Disclaimer :
Naruto belong's Masashi Kishimoto
Yōkoso Jitsuryoku Shijō Shugi no Kyōshitse e (Classroom of The Elite) belong's Shōgo Kinugasa and illustrated by Shunsaku Tomose
typo(s) everywhere, ooc, bahasa gaul, and etc.
gosip tentang Naruto yang melamar gadis bernama Ichinose Honami terus menyebar begitu luas hingga penjuru sekolah. tak tanggung-tanggung gosip itu masih panas hingga tiga hari lamanya. entah siapa yang menyebar, tapi gosip itu terus terdengar dari bibir ke bibir, telinga ke telinga. salah satu faktor bertahannya gosip karena posisi Honami di sekolah.
meski terlibat dalam gosip panas, tak sedikit pun Naruto memusingkan hal itu, justru dia tenang-tenang saja seolah-olah itu adalah hal biasa. malah dia semakin gencar mendekati Honami dan Suzune. haaaaa, benar-benar playboy, putra Namikaze ini.
"Naruto?"
"hn"
Kiyotaka menghela nafas panjang, dia berharap masih di berikan kesabaran yang cukup banyak agar bisa menghadapi tingkah Naruto yang bisa membuatnya menjadi gila muda.
"kau kenapa sih? kayak orang stress?" tanya Naruto ketika mendengar Kiyotaka seperti putus asa.
"ini juga karena kau bego" Kiyotaka menepuk kepala Naruto dengan keras. membuat sang empu mengaduh keskitan.
"kau kenapa sih akhir-akhir ini suka main kekerasan, aku lapor ke perlindungan anak, tau rasa kau" Naruto mencibir tindakan Kiyotaka, tangannya mengelus kepalanya yang masih sakit meski tak ada niat membalas perlakuan Kiyotaka.
"laporin ke presiden sana sekalian"
"aku telpon ayahku nih sekarang buat bikin laporan"
"serah"
"idih kenapa sih, beb?"
DUAGH!
saat itu juga Kiyotaka menendang perut Naruto dengan keras karena memanggilnya dengan sebutan menjijikan 'antar lelaki'. dia tidak ingin orang lain salah paham, karena ucapan Naruto.
"aduduh~ Kiyo-teme, sakit bego"
"diam, bodoh"
"kalian berdua bisakah untuk tidak berisik" seorang pustakawan menegur sikap Naruto dan Kiyotaka yang sedikit bising.
"sumimasen"
saat ini keduanya berada di salah satu perpustakaan sekolah. mereka lebih memilih menghabiskan makan siang disini, lebih tepatnya Kiyotaka yang menyeret Naruto agar bisa leluasa mengintrogasi pemuda yang otaknya sudah sedikit miring.
"Naruto, kau tidak risih yah?" Kiyotaka tak mau buang-buang waktu lagi, jika dia mengajak Naruto berbasa-basi, maka sampai lulus sekolah pembicaraan ini tak akan pernah habis.
"risih kenapa?" tanya Naruto bingung, dia tak jadi membaca buku, dia mengeluarkan satu permen lolipop di sakunya dan memakannya. dia mengambil posisi bersandar dan duduk santai. tanganya dia silangkan di belakang kepala.
"masalah kau dengan Ichinose"
"kenapa memangnya, aku biasa aja tuh"
"kau tidak takut, apa?"
"takut kenapa? kau kalau ngomong tuh to the point, bisa gak sih?"
"yah, karena orang lemot kayak kau gak bakal paham jika tak di kasih paham"
"kau mau berkelahi?"
Kiyotaka tak menanggapi, dia mengalihkan pandangannya dari bukunya dan menyilangkan tangannya di depan dada.
"kau tau, Ichinose gadis populerkan? kau harusnya tau jika popularitas Ichinose juga berpengaruh ada orang-orang dengan kata lain orang populer pasti memiliki penggemar" Kiyotaka mulai menjelaskan maksud dan tujuannya.
"hmm terus?"
"kau tidak takut jika mereka mulai meneror mu atau semacamnya?"
"ha ha ha"
bukannya takut, Naruto malah tertawa. Kiyotaka mendengus kesal, sepertinya otak Naruto sudah konslet sejak lahir.
"kau kenapa ketawa bodoh, aku serius"
"kenapa kau baru mengingatkanku sekarang. aku sudah mendapatkannya"
"hah?"
Naruto memperbaiki posisi duduknya dan mengambil sesuatu, dia menyerahkan amplop yang sudah lusuh sebanyak 15 buah pada Kiyotaka.
"hari pertama aku mendapat 3, hari kedua aku mendapat 5, dan hari ini aku mendapat 7" ungkap Naruto senang.
Kiyotaka tak habis pikir, dia sudah menebak Naruto itu gila tapi dia malah terlihat senang mendapat terror dari fans-nya si Ichinose. Kiyotaka mau heran tapi ini Naruto, tidak jadi deh.
"apa isinya?" Kiyotaka tak ingin repot-repot membaca semuanya, tapi intinya sama.
"katanya suruh jauhin Honami. wadidaw- kalau mau, ngomong langsung dong, jangan lewat ginian. padahal aku lagi haus keributan" jelas Naruto kesal, berpikir bahwa yang menerornya tak punya sikap jantan sama sekali, berani lewat mulut, nyali mah ciut. pikirnya.
"kenapa kau tidak menemuinya saja?"
"buat apaan, idih penting amat" Naruto memasang wajah malasnya. Kiyotaka tak habis pikir, ini sebenarnya Naruto manusia atau bukan sih. katanya mau cari ribut, giliran di suruh, malah gak mau.
"serah kau lah, capek aku"
pada akhirnya, lagi-lagi Kiyotaka yang mengalah. karena dia tidak akan mampu mengimbangi pikiran Naruto yang tak bisa kembali normal.
-o0o-
seperti yang Kiyotaka bilang, bahwa ada beberapa pihak yang merasa tak senang dengan kabar yang beredar tenang Ichinose Honami dan murid baru itu.
salah satunya adalah ketua osis yang magang di SMA Kōdo Ikusei, Nagumo Miyabi.
Nagumo Miyabi adalah salah satu dari banyaknya murid laki-laki Kōdo Ikusei yang memiliki harapan bahwa salah satu gadis populer, Ichinose Honami itu menjadi miliknya. dia sering memperhatikan gadis pujaan nafs– hatinya maksudnya diam-diam tanpa siapapun yang menyadari. terkadang dia menyusun sebuah rencana licik yang luar biasa susahnya, agar bisa berbicara dengan gadis Ichinose itu.
tapi tiga hari yang lalu, dengan seenak udelnya, si murid pindahan itu bisa berbicara dengan Ichinose dengan leluasa. Nagumo saja bisa berbicara dengan Ichinose lewat jabatannya.
"kuso, anak baru itu berani sekali mengambil milikku" Nagumo memukul mejanya dengan kasar.
jika bukan karena jabatannya sebagai ketua osis, mungkin secara random menemui Naruto dan mengibarkan bendera perang karena berani mendekati milik– uhum! calon miliknya maksudnya.
tapi dia tidak boleh bertindak gegabah, karena jika dia nekat dia bisa menimbulkan citra buruk di hadapan murid SMA Kōdo Ikusei.
Nagumo berpikir agar bisa memberitahu Naruto agar tidak sembrono jika berurusan dengannya. dia melangkah ke jendela yang tertutup, dia mengintip agar bisa melihat keluar. namun, sayangnya saat itu juga Nagumo benar-benar menyesal membuka tirai jendelanya.
matanya langsung melihat Naruto berdua berdua bersama Ichinose. ulangi lagi bersama, garis bawahi, bersama ICHINOSE. makan berdua di salah satu taman sekolah.
dengan cepat Nagumo menutup tirai jendelanya, agar kokoro-nya tidak semakin sakit. dengan acak dia menendang kursi osisnya dan bibirnya sudah mengeluarkan nama-nama binatang yang di tujukan pada putra Namikaze.
"awas kau bocah tengil, aku akan menghajarmu"
rasanya hati Nagumo di penuhi lava panas. tak peduli, pokoknya dia harus membuat Naruto menemuinya, harus!
-o0o-
"uhuk! uhuk! uhuk!"
"Naruto-kun, kau tidak apa-apa?" Honami dengan cepat memberikan sebotol air mineral ketika melihat laki-laki itu tersedak.
"thank you, baby " Naruto mengambil pemberian Honami dengan cepat dan meneguknya tanpa mempedulikan wajah Honami yang memerah karena panggilan kasih sayang Naruto. aww.
"hmm?"
"Naruto-kun, jangan menyebutkan sesuatu yang semakin membuat orang salah paham" Honami berusaha bertindak tegas di hadapan Naruto, meski yang Naruto dengar gadis itu tampak malu-malu.
Honami sebenarnya heran sama dirinya sendiri. dia populer, selain karena nilainya, wajahnya ikut mengimbangi–dengan kata lain, cantik. banyak orang yang mengatakannya cantik natural, dia terbiasa dengan pujian, bahkan dia sering mendengar gombalan dari beberapa fansnya. tapi dia tidak pernah merasa malu-malu dan salah tingkah seperti Naruto merayunya. padahal isinya sama, tapi kok rasanya beda?
bahkan Honami sangat yakin, perasaan itu seharusnya sama seperti teman-temannya memujinya, biasa dan bahkan terlihat merendah karena dia tidak terlalu suka pujian, kadang-kadang membantahnya. tapi saat bersama Naruto, jangankan membatah, berbicara untuk mengelak saja rasanya sangat susah. pipinya dengan cepat terasa panas dan memerah.
wah, benar-benar kuat gombalan, pakboy satu ini.
"Honami, oi, Honami" Naruto melambaikan tangannya di hadapan Honami yang tampak melamun dengan pipi memerah.
"kamu kenapa?"
"ah-ah ti-tidak ada Naruto-kun"
see, bahkan Honami juga gagap.
but Naruto tak percaya, dia mendekatkan wajahnya pada Honami yang kini menjadi lebih merah karena wajah mereka berdekatan.
"Na-Naruto-kun?" pekik Honami terkejut, dia ingin memisahkan diri dari Naruto, namun sayangnya pemuda itu lebih dulu menahan kedua lengannya agar Honami tak menghindar.
"ehm, aku khawatir kamu demam" Naruto menyingkap poni Honami dan meletakkan telapak tangannya di kening gadis itu. "hmm, tidak panas tapi kenapa wajahmu memerah?" Naruto bingung sendiri.
aduh, meski terlihat playboy, tetap dia laki-laki yang memiliki tingkat kepekaan yang tidak bisa di selamatkan lagi.
kepala Honami mengeluarkan asap karena rasa panas yang menjalar di seluruh wajahnya. tak pernah sekalipun dia mendapat perlakuan dari seorang laki-laki seperti Naruto memperlakukannya.
"Honami?"
TUING!
tubuh Honami mendadak lemas karena tak siap menahan serangan mendadak dari Naruto.
"Honami ada apa?!"
"Honami? baby? wake up!"
apa yang kau lakukan Naruto?
URUSAI!
-o0o-
Kiyotaka memijat keningnya yang terasa pening, baru saja seseorang dari budak os– uhuk! utusan osis mengatakan bahwa Naruto harus menghadap kepada ketua osis.
Kiyotaka tak habis pikir, belum juga cukup seminggu Naruto menginjakkan kaki di sekolah ini tapi dia sudah membawa beberapa masalah. Kiyotaka mau heran, tapi ini Naruto, tidak jadi deh.
"yoo, Kiyo, what's up bro?" dari pintu masuk kelas, Naruto memanggil Kiyotaka dengan suara sedikit keras hingga mendapat sebagian perhatian kelas.
"aku tidak tau kenapa aku bisa berteman dengannya" gumam Kiyotaka
jujur saja, di dalam hati Kiyotaka yang terdalam dia sangat amat menyesal telah menyapa Naruto ketika pertama kali dia menginjakkan kaki di sekolah ini.
"apa?" Kiyotaka bertanya dengan sedikit malas ketika Naruto sudah menghampirinya.
Naruto melirik seseorang yang ada di samping Kiyotaka, Suzune yang sedang sibuk membaca buku.
"jangan mengajakku berbicara" titah Suzune tanpa perlu repot-repot menatap Naruto.
Naruto mengerling nakal pada Kiyotaka yang temannya itu sudah sangat paham dengan isi kepala Naruto.
"Suzune, ikut aku" tanpa peduli respon Suzune. Naruto menarik paksa gadis itu hingga keluar kelas. bah, laki-laki itu bahkan tak peduli dengan tatapan dari teman-teman sekelasnya.
Kiyotaka menghela nafas malas, "diapain lagi tuh anak orang" gumamnya terdengar ambigu.
.
.
.
"Namikaze-kun, apa kau tau, aku sangat tidak suka di paksa seperti ini" Suzune menyentak kasar tangan Naruto. karena laki-laki itu seenak jidatnya menarik tangannya.
"aww, jangan kasar begitu dong, Suzune-chan, aku jadi takut" Naruto memasang wajah di buat-buat, dia memeluk tubuhnya sendiri.
alis kanan Suzune berkedut kesal, selama Naruto bersekolah disini, dia dibuat pusing dengan tingkahnya yang selalu mendekatinya, menganggunya, merayunya dan menjahilinya kadang-kadang.
jika tidak menahan diri, Suzune dengan percaya diri bisa mengatakan dia akan menghilangkan Naruto dari peredaran.
"jangan membuatku kesal, Namikaze-kun, jika kau tidak punya urusan denganku, aku sedang sibuk" Suzune hendak berbalik meninggalkan Naruto.
tapi dengan cepat Naruto menahan pergerakan Suzune dengan memojokkannya di dinding. Suzune terkejut.
"mau kemana, Suzune? aku belum selesai"
suara Naruto memberat, itu terdengar gentle di telinga perempuan. jika ada orang yang melihat, mereka mengira Naruto sedang selingkuh di belakang Honami.
"apa yang kau lakukan?" tanya Suzune tajam meski dia gemetar karena untuk pertama kalinya seseorang membuat seperti ini.
Naruto tak menjawab, dia mendekatkan wajahnya pada Suzune.
5 cm...
4 cm...
3 cm...
2 cm...
seharusnya Suzune melakukan sesuatu agar Naruto tidak bertindak jauh melakukan pelecehan padanya. pikirnya.
hanya saja, melihat wajah Naruto mendekat seperti ini membuat saraf-saraf di otak Suzune melemah, pikiran sehatnya berhenti bekerja, yang dia lakukan hanya memejamkan mata.
sedikit lagi...
sedikit la–
wajah Naruto sedikit miring hingga menuju telinga Suzune.
"aku membutuhkan bantuanmu, Suzune"
Suzune bisa mendengar suara serak-serak basah khas remaja puber begitu dekat dengan telinganya. tubuhnya merindih hebat.
setelah itu Naruto menjauhkan tubuhnya dan tersenyum miring, sebelah tangannya masih menyangga tubuhnya di dinding.
saat itu juga Suzune sadar.
PLAK!
"adidaw- kenapa kau menamparku?" Naruto memegang pipinya yang terasa panas bekas tamparan Suzune. dia sedikit memberi jarak pada gadis itu.
Suzune 'terlihat' marah.
"ba-baka!"
tanpa mengatakan apapun, Suzune berjalan lebih dulu meninggalkan Naruto yang masih sibuk mengelus pipinya.
"itu cewek kenapa sih?" gumam Naruto sedikit kesal.
tanpa Naruto sadari, telinga Suzune memerah karena perlakuan Naruto tadi. dia berjalan lebih dulu, agar Naruto tak mendengar suara deguban jantungnya yang berdetak keras dan tak karuan. nanti cowok bebal, gila dan tak tau malu itu menggodanya. Suzune tak mau, apalagi Naruto sampai kepedean dan mengira sesuatu yang tidak-tidak.
.
.
.
"Namikaze-kun, bukunya ada di hadapanmu, bukan di wajahku. jadi berhenti menatapku" Suzune risih sedari tadi Naruto menatapnya tanpa henti apalagi sambil tersenyum mesum seperti itu.
"aku lebih menyukai menatapmu dari pada buku-buku itu" Naruto menatap intens kepada Suzune secara menyeluruh.
Suzune meletakkan buku diatas meja dan memeluk dirinya dan sedikit menjauhkan dari pandangan Naruto.
"aku tidak mengira kau semesum itu Namikaze-kun, ini pelecehan, aku bisa melaporkanmu" sepertinya putri Horikita salah paham dengan gelagat Naruto.
sayangnya, otak Naruto tak langsung menangkap maksud Suzune.
"aku baru tau menatap wajah seorang gadis di sebut pelecehan, aku dapat pasal berapa?" Naruto terlihat panik, bisa gawat kalau dia berurusan dengan hukum. lebih tepatnya sih, ada makhluk berbahaya yang siap menghukumnya dirumah, berjenis kelamin wanita. siapa lagi kalau bukan si nyonya Uzumaki, ibunya sendiri, Kushina.
Suzune menghela nafas pelan, "aku tidak tau kau kalau kinerja otakmu tidak bekerja dengan baik"
"kau meledekku yah?"
"kau tersinggung?"
"memangnya ada orang lain disini?"
"berarti benar itu kau"
"apasih yang nggak buat kau Suzune"
"jangan mengatakan hal menjijikan seperti Namikaze-kun. berhenti mengatakan hal romantis jika seseorang sedang bersamamu" Suzune berkata dengan tajam. dia tidak tuli mendengar gosip yang sedang beredar di seluruh sekolah.
'Bahwa murid pindahan dari luar negeri, melamar seorang gadis populer di SMA Kōdo Ikuse'
"aku mendengar suara orang yang sedang cemburu" Naruto berkata dengan percaya diri.
"aku tidak tau apa yang kau maksud Namikaze-kun, tapi jangan percaya diri. aku tidak memiliki perasaan yang membuatku akan kalah" Suzune berhenti menanggapi Naruto. dia kembali membaca bukunya.
wajah Naruto tersenyum nakal, "ouh, kau meremehkanku yah?"
Suzune menatap Naruto, "apa maksudmu?"
Naruto tersenyum miring dan menopang dagunya diatas meja. dia menatap Suzune dengan penuh perhitungan. "akan ada seseorang yang akan jatuh cinta padaku"
Suzune memejamkan matanya, lalu membuka matanya dan langsung memberikan tatapan tajam pada Naruto.
"jangan terlalu percaya diri Namikaze-kun, aku tidak berniat jatuh cinta pada siapapun"
"aku tidak bilang itu kau" Naruto menunjukkan senyum kemenangan ketika melihat Suzune hanya terdiam membisu, tak mampu menyanggah ucapan Naruto.
Suzune berdiri dari tempat duduknya.
"kita akhiri saja sesi belajar hari ini" Suzune tak akan mampu bertahan lebih lama lagi bersama Namikaze Naruto.
jika bukan karena paksaan dari Naruto. Suzune suda jauh-jauh dari cowok bebal itu. Suzune hanya takut, Naruto terus mencecokinya dan menempel padanya sepanjang hari jika dia tidak menurutinya.
"oi, Suzune aku membuka harem, pastikan kau mendaftar yah" teriak Naruto sebelum Suzune hilang dari balik pintu.
"gila" gumam Suzune yang sepertinya cukup lelah mental menanggapi Naruto.
-o0o-
Nagumo menunggu dengan gelisah kedatangan Naruto. dia sudah menyuruh anggotanya agar memanggil anak baru itu.
suara ketukan pintu menyadarkan Nagumo dari kegelisahannya.
"masuk"
"permisi kaichō, saya membawa Namikaze-kun" sekretarisnya masuk kedalam ruangan ketua osis, mata Nagumo berhenti di belakang sekretarisnya. itu dia yang di cari, Namikaze Naruto, si anak tengil itu.
"silahkan meninggalkan ruangan ini, saya ingin berbicara dengan Namikaze Naruto" Nagumo berkata dengan tegas, mengeluarkan wibawanya.
sekretaris itu keluar mengikuti perintah dari atasannya. meninggalkan Nagumo dan Naruto.
Naruto tanpa perlu menungguh perintah, dia duduk di sofa yang ada disana dan menaruh kaki kirinya diatas lutut kananya, tangannya terlentang diatas sandaran sofa. yah, gaya bossy lah.
"yoo, what's up bro?" Naruto menyapa dengan santai, seolah-olah Nagumo adalah teman lama.
alis Nagumo berkedut kesal, tapi dia masih menahan diri. tatapan tajamnya terus menerus menuju kepada Naruto, serta aura yang sangat gelap terasa pengap diruangan osis, agar Naruto peka bahwa Nagumo sedang mengirimkan sinyal amarah pada pemuda tengil di hadapannya.
namun, sayang seribu sayang, Nagumo tidak tau, bahwa Naruto adalah jenis spesies manusia yang selain gila, dia juga tidak pintar membaca suasana.
"Namikaze Naruto, kan?" Nagumo bertanya dengan tajam.
"oh, bukan, saya adeknya" Naruto membalas dengan santai. alis Nagumo semakin berkedut kesal.
"saya serius, tolong anda jangan main-main disini" Nagumo mencoba mengintimidasi Naruto.
"kaichō yang datang kan, saya. berarti bener itu saya, gimana sih. kau sebenarnya cocok gak sih, jadi ketua osis, mengundurkan diri sana"
Nagumo tidak tau, Naruto itu peng-roasting handal yang terlatih memberikan kesabaran lebih pada lawan bicaranya. yah, tergantung tepramentalnya, sih.
"anda tau kenapa saya memanggilmu kesini, Namikaze Naruto?" Nagumo mengabaikan perkataan Naruto yang terakhir. sepertinya Namikaze muda ini ingin sekali mempermainkan emosinya.
"kalau saya tau, gak mungkin juga saya mampir kesini"
Nagumo harus menahan diri dalam agar tidak menendang kepala Naruto.
ohoo, masih belum tuh, Kiyotaka aja hampir setiap hari menangis frustasi menanggapi tingkah ajaib Naruto.
"saya sedang serius Namikaze Naruto"
"saya lebih serius"
"oke cukup, apakah anda mendengar soal berita yang menyebar di seluruh sekolah. anda dan Ichinose Honami terlihat disini. saya yakin, anda pasti sudah mengenal Ichinose Honami kan. mengingat reputasinya di sekolah ini, saya ingin bekerja sama dengan anda, Namikaze Naruto" Nagumo memberikan penjelasan ringkas sebelum masuk kedalam pembicaraan inti mereka.
Naruto memperbaiki posisi duduknya, kakinya dia turunkan ke lantai, tangannya menyilang di depan dada.
"hmm, teruskan"
"sebagai ketua osis yang ingin menjaga nama baik sekolah ini, saya ingin menyingkirkan segala hal yang bisa merusak reputasi sekolah, salah satu berita yang masih menyebar di sekolah ini. anda tau kan, Ichinose Honami juga termasuk membawa nama baik sekolah, jadi untuk saya ingin anda meredakan berita ini"
"caranya"
Nagumo tersenyum kecil, rupanya Naruto bisa di ajak kerja sama, jadi dia tidak perlu bersusah payah bernegosiasi dengan Naruto.
"menjauh dari gadis Ichinose Honami dan mengatakan berita itu tidak benar"
Nagumo dengan percaya dirinya mengatakan itu pada Naruto, pasti anak tengil dihadapannya ini mengerti–
"tidak"
"permisi?"
Nagomo pasti salah dengar.
"I said 'no'" Naruto menolak dengan santai.
enak saja suruh jauh-jauhin Honami, emang dia siapa? ayah, bukan. saudara, bukan. keluarga juga bukan. temen, apa lagi.
Nagumo merasa marah. perkiraannya meleset.
"Namikaze Naruto, jangan bermain-main dengan saya" gertak Nagumo marah. dia memukul meja dengan kasar.
"kau tau, aku adalah ketua osis disini. jadi aku berharap kau mulai mengikuti peraturan disini" Nagumo mulai meninggalkan pembicaraan formal.
"siapa?"
"aku"
"yang nanya"
imajiner muncul di kepala Nagumo yang merasa sangat marah terhadap Namikaze Naruto.
"Namikaze Naruto!" Nagumo sudah tidak bisa menahan rasa amarah yang membara di hatinya.
Naruto berdiri, "emangnya kau siapa? saudara Honami? atau keluarganya mungkin? temennya? bapaknya? babunya? bukan, kan? lah, kok situ yang ngatur"
Naruto merasa jengah dengan pembicaraan tak bermutu macam ini. seenaknya saja Nagumo ingin mengatur hidupnya dekat dengan siapa. dia ajak gak punya kontribusi lebih dalam hidupnya. biayain kebutuhannya aja, enggak.
mentang-mentang jabatannya ketua osis, tetap aja gak boleh ngatur hidup orang, iya, kan?
"aku merasa pembicaraan ini sudah selesai, aku lapar. bye" Naruto tak perlu repot-repot berlama-lama di ruang osis, toh dia juga gak di jamu makanan enak. berbicara dengan Nagumo membuatnya merasa lapar.
"jadi kau menantangku yah, Namikaze Naruto?"
Naruto yang hendak membuka pintu, melirik sejenak kearah Nagumo yang menundukkan pandangannya. rambutnya menutupi ekspresi wajahnya.
Naruto memutar matanya malas, selain suka ngatur hidup orang. bicaranya juga suka ngawur.
"ini orang lagi kesurupan, yah. gilanya udah over" batin Naruto
dih, gak ngaca dia.
"terserah kau, lah"
Naruto keluar dari ruangan osis, dia semakin lapar menanggapi Nagumo yang kini sendirian di ruang osis.
Nagumo mengepalkan tangannya erat. sedetik kemudian, seringaian licik terukir di bibirnya. rupanya, Naruto ingin bermain-main dengannya.
"dengan begini, aku menyatakan perang padamu Namikaze Naruto"
Nagumo mengangkat wajahnya, matanya bersinar, aura gelap menguar dari tubuhnya.
hmm, hanya ingin bilang, semoga berhasil Nagumo Miyabi.
-o0o-
Naruto menyeruput sisa susunya yang hampir habis, dia benar-benar lapar setelah berbicara dengan Nagumo.
mata Naruto berhenti pada sebuah tong sampah yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Naruto mengocok kotak susunya, merasa isinya sudah lenyap ke dalam perutnya.
Naruto mengambil ancang-ancang untuk membuang kotak susunya kedalam tong sampah, dia mulai hitung mundur. tu, wa, ga...
SET!
TUING!
namun, sayangnya lemparannya tidak masuk kedalam tong sampah. malah mampir di kepala seorang gadis kecil yang mengenakan baret hitam di kepalanya dengan pita abu-abu yang terhubung, berambut ungu dan berjalan menggunakan sebuah tongkat.
sontak saja beberapa orang yang berjalan bersama gadis itu terdiam terkejut karena kejadian kotak susu nyasar di kepalanya.
"upssss..."
Naruto segera menghampiri gadis itu dan memungut kotak susu yang sudah jatuh ke lantai.
"ah, I am so sorry" katanya, sebelum hendak beranjak pergi setelah memasukkan kotak susu itu ke tong sampah dengan benar.
"oi, teme! berhenti!" seseorang dari mereka meneriaki Naruto.
Naruto berbalik melihat tiga orang bersama gadis itu memolotinya seolah-olah matanya akan keluar.
"aku?" Naruto menunjuk dirinya sendiri.
laki-laki berambut pirang dikuncir menatap Naruto nyalang.
"siapa lagi kalau bukan, kau hah?" laki-laki itu berkata dengan marah.
Naruto meletakkan tangannya di depan dada.
"ngomongnya gak usah pake urat gitu, santai-santai" Naruto berusaha mengajaknya agar tidak menggunakan kekerasan.
"temee–"
"Hashimoto, cukup..." gadis korban kotak susu Naruto menahan laki-laki bernama Hashimoto itu berbicara. dia menatap laki-laki itu dengan senyuman kecil.
"baik"
"apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu?" gadis itu bertanya dengan nada terdengar ramah.
"hmm?" Naruto menggaruk pipinya yang tak gatal, dia melirik Hashimoto. "oi, pirang, siapa gadis ini?" tanyanya.
Hashimoto kembali melayangkan tatapan nyalang pada Naruto.
"teme, kau tidak tau yah, dia ini Sakayanagi Arisu, gadis populer nomor satu di sekolah Kōdo Ikusei. dan kau juga pirang, kusoyaro" Hashimoto berteriak, membuat kedua temannya yang bersamanya menutup kedua telinganya. gadis kecil itu hanya bisa mempertahankan senyumnya.
"ahh, lalu?"
"temee–"
"Hashimoto, cukup..." Arisu menahan Hashimoto yang ingin lepas kendali. dia masih mempertahankan senyumnya.
"baik"
Naruto merasa déjà vu dengan kejadian ini.
"by the way, kenapa aku di tahan disini sih?"
Hashimoto tampak ingin murka lagi. tapi Arisu dengan cepat memotongnya.
"kau melempar kotak susu di kepalaku, kau tidak ingin minta maaf"
Naruto menghela nafas pelan. dia berkacak pinggang.
"aku tidak tau kalian ini tuli atau gimana sih, aku aku bilang 'I am so sorry', atau gak ngerti bahasa inggris. oke, 'maafkan aku'"
Arisu masih mempertahankan senyumnya.
"menarik, siapa namamu?"
"Namikaze Naruto"
Arisu sedikit menaikkan bibirnya keatas, dia bertemu dengan seseorang yang menarik perhatiannya akhir-akhir ini.
"wah, aku tidak menyangka bertemu denganmu. salam kenal, Namikaze-kun" Arisu memberikan senyuman 'ramah-nya'
"hemm, salam kenal chibi" Naruto memanggil Arisu seeanaknya.
menahan sedikit kekesalan di dalam hatinya, Arisu mempertahankan senyumannya. tapi Hashimoto yang tampak kesal.
"temee–"
"Hashimoto, cukup..."
"baik"
Naruto mulai merasa jengah.
"aku benar-benar tertarik padamu, Namikaze-kun"
Naruto mengangkat kedua bahunya. "tapi kamu bukan tipeku" Naruto mengamati Arisu dari bawah keatas. dia menaruh tangannya di bawah dagunya. "hmm, datar"
dan saat itulah senyuman Arisu menghilang.
"Namikaze-kun, aku sangat ingin menghancurkanmu"
mumpung lagi ada ide.
terima kasih sudah mampir dan meninggalkam jejak.
sebelumnya, saya ingin menjawab pertanyaan dari FF. Agus-kun.
jadi sebenarnya, Ayanokouji itu awal manga/ln nya itu tidak seperti di animenya. dia tidak melulu menunjukkan poker facenya.
dan alasan para gadis itu populer, saya akan mengungkapkannya setelah 2 gadis populer lainnya di ketahui. (maybe chap selanjutnya). intinya, saya mungkin ambil beberapa cerita dan ln-nya, tapi tidak semua, cuman personality para character kok dan para murid yang saling berkompetensi. selebihnya, rahasia.
tapi saya belum memutusakan untuk memasukkan white room atau tidak. masih 50%-50%.
karena saya membiarkan karakter agak ooc disini. apalagi kalau berinteraksi dengan Naruto.
oh iya, gadis muka dua itu namanya Kushida Kikyo.
oke, sekian. terima kasih. tinggalkan jejak yah.
