I Can be... like

.

Disclaimer Naruto Masashi Kishimoto

Genre : Romance, hurt/confort

Rate : T

Pair : Naruto x Sakura

Warning : typo,mainstream,ooc,newbie,dll.

Chapter 1

.

Happy reading

.

Perasaan dingin hinggap pada sela kulit jarinya seiring semakin deras cairan putih beraromakan vanilla mengalir jatuh dari ujung lelehan ice cream yang mengambil tahta diatas cone renyah.

Kerenyahannya hilang bersama lelehan ice cream vanilla yang membasahinya. Rasa dingin, itulah yang dia lihat.

Pria itu benci rasa vanilla, dia lebih suka coklat atau citrus sama seperti hidupnya terkadang manis meski terbalut kegelapan tetapi ada saatnya asam meskipun terlihat warna yang amat cerah.

Matanya menajam terus-menerus mengikuti arah lelehan air es yang perlahan jatuh ketanah.

"Memangnya siapa yang mengharapkan rasa vanilla ketika tidak ada seseorang yang menyukai ice cream vanilla, seharusnya kau tak pernah ada dalam gerobak ice cream itu. Dan membuat ku merasa kecewa karena harus membelimu, ya karena kau satu-satunya yang tersisa". Pria itu bergumam. Diumurnya yang berada pada fase kebahagiaan remaja, bercanda dan berteriak-teriak dengan teman-teman sebayanya, nyatanya ia habiskan sore dengan menghina dan mencaci sebuah ice cream vanilla.

Siapa yang mengharapkannya.

Siapa yang mau mendapatkan sesuatu yang tidak diinginkannya.

Mata Naruto mulai berkaca, menatap ice cream itu dengan sedih. "Tidak apa-apa vanilla aku tau perasaanmu, aku juga minta maaf karena menghinamu. Aku janji akan memakanmu sampai habis, kamu berguna kok". Lagi, meskipun gumamannya lirih, bukan tidak mungkin orang-orang mengatainya gila.

Naruto perlahan memakan ice cream miliknya meskipun harus menahan gejolak dalam perutnya yang menolak makanan paling dibencinya.

"Lihat anak aneh itu. Dia tadi hanya melihat es krimnya sampai meleleh, dan sekarang dia baru memakannya".

"Sepertinya dia akan muntah".

"Biarkan saja sudah tau tidak, masih saja memaksakan diri".

"Tinggal buang saja selesai, dasar pelit".

Raungan demi raungan itu ia dengarkan, Naruto tetap memilih diam tidak mau menanggapi. Dia terlalu takut untuk bicara.

.

"Naruto dia itu seperti ikan, dia tidak akan bisa memanjat seperti teman-teman tupainya tuan". Itulah yang pernah dikatakan oleh guru sekolah dasar Naruto.

Saat itu Naruto hanya terdiam dan bersembunyi sembari menguping apa yang sedang dibicarakan guru dan orang tuanya.

"Saya tidak mau tau Naruto pasti bisa lulus, dia tidak perlu sekolah khusus. Saya akan terus memberinya tambahan pelajaran seusai pulang sekolah". Ujar ayah Naruto kekeh dengan pendiriannya. Baginya Naruto adalah anak lelakinya yang hebat, Naruto bisa melebihi teman-temannya, tak perlu sekolah khusus.

"Baiklah jika itu yang anda inginkan. Saya pamit".

Tepat saat sang guru didepan pintu dia berkata lirih. "Jangan memaksa seekor ikan untuk memanjat pohon, atau dia akan merasa bodoh seumur hidupnya".

.

Sembari menelan ice creamnya Naruto teringat kisah itu, saat dia pikir ayahnya ingin dia bisa memanjat pohon yang tinggi.

Dia pikir ayahnya akan bangga saat melihatnya berada diatas pohon, tapi semuanya salah ayahnya hanya memukulnya dan berkata bahwa dia bodoh dan meninggalkan dirinya dengan darah mengalir dikaki.

Naruto hanya bisa menangis merasakan kakinya yang sakit, dan bertambah sakit saat seseorang menyentuhnya. Orang itu berkata ingin membantu tapi yang ia lakukan hanya menambah rasa sakitnya. "Tenanglah kakak, rasa sakitnya akan berkurang setelah diobati". Gadis dengan terusan hijau muda itu mengambil bandana kain yang ia gunakan untuk mengikat rambutnya.

"Sudah selesai". Ujarnya.

"Tapi ini ikat rambutmu". Sambil menunjuk kain yang membalut lukanya. "Tidak apa-apa kakak. Aku sering jatuh dan kata ibuku kalau luka, aku disuruh membalutnya dengan ini agar tidak infeksi, aku takut kaki kakak infeksi, meskipun aku tidak tau apa itu infeksi. Tapi kedengarannya menakutkan iya kan?" Jelasnya panjang lebar.

Sejujurnya Naruto tak terlalu paham apa yang dikatakan gadis ini tapi entah mengapa Naruto ingin tersenyum.

.

xXx

.

Siapa yang mengharapkannya. Tak ada yang pernah mengharapkannya bahkan orang tuanya, bahkan kelahirannya adalah kutukan untuk keluarga namikaze, Naruto memahaminya. Dia adalah seorang cacat mental yang dijauhi semua orang.

Tidak ada yang menyayanginya, yang ada hanya rasa kasihan. Dia lebih suka bicara dengan benda mati yang tidak akan melihatnya dengan tatapan menghina.

Hari mulai sore, Naruto hanya memilih diam dikamar dan terkadang bicara sendiri dengan lukisan-lukisannya yang ia pajang di setiap sudut kamar.

Akhirnya saat tiba jam 3 sore, Naruto mulai bersiap untuk berangkat latihan panjat tebing untuk mengikuti olimpiade satu negara.

Naruto bahkan tidak menyangka dirinya akan terpilih menjadi perwakilan daerahnya. Saat terpilih Naruto sangatlah bahagia akhirnya dia memiliki kesempatan untuk memanjat sesuai keinginan ayahnya.

Itu hanya perumpamaan dan Naruto sepertinya terlalu bodoh untuk memahaminya, hingga dewasa dia hanya terobsesi dengan memanjat, dia tidak paham dengan hal itu. Dia hanya berpikir ayahnya marah karena dia jatuh saat memanjat. Naruto sama sekali tidak berpikir bahwa ayahnya marah karena ia takut Naruto kenapa-kenapa.

Sungguh pria sekolah menengah atas ini benar-benar bodoh.

.

xXx

.

Sungguh sesi latihan adalah yang paling ia sukai, suasana saat Sakura menemaninya dan menyemangatinya.

Gadis yang membuat tawa bahagia di masa kecilnya, yang mengajarinya membaca dan menulis bahkan menggambar dan melukis. Naruto menyukai gadis itu. Gadis yang selalu ada untuknya.

.

.

Hari ini adalah hari pertama latihan untuk semua atlet cabang masing-masing untuk wilayah Konoha, mereka akan melakukan latihan Santai selama beberapa hari sebelum akan diasramakan untuk persiapan olimpiade nantinya.

Naruto juga melihat teman-temannya disini, beberapa orang yang menganggap Naruto ada. Seperti Kiba yang akan bermain lompat galah, Sasuke akan berlaga tanding Karate, Shikamaru Neji dan lainnya di cabang atlet mereka masing-masing.

Naruto juga melihat Sakura yang tengah duduk bersama Ibu Naruto. Khusina yang sangat menyayangi anaknya merasa sangat menyesal saat mengetahui bahwa putranya mengalami ketidakstabilan mental yang membuat psikisnya terganggu. Ditambah tidak adanya peran ibu disampingnya, mengingat Minato adalah pria keras.

Khusina sering meneteskan air mata setelah melihat senyum putranya yang getir seolah menyembunyikan sesuatu. Dan Khusina sebagai ibunya bahkan tak tahu apa yang membebani putranya.

Naruto bahagia melihat ibunya. Seseorang yang dulu selalu sibuk dan tidak memperdulikan Naruto.

Seseorang yang secara tidak langsung telah menghancurkan mentalnya, menjerumuskan Naruto pada rasa takut dan kesepian, orang yang memperburuk keadaan mentalnya.

Tapi itu telah berlalu, setelah Khusina tahu kebenarannya, dia akan memprioritaskan putranya. Khusina sangat bahagia saat terpilihnya Naruto untuk mewakili Konoha, begitupun Minato dia juga sangat bahagia.

.

xXx

Oke waktunya masuk kecerita.

xXx

.

Buat besok maksudnya, udah lama ga nulis anggap aja pemanasan oke

Maaf kalo gaada konteks, itu kutulis random sumpah

See you next time