Deadly Monarch
Disclaimer: Naruto and DxD not mine
Warning: AU, AR, OOC, Typo(s), and many more…
Rate: M
.
GearPhantom97
Kerajaan Cyan.
Bertempat di Frozen Land, di mana hampir seluruh daratan terselimuti oleh dinginnya salju, tidak menjadikan Kerajaan Cyan terpuruk dengan kondisi lingkungannya itu sendiri. Keterbatasan dalam hal mengolah tanah dan bercocok tanam, menjadikan mereka memutar otak hingga pada akhirnya sukses dengan mengirimkan beberapa Hunter sebagai pengumpul harta kerajaan.
—adalah penghasilan utama mereka selain usaha penginapan dan wisata yang ada di sini. Tak heran, Kerajaan Cyan yang dinilai mampu dalam hal memajukan sektor perekonomiannya membuatnya berdiri menjadi kerajaan besar, dan menjadi penopang empat kekuatan kerajaan besar yang ada di benua ini.
Ditambah dengan adanya sosok peramal agung yang bisa meramal nasib mereka, membuat kerajaan ini semakin naik daun. Namun pada malam ini semuanya berubah. Langit telah berubah menjadi abu hitam yang sangat mematikan. Raja Cyan dalam duduknya termenung, agak sedikit risau dengan keadaanya saat ini.
"Kenapa sang peramal bisa kabur?!" tampaknya nasib tidak berpihak baik kepada Raja Cyan, setelah dua minggu lalu ia mendapatkan kabar bahwa salah satu petinggi dari jajarannya mati, kini dia harus meringkuk pada permasalahan baru yang sangat-sangat ingin raja hindari.
"Am-ampuni saya Yang Mulia! Sa-saya benar-benar tidak tahu kenapa Peramal Agung bisa kabur! To-tolong maafkan saya!" ujar sang pelayan yang bergetar ketakutan melihat pandangan raja besarnya. Pelayan itu meringkuk, mengatupkan kedua tangannya memohon ampun.
Raja Cyan tidak tinggal diam, kemudian tangan yang terpasang lingkaran dari logam berharga terdengar, satu tangannya kini teracung ke depan bersama dengan titahnya yang maha menggelegar bagi bawahannya.
"Aku tanya, kenapa kau bisa kehilangan pengawasan mu darinya!" seru sang raja marah. Para prajurit yang berjaga di ruangan takhta mulai mengeratkan pegangan pada senjatanya, mereka bersiap siaga pada kemungkinan terburuk dari titah rajanya yang bisa saja menyuruh mereka untuk langsung mengeksekusi mati pelayan bodoh itu.
"Ha-hamba minta maaf! Hamba sungguh be—" sebelum pelayan itu menyelesaikan perkataannya, terjadilah gempa kuat yang bahkan pondasi kerajaan pun dibuat bergetar akibat gempa tersebut. Seluruh pengawal langsung berlari dan mengamankan rajanya. Dua di antaranya langsung mengunci pelayan tadi agar tidak membiarkannya kabur.
Mereka panik, namun tidak sepanik Raja Cyan yang mengkerut ketakutan di dalam duduknya. Selama lebih dari ratusan tahun lamanya, ia tidak menyangka kalau gempa ini akan terjadi lagi. Gempa yang raja yakini berasal dari gunung putih di sebelah utara kerajaannya, yaitu Gunung Kokuo. Gempa yang juga merupakan pertanda buruk bagi dirinya sendiri.
Namun fokusnya sekarang ini bukan pada gempa itu, akan tetapi pada sesuatu lain yang ia rasakan. Sesuatu yang begitu sangat menusuk pori-pori kulitnya hingga membuatnya merinding.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi!" nafasnya memburu, pupil matanya mengecil bersama dengan getaran tubuh yang tidak bisa ia kontrol, keringat emas raja kini mengucur membasahi tubuhnya.
Dia sungguh tidak menyangka, kalau hari-hari terburuk itu akan terjadi pada hari ini. Raja terdiam berpikir, kaburnya peramal yang secara tiba-tiba juga membuatnya berspekulasi kepada satu hal yang sungguh ia yakini benar adanya. Si peramal itu sudah mengetahuinya, ya si gadis peramal itu sudah mengetahui kalau sosok bayangan besar akan bangkit di daratan ini!
'Brengsek kau!'
…
0o0o0o0o0
…
Lentera kehidupannya telah padam, maka sudah tidak ada harapan lagi bagi Naruto—sang pemuda yang memiliki supremasi atas kekuatan bayangannya itu— untuk berhenti dan menahan diri terhadap halangan yang saat ini menghadangnya. Ia berdiri tegak dengan ribuan pasukan bayangannya yang berjejer di belakangnya. Pendar biru dari wajah mereka mulai menyinari gelapnya malam di hutan hantu ini, dan mulai mendominasi hawa magis dari keseluruhan tempat ini.
Binatang buas pun sampai bermigrasi, beberapa Demon Yeti dan mahkluk jenis lainnya terpontang-panting keluar dari persembunyiannya hanya untuk kabur dari injakan sang pemangsa. Pemangsa bayang yang akan menggerogoti mereka sampai ke akar-akarnya. Dari situ Naruto tahu, bahwa tindakan yang ia ambil adalah benar.
Sudah seharusnya mereka lari dan takut kepadanya.
Sudah seharusnya mereka mati dan menjadi bawahannya.
Sudah seharusnya mereka tunduk hanya kepadanya.
Lalu… kenapa hanya satu orang yang tidak mau lari darinya.
Dan kenapa harus sosok itu yang harus menghadangnya.
"Apa yang kamu lakukan, Naruto-san!" Naruto benar-benar tidak habis pikir dengan permainan takdir yang Tuhan tuliskan untuknya. Ia bingung, kenapa juga Tuhan hobi sekali menyiksanya seperti ini. Naruto sungguh tidak tahan lagi, ia muak—dengan segalanya. Takdir, kematian, dan apapun itu mengenai cinta.
"Pergilah…" Ia sudah muak.
Naruto tidak akan membutuhkan bantuan dari sang penguasa! Naruto juga tidak akan lagi meminta kematian! Dan ia, tidak akan lagi menerima cinta dari mahkluk mana pun!
Maka dari itu, halangan yang ada di depannya harus mati! Ya, dia harus membunuh seluruh halangan yang mengganggu seluruh kehendaknya. Ia tidak akan berbelas kasihan lagi, sudah cukup dia bermain lunak akhir-akhir ini. Menurutnya dunia ini terlalu kejam, dan dunia jugalah yang membuatnya berakhir seperti ini. Maka dari itu…
"Emilia!" kematian dari gadis lugu yang ada di depannya akan menjadi bukti bahwa dunia dan kematian itu tidak memandang apa pun bentuknya. Dan dialah satu-satunya sosok yang akan mengangkat nama kematian itu sendiri ke ranah puncak di mana semua orang bisa mengetahuinya.
"Naruto-san?!"
Gadis ini harus mati.
…
0o0o0o0o0
…
Malam hari ini menjelma menjadi layar hitam yang mengerikan. Bertabur bubuk kengerian yang senantiasa ada di setiap jengkal kerajaan. Ditambah dengan hawa dingin yang menyentuh puncaknya, sungguh orang bodoh mana yang pergi meninggalkan perapian rumahnya hanya untuk berlari di tengah hutan bersalju. Seperti apa yang dilakukan oleh sosok sang pemakai jubah kusam ini.
Dia terlihat berlari. Berusaha melewati tebalnya salju hitam yang berguguran di awan akibat murkaan sang pembawa bencana yang akan dia hadapi nanti. Entah ia akan mati itu urusan belakang. Yang jelas, dia harus menemui sosoknya.
"Hah! Uhk! Aku harus pergi!" ujarnya terengah-engah.
"Aku harus menemui-Nya!" dan berhenti berbicara tatkala pasukan udaranya ia jadikan bahan bakar untuk membuatnya berlari semakin cepat.
Lagi pula ini salahnya. Ya! Ini salahnya karena telah membuat sang raja dari kematian mengamuk mengerikan seperti ini. Ia memang sudah menduga jikalau sosoknya akan bangkit di tanah ini, seperti apa yang diwangsitkan oleh mimpinya. Tetapi yang ia tidak duga adalah kenapa harus sekarang? Dia bahkan tidak sempat menyiapkan persembahan untuk sosok agung seperti-Nya.
Lalu apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengannya nanti? Apa yang harus peramal agung ini lakukan untuk merayakan kebangkitan sosoknya di dunia ini nanti?
Ia bingung. Sungguh bingung sekali.
"Raja!" dan pada akhirnya ia hanya bisa pasrah. Ia bersimpuh, menahan segala rasa takut juga rasa bersalah dihadapan rajanya yang berlumuran darah hitam. Seribu lebih pasukan bayang rajanya mulai membantai makhluk-makhluk tak berdosa yang ada di hutan ini dan membangkitkannya kembali menjadi pasukannya.
Hentakan mereka terlalu mengerikan hanya untuk dijabarkan olehnya. Tidak, bukan hanya mereka saja. Tapi dominasi aura yang paling mengerikan justru lebih datang dari pemuda ini. Ia sosok sang agung yang dinanti-nanti kebangkitannya, dialah yang telah menyeret seluruh makhluk untuk tertunduk kepada-Nya di zaman dulu. Siapa lagi kalau bukan Raja dari bayangan! Sahabat Kematian! Sang Shadow Monarch!
Glup!
Ia menelan ludahnya sekeras menelan gumpalan kertas. Aura ini tidak biasa, sungguh kelam. Bahkan jika saja salju memiliki rasa takut, ia sudah pasti akan menyingkir karena sungguh...
Apa yang dirasakan sang peramal agung ini rasakan adalah bentuk puncak dari segala kengerian yang ada di dunia ini.
"Siapa kau." Nadanya dingin. Bahkan melebihi dinginnya es yang ada di dataran ini. Kalian boleh saja mengatakan kalau dirinya lemah atau terlalu melebih-lebihkan.
Kalian boleh menghinanya kalau kalian mau, karena apa yang dia rasakan ketika mendengar itu adalah sebuah titah mutlak dari sosok terkuat yang ada di dunia ini. Siapa pun yang mendengarnya tidak pantas merendahkannya. Mereka tidak boleh memandang sepele satu kata yang keluar dari titah sang makhluk yang berdiri di atas puncak ini.
Tidak.
Tidak ada puncak bagi kekuatan rajanya. Ia melebihi dari puncak itu sendiri!
Sosok ini tidak mempunyai batasan kekuatan. Dia terlalu kuat hanya untuk disebut sebagai makhluk! Dia terlalu mengerikan hanya untuk disebut sebagai manusia.
'Gila! Ini gila!'
Satu dari pasukan bayangannya berhasil menguncinya untuk tentunduk. Ia bahkan tidak punya kuasa untuk menatap wajah agung dari sosok maha raja ini. Bernafas saja ia kesulitan.
'Bagaimana ini?!'
Bagaimana dia harus menjelaskan kalau dia adalah sekutunya!
'Bagaimana! Bagaimana! Bagaimana!?'
"Bunuh di—"
"Tu-tunggu Raja! To-tolong…" ia kesusahan. Seorang yang dijuluki sebagai pemegang trisula kebenaran dari dunia… kesusahan untuk berbicara?!
Sosok ini, memang benar-benar sang Shadow Monarch.
"Tolong biarkan aku… berbicara kepada mu!" ucapnya kemudian. Sang peramal yang tidak diketahui identitasnya oleh Naruto ini perlahan membuka tudungnya. Ia sedikit mulai sedikit mencoba mengumpulkan seluruh keberaniannya. Walau hanya sedikit, ya walau hanya sedikit dia harus mengumpulkan keberanian ini untuk berbicara pada rajanya.
Apa pun itu.
Dia harus memberitahukan rajanya!
"Wanita lagi…"
"Ukh! A-apa Anda kecewa dengan saya, Raja?!" Naruto mendecih. Bukan pada konsep kecewa, tetapi lebih ke arah muak karena dia harus berurusan dengan wanita dan wanita lagi.
"Cepat."
"Ah! Maafkan saya!"
"Cepatlah." jujur saja. Paras wanita pirang yang ada di depannya ini tidaklah buruk. Malah terkesan cantik, kulitnya bahkan terlihat terawat dengan sangat baik. Wanita ini sepertinya hidup berkecukupan. Ia akui itu, apalagi ditambah dengan riasan alami yang tidak terlalu melebih-lebihkan. Wanita ini bisa ia asumsukan sejajar dengan paras cantiknya Sara.
"Hamba adalah sekutumu, Raja. Hamba bernama Shion, sang peramal dari—ahhhk!" dalam satu gerakan yang cukup menyakitkan untuk dilihat, serta dengan tidak membiarkan sang peramal menyelesaikan kata demi kata yang ia berusaha ucapkan. Kini, tubuh sang peramal wanita yang diketahui bernama Shion itu terangkat dengan sarana cekikan dari Igris. Dia bawa wanita itu berhadapan langsung dengan moncong pedang hitam yang siap menusuknya kapan saja.
"Jadi itu kau ya…" desis Naruto. Ia berjalan mendekati wanita itu yang ternyata adalah si peramal kerajaan. Peramal yang telah membuatnya seperti ini, juga peramal yang telah membuat keluarganya di hutan ini harus mati mengenaskan.
Ia tidak mau tahu lagi.
"Kau harus mati!"
"Tu-tunggu Rajaku! A-aku bisa menjelaskan i-ini! Ahhh!" cekikan pada leher Shion semakin mengerat seiring dengan rasa sakit yang di derita rajanya. Igris mulai memahami apa itu perasaan, inilah perasaan rajanya. Ia tidak boleh membiarkan sumber penyakit sang raja dibiarkan hidup begitu saja.
Setidaknya, biarkan dia menembus rasa bersalahnya dengan membunuh wanita ini. Karena baginya sendiri, terpanggil sebagai makhluk bayangan yang ditakdirkan untuk melayani dan mati disamping rajanya adalah sebuah keharusan.
Igris masih mengingatnya, saat di mana dia tidak berdaya dihadapan kekuatan misterius yang membelenggunya untuk tidak keluar. Ia telah bersumpah, ketika bebas nanti Igris akan lebih melindungi rajanya dari apa pun. Igris kesal, dia kesal karena tidak bisa hadir bahkan di saat rajanya mencoba untuk memanggil namanya.
Dia sangat kesal sekali.
Jadi biarlah sekiranya dia yang bertindak atas dasar perasaan raja bayangannya, dan juga dirinya sendiri.
"Menjelaskan soal apa?" ujar Naruto sembari memegang pundak Igris. Yang bersangkutan hanya bisa menundukan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Kau tidak perlu menjelaskan apa pun lagi," kemudian dengan tidak berbelas kasih Naruto melempar Igris dengan tenaganya. Mau tidak mau Igris terlempar ke belakang dan menabrak sesamanya hingga hancur kembali menjadi bayangan.
Raja!
"Uhuk! Uhuk…" Shion jatuh terbatuk-batuk setelah terlepas dari cekikan yang dilakukan oleh Igris.
"Akhhh!" dan kembali meringkuk pada rasa sakit baru tatkala kaki Naruto menekan kepalanya untuk menunduk dan mencium tanah bersalju di bawahnya dengan kasar.
Memang sungguh keterlaluan. Karena apa yang dilakukan oleh Naruto sama sekali tidak ada sama sekali wibawanya sebagai seorang lelaki yang seharusnya berlaku lemah lembut kepada wanita. Tapi, ini pengecualian. Dan Igris memaklumi itu. Pun begitu juga dengan seluruh pasukan bayangan yang terikat kontrak sama dengannya. Mereka sama-sama memahami, mulai mengerti arah mana yang akan dibawa oleh rajanya kali ini. lagi pula apa pun yang rajanya lakukan, adalah suatu kebenaran.
"Yang perlu kau lakukan sekarang adalah berdoa," Shion tahu itu. Ia bahkan lebih tahu dari jutaan makhluk hidup yang ada di dunia ini kalau ia harus berdoa dan pasrah jika berhadapan dengan sosok Shadow Monarch. Tetapi, ia tidak boleh mati.
Sekiranya ia tidak boleh mati sebelum dia menjelaskan situasinya sekarang. Lagi pula nyawa dan kehormatan sang Shadow Monarch adalah tanggung jawabnya kenapa ia ada di sini. Ia hidup hanya untuk memberitahukan perihal ini, selebihnya ia mau dibunuh pun atau disiksa dan diperkosa oleh sosok agung di depannya tidaklah masalah.
Yang jelas. Shion harus mengatakan info ini pada rajanya.
"Anda akan mati jika tidak mendengarkan penjelasanku, Raja!"
"Aku… akan mati katamu?" beo Naruto. Ia mempertanyakan atas gerangan apa wanita ini berbicara melantur seperti tadi. Ia, akan mati? Sebagai sosok yang menguasai kematian dan bayangan akan mati katanya?
"Huahahahaa!" lucu sekali! Wanita ini bahkan tidak mempunyai gertakan yang lebih bagus lagi selain kata mati yang sudah ada di genggamannya ini. Ia adalah Naruto.
Sang Shadow Monarch yang sudah mendapatkan hak pasti dari kekuatan mutlak yang ada di dunia ini. Sang pembawa berita kematian bagi seluruh makhluk, juga menjadi juru kunci kenapa dunia ini tercipta. Lagi pula hanya ada satu, ya, hanya ada satu alasan kenapa Naruto bisa berpikir demikian.
'Tuhan telah membiarkannya bermain dengan kematian!'
Ya! Kematian! Siapa yang bisa mengelak dari kematian bagi seluruh makhluk? Tidak ada. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa lepas dari kodratnya sendiri sebagai makhluk hidup yang akan mati suatu saat nanti. Tidak ada seorang pun yang bisa bermain dengan kematian kecuali dirinya.
Dan wanita ini dengan songongnya berbicara dia akan mati? Tidak… dia tidak akan mati. Setidaknya sampai dia membalaskan seluruh rasa sakit ini kepada dunia dan seisinya. Dia akan menjadi Monarch yang sesungguhnya. Arti Monarch yang benar-benar memimpin seluruh dunia ini dalam genggamannya.
"Anda akan mati jika mengabaikan bahayanya kekuatan dinding sihir, Raja!" ucap Shion dalam satu tarikan nafas panjang.
"…?" Naruto seketika teringat dengan apa yang dikatakan oleh Baruka pada waktu itu. Dinding sihir, pelindung terkuat yang melapisi empat kerajaan di benua ini dan menjadi pertahanan terakhir dari sebuah perbatasan negara.
Lalu apa hubungannya dengan dirinya?
"Dinding sihir... Pelindung empat kerajaan, ini mengenai pelindung yang bisa membahayakan Anda, Raja!" Naruto terdiam.
"Apa maksudmu." Kemudian menyudahi acara tidak senonohnya kepada kepala Shion. Ia membiarkan gadis itu sekiranya bernafas lega untuk sekarang.
"Kumohon, Anda boleh membunuh saya tetapi setelah saya berguna bagi Anda. Saya benar-benar ingin Anda selamat, Rajaku!" mata Naruto menyipit.
"Jelaskan." hingga pada akhirnya Naruto menjatuhi hukuman pada Dewa Kematian untuk menunda kematian Shion.
Jikalau firasatnya benar. Maka semua hal yang terjadi, dimulai dengan sistem yang secara tidak langsung mengalami maintenance, pertemuannya dengan Baruka, juga pembantaian oleh hunter yang didalangi oleh peramal ini akan sangat begitu rasional jikalau peramal ini ada hubungannya dengan sistem.
"Terima kasih atas kebaikan Anda Rajaku! Sungguh saya tidak akan membuang waktu yang Anda berikan ini kepadaku!" Shion menunduk sejenak sebelum kembali menegakkan bahunya kembali, tetapi masih dengan segala bentuk mutlak dari kehormatan tertinggi kepada sang sosok bayangan besar, Naruto.
"Meskipun saya tahu bahwa kekuatan Anda sangatlah luar biasa, tetapi saya berani jamin kalau diri Anda saat ini tidak akan bisa menembus penghalang yang melindungi Kerajaan Cyan."
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu."
"Quadra Tensei. Adalah sihir terkuat yang bersumber dari empat kerajaan besar di benua ini. Saya yakin Anda sudah mendapatkan sebagian besar info mengenai kekuatan pelindung ini dari Baruka."
'Gadis ini... Seperti yang ku duga'
"Aku mendengarkan."
"Terima kasih, Raja. Pertama, biarkanlah saya menjelaskannya dengan bahasa santai, mohon maaf sebelumnya kalau perkataan yang akan saya katakan terdengar sangat tidak sopan di hati Anda. Di sini aku akan menjelaskan kenapa Anda tidak boleh membunuh ku, setidaknya untuk saat ini," kata Shion dengan pandangan mata masih tertuju ke tanah.
Ini adalah bentuk penghormatan yang Shion berikan untuk Naruto. Bukan maksud tidak menghargai lawan bicaranya, tetapi baginya, yang boleh memandang langsung kepada sosok Monarch adalah mereka yang telah mendapatkan kepercayaan.
"Aku mempunyai salah satu dari hak akses di benua ini, yaitu premium access card Kerajaan Cyan," jelas Shion sembari menyobek sedikit gaun di bagian dadanya untuk ditunjukkan sebuah tato bergambar semanggi berdaun empat kepada Naruto.
Sekilas, Naruto dapat merasakan aura tersendiri dari tato itu. Sepertinya gadis ini tidak membual dengan perkataannya. Naruto jadi sedikit lebih tenang sekarang, ia tidak lagi memberikan tekanan berupa aura mematikan kepada gadis ini.
"Dengan akses ini, dan tubuh saya sendiri. Anda bisa memasuki Kerajaan Cyan dan terbebas dari serangan Quadra Tensei, Raja."
"Dinding sihir, pelindung yang dibuat oleh empat kerajaan besar adalah jenis sihir kuno yang bisa membahayakan Monarch seperti Anda. Dan alasan kenapa sihir ini ada adalah untuk membunuh dan mencegah kebangkitan Anda, Rajaku." Tusk yang mendengar itu langsung saja memasang pelindung tingkat tinggi kepada sosok Naruto.
"Jangan khawatir, Raja kita akan baik-baik saja di sini. Dan tidak akan aku biarkan terluka, lagi pula prioritasku datang ke sini adalah untuk mengabdikan tubuh ini kepada Anda, Rajaku." Tusk langsung memasang dua penghalang tingkat tinggi pada rajanya, kembali. Sungguh seberapa rendahnya sih tingkat kepercayaan Tusk kepada Shion bahkan setelah Shion berlaku hormat dan bertutur kata dengan sangat sopan seperti tadi.
Akan tetapi Shion sangat memahami itu. Lagi pula mereka adalah pasukan Monarch. Mereka lebih dekat dengan sosok pemuda ini dibandingkan dirinya.
'Ahhh, ini membuatku iri.'
"Tetapi yang jelas, jika Anda ingin memasuki Kerajaan Cyan, Anda harus membawaku. Quadra Tensei tidak boleh diremehkan bahkan oleh sekelas Anda yang kuat ini. Anda harus memiliki hak akses di setiap kerajaan, kalau tidak Anda akan dieksekusi oleh Quadra Tensei!" seketika mata Naruto membola.
Tunggu sebentar. Biarkan dia sekiranya merekonstruksi beberapa ingatannya yang lalu. Jika apa yang dikatakan oleh gadis ini merupakan suatu fakta, dan bukan bualan untuk mempertahankan sisa hidupnya. Maka kejadian di mana sistem yang memerintahkannya untuk membantu pedagang kala itu merupakan salah satu dari rencana yang sudah diatur oleh seseorang. Berkat pedagang itu juga dia mendapatkan salah satu premium access card untuk memasuki Kerajaan Crimson, yang sangat dia yakini memiliki pelindung sihir—Quadra Tensei.
Apalagi dengan penjelasan Naud yang mengatakan bahwa kartu itu tidak dimiliki oleh sembarang orang saja. Ini semakin membuatnya berpikir pada konklusi yang cukup meyakinkan.
Sistem.
Ada sosok yang sudah mengatur perjalanan ini dan sistem itu sendiri.
Dengan kata lain...
'Ada yang membuat sistem ini terpasang di tubuhku?!' pikir Naruto cukup yakin.
[Ding!]
[Pengumuman!]
[Anda berhasil membuka satu dari 404 konstelasi sistem. Selanjutnya Anda diperkenankan untuk—]
[Akses tertolak!]
[Sistem tidak dapat merespon perintahnya sendiri]
[Mencoba menganalisis...]
[Akses tertolak!]
.
.
[Mencoba menganalisis (lagi)]
[1%...]
[Serakah...]
[2%...]
[Kau... Kupu-kupu hitam...]
[3%...]
[Harus—]
[X]
[Akses tertolak!]
[Error 403 not found]
'Yang tadi itu...' Naruto terdiam. Sedikitnya ia mulai membuka satu pemikirannya untuk tersambung ke pemikiran lain. Perjalanan hidupnya di dunia ini, kejadian kenapa dia terlempar dan terpanggil di dunia ini, sudah pasti ada yang mengaturnya.
Siapa? Dan ada di mana dia?!
'Pembuat sistem, siapa pembuat sistem ini?!' entah bagaimana, Naruto untuk sejenak dapat melupakan emosi yang membara di hatinya akibat fakta yang baru dia ketahui ini.
Tetapi setelah pikirannya menyambung pada takdirnya sendiri. Amarahnya kembali memuncak. Naruto tersenyum, ia menyeringai. Sedikit dari rasa amarah yang membuncah dihatinya ia jadikan dalam bentuk aura bayang dan menjelma bagai pilar yang meruncing ke atas. Orang-orang mungkin akan dapat melihat dan merasakannya.
Namun Naruto tidak peduli.
Yang ia pedulikan sekarang ini adalah fakta bahwa ada sosok tertentu yang sudah mengatur hidupnya untuk sengsara. Sosok itu harus bertanggung jawab atas segala kesengsaraan yang ia hadapi selama ini.
Ya, Naruto akan memberi sosok yang membuat sistem ini sebuah pelajaran.
Shion yang tidak tahu apa yang dipikirkan Naruto saat ini hingga membuat pemuda itu mengeluarkan aura bayangnya, menjadikan dia tersungkur. Ia kesusahan bernafas. Lucunya, Shion lebih seperti kehilangan ingatan bagaimana cara dia bernafas, karena aura yang dikeluarkan Naruto kali ini benar-benar kelam dan sangat kuat.
"Ha.. haa.. haaa! Haa….!" Shion benar-benar kesusahan sekarang.
Dia tidak menyangka, jikalau Shadow Monarch memiliki kekuatan hebat seperti ini bahkan ketika sosoknya belum bangun sepenuhnya. Hal ini menjadikan ia semakin meyakini kalau Quadra Tensei dibuat untuk menangani sosok mengerikan ini.
Maka dari itu, segala keputusan yang ia buat tidaklah sia-sia belaka. Ia sangat yakin untuk menyembahkan seluruh jiwa dan raganya kepada pemuda ini. Sebagai penerus dari sang Shadow Monarch sebelum hari kebangkitan tiba sepenuhnya. Dan Shion akan berjanji dia akan berguna bagi sosoknya.
'Hidup… sang Shadow… Monarch.'
…
0o0o0o0o0
...
Penginapan Es, di Kerajaan Cyan.
"Huh?" dari balik jendela penginapan, Bikou yang kebetulan menghabiskan malam panjangnya di salah satu penginapan Kerajaan Cyan memutar direksi matanya ke arah sebuah pilar hitam yang menjulang tinggi ke langit.
Sebenarnya bukan hanya Bikou saja, tetapi seluruh warga yang memenuhi setiap jengkal wilayah Kerajaan Cyan mulai menatap ke arah sumber menarik mata itu berasal. Bukan hanya mereka saja, bayi yang sedang menangis seketika terdiam saat di mana pilar cahaya hitam itu muncul. Hewan-hewan pun sebagian menghentikan pergerakan mereka sendiri. Sungguh, ini seperti tanda hormat dari seluruh makhluk yang berusaha memahami arti dari kekuatan sang Monarch.
Namun dominasi perasaan mereka saat ini adalah panik, bahkan sebagian orang mulai bertanya-tanya ada apakah gerangan kenapa bisa terjadi demikian. Mereka tidaklah bodoh untuk mengetahui bahwa pilar cahaya hitam yang menjulang ke atas dan membelah batasan surgawi itu memiliki aura tersendiri yang bisa mereka rasakan. Lagi pula ini sudah kedua kalinya mereka merasakan aura ini, setelah gempa di awal tadi.
Bahkan bagi kalangan kecil pun, yang juga memiliki mana kecil bisa merasakan bulu kuduk mereka serempak merinding semua. Ini merupakan pertanda buruk, dan sebagian penduduk pun sangat meyakini sugesti itu.
"Kau merasakannya, Bikou?" tanya Arthur sembari tetap mempertahankan ketenangannya dengan membalik halaman buku yang sedang ia baca.
"Ya, dan kekuatan ini…" Bikou seketika mengeratkan pegangan pada tongkat saktinya. Arthur yang melihat itu dari ekor matanya mulai membenarkan letak kaca matanya yang melorot.
"Jangan bertindak gegabah, kita di sini hanya sebagai tamu, kau harus mengingat itu." Bikou mengangguk. Namun hatinya tidak bisa menerima respon yang serupa dengan pergerakan kepalanya yang menyetujui tuturan rekannya untuk tidak bertindak gegabah di tanah yang bukan identitasnya.
"Kita besok pagi harus pergi. Tidak boleh menerima bantuan apa pun dan juga misi apa pun dari pihak kerajaan ini. Tugas dan hukuman mu sudah selesai, alangkah baiknya kita segera kembali ke tanah kita, Bikou." ujar Arthur masih dengan nada tenangnya.
"Tapi Arthur—"
"Tidak ada tapi-tapian. Biarkan yang punya tanah menyelesaikan permasalahannya sendiri. Kita sudah cukup berkonstribusi dengan membunuh pengkhianat terbesar kerajaan ini," Arthur menutup bahan bacaannya.
"Kita harus pergi. Besok pagi-pagi sekali. Mau bagaimana pun caranya kita harus kembali, ke Kerajaan Crimson."
"Ke-kenapa kau terburu-buru sekali Arthur, tidak biasa sekali kha kha kha!"
"Kenapa kau bilang? Bahkan setelah kau merasakan kekuatan tadi dan kau masih mempertanyakannya!?"
"Eh…?" sungguh. Demi apa pun yang ada di dunia ini. Bikou, baru pertama kalinya melihat Arthur basah oleh keringat dinginnya sendiri. Orang kalem dan setenang Arthur, bisa sampai seperti itu?!
"Besok kita harus pergi." dan pada akhirnya Bikou hanya bisa memendam rasa penasarannya akibat Arthur mulai berbaring dan menyelimuti tubuhnya untuk tertidur.
"Jangan bilang kalau kau…"
.
.
.
To be continued…
A/N: Umm… hai, saya kembali… ehe~. Apakah ada yang masih merindukan aku? Ahahaha sorry ya. Dulu laptop saya jual buat… ya, roda kehidupan dah pastinya. Btw, masih pada nungguin cerita ini update gak yah. Yup, ini aku kasih update-an terbaru setelah sekian lama hiatus XD. Kalau lupa dengan plotnya, bisa dibaca kembali sebagai bahan hiburan di kala kegabutan kalian, hehe~.
Dah pokoknya itu aja. And btw, gua ketagihan Genshin Impact, jadi jangan salah kalau hiatus gua diperpanjang XD.
Arc ini akan selesai dua sampai 3 chapter lagi. Dan... kayaknya bakal dark sih.
Segala keluh kesah kalian, silakan tampung ke review aja.
See u next time!
GearPhantom97, out…
