Nozomi meneguk ludahnya, dia menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Dia benar-benar mengajak Naruto untuk pergi ke rumah orang tuanya. Ada perasaan gugup yang dirasakan Nozomi saat ini, dia pergi dari rumah sudah beberapa tahun, lalu kembali dengan membawa seorang lelaki yang menjadi suaminya.
Mana suaminya masih muda lagi, Nozomi menghela napas, dia pasrah jika kedua orang tuanya akan memarahinya atau membuatnya terusir dari rumah tersebut.
"Yakin saja, tak usah khawatir dengan mereka berdua."
Keduanya saat ini berada di kediaman Tojo, tempat dimana kedua orang tua Nozomi tinggal. Naruto menatap wanita yang bersembunyi dibelakang punggungnya, dia tersenyum kecil saat melihat raut wajah takut dari Nozomi saat ingin masuk ke dalam rumah tersebut. "Ta-tapi aku agak takut!"
"Tenang saja, sudah kubilang kan? Tak usah khawatir, mereka pasti akan mengerti jalan pikiran neesan."
"Uhhh..."
Keduanya pun berjalan masuk ke pagar rumah tersebut, Naruto yang berada di depan pun memencet tombol bel. Dia hanya memencet sekali, menunggu untuk dibukakan pintu rumah tersebut. Sesekali, Naruto melirik Nozomi yang masih takut bertemu dengan orang tuanya, dia mengelus kepala ungu Nozomi untuk membuatnya nyaman.
Pintu pun terbuka, menampilkan sosok wanita berambut ungu sama persis seperti rambut Nozomi. Wanita itu terlihat masih cantik dengan dandanan tipis seolah dia adalah wanita dengan umur yang masih di antara dua puluhan. Wanita itu menatap Nozomi yang sedang bersembunyi dibelakang punggung Naruto, dia tersenyum kecil melihatnya.
"Um, selamat siang, maafkan aku yang mengganggu... umm..."
"Kasumi, Kasumi Toujo, Ibu dari Nozomi-chan..."
Naruto sedikit terkejut, logat kansai dari ibu Nozomi sangat kental, sama seperti anaknya. "Namikaze Naruto, aku adalah suami dari Nozomi."
"Ara..."
...
..
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Love Live by Kimino Sakurako
.
..
...
Nozomi menundukkan kepalanya, wajahnya juga terlihat sangat merah saat ini. Dia benar-benar malu karena sang Ibu malah bertanya hal yang aneh-aneh pada Naruto. "Ma-maafkan kelakuan Ibuku Narucchi, beliau memang begitu orangnya."
"Tak apa, memang sewajarnya seorang ibu bertanya seperti itu." Naruto menyesap teh yang ada di meja ruang tamu. Dia melihat Kasumi Toujo yang sedang mengambil beberapa camilan untuknya dan Nozomi. "Terlebih, dia adalah wanita yang baik, aku bertaruh jika Ayahmu akan lebih—"
"Aku pulang!"
Deg!
Wajah Nozomi langsung pucat saat itu juga, saat ada suara yang dia kenali masuk ke dalam rumah keluarga Toujo. Kasumi yang mendengarnya pun segera pergi ke asal suara serta menyambut sang suami yang baru saja datang dari tempat kerjanya.
"Anata, lihat siapa yang datang?"
Sang suami langsung berlari ke ruang tamu, dia melihat sosok gadis yang sudah dia rindukan selama ini. "No—Siapa kau!?" kedua matanya melihat sosok Naruto yang duduk di samping putrinya. Naruto yang melihat itu hanya tersenyum kaku, dia menatap sosok pria yang sedang berdiri dengan wajah sangarnya.
Nozomi pernah bilang jika hubungannya dengan kedua orang tuanya itu buruk, namun dia melihat bahwa keluarga itu sangat hangat, bahkan sang ibu dari Nozomi menyambutnya dengan senang hati. "Namikaze Naruto, mungkin ini mengejutkan anda, tapi saya suami dari Nozomi." Naruto sedikit menundukkan kepalanya untuk memberikan sebuah salam pada Ayah dari Nozomi.
Sang ayah dari Nozomi berjalan mendekati pasangan tersebut, dia menatap tajam pemuda pirang itu. "Aku tak mengerti, Nozomi-chan pulang-pulang malah bawa suami. Kenapa kau tak membawa oleh-oleh atau hal lain?" suara dari pria itu membuat Nozomi memeluk Naruto, karena dia agak takut dengan ayahnya yang protektif itu.
Perlu diketahui, Nozomi adalah satu-satunya putri dari keluarga Toujo, dia sangat disayang oleh ayah serta ibunya, ada beberapa alasan mengapa Nozomi pergi dari rumah keluarganya. "A-aku membawa oleh-oleh, i-ibu meletakkannya di atas meja."
"Oh, baiklah." Pria itu kemudian berjalan ke sofa, dia duduk di kursi sofa tunggal yang berada di samping sofa panjang yang diduduki Nozomi dan Naruto. "Jadi bocah, kau dengan beraninya menikahi putriku."
Naruto menggaruk pipinya yang tak gatal itu, dia tersenyum kaku saat di introgasi oleh Ayah mertuanya. "U-um, ya begitulah. Ma-maafkan aku jika telah lancang menikahi putrimu."
"Tak apa, mungkin aku harus memberikan kepercayaan untukmu agar bisa menjaga putriku dengan baik. Aku berharap banyak padamu, nak."
Naruto tahu, ini adalah restu dari seorang ayah pada menantunya. Naruto juga bersyukur akan sikap dari seorang ayah yang dengan begitu mudahnya mempercayakan putri satu-satunya itu pada dirinya. "Tapi apa itu tidak masalah pa—um, A-ayah?" pria itu tersenyum tipis setelah Naruto mengajukan pertanyaannya.
Pria itu menatap Naruto dengan penuh keyakinan, dia telah memberikan sebuah keputusan dalam hidupnya untuk menyerahkan putri satu-satunya itu pada orang seperti Naruto. "Aku percaya padamu nak, terlebih kau terlihat seperti orang luar negeri." Naruto tertawa kikuk mendengarnya. "Untuk seterusnya, aku mohon untuk menjaganya—"
"Maaf menyela, tapi saya mau bertanya beberapa hal," ujar Naruto memotong perkataan dari ayah Nozomi.
"Silahkan."
Naruto melirik Nozomi yang berada di sampingnya. "Begini, apakah Nozomi dan kalian bertengkar?" lelaki yang menjadi ayah Nozomi mengerutkan dahinya. "A-aku tidak tahu apa yang terjadi, namun Nozomi bilang bahwa dia sepertinya bertengkar dengan kalian hingga dia keluar dari rumah ini."
"Tidak, itu tidak benar. Dia hanya tak ingin laki-laki pilihannya akan di tolak olehku, itu saja." Pria itu tertawa keras setelah menjawabnya. "Lagipula Nozomi-chan bercerita di saat dia menelpon kami, dia bercerita tentang kau nak, malah dia kelihatan panik sekali setelah kau lamar."
Rona merah mulai menutupi wajah cantik Nozomi, dia merasakan jika Naruto tengah menatapnya dengan senyuman jahilnya. "Jadi dia hanya malu saat ingin mengenalkan aku pada kalian?"
"Ya, gadis ini memang tak pernah berhubungan dengan pria manapun, terlebih dia ingin sekali langsung menikah daripada berpacaran yang hanya akan membuang waktunya."
Naruto pun melirik Nozomi untuk kedua kalinya, namun dia dikejutkan dengan tatapan tajam dari wanita itu pada ayah mertuanya, dia pun langsung melihat ayah mertuanya yang sedang minum teh hangatnya dengan tangannya yang bergetar, lirikannya langsung beralih ke ibu mertuanya yang berada di dapur.
Ibu mertuanya seolah berkata jika itu sudah biasa terjadi di dalam rumah ini. Naruto menghela napas dan tersenyum. "Bagaimana jika kita menginap di sini?"
Nozomi langsung menatap Naruto terkeju. "Me-menginap?!"
"Tentu, satu atau dua hari tak masalah. Terlebih aku juga sudah memberikan tugas pada yang lain, serta aku juga bisa mengaturnya dari sini jika mereka ada kesulitan."
"Bo-bolehkah Ayah?"
Ayah Nozomi mengangguk kecil mengiyakan permintaan Naruto dan Nozomi. "Kalian boleh menginap disini." Pasangan baru itu tersenyum saat Ayah Nozomi menyetujuinya. "Tapi kalian jangan membuat suara yang keras, kami ada di kamar sebelah."
Mereka berdua langsung menunduk dengan wajah merah merona.
...
..
.
