Naruto x Go-Tōbun no Hanayome

Disclaimer :

Masashi Kishimoto and Negi Haruba.

Spin-off dari cerita 'Fuufu'

typo(s) everywhere.


Itsuki tidak bisa berjalan lebih lama lagi, dia kelaparan. tapi saudari-saudarinya memaksanya agar berjuang mencari di mana guru les mereka berada, Uesugi Futaro.

hari ini sekolah tempat mereka menuntut ilmu mengadakan darmawisata ke Kyoto selama 3 hari. saudari kembarnya merencanakan untuk mengikuti Futaro.

"bagaimana kalau kita makan siang disana?" tunjuk Itsuki pada salah satu toko yang terbuka. mereka baru saja tiba diatas tangga menuju puncak.

sayangnya, saran yang di berikan tidak di tanggapi baik oleh saudari-saudarinya. mereka tetap ngotot untuk mencari Futaro.

"bagaimana kalau kita bagi dua kelompok" Yotsuba mengeluarkan pendapat. "aku dan Miku mengambil rute kanan. Ichika, Nino dan Itsuki mengambil rute kiri" ujarnya. sebagian dari mereka protes, tapi mereka harus menelan bulat-bulat protesan mereka karena pertaruhan konyol antar-mereka.

"tunggu, aku tidak bisa berjalan lebih lama lagi. aku lapar!" ujar Itsuki ketika mereka ingin kembali berpencar untuk mencari Futaro.

"Itsuki, jika kamu tidak bisa, kamu bisa menunggu kami disini" Yotsuba mengeluarkan pendapat, kasihan dengan saudari bungsunya.

"benar kata Yotsuba, kalau kamu memaksakan diri, bisa-bisa terjadi sesuatu yang buruk padamu" Nino menambah.

"ta-tapi..."

"kami berjanji akan menemui mu lagi disini" ujar Miku, dia setuju dengan yang lainnya. dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan Itsuki. Ichika hanya mengangguk.

Itsuki mengalah.

"baiklah, temui aku setelah menemukan Uesugi-kun" ujar Itsuki sedikit berat hati. mereka mengangguk dan meninggalkan Itsuki sendirian di toko itu.

Itsuki menghela nafas pelan, mau bagaimana lagi. dia benar-benar kelaparan, tidak mungkin juga dia memaksakan diri untuk mengikuti mereka, yang ada dia jadi beban.

Itsuki mengalah, dia masuk ke dalam toko itu dan membeli sesuatu untuk dimakan. perutnya sudah minta diisi.

etalase toko yang di pajang diisi penuh dengan berbagi makanan mulai dari ringan hingga berat menggugah jiwa lapar Itsuki.

tanpa pikir panjang, Itsuki memesan beberapa jenis makanan untuk menuntaskan rasa laparnya. dia benar-benar tidak sabar untuk menyantapnya. tetapi sebelum dia bisa memakannya, dia harus membayar terlebih dahulu.

kini dia ikut mengantri dengan beberapa orang yang ikut membeli. sebenarnya dia sedikit risih, karena di belakangnya ada beberapa pemuda yang sedikit bising dan membuatnya tak nyaman. dia hanya bisa menebak karena tidak punya keberanian untuk menoleh.

tiba gilirannya, setelah kasir itu mentotal belanjaannya, Itsuki dengan semangat mencari dompetnya, rasa laparnya sudah tak tertahankan.

wajah Itsuki berubah menjadi pucat pasi ketika tidak menemukan dompetnya di dalam tas.

"aduh, dimana dompetku" gumam Itsuki, masih merogoh tasnya tapi nihil.

"permisi nona, apakah anda bisa membayar segera. orang-orang sudah mengantri" ujar sang kasir. Itsuki semakin panik.

"tunggu sebentar" ujar Itsuki sedikit gusar.

"oi, nona cepatlah sedikit" seseorang dari belakang Itsuki menggerutu semakin menambah kepanikan Itsuki.

"maaf, anda bisa mengambil antrian saya terlebih dahulu, saya sedang mencari dompet saya" ujar Itsuki pada pemuda yang usianya mungkin tidak jauh darinya. dia memberikan antriannya pada pemuda itu.

"hadeh, kalau tidak bisa bayar bilang nona" ujar pemuda itu kasar.

rasa panik Itsuki berubah menjadi kesal, karena pemuda itu berkomentar kasar.

"dimana sopan santunmu, anda ini kasar sekali" ujar Itsuki kesal, dia menatap tajam pemuda itu. "saya sedang mencari dompet saya" ucapnya lagi.

pemuda itu mendengus remeh, "kalau begitu, dompetnya sudah ketemu, tidak?" tanyanya.

wajah Itsuki berubah menjadi terdiam, dia ingin membalas pemuda itu tetapi dia tidak menemukannya. dia baru teringat, dompetnya ketinggalan di hotel tempat mereka menginap.

"aku melupakannya" gumam Itsuki.

"hah? kalau tidak sanggup bayar jangan makan disini dong" pemuda itu kembali berkomentar kasar pada Itsuki, yang mengira berpura-pura melupakan dompetnya.

"anda..." geram Itsuki karena kesal dengan tingkah kasar pemuda itu.

"apa?" tantang pemuda itu. tapi sebelum dia bertindak lebih jauh, seseorang di belakang pemuda itu mengintrupsi tindakan pemuda itu.

"Kiba, berhenti! jangan bersikap kasar pada seorang gadis" orang itu menegur sikap Kiba yang terkesan kasar.

"tch, terserah kaulah Naruto" ujar Kiba kesal pada temannya yang menegurnya, Naruto.

"pergilah bersama Sai dan Shino, biar aku yang mengurus ini" ujar Naruto. Kiba hanya berdecak sebal sebelum meninggalkan Naruto dan Itsuki di ikuti kedua temannya.

"maafkan atas sikap kasar temanku, dia memang suka begitu" ujar Naruto pada Itsuki.

Itsuki sebenarnya kesal, tetapi tidak mungkin melampiaskan pada Naruto yang tak bersalah.

"mungkin, jika temanmu yang minta maaf baru aku maafkan" ujar Itsuki sedikit ketus, suasana hatinya berubah. Naruto mengalah, lagian itu salah temannya juga.

"baiklah kalau begitu" Naruto mengambil satu langkah kedepan hingga sejajar dengan Itsuki. "permisi, biar aku yang membayar pesanan gadis ini" ujar Naruto pada kasir yang berjaga.

sontak sikap Naruto ini mengejutkan Itsuki.

"hey, kamu tidak perlu melakukan itu" ujar Itsuki ketika Naruto memberikan sejumlah uang untuk membayar pesanannya pada kasir. Naruto tersenyum tipis.

"tidak apa-apa, anggap saja aku ingin menebus sikap kasar temanku"

"tapi..."

"uhm, bukankah kamu juga melupakan dompetmu?" pertanyaan Naruto membuat wajah Itsuki merona malu. yah dia melupakan dompetnya.

"ehm, terima kasih" ujar Itsuki malu-malu. hanya itu yang bisa dia ucapkan sekarang.

"hmm, yah sama-sama. kalau begitu pergi dulu, sampai jumpa" Naruto hendak pergi tapi Itsuki lebih dulu menahannya.

"ano, bisakah kamu menemaniku... ehm, aku sendirian disini" pinta Itsuki malu-malu. sebenarnya dia bisa sendiri, hanya saja dia tidak ingin punya utang budi pada orang lain. mungkin menunggu saudarinya dan mengganti uang Naruto adalah pilihan tepat.

"boleh, ayo" Itsuki mengekori Naruto dengan malu-malu. mereka duduk berdua berhadapan satu sama lain.

"ehm, kalau kamu tidak nyaman bersamaku, aku bisa pergi" ujar Naruto ketika melihat Itsuki hanya duduk terdiam dengan wajah memerah karena malu.

"ah, tidak. aku hanya belum terbiasa" balas Itsuki.

Naruto terkekeh pelan.

"ya, ngomong-ngomong namaku Naruto, Namikaze Naruto" Naruto memperkenal dirinya.

"Nakano Itsuki, salam kenal Namikaze-san" balas Itsuki setelah merasa menguasai dirinya.

"tidak perlu formal padaku, panggil saja Naruto"

"ehm, baiklah. Naruto-san"

"kamu kesini karena darmawisata juga, yah?" tanya Naruto membuyarkan kecanggungan di antara mereka.

Itsuki mengangguk, "kalau kamu?"

"sama"

Itsuki melirik makanan yang di beli Naruto, dan dia terkejut hanya sekotak susu dan sebuah roti yang di beli.

"kenapa, kamu mau?" Naruto menawari Itsuki makanannya, merasa gadis itu memperhatikan makanannya terlalu lama.

Itsuki menggelengkan kepalanya.

"bukan itu. kamu hanya makan itu, kalau kamu mau, kamu bisa ambil punyaku" dalam otaknya Itsuki mungkin berpikir kalau laki-laki ini hanya bisa membeli susu dan roti karena sudah membayar pesanannya.

Naruto melirik sejenak sebelum tertawa.

"tidak perlu, aku hanya makan ini. aku sudah makan tadi di penginapanku" balas Naruto dengan ramah, Itsuki mengangguk malu. "tapi terima kasih atas tawarannya" lanjutnya lagi.

Itsuki merasa malu karena memperlihatkan makannya yang terlalu banyak pada laki-laki asing di hadapannya.

"tenang saja, kamu bisa makan sebanyak apapun kamu mau, tidak ada larangan dan tidak usah malu padaku, lagian kita masih dalam pertumbuhan juga, kan? aku sama sekali tidak merasa risih atau geli atau apapun itu padamu" ujar Naruto panjang lebar membuat Itsuki terhenyak.

"ba-bagaimana dia tau yang aku pikirkan" gumam Itsuki dalam hati.

"bagaimana aku tau? aku punya trik sendiri, haha"

"kau ini suka baca pikiran orang, yah?"

"aku tidak se ajaib itu"

"hahaha"

keduanya terlarut dalam obrolan ringan. Itsuki merasa nyaman jika berbicara pada Naruto, karena pembawaannya yang benar-benar santai.

Itsuki bahkan melupakan saudari-saudarinya yang tak kunjung muncul hingga hari hampir sore.

"Itsuki-san, sepertinya aku harus kembali ke penginapan" ucapan Naruto menyadarkan Itsuki membuatnya terkejut.

"ehh, benar, hari hampir sore" Itsuki berdiri, dia hendak mencari ponselnya. sayangnya, dia hanya menemukan layar ponselnya yang mati total. Itsuki lupa mengchargernya semalam. "aduh, gimana ini?"

"ada apa Itsuki-san?"

Itsuki mengigit bibir bawahnya karena cemas. dia sudah membuat Naruto menunggu lama, tetapi saudarinya yang lain tak kunjung datang. mungkin mereka melupakannya dan pulang lebih awal, apalagi pengunjung sudah mulai sepi. Itsuki tak punya pilihan lain.

"Naruto-san, ayo ikut aku ke hotel" ajak Itsuki yang terdengar ambigu di telinga orang lain.

Naruto menaikkan sebelah alisnya bingung, "Itsuki-san, apa kamu yakin mengajakku ke hotel?"

"memangnya kenapa?" Itsuki nampaknya belum sadar dengan ucapannya.

"aku ini laki-laki loh" balas Naruto dengan nada santainya.

Itsuki masih mencerna ucapan Naruto sebelum terkejut, wajahnya memerah dengan panik dia melambaikan tangannya di hadapan Naruto.

"bu-bukan itu ma-maksudku, a-aku melupakan a-alamat ho-hotelku. Naruto-san, bisakah kamu membantuku" kilah Itsuki dengan cepat. yah, dia tidak sepenuhnya berbohong.

Naruto tampak lega meski tak nampak, dia tertawa melihat tingkah Itsuki yang menurutnya lucu.

"baiklah, baiklah, tidak usah tegang seperti itu Itsuki-san" ujar Naruto di sela-sela tawanya.

Itsuki nampak masih malu-malu, "karena kamu salah paham" ujar Itsuki.

Naruto tersenyum, tanpa sadar dia meraih tangan Itsuki dan mengenggamnya "baiklah, ayo Itsuki-san"

Itsuki terdiam dengan wajah memerah, dia belum pernah di genggam oleh laki-laki asing. tetapi dia diam-diam mengamati rasa hangat genggaman dari seorang laki-laki asing yang baru di temui.

"Itsuki-san, dimana hotelmu?" tanya Naruto ketika mereka sudah mulai berjalan. Itsuki tak menjawab, dia sibuk mengatur detakan jantungnya yang terasa asing antara malu dan entahlah, dia tidak bisa mendeskripsikannya.

"Itsuki-san?" Naruto berbalik menatap Itsuki yang memerah, dia belum sadar dengan tindakannya.

"Itsuki-san, apa kamu sakit?" tanya Naruto cemas, dia mendekatkan dirinya pada Itsuki yang semakin memerah melihat wajah Naruto yang terlalu dekat.

"ano, Na-Naruto-san..."

"hmm, ada apa Itsuki-san, apa sesuatu yang membuatmu sakit atau apa? katakan padaku"

Itsuki melirik kebawah, lebih tepatnya di tangan mereka yang masih tertaut.

Naruto ikut melihat kebawah.

"tanganmu"

"ahh, maaf" Naruto hampir berteriak dan buru-buru melepaskan tangannya. "maaf, aku tidak sengaja" Itsuki hanya mengangguk kecil. dia merasa sedikit kecewa karena Naruto melepaskan tangannya namun buru-buru dia menepisnya.

"ka-kalau begitu ayo kita ke hotelmu" Naruto berusaha menghindari suasana canggung diantara mereka. Itsuki berjalan di samping Naruto dengan malu-malu.

-o0o-

"Itsuki kamu dari mana saja?" Nino menyambut Itsuki yang baru tiba lobby hotel, hari sudah sore. Nino khawatir dengan Itsuki karena sempat melupakannya karena sesuatu.

ekspresi wajah Itsuki berubah menjadi cemberut.

"aku menunggu kalian di toko tadi. tapi kalian meninggalkanku" ujar Itsuki cemberut.

"maaf Itsuki, tapi kami memiliki masalah" ujar Yotsuba yang bersama Nino. wajah Itsuki berubah menjadi serius.

"masalah apa?" tanya Itsuki penasaran, apalagi tidak melihat dua saudari kembarnya yang lain, Ichika dan Miku.

"aku akan menjelaskan, ayo kita kembali ke kamar" ujar Nino

Yotsuba teringat sesuatu, "ngomong-ngomong Itsuki, kamu kembali sendirian?" tanyanya.

Itsuki terkesiap, dia melupakan Naruto, "tidak, aku kembali bersama Naruto-san. itu dia-" Itsuki berbalik hendak menunjuk tempat Naruto, hanya tidak menemukannya disana "ehh, dimana Naruto-san?" Itsuki bertanya entah pada siapa.

Nino mengerutkan keningnya, "Naruto? siapa dia? temanmu?"

Itsuki menggelengkan kepalanya, "dia menolongku tadi, seharusnya dia masih ada disini" ujar Itsuki

"menolongmu?" beo Yotsuba, Itsuki hanya mengangguk kepalanya.

Itsuki menceritakan kejadian dari awal dia hendak membeli makan.

"sudahlah, mungkin besok atau lusa kamu akan menemuinya lagi. lagipula dia juga darmawisatakan, aku yakin dia masih disini" ujar Nino menenangkan saudarinya.

"aku akan membantumu mencarinya nanti" Yotsuba mengajukan diri.

Itsuki menghela nafas pelan.

"baiklah"

"lebih baik sekarang kita ke kamar kita" ajak Nino

Itsuki mengikuti kedua saudarinya kembali, sejenak dia menatap tempat Naruto berdiri tadi. dia tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan.

-o0o-

"yah begitulah aku bertemu dengan ibu kalian" Naruto mengakhiri ceritanya pada kedua anaknya. di punggungnya, ada putri sulungnya, Rena, yang berumur 6 tahun bersandar di bahunya sambil mendengarkan ceritanya.

di pangkuannya ada putranya yang masih berumur 3 setengah tahun, Souta, sambil meminum susunya. mendengar Naruto bercerita.

saat ini mereka berada di kamar Rena yang temaram karena hanya menggunakan lampu tidur sebagai penerang.

"tapi papa kemana, kok menghilang?" tanya Rena polos. Souta hanya memperhatikan keduanya tanpa terlalu mengerti.

Naruto tersenyum miring, "itu rahasia, baby"

"yah" Rena menghela nafas kecewa.

"tapi papa akan mencerita–"

CLAP!

kamar Rena yang awalnya temaram menjadi terang benderang ketika seseorang datang dan menyalakan lampu.

"huwaaa!" Naruto berteriak karena terkejut. dia menatap horor kearah pintu.

"mama" Naruto dan Rena kompak berucap ketika melihat Itsuki berdiri di dekat pintu sambil tersenyum manis. sementara Souta hanya melihat itu dengan polos dan sibuk meminum susu dari dotnya.

"gawat!" gumam Naruto dalam hati, dia menelan ludahnya susah payah. meski Itsuki tersenyum, tapi dia bisa merasakan aura gelap yang menguar dari tubuh istrinya.

"aku bertanya apa yang kamu lakukan di kamar putri kita di tengah malam seperti ini, suamiku sayang" Itsuki bertanya dengan nada manisnya pada Naruto yang merinding hebat.

"a-anu, a-aku..."

"mama, tadi papa cerita waktu mama ketemu papa" Rena berujar dengan semangat, memotong ucapan Naruto.

"ah, begitu yah?" Itsuki menatap sang suami dengan penuh perhitungan. Naruto hanya bisa tersenyum kikuk. "tapi apa perlu itu tengah malam, sayangku? apa kamu lupa bahwa Rena besok harus sekolah?" tanya Itsuki pada Naruto yang menegang.

"yah, yah. uhum! me-mereka tidak bisa tertidur, ja-jadi aku menceritakan saja kisah tentang kita" Naruto berkata sedikit gagap karena tatapan Itsuki begitu menusuknya.

Itsuki menghela nafas pelan, sebelum menghampiri keluarga kecilnya yang duduk diatas ranjang Rena.

"untuk kali ini mama maafkan, sekarang waktunya tidur" Itsuki mengambil Souta di pangkuan Naruto dan membaringkannya di ranjang Rena.

"haik" Rena melepas pelukannya pada Naruto dan berbaring di samping Souta.

tatapan Itsuki beralih pada Naruto, "kamu juga" Naruto hanya mengangguk patuh, lalu dia berbaring di samping Rena.

Itsuki sedikit terkejut, "eh kenapa kamu tidur disini, ayo kita kembali ke kamar"

Naruto tersenyum, "aku ingin kita tidur disini malam ini, tidak apa-apa, kan?" Naruto memeluk Rena.

Rena tersenyum senang, dia melihat Itsuki dengan mata berbinar. Souta melepas dotnya sebentar dan menarik tangan Itsuki. "mama, tidul sama Souta" ujar si bungsu.

Itsuki tersenyum manis.

"baiklah" dia berdiri dan mematikan lampu, lalu bergabung bersama mereka di ranjang Rena yang cukup besar. Itsuki memeluk Souta yang tidur di tengah bersama Rena.

"sekarang waktunya tidur" titah Itsuki sedikit tegas.

"haik"

tak lama pasangan ayah dan anak itu tertidur, Itsuki tersenyum penuh kebahagiaan melihat keluarga kecilnya tidur bersama.

"aku mencintai kalian" ujar Itsuki sebelum terlelap.


a/n : cerita ini adalah bagian dari cerita 'Fuufu' hanya saja, anggap ini versi 'luas'-nya. sejujurnya saya belum puas dengan cerita 'Fuufu' karena masih banyak yang perlu di bahas disana.

uhuk!

terlebih lagi Nakano Itsuki adalah karakter favorit saia.