Disclaimer : Masashi Kishimoto and Haruba Negi
02 : pertemuan kedua
Itsuki dengan cemberut keluar dari ruang ganti. hari ini adalah hari ketiga darmawisata sekolah, dia kini berada di desa film, rute sesuai pilihan yang di sediakan oleh pihak sekolah. selain ingin melihat-lihat, dia juga bersama Yotsuba, Nino dan Ichika mengawasi Miku bersama Futaro.
alasan dia sedikit kesal, karena dia harus memberikan dalaman cadangannya pada Miku karena saudarinya terjatuh di kolam.
"itu sangat membantu" ujar Yotsuba senang ketika Itsuki kembali bersama mereka. "untung saja kamu membawa cadangan lain" lanjutnya lagi.
"tapi, kenapa...?" Ichika bertanya dengan bingung.
wajah Itsuki memerah karena sedikit kesal dan malu bercampur jadi satu.
"untuk berjaga-jaga terhadap sesuatu" ujar Itsuki malu.
lalu dia bersama yang lain kembali mengawasi Miku bersama Futaro agar semuanya berjalan lancar.
"Yotsuba, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Itsuki bingung, mengawasi Miku dan Futaro yang sedang beristirahat di depan sebuah rumah.
mereka mengawasi tepat di belakang mereka melalui celah jendela.
"huh?" Yotsuba nampak panik, "meski aku memungut roti milik Miku, aku malah melupakannya di hotel" ujar Yotsuba panik, memikirkan roti buatan Miku.
Itsuki sedikit terkejut, "eh, ro-roti?" beonya bingung
"tenang saja" Itsuki dan Yotsuba berbalik mendengar seseorang berbicara, menemukan Ichika membawa paper bag kecil berisi roti buatan Miku, "ini tinggal di serahkan ke Miku, kan?" Ichika terdenyum simpul.
mereka kembali mengawasi Miku yang terlarut berbincang dengan Futaro, terlebih lagi dengan masalah yang menimpa sehari pertama mereka sampai disini.
Itsuki bisa melihat Miku akan mengungkapkan perasannya pada Futaro.
"oya, oya, oya. ada pasangan bermesraan disini" mata Itsuki membulat melihat seseorang datang mengintrupsi keduanya yang sedang mengobrol. dia tau siapa itu, itu adalah–
"Naruto-san?" pekik Itsuki kaget.
kemarin dia mencarinya di bantu Yotsuba, sayangnya usahanya tidak membuahkan hasil, dia menyerah. lagian Naruto juga tidak memintanya untuk menggantinya.
dan sekarang, Naruto muncul tanpa dia duga mengintrupsi Miku dan Futaro.
"eh, siapa dia?" Nino bertanya entah pada siapa, Itsuki terdiam sesaat.
Futaro berdiri menelisik penampilan Naruto.
"siapa kau? dan apa kau lakukan disini?" tanya Futaro sedikit waspada. Miku memperhatikan ini dengan diam.
"maaf kalau aku menganggu, sejujurnya aku kira tadi melihat Itsuki-san disini" balas Naruto jujur, dia tersenyum kikuk, lalu menatap Miku, "kamu terlihat mirip dengan Itsuki-san" ucapnya pada Miku.
"eh?" Miku sedikit terkejut
Naruto terlihat tidak enak menganggu mereka, "maaf kalau aku menganggu, silahkan lanjutkan" ucapnya sebelum beranjak berdiri hanya di hentikan oleh Futaro yang memegang pundaknya.
"kau pikir kau akan kemana, huh? sebelum kau mengatakan apa yang kau inginkan aku tidak akan membiarkanmu pergi" ujar Futaro curiga.
yah, melihat laki-laki asing terlihat mengenal Itsuki, dia tau salah sifat satu murid lesnya itu seperti apa. jadi, tidak mungkin, Itsuki mengenal laki-laki asing apalagi murid sekolah lain.
"oi, oi, aku tidak berniat buruk. apa kau terlalu kesal karena aku menganggu kencanmu" ujar Naruto sedikit kesal, tapi dia menahannya.
wajah Futaro nampak memerah sejenak sebelum menatap nyalang Naruto, "bu-bukan itu. kau penguntit, yah?" tuduh Futaro asal.
alis Naruto berkedut kesal, "kau pikir aku apaan?" ujar Naruto kesal, kali ini menunjukkannya karena Futaro menuduhnya.
Naruto memandang Futaro dengan tajam. dia merasa familiar melihat Futaro. dia menelisik lagi wajah Futaro.
tiba-tiba gambaran bocah pirang, sedikit berandalan, dengan senyum miring melintas di kepalanya.
"kau!" Naruto menunjuk Futaro yang terkejut dengan perubahannya yang tiba-tiba. "kau! kau si Usagi, kan? Usagi Butayarou?" tanya Naruto asal.
kini alis Futaro yang berkedut kesal karena panggilan Naruto.
"siapa yang kau panggil 'Usagi' (kelinci) 'Butayarou' (bodoh), hah?" teriak Futaro kesal, dia menunjuk Naruto dengan tatapan penuh permusuhan. "namaku Uesugi Futaro bukan Usagi Butayarou, bodoh" lanjutnya lagi.
Naruto menaikkan kedua pundaknya tak peduli.
"yah, ingatan lama" balasnya acuh tak acuh.
"ah, aku ingat, kau si Naruto (kue ikan), kan?"
Naruto kesal, "hoi, aku Naruto (pusaran)"
"apa bedanya, itu sama"
"kau memang bodoh"
"hah?! apa kau bilang?"
"kau tuli?"
keduanya berdebat tanpa mempedulikan Miku yang memperhatikan keduanya panik.
"BERHENTI!"
Naruto dan Futaro menghentikan perdebatan keduanya ketika seseorang datang berteriak pada mereka. keduanya terkejut.
Futaro terkejut karena melihat semua murid lesnya berada di tempat yang sama, sementara Naruto terkejut karena menemukan empat gadis lain yang mirip dengan Itsuki.
"kenapa semua orang terlihat mirip dengan Itsuki-san" ujar Naruto sedikit takut.
PLAK!
Futaro mengeplak belakang kepala Naruto.
"kau bodoh, yah?" Futaro berkata kesal, "mereka mirip karena mereka saudara kembar" Futaro menunjuk mereka.
"kau kira aku tau, hah? mana aku tau Itsuki-san memiliki saudara kembar" balas Naruto kesal.
Futaro tersenyum remeh, "lalu siapa yang bodoh sekarang" ujarnya rendah.
muncul tanda perempatan di dahi Naruto.
"kau memang ingin mengajakku berkelahi yah?" teriak Naruto kesal. Futaro mengalihkan pandangannya.
"Naruto-san, tolong berhenti" Itsuki maju dan menahan Naruto yang terlihat ingin bergelut dengan Futaro.
Naruto menatap Itsuki sedikit ragu, "etto... apakah kau Itsuki yang asli?" tanyanya ragu.
"benar, maaf membuatmu kerepotan Naruto-san" ujar Itsuki. Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"tidak apa-apa santai saja"
"Itsuki, kau mengenalnya?" tanya Nino yang menunjuk Naruto. dia menatap Naruto dari atas sampai bawah.
Itsuki mengangguk, "dia orang yang menolongku dua hari yang lalu" balasnya sedikit malu-malu.
"anoo, sepertinya aku menganggu, aku akan pergi" Naruto merasa tidak enak karena berada di tengah-tengah mereka. dia merasa sangat asing.
"tunggu, Naruto-san" Itsuki menahan sweater Naruto agar pemuda itu tidak segera pergi. Itsuki belum menyelesaikan urusannya dengan Naruto.
"yeah?"
"ada yang ingin aku katakan padamu, bisakah kita bicara berdua?" pinta Itsuki sedikit malu-malu. dia sedikit berhasil menguasai dirinya.
Naruto mengerjapkan matanya, "e-eh, tentu saja"
"hora, ikut bersamaku" Futaro menyeret untuk mengikutinya. meninggalkan saudari kembar lima itu memberikan mereka untuk berbicara sendiri.
"hoi, kenapa aku harus mengikutimu, Usagi"
"Futaro. panggil aku Futaro"
"bodo amat, lepaskan aku Usagi, aku bisa berjalan sendiri"
"diam saja dan ikuti aku"
Itsuki memandang kedua pemuda yang pergi itu dengan berkeringat jatuh.
"ah, aku tidak tau kau punya teman laki-laki, Itsuki" Miku berkomentar, ikut memandangi keduanya.
"tidak-, maksudku Naruto-san hanya kenalanku" kilah Itsuki.
tapi mereka tidak percaya, dia menggoda Itsuki yang sudah memerah malu.
.
.
.
"Itsuki-san, kita mau kemana?" tanya Naruto mengikuti langkah kaki Itsuki membawanya entah kemana.
setelah Itsuki menyelesaikan permasalahan 'antar-saudara' kembarnya. Itsuki mengajak Naruto ke suatu tempat, hanya berdua. walaupun Itsuki harus menahan malu karena saudari-saudarinya menggodanya untuk beberapa alasan.
"disini!" Itsuki menunjuk sebuah kedai makanan ramen yang ada di desa film, tempat mereka kunjungi.
"ehm..." Naruto menaruh ibu jari dan jari telunjuk di bawah dagu, menatap kedai ramen itu dan Itsuki secara bergantian. "aku tidak tau kau bisa tau makanan favoritku" ucap Naruto, bibirnya membentuk senyuman kecil lalu masuk ke dalam kedai ramen dan duduk di salah satu kursi disana, meninggalkan Itsuki yang terkejut.
(a/n : tempatnya seperti ramen ichiraku)
"eum, aku hanya mengajakmu kesini, aku tidak tau makanan favoritmu" Itsuki duduk di samping Naruto.
Naruto terkekeh pelan.
"aku tau..." Naruto beralih pada seorang laki-laki apruh baya pemilik kedai ramen ini. "paman, aku pesan ramen miso..." ucapan Naruto berhenti sejenak untuk menatap Itsuki seperti menanyakan pesanannya lewat tatapan mata.
"sama kan saja"
"oke, paman ramen misonya dua"
"oke, ramen misonya segera datang"
tak ada yang membuka pembicaraan diantara mereka setelah itu. Itsuki masih terlalu malu untuk berbicara tapi Naruto menunggu Itsuki berbicara padanya lebih awal.
"Naruto-san..."
"Itsuki-san..."
"ah/eh...?"
"Itsuki-san duluan, aku menunggu" Naruto menopang wajahnya diatas meja, matanya terkunci pada gadis yang belum lama di temuinya.
"eum, aku ingin berterima kasih pada Naruto-san seelumnya, karena membantuku kemarin. dan tujuanku mengajakmu kesini sebenarnya ingin menebus pertolonganmu kemarin" jelasnya, dia sedikit gugup karena Naruto menatapnya.
Naruto menaikkan sebelah alisnya bingung.
"aneh sekali..." Naruto menjepit dagunya bingung, dia memikirkan ucapan Itsuki, "...perasaan aku tidak meminta apapun setelah membantumu kemarin, apa aku terlihat seperti menuntut balik apa yang aku berikan padamu kemarin?" tanyanya pada Itsuki.
"eh, apa aku menyinggungmu? tapi bukan itu maksudku, Naruto-san. ini murni atas keinginanku, aku tak ingin punya utang budi pada orang lain" Itsuki sedikit mengandung nada sesal. merasa bahwa dia menyinggung Naruto.
"hahahaha..."
Naruto tertawa mendengar ucapan Itsuki, gadis ini sedikit unik menurutnya.
"Naruto-san...?"
"maafkan aku, tapi kamu gadis yang lucu" Naruto memegangi perutnya karena tertawa.
"lu-lucu...?" entah Itsuki harus tersinggung atau bagaimana. lucu memiliki arti yang menjurus singgungang atau pujian.
"yah, aku menyukai gadis tipe sepertimu, Itsuki-san" ucap Naruto jujur. wajah Itsuki tersipu, dia belum pernah sama sekali meneriman pujian khusus untuknya. paling-paling dia disamakan oleh saudara kembarnya yang lain.
"tapi maaf aku menolak pemberianmu"
"eh, kenapa?"
"Itsuki-san, aku tidak ingin pertolongan yang ku berikan pada orang lain memberikan timbal balik. kemarin aku menolongmu karena ingin, bukan berharap apapun"
Itsuki sedikit takjub, di jaman sekarang ini agak jarang menemukan laki-laki seperti Naruto. dia bisa menghitungnya dengan jarinya sendiri. Itsuki tak bisa menahan senyumnya lebih lama.
"lalu bagaimana aku membalasmu, aku tidak ingin terus di hantui dengan rasa tidakenakan ini"
Naruto menghela nafas pelan, rupanya Itsuki adalah gadis yang sedikit gigih. dia memperbaiki posisi duduknya.
"ini tidak membuatmu mundur kan?"
Itsuki menggelengkan kepalanya.
"bagaimana kalau jadi temanku saja? aku ingin berteman denganmu" Naruto menyilangkan tangannya di dada.
"segampang itu?"
"kalau aku minta di belikan helikopter, mau gak?" tanya Naruto dengan sedikit nada guyonanya.
Itsuki cemberut.
"aku tidak sekaya itu Naruto-san"
"hahahah, aku hanya memberikan hal yang mudah Itsuki-san. jadi kamu menerima apa tidak?" Naruto menjulurkan tangannya ke depan, dia memasang wajah hangatnya.
Itsuki terdiam.
dia memandang tangan Naruto dengan intens.
"aku tidak pilihan lain, kan?"
"jahat, kamu pikir aku ini apa?"
Naruto cemberut.
"entahlah"
"hahahaha"
keduanya tertawa.
"ah, ngomong-ngomong Itsuki-san" Naruto melirik Itsuki dari bawah keatas. dia tersenyum puas, "...kamu terlihat cantik dengan pakaianmu. hmm aku tidak bosan melihatnya" puji Naruto dengan tulus.
wajah Itsuki memerah karena pujian itu. lagi-lagi Naruto memujinya.
Itsuki membuang wajahnya kesamping agar Naruto tak melihat wajahnya yang seperti kepiting rebus.
"are, ada apa Itsuki-san?"
"tidak apa-apa, aku baik-baik saja" Itsuki menutup wajahnya dengan kedua tangannya. dia tidak ingin melihat Naruto sekarang.
-o0o-
Rena memandang ayahnya dengan heran.
"kenapa papa senyum-senyum sendiri?"
Naruto tersenyum sepanjang perjalanan mengantarnya ke sekolah. Naruto berpaling dari jalanan untuk menatap putrinya yang penasaran sejenak di samping kemudi.
"tidak apa-apa, papa hanya mengingat. betapa manisnya ibumu waktu dulu" Naruto terkekeh pelan.
Rena cemberut, "berarti sekarang mama jelek dimata papa begitu" ucapnya sewot.
Naruto mendadak panik, putrinya persis sekali seperti istrinya. mudah mengambil kesimpulan dengan cepat.
"bukan begitu, mama kamu justru lebih cantik sekarang. manisnya kamu yang ambil" rayu Naruto dan berhasil, Rena terkikik, apalagi melihat wajah ayahnya yang panik. pasti papanya ini takut jika mamanya mendengar pembicaraan mereka.
"benarkah? apa aku bilang sama mama?" Rena memberikan seringaian khas pada Naruto.
Naruto semakin panik, dia menepikan mobilnya.
"Rena, putri papa yang paling cantik, ini rahasia kita berdua okey?" Naruto lupa, Rena juga putrinya. tingkah usilnya pasti menurun juga pada putrinya.
Rena tersenyum manis, "oke papa, tapi aku mau es krim rasa cokelat dengan topping cookies, waffle dan strawberry diatasnya"
Naruto menepuk jidatnya. rupanya putrinya ini punya pikiran licik juga untuk memanfaatnya.
"eh mama kan udah bilang kamu dilarang makan es krim untuk sementara waktu"
Rena malah menyeringai, "yes or not, papa?"
Naruto menunduk lesu, putrinya ini suka sekali mencari kelemahannya.
"okey, but don't tell mama. ini rahasia kita berdua"
Rena mengangkat kedua ibu jarinya.
Naruto tersenyum, dia mencodongkan pipinya kepada Rena.
"okey sekarang kiss papa dulu"
Rena mengangguk senang, dia memeluk leher Naruto dan mengecup pipinya.
"I love you, papa"
Naruto tersenyum hangat, dia mengecup kening dan kedua pipi putrinya.
"I love you too, sweetie" dia melepaskan diri dari pelukan Rena. "sekarang waktunya berangkat lagi"
Rena mengangkat kepalan tangannya di udara, "let's go, papa" dia merasa bersemangat karena dapat es krim lagi dari papanya.
"yeah"
belum jauh perjalanan mereka, suara ponsel Naruto berdering, itu berasal dari istrinya, Itsuki. Naruto menyambungkan suaranya dengan airpodsnya.
"halo, sayang?" Naruto menyapa dengan bahagia. maklumlah, dapat penyemangat dari putrinya.
"kamu udah sampai di sekolahannya, Rena?"
"oh, ini tinggal dikit lagi. ada apa sayang?"
Naruto melirik Rena yang menaruh jari telunjuknya di bibirnya, pertanda diam. Naruto tertawa tanpa suara.
"oh, tidak. aku merasa firasat buruk. kamu punya rahasia lagi sama Rena, kan?"
Naruto menepuk jidatnya. dia tidak tau, istrinya ini punya insting apasih sampai begitu tajamnya. padahal jarak mereka cukup jauh loh.
"sa-sayang..."
"rahasia apa lagi? pokoknya kalau pulang kamu harus cerita"
"ta-tapi..."
tut..tut..tuutt... (sambungan terputus)
"ini bukan rahasia lagi namanya" ucap Naruto lesu. Itsuki tidak menerima alasan apapun dan lagi-lagi Naruto hanya bisa pasrah. Rena tertawa melihat tingkah papanya. sepertinya papanya kalah lagi.
Naruto tak bisa menang dari istrinya dan semua tentang feelingnya.
a/n : oke, saya salah, sebenarnya Souta bukan Shota. saya ambil karakternya dari adeknya hori di anime horimiya.
saya juga gak baca manga hentai, jadi gak tau.
note : jangan sering-sering baca, gak baik buat otak.
