.

"hebat Naruto, kau sudah seperti ayah– tidak, bahkan melampaui ayah. kau akan menjadi dokter yang jenius, aku yakin" Eren berkata dengan antusias.

"Eren benar, mungkin tinggal selangkah lagi kau bisa benar-benar menjadi dokter", Mikasa menepuk punggung Naruto.

"umm, jadi kenapa Eren bisa terluka?" tanyanya penasaran.

"Naruto, kau memiliki saran untuk menguasai perlengkapan bermanuver 3D?" tanya Eren berubah serius. Naruto mengerutkan kening.

"Eren, tidak mungkin Naruto memberimu saran. lagipula Naruto belum tentu menguasainya" ucap Armin yang menangkap raut wajah Naruto.

"kau benar–"

"itu salah satu alat untuk mengalahkan titan kan?" Naruto memotong ucapan Eren dengan cepat.

"yah, itu kau tau?"

"iya, aku bisa menggunakannya" ucapan Naruto mengejutkan ketiganya.

"kau serius Naruto?" tanya Armin terkejut

"aku serius, Erwin-sensei, Levi-heicho mengajariku"

"bagaimana–" ucapan Mikasa berhenti di kerongkongannya karena terlalu terkejut.

Naruto merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah buku sakunya, membalikkan beberapa halaman seperti mencari sesuatu. lalu, memberikannya pada Eren untuk di baca, setelah menemukannya.

"mungkin ini bisa membantu"

karena penasaran Mikasa dan Armin menempel disisi kiri dan kanan Eren.

.

.

'Latihan Peralatan Bermanuver 3D (bagian 1)

agar bisa menggunakan Peralatan Bermanuver 3D, dibutuhkan latihan yang sangat menantang, agar para manusia yang sudah terbiasa bergerak dalam dua dimensi menjadi terbiasa bergerak dalam tiga dimensi'

selanjutnya, mereka membaca halaman berikutnya.

'Latihan Peralatan Bermanuver 3D (bagian 2)

tubuh dan kaki yang kuat, persepsi dimensi yang kuat, dan kekuatan mental untuk menahan rasa panik sangatlah penting'

.

.

setelah membacanya, Eren menutup buku itu da menatap saudaranya.

"aku mengerti, tapi Naruto dimana kau menemukan ini?" tanyanya penasaran. Naruto memegang pelipisnya, seolah-olah berpikir.

"Petra-neechan membantuku untuk belajar" ungkapnya.

"baik, terima kasih Naruto. aku mengerti sekarang. Armin, Mikasa, ayo kita kembali. aku berjanji tidak akan menyerah", Eren melompat turun dari brankar setelah mendapatkan semangatnya. Eren mengembalikan buku itu pada pemiliknya dan berlari keluar dari ruang kesehatan.

"Eren, tunggu. sampai nanti, Naruto" Armin berlari keluar mengikuti Eren yang semakin menjauh.

"huh, dia itu" Mikasa menghela nafas pelan, "kalau begitu aku pergi dulu, terima kasih" Mikasa mengacak rambut Naruto pelan yang hanya sedikit lebih pendek darinya.

Naruto tersenyum senang, "baik"

Mikasa tersenyum tipis dan mengikuti Eren dan Armin yang keluar dari ruang kesehatan. "sampai nanti"

Naruto melambaikan tangannya, "sampai nanti"

—Hope—

sudah hampir seminggu semenjak Naruto bergabung dengan training kadet unit-104, untuk melakukan uji coba dan belajar mengamati para prajurit. namun, dia belum berbaur dengan para rekrutan muda, Keith menyarankan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar sebelum akhirnya dia bergabung dengan mereka. meski dia sudah mengenal dari beberapa dari mereka.

malam ini, Keith menyuruhnya untuk makan malam bersama para rekrutan itu sekaligus menugaskan untuk mengawasi mereka. Naruto menyanggupi.

dari luar dia mendengar suara orang ribut. Naruto mengenali salah satu suara diantara mereka, itu suara Eren. sepertinya Eren bertengkar dengan seseorang.

perlahan Naruto membuka pintu, anehnya semakin dia membuka pintu, suara keheningan menyambutnya.

semua tatapan tertuju padanya, jika Naruto kondisi normal, mungkin dia sedang gugup sekarang. dia tidak melihat ada yang bertengkar semua duduk tenang di bangku masing-masing.

"selamat malam" sapanya dengan nada khasnya seperti biasa. ada yang heran, penasaran dan masih banyak lagi.

"Naruto, disini!" Eren memanggilnya penuh semangat yang duduk di bangku ujung tengah dekat tembok.

"em, permisi" Naruto berjalan pelan menuju Eren. tetapi, langkahnya terhenti ketika melewati salah satu bangku yang diisi oleh orang yang sangat di kenalnya.

"halo, Annie" sapa Naruto pada teman barunya yang di balas dengan sapaan yang sama. mengejutkan sebagian orang. sejak kejadian malam itu, keduanya sering bertemu di malam hari.

Naruto kembali melanjutkan langkahnya menuju meja Eren, Mikasa dan Armin. dia memilih untuk duduk di samping Eren. semua orang bisa melihat wajahnya dengan leluasa.

"akhirnya kau memilih bergabung bersama kami" Armin menyambut Naruto dengan penuh suka cita. Naruto mengangguk.

Eren menepuk punggung Naruto, "kerja bagus, Naruto?"

Mikasa menawarkan rotinya untuk Naruto yang di tolak, "aku sudah makan malam Mikasa", Mikasa mengangguk.

"kau ini, anggota khusus dari Scouting Legiun, kan?" tanya salah satu rekrutan, Marco Bott, mencoba memastikan. pertanyaan Marco mengundang bisik-bisik diantara mereka yang penasaran.

"yah, Marco, kau benar. dia juga saudaraku", Eren mewakili Naruto menjawab, dia memegang pundak Naruto dengan perasaan bangga. "suatu saat aku menyusulnya untuk masuk kesana" lanjutnya lagi.

Marco mendekati meja Naruto, "jadi kau benar-benar anggota resmi?" tanyanya lagi.

"iya"

"eh!", seketika meja Naruto di kerubungi oleh sebagian orang yang penasaran. entah mengapa Eren merasa déjà vu dengan kejadian ini.

"sudah berapa lama kau masuk ke pasukan pengintai" Connie bertanya mewakili yang lain.

"sekitar dua tahun enam bulan yang lalu" jawab Naruto dengan nada khasnya.

"bagaimana caranya kau bisa bergabung bersama mereka?"

"mereka menyelamatkanku di distrik Shinganshina waktu itu", Naruto mencoba mengingat kepingan memori kejadian di Shiganshina. "dan setelah itu mengajakku bergabung" lanjutnya lagi.

Eren, Armin, dan Mikasa terkejut mereka tidak mengetahui bahwa Scouting Legiun menolong Naruto. setelah kembalinya Naruto, mereka tidak punya waktu banyak untuk menanyakan lebih dalam apa yang terjadi pada Naruto saat itu.

"kalau begitu, kau melihat titan juga disana?" Connie bertanya lagi.

Naruto memiringkan kepalanya, "makhluk besar itu?" Connie mengangguk pelan, semua orang menunggu jawaban dari bungsu Yeager. "aku tidak melihat mereka sama sekali" jawabnya dengan jujur. mengejutkan setiap orang.

"hah?!"

"oi, kau serius kan?"

"mana mungkin dia tidak melihat titan, disaat mereka berkeliaran disana?"

sebagian orang tidak percaya mendengar ucapan Naruto. tapi ada juga yang percaya, buktinya Naruto masih hidup.

Eren lebih terkejut lagi, bagaimana bisa Naruto tidak melihat titan itu. tapi dia menelan bulat-bulat informasi itu, karena jika Naruto bertemu titan, dia tidak mungkin berada disini.

Armin berpikir keras mengenai kejujuran Naruto. memikirkan bagaimana bisa Naruto lolos, sangat mustahil jika di cocokan dengan keadaan mental Naruto jika berniat kabur sendirian.

Mikasa terdiam, dia juga berpikir yang pada akhirnya menerima, yang terpenting Naruto masih bersama mereka.

ada beberapa yang ingin menyelidiki kejadiam ganjil ini.

"kalau begitu, kau bagian apa dalam Scouting Legiun?" tanya Marco, berusaha untuk menenangkan keadaan orang-orang yang dalam berada mode 'shock' ringan.

"dokter militer. Erwin-sensei menjadikanku dokter militer" Naruto menjawab dengan senang. semua orang kembali berpikir.

"apa itu? itu regu baru?"

"kurasa, Naruto menjadi kasus khusus di dunia militer. jadi, mungkin baru pertama kali ada dokter militer di dalam kesatuan", Armin menjawab dengan logis, meski dugaannya tidak meleset. benar namun belum tepat.

"itu benar-benar hebat"

"itu benar. adikku memang keren" puji Eren, dia menepuk punggungnya dengan penuh kebanggaanya.

selanjutnya mereka saling memperkenalkan diri. Naruto bercerita cukup banyak mengenai pelatihannya menjadi anggota militer didikan Levi. meski begitu, dia jujur dia belum diizinkan untuk ekspedisi di luar tembok. sebagian memaklumi karena mungkin Naruto belum menguasai beberapa latihan tertentu.

Eren mengamati saudaranya dan beberapa kali juga dia ikut berbicara, Armin juga. beberapa dari mereka harus ikut berpikir ketika Naruto dan Armin berbagi argumen ringan tapi bagi mereka berat.

Mikasa hanya diam-diam tersenyum simpul tanpa ada yang menyadari. dia di kenal dengan gadis dingin tanpa emosi. itu jika bersama orang lain, namun jika bersama saudaranya. dia bisa tersenyum kapapun dia mau.

—Hope—

setelah tiga tahun lamanya para prajurit melewati latihan berat, menguji mental serta berbagi suka duka dengan para prajurit lain. tiba saatnya kelulusan mereka. kelulusan yang menentukan nasib mereka untuk masa depan.

ada sepuluh militer terbaik yang di pilih. mereka memilki hak istimewa untuk memilih melanjutkan diantara tiga kesatuan, Scouting Legiun, Military Policy, atau Stationary Guard.

diantara sepuluh yang terbaik yang di pilih dari kesepuluh hingga pertama : Krista Lenz, Sasha Braus, Connie Springer, Marco Bott, Jean Kirschtein, Eren Yeager, Annie Leonhart, Bertholdt Hoover, Reiner Braun, dan Mikasa Ackerman.

"akhirnya aku bisa sampai sejauh ini. kali ini, giliran kami yang akan membinasakan para titan" ucap Eren dalam hati penuh dengan tekad. wajahnya mengeras hanya mengingat para raksasa yang menghancurkan rumahnya.

"selamat untuk kalian" Naruto datang mengucapkan pada sepuluh anggota terbaik. barisan sudah di bubarkan. hanya beberapa yang tinggal. Bertholdt dan Reiner meninggalkan barisan. Annie hendak pergi juga, tapi Naruto menahan tangannya.

"Annie, selamat untukmu" Naruto mengulurkan tangannya dengan senyuman senangnya. Annie menerimanya dengan senang hati.

tiga tahun mengenal Naruto benar-benar menyenangkan. dia sering berbicara padanya, meskipun secara diam-diam. tidak banyak yang tau hubungan pertemanan mereka.

"terima kasih, Naruto"

"lalu kau memilih untuk masuk kemana?" tanyanya.

"mungkin polisi militer" jawabnya.

"itu bagus, selamat berjuang" Naruto berkata dengan senang. Annie mengangguk, lalu dia berpamitan untuk pergi. Naruto membiarkan.

Naruto bergabung dengan saudaranya dan lainnya.

"Eren, selamat untukmu" Naruto berbaur dengan beberapa orang yang berkumpul dengan beberapa orang. Mikasa, Armin, Marco, Connie dan Sasha. "dan selamat untuk kalian juga" Naruto berujar dengan nada khasnya.

"terima kasih Naruto"

"hmm terima kasih, tunggu aku di sana Naruto. aku akan menyusulmu" Eren berujar dengan nada yakinnya. sebentar lagi langkahnya semakin dekat untuk membantai para raksasa.

"aku menunggumu"

"lalu, setelah ini kau mau kemana?" tanya Armin. semua pandangan tertuju pada Naruto.

"aku akan kembali ke markas, Erwin-sensei menyuruhku untuk segera bergabung kembali bersama Kenzo-sensei. sepertinya sebentar lagi, seseorang akan menjemputku" jawabnya sedikit mengejutkan yang lain.

"secepat itu Naruto. kau tidak tinggal untuk merayakan bersama kami?" Sasha bertanya. dia cukup dekat dengan Naruto setelah beberapa kali Naruto membagikan sepotong roti untuknya. haha.

"aku diminta kembali secepatnya untuk mengambil gelar dokterku" ucap Naruto dengan nada semangatnya.

"semangat Naruto, aku yakin kau bisa" Connie.

"kau calon dokter yang hebat Naruto, aku menunggumu untuk memeriksa ku nanti" Marco.

"pak dokter, aku butuh bantuanmu suatu saat nanti" Sasha.

"Naruto, kau jenius, gelar dokter akan datang sendiri padamu" Armin.

"aku yakin kau bisa, dokter" Mikasa.

"Naruto, aku akan menunggumu. lalu setelah itu kita menjelajah diluar tembok ini, bersama" Eren.

"terima kasih"

mereka tersenyum melihat semangat si bungsu Yeager. tak lama kemudian seseorang yang menjemput Naruto datang.

"aku pergi dulu", satu-satu dari mereka melakukan salam perpisahan dengan Naruto dengan berbagi pelukan. hanya Connie dan Marco yang merangkul Naruto.

"sampai nanti", Naruto melambaikan tangannya dan berjalan menjauh mengikuti jemputannya.

"sampai nanti, Naruto", mereka melepas kepergiannya dengan senyuman.

kini giliran bungsu Yeager meraih apa yang diinginkannya setelah berjuang selama tiga tahun bersama prajurit baru unit-104.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Eren memandang jauh awan malam yang terbentang jauh diatas langit. beberapa bintang menghiasi langit. dia sedang menenangkan diri setelah berdebat dengan anggota lainnya. mereka mengira dia akan masuk polisi militer namun di bantah dengan tekadnya ingin masukan pasukan pengintai.

"untuk apa aku berlatih, jika kemampuanku tidak digunakan untuk membasmi titan-titan itu" gumam Eren marah. dia tidak ingi disamakan dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan membunuh para raksasa tapi memilih untuk menghindari mereka.

Eren merasakan ada yang mendekat, dia berbalik, menemukan Mikasa dan Armin bergabung bersamanya.

"Eren, kau masih mempertahankan impian kita?" tanya Armin menatap Eren yang duduk satu anak tangga diatasnya.

"yah, ini untukmu dan Naruto juga. bisa bebas dari tembok ini dan pergi keluar" jawab Eren.

"aku akan bergabung dengan pasukan pengintai!" ucap Armin dengan keputusan finalnya tanpa melihat Eren.

Eren terkejut, "Armin, kau serius? kau ini ahli teori kita! manfaatkan baik-baik", Eren berusaha untuk merubah pikiran temannya.

"meski aku mati, selama aku bisa berguna aku tidak peduli!" kata Armin dengan nada seriusnya. "lagipula, aku ingin memenuhi janji juga pada Naruto" lanjutnya lagi.

Eren tidak bisa membantu.

"aku juga akan bergabung dengan pasukan pengintai" celetuk Mikasa yang mengejutkan Eren. dia berbalik menatap Mikasa.

"hei, kau dapat peringkat pertama, kan? bergabung saja dengan polisi militer" kata Eren mengebu-gebu.

"seandainya kau dan Naruto bergabung dengan polisi militer, mungkin aku masuk kesana" ucap Mikasa dengan serius, dia menatap Eren dengan pandangan intens. "jika aku tidak bersama kalian, kalian akan cepat mati. selain itu, aku ingin melihat Naruto bergabung bersama kita menjadi dokter militer untuk pertama kalinya" lanjutnya lagi.

Eren menghela nafas kasar, "terserah kau saja"

"aku tidak ingin kehilangan salah satu diantara kalian lagi dan aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi" kata Mikasa, pandangannya tertunduk. Eren tersentak.

Eren tak berkomentar, dia kembali menatap langit yang diisi bintang. Armin mengikutinya dan Mikasa yang berhasil menguasai dirinya.

—Hope—

prajurit muda berkumpul di pinggir jalan untuk menyambut para anggota pasukan pengintai yang ingin melakukan ekspedisi di luar tembok.

"mereka datang" salah satu warga bersorak.

"angkatan utama dari pasukan pengintai telah tiba" yang lain ikut berteriak.

"komandan Erwin, hajar para raksasa itu!"

komandan dari pasukan pengintai tidak menggubris teriakan itu. dia tetap berjalan bersama kudanya diikuti anggotanya di belakang.

wajah Eren dan Armin berseri-seri melihat mereka datang.

"lihat" seorang warga berteriak "itu Kopral Levi" tatapan Eren beralih pada salah satu pasukan yang mengendarai kudanya dengan wajah dinginnya.

"katanya kekuatannya setara dengan satu pasukan!" teriak warga yang lain.

"tch, berisik sekali" decih Levi menatap para warga.

"mereka tampak berbeda dari lima tahun yang lalu. orang-orang sangat mengandalkan pasukan pengintai" kata Eren senang. matanya terus menatap kepergian pasukan pengintai.

"hei, kalian!" seseorang memanggil mereka.

"Hannes-san" Eren terkejut melihat kedatangan Hannes, salah satu pasukan garnisun kenalannya.

"kalian baru lulus kemarin, kan? tak kusangka mereka meluluskan bocah seperti kalian" ujar Hannes menatap mereka bergantian.

Eren terkekeh pelan, "kudengar pemabuk sepertimu juga di jadikan kapten garnisun" ujar Eren, sedikit nada ejekan tercampur dalam suaranya.

"dasar!" Hannes mendorong kening Eren pelan. sesaat wajahnya menyendu. "maaf. aku tak bisa menyelamatkan ibumu" ungkap Hannes sesal.

Eren terkesiap, "ini bukan salahmu, Hannes-san" katanya mengejutkan Hannes. "aku sudah tidak bodoh lagi. aku tidak akan membiarkan tragedi itu sampai terulang lagi. aku pasti akan mengalahkan para titan itu" ujar Eren dengan serius dan tekad yang menggebu.

setelah perbincangan mereka berakhir. Eren bergabung dengan pasukan garis depan di atas tembok. sekedar berjaga dengan prajurit lain sebelum bergabung dengan regu pilihan masing-masing.

"hah? kau bergabung dengan pasukan pengintai?", Eren terkejut dengan salah satu temannya. "Connie, bukankah kau sendiri yang bilang ingin bergabung dengan polisi militer?" tanya Eren pada temannya yang berambut tipis.

"iya memang betul, tapi..."

"tampaknya dia mendengar nasihatmu kemarin", salah satu prajurit perempuan memotong ucapan Connie, Mina Carolina.

"berisik, ini keputusanku sendiri" Connie berbalik dengan wajahnya yang sedikit malu, dia menampik tegas ucapan Mina dan berbohong.

"tidak usah malu, bukan cuman kau", salah satu prajurit lagi ikut bergabung, Thomas Wagner. dia menggaruk pipinya gugup.

"Thomas, kau juga" Eren mencoba menebak.

"hai teman-teman", Sasha datang menyela perbincangan mereka dengan membawa beberapa potongan daging yang masih segar. menghebohkan mereka yang melihat tingkah nekat Sasha.

pada akhirnya mereka sepakat untuk berbagi daging setelah makan siang tiba. lalu mereka kembali ke pekerjaan masing-masing.

Eren menatap distrik Trost yang nampak damai.

"sudah lima tahun berlalu, umat manusia akhirnya telah memulihkan martabatnya. kita bisa menang!" ucap Eren dalam hatinya. meyakinkan dirinya sendiri.

angin berhembus kencang.

"pembalasan umat manusia dimulai dari sekarang!" lanjutnya lagi dengan senyuman penuh keyakinan.

tetapi...

DUAR!

suara petir yang menabrak tanah.

Eren berbalik melihat titan yang sama menyerang rumahnya muncul kembali.

sesaat waktu seakan melambat.

dan keterkejutannya disambut dengan...

BUAGH!

tembok yang kembali di jebolkan pada bagian bawah dengan kakinya.


keterangan karakter

Nama : Naruto Yeager

Usia : 14 tahun

Tinggi : 166 cm

penampilan : sama tapi rambut pirang lurus (kayak Gilgamesh fgo caster), tanpa kumis kucing.


Nama : Eren Yeager

Usia : 15 tahun

Tinggi : 170 cm

Penampilan : canon


Nama : Mikasa Ackerman

Usia : 15 tahun

Tinggi : 170 cm

Penampilan : canon


Nama : Armin Alert

Usia : 15 tahun

Tinggi : 160 cm

Penampilan : canon