Disclaimer :
Naruto belong's Masashi Kishimoto
Yōkoso Jitsuryoku Shijō Shugi no Kyōshitsu e (Classroom of The Elite) belong's Shōgo Kinugasa and illustrated by Shunsaku Tomose
typo(s) everywhere, ooc, and etc.
Horikita Suzune adalah gadis yang serius dan cerdas yang jarang menunjukkan emosi apa pun dan umumnya tampak tidak terpengaruh oleh banyak hal. dia tampil sebagai orang yang agak dingin dan jauh dari teman-teman sekelasnya karena kurangnya komunikasi dengan mereka serta kecenderungannya untuk menjauhkan diri dari mereka dan memandang rendah mereka.Karena sikap ini, dia secara terbuka jujur tentang banyak hal, yang ditunjukkan ketika dia mengaku tidak memiliki teman karena dia berpikir bahwa teman hanya akan mempersulitnya untuk mencapai tujuannya.
Suzune memiliki pandangan antisosial, yang membuatnya hampir tidak berbicara dengan siapa pun karena menurutnya itu terlalu buang-buang waktu, dia senang sendiri dan dia senang jika tidak ada yang menganggunya. tetapi hari ini tepatnya sehari setelah kelasnya, ah tidak sekolahnya menerima murid baru pindahan dari luar negeri. Suzune harus menahan dirinya untuk tidak memaki pada laki-laki yang sangat 'gila' menurutnya.
"oi, Suzune, kau mendengarku?"
alis Suzune berkedut tak suka, mendengar suara cowok tidak tau malu itu berbicara padanya. dia jengkel karena tingkah laki-laki di hadapannya ini terus menempel padanya seperti bayi koala, membuatnya jadi pusat perhatian di kantin sekolah. yah, itu juga karena dia adalah salah satu gadis 'populer' makanya orang-orang memperhatikan tingkah mereka berdua. Suzune di kenal gadis populer yang 'penyediri'.
"Namikaze-kun, kau mengerti sopan santun di negara ini, kan? kurasa kedua orang tuamu sudah memberitahumu, jika di negara ini memanggil nama belakang itu dianggap menunjukkan keakraban dan hubungan dekat. aku tidak merasa bahwa kita dekat, bahkan aku ingat dengan jelas kalau aku belum mengenalmu sebelumnya. jadi harap tunjukkan sopan santunmu" ujar Suzune dingin meski dia harus menahan diri untuk tidak menunjukkan kekesalannya terang-terangan di depan orang.
nanti hancur pamornya yang terkenal 'kalem' dihadapan murid SMA Kōdo Ikusei.
sementara Naruto hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah-olah mengerti apa yang di ucapkan Suzune.
"ah aku paham..." diam-diam Suzune menghela nafas pelan. "...Suzune-chan" ujar Naruto tak peduli. lalu kembali melanjutkan acara makan siangnya. dia bahkan tidak peduli dengan tatapan orang-orang, toh gak berpengaruh juga sama dia.
Suzune semakin kesal, bebal juga cowok tak tau malu di depannya ini.
"Namikaze-kun..." Suzune berkata dengan suara berat.
"kau menyuruhku untuk berhenti memanggil nama belakangmu tapi kau juga tidak mendengarku jika aku tidak ingin formalitas. yah anggap saja kita impas" balas Naruto tersenyum miring, merasa menang.
Suzune menyerah, dia berdiri dan meninggalkan Naruto sendirian di meja kantin, mengabaikan Naruto yang berteriak memanggilnya seperti orang gila.
Naruto hanya tersenyum, "kau pikir aku semudah itu menyerah Suzune?" gumamnya "khu...khu...khuu... tunggu saja Suzune" lanjutnya lagi dan melanjutkan makan.
"Naruto!"
"eh ayam-ayam"
Naruto hampir tersedak makanannya sendiri, karena seseorang tanpa mikir datang mengagetkannya.
"Kiyo, teme. aku ingin menghajarmu" Naruto berteriak kesal, dia menunjukkan kepalan tangannya pada teman pertamanya ketika pertama kali menginjakkan kakinya di sekolah ini, mengabaikan orang-orang melihatnya dengan tatapan aneh.
Kiyotaka terkekeh kikuk, dia mengusap belakang kepalanya karena merasa bersalah.
"maaf, Naruto" Kiyotaka dengan cepat melambaikan tangannya.
Naruto mendengus, "sudahlah"
dan dia makan lagi.
Kiyotaka duduk di depan Naruto, menggatikan Suzune yang sempat duduk disana.
"aku melihatmu bersama Horikita, apa yang kalian bicarakan?" tanya Kiyotaka penasaran, membuka percakapan diantara mereka di sela-sela makan siang.
Naruto menatap Kiyotaka dengan pandangan serius. lalu menyatukan kedua tangannya.
"masa depanku dengannya. aku menanyakan dia ingin mempunyai berapa anak dan menamai mereka siapa" jawabnya santai
BUSH!
"uhuk...uhuk..." Kiyotaka tersedak makan yang belum sepenuhnya tertelan.
melihat temannya hampir sekarat, dengan cepat Naruto mengambilkan sebotol minum.
"oi, kau kenapa sih?" tanya Naruto bingung.
Kiyotaka tak langsung menjawab, dia masih berusaha menetralisikan keterkejutannya.
"aku tau kau adalah orang gila, tapi aku tidak tau kalau kegilaanmu sudah tahap dalam bahaya" ujar Kiyotaka dengan nada tak percaya.
bisa-bisanya makhluk sejenis Naruto masih berkeliaran di sekolah tanpa pengawasan psikiater. Kiyotaka tak habis pikir, bagaimana sekolah ini menerima murid seperti Naruto. jangan-jangan di sogok lagi kepala sekolahnya. pikir Kiyotaka.
namun, bukannya tersinggung, Naruto malah terlihat biasa saja.
"apa yang kau bicarakan, Suzune sudah memberikan beberapa saran padaku"
"kau dan kehaluanmu" Kiyotaka berharap kegilaan Naruto tak menular padanya. cukup dengan meladeni kegilaannya saja sudah membuat Kiyotaka ketar-ketir.
antara nekat dan gila.
itulah gambaran untuk Naruto.
-o0o-
Naruto berulang kali menghela nafas malas. baru saja dua hari dia menginjakkan kaki di sekolah ini, tapi wali kelasnya sudah memintanya agar ke ruang guru. mana alasannya gak jelas lagi.
"permisi"
Naruto menggeser pintu ruang guru untuk mencari wanita yang memanggilnya, Chabashira Sae. sayangnya, wanita itu tak menunjukkan batang hidungnya. hanya beberapa guru yang ada disana.
netra Naruto berhenti pada seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Sae.
"ano, sensei apakah anda melihat sensei?" tanya Naruto sedikit ambigu.
wanita itu menolehkan pandangannya menatap Naruto.
"hah?"
"ah, maksudku Chabashira-sensei, anda tau dimana dia?" tanyanya.
wanita itu tersenyum kearah Naruto.
"Sae-chan? beberapa waktu yang lalu tadi dia ada" wanita itu berdiri dari kursinya dan mendekat kearah Naruto. "aku Hoshinomiya Chie, wali kelas dari kelas B. sebenarnya aku dan Sae-chan berteman, kita saling memanggil nama belakang" ucap Chie basa-basi.
Naruto menaikkan sebelah alisnya.
"ehm, yah, aku sudah menebaknya, kalian terlihat seumuran"
Chie menutup mulutnya dengan tangan kanannya. wajahnya terlihat pura-pura tersakiti.
"kejamnya, tidak baik menilai seorang perempuan dengan umurnya" ucap Chie, bibirnya maju beberapa senti, wajahnya cemberut.
Naruto tertawa.
"maaf sensei"
"ngomong-ngomong kenapa Sae-chan memanggilmu kesini?" bisik Chie di telinga Naruto. dia sedikit merapatkan tubuhnya pada Namikaze muda itu.
Naruto menaikkan kedua bahunya.
"kalau aku sudah tau, aku tidak perlu repot-repot kemari, Hoshinomiya-sensei" ucap Naruto lugas.
Chie terkekeh.
"ufufu~ lucu sekali. siapa namamu?" tanya Chie, matanya mengindentifikasi wajah Naruto yang memancarkan fitur asing dari kebanyakan orang Asia pada umumnya.
"Namikaze Naruto"
"namamu seperti orang Jepang tapi kenapa wajahmu terlihat bukan orang Jepang" ungkap Chie sedikit jujur, dia memasang pose berpikir, mengamati Naruto.
Naruto tersenyum miring.
"of course, because I'm from London, ma'am" aksen british Naruto keluar, dia tersenyum sedikit angkuh.
mata Chie berbinar menatap Naruto, seolah menemukan hal baru.
"wah, aksenmu sangat bagus" puji Chie. dia bertepuk tangan. Naruto semakin besar kepala, dia semakin menunjukkan senyuman tengilnya. Chie mengambil lengan Naruto dan memeluknya. "aku belum pernah bertemu orang asing sebelumnya. ne~ ne~ bisakah kita mengenal satu sama lain, aku ingin punya calon blesteran sepertimu" ucap Chie ceplas-ceplos. dia tersenyum menggoda kearah Naruto, berharap pemuda itu merona malu.
sayangnya, Naruto adalah laki-laki yang ah- sudahlah.
"tentu saja, sensei. mari kita saling mengenal satu sama lain" ucap Naruto menggoda. ibu jari dan jari telunjuknya membentuk tanda centang dan menaruh di bawah dagunya.
TAK!
sebuah buku mendarat di kepala Chie, membuat kedua sejoli itu terkejut.
"apa yang kau lakukan Hoshinomiya?" tanya sang pelaku pemukulan, Chabashira Sae dengan sedikit tegas.
"oww" Naruto meringis meski bukan dia yang terkena pukul.
Chie melepaskan pelukannya dari lengan Naruto, dia berjongkok memegang kepalanya yang terasa sakit.
"apa yang kau lakukan pada muridku?" tanya Sae tegas, dia menyilangkan tangannya di dada.
"aku hanya berbicara dengannya selagi menunggumu datang" rengek Chie, dia masih memegang kepalanya yang masih sedikit nyeri. Sae tidak main-main memberinya pukulan.
"sensei, anda sangat kejam" celetuk Naruto dengan suara simpatiknya.
wajah Sae melunak, seolah terbiasa dengan tingkah temannya dan tak peduli dengan celetukan Naruto.
"maaf membuatmu menunggu Namikaze-kun, baiklah mari kita bicara" Sae memberikan kode pada Naruto agar mengikuti langkahnya menuju kursinya yang tidak jauh dari kursi Chie. wajah Naruto sedikit merengut.
Chie cemberut melihat keduanya. rasa di kepalanya sudah menghilang.
"sebenarnya ada apa sensei memanggilku?" tanya Naruto sedikit malas, dia berdiri di samping kursi Sae. sementara wanita duduk di kursinya.
"jangan perlihatkan wajah malasmu, setidaknya bersemangatlah sedikit" tegur Sae
Naruto tersenyum paksa.
"jangan tersenyum paksa seperti itu, terlihat menjijikan"
imajiner kedutan muncul di kening Naruto.
"lalu aku harus bagaimana sensei?" ujar Naruto sedikit kesal.
Sae tak menjawab, dia memberikan dua buku pada Naruto. pemuda itu menerimanya dengan bingung.
"kepala sekolah menyuruhku untuk memberikanmu ini, dan dia berpesan untuk menyuruhmu menyalin semua catatan tahun pertama. karena kau murid pindahan, kepala sekolah tidak membiarkanmu mengendur" jelas Sae panjang lebar.
"hanya itu?"
"iya"
Naruto mengerang pelan.
"yang benar saja, aku menunggu sensei disini beberapa menit hanya untuk itu. sensei apa anda tidak ingin mengajakku ngobrol berdua sambil ngopi, terus berbicara sesuatu supaya kita lebih dekat" keluh Naruto. padahal dia sudah repot-repot kesini, kenapa hanya catatan tak penting yang dibicarakan.
wajah Sae mendadak garang, dia melirik tajam kearah Naruto.
"maksudmu?"
Naruto tertawa gugup, wajah Sae terlihat menyeramkan.
"hahahah tidak ada sensei"
wajah Sae melunak.
"kalau begitu silahkan tinggalkan ruangan ini"
Naruto berjalan menuju pintu dengan misuh-misuh. mengabaikan sebuah langkah kaki yang terdengar menuju ruang guru.
tangannya hampir memegang kenop pintu menggesernya hanya mendapati pintu itu bergeser sebelum sempat dia memegangnya.
"Hoshinomiya-sensei"
"eh?"
waktu terasa melambat, seorang gadis berlari dengan wajah panik masuk ke ruang guru, tidak memperhatikan seseorang yang ingin keluar dari ruang guru.
laju lari gadis itu tidak sempat dia rem karena terkejut melihat Naruto berdiri di dekat pintu.
BUGH!
kepala gadis itu menyundul hidung Naruto dengan keras karena tak sempat untuk berhenti, terlebih lagi Naruto tiba-tiba berdiri di dekat pintu.
"aaghhhh"
Naruto terbaring di lantai karena tidak siap menerima tubrukan gadis itu. tulang hidungnya terasa hampir patah. dia berusaha menetralisir rasa sakit yang amat sangat menyerang hidungnya
"eh!" gadis itu terkejut, dia mengusap keningnya yang terasa sedikit sakit sebelum melirik Naruto yang menggeliat kesakitan di lantai.
"maaf- maafkan aku, apa kamu tidak apa-apa?" tanya gadis itu dengan panik plus merasa bersalah.
woiya, jelas, sakit cuy.
Naruto tak menjawab, dia memejamkan matanya karena rasa sakitnya.
gadis itu semakin panik.
tingkah mereka berdua jadi bahan perhatian guru-guru. mereka mendekat, kecuali Sae yang menghela nafas pelan dan memijit keningnya yang terasa pening.
"anak itu" gumamnya.
"Namikaze-kun, kamu tidak apa-apa?" tanya Chie khawatir. lalu dia menatap gadis itu yang merupakan muridnya. "Ichinose-san, seharusnya kamu berhati-hati" tegur Chie pada gadis itu, Ichinose Honami.
"maaf sensei, aku tidak tau ada orang yang berdiri di dekat pintu" ucap Honami dengan rasa bersalah, dia baru saja melukai seseorang.
Naruto duduk dari posisi baringnya, dia mengusap-usap hidungnya yang masih terasa berkedut.
"aduduh~"
"Namikaze-kun, apa kamu tidak apa-apa"
Naruto melambaikan tangannya karena tidak sanggup menjawab, dia sibuk menyamankan hidungnya yang masih terasa nyeri.
"ano~ maafkan aku, ini semua salahku" uca Honami merasa bersalah. dia berjongkok di hadapan Naruto. sayangnya pemuda itu belum memperhatikannya. "ano- Namikaze-kun?" panggilnya.
Naruto ingin memarahi gadis itu, dia mendongakkan kepalanya bersiap untuk berkata kasar hanya mampu terdiam membisu melihat wajah Honami.
kata-kata yang hendak keluar terasa tersumbat di kerongkongannya.
wajah Honami yang terlihat khawatir dan matanya yang berkaca-kaca terlihat 'wah' di hadapan Naruto, apalagi Naruto bisa melihat background musim semi dari balik punggung Honami.
bahkan rasa sakit di hidungnya dia abaikan karena terhipnotis dengan pemandangan di hadapannya.
"maafkan aku, Namikaze-kun"
mulut Naruto terbuka lebar.
"KA-KAWAI" inner Naruto berteriak
"Namikaze-kun"
Naruto merubah posisi duduknya menjadi berlutut, dia mengadahkan tangannya di hadapan Honami. dia tidak peduli pada perhatian guru-guru.
"gadis cantik, kamu adalah takdirku. sekarang mari kita wujudkan masa depan kita bersama dengan membangun rumah tangga. jadi menikahlah denganku" Naruto berkata dengan nada jantannya. wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat.
"hah?"
mereka menganga melihat aksi Naruto tetapi Sae tampak tertekan dengan tingkah anak muridnya itu.
"sudah ku duga, dia gila" gumamnya tanpa peduli dengan tingkah Naruto.
-o0o-
"sekali lagi maafkan aku, Namikaze-kun"
Naruto memutar matanya malas, berulang kali mendengar itu dari balik bibir manis Honami.
"berhenti mengatakan itu, aku tidak apa-apa" Naruto berusaha menghilangkan rasa bersalah yang masih tersemat di hati Honami.
"ta-tapi gara-gara aku hidungmu berdarah" Honami kukuh menyalahkan dirinya. apalagi melihat hidung Naruto mengeluarkan darah.
saat ini keduanya berada di dalam UKS, setelah aksi menghebohkan Naruto yang melamar Honami di ruang guru.
Honami tidak yakin, kalau gosip tentang mereka tidak menyebar.
"hahah tenang saja, kalau yang seperti ini sudah biasa bagiku" Naruto memerkan ototnya seolah-olah dia kuat. "dan jangan menunjukkan wajah sedihmu, aku tidak ingin calon istriku sedih" ujar Naruto blak-blakan.
senyum Naruto merekah melihat wajah Honami yang mendadak memerah karena malu.
"ehm, syukurlah kalau Namikaze-kun baik-baik saja" Honami terlihat lebih lega meski masih ada sedikit bersalah tapi tidak separah tadi.
Naruto mengangkat tangannya.
"berhenti memanggil margaku, aku tidak suka formalitas. panggil aku Naruto"
"eh tapi bukankah itu tidak sopan, kita kan tidak akr-"
"berhenti sampai disitu, mari kita berkenalan" Naruto memperbaiki posisinya. "namaku Namikaze Naruto, tinggalkan formalitas jika berbicara denganku, salam kenal" Naruto mengulurkan tangannya di hadapan Honami. gadis itu menerimanya dengan senang hati.
"Ichinose Honami, salam kenal eh- ehm, Naruto...-kun?" Honami masih agak canggung karena dia tidak pernah memanggil teman laki-lakinya dengan nama belakang. Naruto menjadi yang pertama.
senyum manis Naruto menguar.
"oh, Honami maukah kau berteman denganku?" tanya Naruto dengan nada menggebu-gebu. "...ah tidak, menjadi istriku"
Honami tersenyum manis, "tentu saja... eh"
-o0o-
Naruto memasuki kelasnya dengan senyuman gak jelasnya setelah mengobrol beberapa hal dengan Honami, plus menggodanya hingga gadis itu malu.
bukannya berhenti, Naruto malah semakin semangat, apalagi wajah Honami yang terlihat imut.
"selamat siang teman-teman" sapa Naruto penuh semangat, menyebabkan kelasnya yang tadinya bising menjadi sunyi.
mereka kompak menatap Naruto terlebih lagi gosip yang menyebar di seluruh sekolah tentang kasusnya dengan Honami.
"eh? kok diam? lagi hemat kalimat, yah" Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal karena semuanya mendadak diam.
namun, ada tiga laki-laki yang mendekat kearah Naruto dengan kecepatan penuh.
Kiyotaka memegang kerah seragam Naruto dan menguncang dengan keras tubuh Naruto.
"Naruto, teme. apa yang kau lakukan, hah?!" teriak Kiyotaka. dia mengguncang tubuh Naruto.
"Naruto, aku tidak tau sekeren itu, ajarkan aku" teman sekelasnya Ike Kanji. dia ikut mengguncang bahu Naruto.
"aku tidak tau kau seberani itu Naruto" celetuk teman sekelasnya yang lain, Yamauchi Haruki.
"oi, oi, oi, berhenti Kiyo-teme. aku pusing" Naruto melepaskan cengkraman tangan Kiyotaka dan Kanji. "aku bisa melihat ribuan bintang berputar di kepalaku"
"berhenti menghalu"
Naruto menggelengkan kepalanya.
"kalian ini kenapa sih?" tanya Naruto, memperbaiki posisi dasinya yang sedikit miring.
"eh kau tidak tau?"
Naruto menoleh kearah Kanji.
"tidak"
"kau tidak ingat apa yang kau lakukan"
Naruto beralih pada Haruki.
"apasih?"
"Naruto!" kini giliran Kiyotaka yang berbicara. dia mengcengkram kerah seragam Naruto lagi.
"dasiku berantakan"
"bodo amat dengan dasimu, kau harus bertanggung jawab"
"aku belum melakukan apapun padamu, aku masih perjaka. lagian kau ini laki-laki"
"apa yang kalian bicarakan?" tanya Haruki bingung dengan pembicaraan ambigu.
"urusai!" Naruto dan Kiyotaka membentak Haruki.
Kanji menepuk punggung Haruki, bersimpatik pada pemuda itu.
"kau, kau, kau..." Kiyotaka tak sanggup mengeluarkan kata-katanya.
"kau kenapa sih, kayak kaset rusak gini. lagi lapar?"
"bukan itu bodoh, kau, kau... kau melamar Ichinose"
Naruto menaikkan sebelah alisnya bingung.
"memangnya kenapa sih, kau cemburu? maaf, tapi aku masih normal" Naruto menjauh beberapa senti dari Kiyotaka.
Kiyotaka mengeplak kepala Naruto dengan penuh kasih sayang.
"bukan itu bego, kau tidak tau Ichinose?"
"tau kok. Ichinose Honami kan?"
"aho, aho, aho"
melihat keduanya berdebat entah kenapa yang kesal malah Kanji dan Haruki.
"aku seperti melihat perdebatan antara suami-istri" bisik Kanji.
"aku setuju" balas Haruki.
meskipun begitu, keduanya tak ingin melerai perdebatan mereka. cukup tau diri untuk tak menganggu, takut yang kena imbasnya mereka.
"kau kenapa sih, kayak orang pms"
"ini karena kau bego"
"jelasin dulu pelan-pelan kenapa sih"
Kiyotaka tidak tahan, selain gila, otak Naruto tenyata mengalami proses loading yang amat panjang.
"bicara denganmu entah kenapa membuatku kesal"
"yaudah jangan bicara"
"bukan gitu, Ichinose itu adalah salah satu gadis populer itu bego!" Kiyotaka berhasil menyampaikan apa yang dia ingin sampaikan pada Naruto. setelahnya dia mengambil nafas dalam-dalam.
"ah, iya? hmm, baguslah" Naruto manggut-manggut tak jelas. sebelum matanya melebar karena terkejut. "apa?! aku melamar gadis populer?" teriak Naruto heboh. hampir semuanya menutup telinga agar tidak tuli mendadak.
kini giliran Naruto menguncang tubuh Kiyotaka yang memutar matanya malas.
"kagetnya telat"
"hahaha, dengan begini tidak lama lagi aku akan menguasai sekolah ini. HA HA HA" bukannya merasa bersalah, Naruto merasa semakin merasa semangat.
"oi, oi, bagaimana dengan Horikita?" tanya Kiyotaka.
"tenang saja, aku akan membangun harem" jawab Naruto santai dan penuh percaya diri.
"dia sudah tidak tertolong" batin semua orang yang melihatnya, tak lupa berkeringat jatuh melihat interaksi Naruto dan Kiyotaka.
a/n : cerita ini bebas dari genre ec*hi dan sejenisnya.
kalau masalah romance, saya tidak terlalu jago. makanya saya jarang mengambil genre ini.
dan classroom of the elite itu anime.
