Di atap sebuah sekolah di jepang pada suatu sore, terdapat sepasang anak muda laki-laki dan perempuan yang berdiri disana mengenakan seragam sekolah mereka. Pemuda itu berambut coklat pendek sementara perempuan itu memiliki rambut merah menyala yang mencapai punggungnya.

"Rias-senpai, aku menyukaimu. Kumohon berpacaranlah denganku!" ucap pemuda itu dengan lantang. Gadis yang dipanggil Rias itu sedikit menunjukkan ekspresi terkejut tapi dengan cepat ekspresinya menjadi tidak enak.

"Etto, Issei-kun, aku senang atas perasaanmu tapi gomen, aku tidak bisa menerimanya. Aku sudah punya seseorang yang kusukai. Jadi maaf," ucap Rias dengan nada bersalah lalu tanpa menunggu respon dari pemuda itu, dia berbalik dan pergi dari atap.

Keheningan menyelimuti suasana sore hari di atas sekolah SMA Kouh tempat pemuda itu ditolak. Dia menundukkan wajahnya dan dengan jalan sempoyongan menuju ke pembatas atap yang diatasi kawat besi setinggi 2 meter. Dia memandang ke bawah dengan pandangan sendu. "Haah~, ini ketiga kalinya aku ditolak dalam kehidupan SMA-ku," gumamnya lesu.

'Kreet~'

Pintu atap terbuka dan seorang siswi berambut pirang muncul menghampiri Issei. "Oh ayolah, apa kau akan selalu bersikap seperti itu ketika di tolak? Ah kalau dipikir-pikir ini juga salahmu memilih target terlalu tinggi seperti mereka," ucap siswi itu menambah luka dalam penderitaan Issei.

"Naruto."

"Pertama atlet klub lari Quarta-san, kemudian ketua klub drama Himejima-sama, dan sekarang kau memilih Idola seisi sekolah Gremory-sama. Dilihat bagaimana pun mereka tidak akan mau berkencan denganmu, Issei, kepalamu baik-baik saja?"

"Naruto, bisa kau diam- … huh dimana dia?!" Issei berpaling dengan cepat ke arah suara itu dengan ekspresi marah, tapi tidak menemukan siapa-siapa disana.

'PLAKK!'

Tepukan keras dipunggungnya membuat Issei hampir tersungkur kedepan jika saja dia tidak memperhatikan langkah dan mempertahankan posisinya. "Ittai~, hoi Naruto!" ucapnya berpaling pada gadis pirang yang kini berdiri dibelakangnya dengan senyum polos setelah menampar punggung Issei dengan sekuat tenaga.

Siswi yang menyeringai tanpa dosa itu adalah Naruto, bisa dibilang dia adalah teman Issei sejak dibangku SD. Dia memiliki rambut pirang yang di ikat ponytail hingga ke pinggangnya. Kalau dari segi penampilan semata, maka Naruto bisa dikatakan cukup manis, yah walau dada nya tidak terlalu besar, cuma sepertiga dari Rias, yaitu B cup.

"Ayo pulang. Demi menyembuhkan patah hatimu, aku akan memasakkan menu favoritmu untuk makan malam," ucap Naruto mengalihkan pembicaraannya, kali ini dia tidak lagi memasang ekspresi seakan mengejek Issei, tetapi senyum tulus.

Issei tahu dia tidak bisa marah pada Naruto karena sikap kasarnya sebelumnya hanyalah caranya untuk menghibur Issei. Naruto berjalan mendekati Issei dan mendorong punggungnya. "Ayo ayo cepetan, kita harus membeli bahannya di perjalanan pulang!" ucap Naruto.

Bersama mereka meningglkan atap sekolah. "Berhenti mendorongku, kau ingin aku jatuh dari tangga!"

"Ahahaha."

.

.

.

.

.

Issei duduk di meja makan di apartemennya, menunggu Naruto yang masih sibuk di dapur menyiapkan makan malam.

Sebenarnya Naruto tidak tinggal bersamanya, dia cuma kadang-kadang mampir ke apartemen Issei untuk sekedar menjenguk atau memasakkan makan malam, sementara dia tinggal dirumahnya sendiri 2 blok dari apartemen Issei.

Issei sendiri tinggal di apartemen karena dia ingin mencoba hidup mandiri terlepas dari keluarganya, walau pada ujungnya dia seperti di rawat oleh teman masa kecilnya dari waktu ke waktu.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Naruto sambil membawa hidangan ke meja makan.

"…" Issei tidak merespon dan terus memperhatikan Naruto yang mengenakan seragam sekolahnya yang ditutupi oleh apron menata meja makan, lalu kemudian duduk bersebarangan dengan Issei. "Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Naruto seraya mengangkat mangkuk nasi dan menyumpit untuk dimakan.

"Tidak, aku hanya berpikir aku selalu merepotkanmu, aku sedikit merasa tidak enak karena hal itu."

Naruto menatapnya beberapa saat lalu menyeringai. "Mah, aku tidak berharap banyak darimu, lagipula kau tidak berguna kalau tidak ada aku. Jadi bersyukurlah." Naruto melanjutkan makannya dengan wajah puas.

Meskipun Naruto seakan merendahkannya, Issei sama sekali tidak merasa tersinggung. Dia sudah terbiasa. "Hum, tentu, aku sangat bersyukur kau ada disisiku, Naruto," ucap Issei dan memulai makannya.

Jika saja Issei memperhatikan Naruto, dia akan melihat tangan Naruto berhenti bergerak dan wajahnya menjadi sedikit memerah.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya di SMA Kouh, pada jam istirahat makan siang, saat murid-murid lain sebagian keluar dari kelar menuju kafetaria, Issei mengeluarkan bento dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. 2 pemuda yang salah satunya botak dan satunya berkacamata mendekati meja Issei dengan membawa bento mereka sendiri. "Yo, Issei, kudengar kau ditolak Rias-senpai semalam!" Mereka mengambil meja dan kursi terdekat lalu menyusunnya di meja Issei dan duduk bersama.

"Urusai, Matsuda!" ucap Issei.

"Dasar, kau terlalu kepedean memilih target nomer 1 di sekolah ini. Hasilnya sudah dapat ditebak," kali ini pemuda berkacamata yang berkomentar sembari membuka kotak bekalnya.

"Kehidupan SMA-ku sudah tamat," ucap Issei menundukkan kepalanya lesu, sementara tangannya membuka penutup bento nya.

Di dalam bentonya terdapat 3 buah tamagoyaki, beberapa potong daging kecil, sayuran dan nasi yang diatasnya terdapat nori yang dibentuk menjadi wajah Issei, setidaknya berusaha mirip. Motohama dan dan Matsuda yang melihat isinya itu memandang pada Issei.

"…"

"…"

"A-ada apa?"

Issei yang tidak nyaman ditatap bertanya dan kedua pemuda itu menghela nafas panjang. "Aku serius ingin membunuh anak ini!" gumam Matsuda dengan tangan yang terkepal.

"Issei, aku selalu penasaran dengan ini, kau yakin kau tidak merasakan apa-apa pada Naruto?" Motohama berbicara dengan nada yang lebih tenang daripada Matsuda.

"Ada apa dengan Naruto?" tanya Issei dengan polos sambil menyumpit nasi dari bento itu kemulutnya.

"Kau punya teman masa kecil yang cantik dan baik sepertinya, dan dia bahkan membuatkan bento untukmu berkali-kali. Issei, jangan bilang kau benar-benar bodoh?" tanya Motohama kali ini dengan pertanyaan yang menusuk.

"Aku serius ingin membunuhmu karena iri, Issei!" Matsuda menoleh padanya dengan tatapan penuh rasa iri dengki.

"Apa maksudmu bodoh? Kau pikir Naruto menyukaiku? Tidak mungkin, kami seperti ini karena kami sudah akrab sejak kecil. Dulu aku pernah mencoba bercanda menembaknya, dan aku malah kena hajar." Issei melambaikan tangannya sambil mengatakan 'tidak mungkin'.

Motohama menarik nafas pasrah. "Kuharap kau tidak menyesal," gumamnya melanjutkan makannya.

Bukannya Issei berlagak bodoh, dia pernah berpikir kalau alasan Naruto selalu peduli padanya adalah karena gadis itu menyukainya. Tapi saat dia menanyakan itu, Naruto tertawa dan bilang untuk Issei sadar diri. Alasan Naruto selalu bersamanya juga hanya karena dia merasa bahwa dia tidak bisa meninggalkan Issei sendirian, singkatnya perasaan Naruto padanya mirip seperti seorang kakak yang selalu khawatir pada adiknya.

Jika sampai Issei mengakui kalau dia menyukai Naruto, dia takut hubungan mereka yang sekarang akan hancur. Hubungan mereka yang sekarang sudah cukup bagi Issei.

"Ngomong-ngomong Issei, kau termasuk dalam tim regular untuk sepak bola di olimpiade olahraga bulan depan kan?" Matsuda tiba-tiba membuka pembicaraan.

Olimpiade olahraga yang dimaksud adalah ajang kompetisi tahunan antar sekolah di Jepang, meliputi berbagai macam jenis olahraga mulai dari tim seperti sepak bola, basket, volley dan individu seperti kendo, kyudo, judo dan semacamnya. Dan tahun ini Issei termasuk dalam tim regular untuk olahraga sepak bola.

"Ah, pelatih bilang akan mengadakan kamp pelatihan untuk semua siswa yang akan berpatisipasi nanti. Kalau tidak salah kami akan memulainya dari minggu depan," jelas Issei.

"Pastikan kalian pulang membawa kemenangan, bro!" ucap Matsuda mengulurkan tinjunya pada Issei. "Kami menantikannya, Issei," ucap Motohama membenarkan kacamatanya.

Issei tersenyum dan menyatukan tinju pada Matsuda. "Serahkan padaku!"

.

.

.

.

.

Kamp pelatihan di adakan di pulau pribadi milik keluarga Gremory, salah satu alasannya adalah karena Gremory merupakan sponsor dari SMA Kouh dan yang lainnya karena Rias, Ojou-sama dari keluarga Gremory, juga merupakan peserta nantinya, tepatnya di ajang Kyudo.

Ada waktu 3 minggu sebelum olimpiade nya dimulai, dan keluarga Gremory tidak segan-segan menyewa pelatih hebat untuk para atlet dari SMA Kouh.

Saat para siswa dan siswi berserta guru pendamping turun dari kapal yang mengantarkan mereka kepulau ini, sudah ada 2 buah bis yang menunggu di pelabuhan menanti kedatangan mereka.

Issei yang baru turun dari kapal melihat kesekeliling dengan tatapan kagum. Meskipun pulau ini adalah pulau pribadi atas nama Gremory, sebenarnya ini juga digunakan sebagai tempat liburan oleh para turis baik dari dalam atau luar negeri. Hotel, pantai, beserta semua fasilitas yang berada di dalam pulau menjadi aset penghasilan untuk Gremory.

'Plak!' tamparan di punggungnya menyadarkan Issei dari kekagumannya akan kekayaan Gremory.

"Berhenti kagum tidak jelas, masuk ke bismu atau kau akan ditinggalkan." Setelah mengatakan itu Naruto melewatinya dan naik ke bis yang diperuntukkan untuk para siswi dan guru perempuan.

Issei mengangkat tasnya dan menaiki bis yang khusus untuk laki-laki.

Kenapa Naruto ada bersamanya? Itu karena Naruto adalah manager dari klub sepak bola, jadi sudah jelas dia akan ikut ke kamp pelatihan.

Dengan begitu, 3 minggu kamp pelatihan mereka pun dimulai.

.

.

.

.

.

Di suatu sore, di salah satu lapangan sepak bola di training center, bola berserakan di sekitar gawang dan seorang pemuda berdiri di depan kotak penalti sambil memegang sebuah bola. Nafas pemuda itu ngos-ngosan, dia tidak ingat lagi sudah berapa lama dia melakukan ini. Dia meletakkan bola nya di rumput anorganik lapangan dan mengambil beberapa langkah mundur. Matanya terfokus kepada bola dan dengan ancang-ancang, dia melakukan tendangan keras ke arah gawang, walau sayang bolanya melambung melewati bagian atas gawang.

Issei menghela nafasnya lalu kemudian dia terjatuh telentang di atas rumput buatan tersebut. "Ha~ ha~ aku sudah tidak punya tenaga," ucap Issei seraya memejamkan matanya.

.

.

.

Issei merasa dia berbaring disesuatu yang lembut dan ada sensasi seperti seseorang mengelus kepalanya. Saat dia membuka matanya dia dihadapkan dengan wajah Naruto. "Ara, kau sudah bangun?"

"Naruto? Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya. Otaknya perlu memproses beberapa saat hingga dia menyadari kalau sekarang kepalanya berada di pangkuan Naruto, dia berusaha bangun tapi Naruto memegang kepalanya ditempat.

"Jangan bergerak, kau terlalu memaksakan dirimu, baka," ucap Naruto.

"Ugh baiklah, tapi sejak kapan kau disini?" Issei menurut dan memutuskan menikmati lap pillow yang ditawarkan Naruto.

"Karena kau belum kembali ke hotel saat sensei melakukan roll call, jadi aku yakin kau pasti ada disini. Dan apa yang kutemukan? Kau yang pingsan dengan wajah bodoh. Sesekali jangan membuatku khawatir, baka," keluh Naruto.

"… gomen. Aku terlalu fokus berlatih," ucap Issei.

"Baka, berlatih sih boleh, tapi jangan sampai ketitik kau kehilangan kesadaran. Menurutmu apa yang akan terjadi jika kau sakit saat hari olimpiade nya dimulai?"

"…"

"Maaf, aku berlebihan." Naruto menyadari kalimatnya yang agak kasar dan dia langsung meminta maaf dengan wajah tidak enak seraya mengalihkan pandangannya.

Issei memperhatikan wajah Naruto untuk waktu yang lama. "Naruto," panggilnya.

Naruto menatapnya kembali dengan ekspresi menunggu kelanjutan kalimat Issei.

Issei tersenyum. "Aku pasti akan menang."

Naruto tertegun dengan kalimat Issei tapi kemudian dia terkekeh pelan. "Sou? Aku akan menantikannya," ucap Naruto seakan dia tidak percaya. Tapi mereka berdua tahu, tidak ada yang lebih mempercayai Issei selain Naruto.

Melihat Naruto yang tertawa lepas, Issei tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah itu. 'Setelah ini selesai, aku akan menyatakannya padamu,' batinnya berjanji dalam hati.

.

.

.

.

.

Kamp pelatihan berakhir dan Olimpiade Olahraga diadakan di Tokyo di beberapa tempat sesuai dengan cabang olahraganya masing-masing. Olimpiade nya sendiri diadakan selama seminggu penuh dan dihadiri oleh banyak sekolah-sekolah ternama di jepang selain Kouh.

Selama periode pertandingan, Kouh memberikan perlawanan yang ketat di hampir seluruh cabang olahraga.

Olimpiade Olahraga berakhir dan Kouh berhasil membawa pulang kemenangan dengan perolehan score kemenangan terbanyak, terutama di cabang Sepak Bola dimana Issei sebagai striker berperang penting, lalu Rias yang di cabang Kyudo yang menang dengan poin hampir sempurna, Yuuto dari cabang Kendo yang mengalahkan semua lawannya dengan teknik yang bahkan membuat kagum juri, Akeno yang walaupun berasal dari klub drama tapi ikut di cabang voli sebagai tosser yang handal, Xenovia dari cabang lari, Saji dari cabang Judo, dan Vali dari cabang Basket. Mereka semua adalah orang-orang yang berpengaruh besar pada kemenangan Kouh.

Saat ini semua atlet dan guru sedang berkumpul di aula hotel yang mereka sewa untuk merayakan kemenangan mereka. Kepala sekolah melakukan pidato singkat dan mengucapkan selamat kepada para siswa siswi nya yang telah melakukan yang terbaik dalam ajang tahunan itu. Setelah itu mereka dibubarkan dan dibebaskan untuk menyantap hidangan yang disediakan oleh staff hotel.

Issei mengedarkan pandangannya kesekitar aula mencari sosok berambut pirang.

"Yo Issei!" Seseorang merangkul leher Issei secara tiba-tiba. Saat dia berpikir itu adalah Naruto, dia menyadari bahwa orang yang merangkulnya berambut biru. "Xenovia-san," sapa Issei dengan ramah, mau bagaimana pun orang ini adalah wanita yang pernah Issei tembak di tahun pertamanya di Kouh.

"Aku tidak menyangka kau benar-benar hebat dalam dalam sepak bola, ditahun pertama kau bahkan tidak menonjol awalnya," komentar Xenovia.

Issei tertawa hambar. "Aku hanya berusaha keras sebisaku. Dan juga, Xenovia-san lebih hebat, kau menang dengan mudah."

"Aku percaya diri dengan kemampuan lariku. Ngomong-ngomong, kau masih ingat kau pernah menyatakan cinta padaku tahun lalu?" tanya Xenovia tiba-tiba membuat Issei membeku tegang. "A-Ada apa dengan itu?"

Xenovia memandangnya dengan senyum misterius. "Aku memikirkan, apakah pernyataan itu masih belaku? Karena aku mulai agak tertarik denganmu. Bagaimana, mau mencoba berkencan denganku?"

Jika ini Issei yang dulu, dia akan langsung menerima tawaran itu tanpa pikir panjang. Tapi dirinya yang sekarang berbeda karena dia sudah memutuskan hal itu. Issei menyingkirkan tangan Xenovia dari lehernya dan menjaga jarak sedikit.

Issei menghadap Xenovia dan membungkukkan badannya 90 derajat. "Xenovia-san, gomen. Tapi sekarang aku sudah memutuskan seseorang yang ku sukai."

Xenovia sedikit terkejut dengan jawaban Issei, tapi dia tersenyum seakan dia sudah menebak hal itu. "Haha, posisi kita terbalik dari tahun lalu ya?" ucap Xenovia tertawa kecil. Issei tidak mengangkat pandangannya. "Orang yang kau sukai itu, gadis yang selalu bersamamu itu kan?" tanyanya.

Issei menegakkan badannya menatap Xenovia. "Hai'," jawabnya tanpa ragu. Tapi ekspresi Xenovia menjadi kaku seakan dia bingung harus bilang apa.

"Souka, jadi kau belum tahu ya," gumam Xenovia pelan.

Issei tidak mendengar hal itu dengan jelas, jadi dia ingin menanyakan maksudnya, sebelum suara lain terdengar ditelinganya.

"Konbawa, Xenovia-san, Issei-kun. Selamat atas kemenangan kalian."

Rias Gremory menghampiri mereka bersama dengan Akeno dibelakangnya.

"Rias-senpai, konbawa. Arigato, senpai juga sangat hebat di Kyudo. Aku sangat kagum dengan senpai," ucap Xenovia. Rias terdiam sedikit malu dengan pujian dari Xenovia sementara Akeno tertawa kecil memperhatikan ekspresinya. "Ara Rias-chan lemah dengan pujian."

"Akeno!" Rias menoleh pada Akeno dengan tatapan tajam tapi tidak dipedulikan oleh gadis bersurai hitam tersebut yang tertawa dengan polosnya. Melihat dari interaksi mereka, hubungan Akeno dan Rias mirip dengan hubungan Issei dan Naruto, mereka sama-sama teman masa kecil.

"Ahem, aku sedikit mendengar pembicaraan kalian tadi. Issei-kun, kau sudah menyatakan perasaanmu padanya?" tanya Rias mengalihkan pembicaraan, atau tepatnya mengembalikan topik pembicaraan.

"… Belum. Aku berniat menyatakannya setelah ini, tapi aku tidak menemukannya," ucap Issei sekali lagi mengedarkan pandangannya mencari keberadaan surai pirang dari kerumunan murid Kouh.

Sementara itu Rias, Akeno dan Xenovia saling bertatap-tatapan dengan ekspresi tidak enak.

"Jika kau mencari Naruto, kulihat tadi dia pergi ke balkon."

Issei menoleh pada pemuda berambut honey blond yang menghampiri mereka sambil membawa piring berisi irisan daging. Issei berterima kasih atas informasi Saji dan langsung berangkat menuju tempat yang di informasikan.

Sementara itu Saji yang ditinggal mendapatkan tatapan tajam dari ketiga perempuan yang sebelumnya bersama Issei. "Heh apa aku salah sesuatu?" tanyanya tidak mengerti.

Rias menghela nafas dan memijat keningnya. "Tidak akan masalah jika gadis itu sendirian di balkon, tapi jika Issei-kun melihat siapa yang bersama gadis itu sekarang, aku tidak yakin apa yang akan terjadi," gumam Rias dan Xenovia beserta Akeno mengangguk prihatin.

"Issei bertahan selama ini karena gadis itu bersamanya, tapi jika sekarang dia melihat hal ini, Issei yang malang."

"Atau mungkin ini karma karena dia tidak pernah memperhatikan seseorang yang selalu bersamanya."

.

.

.

Issei menuju balkon hotel dengan perasaan gugup didadanya. Malam ini dia akan menyatakannya. Kepada gadis yang selalu berada disisinya, Issei akan menyatakan perasaannya. Dia akan mengambil resiko agar hubungan mereka bisa lebih dari hubungan yang sekarang.

Saat dia sampai di balkon dia bisa melihat surai pirang panjang yang berkibar ditiup angin, rambut dari seseorang yang dicarinya. Tapi langkah Issei tiba-tiba berhenti saat melihat sosok yang berdiri disamping Naruto disana. Entah karena reflek atau apa, Issei bersembunyi merunduk dibalik bayangan sisi gelap dari balkon.

Yuuto Kiba, pemenang dari cabang kendo. Pemuda bishounen berambut pirang. Siswa kelas 3, alias senpai dari Issei dan Naruto.

"Sesuai janjiku, aku menang, Naruto. Mana hadiahku?" wajah Naruto lantas memerah dan dia mengambil langkah mundur dari Yuuto. Tapi pemuda itu menangkap pinggang ramping Naruto dan menariknya mendekat ke pelukannya. "Mau kemana?"

"…" Naruto tidak bersuara, dia menundukkan kepalanya menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat.

Issei tidak pernah melihat ekspresi malu Naruto yang seperti itu. Dan terlebih lagi, dia merasakan emosi gelap di dalam dirinya pada pemuda bishounen yang berani-beraninya menyentuh Naruto. Bisa-bisanya dia membuat Naruto memperlihatkan ekspresi yang bahkan belum pernah dilihat olehnya.

Yuuto memegang dagu Naruto dan mengangkatnya agar gadis itu mengadah menatapnya. Meskipun dengan wajah yang memerah padam, Naruto tidak menolaknya. Dia bahkan menutup matanya dan mendekatkan wajahnya, hingga kedua bibir itu bertemu.

Ciuman itu berlangsung beberapa detik hingga akhirnya mereka memisahkan diri. Yuuto tersenyum puas dan Naruto menempelkan wajahnya di dada Yuuto untuk menyembunyikan ekspresi malunya.

"Ahh~, apa yang harus aku lakukan. Kau benar-benar imut, Naruto. Aku ingin memakanmu lagi,"

"B-baka, jangan bicara sembarangan!"

"Apa kau membencinya?"

"… tidak juga …"

"…"

"K-katakan sesuatu …" Naruto menjadi malu dengan perkataannya barusan karena Yuuto tidak meresponnya. Tapi kemudian dia membeku dengan wajah semakin merah saat merasakan sensasi sesuatu yang mengeras dari bagian bawah Yuuto.

"Naruto, malam ini menginaplah di tempatku," ucap Kiba setengah berbisik ditelinga Naruto.

Naruto tidak menjawab tetapi Yuuto menganggap diamnya pertanda bahwa dia tidak masalah. Yuuto melepaskan pelukannya dari Naruto dan menggenggam tangan Naruto lalu menariknya bersamanya. Mereka berdua meninggalkan balkon tanpa menyadari keberadaan Issei yang bersembunyi di bagian gelap.

Issei tidak mengejar mereka, dia terlalu sibuk memikirkan emosi asing yang menggerogoti isi hatinya.

'Ayolah Issei, cepetan!' 'Baka Issei!' 'Jangan membuatku khawatir, baka!' 'Issei, traktir aku!' 'Ne~ Issei, kau mendengarku?' 'Mau bagaimana lagi, Issei tidak berguna kalau tidak ada aku.' 'Issei, semangat!' 'Selamat Issei! Kau berhasil! Aku percaya kau pasti bisa!' 'Issei.'

Naruto selalu bersamanya sejak mereka SD. Naruto adalah seseorang yang paling dekat dengannya selain keluarganya. Naruto adalah seseorang yang selalu ada untuk Issei di semua kondisi. Naruto selalu ada di sisi Issei. Tapi barusan …

Yuuto bersama Naruto.

Yuuto mencium Naruto.

Yuuto membuat Naruto menunjukkan ekspresi yang tidak pernah Issei lihat.

Yuuto mengambil Naruto darinya.

Yuuto mengambil Naruto-nya.

Naruto-nya

Naruto seharusnya miliknya.

Milik Issei.

.

.

.

Saat Issei kembali ke aula hotal, dia mencoba menanyakan pada guru tentang keberadaan Yuuto dan Naruto, tapi dijawab kalau mereka sudah pulang duluan.

Issei juga bertemu dengan para perempuan yang pernah menolaknya, mereka nampak khawatir pada Issei tapi dia tidak menghiraukannya. Mereka sudah tahu hubungan Naruto dan Yuuto, tapi tidak memberitahu Issei mengenai itu. Issei merasa seperti orang bodoh.

Dia memutuskan untuk pulang, meninggalkan aula hotel dan pulang ke apartemennya, berharap jika Naruto benar-benar pulang, maka dia mungkin akan mampir ke apartemen Issei.

Tapi tidak, apartemennya kosong.

Issei membaringkan dirinya di kasur dan mengeluarkan ponselnya. Dia mengirim pesan pada Naruto sebelum dia pulang dari hotel menanyakan keberadaan gadis itu sekarang.

'Gomen, aku tidak enak badan. Aku pulang duluan.'

Itu pesan balasan dari Naruto, tapi Issei merasa kali ini dia tidak bisa mempercayainya. Dia ingin percaya kalau Naruto pulang. Pulang kerumahnya yang sebenarnya. Bukan pulang bersama Yuuto.

Issei memejamkan matanya, berusaha tidak membayangkan Naruto bersama dengan Yuuto.

Hari yang seharusnya Issei rencanakan untuk dia habiskan bersama Naruto, serasa tidak berarti lagi.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, Issei memasuki ruang kelas dan disambut dengan meriah oleh teman-teman sekelasnya yang menyaksikan pertandingan Issei. Tapi tidak sesuai dengan ekspektasi mereka, Issei cuma berlalu tanpa mengatakan apa-apa dan duduk di kursinya, membaringkan kepalanya diatas meja.

"Oi, ada apa Issei? Kau terlihat tidak bersemangat? Kurang tidur?" Matsuda mendekati Issei.

"Diamlah, Matsuda. Jangan ganggu aku." Tapi Issei langsung membalas dengan nada dingin bahkan tanpa menoleh.

Motohama yang memperhatikan disamping Matsuda membenarkan kacamatanya. "Jadi kau sudah mendengar mengenai mereka. Karena itulah kau menjadi—"

"Motohama, kumohon. Jangan mengungkitnya."

"… Baiklah." Motohama diam dan kembali ke kursinya sementara murid-murid yang lain bingung apa yang mereka bicarakan, dan mereka tidak tahu bagaimana harus berinteraksi dengan Issei yang sekarang sedang badmood.

.

.

.

Bell istirahat makan siang berbunyi dan sebagian murid pergi keluar kelas seperti biasa. Issei sendiri sama sekali tidak bergerak dari posisinya sejak pagi membuat Matsuda dan Motohama yang duduk disamping Issei khawatir.

'Tap!' 'Tap!'

"Apa yang kau lakukan Issei?"

Issei tahu dengan jelas suara siapa itu. Naruto berada dikelas yang berbeda dengannya, jadi jika dia berada disini, berarti dia memang khusus datang untuk Issei. Tapi Issei tidak berniat untuk menghiraukannya.

"Oh ayolah, aku minta maaf aku meninggalkanmu malam tadi. Tapi kau tidak perlu mengabaikanku seper—"

'Kreet!' 'Grab!'

Sebelum Naruto menyelesaikan kalimatnya, Issei berdiri dari kursinya dan menggenggam pergelengan tangan Naruto lalu menyeretnya bersamanya keluar kelas.

.

.

.

Di atap Kouh yang sepi, karena tidak ada murid yang mau naik ke atas situ hanya untuk diterpa sinar matahari secara langsung untuk makan siang, Issei memasuki atap bersama dengan Naruto lalu menutup pintunya.

"Issei, ada apa kau membawaku kesini?" tanya Naruto sambil mengusap pergelengannya yang barusan dipegang erat oleh Issei.

"Kenapa kau berbohong padaku?" tanya Issei balik, dia tidak menoleh pada Naruto.

"Berbohong? Issei apa maksud—"

"Dimana kau malam tadi?"

"Kau sudah membaca pesanku kan? Aku bilang aku pulang—"

"Bersama Kiba-senpai?"

"… Issei." Naruto terdiam membeku saat marga Yuuto keluar dari mulut Issei. "Kau melihat kami?" tanyanya ragu.

Issei mengeraskan ekspresinya dan berbalik menghadap Naruto yang nampak merasa bersalah. "Jawab aku Naruto!" bentaknya.

"…" Naruto tidak berbicara, dia memejamkan matanya dan mengalihkan pandangannya. Issei tidak suka Naruto yang diam seperti ini, dia mendekati Naruto memegang kedua bahunya. "Naruto, jawab aku. Apa kau pulang bersama Kiba-senpai malam tadi?"

"… Hai', aku bersama Yuuto-kun," jawab Naruto pelan.

"Yuuto-kun?" beo Issei dengan nada sinis. Ekspresi Naruto berdenyut, dia menepis kedua tangan Issei dari bahunya dan berjalan menuju pintu keluar atap.

Naruto memegang gagang pintu atap dan membukanya sedikit, tapi Issei lebih cepat menghempaskan pintu itu kembali tertutup. Sekarang Naruto terjebak antara Issei dan pintu atap dengan posisi Naruto yang membelakangi Issei.

"Issei, apa yang kau lakukan?"

"Kau sendiri apa yang kau lakukan Naruto?"

"Apa maksudmu?"

"Kenapa kau tidak pernah memberitahukan hubunganmu dengan 'Yuuto-kun' pada teman masa kecilmu ini?"

"… Seperti yang kau bilang, kita adalah 'teman masa kecil', tapi itu tidak berarti aku harus mengatakan semua hal dihidupku padamu."

"Sejak kapan Naruto?"

"…"

"Sejak kapan kau menyembunyikannya dariku?"

"Sebulan yang lalu."

"Souka, jadi sudah sebulan kau mempermainkanku?"

"Hah? Apa maksudmu mempermain— mppff!" Naruto tidak paham maksud perkataan Issei barusan, jadi dia menoleh padanya ingin protes.

Tapi situasi yang didapatinya adalah bibirnya yang terbungkam oleh bibir Issei dan tubuhnya yang dibalikkan lalu di dorong ke pintu atap.

"Mmpff!" Naruto terlalu terkejut dengan hal yang terjadi, dia berusaha mendorong tubuh Issei tapi akibat syok yang diterimanya, tenaganya tidak berpengaruh banyak. Issei tidak melepaskan ciumannya dengan mudah, dia terus-terusan mencumbu bibir Naruto, meskipun dia melepaskannya untuk beberapa saat untuk mengambil nafas, dia kembali menutup bibir plum di depannya dengan ganas.

Issei dapat merasakan Naruto berhenti berusaha mendorongnya. Issei meresapi ciuman yang dirasakannya sekarang, sebelum akhirnya melepaskannya dan memberi jarak antara wajah mereka.

'JDUAKK!'

Tapi begitu dia menjauhkan wajahnya untuk melihat ekspresi Naruto, tinju gadis itu meluncur dengan cepat hingga tidak dapat di hindari Issei tepat di pipinya. Akibat tinju itu, tubuh Issei oleng beberapa langkah mundur.

Saat dia mengangkat wajahnya lagi, Naruto sudah membuka pintu atap dan menoleh padanya dengan ekspresi campuran antara kecewa, marah, dan sedih. "Aku tidak mengerti apa yang ada dikepalamu sekarang ini, karena itu lebih baik untuk beberapa waktu kita tidak saling bicara. Jaa, Issei." Dan pintu atap tertutup.

Issei yang sendirian di atap menyentuh pipinya yang memerah akibat bogem mentah dari Naruto. "Haha, hahaha, HAHAHAHAHA!"

Ahh~, Naruto memukulnya.

Naruto ingin menjaga jarak darinya.

Naruto ingin meninggalkannya.

Naruto-nya!

"Baiklah, akan kuberi waktu. Untukmu kembali padaku, Naruto!"

.

.

.

.

.

Sejak saat itu hubungan Naruto dan Issei bisa dibilang hancur total. Mereka tidak lagi terlihat bersama di sekolah. Bahkan mereka tidak pernah saling sapa lagi. Orang-orang yang mengenal mereka tentu kebingungan dengan perubahan ini, karena Issei dan Naruto yang mereka kenal hampir tidak terpisahkan. Matsuda dan Motohama selaku sahabat Issei menanyakan alasannya, tapi Issei cuma menjawab kalau itu bukan masalah besar, mereka cuma menjaga jarak untuk sementara, bahwa mereka akan segera berbaikan dan kembali seperti semula, dengan nada ceria.

Dan mengikuti hal itu, Yuuto mengungkapkan hubungannya dengan Naruto saat seorang siswi menembaknya di kafetaria, membuat seisi sekolah gempar karena cowok idaman di Kouh ternyata berpacaran dengan manager tim sepak bola. Semua orang sebenarnya pernah mendengar rumor tentang hubungan mereka, tapi saat Yuuto sendiri yang mengklarifikasinya mereka tetap saja terkejut.

Sekarang para murid mulai mengaitkan mengenai kasus pacarannya couple Yuuto x Naruto dengan hancurnya hubungan Issei dan Naruto dengan berbagai jenis rumor.

.

.

.

3 bulan berlalu, ujian akhir semester dilakukan, dan kelas 3 menghadapi acara kelulusan, lalu dilanjut dengan liburan setelah ujian.

Acara kelulusan tahun ini bisa dikatakan sebagai heartbreak bagi banyak murid di Kouh karena idola mereka seperti 2 Onee-sama Rias dan Akeno, Prince of Kouh Yuuto, Duo OSIS Sona dan Tsubaki, Kapten klub basket Vali telah lulus dan tidak akan bersama mereka lagi di tahun ajaran mendatang.

Banyak siswa dan siswi yang memanfaatkan itu sebagai kesempatan untuk menyatakan cinta mereka, dan sebuah fakta mengejutkan bagi seisi sekolah karena ternyata Akeno dan Vali adalah couple.

Lalu mereka yang tidak menyerah meskipun tahu idola mereka sudah punya pasangan mendapatkan penolakan yang spontan. Bahkan Yuuto yang ramah, terang-terangan mencium Naruto ditengah kerumunan fans, menghancurkan hati para siswi dan sekaligus memberikan peringatan pada para siswa untuk tidak menyentuh Naruto setelah kelulusannya, karena bagaimana pun tahun depan Naruto masih akan menjadi murid di Kouh sebagai kelas 3, pasti akan ada yang berusaha merebut princess nya pikir Yuuto, untuk berjaga-jaga.

Bersamaan dengan itu, karena di acara kelulusan Naruto seharian bersama disamping Yuuto, dia tidak melakukan kontak sedikitpun dengan Issei, baik itu tatapan ataupun perkataan. Naruto berpikir ini sudah saatnya dia memaafkan Issei atau insiden di atap 3 bulan yang lalu. Dia merasa tidak enak harus mengabaikan Issei untuk selamanya.

.

.

.

Pada liburan hari kedua, Yuuto memutuskan untuk mengajak Naruto berkencan di amusement park. Kencan mereka berjalan dengan lancar, sangat romantis malah karena Yuuto sangat memanjakan Naruto dengan sikapnya yang membuat si gadis berkali-kali nge blush bak tomat.

Setelah kencan mereka berakhir, Yuuto mengantarkan Naruto sampai ke depan rumahnya.

"Arigato, Yuuto-kun. Hari ini sangat menyenangkan," ucap Naruto dengan senyum cerah.

Yuuto tersenyum melihat tuan putrinya bahagia. Dia merentangkan tangannya dan Naruto tanpa bertanya langsung mendekap lelaki itu.

"Syukurlah kau menyukainya. Setidaknya aku ingin melihatmu tersenyum puas sebelum aku harus fokus ke test universitas. Aku tidak akan bisa menemui untuk beberapa saat setelah ini," ucap Yuuto dengan nada sedih.

"Hmm aku akan merindukanmu. Karena itu setelah tes mu selesai, jenguk aku."

"Haha, tuan putri ku ternyata cukup manja."

"… kau ada masalah dengan itu?"

"Tidak, justru aku makin menyukaimu."

"… Aku tidak akan memaafkanmu jika kau menggunakan kata-kata itu pada gadis lain di universitas."

Naruto mengeratkan pegangannya pada baju Yuuto. Pemuda itu tersenyum mendengar ancaman dari gadis imut dipelukannya.

Yuuto melepaskan pelukan Naruto lalu berlutut di depannya. Dia memegang salah satu tangan Naruto dan menatap matanya.

"Naruto, sejak pertama kali aku melihatmu di upacara penerimaan 2 tahun yang lalu, aku telah jatuh cinta padamu. Lalu saat kau menerimaku 4 bulan yang lalu adalah momen paling membahagiakan di kehidupan SMA-ku. Karena kau telah membahagiakanku, aku ingin memberikan kebahagiaan yang lebih besar untukmu," ucap Yuuto mencurahkan segala emosinya.

Naruto bersyukur Yuuto tidak melakukan ini di taman hiburan, jika dia melakukan ini ditengah orang banyak, Naruto tidak yakin apakah dia masih sanggup berdiri tegak karena rasa malunya. Sementara itu, Yuuto meneruskan kalimatnya.

"Aku yang sekarang belum punya apa-apa karena itulah aku akan berusaha, lulus dari universitas secepatnya dan mendapatkan pekerjaan. Dan jika saat itu tiba, Naruto, maukah kau menjadi istri ku?"

Naruto menitikkan air mata. Tersentuh atas ketulusan pemuda didepannya. "Haha, baka, kau melamarku terlalu cepat. Menurutmu berapa tahun yang diperlukan untuk lulus dari kuliah dan mencari pekerjaan?" ucap Naruto tertawa kecil.

Yuuto tertawa kikuk. "Ahaha, aku tahu itu tapi aku serius ingin menikahimu. Aku benar-benar mencintaimu."

Naruto berhenti tertawa. "Aku juga mencintai Yuuto-kun. Kuharap kau mengulang lamaran ini beberapa tahun kedepan secara resmi karena aku akan menjawab 'Yes' untuk yang sekarang," jawabnya tersenyum.

Yuuto berdiri dan memegang pipi Naruto. "Boleh aku menciummu?"

Naruto mengangguk dan memejamkan matanya. Yuuto yang mendapat lampu hijau mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka.

.

Mereka berdua tidak sadar, ada seseorang yang memandang mereka dari kegelapan dengan tatapan kebencian.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian, polisi datang ke rumah Naruto membawa kabar mimpi buruk. Bahwa Yuuto Kiba telah dinyatakan meninggalkan dunia.

Mayatnya ditemukan terkubur di taman dengan kondisi yang mengenaskan. Mengenai hasil autopsi, waktu kematian sudah terjadi sekitar 3 atau 4 hari yang lalu, bertepatan dengan hari terakhir Yuuto berkencan dengannya. Penyebab kematian adalah luka tusukan benda tajam di dada korban dan dapat disimpulkan bahwa ini adalah kasus pembunuhan. Polisi meminta Naruto untuk memberikan kesaksian atau petunjuk mengenai kasus tersebut, tapi Naruto mengakui dia tidak tahu apa-apa setelah Yuuto mengantarkan Naruto pulang. Polisi menyudahi wawancaranya pada dan mereka pun pulang.

Naruto lantas menangis histeris mendengar kabar itu dan dia menutup diri rumahnya hingga hari liburan berakhir.

.

.

.

.

.

Liburan berakhir, tahun ajaran baru dimulai, upacara penerimaan murid baru dilakukan di SMA Kouh. Semua orang terkejut mendengar kabar kematian Yuuto dan rumor-rumor mulai beredar mengenai Naruto yang tidak menghadiri acara penerimaan murid baru.

Teman-teman Naruto yang khawatir mencoba mendatangi rumah Naruto, tapi mereka tidak mendapatkan respon, seakan tidak ada orang dirumah. Bahkan sampai ada seorang yang nekat mendobrak pintu dan mencari kesekeliling rumah, tapi mereka tidak menemukan jejak gadis itu dimana-dimana.

Mereka melaporkan kasus hilangnya Naruto ke kantor polisi dan tim pencari pun dikerahkan. Orang-orang terdekat Naruto ditanyai dan bahkan Issei tidak luput.

Semua orang tahu kalau Issei adalah teman masa kecil Naruto jadi mereka berpikir Issei pasti tahu sesuatu. Issei tampak lesu, seperti dia tidak beristirahat. Saat mereka menanyainya, Issei menjawab dia sudah mencari Naruto kesemua tempat yang diketahuinya, tidak hanya sekali dia bahkan berulang kali mengecek tempat yang sama hanya untuk berharap mendapatkan petunjuk dari keberadaan teman masa kecilnya. Polisi tidak dapat menemukan petunjuk apa-apa dari orang-orang yang mengenal Naruto.

Hingga akhirnya pencarian dihentikan, dan poster Naruto yang menghilang dibagikan di kota-kota sekitar Tokyo. Orang-orang berspekulasi kalau Naruto menghilang dan bunuh diri di suatu tempat karena syok yang dialaminya akibat kehilangan sang kekasih Yuuto Kiba.

.

.

Jika saja mereka mengetahui hal yang sebenarnya …

.

.

.

.

.

Di sebuah kamar dengan penerangan yang minim, di atas tempat tidur berukuran sedang, seorang gadis terbaring lemah dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya dan borgol rantai yang terikat di pergelangan kaki kirinya. Pandangan matanya sayu dan tanpa cahaya. Dia hanya terfokus pada pintu kamar ini seakan dia sedang menunggu seseorang.

'Ceklek'

Pintu itu terbuka dan seorang pemuda masuk dan kemudian mengunci pintunya.

"Is…sei." Gadis itu membuka mulutnya entah dengan sadar atau tidak.

"Are? Naruto kau sudah bangun? Maaf, apa kau menungguku? Aku membawakan makanan, kau pasti lapar kan?"

Pemuda itu memberikan pertanyaan beruntun dengan polos sambil menunjukkan kantong belanja yang dibawanya.

"…" Gadis yang terbaring di tempat tidur, Naruto, tidak menjawab satupun pertanyaannya, tapi pandangan terfokus pada gerak-gerik Issei. Issei mendekati Naruto, membantunya untuk bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Naruto menurut, layaknya sebuah boneka hidup tanpa jiwa. Dia bahkan tidak menutupi dirinya yang hanya mengenakan pakaian dalam dihadapan Issei.

Issei mengambil sebuah kursi kecil dan mengambil sekotak bento dari dalam kantong belanjaannya. Menyumpit sesuap nasi lalu mendekatkannya ke mulut Naruto. Naruto melahap nasi makanan yang diberikan Issei padanya tanpa protes.

Setelah isi bentonya habis, Issei menyodorkan sebotol minuman kepada Naruto. "Minumlah." Tapi kali ini Naruto tidak bergerak mengikuti perintahnya.

Issei hanya tersenyum. Dia membuka tutup botol tersebut, meminum isinya dan menahannya di mulutnya. Lalu kemudian memegang pipi Naruto dan mendekatkan wajahnya. Bibir mereka bertemu dan Naruto dipaksa untuk meneguk air yang diberikan oleh Issei lewat ciuman itu.

Issei melepaskan ciumannya dan mendorong Naruto berbaring ditempat tidur dengan Issei meletakkan kedua tangannya di samping kepala Naruto, memperhatikan wajah cantik Naruto yang telah kehilangan cahaya kehidupan di kedua bola matanya.

"Ahhh, Naruto. Setelah menciummu aku merasa bersemangat. Aku ingin memakanmu, Naruto."

"…"

Naruto tidak menjawab. Dia tidak perlu menjawab. Karena bahkan jika dia menjawab, hasil akhirnya tidak akan berubah. Issei melepaskan pakaiannya satu persatu hingga hanya tersisa boxer yang memperlihatkan sesuatu yang mengeras di bagian depannya.

Issei mencium dada Naruto yang masih tertutup oleh bra dan memijat salah satunya dengan tangannya. "Orang-orang bilang, dada wanita akan membesar saat mereka mulai menghasilkan ASI. Aku ingin membuktikannya," ucap Issei mengadah melihat wajah Naruto yang tidak menunjukkan emosi.

Issei tidak dapat menahan nafsunya lagi, dia menyingkir kain yang tersisa ditubuhnya dan mulai menyetubuhi Naruto.

"Uhh … ahh … ahh .."

Meskipun Naruto tidak ingin mengeluarkan suara, tapi tubuhnya melakukan hal itu secara refleks tiap kali Issei menghantamnya dengan keras dan kasar.

Naruto tidak ingat sudah berapa hari berlalu sejak dia berada diruangan ini.

Sudah berapa kali tubuhnya di perkosa oleh seseorang yang dia kenal sebagai teman masa kecilnya.

Sudah berapa kali dia menangis terisak memohon Issei untuk berhenti.

Sudah berapa kali dia meminta Issei untuk melepaskannya.

Dia tidak dapat mengingat semuanya lagi.

Pada titik ini, masihkan bisa Naruto dikatakan 'hidup'?

Naruto menitikkan air mata yang bahkan dia tidak sadari masih tersisa. Dia berharap dia bisa mati daripada terkurung disini bersama 'iblis' yang menyerupai sosok Issei.

'Yuuto-kun, gomen,' batin Naruto terluka, karena dia menyadari penyebab kematian Yuuto adalah Issei yang terpicu karena Naruto. Secara tidak langsung dialah yang membuat laki-laki yang mencintainya dengan tulus terbunuh.

.

.

.

Setelah Issei melepaskan benihnya di dalam rahim Naruto untuk kesekian kalinya, Issei berbaring disamping Naruto setelah menyelimuti tubuh mereka yang tidak mengenakan sehelai benangpun. Issei memeluk tubuh Naruto dari balik selimut, merasakan kehangatan natural dari gadis yang dulunya seperti matahari.

Meskipun dia kehilangan cahaya kehidupan dimatanya, tapi Naruto masih hangat seperti dirinya yang seharusnya. Dia hanya kehilangan emosinya, tapi bagi Issei dia tetaplah Naruto yang dia cintai, wanita yang akan menjadi ibu bagi anak-anaknya, apapun yang terjadi.

Masih segar di ingatan Issei hari pertama dia menculik Naruto dan memperkosanya.

Bagaimana gadis itu mencoba melawannya sekuat tenaganya.

Bagaimana dia mendesah setelah Issei menyatukan diri mereka.

Bagaimana dia menahan emosinya saat mengetahui itu bukan pengalaman pertama Naruto.

Bagaimana dia berpikir dia bisa membunuh Yuuto berkali-kali untuk memuaskan kekesalannya.

Naruto adalah miliknya, tidak peduli apakah Naruto menerimanya atau tidak, hal itu tidak akan mengubah keputusan Issei.

"Aku mencintaimu, Naruto."

Issei tidak akan melepaskannya. Naruto yang membuat Issei merasakan emosi seperti ini, jadi sudah sewajarnya dia bertanggung jawab bukan?

Dengan terus hidup bersamanya. Selamanya.

.

.

.

.

END

.

.

.

Be Mine Series

Childhood Obsession

Disclaimer: Naruto and DxD (Their Respective Owner)

Pair: Issei x Fem!Naru, slight Yuuto x Fem!Naru

Genres: Hurt/comfort, Drama, Romance, School Life

Tags: Yandere, Netorare, Rape, Abuse, Childhood Friends, Fem!Naru, AU, AR, Story Collection

.

.

.

Ahhh, saya tidak tahu apa yang merasuki saya hingga membuat fict begi— Okay that's a joke, saya sangat sadar atas apa yang saya buat. Nama saya Yuri Loves Yuri, tapi aslinya saya full blown suka hampir semua fetish kinky, kecuali Yaoi. Genre favorit saya jelas Yuri, tapi saya juga suka dengan Yandere.

Setelah menulis fict ini saya seriusan merasa bersalah karena telah membunuh Yuuto dan membuat kondisi Naruto ngenes karena yandere Issei, mungkin lain kali akan saya tulis mengenai mereka yang endingnya bahagia.

Dan seperti yang tertera di judul, Be Mine Series, jadi fict ini akan menjadi kumpulan fict one shot atau semacam antologi dengan berbagai pair crack ship di fandom crossover Naruto x DxD dengan fokus cerita memuat Yandere atau setidaknya obsessive/possessive love.

Untuk chapter pertama saya memulainya dengan Issei x Fem!Naru, karena ya pair ini memang saya belum pernah ketemu. Palingan cuma Naru x Fem!Issei yang sudah berapa tahun lewat itu dari Shinn-senpai.

Selanjutnya mungkin Yuuto x Fem!Naru, atau Vali x Fem!Naru, atau Rias x Fem!Naru, or Harem x Fem!Naru?

Yang jelas semua pair nya akan Fem!Naru, because I decided so, no objection allowed! Kalaupun pair nya nanti yuri, Naruto fix akan jadi uke, just because I want to bully Fem!Naru so much!

So jika kalian ada request, bisa ditinggalkan di kolom komentar pair dan genre apa yang harus kubikin selanjutnya.

Salam dan sampai jumpa, bye bye.

- (YLY, Sept 19th, 2021)