Ore no Imouto

Dislcaimer: I don't own Naruto

Warning : AU, AR, OCC, Incest dan masih banyak lagi.

.

.

GearPhantom97


Perpustakaan Sekolah.

"Ini bukan urusan mu senpai." ahh, sudah berapa kali aku mendengar jawaban yang sama dari mulut adik kelasku ini. Shiina Mahiro, berapa kali pun kau menyembunyikannya, kau tidak bisa menipuku dengan wajah datarmu yang sekarang ini. Kau saat ini begitu gelisah dan berusaha memalingkan wajahmu dariku, dan aku bisa melihatnya dengan jelas jika sedekat ini denganmu. Lagipula, aku dan kamu itu mempunyai ikatan tersendiri yang tak bisa dilihat oleh orang lain dengan jelas.

"Mashiro, tolong jangan disembunyikan, aku temanmu, 'kan?'' bukan kebetulan bukan juga sebuah takdir ketika Mashiro menghadapku dengan sebuah tatapan sendu yang aku yakini baru pertama ini aku melihatnya. Tatapan wajahnya yang biasanya datar itu melunak ketika aku mengatakan hal itu tadi, tempat duduknya yang berhadapan denganku ini sedikit dia geserkan agar tidak terlalu dekat denganku.

"Aku pergi." dia berdiri dan berjalan pergi begitu saja, aku sedikit putus asa ketika mendengar nada itu tadi dan mungkin saja dia pergi karena kesal denganku. Ah aku memang bodoh—dan ya!

Aku mengakuinya.

Aku mengambil beberapa uang dan berjalan pergi menuju tempat penghasil minuman dingin berada. Setelah menghabiskan minuman dinginku dengan pikiran yang kalu. Aku berjalan pergi dan mencoba sebisa mungkin untuk menyendiri dan berpikir apa yang harus aku lakukan untuk ke depannya.

Masalah yang datang semakin rumit, permainan takdir yang begitu sulit—juga tentang masalah cinta yang semakin runyam. Aku tidak bisa berpikir dengan positif jika hal ini semakin membebani pikiranku saat ini, bahkan segelas air dingin tadi pun tidak bisa mengembalikan pikiran normalku untuk mengobrol dan menguak fakta dengan diri Shiina Mashiro yang sesungguhnya.

Aku tidak tahu tentang caranya basa-basi, yang aku tahu hanya ingin cepat menyelesaikannya. Hal itu berlaku untuk diriku yang hari ini telah melukai perasaan Mashiro secara tidak sengaja. Yah, itu memang salahku. Seharusnya aku datang dan mencoba mengakrabkan hubunganku dengannya, bukannya malah ujungnya aku yang begitu terobsesi dengan jati dirinya yang menurutku sangat kesepian.

Dan semuanya menjadi sulit ketika aku mengajukan perkataan itu kepadanya. Bukan maksud untuk mencampuri urusan pribadinya, hanya saja aku tidak tega melihatnya seperti itu. Kita Manusia, dan aku tahu bagaimana Manusia itu bekerja di lingkungannya.

Manusia sebagai makhluk sosial, dan dari kata sosial itulah yang membuatku sangat khawatir mengenai Mashiro, bagaimana mungkin Mashiro tidak bergaul dengan teman-temannya sedangkan dia sendiri sangat membutuhkan bantuan mereka semua. Manusia tidak bisa hidup tanpa adanya bantuan orang lain, dan Mashiro tidak bisa hidup tanpa adanya bantuan teman, bukankah begitu seharusnya?

Aku heran dengannya, apakah dia tidak mempunyai teman perempuan satu pun!? Itu lebih buruk dari pemerkosaan! Bahkan terlalu buruk untuk dibayangkan! Aku tidak boleh membayangkan hal itu! Seharusnya aku membayangkan Mashiro yang tersenyum dengan teman-temannya bukan?!

Hah~ Sepertinya aku terlalu mencampuri urusan hidupnya, lupakan sajalah. Untuk saat ini, aku harus menyelesaikan urusanku sendiri yang begitu runyam untuk dipikirkan. Bagaimana pun juga, bagaimana caranya menjelaskan semua tingkah lakuku pada Kushina nanti. Apa mungkin...

Aku harus mengatakan perasaanku padanya?

..

0o0o0o0o0

..

Aku pulang sendiri, tanpa adanya Kushina yang dari dulu selalu menemaniku untuk pulang bersama. Ini buruk, dan aku tahu itu. Sepertinya Kushina juga tidak senang dengan caraku marah pagi tadi. Hah~ Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi setelah ini, tapi melihat wajah Kushina yang ternyata sudah pulang duluan ke rumah, entah kenapa terasa begitu canggung untuk menatapnya.

Padahal kupikir masalahku dengan Kushina sudah selesai kemarin sore. Tetapi ternyata belum. Tolong salahkan saja aku yang begitu kepo melihat pesan baru yang muncul di gawai Kushina punyai pagi ini. Dan di pesan itu juga, aku telah kehilangan kesabaranku dan memarahinya…

Lagi.

Aku mendiaminya untuk sesaat, dan kulihat juga dia terlihat sibuk dengan telepon genggam yang bersarang di telinganya. Oh bagus, apa sekarang ini dia sedang berteleponan dengan pacarnya?! Ternyata memang benar mengenai pesan yang aku baca pagi tadi. Bahwa Kushina dan pacarnya, masih mempunyai rasa satu sama lain.

Mengetahui itu, tentu aku merasa dibodohi. Wajar saja kalau aku marah! Tidak ada yang salah dengan caraku ini bukan? Maksudku, lihat saja bagaimana Kushina bertingkah kemarin sore. Dia bilang bahwa hubungannya dengan pacarnya sudah berakhir, katanya juga dia lebih memilihku—tentu sebagai figur seorang kakak pada umumnya—daripada pacarnya yang tidak sopan itu.

Dan sekarang lihatlah! Dia terlihat menikmati sesi ngobrol virtualnya itu dengan senyuman gadis jatuh cinta pada umumnya.

Cuih! Menjijikan sekali.

"Oke, bye bye." aku menaruh sepatu sekolahku dalam rak sepatu yang bertepatan di bagian samping tepat pintu depan, dan sepertinya Kushina sudah selesai dengan urusannya. Ah lupakan saja, lagipula aku masih membencinya.

Aku berjalan menuju lemari pendingin demi mengambil segelas minuman dingin yang bisa saja membuat energiku kembali penuh setelah penatnya bersekolah. Aku tidak sengaja memandang wajah Kushina yang entah kenapa begitu pas dengan dia yang sedang menatapku, kami salah tingkah bersama dan itu sedikit membuatku merasa bodoh.

Ah sialan!

"Onii-chan." oh aku dipanggil ya, sekarang apa maunya dia kali ini?

"Ada apa?" aku berhenti sejenak demi meladeni sikap Kushina, dia menundukan wajahnya dan menyembunyikan paras cantiknya itu dengan rambut merah panjangnya. Dan kurasa dia baru pulang juga, lihatlah—bahkan dia masih memakai pakaian Sekolahnya.

"Maafkan sikapku Onii-chan, pasti aku yang membuat Onii-chan marah 'kan?" aku tersentak untuk sesaat dan menutup kedua mataku sejenak. Sialan, apakah aku memang selemah ini? Kenapa aku tidak bisa membencinya lebih lama lagi! Dan dengan sebuah senyuman kecil, aku mulai menatapnya kembali dengan nuansa hangat. Adik kecilku yang sangat aku cintai, kau tidak salah sepenuhnya—justru akulah yang salah sepenuhnya.

Aku menghadap kearahnya masih dengan sebuah senyuman, wajah cantiknya saat ini sedang memasang ekspresi memelas yang berhasil membuat hatiku luluh lantah oleh karenanya, aku mengisyaratkan Kushina untuk berdiri dan datang mendekat ke arahku. Dia terlihat bingung, namun dia berdiri dan mendekat ke arahku masih dengan wajah yang terlihat sedih untuk aku pandang—mungkin dia merasa bersalah kepadaku, padahal ini semua bukan salah dia.

Aku sedikit mendekat kearahnya dan dengan sehalus mungkin.

"Uhm? Onii-chan?!" aku memeluknya dalam kehangatanku, kehangatan seorang kakak yang telah ternoda cinta oleh adiknya sendiri. Aku mengelus surai merah panjangnya dengan tangan kiriku dan tersenyum dalam pundak kecilnya.

Aku tahu Kushina begitu terkejut ketika aku melakukan ini, bahkan aku merasakan dia begitu kaku untuk membalas pelukanku ini—lihatlah, bahkan dia begitu ragu untuk mengangkat kedua tangannya untuk mempererat pelukanku ini. Aku tidak akan mempermasalahkan hal itu, lagipula dengan diriku yang memeluk Kushina seperti ini saja sudah cukup, aku merasa bahwa aku sudah memiliki Kushina seutuhnya. Aku menangis terharu,

Dasar adik bodoh... betapa teganya kau membuat kakakmu jatuh cinta untuk beberapa kali kepadamu. Dasar adik yang bodoh.

"Ini semua bukan salah Kushi-Kushi, ini semua salahku. Maafkan aku ya, Kushi-Kushi." aku menempelkan dahiku pada dahinya dan mempertemukan mataku dengan matanya—kami sangat dekat sekali, dan aku sangat menyukainya.

"O-onii-chan, jangan terlalu dekat. A-aku malu."

"Memangnya kenapa? Aku kakakmu kan." aku memegang wajahnya agar Kushina tidak memalingkan pandangannya dariku. Untuk saat ini saja, ya. Hanya untuk saat ini saja, bolehkah aku bersama dengan adikku lebih lama dalam bercengkrama? Aku sangat menginginkannya.

"Iya sih… Onii-chan memang benar." aku tersentak sesaat ketika melihat senyuman kecil nan manis itu dari Kushina. Aku menutup mataku dan menyudahi pelukan ini dengan sebuah senyuman yang aku berikan kepadanya.

"Malam ini kau tidak sibuk 'kan?" tanyaku padanya memecah kegugupanku tadi.

"Eum… Sepertinya tidak, memangnya ada apa Nii-chan?"

"Kita makan malam di luar saja, sekaligus kita akan pergi ke taman buat refreshing." aku tersenyum kecil ketika melihat wajah bingung dari Kushina, sepertinya dia terlihat heran kenapa aku melakukan hal yang sangat jarang dilakukan olehku ini.

"Tidak biasanya? Bukankah Onii-chan sangat malas pergi dari rumah?" Ya, aku tahu itu.

"Sudah, pokoknya ikut saja ya. Ada hal penting yang akan aku bicarakan kepadamu."

"Hal penting apa? Kenapa tidak sekarang saja." aku memalingkan wajahku darinya, entah kenapa untuk menjawab pertanyaan ini membuatku gugup saja.

"Suasananya tidak tepat, nanti aku bicarakan di taman saja biar udaranya segar."

"Baiklah, tapi Onii-chan mandi dulu ya! Baunya bikin mual ttebane!" be-benarkah!?

"Jahatnya… apa sebau itu?"

"Huum! Bau keringat sama… bau cewek itu, Kushi gak suka!" tunggu… tunggu sebentar. Kenapa kau seakan bertingkah lebih cemburu di sini daripada aku sialan?! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, Kushina?

"Baiklah, Nii-chan mandi dulu." tidak akan ada habisnya jika ini kubahas sekarang. Lagipula jika kupikir-pikir lagi, Kushina memanglah adikku sendiri. Berharap apa aku dengan status yang sudah kodratnya seperti itu.

Tanpa membiarkan amarahku keluar, aku tersenyum kepadanya dengan sebuah perpisahan berupa cubitan kecil pada hidungnya, dan meninggalkan Kushina yang terlihat kesal dengan ulahku ini.

"Onii-chan nakal ihh!" aku tersenyum lagi. Dia memang tidak ada habisnya membuatku tertawa bahagia.

Tapi tunggu dulu. Dia kan masih memakai pakaian Sekolahnya—dengan kata lain dia juga belum mandi kan?! Ohoho, sekarang inilah pembalasanku kepadamu adik kecilku yang cantik.

"Kau juga belum mandi kan, Kushi-Kushi?"

"Aku sehabis Onii-chan saja." aku tersenyum jahil ketika mendengar itu.

"Kenapa tidak mandi bersama saja hum~"

"Oh baiklah, tunggu aku ya." Eehh… serius? Dia menyetujuinya? Tanpa bertingkah Tsundere atau semacamnya?! Di-dia bersungguh-sungguh kan?

"H-hey! Kita mandi bersama loh! Satu bak, dalam satu bak bersama!"

"Huum? Memangnya kenapa? Lagipula kita Kakak-adik." Hey hey hey, jangan bilang dia bersungguh-sungguh mau mandi bersama denganku! Dan kenapa juga jadinya seperti ini! Aku yang akan mengerjainya—tapi kenapa seakan-akan aku yang dikerjai balik olehnya ya!?

"Err, sepertinya aku mandi sendirian saja ehehe~"

"Eh, kenapa berubah? Onii-chan tidak mau mandi bersama denganku?" demi Madara-sensei menyanyikan lagu super idol, ini sama sekali tidak lucu! Apakah Kushina sedang mengerjaiku?

"Ti-tidak! Aku mandi dulu!" Ah! Persetan dengan Kushina yang terlihat sangat menggoda saat ini, aku mau mandi dulu saja.

"Tehehe~ Dasar Onii-chan mesum."

..

0o0o0o0o0

..

"Sudah siap?!"

"Hu'um." mungkin saja, ini adalah untuk beberapa kali pertamaku mengendarai sepeda motor dengan Kushina yang duduk dan memeluk tubuhku dari belakang. Aku tersenyum kecil dalam helm hitam yang aku pakai dan bergegas pergi menuju tempat makan yang murah dan dekat dengan taman di sekitar sini.

Malam ini, mungkin saja malam dimana aku melihat Kushina memakai pakaian yang menurutku sangat cantik—dia memakai dress selutut dengan tambahan celana panjang yang berwarna hitam mencolok. Sungguh cantik dan sungguh... menggoda.

Kushina dengan kecantikannya berhasil membuatku mengulang dosa yang terlukis di hati kelamku sebagai seorang kakak ini. Sungguh menyebalkan sekali, sudah berapa kali dia membuatku terpesona seperti ini—bahkan tidak ada bosannya aku terjatuh dalam pesonanya.

Dasar adik bodoh, kau membuat kakakmu menjadi gila seperti ini. Gila karenamu, andai saja ini hanyalah sebuah ilusi dunia—maka kau akan jadi milikku satu-satunya, Kushina. Dan mungkin saja mengurungmu dalam hatiku.

"Ichiraku Ramen?"

"Kupikir kau suka sekali dengan Ramen. Jadi ya, kita makan malam disini saja." aku membuka kaca helm yang sempat menutupi ekspresi wajahku demi memudahkanku berbicara pada Kushina.

"Humm… Baiklah." Kushina turun dari Motor dan disusul denganku yang juga menyusul turun dan berjalan mendekat kearah Kushina berada setelah memakirkan Sepeda Motor ini di tempat yang sudah disediakan.

"Ayo masuk." dan kami berjalan bersama menuju kedai yang bernama Ichiraku Ramen ini untuk makan malam bersama. Begitu kami sampai didalam, aku mencari tempat yang kosong dan menyuruh Kushina untuk duduk dan menungguku memesan makanannya. Tidak begitu lama setelah aku memesan Ramen untuk aku dan Kushina, aku menyusul duduk dengan Kushina yang kulihat sedang memainkan Ponselnya.

"Hey Kushina."

"Hmm?" Kushina membalas sapaanku dengan dia yang masih fokus dengan Ponselnya—ya ampun, apakah dia tidak tahu bahwa melakukan hal itu disaat seperti ini bisa merusak suasana yang ada. Huh, dasar adik bodoh.

"Ku—''

"Nii-chan, jangan ganggu aku dulu." buset, belum juga aku berbicara padanya. Hah~ memang perempuan itu sulit dimengerti, apa memang hanya aku saja yang mengartikan perempuan seperti itu?

—sepertinya tidak.

"Memangnya kau sedang apa?" Kushina menatapku sekilas kemudian dia kembali menatap Ponselnya lagi.

—hey, kenapa jadinya seperti ini. Mana kesan romantisnya coba?! Oh iya, aku lupa.. Dia kan, adik kandungku.

"Chatting-an."

"Dengan siapa?" aku menegakkan tubuhku dalam duduk ini ketika mendengar itu. Dia berani sekali mengganggu malam romantis antara kakak-adik ini. Sungguh keterlaluan sekali mengambil seluruh intensi Kushina dariku.

"Bukan urusan Nii-chan." Ya ampun, apakah dia masih marah padaku. Tapi bukankah tadi sore dia sudah baikan denganku, lalu apa yang terjadi dengannya saat ini. Apa mungkin dia kesal karena aku meninggalkannya demi memesan Ramen—tidak mungkin! Itu tidak masuk akal sekali. Tapi, apa mungkin dia tidak suka makan di kedai ini?

"Jadi kau masih marah denganku?" bagus, sekarang dia memandangku.

"Tidak kok, kenapa nyambungnya ke situ?" tidak heran jika aku nyambungnya ke arah permasalahan itu Kushina—dan lihatlah dirimu sekarang ini, kau seakan-akan muak duduk bersama denganku.

"Itu..." aku terdiam seketika, melihat wajahnya yang lugu seperti sekarang ini membuatku tidak bisa mengatakan apa yang ada di dalam hatiku ini.

"Hmm?"

"Lupakan, lanjutkan saja chatting-an mu." dan sampai kapanpun, aku tidak akan bisa membela perasaanku terhadap sikap Kushina kepadaku. Dia menganggapku sebagai Kakaknya—tidak lebih dan tidak kurang, dia tidak mencintaiku seperti aku yang mencintainya. Lalu buat apa dipermasalahkan jika saja Kushina acuh padaku, justru itu bagus. Aku bisa menghilangkan perasaan ini dengan cara Kushina yang membenciku.

"Onii-chan marah?!"

"Tidak, lupakan saja aku, lanjutkan ngobrolmu dulu. Nanti temanmu menunggu balasan terlalu lama." Kushina menatap ke arahku dengan sebuah senyuman kecil, entah kenapa hal itu membuatku merasakan firasat buruk.

"Bukan teman, tapi pacarku yang sempat aku singgung kemarin." Begitu ya.

"Gomen, Nii-chan. Sepertinya aku tidak bisa memutuskannya secepat ini, hehe." Kushina tersenyum kepadaku, lalu haruskah aku tersenyum juga kepadanya sambil mengatakan 'ya itu bagus' dengan mudahnya?

"Um, ya… itu tidak akan menjadi masalah bagiku." aku memandangnya cukup dalam.

"Kita makan malam dulu ya, Kushina." dan aku tahu, melakukan hal itu perlu perjuangan yang tinggi agar tidak terlihat janggal di depan wajah Kushina. Aku Kakak yang payah—dan aku tahu itu, aku sama sekali tidak menyangkalnya. Aku memang payah.

..

0o0o0o0o0

..

Aku terdiam menatap gemerlap lampu yang terpancar warna-warni di Taman Konoha ini. Sangat cantik dan indah di waktu bersamaan, banyak pengunjung maupun pasangan yang hadir disini hanya sekedar menghabiskan waktunya bersama maupun hanya sekedar jalan-jalan biasa.

Dan dari sekian banyaknya kategori orang yang datang ke sini dengan tujuannya yang bisa di tebak, maka akulah satu-satunya orang yang datang ke sini dengan tujuan yang tidak bisa ditebak oleh orang lain. Aku mempunyai tujuan tersendiri untuk datang kesini, bukan untuk jalan-jalan—bukan juga untuk berduaan bersama dengan Kushina.

Tapi aku menginginkan sebuah fakta klasik yang ada pada diri Kushina terhadapku. Aku ingin mengetahui lebih dalam lagi mengenai adikku, aku ingin tahu segalanya tentang adikku, dan aku ingin tahu... siapa nama pacarnya.

"Onii-chan."

"Oh! Ah ya, ada apa?"

"Seharusnya aku yang bilang itu, memangnya Onii-chan sedang memikirkan apa sih sampai bengong begitu?!" Oh... sepertinya aku berpikir terlalu dalam, ah ya ampun aku ini sangat memalukan sekali.

"Tidak, hanya saja... apakah benar kau masih dengan pacarmu?" Kushina berdecak kesal, mungkin saja dia kesal padaku dengan aku yang sudah jelas mengetahui jawaban dari perkataanku.

"Tentu saja, memangnya seperti Onii-chan yang jo—!"

"Kushina..." Aku tidak tahan mendengar semua itu, dari sekian banyaknya jawaban yang ingin aku dengar—aku tidak ingin mendengar jawaban dengan nada ketus seperti itu. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu.. itulah kenapa aku melakukan ini, Kushina.

"Ke-kenapa Nii-chan," Aku tahu aku salah, biarlah kau membenciku Kushina.

"Kenapa kau menciumku!" Aku memeluknya, tidak berani menatapnya—setelah apa yang aku lakukan tadi padanya. Entah dapat keberanian mana aku bisa melakukan hal itu, namun yang jelas, aku sangat menyesal telah melakukannya. Aku... telah menodainya dengan bibirku yang kotor.

"Aku menyayangimu," lebih tepatnya mencintaimu.

"Aku tidak mau kau memiliki pacar Kushina," karena kau hanyalah milikku.

"Kenapa?"

"Entahlah, yang jelas aku tidak mau kau mempunyai pacar untuk saat ini. Aku sayang padamu, sangat sayang bahkan aku tidak tega melihatmu bergandengan tangan dengan pacarmu jika itu terjadi nanti." Aku terdiam untuk beberapa saat.

"Apa Onii-chan sedang tidak waras?!" detakan jantungku berlipat ganda ketika Kushina mengatakan itu.

"Silakan ejek aku sepuasnya, pukul aku jika itu bisa membuatmu baikan Kushi—" aku menahan rasa perih ketika tangan kecilnya menampar pipiku, dan mencoba menahannya kembali ketika tamparan kedua kembali bersarang di pipiku lagi.

"Dasar Onii-chan bodoh, hiks.. Siscon!" Aku mencoba menahannya kembali, kemarahan Kushina kali ini begitu besar, bahkan membuatku meringis kesakitan oleh karenanya. Tapi, itu tidak masalah denganku—asalkan perasaan Kushina menjadi lebih baik lagi dan tenang.

"Bodoh." Kushina memelukku dalam tangisnya.

"Ya, aku bodoh. Bahkan terlalu bodoh hingga membuatku tidak rela kau menjadi milik orang lain." aku membalasnya dalam keraguanku, tanganku—apakah pantas memegangnya dan mempererat pelukan ini setelah pengakuan yang aku lakukan tadi? Sungguh, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi selain membalas pelukannya yang tiba-tiba ini.

"Aku sudah menjadi milik orang lain Nii-chan,"

"Putuskan saja hubunganmu dengannya, aku sama sekali tidak mampu melihatmu bersamanya Kushina. Aku tidak ingin, kau dimiliki oleh orang lain!"

"Kenapa bisa begitu, aku adikmu bukan!?" Aku menatapnya sendu, wajahnya yang cantik itu terlihat menyedihkan saat ini—dan akulah dalangnya, akulah yang telah menodai wajah cantiknya dengan perkataan busukku, sungguh terkutuklah diriku ini!

"Ya, kamu adalah adikku. Makanya akulah yang lebih menyayangimu, lebih dari apa yang kau tahu."

"Kalau Onii-chan sayang padaku, pastinya memperbolehkan aku berpacaran bukan?!" Ini berbeda dengan opinimu terhadap diriku Kushina, aku berbeda dengan pemikiranmu.

"Tidak, tetap saja aku tidak mau kau berpacaran Kushina."

"Lalu apa hak Onii-chan melarangku untuk menjalin cinta dengan orang lain." Aku tersentak, ya betul juga. Apa hak-ku yang melarangnya untuk menjalin cinta dengan orang lain, aku memang egois.

"Tidak, tidak ada hak apa pun." Kushina memukul dadaku, begitu keras bahkan membuatku meringis sedikit dan memeganginya dengan tangan kiriku. Dia menatapku dengan wajah yang penuh akan kekesalan dan juga dengan air mata yang menodai wajah cantiknya.

"Onii-chan no baka!" ya aku tahu kalau aku bodoh, kau tak perlu menekannya lagi dengan berteriak lantang seperti itu Kushina. Lagipula, fakta memang kau adalah adikku. Oleh karena itulah, aku sangat memperhatikanmu dengan caraku sendiri.

"Kushina… Maafkan aku."

..

0o0o0o0o0

..

Aku bodoh, aku sangat bodoh. Aku adalah Kakak terbodoh di dunia ini. Kenapa bisa aku memperburuk lagi hubunganku dengan Kushina setelah rujukan tadi sore, kenapa ini yang terjadi—kenapa dari sekian banyaknya spekulasi yang aku pikirkan, bisa terjadi kejadian ini.

"Sialan!" aku tidak tahu lagi harus berbuat apa setelah Kushina meninggalkanku pergi dari Taman dan mengatakan ingin menginap di rumah temannya—dan aku sama sekali tidak bisa mencegahnya melakukan hal itu.

Karena aku tahu, bahwa dia sedang kesal dan marah padaku setelah semua yang aku lakukan padanya, dan entah kenapa juga aku bisa menciumnya. Kurang ajar, aku tidak pernah menduga bahwa nafsuku sudah tidak bisa aku kontrol lagi dengan bebasnya—dan ini sangat berbahaya.

"Kurang ajar sekali! Bodohnya aku!" aku mengumpat pada derasnya angin yang aku lalui dengan sepeda motorku yang aku kendarai dengan kecepatan yang lumayan tinggi, helm hitam dengan kaca yang kubiarkan terbuka untuk memudahkanku melihat gelapnya jalan di malam hari semakin membuatku leluasa untuk berteriak tanpa ada keraguan terdengar oleh orang lain.

Bahkan aku tidak ada niatan sedikit pun untuk kembali pulang ke rumah pemberian nenekku, Tsunade. Dan yang bisa aku lakukan sekarang ini adalah pergi ke rumahnya Sara yang tidak begitu jauh dengan rumahku berada dan berharap bahwa Sara bisa menenangkanku dengan omelan supernya.

Tok! tok! tok!

"Ya tunggu sebentar—eh," begitu pintu rumah Sara terbuka, aku bisa melihatnya memakai pakaian rumahnya yang mungkin bagi sebagian orang terlihat sangat seksi. Tetapi, semua itu tak ada artinya bagiku.

"Naruto? Kenapa kau ada di sini?"

"Sara…" pada akhirnya aku tidak bisa menahan luapan emosiku, dan berakhir memeluk tubuh rampingnya.

"Eh, are! Na-Naru! Kenapa kau memelukku ehhhh!?" maafkan aku yang akan membuatmu repot malam ini, tetapi aku tidak tahu siapa lagi yang akan aku temui di kala hatiku sedang gelisah seperti ini kecuali dirimu, Sara. Kau boleh saja memukulku nanti, tapi setidaknya untuk malam ini.

Ya hanya untuk malam ini saja, biarkanlah kamu yang menjadi alasanku untuk pergi dari emosi batinku yang tersiksa ini.

"Kumohon, izinkan aku menginap di rumah mu malam ini." bisikku padanya. Berharap sekiranya dia membolehkan sikap egoisku ini untuk sesekali.

"Ta-tapi, di rumahku sedang kosong! Ayah dan ibu ku—"

"Bukankah itu lebih bagus?"

"Ehh…?"

.

.

.

TBC

A/N: Hubungan mereka labil emang, ya namanya juga saudara hehe. Well, ke depannya mungkin akan lebih complicated. Next update Deadly Monarch!