~~~•School Of Freedom•~~~

Disclaimer :

Bukan milik Saya...!

Summary :

Belajar itu membosankan, membuat pandangan ku tentang sekolah menjadi buruk... Hingga akhirnya aku mendapat kabar tentang sekolah swasta yang berkurikulum Everything is determined by bets

~•~

~•~

~•~

Arc II

"~~~•New King•~~~"

Chapter 4

"~~•Little Chicken and Slutty•~~"

~•~

Asrama Putri

"Huft ... dasar, awas saja kau pirang sialan! Akan ku balas nanti." Rias melampiaskan amarahnya pada guling kesayangannya yang ia cekik sekuat tenaga membayangkan guling itu adalah Naruto.

Puas dengan kegiatannya, ia pun melempar benda kesayangannya itu ke sembarang arah dengan nafas tak teratur. Begitu rasa lelah hinggap di tubuhnya ia pun segera roboh di atas kasurnya yang empuk..

Rias menatap langit-langit kamarnya dengan sendu. Ia masih memikirkan kekalahannya, sungguh hal yang baru ia rasakan. Menyentuh dadanya merasakan detak jantungnya yang tak karuan, itu yang ia rasakan saat ia kalah kemarin.

Dan juga ... tadi.

Memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya. Mengingat kembali pembicaraannya dengan Sona tadi siang mengenai Naruto ini.

~Flashback~

"A-aku ... kalah!"

Kalah! Kata itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran Rias. Bahkan saat ini ia sudah tidak lagi memperhatikan apa yang oleh sensei.

Terus memikirkan hal itu sampai waktu istirahat, menunjukkan betapa terpukulnya Rias akibat kekalahannya untuk kedua kalinya, dan kali ini merupakan kekalahan yang begitu telak baginya.

Ia harus kehilangan gelar kebanggaannya, dipermalukan seisi kelas, dan yang paling parah ia dikalahkan dengan telak oleh lawannya.

Tatapannya yang kosong terus menatap mejanya, semua perhatiannya teralihkan pada meja tulisnya, hingga ia tersadarkan saat seseorang memanggilnya.

"Mau sampai kapan kau begitu, Rias."

Suara itu tak asing baginya dan ia tahu siapa itu, lalu dengan lemah ia melihat ke pintu dan di sana berdiri seorang gadis mungil yang tersenyum tipis. Ia melebarkan matanya dan memandang gadis itu dengan sedih.

"S-sona ... aku kalah."

Sona berjalan mendekati Rias dan menepuk bahunya. "Ayo, kita istirahat di ruangan ku, kau bisa merengek sepuas mu di sana."

Soan mencoba menghibur Rias, dan itu nampaknya berhasil. Walaupun hanya sedikit, Rias mulai tampak tersenyum meski terlihat agak terpaksa.

Setelah itu mereka pun berangkat menuju ke tempat Sona, yang dimaksud adalah tempat bangunan pribadi milik Fifth King.

Sampai di sana, Sona dan Rias duduk berhadapan ditemani dengan beberapa cemilan. Tak lama kemudian datanglah seorang gadis berambut hitam panjang yang membawa nampan berisi beberapa cangkir dan sebuah teko.

Rias memandang lemah gadis itu. "Maaf merepotkan mu, Tsubaki."

Sambil meletakkan nampan dan mengisi cangkir dengan teh, Tsubaki tersenyum menanggapi Rias. "Tidak apa-apa, ini sudah menjadi tugasku."

Setelah selesai, Tsubaki membawa nampan dan berdiri di belakang Sona layaknya seorang pelayan.

"Baiklah Rias, ada beberapa hal yang harus aku bicarakan padamu," ucap Sona sambil menyesap teh nya.

Rias hanya diam mendengar ucapan Sona, ia sudah tahu ini akan terjadi. Ia menatap sendu gelas teh nya, menunggu Sona bicara.

Sona sebenarnya merasa empati pada Rias, tapi itu tidak berguna karena begitulah resiko di sekolah ini. Tatapannya lalu kembali datar, menatap Rias yang juga mulai menatapnya.

"Hal yang pertama mesti kau harus ketahui, bahwa Uzumaki-san bukanlah lawan yang sepadan untukmu."

Mendengar itu tentu saja Rias terkejut. "A-apa maksudmu, Sona?"

Sona meletakkan cangkirnya dan menatap Rias kembali.

"Apa kau masih ingat dengan King of Chess sebelumnya?"

"M-masksudmu, Minamiya-sensei!?"

"Ya, cara bermain Uzumaki-san hampir sama dengan Minamiya-sensei."

"S-sama kau bilang!?"

Sona mengangguk pelan.

"Dalam permainan catur, ada dua jenis pemain : yang pertama adalah orang yang selalu memikirkan cara tercepat agar bisa menang, sedangkan yang kedua adalah orang menganggap catur sebagai sebuah seni yang lebih mementingkan alur permainan daripada kemenangan. Yah, walaupun pada akhirnya mereka tetap menang, sih."

Rias agak bingung mendengar penjelasan Sona, dan tentu saja Sona paham akan hal itu. "Kau dan aku jelas adalah yang pertama. Sedangkan Uzumaki-san dan Minamiya-sensei adalah yang kedua."

Melihat Rias yang terkejut dan masih kebingungan, Sona pun melanjutkan perkataannya. "Anggap saja begini Rias, Uzumaki-san sebenarnya sedari awal dia hanya bermain-main dengan mu."

Perkataan Sona barusan sangat mengejutkan bagi Rias, bahkan Tsubaki dibelakang Sona juga ikut terkejut.

"Sejak awal dia hanya bermain-main katamu?" Rias sedikit marah, perkataan barusan membuatnya tersinggung.

"Tenanglah, Rias. Meski begitu, kau takkan kalah dengan mudah jika kau tidak termakan jebakannya," ucap Sona mencoba menenangkan Rias.

"Maksudmu aku bisa menang melawannya?"

Sona menggeleng pelan. "Bukan menang, tapi susah dikalahkan."

Rias mengerutkan keningnya bingung. "Bukannya itu artinya aku tetap saja kalah?"

"Memang seperti itu," jawab Sona santai sambil memasukkan cemilan ke mulutnya.

"Hoi, Sona!" Teriak Rias kesal.

Sona terus saja melanjutkan memasukkan cemilan ke mulutnya menghiraukan teriakan Rias. Setelah beberapa detik kemudian, Rias tampak tersenyum tipis dan itu membuat Sona ikut tersenyum melihat perubahan sahabat yang perlahan membaik.

"Yah, meski kalah begitu, setidaknya aku sedikit senang karena yang mengalahkan ku seseorang yang kemampuannya sama dengan King of Chess sebelumnya."

Kini Rias menunjukkan wajah lega seolah-olah menunjukkan semua masalah yang membebaninya telah hilang.

Sona ikut tersenyum senang melihat sahabatnya tidak terpuruk lagi. Begitu juga dengan yang Tsubaki tersenyum ikut senang.

"Syukurlah kau tidak sedih lagi," goda Sona yang membuat Rias gelagapan.

"S-siapa yang kau panggil sedih, hmph!"

Rias membuang muka ke arah lain menyembunyikan pipinya yang memerah karena malu.

"Kau memang tidak berubah, Rias."

Lagi-lagi Sona menggodanya, dan Rias menghiraukan godaan Sona dengan menyesap tehnya yang mulai dingin.

"Hei, Sona."

Sona menghentikan aktifitas makan cemilannya saat mendengar nada bicara Rias yang tiba-tiba berubah. Sona menatap Rias yang kini tersenyum licik.

"Kau bilang cara bermain pirang sialan itu sama dengan Minamiya-sensei, 'kan? Bukannya itu berarti dia lebih hebat daripadamu?"

Sona terdiam sejenak, lalu melanjutkan acara makannya sambil menatap Rias.

"Aku tidak bilang 'sama', tapi 'hampir sama'."

Sona menekankan dua kata itu sambil menatap datar Rias yang kini menyeringai kecil.

"Huh! Sama saja, 'kan? Akui saja, Sona." Rias ingin membalas godaan Sona padanya yang nampaknya itu akan berhasil.

"Itu beda Rias, sangat berbeda. Sepertinya aku perlu menjelaskan perbedaan besar itu."

"Apa kau mencoba ngeles dengan permainan kata-kata mu, hm."

Sona lalu membantah ucapan Rias, dan begitu sebaliknya Rias kembali memberikan perlawanan yang kemudian dibantah lagi oleh Sona. Dan seterusnya, pertarungan adu mulut pun terjadi.

Tsubaki hanya bisa menghela nafas melihat keduanya adu mulut, ia sudah menduga ini akan terjadi jika keduanya tak mau mengalah.

"Dengar ya, Rias! Perbedaan dari keduanya adalah prinsip mereka. Minamiya-sensei selalu menanggap papan catur bagaikan kanvas dan melukis di atasnya hingga menghasilkan karya yang mengagumkan, yang akan selalu mengejutkan lawan-lawannya.

Sedangkan, Uzumaki-san dia bermain catur hanya untuk menjatuhkan lawannya dan menghancurkannya lagi dan lagi hingga seterusnya, sampai lawannya putus asa dan tak bisa bangkit lagi. Itulah perbedaan keduanya. Jadi, jangan samakan mereka berdua!"

Sona sedikit menaikkan nada suaranya, Rias agak terkejut melihat reaksi Sona bahkan Tsubaki pun juga ikut terkejut. Sona yang sadar segera minta maaf.

"Maaf, aku berlebihan."

"Tidak kusangka kau begitu membela Minamiya-sensei sampai segitunya."

Sona memperbaiki posisi kacamatanya. "Tentu saja, walaupun Minamiya-sensei agak menyebalkan, tapi bagiku beliau adalah sensei yang paling aku hormati.

Dan aku tidak suka jika kau menyamakan Minamiya-sensei dengan Uzumaki-san. Karena menurutku, Uzumaki-san sama sekali tidak memiliki rasa estetika dalam dirinya, malahan dia hampir mirip dengan ..."

Rias mengerutkan keningnya saat mendengar kalimat terakhir Sona yang kurang jelas. Ia terdiam sesaat kemudian bertanya. "Darimana kau menyimpulkan hal tersebut, Sona?"

"Pertarungan kemarin, aku menyaksikan kalian bermain catur kemarin. Dan dalam waktu singkat itu aku menyadari beberapa hal menarik dari Uzumaki-san. Salah satunya adalah cara bermainnya."

"Jadi apalagi yang kau ketahui dari si pirang sialan itu?"

"Selain dari cara bermainnya, aku memiliki beberapa asumsi yang kemudian diperkuat dari laporan Saji tentang kekalahan mu barusan."

"Pertama adalah kelemahan Uzumaki-san," ucap Sona yang langsung menarik perhatian Rias dan Tsubaki.

"Kelemahan?" Tanya Rias bingung.

"Boleh dikatakan, cara untuk melawannya."

"Jadi dia juga bisa dikalahkan?"

"Tergantung siapa lawannya, dia bisa saja dikalahkan."

"Bagaimana caranya!?"

Rias mulai tertarik dengan topik ini, dan dalam hatinya juga masih tersimpan dendam untuk membalas kekalahannya.

"Mudah saja, lawan dia dengan cara normal."

Rias agak sedikit bingung dengan ucapan Sona barusan. "Maksudmu melawannya dengan cara seperti biasa?"

"Kurang lebih seperti itu."

"Kau ingin melawan orang yang kekuatannya sama dengan King of Chess sebelumnya dengan cara bermain biasa?" Rias tidak habis pikir dengan perkataan Sona. Bagaimana mungkin bisa melawan pemain pro dengan cara normal.

"Itulah yang kumaksud, Rias. Aku telah berkali-kali melawan Minamiya-sensei yang membuatku mengetahui semua gerakannya. Saat melihat Uzumaki-san bermain aku langsung teringat dengan sensei, sejak itu aku langsung tahu bahwa kau akan kalah."

Penjelasan Sona langsung membungkam Rias.

"Begini saja, Rias. Biar kutebak, kau pasti di checkmate dengan menggunakan bidak raja, 'kan?"

"Bagaimana kau tahu?"

"Mudah saja, Tsubaki."

Tanpa perintah selanjutnya, seolah-olah Tsubaki mengerti maksud Sona. Tsubaki maju dan memberikan nampan yang dipegangnya selama ini kepada Sona.

Dengan telaten Sona menyimpan nampan di atas meja. Mengambil beberapa cemilan dan menyusunnya di atas nampan dengan penuh ke telitian, hingga mulai terbentuk sebuah susunan formasi catur pada umunya.

Rias diam memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh sahabatnya. Begitu pula Tsubaki yang telah kembali berdiri dibelakang Sona.

"Aku tidak terlalu yakin bagaimana awal permainan kalian, tapi aku bisa menebak bagaimana prosesnya hingga akhir permainan."

Dengan menaruh cemilan terakhir, Sona mengakhiri kegiatannya dan mengarahkan pandangannya pada Rias.

"Kurasa kurang lebih seperti inikan bentuk akhir permainan kalian, 'kan?"

Rias tersentak kaget, apa yang dilihatnya sekarang hampir serupa dengan tata letak catur barusan. Tidak salah lagi, ini adalah susunan permainan caturnya dengan Naruto.

"Sona, b-bagaimana kau ...?"

"Sudah ku katakan, permainan mereka berdua hampir sama."

Rias terdiam, ia masih terkejut dengan apa yang dilakukan sahabatnya ini. Dapat menebak proses permainan saja sudah luar biasa, tapi jika sampai tata letaknya itu bukan lagi ... manusia.

"Kau tidak perlu bereaksi seperti itu, Rias. Ini bukanlah hal luar biasa atau apa, aku dapat menembaknya itu karena sebagian besar pengalaman ku dengan Minamiya-sensei, selebihnya karena laporan dari Saji."

Sona menjelaskannya sambil memberi isyarat pada Tsubaki untuk membersihkan mejanya, yang langsung ditanggapi dengan sigap.

Meski telah mendengar penjelasan Sona, Rias masih tidak percaya. Walaupun Sona punya pengalaman dengan Minamiya-sensei, bukan berarti ia dapat menebak seluruhnya. Dan juga, Saji bukanlah orang yang tau banyak tentang catur apalagi alur permainan dan tata letaknya.

Itu memungkinkan Saji hanya dapat menginformasikan data yang tampak saja dan mudah di ingat. Yaitu, korban bidak miliknya dan Naruto.

Dapat disimpulkan, bahwa Sona menebak alur permainan bersamaan dengan tata letaknya hanya dari jumlah korban bidak catur di kedua sisi, terlepas dari pengamalannya.

Sungguh mengerikan!

Rias sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi mengenai sahabatnya ini. Sekarang ia sudah mengerti mengapa Sona bisa menjadi salah satu anggota dari The Twelve Ruler King's, itu karena dia juga monster sama dengan anggota lainnya.

"Oh iya, Rias. Masih ada hal yang perlu ku beritahu."

"Apa itu?"

"Aku hanya akan mengatakannya sekali, dan jangan memberitahukan ini kepada siapapun, mengerti?." Sona menatap Rias dengan tatapan serius. Rias hanya mengangguk paham.

"Baiklah kalau begitu, ini mungkin akan mengejutkan mu, tapi tetap harus ku katakan padamu."

Rias diam menunggu Sona bicara. Satu per satu kata keluar dari mulut Sona dan setiap kata yang keluar itu semakin mencapai akhir semakin mengejutkannya. Apa yang dikatakan Sona barusan adalah ... bencana.

~End~

Rias perlahan membuka matanya, menatap kembali langit-langit di kamarnya. Membuang napas panjang, ia masih memikirkan pembicaraannya dengan Sona terutama ucapan terakhirnya.

Kembali memejamkan matanya mencoba sejenak untuk melupakan perkataan Sona yang benar-benar mengganggunya dari tadi. Terlebih lagi, ia masih memikirkan Uzumaki Naruto.

Rias bangun berjalan mengambil guling kesayangannya dan merebahkan kembali di atas kasurnya, kali ini mencoba mencari posisi nyaman untuk tidur.

"Kuharap itu tidak terjadi, Sona," batin Rias sebelum hanyut ke alam mimpi.

~•~

~~•School of Freedom•~~

~•~

Keesokan harinya

Naruto bangun cepat dan melakukan rutinitas pagi seperti biasanya. Dan seperti biasa, ia harus menelusuri hutan yang sedikit jauh dari gedung sekolah.

Untuk sampai di kelasnya ia biasanya melewati lantai satu dengan tenang, tapi sekarang itu tiba-tiba berubah. Entah kenapa ia merasa begitu banyak pasang mata yang menatapnya.

Yah, ia tidak terlalu peduli dan terus berjalan menghiraukan seluruh keanehan yang terjadi. Langkahnya kemudian melambat saat berada tepat didepan kelas terakhir sebelum sampai di tangga, ia melirik kelas di sebelah kirinya, atau lebih tepatnya papan nama kelas itu.

Kelas X-1

Itu nama kelas yang menarik perhatiannya. Kedua sudut bibirnya naik ke atas membentuk seringai kecil, lalu melanjutkan jalannya yang sempat melambat.

"Tunggulah aku, Little Chicken. Makan dan tumbuh besarlah sebelum aku memangsa mu," batin Naruto tersenyum dalam hati.

Tiba di lantai dua, ia segera menuju kelasnya yang nampaknya masih sepi. Setidaknya dua-tiga orang telah datang mendahuluinya.

Berjalan menuju bangkunya dan melihat sosok yang belakangan ini mulai sering ia lihat. Duduk di bangkunya dan menyapa dengan tenang.

"Ohayou, Rias-chan!" sapa Naruto sambil tersenyum senang.

Sedangkan yang di sapa hanya melirik sebentar lalu membuang muka ke arah sebaliknya. Merasa diacuhkan tidak membuat senyuman Naruto memudar, malah membuatnya terlihat lebih senang.

Dan tentu saja gadis berambut crimson itu sadar, tapi ia tetap memutuskan untuk mengacuhkannya. Namun, Naruto tak berhenti menatapnya sambil tersenyum. Dan itu membuatnya risih.

"Apa!?"

Mau tak mau Rias harus menanggapi Naruto. Iris blue-green nya menatap tajam Naruto yang masih tetap mempertahankan senyumannya.

Naruto tertawa geli melihat reaksi Rias, "Aku hanya menyapamu, kok."

"Aku tidak butuh sapaan mu, pirang sialan!" balas Rias dengan nada sarkas.

Naruto hanya mengangkat bahunya tidak peduli. Perhatiannya kembali lagi ke Rias. "Hei, Rias-chan. Bagaimana kalau kita ngobrol sebentar, lagipula di kelas ini hanya kita berdua, 'kan?"

"Enyahlah! Cari saja yang lain, lagipula kita tidak berdua saja di sini." balas Rias masih dengan nada kasarnya. Pandangannya melihat ke depan yang di sana telah ada beberapa siswa lainnya yang telah datang sebelumnya dan juga yang baru datang.

Mengikuti pandangan Rias, Naruto melihat beberapa orang telah menduduki bangku yang sebelumnya kosong. Lalu pandangnya kembali lagi pada Rias.

"Abaikan mereka, aku tidak tertarik pada orang lain. Hanya kau yang menarik minatku." Naruto mengubah nada suaranya menjadi lebih lembut dan tenang.

Rias sedikit merona mendengar ucapan Naruto, ia dengan cepat membuang muka sambil memainkan rambut crimson nya.

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

Naruto tersenyum kecil melihat tanggapan Rias. "Sebenarnya aku masih memiliki pertanyaan yang belum aku tanyakan tadi malam. Ini mengenai Crownless King, sebenarnya gelar apa itu?"

Naruto menatap Rias yang masih menghadap ke arah lain.

"Crownless King sama sekali tak punya keistimewaan seperti The Twelve Ruler King's. Karena pada dasarnya, itu hanya sebuah gelar yang diberikan oleh OSIS sebagai pengakuan bukan dari kochou.

Bagi mereka yang mendapat pengakuan OSIS, mereka akan digelari Crownless King untuk menunjukkan bahwa orang-orang ini hampir sejajar dengan The Twelve Ruler King's.

Namun kenyataannya, hanya ada segelintir Crownless King yang mampu berdiri sejajar dengan The Twelve Ruler King's maupun anggota OSIS. Dengan kata lain, yang lain daripada itu hanyalah orang-orang yang kebetulan mendapatkan gelar Crownless King."

"Oh, pasti kau salah satunya, 'kan?" celetuk Naruto dengan nada ejek.

Rias melirik tajam Naruto, ia sedikit merasa tersinggung lalu mengalihkan kembali perhatiannya.

"Kau benar, aku salah satunya," ucap Rias lemah sambil memandang ke jendela.

Tentu saja, Rias menyadari jarak antara ia dengan Sona yang merupakan Fifth King, salah satu bagian dari The Twelve Ruler King's. Dan ia juga sadar, bahwa Naruto berada di atasnya atau dengan kata lain selevel dengan Crownless King yang sebenarnya.

Naruto tersenyum kecil. "Sudah kuduga, lagipula kau terlalu payah untuk di sebut Crownless King."

"Apa katamu!?" Rias menaikkan nada suaranya sambil menatap tajam Naruto.

"Kau terlalu payah," balas Naruto dengan santai.

"Kisama!"

Rias dengan marah mengeluarkan unek-uneknya yang dibalas dengan hinaan dan ejekan lainnya. Keduanya terus saling ejek satu sama lain, sehingga menimbulkan sedikit keributan di daerah bangku belakang.

Dan tanpa disadari keduanya, mereka sekarang telah menjadi pusat perhatian seisi kelas yang nampaknya telah banyak yang datang, termasuk siswa termesum di sekolah ini.

Issei yang baru saja masuk ke dalam kelas sedikit bingung melihat perhatian teman-temannya berpusat pada bangku belakang. Issei yang penasaran, akhirnya mengikuti arah pandang teman-temannya.

Dan di sana, terlihat murid pindahan yang kemarin menantang Risa sedang bermesraan dengan Rias. Itu dari sudut pandang Issei dan yang lainnya, mereka tak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Tentu saja melihat itu mengejutkan Issei, Rias yang selama ini ia kenal adalah gadis cantik yang anggun, kalem, selalu tersenyum manis, dan jarang terlihat bicara dengan laki-laki apalagi tertawa.

Tapi, sekarang apa yang dilihatnya tidak seperti Rias selama ini. Di sana, Rias terlihat bercanda ria bersama Naruto, mengobrol dan tertawa bersama sungguh bukan Rias yang dikenalnya.

Perhatian Issei kemudian teralihkan pada sekolompok gadis-gadis di sampingnya yang sedang bergosip, atau lebih tepatnya menggosipkan Naruto dengan Rias.

"Hei, aku dengar Rias-hime berpacaran dengan Uzumaki-san."

"Kau serius? Bukannya Uzumaki-san itu yang mengalahkan Rias kemarin dengan telak."

"Benar sekali, atas dasar apa Rias berpacaran dengan orang yang mempermalukannya kemarin."

"Aku juga tahu itu, mungkin saja Uzumaki-san bertaruh jika dia menang maka Rias harus jadi pacarnya."

"Bisa jadi, lagipula kemarin kita tidak terlalu detail kejadian sebelum permainan dimulai."

"Oh iya, aku dan Tomoka-chan juga tadi malam melihat Rias memakai gaun merah dan berdandan keluar dari asrama, penampilannya tadi malam benar-benar sangat cantik."

"Kau melihatnya juga, ya? Tenma-kun dari kelas XI-3 yang sedang patroli malam juga melihat Rias kembali ke asrama putri dengan wajah memerah."

"Maksudmu, dia berdandan dan pergi ke suatu tempat dan pulang dengan wajah memerah?

"Tunggu sebentar, Toubi-chan juga melihat Rias tadi malam. Katanya sih, Rias menuju ke arah asrama tua."

"Asrama tua? Apa yang dilakukannya di sana? Apa dia sedang kencan? Tapi, dengan siapa?"

"Hei, a-apa kalian masih belum sadar. Uzumaki-san kan tinggal di asrama tua."

"Apa!?"

"Sssst! Jangan keras-keras."

"Jika itu benar, maka tak salah lagi."

"Ok, fix! Rias dan Uzumaki-san memang berpacaran, dan mereka sedang kencan semalam."

"Hei, sebentar. Kurasa mereka tak sekedar kencan saja, deh. Kau bilang wajah Rias memerah saat kembali ke asrama kan?"

"J-jangan-jangan ... U-Uzumaki-san dan Rias ...!"

"Kyaaaa!"

Issei yang sedari mendengarkan pembicaraan -gosip- gadis-gadis sekelasnya terkejut. Itu sungguh berita besar, dia harus memberitahukan ini pada teman-temannya.

Dengan penuh semangat Issei berjalan ke bangkunya yang tepat bersebelahan dengan Naruto. Setibanya tepat dibelakang Naruto yang nampaknya masih asik bercanda -bertengkar- dengan Rias, ia pun menyapa Naruto sambil tersenyum lebar.

"Ohayou, Uzumaki-san!"

Berkat sapaan Issei, seketika Naruto dan Rias berhenti dan mengalihkan perhatiannya pada Issei. Itu hanya terjadi beberapa detik yang kemudian mereka kembali melanjutkan candaan -pertengkaran- mereka.

Issei yang merasa dihiraukan hanya dapat tersenyum kikuk melihat keduanya kembali kegiatan mereka. Dengan lemas ia pun duduk di bangkunya sambil membuang napas panjang.

Teeet!

Bel berbunyi! Tandanya jam pertama telah dimulai. Naruto yang mendengar itu segera mengakhiri pembicaraannya dengan Rias.

"Ah, sepertinya bel telah berbunyi. Sayang sekali, Rias-chan padahal masih banyak yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Tch! Siapa yang sudi bicara denganmu."

"Ahaha, kau tak perlu malu-malu, Rias-chan."

"Diamlah! Dan jangan dekat-dekat denganku! Pirang sialan!"

"Oh iya, Rias-chan. Kau masih punya utang padaku."

"Jangan mengada-ada, kita sudah impas semalam."

"Hoo ... kau pasti lupa, Rias-chan. Coba ingat, taruhannya jika aku menang kau harus menjawab semua pertanyaan ku dan mengabulkan 'permohonan kecilku'." Naruto sedikit menekankan dua kata terakhir yang ia ucapkan.

Naruto menyeringai melihat Rias tersentak yang keliatannya mulai ingat kembali taruhan kemarin. Rias menatap tajam Naruto yang masih mempertahankan seringainya.

"Cepat katakan! Apa yang kau inginkan, aku sudah muak berusan dengan mu!"

"Aku tak minta macem-macem kok, hanya saja aku bosan dengan panggilan mu itu padaku, kau menghina rambutku itu berarti kau menghina rambut adikku, dan itu membuatku sedih."

"Persetan dengan drama keluarga mu, itu tak ada hubungannya denganku."

"Bagaimana jika kau ubah panggilan mu itu, misalnya ... Naruto-kun?"

"H-huh!? K-kau ingin aku memanggil mu dengan suffix-kun? Yang benar saja!"

"Taruhan tetaplah taruhan, Rias-chan. Kau harus patuhi aturan sekolah ini, jadi tolong panggil aku ... Naruto-kun."

Wajah Rias memerah akan rasa amarah dan malu. Ia benar-benar sedang dipermalukan saat ini, walaupun tak ada yang mendengarnya ia tetap saja malu.

"Ayolah, Rias-chan."

"N-Naruto-kun."

"Hmm, kau mengatakan sesuatu, Rias-chan?"

"Naruto-kun."

"Apa? Aku tak dengar."

"Naruto-kun!"

"Ah, kau benar-benar terlihat kawaii, Rias-chan."

"Sialan kau!"

"Ahaha, mulai sekarang panggil aku seperti itu ya."

"Tch!"

Sreet!

"Ohayou, Minna-san!"

"Ohayou, Sensei!"

"Materi kita hari ini adalah, 'Trigonometri'."

Entah apa yang terjadi, suasana kelas yang sebelumnya bersemangat tiba-tiba kelas langsung suram.

~•~

~~•School of Freedom•~~

~•~

Teeet!

"Ok, untuk pertemuan hari ini, Sensei rasa sudah cukup. Kalau begitu, sampai jumpa minggu depan!"

"Ha'i, Sensei!"

Dengan berakhirnya pelajaran seisi kelas kembali ramai, membicarakan topik pelajaran sebelumnya. Ada juga yang berhamburan keluar menuju kantin dan selebihnya tinggal di kelas memakan bekal mereka, termasuk Uzumaki Naruto dan dua teman di sampingnya.

Naruto mengeluarkan sandwich yang dibuatnya tadi pagi dan sebotol susu. Tanpa membuang waktu ia dengan lahap menyantap bekalnya. Melirik ke samping, terlintas sesuatu yang menarik dipikirannya.

"Rias-chan, mau makan bersama?" tawar Naruto sambil menggabungkan mejanya dengan meja Rias.

"Apa yang kau lakukan!?" Teriak Rias melihat Naruto seenaknya sendiri, tanpa minta persetujuannya.

"Pergi sana!" Rias mencoba mengusir Naruto yang mengabaikannya, malahan menarik kotak bekal milik Rias dan membukanya.

"Hei!"

Tentu saja Rias marah, melihat betapa Naruto bertindak seenaknya saja.

"Woah! Omelette, kau yang membuatnya?"

"Tentu saja, aku ini bukan orang yang tidak tahu cara masak yang cuma makan sandwich saja."

Rias menyombongkan dirinya sambil menyindir Naruto, yang langsung dibalas oleh Naruto.

"Oh, baguslah. Kupikir kau itu cuma gadis manja yang sombong, ternyata kau bisa masak juga."

Rias menatap garang Naruto yang sedang mengunyah sandwich-nya. Tidak ingin memperpanjang masalah, Rias pun memutuskan memakan bekalnya dengan lahap, walaupun agak risih dengan kehadiran Naruto di dekatnya apalagi banyaknya pasang mata yang memperhatikan mereka.

Sedangkan di sisi Naruto, ia tampak menikmati makanannya tak memperdulikan apapun. Tanpa di sadari keduanya, Issei yang berada paling dekat dengan mereka hanya dapat memandang mereka berdua penuh akan rasa iri sambil menyantap roti yakisoba miliknya.

Naruto yang telah menghabiskan bekalnya segera meneguk susu segarnya. Rias melirik sebentar Naruto sambil meneruskan makannya.

"Jika sudah selesai, enyahlah!"

"Aku takkan pergi sebelum kau memanggil namaku." ucap Naruto sambil meletakkan botol susunya dan membereskan kotak bekalnya.

Rias yang sedang makan sedikit terkejut, akibatnya ia tersedak. Ia mencari-cari botol airnya yang ternyata masih di dalam tasnya, karena keburu waktu ia pun tanpa sadar menyambar botol susu di dekatnya dan meneguknya hingga habis.

Kejadian itu pun tak luput dari perhatian Naruto yang nampaknya agak terkejut apalagi teman-temannya yang memperhatikan mereka sedari tadi.

Rias yang lega segera menyimpannya kembali tanpa berpikir itu milik siapa.

"Rias-chan ...,"

Merasa terpanggil ia melihat Naruto yang kini memasang raut wajah terkejut yang membuatnya keheranan.

"... itu ciuman tak langsung, loh."

Rias agak bingung, tatapannya kemudian mengarah pada botol kosong yang ada ditangannya, sontak wajahnya memerah menyadari apa yang telah terjadi.

Ia dengan cepat mengembalikan botol itu dan membuang muka ke arah lain, menghindari kontak mata dengan Naruto.

"Orang itu menyebalkan sekali," batin Rias dengan wajah merona, sambil tetap memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Naruto tertawa kecil melihat tingkah Rias yang menurutnya sangat lucu. "Itu ciuman pertamaku, loh."

"U-urusai!"

"Ahaha, kurasa sudah cukup menggoda mu. Lagipula aku juga punya pekerjaan yang harus dilakukan."

Naruto berdiri sambil memandang Rias, yang keliatannya meliriknya sebentar sebelum mengalihkannya lagi saat mereka berkontak mata.

Melihat itu ia hanya tersenyum kecil, lalu melangkah mendekati Issei. "Hyoudou Issei, punya waktu sebentar?"

Issei yang sedang memungut bungkus plastik roti yakisoba-nya menatapnya dengan bingung.

"Hmm?"

"Ikuti aku, aku punya koleksi DVD bokep limited edition," bisik Naruto yang hanya dapat didengar oleh Issei. Seketika Issei terkejut dan memandang Naruto yang kini berjalan agak jauh darinya.

Naruto keluar dari kelas yang kemudian diikuti Issei. Naruto tersenyum kecil menyadari Issei mengikutinya, ia sudah tau umpan tadi pasti berhasil.

Naruto diam saja sepanjang koridor yang membuat Issei gugup untuk bicara duluan, dan tentu saja ia tahu itu.

"Kemari lah, Issei. Kita tidak dapat mengobrol jika kau berjalan di belakang ku," panggil Naruto melirik ke belakang.

"H-ha'i, Uzumaki-san." Issei agak gugup, ia merasakan sedikit rasa takut dalam dirinya saat melihat Naruto. Itu mulai tertanam ketika ia melihat bagaimana Rias kalah kemarin yang notabenenya orang terkuat di kelas.

Apalagi sosok laki-laki pirang itu sekarang menyandang gelar Crownless King, yang dapat membuat orang biasa memujamu dan menghormatimu. Dan sekarang ia harus berjalan sejajar dengan orang seperti itu.

"Tidak perlu setegang itu, dan panggil saja Naruto. Lagipula kita ini teman, 'kan?"

Naruto tersenyum kecil pada Issei. Mendengar kata 'teman' itu membuat Issei senang, berteman dengan Crownless King tentu saja merupakan suatu keberuntungan.

"Ha'i, Naruto-san!"

Issei pun membalas ucapan Naruto dengan tersenyum lebar.

"Oh, iya Issei. Soal DVD itu bohong, sebenarnya aku hanya ingin bicara dengan mu, maaf ya."

"Ah, tak apa-apa, Naruto-san."

"Jadi, Naruto-san, apa yang ingin kau bicarakan?"

"Kau kenal Riser si Ayam, 'kan?"

Awalnya Issei agak bingung mendengar kata 'Ayam'. "Apa yang kau maksud Riser Phoenix dari kelas sebelah?"

"Nampaknya kau kenal, ya?"

"Nggak kenal, cuma tau aja, kok. Lagipula dia 'kan Seventh King, jadinya semua orang pasti tau tentang dia."

"Bisa kau ceritakan sedikit tentang si Ayam ini?" Tanya Naruto yang disambut penuh semangat oleh Issei.

"Tentu, Riser adalah panutan bagi semua laki-laki di sekolah ini. Ia seorang pria sejati, walaupun sikapnya sangat brengsek tapi ia sosok yang patut di contoh oleh kaum kita, Naruto-san."

Ok, Naruto tampaknya sedikit bingung dengan penjelasan Issei yang sangat berbeda dengan Rias. Tapi ia tetap memutuskan untuk mendengarkan sampai akhir.

"Dia anak pengusaha sukses, ia benar-benar sempurna. Tampan, kaya, sombong, benar-benar simbol pria sejati. Kemana pun ia pergi, wanita selalu lengket padanya, apalagi ia seorang Raja sekarang, itu menambah kesempurnaannya."

Tunggu! Naruto merasa ini agak melenceng dari apa yang sebenarnya ia tanyakan, yang ia dengarkan sekarang hanyalah rengekan akan rasa iri dan cemburu yang telah terpendam cukup lama. Sepertinya ia telah salah bertanya pada orang yang salah.

"Hidup Riser bagai di surga, ditemani banyak bidadari di sekelilingnya. Ia bahkan punya puluhan budak yang siap ia gunakan kapan saja. Uwoooh! Seharusnya Riser dijuluki King Harem, daripada King of Card's. Benar-benar sempurna! Apalagi-"

"Maaf, memotong Issei. Yang ingin kutanyakan bukan tentang kehidupan si Ayam."

"Ah, maaf, Naruto-san! Aku terlalu bersemangat, hehe."

Issei menggaruk belakang kepalanya, merasa tidak enak dengan Naruto. Sedangkan Naruto hanya dapat tersenyum memaklumi sifat Issei yang tampaknya memang seperti itu.

"Jadi, bisa kau katakan si Ayam ini orangnya seperti apa?

"Hmm, diia orang yang sombong, brengsek, mesum, tapi dia hebat dalam permainan kartu, dia juga seorang penjudi hebat, dan semenjak dia jadi Raja, dia belum pernah kalah sama sekali. Dan dia juga punya imouto yang kawaii!"

Jelas Issei dengan nada kurang suka, kecuali pada kalimat terakhirnya ia sangat bersemangat.

Naruto hanya diam menerima informasi dari Issei. Berpikir sebentar, menyelaraskan segala informasi yang ia terima baik dari Rias maupun Issei, memprosesnya dan menarik kesimpulan. Dan setelah itu, kedua sudut bibirnya bergerak membentuk seringai kecil.

"Arigatou, Issei. Itu sangat membantu."

"Oh, iya. Masih ada satu hal lagi."

"Hmm, apa itu?"

"Sebenarnya Riser sangat menginginkan pacarmu, maksudku Gremory-san sebagai budaknya. Itu sudah lama sekali, mungkin semenjak kami kelas X atau mungkin sejak mereka pertama kali bertemu. Entahlah, pokoknya Riser benar-benar sangat menginginkan pacarmu, Naruto-san!"

Ucapan Issei barusan cukup membuat Naruto terkejut. Bukan karena Riser yang menginginkan Rias, tapi karena kata 'pacar'. Ia bertanya-tanya dalam pikirannya.

"Sejak kapan aku pacaran dengan, Rias?"

Sedangkan Issei ikut terkejut melihat Naruto. Issei merasa telah salah ngomong, ia seharusnya tidak mengatakan itu. Sekarang ia khawatir jika Naruto marah.

"Gawat! Gawat! Aduh, bisa jadi masalah ini. Naruto-san' pasti marah sekarang, takutnya dia bakal menantang Riser!"

Puk!

Sebuah tepukan tangan di bahu Issei. Itu membuat Issei menatap remaja di sampingnya yang sedang tersenyum kecil kepadanya.

"Issei, informasi barusan benar-benar sangat berharga. Sekali lagi, arigatou!"

Issei tertegun sejenak, ia dengan jelas dapat melihat raut wajah senang yang terpampang jelas di wajah Naruto. Hanya ada satu dipikiran Issei.

"Oh, Naruto-san, kau benar-benar pria sejati! Bahkan saat ada orang yang mengincar pacarmu kau tidak marah, malahan kau tetap bersikap tenang menghadapi tantangan!"

Issei tersentuh akan sikap Naruto yang menurutnya seorang True Man. Issei lalu mengangguk mengangguk sebagai balasan ucapan Naruto.

Sebelum Naruto melanjutkan langkahnya, Issei dengan cepat mendahuluinya dengan pertanyaan yang terlintas dipikirannya.

"Naruto-san, apakah kau akan menantang Riser?"

Naruto agak terkejut, ia tidak menyangka akan mendengar pertanyaan tersebut dari Issei. Naruto menatap Issei yang kini gugup menanti jawaban Naruto.

"Ya, aku akan menantang si Ayam."

"Sudah kuduga, ini semua salahku. Andai aku tak ngomong seperti itu tadi, aku yakin Naruto-san takkan bertindak sejauh ini."

Issei yang merasa bersalah kepada Naruto, mencoba mengumpulkan keberaniannya dan menatap penuh percaya diri Naruto, yang sekarang kebingungan melihat Issei.

"Tenang saja, Naruto-san! Aku akan membantumu, apapun yang terjadi!"

Ah! Ini diluar ekspektasi Naruto. Tak disangkanya Issei bisa seperti ini juga. Tapi, ini juga sesuatu menarik.

Naruto tersenyum senang mendengar ucapan Issei. "Arigatou, Issei! Bantuan mu akan sangat dibutuhkan ke depannya."

"Serahkan padaku, Naruto-san!"

Naruto mengangguk sebagai jawaban iya, begitu juga Issei yang semakin senang melihat tanggapan tersebut. Dan mulailah terjadi kesalahpahaman antara mereka berdua.

Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda sebentar. Dan saat sampai di belokan langkah Naruto dan Issei tiba-tiba terhenti, atau lebih tepatnya mereka dicegat seseorang.

Naruto menatap aneh orang itu, seorang gadis berambut hitam panjang selutut terikat dengan pita oren, iris mata violet yang menatap dirinya dengan pandangan tertarik, dan tawa aneh yang ia keluarkan.

Berbeda dengan Naruto, Issei disampingnya malah heboh sendiri melihat gadis itu, dan tak lupa dengan tatapan predatornya yang mengarah ke arah gundukan gadis itu yang keliatannya sedikit lebih besar dari milik Rias.

Menyadari reaksi Issei, Naruto berbisik pelan.

"Kau kenal dia, Issei?"

"Ha'i! Dia, Himejima Akeno, sahabatnya Gremory-san."

"Oh."

Hanya kata itu yang keluar dari Naruto. Apa yang dikatakan Issei barusan memberinya gambaran apa yang sedang terjadi sekarang dan yang akan terjadi kedepannya.

Perhatiannya kembali terfokus pada gadis itu.

"Jadi, ada keperluan kau denganku, Himejima-san?"

"Ara-ara~, kau tak perlu bersikap datar, Naruto-kun."

Mendengar nada suara Akeno, entah kenapa membuat Naruto merasa tidak enak. Berbeda dengan Issei yang terlihat puas mendengar nada sensual itu.

"Maaf, tapi kami terburu-buru. Jika tidak ada yang ingin kau katakan, kami pergi."

Naruto tidak ingin berurusan lebih lama dengan Akeno, entah kenapa pikirannya seolah-olah memberinya peringatan untuk menjauhi gadis itu.

"Ara-ara~, tak perlu terburu-buru Naruto-kun. Aku datang untuk mencari mu, loh."

"Atas keperluan apa?"

Naruto harus segera pergi, pikirannya sekarang berdengung keras. Tidak salah lagi, reaksi tersebut memberitahunya bahwa gadis ini ... berbahaya!

"Fufufu~, tentu saja untuk menantang mu."

Naruto terdiam dan memejamkan matanya sejenak mencoba menenangkan pikirannya. Di sisi lain, Issei terkejut.

Merasa tidak ditanggapi Akeno melanjutkan perkataannya dengan nada yang lebih sensual. "Jika kau menang kau bisa melakukan apapun padaku, termasuk jika kau mau-"

"Aku menolak!"

Naruto membuka matanya, menatap Akeno yang agak terkejut.

"Ara-ara~, sepertinya aku ditolak."

Terdengar sedikit kekecewaan di suara sensual Akeno.

"Maaf, Himejima-san. Aku sedang terburu-buru, jadi aku tidak punya waktu untuk meladeni mu."

Naruto tidak ingin berlama-lama lagi, ia harus segera pergi. Ia segera berjalan melewati Akeno. Dan tak lupa memanggil Issei yang masih terdiam di sana.

"Ayo, Issei!"

"Maaf, Akeno-san!" Issei menunduk sebentar sebelum pergi mengikuti Naruto.

Akeno hanya tersenyum kecil, ia berbalik dan melihat punggung Naruto yang mulai menjauh.

"Aku akan menunggumu, Naruto-kun!" Teriaknya sebelum Naruto makin jauh.

Akeno pun melangkah menuju arah sebaliknya dari Naruto. Tak selang beberapa Akeno mulai mengigit ibu jarinya dengan rona merah di wajahnya, ia merapatkan lengan kirinya di bawah dadanya, dan menggesekkan pahanya mencoba menenangkan rasa geli di pangkal pahanya.

"Fufufu~, dia benar-benar membuatku terangsang."

~•~

~~•School of Freedom•~~

~•~

"Apa tidak apa-apa menolak tantangan Akeno-san?" Tanya Issei panik, berusaha menyusul Naruto yang kini mulai menuruni tangga.

"Buruanku adalah Ayam bukan Pelacur. Lagipula aku tidak akan mendapat apa-apa jika menerima tantangannya."

"Apa yang kau katakan, Naruto-san. Bukankah Akeno-san menawarkan tubuhnya, itu luar biasa! Andai aku itu kamu, pasti sudah kuterima."

Issei sedikit tidak setuju dengan Naruto. Bahkan Issei malah membayangkan apa yang akan ia lakukan jika ia menerima tantangan Akeno.

Naruto hanya menghela nafas mendengar Issei. "Ku dengar kau itu orang mesum, tapi tak kusangka kau sampai semesum ini."

"Semua orang itu mesum, Naruto-san. Tidak ada yang tidak mesum di dunia ini," balas Issei sambil tersenyum lebar.

"Ucapan mu setengah benar setengah salah, Issei."

Perkataan Naruto langsung membuat Issei menatapnya bingung. "Kau benar, semua orang itu mesum, tapi tidak semua orang menunjukkan sisi mesumnya sepertimu," lanjut Naruto dengan nada mengejek.

"Ugh! Kau jahat, Naruto-san."

"Daripada membicarakan pelacur itu lebih baik kau memberitahu ku bagaimana perawakan si Anak Ayam?"

Setelah terbiasa mendengar kata ayam, tanpa bertanya Issei sudah tahu siapa yang Naruto maksud. "Dia gadis mungil yang imut, berambut pirang dengan gaya bor di kedua sisinya, sikapnya layaknya ojou-sama, dan-"

"Itu sudah cukup, Issei."

Naruto segera memotong ucapan Issei, takut jika penjelasan Issei tak tentu arah.

"Pernah mendengar cerita Rubah berburu induk Ayam?"

"Sepertinya belum."

Naruto berhenti sejenak saat mencapai lantai dasar. "Rubah itu hewan yang sangat licik, sangat-sangat licik. Saat dia memburu induk Ayam, dia akan memburu anak-anaknya terlebih dahulu. Apa kau tahu kenapa, Issei?"

Iseei menggeleng, mengikuti Naruto yang mulai agak jauh darinya. "Untuk menanamkan rasa takut pada induk Ayam, dia ingin membuat induk Ayam menderita terlebih dahulu sebelum memangsanya. Begitulah seekor Rubah, dan sekarang ...,"

Naruto berdiri di depan pintu kelas X-1 dan memegang gagang pintunya, ia menoleh kebelakang menatap Issei dengan seringai tipis.

"Perhatian baik-baik, Issei. Bagaimana caranya Rubah memburu mangsanya."

Sreet!

Naruto masuk diikuti Issei di belakangnya. Naruto berdiri sejenak di ambang pintu, yang sekarang telah menjadi pusat perhatian seisi kelas.

Iris sapphire nya menatap segala sudut ruangan mencari buruannya, memindai satu-persatu wajah yang ditangkap penglihatannya hingga berhenti saat melihat seorang gadis yang memiliki ciri-ciri persis seperti yang dikatakan Issei.

Gadis pendek, berambut pirang dengan gaya aneh, dan sikap sombong yang selalu terpatri di wajahnya. Tidak salah lagi, itu adalah mangsanya.

Melangkah mendekati mangsanya yang nampaknya dikelilingi banyak anjing penjilat yang sedang mencari muka. Dalam hati Naruto menyeringai lebar melihat itu.

Berhenti tepat di samping mangsanya yang kini menatapnya heran. Naruto tersenyum kecil dan menyapanya.

"Ohayou, Yakitori-chan!"

~•~

~•~

~•~

TBC

Konnichiwa!

Wow! 5k ... Pertama kalinya ngetik sepanjang ini dalam waktu 3 hari! Biasanya berminggu-minggu pun nggak selesai-selesai, apalagi berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, ahahaha ...

Bagaimana, guys? Sorry aja nih, chapter kali ini nggak ada permainan. Itu bakalan muncul di chapter selanjutnya, ane juga masih bingung bakalan maen apa mereka.

Yah, kalau ada saran silahkan ketik aja di kolom review, nanti ane pelajari deh. Untuk chapter depan, up-nya ane nggak tahu, masih blm dapat ide juga soalnya.

Untuk gelar Crowned King ane ganti jadi Crownless King, soalnya ane salah translate hehe...

Mungkin ada yang menyadari di chapter kali ini, Rias mendominasi hampir sebagian alur cerita. Yup, itu ane sengaja... Karena kedepannya, Rias ... Wkwkwk, ngga boleh spoiler dong, Ahaha ...

Naruto pacaran ama Rias? WTF? Nggak! Naruto nggak pacaran, ok ... Itu hanya hasil kesalahpahaman Issei dkk.

Jadi, jangan terlalu berharap Naruto jadian Ama Rias. Untuk sekarang ane nggak mikirin pacar-pacaran dulu, ane mau fokus sekolah dulu. Entah kedepannya gimana ... mana ane tau ... Ahaha ...

Apakah Naruto takut dengan Akeno? Ohoho ... Sssst, akan terjawab chapter kedepannya.

Dah itu ada, deh... Ok, sampai jumpa di chapter depan!

~Rain-san Out~

Next Chapter : Little Chicken and Slutty II