Disclaimer :

Naruto punya Masashi Kishimoto

Shingeki no Kyojin punya Hajime Isayama

Warning : OOC, bahasa kurang baku, typo dan masih banyak lagi


A/N : maaf sebelumnya, apabila ada kesalahan kata seperti kata medisnya. saya bukan anak kodekteran dan saya murni menggunakan google sebagai referensi, jika ada kesalahan dan lebih memahami, tolong katakan pada saya untuk di perbaiki. terima kasih.


Naruto sampai di tembok terdalam, wall Sina, tepatnya distrik Stohess. dokter Tenma menyuruhnya untuk datang di salah satu rumah sakit yang mempunyai peralatan lengkap disini. hari ini di hari yang sama dengan Eren yang bertugas.

setelah sampai disana, dia disambut dengan dokter Tenma yang sepertinya bersiap menangani sebuah operasi.

"ah, Naruto-boy, anakku. lama sekali tidak melihatmu", dokter Tenma menyambut residen kesayangannya telah tiba dengan selamat. dia merangkul pundak Naruto.

"Kenzo-sensei, bagaimana kabarmu?" tanyanya.

"aku baik, Naruto-boy. ah kebetulan sekali, aku ingin membawa mu pada seseorang"

dokter Tenma mengajak Naruto keruangan seseorang. disana Naruto menemukan seorang laki-laki usia awal dua puluhan sedang berkutat dengan buku-buku. dokter Tenma mengintrupsi kegiatannya agar pria itu melihat kedatangannya.

"dokter Tenma, maaf mengabaikan kedatangan anda" pria itu berdiri dan menyambut dokter Tenma.

"tidak masalah, dokter Kabuto. saya disini hanya ingin membawa pesanan" ucap dokter Tenma yang melirik Naruto berdiri di sampingnya. Kabuto ikut melirik Naruto.

"dia residen dari departemenku, selama dia bekerja sebagai residen, kau akan jadi mentornya" kata dokter Tenma. mendorong punggung Naruto untuk menghadap Kabuto. "dia residen 'spesial' yang aku katakan" lanjutnya lagi. Kabuto mengangguk.

"Kabuto, senang bertemu denganmu, Naruto" ucap Kabuto sambil tersenyum ramah, dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Naruto menerimanya.

"Naruto Yeager, dokter Kabuto. mohon bantuannya" Naruto membalas dengan suara khasnya.

"ah, kalau begitu aku pamit. aku ada pasien untuk di operasi pagi ini. dokter Kabuto, aku serahkan dia padamu" ucap dokter Tenma. dia menepuk punggung Naruto pelan.

Kabuto tersenyum maklum, "tenang saja dokter. dia akan jadi dokter Tenma junior" ucap Kabuto dengan nada bercanda.

"hahaha, dia ini lebih hebat dari ku"

dokter Tenma meninggalkan Naruto bersama Kabuto. membiarkan dokter muda bersama mentor barunya selama beberapa hari ini disini.

"baiklah Naruto, sementara kita berbicara. aku ingin kamu membantuku membuat laporan" Kabuto menuntun Naruto agar duduk di kursi di depan meja kerjanya.

"baik, dokter Kabuto"

"kau boleh memanggilku seperti memanggil dokter Tenma, Naruto" Kabuto tersenyum ramah, memberikan map biru pada calon anak didiknya. Naruto menerimanya dan mulai menulis laporan.

"baik, Kabuto-sensei"

Kabuto tersenyum, dia menuliskan kembali laporan yang berisi data-data pasiennya.

"ah, iya, Naruto. hari ini aku memiliki dua operasi, aku ingin kau menjadi asisten ku kali ini" Naruto berhenti menulis, dia menatap Kabuto.

"Kabuto-sensei, anda ahli pediatri, kan?" Kabuto melirik sejenak anak mentornya dan mengangguk sebagai jawaban.

"Kabuto-sensei, aku belum memiliki pengalaman mengobati seorang anak"

Kabuto meletakkan penanya di atas meja. dia menatap Naruto dengan pandangan cukup serius, meski keramahannya belum hilang.

"Naruto, ini pesanku sebagai mentormu. jangan berhenti belajar dan mencari pengalaman. jika kau belum menemukan pengalaman baru, kau tidak akan berkembang" Kabuto berdiri dari duduknya dan berjalan kearah belakang kurisnya.

disana berjejer banyak buku yang tersusun rapi pada rak. Kabuto mengambil dua buku yang cukup tebal.

"bacalah ini, dua jam sebelum operasi dilaksanakan aku ingin kau sudah memahami buku ini" Kabuto memberikan dua buku yang cukup tebal itu pada Naruto "pada dasarnya orang dewasa dan anak-anak cukup sama. hanya saja ada beberapa perbedaan. itu kenapa dalam medis kita cukup berhati-hati merawat seorang anak, karena bisa berdampak hingga mereka dewasa"

Naruto mengangguk paham, dia membuka buku dan perlahan membacanya. Kabuto diam-diam tersenyum, tidak ingin menganggu anak didik barunya.

hampir dua jam lamanya, ruangan Kabuto diisi keheningan. suara pintu menyita perhatian Kabuto.

"silahkan masuk"

seorang perawat masuk dan memberitahukan bahwa jadwal operasi Kabuto sudah hampir tiba. pasien sudah menunggu di ruang operasi. Kabuto mengerti, dia segera berdiri dan menepuk pundak Naruto.

"sudah waktunya, ayo"

Naruto menaruh buku itu diatas meja dan berdiri, mengikuti Kabuto dari belakang. sebelum memasuki ruang operasi. mereka mensterilkan tangan mereka terlebih dahulu.

"Kabuto-sensei"

"hmm?"

"apakah aku boleh bertanya?"

"apa itu?"

"dua anak pasien Kabuto-sensei, di operasi karena apa?" Kabuto menghentikan kegiatannya setelah merasa bersih dan steril. Kabuto mengangkat tangannya agar tidak menyentuh sesuatu lagi dan menatap Naruto.

"yang pertama anak laki-laki berumur 8 tahun, mengidap penyakit jantung asianotik" Kabuto berjalan menuju bilik operasi pertamanya, Naruto mengikuti. "penyebabnya Coarctation of the aorta" lanjutnya lagi

Naruto diam mendengarkan.

"yang kedua anak perempuan berusia 7 tahun, mengidap Skoliosis kongenital" Kabuto berhenti tepat di depan bilik ruang operasi. "kau sudah paham, kan?"

"iya, Kabuto-sensei"

"baik, selamat berjuang"

"untuk anda juga Kabuto-sensei"

Kabuto dan Naruto memasuki ruangan. disana sudah ada beberapa dokter dan perawat. di tengah-tengah mereka ada brankar yang di isi oleh anak laki-laki yang kini sudah di bius umum atau bius total.

"baiklah kita akan mulai operasi, dia akan menjadi asistenku kali ini" tunjuk Kabuto pada Naruto. semuanya saling pandang sebelum mengangguk mengerti.

Kabuto dan Naruto dengan segera menggunakan Seragam Scrub (Scrub Suits), masker, sarung tangan lateks steril, dan topi operasi.

Naruto mendekati brankar itu dan berdiri di seberang Kabuto. mereka berdiri berhadapan.

"Naruto gunakan seluruh kemampuanmu dan amati baik-baik" Kabuto menatap Naruto dengan serius.

"baik, Kabuto-sensei"

Kabuto melirik kesamping kirinya.

"tanda vital?"

"normal dokter"

"bagus" Kabuto kembali melihat pasiennya. "mari berjuang" gumamnya pelan. Kabuto mengulurkan tangannya kesamping kanan dan menengadahkan tangan pada perawat yang mendampingi jalannya operasi.

"scalpel" pintanya.

—Hope—

suasana distrik Trost tampak kacau, setiap divisi bekerja sama untuk mengusir para raksasa yang terlanjur masuk ke dalam distrik. pasukan garnisun dan prajurit yang baru saja lulus berbagi berbagai tim untuk menjalankan rencana, memblokir serangan para raksasa.

penduduk segera di amankam agar segera menuju kapal yang akan membawa ke penampungan. para raksasa sudah mulai memangsa orang-orang.

para raksasa itu masih meninggalkan teror pada orang-orang yang berlarian karena panik dan ketakutan. meski begitu, tak bisa di pungkiri, pasukan terlatih seperti pasukan garnisun harus menelan ketakutan mereka bulat-bulat karena teror menakutkan para raksasa.

Mikasa berlari kedalam markas pusat, mencari Armin dan Eren. Mikasa melihat beberapa teman seperjuangan mereka ketika dia semakin berlari masuk kedalam.

"kau baik-baik saja, Armin?!" langkah Mikasa terhenti, mencari sumber suara itu. dia memalingkan wajahnya menemukan Eren dan Armin yang sedang mengisi ulang gas alat bermanuver 3D-nya.

"aku baik-baik saja" balas Armin penuh penekanan, meski tangannya bergetar karena ketakutan dan panik menjadi satu. biarpun terlatih, tetapi mentalnya belum siap akan hal ini. "ini masih bisa ku atasi" ujar Armin menelan bulat-bulat kebohongannya.

"tapi, ini gawat! temboknya masih berlubang seluas delapan meter, kita tidak mungkin bisa memperbaikinya secepat itu" rentetan kalimat yang keluar dari bibir Armin penuh dengan penekanan. tanganya masih berusaha mengisi ulang gasnya, tangannya bergetar hebat, "bahkan batu raksasa yang berada di dekat Zemo pun, kita tidak bisa menggalinya! jika kita tidak bisa menutup lubangnya, kota ini... akan sama seperti distrik Shiganshina" ujar Armin lagi, pikirannya teringat dengan raksasa yang menghancurkan tempat tinggalnya.

"kapapun mereka mau, mereka bisa menghancurkan tembok Rose kapan saja. ini semua hanya masalah waktu" seiring ucapannya, Armin merasa tidak tenang. "jika mereka ingin, mereka bisa memusnahkan manusia kapan saja" ujar Armin penuh ketakutan.

Eren tidak tahan, dia meraih lengan Armin dan mengcengkramnya, kemudian dia berteriak mengejutkan temannya.

"Armin! tenanglah!" teriak Eren. Armin tersentak.

"umat manusia tidak akan kalah lagi dengan para raksasa!" ujar Eren berusaha menyadarkan Armin. bahwa mereka sekarang berbeda. mereka punya kekuatan untuk melawan para raksasa. Armin terdiam.

ruangan itu sedikit hening. Mikasa hanya bisa memandang mereka dengan pandangan yang sendu.

"maaf" Armin berhenti bergetar, dia tertunduk. "aku baik-baik saja..." Armin sadar.

.

.

.

Eren tak bisa mengatakan apapun lagi. kejadian seperti ini mengingatkan tempat tinggal, distrik Shiganshina. ketika dia sempat kehilangan saudaranya dan dia hampir melihat kematian ibunya.

rasa itu meninggalkan bekas yang cukup mendalam. gambaran kepanikan orang-orang begitu terekam jelas di ingatannya. tak peduli apapun yang ingin dia lakukan untuk menghapusnya, ingatan itu begitu tertanam erat di otaknya.

dia hampir putus asa ketika raksasa colossal yang menghancurkan distrik Trost hilang tanpa sempat dia lukai. dia hampir merasa gagal, tapi tidak. masih ada yang perlu dia pikirkan. itu adalah raksasa yang memakan orang-orang. Eren harus memusnahkan mereka. semuanya.

pemandangan orang-orang dari regu militer yang ketakukan dan khawatir sedang terpenuhi di sepanjang koridor. Eren menunduk menolak memeprhatikan mereka.

hanya menemukan dirinya sendiri berselisih dengan Jean yang berjalan dengan tergesa-gesa dan terlihat marah dari biasanya.

"minggir" Jean berusaha menyingkirkan Eren dari pandangannya. amarah seperti menguasai dirinya.

Eren heran.

tapi dia ingin membiarkan Jean berlalu tanpa mengetahui apapun darinya. dengan cepat Eren mencegah Jean pergi.

"hoi Jean, kau kenapa?" tanyanya.

Jean terlihat kesal, "kau masih bertanya?" suara Jean naik beberapa oktaf. "jangan banyak omong! kau ini sudah tidak sabat ingin mati!" teriak Jean, dia meraih kerah seragam militer milik Eren.

"kau bergabung dengan pasukan pengintai secara sukarela, pasti sudah mengerti dari awal kapanpun akan dimakan oleh raksasa, kan?" teriak Jean lagi tepat di hadapan Eren. melampiaskan semua kekesalannya. "seharusnya besok aku sudah bisa pergi ke wilayah dalam" Jean tidak bisa santai sekarang.

"tenanglah" seru Eren berusaha menjernihkan kemarahan Jean.

sayangnya Jean semakin menjadi.

"apakah menjadi tenang, semuanya baik-baik saja?"

"bukan!" teriak Eren karena dengan nada biasa tak mampu menenangkan Jean. "dengarkan aku baik-baik" Eren mendorong Jean kasar hingga ke pilar bangunan.

"dalam tiga tahun ini kita berlatih dengan keras hingga kelelahan bahkan kita muntah darah" teriak Eren keras, matanya menyalang tajam menatap Jean yang tersentak. "dalam tiga tahin ini kita sudah berkali-kali hampir mati. ada orang yang sudah mati, ada yang melarikan diri, dan ada yang di asingkan. tapi, kita justru bertahan sampai sekarang. benar, kan?" Eren menekankan setiap rentetan kalimat panjangnya, tak peduli dengan raut wajah Jean yang terdiam membisu.

"hari ini kita juga pasti akan hidup! setelah itu, terserah dirimu dan juga kau bisa pergi ke wilayah dalam" Eren mengakhiri ucapannya setelah merasa menenangkan Jean. dia melepaskan dan memberi jarak antara dia dan Jean.

Jean membatu. memikirkan perkataan Eren hanya menemukan kebenaran disana. Jean merasa seperti seorang pengecut. dia menggeram kesal, Eren benar.

tanpa berniat menyanggah Eren, Jean pergi dan memanggil orang yang satu regu bersamanya. dia tidak boleh kalah dengan Eren.

"Eren"

Mikasa datang setelah memperhatikan interaksi keduanya cukup lama. dia tidak berniat menganggu dan menyela mereka. lagipula Jean sedang membutuh bimbingan mental dari Eren.

Eren memperhatikan Mikasa.

"kalau pertempuran menjadi kacau. kau datanglah kepadaku" ucap Mikasa, memberikan saran agar Eren tidak terlibat pertempuran yang parah.

Eren terkejut.

"hah? kita berdua tidak berada dalam regu yang sama"

"jika kondisi menjadi kacau, tidak akan berhasil jika mengikuti aturan. aku akan melindungimu" Mikasa tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya.

mereka melawan raksasa, kapanpun mereka mau, mereka bisa membantai siapapun di jalannya. Mikasa percaya pada kemampuan Eren, hanya saja dia tidak ingin Eren harus berkorban dalam masalah ini.

Mikasa bukan orang bodoh, bagaimanapun lawan mereka adalah raksasa. dibandingkan dengan tenaga, raksasa jauh lebih unggul. korban pasti akan berjatuhan dan Mikasa tak ingin itu terjadi pada Eren.

Eren kesal.

"apa yang kau katakan..."

"prajurit trainee Ackerman" seseorang memotong perkataan Eren yang hampir memarahi Mikasa. dia adalah salah satu pemimpin regu garda belakang.

"kau di tempatkan di pasukan garda belakang. ikuti aku" titahnya tegas.

Mikasa terhenyak.

"dengan kemampuanku pasti akan merepotkan semua orang" Mikasa berusaha bernegosiasi agar berada di dalam regu yang sama dengan Eren.

"hah?" Eren heran dengan Mikasa yang merendah dan melupakan kemampuannya.

"aku tidak minta pendapatmu. proses evakuasi sekarang berjalan lambat. penduduk butuh perlindungan dari pasukan terampil" setelah mengatakan itu, pemimpin itu meninggalkan Mikasa setelah memberi perintah.

Mikasa tidak terima.

"tapi..."

dia masih berusaha agar memiliki perubahan rencana.

"oi..." Eren menahan Mikasa agar tidak bertindak gegabah. "jangan bicara lagi, Mikasa!" ucap Eren geram. dia sedang di penuhi emosi sekarang.

"kenapa kau ikutan panik? sekarang bukan hanya kita, tapi para orang-orang sedang menghadapi bahaya dari para raksasa. jangan keras kepala dan egois" gertak Eren.

Mikasa terdiam dan menundukkan kepalanya.

"maaf. aku terlalu panik" sesal Mikasa, menolak menatap Eren.

Eren menghela nafas kasar, pembicaraannya dengan Mikasa sudah selesai.

"aku punya satu permintaan" Mikasa menahan lengan baju Eren. sebelum laki-laki itu menjalankan tugasnya. mata Mikasa tertutup oleh poninya, dia tidak bisa menatap Eren sekarang. "jangan sampai mati"

Eren menatap Mikasa penuh arti. dia menarik tangannya dengan kasar, tak berniat menjawab permintaan Mikasa, lalu pergi tanpa memberikan kepastian.

"aku tau, aku tau" monolog Eren dalam hati. "aku masih memiliki janji pada adikku" mengepalkan tangannya erat-erat. dia masih memiliki janji pada Naruto.

"dan aku belum tau kebenaran tentang dunia ini"

Eren bergabung dengan teman-temannya yang lain.

—Hope—

Naruto terengah-engah. lelah setelah menjalani operasi yang cukup panjang.

dia mengistirahatkan tubuhnya setelah berjuang menolong dua anak, membantunya agar sehat dan pulih seperti sedia kala.

Naruto sangat menyukai anak-anak. terlepas dari mentalnya yang bertingkah seperti anak-anak pada umumnya.

"selamat untukmu, Naruto-boy"

Naruto menoleh, melihat mentornya datang membawakan dua gelas berisi teh hangat. Kenzo merasa bangga dengan anak didiknya.

untuk pertama kalinya, Naruto bisa mendampingi seorang dokter menjalani operasi. mungkin tidak lama lagi, dia bisa memimpin operasinya sendiri.

"Kenzo-sensei!"

Kenzo duduk di samping Naruto, dia memberikan gelas lainnya pada si bungsu Yeager. Naruto menerimanya dengan senang hati, dia menyeruput sedikit demi sedikit.

"terima kasih"

Kenzo mengacak rambut Naruto dengan gemas, dia tertawa pelan. meski Naruto terlihat seperti remaja, otaknya jago dalam bidangnya sendiri, tapi tetap saja mentalnya masih kekanakan. itulah mengapa Kenzo selalu melihat Naruto seperti anak kecil yang perlu dilindungi.

"kau sudah besar sekarang, apa aku perlu khawatir?" Kenzo bertanya.

Naruto melirik.

"apa yang perlu di khawatirkan, Kenzo-sensei?" tanyanya penasaran.

Kenzo menatap gelasnya yang berisi teh, dia tersenyum kecil. sebelum kembali beralih pada Naruto.

"sebentar lagi kau akan benar-benar jadi dokter, ah- aku sulit melepaskanmu pada Erwin" Kenzo tersenyum khas.

perjanjian kontrak diantara mereka masih berlaku. mau tidak mau, meski Kenzo sulit melepaskan Naruto, dia harus mematuhi aturan dalam kontrak.

Kenzo akui, dia masih berat melepaskan Naruto untuk bergabung dengan militer dari pasukan pengintai. sudah cukup lama setelah menghabiskan waktu dengan mengajari si bungsu Yeager, Kenzo sudah menganggap Naruto sebagai putranya. melihat tingkahnya yang seperti anak-anak, Kenzo merasa ingin selalu memanjakannya.

setelah Naruto mendapatkan izin untuk terjun ke lapangan di dunia militer. dengan itu juga, Kenzo sudah menyetujui Erwin membawa Naruto keluar dari tembok. sebenarnya Kenzo belum siap, tapi perjanjian tetaplah perjanjian.

Naruto tak mengatakan apapun, membiarkan mentornya untuk berbicara. sebenarnya dia bingung untuk menanggapinya, bagaimanapun pikirannya masih terbelakang jika membahas masalah di luar dunia medis.

"aku tidak boleh egois, kan? impianmu bersama saudaramu juga sangat penting"

ingatan Kenzo masih segar, awal pelatihan Naruto, anak itu begitu semangat menceritakan impiannya, Erwin ada disana mendengar semuanya. namun, mereka tidak menjanjikan apapun untuk membuatnya mimpinya kenyataan. mereka hanya bisa membantu, selebihnya itu adalah keinginan Naruto.

mereka berpikir realistis. dunianya sedang tidak baik-baik saja, kapanpun akan ada serangan. bisa saja salah satu dari mereka jadi korban para raksasa yang datang silih berganti menghancurkan tempat tinggalnya.

"apakah aku sudah mengambil langkah benar? hah~ perjanjian itu, aku berharap Erwin memperhatikanmu dengan baik" Kenzo menyeruput tehnya perlahan-lahan. membiarkan keheningan mengisi mereka.

Kenzo tau Naruto mendengarkan hanya saja responnya tak langsung terjawab. yang berhak menjawabnya adalah Erwin, dia berharap semuanya baik-baik saja.

Naruto memperhatikan dalam diam, dia sibuk untuk menikmati tehnya. perkataan Kenzo hanya terdengar di telinganya, dia tidak benar-benar memikirkannya.

diam.

hingga...

PRANG!

Kenzo terkejut ketika melihat Naruto menjatuhkan gelasnya hingga pecah berkeping-keping di lantai. wajahnya seperti ketakutan.

"Naruto kenapa?" Kenzo bertanya pada Naruto yang kini sudah berdiri dengan gelisah.

Naruto tak menjawab, dia mengcekram kepalanya sendiri dan bertindak emosional, dia tidak terkontrol. kasusnya seperti, sakit mentalnya datang lagi.

Kenzo dengan cepat menaruh gelasnya diatas meja dan memegangi Naruto yang perlahan bertindak liar.

"Naruto, jelaskan padaku ada apa?"

tak ada jawaban.

tiba-tiba saja, Naruto bertingkah panik dan memukul-mukul kepalanya sendiri berulang kali dan merancau tidak jelas. Kenzo berusaha keras untuk menahan tangan Naruto agar berhenti menyakiti dirinya sendiri.

"Naruto-, tenanglah!" Kenzo berteriak, dia memeluk Naruto erat yang tidak berhenti berontak di bawah tekanannya. dia sedikit kewalahan menahan Naruto yang terus menerus bergerak liar.

rancauan Naruto semakin tak jelas dan bernada tinggi, tapi samar-samar Kenzo mendengarnya seperti memanggil seseorang.

"EREN! EREN! EREN!"

Kenzo terkejut dan heran, ketika Naruto tiba-tiba berteriak dan menangis frustasi. tapi sebelum meminta penjelasan darinya, Kenzo berusaha menenangkannya, dia menahan Naruto dengan pelukan keras. menepuk-nepuk kepalanya agar Naruto berhenti berontak.

Kenzo paham, jika penyakit ini kadang timbul dengan sendirinya. biasanya, terbawa suasana panik atau ketakutan berlebihan. Naruto dalam kondisi tidak stabil, instingnya seperti berusaha mengeluarkan rasa gelisah yang tersimpan di dalam dirinya.

"tenang, tenang, tenang" bisik Kenzo dengan pelan di telinga Naruto agar pemuda itu berangsur-angsur menenangkan diri.

merasa dia sudah sedikit tenang, tapi meskipun begitu, agak sulit membuatnya menjadi normal untuk sekarang, suasana hatinya masih di bawah lingkup emosional mentalnya dan Naruto belum siap menerima macam alasan logika untuk membuatnya kembali stabil.

secerdas apapun Naruto, dia sedang menderita penyakit Autism Spectrum Disorder. Kenzo seharusnya lebih paham dari siapapun. ini akan membutuhkan waktu lebih membutuhkan terapi lagi.

Kenzo merasa Naruto sudah mulai tenang di bawah pengaruhnya. tapi dia belum bisa mengajaknya untuk berbicara sekarang. Kenzo tak berhenti menepuk kepala Naruto, agar membuatnya semakin nyaman.

Kenzo bisa merasakan tubuh Naruto yang melemas meski meski masih bergerak bebas, lalu dia mendekati telinganya di bibir Naruto ketika anak itu bergumam sesuatu dengan suara rendahnya.

"Armin berteriak. Armin berteriak"

Kenzo mengerutkan keningnya, apa maksudnya? dia tidak mendengar siapapun ada yang berteriak di sekitar sini. apa mungkin Naruto mendengar atau tertaut dengan seseorang. entahlah.

—Hope—

putus asa adalah sesuatu hal yang sebenarnya tak boleh dirasakan jika perjuangan masih bisa terlaksana. sayangnya, cahaya harapan di mata Armin menghilang begitu saja.

jiwanya seakan terhempas jauh, suasana hatinya masih berkabung. ingatannya terus berputar bagaimana dia kehilangan teman-teman dalam regunya. bagaimana dia kehilangan Eren tepat di depan matanya.

dia frustasi.

dia bingung.

bagaimana cara menghadapi dua orang yang begitu mempercayainya dalam menjaga satu sama lain dengan Eren. Armin merasa berkhianat pada Mikasa dan pada Naruto, penyesalan itu mengunci hatinya untuk tetap berada dalam pengaruh keputusasaan tanpa akhir.

dia belum siap bertemu keduanya, apa yang akan di katakannya? dia merasa dirinya sudah kalah, dia merasa hanya beban, mengingat kembali kejadian mengerikan yang terjadi tepat di depannya. seperti kaset rusak yang tidak bisa menghilang dan terus menerus berputar.

mentalnya turun.

"Armin! oi, Armin!"

Armin merasa seseorang mencarinya di dunia nyata. apa ini. dia tersentak. matanya melihat Connie yang sepertinya berusaha mengembalikan kesadarannya.

"apa kau sudah sadar? kau baik-baik saja, kan? kau tidak terluka, kan? dimana anggota pasukan yang lain?" Connie menyerbunya dengan berbagai pertanyaan yang begitu menyakitkan.

hanya saja, Armin terpaku pada pertanyaan terakhir dari Connie.

"pasukan?" Armin berkata dengan nada kosong.

Armin menunduk dan membisu. kenyataan ternyata begitu menyakitkan.

"oi, oi, bersemangatlah! kenapa kau hanya sendiri?" Connie memegang pundak Armin, berusaha mengajaknya berbicara. dia menarik tangannya lagi ketika merasa sesuatu yang aneh, "lagipula kenapa tubuhmu terasa lengket, sebenarnya apa yang terjadi?" Connie bertanya dengan penasaran.

pertanyaannya menimbulkan gambaran ingatan menyakitkan Armin muncul dengan jelas. dia berteriak frustasi menghilangkan ingatan itu yang terus berputar tak berhenti. dia menangis frutasi.

Connie terkejut melihat reaksinya.

Armin terlalu sibuk menyelami ingatannya hingga dia berteriak frutasi, mengeluarkan kata-kata buruk untuk bisa meluapkan emosinya, mengejutkan Connie dengan tindakannya yang tak terduga. bahkan mengabaikan sepenuhnya perdebatan dua orang di sekitarnya.

"kau tidak boleh tinggal disini lebih lama. Armin, bisakah kau berdiri?" Connie menjulurkan tangannya ke depan Armin yang masih terpaku pada ingatannya.

Armin menatap tangan Connie dengan diam, dia tersentak.

lagi-lagi dia merasa tidak berguna, membutuhkan orang lain untuk membantunya.

Armin mengabaikan pertolongan Connie.

"maaf, sudah merepotkan. aku akan bergabung dengan pasukan garda belakang" Armin mengabaikan Connie sepenuhnya. menolak berbalik meski Connie sudah memanggilnya. dia pergi menggunakan alat bermanuver 3D-nya.

sepanjang dia berjalan, Armin melihat terus terbayang. darah dimana-mana, pikirannya kacau.

"yang kuat akan bertahan, yang lemah akan mati" monolog Armin.

ingatannya berputar kebelakang, bagaimana dia di buli, bagaimana Mikasa dan Eren membantunya.

"di dunia ini, mereka ingin lebih kuat dari dunia dan mengulurkan tangannya untuk melindungiku"

Armin terus berkecamuk dengan batinnya.

"tapi, aku ingin juga sekuat dengan mereka, berusaha bersama-sama dengan mereka untuk bertahan di dunia ini" Armin tak berhenti bermonolog.

sayangnya, karena kurang fokus pada alat bermanuver 3D-nya, salah kaitnya tak tertanam dengan benar. dia terjatuh di atas tanah, beruntung pendaratannya tidak terlalu tinggi, dia berhasil menghindari cedera parah.

Armin menangis.

"tapi kenapa hasilnya begitu mengecewakan, karena aku, Eren, dia..."

Armin ingin menangis keras sebelum dia mendengar suara seseorang.

itu salah satu teman yang berada di prajurit trainee bersamanya.

dia berusaha menolong salah satu temannya yang sudah mati. pemandangan itu hanya membuat Armin semakin tertekan. dia frustasi.

cukup sudah, Armin sudah lelah.


(flashback)

"Mikasa?"

Grisha mengalihkan pandangan dari pintu ketika Eren bertanya. dia menatap putranya.

"benar, dia adalah gadis sesusiamu. tidak anak kecil di sekitar disini, jadi kalian berteman baiklah padanya" ujar Grisha pada kedua putranya.

Naruto yang berdiri disamping Eren dengan mengenggam tangan sang kakak, mengangkat tangannya.

"baik, ayah"

sementara Eren mengerutkan keningnya, tidak langsung menyetujui.

"semua itu tergantung sifatnya"

Grisha sedikit putus asa dengan sikap putra sulungnya yang terlalu pemilih, berbeda sekali dengan si bungsu.

"Eren, karena sikap mu seperti ini, kau hanya memiliki seorang teman dan Naruto" Grisha menatap Eren dengan serius. lalu kembali menatap rumah milik keluarga Ackerman, karena cukup lama tak ada jawaban dari tuan rumah.

sejenak Eren menatap adiknya yang sedikit meringkuk di sampingnya.

"kau kedinginan?" Naruto mengangguk kecil.

Eren maklum, karena suasananya lagi hujan, belum lagi Naruto hanya menggunakan mantel.

"bertahanlah sedikit lagi" Naruto menganggukkan kepalanya lagi.

Eren kembali menatap ayahnya yang membatu di depan pintu setelah mengintip kedalam rumah milik keluarga Ackerman.

"apa yang terjadi?"

Grisha tak menjawab, dia masih shock.

"ayah?"

Grisha berlari masuk kedalam rumah dan melihat seorang wanita terbaring di lantai dengan darah yang cukup banyak. banyak darah berceceran di sekitar rumah.

Grisha menaruh dengan pelan tangan wanita itu setelah menemukan bahwa wanita itu sudah tidak tertolong lagi. Grisha tidak menemukan gadis kecil bersamanya.

dengan cepat Grisha melirik kedua putranya yang berdiri di dekat pintu. Eren terdiam dengan mata terbelalak lebar, sedangkan Naruto hanya bisa bingung apa yang terjadi.

"Eren, apakah ada gadis kecil itu disini? Mikasa?" Grisha bertanya

"belum" Eren menjawab dengan nada kosong.

"begitu" Grisha berbalik menatap kedua putranya dengan serius, "ayah akan meminta bantuan polisi militer untuk mencarinya. Eren, bawa adikmu untuk menunggu di kaki gunung, jaga dia baik-baik. kau mengerti, Eren?" Grisha memberika perintah pada putranya sulungnya.

Eren hanya diam. matanya memancarkan sesuatu yang tidak dia sukai.

"Eren!"

.

.

.

sementara itu di sebuah gubuk tua yang ada di tengah hutan, dua orang pria dewasa memandangi gadis kecil yang terbaring dengan tangan terikat. salah satu pria yang duduk di kursi menatap gadis kecil itu, Mikasa yang hanya bisa terdiam dengan wajah kosong.

"apa gadis kecil itu bisa di jual"

Mikasa bisa mendengar suara kedua pria dewasa itu berbicara.

"perhatikan wajahnya baik-baik"

"haha-ah bahkan kita harus membunuh orang tuanya untuk membawanya"

salah satu pria yang masih berdiri menginjak Mikasa agar gadis itu terbaring telentang. dia memperhatikan fitur wajah Mikasa.

"dia lumayan meski masih anak-anak, tapi tidak sesuai dengan seleraku"

"siapa yang menanyakan seleramu?" pria itu memandang Mikasa, "dia adalah gadis oriental, jaman dulu banyak ras manusia. dia satu-satunya ras oriental yang berhasil lolos masuk ke dalam tembok" pria yang duduk kembali menatap temannya, "kita bawah dia ke dunia bawah tanah kota raja, lalu kita jual. harganya tinggi untuknya karena orang oriental sudah hampir punah" jelasnya.

pria yang berdiri itu menatap temannya.

"ayahnya tidak terlihat orang oriental, berarti dia bukan dari ras murni"

pria yang duduk itu menghentakkan kakinya di atas lantai dengan kasar, teringat dengan kejadian temannya yang membunuh orang tuanya, lebih tepatnya ibunya.

"benar, yang berharga itu ibunya. tapi karena kau bodoh dan ceroboh kau membunuh ibunya" pria itu berkata dengan kesal.

temannya tak terima untuk di sudutkan.

"apa boleh buat, dia mencoba untuk melawanku"

pria yang duduk itu semakin marah.

"ucapanmu tidak membuat keadaan lebih baik, bodoh"

Mikasa hanya bisa mendengarkan perdebatan dua orang dewasa yang menyerang keluarganya hanya menyisahkan dia sendiri yang masih hidup. hidupnya sebentar lagi berakhir.

dia meringkuk.

"dingin"

.

.

.

di hutan.

lebih tepatnya tidak jauh dari gubuk tempat para penjual manusia itu berlindung. Eren terus berlari menerobos hujan, dia membawa Naruto bersamanya. ia tidak mendengarkan ayahnya agar tetap tinggal dan menunggu.

"Eren, mau kemana?" Naruto bertanya.

sepanjang perjalanan dia hanya bisa mengikuti langkah Eren yang terus menyusuri hutan, menerobos hujan.

"diam saja dan ikuti aku!" Eren berteriak.

Naruto menurut, jika Eren sudah seperti itu dia harus patuh.

langkah Eren terhenti ketika melihat sebuah pondok yang ada di dekat hutan, dengan langkah pelan Eren mencoba menghampiri gubuk yang sudah tua.

Eren bisa melihat dua orang dewasa yang berbicara, lalu tatapannya beralih pada anak seumurannya terbaring dengan tangan dan kaki terikat dari balik jendela.

"Eren..."

Eren menatap Naruto dengan serius.

"Naruto, dengarkan aku. jangan bergerak, jangan berisik dan jangan melakukan apapun tanpa perintahku. kita akan menolong seseorang, kau mengerti?" ucap Eren dengan penuh penekanan. Naruto menatap Eren dengan polos.

"apa yang akan kau lakukan?"

Eren mengerang pelan.

"ikuti saja perintahku, paham!"

Naruto mengangguk.

Eren melepaskan mantelnya, dia bersiap untuk masuk ke dalam gubuk. tapi terhenti ketika Naruto menahan jaketnya.

"Eren, dingin"

Eren berdecak sebal, dia membuka syalnya dan mengalungkannya pada Naruto.

"pakailah, itu membuatmu merasa hangat. sekarang diamlah dan ikuti aku"

Naruto memegangi syal yang di berikan Eren.

"Naruto dengarkan aku, tutup matamu dan jangan melakukan apapun jika aku belum menyuruhmu, mengerti?" bisik Eren, dia membawa Naruto masuk dan menyuruhnya untuk berdiri di samping pintu.

Naruto mengangguk, dia berdiri di samping pintu dan menutup matanya.

Eren menghela nafas pelan sebelum memulai aksinya. dia membuka pintu dengan perlahan dan berakting menangis, dia melihat salah satu diantara mereka menghampirinya dengan wajah kesal.

"oi, bocah apa kau lakukan disini?" pria itu berkata marah.

Eren berpura-pura memasang wajah ketakukan. air mata mengenang di pelupuk matanya memastikan bahwa dia bisa meyakinkan pria itu.

"maafkan aku, aku tersesat di hutan dan aku menemukan gubuk ini" Eren bicara sedikit gagap.

pria itu melirik temannya, memberikannya sebuah kode. lalu pria itu kembali pada Eren, dia tersenyum tipis dan mulai memegang kepala Eren, dia mengoceh tentang sesuatu yang membuat Eren muak.

TUSK!

Eren menusuk perutnya setelah mendapat kesempatan, dia muak mendengar pria itu berbicara, kemarahannya membumbung tinggi.

"terima kasih, paman. aku sudah tau" Eren menyingkirkan tangan pria itu dari kepalanya. sebelum wajahnya berubah menjadi marah. "matilah kau, dasar baj*ngan" dia menusuk pria hingga jatuh tak bernyawa.

"apa?!" pria yang bersamanya terkejut melihat temannya sudah tewas karena bocah kecil itu. dia marah dan berniat menyerang Eren yang menghilang di balik pintu.

"dimana kau bocah si*lan" pria itu berteriak marah sebelum terkejut ketika Eren datang dan menusuknya dengan pisau yang di pasang pada ujung sapu yang di pegangnya.

Mikasa terkejut melihat seorang laki-laki seusianya berteriak marah dan terus menerus menusuk dada pria yang sudah menculiknya. memuntahkan segala amarah dan kata kasar. mata Mikasa terus mengamati bocah itu.

"semuanya baik-baik saja, jangan khawatir"

Eren menghampiri Mikasa dan membuka tali yang mengikatnya.

"kau Mikasa, kan? aku Eren" Eren bertanya. tangannya terus membuka tali yang mengikat Mikasa, lalu menatap pintu. "Naruto kemari, kau sudah boleh kesini" teriak Eren keras, berharap adiknya mendengarnya..

tak lama kemudian Mikasa melihat seorang anak yang sedikit lebih muda darinya dengan rambut pirang lurus masuk ke dalam gubuk dengan wajah netralnya.

Naruto menghampiri mereka berdua dan berlutut di depan Mikasa.

"dia adalah adikku, namanya Naruto. kami adalah anak dari dokter Yeager, aku yakin kau pernah bertemu dengan ayahku sebelumnya"

Mikasa menundukkan pandangannya, lalu menatap tangannya yang terasa bebas dari jeratan tali yang mengikat tangannya.

"seharusnya mereka ada tiga orang"

"hah?!"

sebelum mendapatkan penjelasan dari Mikasa, Eren merasakan ada seseorang datang dari belakang. dia berbalik dan menemukan pria dewasa lainnya yang kini memasang wajah marah.

Eren hendak mengambil pisau yang tak jauh darinya tapi pria itu lebih dulu menendangnya dan berusaha mencekiknya.

Naruto melihat kakaknya di aniaya oleh seseorang, dengan segera ingin membantunya. dia memeluk kaki pria itu agar melepaskan Eren.

"lepaskan, Eren! lepaskan, Eren! lepaskan, Eren!" Naruto mengulangi setiap ucapannya hanya menambah amarah di dalam pria itu.

"lepaskan aku, br*ngs*k" tangan kanan pria itu meninju wajah Naruto dengan keras hingga dia terpental cukup jauh darinya.

"Naruto!" Eren berteriak.

lalu pria beralih pada Eren yang berontak agar cengkraman tangan pria itu dari lehernya terlepas.

"kubunuh, kau! si*lan!"

Eren tak bisa gerak lebih dari ini. dia melihat Mikasa. hanya dia adalah satu-satunya peluang untuk menyelamatkan mereka.

"bertarung!"

Mikasa tersentak begitu Eren melihatnya dan seakan menuntutnya.

"ayo cepat bertarung!" Eren menutup kedua matanya berharap Mikasa mendengar apa yang dia maksud.

"jika kalah... kau akan mati!"

"jika kau menang... maka boleh hidup!"

Eren terus berteriak.

pria itu semakin marah.

"apa yang kau katakan bocah?"

mata Eren kembali terbuka dan menatap Mikasa dengan harapan.

"jika tidak bertarung... maka kau akan kalah"

Mikasa dengan gemetar mengambil pisau bekas Eren, tangannya terus gemetar, nyalinya masih di penuhi keraguan.

"aku tidak bisa melakukan ini" Mikasa berkata dengan terbata-bata. matanya terus di penuhi ketakutan dan keraguan.

hingga kejadian yang terasa terulang terjadi di depan matanya. Eren terkulai karena sudah tidak sanggup menahan cengkraman pria itu, lalu melihat bagaimana Naruto masih berjuang menahan rasa sakit setelah mendapatkan pukulan keras dari pria itu. keraguan Mikasa menghilang, tangannya tak lagi gemetar, dia memegang pisau itu kuat-kuat.

benar, dunia ini kejam.

Mikasa berlari dengan cepat kepada pria yang mencekik Eren tanpa sempat menghindar dari penikaman Mikasa.

JLEB!

.

.

.

Grisha menatap Eren dengan penuh perhitungan. di pangkuannya ada Naruto yang terkulai lemas setelah di obati, pukulan penjahat itu membuat pelipis Naruto berdarah, pipinya lebam.

"bukankah aku sudah mengatakan untuk menungguku di kaki gunung, Eren? apa kau tau apa yang telah kau lakukan?" Grisha bertanya pada putra sulungnya.

wajah Eren mengeras.

"aku hanya membunuh binatang buas yang ingin memangsa manusia. rupanya saja mereka terlihat manusia" Eren berargumen untuk mencoba memenangkan perdebatan.

"Eren!"

"jika kita menunggu polisi militer, mereka pasti sudah melarikan diri" Eren merasa dirinya sudah benar.

Grisha menatap putranya dengan marah.

"walau semuanya terlambat, kau seharusnya tidak berbuat seperti itu. kali ini kau hanya beruntung, Eren. aku menyalahkanmu, selain karena kau tidak menghargai nyawamu sendiri, kau juga melibatkan adikmu yang sekarang terluka dalam masalah ini. seharusnya kau tau, adikmu tidak bisa menjaga dirinya dengan baik" Grisha membentak putranya, berusaha menyadarkan Eren dari tingkahnya yang terlalu ceroboh.

wajah Eren melunak, dia menundukkan pandangan pada Naruto yang terkulai lemah di pangkuan ayahnya.

"tetapi aku ingin lebih cepat menyelamatkannya"

Grisha terhenyak dengan ucapan putranya. dia tidak lagi menanggapi perkataan Eren dan lebih memilih untuk menatap Mikasa yang terdiam menatapi api unggun untuk menghangatkan mereka sekaligus penerang.

"Mikasa apa kau mengingatku? ketika kau masih kecil, kita sering bertemu" Grisha berkata.

Mikasa menundukkan pandangannya.

"dokter Yeager, kemana aku harus pergi? disini dingin sekali, aku tidak punya rumah lagi..." Mikasa berkata dengan putus asa, dia sedikit mengeratkan jaket yang diberikan Grisha beberapa saat yang lalu.

"dingin?" Naruto bergumam dalam pangkuan Grisha. dia melepaskan diri dari ayahnya dan berjalan sedikit terhuyung-huyung pada Mikasa.

"Naruto..." Grisha hanya melihat putranya yang ingin menghampiri Mikasa.

Naruto membuka syal yang di berikan Eren padanya, lalu memberikannya pada Mikasa, persis seperti Eren memberikannya.

"pakailah, itu membuatmu merasa hangat" Naruto meniru ucapan Eren. lalu dia kembali pada Grisha dan memeluk perutnya, tanpa mempedulikan Mikasa yang masih terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba.

Grisha tersenyum, dia mengusap punggung Naruto sebelum menatap Mikasa.

"Mikasa, tinggallah bersama kami"

"eh?"

"setelah melalui banyak hal mengerikan, kau perlu istirahat yang banyak"

Mikasa menatap Grisha dan Naruto lalu menatap Eren.

"ada apa?" Eren mengambil tangan Mikasa yang bersembunyi di balik jaketnya. "ayo kita kembali..." Eren menarik Mikasa, "kembali kerumah kita"

Mikasa tersentak sebelum matanya berkaca-kaca, air matanya menggenang di pelupuk matanya.

"ya, ayo kita pulang" tangis Mikasa pecah, cahaya harapan terkumpul jelas di wajahnya. dia masih punya tempat untuk kembali.

Naruto memperhatikan keduanya, dia menarik setelan ayahnya, Grisha menunduk ketika merasa putranya memanggilnya.

"ayah, kenapa dia menangis?" Naruto bertanya dengan nada polosnya. Grisha tersenyum, dia mengelus kepala putranya.

"dia senang karena dia akan menjadi saudaramu"