NEBULOUS BOYFRIEND
pjm x myg
mature
fantasy, romance, comedy, explicit sexual content, magical creature
DLDR!
.
.
.
"Hyung, sebetulnya kamu itu apa, sih?"
"Hah?"
Jimin yang saat itu sedang memandang gelembung-gelembung di gelas kolanya dibuat keheranan karena ucapan Yoongi yang demikian. Ujug-ujug, kekasihnya itu menelisik, seolah-olah ada yang mesti dicek dari penampilannya. Dia melihat ke atas, ke bawah, ke kanan, ke kiri, memastikan apakah ada yang aneh dari dirinya kala itu. Akan tetapi, dia tidak menemukannya. Bau badannya juga masih baik-baik saja.
"Gimana?"
"Semalam aku memimpikan kamu, tetapi bukan kamu yang ini, melainkan kamu yang lain. Kamu ada dua: 1) kamu dengan enam sayap dan banyak mata di sekujur tubuhmu; 2) kamu dengan tanduk kambing gunung dan ekor reptil. Satu kayak malaikat, satunya kayak setan."
Sambil mengarahkan tepian gelas ke bibir, Jimin bertanya, "Ngapain mereka dalam mimpimu?"
"Ngajak ngewe."
"PFFTT!"
Kola Jimin tersembur, muncrat membasahi kartu remi yang berserakan di lantai. Kata-kata Yoongi begitu frontal, dan itu berhasil membuatnya terkejut tanpa banyak jeda. Dia mau tertawa, tetapi susah. Sembari terbatuk-batuk, tangannya buru-buru menarik selembar tisu untuk lap bibir dan dagu yang basah.
"Yang benar saja? Dua-duanya? Dua-duanya ngajak kamu ngewe?"
"Iya." Yoongi mengeryit karena pacarnya dan kartu-kartu itu sekarang tampak menjijikkan. Dia jadi tidak selera lagi untuk bermain.
Melihat gelagat Yoongi yang seperti itu, Jimin jadi tengsin. Dia berinisiatif untuk mengumpulkan kartu-kartu yang kena semburannya dan menjemur itu di dekat pintu menuju balkon yang tak jauh dari tempatnya duduk supaya cepat kering.
"Lantas, apa kamu terima ajakan mereka?"
"Enggak, lah! Kamu pikir aku enggak takut lihat dua makhluk yang bentuknya—ergh, susah dijabarkan seperti itu?"
"Lho? Kamu baru saja menjabarkannya dengan jelas padaku barusan. Katamu yang satu kayak malaikat, satunya kayak setan."
"Aish! Hyung!"
Karena kesal, Yoongi melempar kartu di tangannya tepat ke wajah Jimin. Kartunya berserakan. Tugas Jimin bertambah lagi. Dia mendengkus pasrah, kemudian dengan ogah-ogahan mengambil lembar-lembar kartu itu satu per satu untuk dimasukkan ke dalam wadahnya.
"Sekarang jawab saja, Hyung, sebetulnya kamu ini apa? Kamu bukan manusia, ya, 'kan?"
"Seingatku semalam kita enggak minum, deh? Atau diam-diam kamu minum tanpa sepengetahuanku dan sekarang yang kamu perlihatkan adalah sisa-sisa dari mabukmu juga keinginan yang tak tuntas … sebab semalam aku langsung tidur begitu datang kemari. Iya apa iya?"
"Jawab saja, Hyung! Ah, enggak, Park Jimin! Oh, bukan, Park Entahlah Apa Itu Kau Jimin!"
"Ssut! Jangan teriak-teriak, nanti tetangga terganggu."
Pipi Yoongi dicengkeram, bibirnya pun jadi manyun seperti bibir ikan. Kemudian, Jimin menjulurkan lehernya dan ikut-ikutan manyun untuk meraih bibir Yoongi. Dia mengecupnya dua kali lantaran gemas. Dasar kucing nakal, gerutu Jimin dalam hati. Yoongi memang kekasih yang cerewet dan banyak tingkah.
"Sudah berapa lama kita pacaran?"
"S-sutuhun."
"Oh, iya, maaf, bibirmu." Jimin melepaskan cengkeramannya, kemudian merepetisi, "Sudah berapa lama kita pacaran?"
"Tadi sudah kujawab."
"Baiklah." Dia mengedikkan badan. "Selama setahun ini kamu sudah kenal aku luar dalam, Yoongi. Kamu bahkan tahu kancut dalam lemariku adalah yang dijual di toko serba ada. Apakah masih perlu kamu mempertanyakan identitasku?"
Yoongi menghela napas panjang dan membuangnya hambur. Dia memerosotkan bahu, kemudian menyuruk ke leher lelaki yang rambutnya gondrong riap-riapan itu. Dia memeluk Jimin erat-erat, merasa menyesal sudah membuat kekasihnya kecewa.
"Maaf, Hyungie … bukanya aku enggak yakin padamu, aku cuma kepengin tanya saja."
"Itu sama saja." Jimin bersungut.
"Enggaak …."
Yoongi melepas pelukannya, lalu memegangi pundak Jimin sembari menatap mata lelaki itu; menunjukkan wajah memelas minta diberi rasa percaya. Dia sebetulnya hanya takut kekasihnya marah dan berakhir mendiamkannya. Saat itu, raut wajah Jimin memang telah berubah menjadi sedikit lebih dingin. Yoongi tidak enak hati.
"Jangan dianggap serius, dan, ya, mungkin kamu benar. Aku jadi melantur gara-gara semalam kamu malah ngorok di sebelahku, padahal aku sudah mandi dan siap-siap untuk—"
"Gila," sela Jimin. "Aku enggak bisa membayangkan kalau kamu akhirnya ngewe dengan dua orang aku yang katamu bentuknya enggak keruan itu."
Yoongi tergeleng-geleng. "Aku juga, enggak terbayang."
"Lantas kenapa pipi dan telingamu merah? Itu artinya kamu bisa membayangkannya, 'kan?"
Kekeh yang remeh penuh ejekan meluncur bebas dari bibir tebal Jimin. Dia menertawai Yoongi karena kepolosannya. Kulit Yoongi yang bening, putih, bersih, tidak bisa mengelabui siapa-siapa lantaran bakal ada semu merah yang tampak dan makin luas tiap kali dia merasa malu. Imut sekali, jadi pingin terus merundung, begitulah pikir Jimin. Setelah tawanya reda, dia menangkap tatapan Yoongi yang sarat rasa penasaran.
"Jadi, bagaimana?" tanya pemuda mungil itu.
"Ya, ampun, masih, saja?"
"Ya, sudah, enggak usah dibahas lagi. Enggak apa-apa."
Sembari mencebik, Yoongi bangkit dari duduknya, kemudian beranjak ke dapur untuk mengisi gelas kolanya dengan es batu. Matahari begitu terik siang itu. Udara jadi panas dan lembap.
Sembari melihat ke langit-langit kamar, Jimin menceletuk, "Yoongi, ketahuilah … sebenarnya aku sudah berusaha menutupinya sejak awal, dan aku pikir enggak bakal pernah terbersit dalam pikiranmu untuk memastikan tentang itu, tetapi … pada akhirnya kamu bertanya juga."
Obsidian Yoongi membola. "Hyung! Jadi benar kalau kamu bukan manusia?!"
"Aku ngelepus dulu, ah."
***NEBULOUS BOYFRIEND***
Jimin adalah lelaki biasa. Usianya empat tahun di atas Yoongi dan dia sekarang bekerja sebagai editor di sebuah studio animasi. Dia sangat suka ngelepus. Katanya, ngelepus adalah kegiatan sakral yang bisa menenangkan jiwa. Bahkan menurutnya, saat badai datang, manusia hanya perlu ngelepus dengan santai lalu mati. Bagi Yoongi, tidak ada yang aneh dari dia selain pemikirannya yang begitu sederhana dan penuh kepasrahan seperti itu. Dia benar-benar lelaki biasa yang biasa-biasa saja.
Akan tetapi, sejak mereka membicarakan tentang mimpi Yoongi pada siang yang panas waktu itu, ada kejanggalan-kejanggalan yang mulai muncul ke permukaan. Seperti ketika Jimin sedang berdiri menyeduh kopi, Yoongi dapat melihat sekelebat bayang ekor panjangnya yang bergerak ke sana kemari; ketika dia sedang berjemur di balkon pagi-pagi, Yoongi dapat melihat bias pelangi halo di sekitar pundaknya; pada malam-malam tertentu ketika Yoongi memerhatikan Jimin yang melamun sebelum tidur, dia dapat menangkap warna-warna yang lain dari iris mata lelaki itu—yang kalau tidak merah, ya, biru.
Saat Jimin tidak sedang berada di apartemennya, Yoongi banyak merenung dalam kesendirian. Dia mulai tidak yakin apakah Jimin yang aneh atau justru dia yang gila. Kadang-kadang, dia merasa kalau dia sangat bodoh sebab Jimin sendiri sebetulnya tidak menunjukkan gerak-gerik yang mencurigakan. Jimin masih tetap biasa-biasa saja. Kalau tidak menonton teve di lantai, dia ngelepus di balkon, atau bercengkerama dengan kucing di jalan, atau juga berebahan di sofa tanpa melakukan apa-apa selama berjam-jam. Jadi, Yoongi menganggap bahwa bisa jadi memang apa yang dia lihat hanyalah sewujud imajinasi. Namun, tetap saja, meski dia mencoba berpikir demikian, dia juga tidak mengerti, apa bisa dia menciptakan sesuatu yang sebegitu absurdnya sementara mengarang fiksi mini untuk tugas kampus saja dia tidak sanggup?
"Gerah banget," kata Jimin.
Senin malam itu, dia datang ke apartemen Yoongi dengan membawa sekeranjang jeruk. Namun, karena sudah hampir jam dua belas kosong-kosong, Yoongi tidak lagi punya selera untuk memakannya, jadi, dimasukkanlah jeruk-jeruk itu ke kulkas. Jimin pergi mandi, sementara Yoongi kembali ke ranjang untuk melanjutkan tidur.
Dia tidak tahu kapan Jimin selesai membersihkan diri sebab tahu-tahu saja, saat dia tengah merasakan nikmatnya kantuk, ranjangnya menjadi sempit. Dia menoleh ke belakang, melihat Jimin yang sudah leyeh-leyeh tanpa mengenakan apa-apa kecuali kancut.
"Selamat malam," kata lelaki itu sebelum menutup matanya.
Sekali waktu, Jimin pernah bilang kalau dia bakal sedih seandainya Yoongi memaksakan diri untuk diet hanya demi menjadi bagian dari standar estetik orang kebanyakan. Dia mengakui kalau perut dan pinggang Yoongi yang kelebihan lemak adalah favoritnya; tidak boleh diganggu gugat. Katanya, Yoongi harus mencintai kelebihannya yang satu itu.
Memang, Yoongi juga kepengin punya badan bagus, tetapi bagaimana pun kini dia berbentuk, Jimin telah menerima dia apa adanya. Lalu, Yoongi pun berpikir bahwa semestinya dia juga bisa melakukan hal yang sama pada lelaki itu; terlepas dari jati diri Jimin yang entah manusia tulen atau bukan.
Dia mengelus-elus dada Jimin sembari bergumam, "Hyung … seandainya kamu bukan manusia pun, aku bakal tetap mencintaimu."
"Ngomong apa, kamu ini?"
Yoongi terkinjat gara-gara Jimin yang tiba-tiba menyahut sambil melek. "Kukira kamu sudah tidur, lho!"
"Kamu lupa kalau aku butuh paling cepat satu jam sampai bisa terlelap? Aku bahkan masih bisa dengar kamu kentut tadi—aww! Sakit!"
Yoongi menggampar lengan Jimin karena lelaki itu sudah membuatnya merasa malu. Meski sudah cukup lama saling mengenal, tetap saja perkara kentut adalah sesuatu yang sensitif baginya. Apalagi kalau kebetulan bunyinya kencang.
"Kamu masih memikirkan tentang mimpimu waktu itu? Oh, atau mereka datang lagi?"
"Enggak. Hanya saja …."
"Hanya saja apa?"
Sebetulnya dia tidak sedang memikirkan apa-apa selain tentang dirinya dan penerimaan Jimin yang tulus. Namun, dia tidak mau mengatakan itu karena gengsi. Apalagi tadi sudah ketahuan kentut. Maka, cepat-cepat dia membualkan alasan meski sekenanya saja.
"Aku membayangkan sekokoh apa tanduk kambing yang melengkung melingkar-lingkar itu. Ya, bentuknya seperti itu, lah. Kamu ngerti, 'kan?"
"Oh, tandukku? Pengin pegang, begitu, maksudnya?"
Jimin memberi senyum. Yoongi mengerjap-erjap. Itu bukan senyum bodoh yang biasa dia tunjukkan di depan kekasihnya. Itu senyum langka yang lebih menyerupai seringai pemangsa yang berbahaya.
"Hyung, apa, sih? Kok, tiba-tiba?"
Yoongi pun bergidik ngeri. Dia yang tadinya hanya bicara omong kosong jadi takut melihat Jimin yang tampak serius begini. Ketika lelaki itu bangkit dan memposisikan tubuhnya untuk mengungkung dari atas, dia gelagapan.
"Kamu kepengin pegang tandukku, 'kan?"
"H-hah?"
"Tunggu, ya, biar kutunjukkan sesuatu padamu. Ini sihir. Bim, salabim…."
Jimin terpejam, lalu secara tidak masuk akal, sepasang tanduk besar mulai keluar dari batok kepalanya. Bersamaan dengan itu, rambut cokelat gondrongnya berubah menjadi sehitam jelaga. Setelah tanduk itu terbentuk sempurna—melengkung melingkar-lingkar seperti yang Yoongi sebutkan—Jimin membuka matanya, memperlihatkan kemilau sewarna api yang merah kuning dari irisnya. Dia menyunggingkan senyum yang menawan, lalu membelai pipi Yoongi dengan jari-jarinya yang berkuku panjang.
"E-enggak … enggak mungkin," gumam Yoongi gagap; tidak berkutik saat melihat Jimin versi setan yang benar-benar persis seperti yang datang dalam mimpinya tempo hari. Jantungnya seperti berhenti sesaat waktu setan itu mengecup pipi kanan dan kirinya. Dia benar-benar terperangah, kebingungan, terdiam kaku tidak bisa bergerak.
"Duh, sebentar."
Akan tetapi, dalam situasi mirip roman picisan pada bagian menuju klimaks penuh cinta yang klise itu, ada sesuatu yang membuat Yoongi mengeryit risih karena tiba-tiba saja Jimin menaruh tangannya di belakang seperti mau menggaruk pantat yang gatal.
"Kamu ngapain?!"
"Nah, kalau begini, 'kan, enak," ucap Jimin lega setelah mengeluarkan sesuatu yang terselip dalam kancutnya.
Oh, demi apa? Itu ekor?! Yoongi berteriak dalam hati. Kerongkongannya sempit sampai tidak mampu berkata-kata. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ekor Jimin yang panjang itu meliuk-liuk dengan bebas di udara. Jimin cengengesan. Lidahnya, yang ujungnya terbelah dua, terjulur untuk jilat sudut bibir yang sebetulnya tidak basah. Dia hanya mau menggoda Yoongi yang sedang ketakutan.
"Heei," katanya, dengan nada sarat rayuan.
Pupil Yoongi membesar saat Jimin merangkak memangkas jarak. Wajah lelaki itu sekarang benar-benar hanya sesenti dua senti dari wajahnya sendiri. Kilatan cahaya bak bintang jatuh di atas lahar gunung merapi tampak dari sepasang mata lelaki itu. Yoongi terpenjara dalam kekaguman sekaligus rasa ngeri.
"Apakah kamu merasakannya? Ekorku tahu mana tempat yang tepat untuk dijamah."
"KADAAAL!" Yoongi berteriak histeris begitu sadar pahanya sedang dililit.
Tetangga sebelah mengetuk dinding keras-keras. Yoongi menutup mulut dengan kedua tangan; hampir menggigit jari. Dia juga kesal karena tidak bisa menahan diri. Di atasnya, Jimin hanya mengekeh saja.
"Nih, kalau mau pegang." Lelaki itu menunduk, membuat tanduknya condong pada si mungil yang berebahan di bawahnya. "Ayo, cepat. Katanya penasaran?"
Yoongi gemetaran, mau menyentuh tapi juga sangsi. Ini betulan? Dia memandang tanduk itu dari ujung ke ujung, kemudian dengan keberanian yang cuma seiprit, akhirnya dia menyentuhnya juga walau hanya dengan seujung jari.
"Hiii!" Dia teriak lagi. Tetangga mengerutu di balik dinding, dan itu jadi peringatan yang kedua kali baginya. Yoongi tidak bisa apa-apa kecuali menggerung geram sebab kalau tidak gara-gara si setan dari antah berantah ini, dia tak bakal teriak sebegitu keras. Kemudian dia coba memelankan suaranya, untuk berbisik meski kasar. "K-kamu siapa sebetulnya?!"
Jimin mendengkus. "Pacarmu, lah. Siapa lagi?"
"Bukan, maksudku—"
"Aku pacarmu, Park Jimin," sela lelaki itu sembari membuka lebar kaki Yoongi seperti mau mengeksekusi daging kalkun utuh untuk kemudian dibumbui. Baju si mungil disingkap sampai sedada dan perut gembulnya dikecup dengan mesra. Sembari menebar pesona lewat kerlingan manja, dia berkata, "Kamu bisa memegang tandukku sebanyak apa pun yang kamu mau. Ayo kita ngewe sekarang."
"ENGGAK MAUU!"
Yoongi menutup mata rapat-rapat. Semua jadi gelap. Lalu ketika akhirnya dia membuka matanya lagi, yang dia lihat adalah langit-langit kamar. Tidak ada siapa-siapa di atasnya. Perlahan dia pun bangun dan dudukkan diri. Tubuhnya berpeluh, jantungnya berdetak cepat, dan celananya basah. Saat itu dia belum bisa memastikan apakah basahnya disebabkan karena ngompol atau orgasme. Ngompol, sepertinya. Dia menyangkal, padahal sudah tahu jawabannya apa.
Dengan cemas dia celingak-celinguk, kemudian menoleh ke samping dan menemukan Jimin yang ternyata sedang ngorok dengan kedua tangan di atas kepala, kelihatan begitu nikmat mengayuh sampan di lautan mimpi. Tidak ada yang tidak biasa dari tubuhnya. Tidak ada tanduk, tidak ada ekor. Hanya burungnya saja yang menyembul dari balik kancut polos berwarna abu-abu yang dia kenakan. Yoongi pikir teriakannya pun tidak benar-benar keluar dari bibirnya, karena kalau iya, Jimin tentu tidak akan selelap itu.
Lantas setelah memastikan kekasihnya tidak terusik, Yoongi turun dari ranjang, dan dengan terburu-buru dia berjalan ke kamar mandi. Di dalam ruang sempit itu, dia merenungkan tentang apa yang baru saja terjadi padanya. Mimpi macam apa itu tadi? Batinnya bergejolak.
Ketika buka celana, dia tidak begitu terkejut karena yang membasahinya memang bukan air kencing melainkan air mani. Dia keki saja. Sialan, bisa-bisanya. Yoongi mengantukkan kepala ke dinding, merasa tolol. Kemudian dia menutup matanya dengan harapan bayang-bayang mimpi itu bisa hilang kalau dia fokus menghapuskannya. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Makin dia berusaha, makin jelas juga bayangannya.
Walau baru sekejap bertemu, dia tidak bisa bohong kalau setan Jimin dalam mimpinya itu terlihat amatlah liar, nakal, panas, gagah, mempesona, dan jago memanja. Dia bahkan masih bisa merasakan selembut apa kecupan lelaki itu di perutnya. Saat membayangkan bagaimana ekor Jimin menggerayangi, ada sesuatu yang menggelitik otot-otot selangkangannya.
"Amit-amit!"
Yoongi frustrasi. Namun alih-alih menyudahi, dia malah berniat melanjutkannya. Nafsunya sudah kadung terpancing. Pikirnya, itu mesti dituntaskan juga.
Pelan-pelan, dia meraih batang kemaluannya dan mulai memijat. Dia terus memijat, terus memijat, kemudian pijatan itu berganti menjadi kocokan yang intens sampai desah basahnya yang erotis lolos dari bibir, dan dia pun menjemput puncak kenikmatannya setelah beberapa saat. Yoongi mengerang, air maninya bersimbur.
"Yoongi?"
Belum ada semenit setelah Yoongi klimaks, Jimin nyelonong masuk ke kamar mandi tanpa tunggu persetujuan. Kira-kira dua detik, mata mereka berserobok dan keduanya tidak bergerak dari tempat masing-masing.
"Aku penasaran, kukira cuma mimpi, ternyata kamu betulan sedang uh-ah begini."
"Keluar, sana!"
Yoongi tentu saja tidak punya waktu untuk menyembunyikan kekacauan yang baru saja dia buat. Bukti-bukti masturbasinya masih jelas terlihat. Dia hanya bisa berpaling muka sambil mendecih, menahan malu yang benar-benar. Pikirnya, Jimin yang sedang dalam keadaan begitu lelap mana mungkin bangun hanya karena suara-suara gaib dari kamar mandi. Padahal, kalau tidak sedang capai-capai amat, ada bunyi sedikit saja Jimin bisa langsung sadar.
"Anggap saja aku enggak ada, teruskan."
"Teruskan, teruskan, tetapi kamu bukannya pergi malah diam di situ!"
Yoongi mengomel, sementara Jimin hanya memandangnya dengan wajah stoic dan mata yang setengah mengantuk; tidak terpengaruh apa-apa. Dia tidak punya rasa takut akan ancaman yang kekasihnya beri. Baginya, Yoongi hanya kelihatan seperti seekor kucing lucu yang sedang ngambek.
"Apa kamu mau kubantu menuntaskannya?"
"Menuntaskan apa?"
Jimin menunjuk pucuk kemaluan Yoongi dengan dagu yang naik turun. "Masih merah, itu. Oh, atau mau ini saja sekalian?"
Pipi Yoongi merah padam saat Jimin—dengan ekspresinya yang datar—memberi isyarat tumbuk-tumbukan dengan goyangan pinggul. Astaga. Sebalnya dua kali lipat. Lagipula, mana mau dia bersetubuhdengan Jimin setelah orgasme dua kali gara-gara Jimin versi lain dalam mimpi?
Sebagai seseorang yang masih menunjung tinggi yang namanya harga diri, Yoongi tentu bakal menolak. Lantaran menurutnya, menerima ajakan dari Jimin sama saja dengan mempermalukan diri sendiri—khususnya dalam situasi dan kondisi yang seperti itu.
"Enggak. Sudah cukup. Kamu tidurlah lagi. Aku juga mau tidur lagi habis ini."
"Hem … baiklah."
Lalu Jimin keluar dari kamar mandi, dan Yoongi akhirnya bisa bernapas lega.
Sebetulnya, Jimin tipikal lelaki yang tidak banyak menuntut apalagi soal seks. Kalau tidak ada consent, dia juga tidak bakal memaksa. Kalau pun iya, paling-paling hanya bercanda. Memang, ada rasa bersalah di hati Yoongi ketika Jimin membalik badan dan kembali ke tempat tidur, tetapi dia pikir itu tidak lebih penting sekarang. Yang lebih penting adalah: alasan mengapa si setan itu datang lagi, dan mengapa mimpi itu terasa sangat nyata.
***NEBULOUS BOYFRIEND***
Beberapa hari berlalu, dan mimpi itu masih menghantui. Yoongi mencoba mengabaikannya dengan memberi sugesti pada diri sendiri bahwa itu hanya sekilas khayal konyol yang tidak penting. Kendati demikian, tetap saja dia terganggu. Ada penasaran yang bertumbuh seiring dengan semakin besar rasa risinya, sehingga walau tak mau mengakui, dia masih kepengin juga untuk melihat Jimin versi setan di lain kesempatan.
Jimin baru datang lagi ke indekos Yoongi Kamis malam, pada jam di mana orang sedang berkemah di alam mimpi. Dia sempat minta maaf dengan kecupan di kening karena telah membangunkan si mungil itu, dan dia menyuruh Yoongi untuk melanjutkan tidurnya, sementara dia perlu mandi sebelum naik kasur. Akan tetapi, Yoongi tidak lantas tidur lagi, melainkan pergi ke dapur, menggodok air untuk menyeduh teh.
Sehabis mandi, Jimin hanya berebahan menonton teve tanpa ada tanda-tanda mau mengajak kekasihnya bicara. Dia kelihatan agak stres. Yoongi menebak kalau lelaki ini sedang ada masalah di kantor sehingga mood-nya tidak bagus. Jadi, dia mencoba menyesuaikan dengan tidak banyak bicara juga. Dia pikir Jimin mungkin hanya butuh istirahat yang cukup.
"Ini, minumlah."
"Thanks."
Setelah Jimin menyeruput tehnya, dan menaruh gelasnya di meja nakas, Yoongi naik ke kasur untuk kemudian merangkul kekasihnya itu. Dia mencium tengkuk Jimin seraya memeluk dengan lembut.
"Hyung, ayo, tidur."
"Belum ngantuk."
"Tidur di dadaku. Aku akan meninabobokanmu sampai kamu tertidur."
Jimin memandangnya lama; tampak ragu-ragu. Akan tetapi, pada akhirnya dia menuruti apa yang kekasihnya pinta. Yoongi berebah duluan, disusul olehnya. Dada montok Yoongi jadi tempat bersandar. Dia mencoba menyamankan diri di situ sembari memejamkan mata. Kemudian Yoongi mulai bernyanyi, sembari membelai rambut sang kekasih.
"Maaf, ya, aku enggak bisa bantu apa-apa. Aku hanya enggak mau lihat kamu stres begitu."
Yoongi berkata seperti ini setelah Jimin terlelap. Dengan sayang, dia mengetatkan pelukan. Dia putuskan untuk menyusul Jimin menyambut mimpi malam itu.
Pagi harinya, Yoongi mulai bangun bukan pada waktu di mana alarmnya berbunyi, tetapi beberapa sesaat sebelumnya sebab dia kegelian. Dia merasakan kecupan-kecupan kecil yang lembut menghujani kulit leher dan sekitar tulang selangkanya. Ada dua tangan yang bergerilya meraba-raba di balik kaos, membelai dengan penuh godaan, seolah-olah mengajaknya untuk bangun dalam keadaan dimabuk kepayang.
Masih dengan mata yang terpejam, dia mengekeh sebab dia pikir Jimin sedang memulai sesi pagi yang menyenangkan dengannya. Akan tetapi, ketika dia membuka mata, yang dia temukan bukanlah kepala lelaki itu melainkan kepala dari seseorang berambut pirang pucat yang sedang menyuruk ke dadanya. Dia mengenakan pakaian serba putih, dan di punggungnya bertengger sayap-sayap yang sewarna gading, begitu besar sampai-sampai menyentuh langit-langit. Yoongi menganga; tidak tahu mesti terkejut karena apa dan yang mana.
Kemudian, dia teringat akan Jimin versi lain lagi yang pernah datang ke mimpinya, yang kayak malaikat itu, dan dengan sangat gemetaran dia pun bertanya, "H-hyung…?"
Lelaki yang dipanggilnya lalu mengangkat kepala, dan memperlihatkan bahwa dia memiliki wajah yang sama dengan Jimin. Yang buat beda, matanya ada banyak di keseluruhan muka, dan kesemuanya berkedip di saat yang bersamaan.
"AAAAA!" Yoongi berteriak tanpa aba-aba. Di luar, burung-burung ambyar.
"Jangan takut, Sayang."
"Bagaimana bisa aku enggak takut melihatmu?! Apa kamu gila?! Apa kamu gilaaaaa?!"
Yoongi berteriak lagi, kali ini dengan meronta-ronta. Lelaki di atasnya kemudian menegakkan badan, sehingga dia bisa menyelinap turun dari kasur—walau mesti jatuh dulu. Sembari memandang rupa sang malaikat yang mengerikan itu, dia merangkak menjauh sampai kepalanya membentur meja teve. Jimin kemudian menapakkan kakinya ke lantai. Akan tetapi, dia tidak mendekati Yoongi, melainkan menyilang kaki dan duduk dengan sikap yang elegan di atas kasur. Dia menyunggingkan senyum tipis yang sialnya membuat detak jantung Yoongi berpacu lebih cepat.
"Aku akan menyembunyikan ini kalau kamu takut."
Ini yang dia maksud adalah mata ekstranya, juga sayap-sayapnya yang memenuhi ruang. Dia terpejam, dan atributnya menghilang dalam sekejap. Yang tersisa hanya helai-helai sayapnya yang beterbangan di udara, yang membuat Yoongi terpukau, apalagi ketika sehelai jatuh di telapak tangannya. Kini si malaikat kelihatan seperti manusia biasa, meski tetap saja jauh berbeda dengan Jimin yang Yoongi pacari.
"K-kenapa kamu berubah seperti ini? Jadi memang benar kalau kamu punya banyak wujud, ya?!"
Suara Yoongi meninggi di akhir kalimat. Jimin hanya mendecak, kemudian menopang dagu.
"Jangan mengada-ngada," katanya.
Ucapan itu melecutkan amarah Yoongi. Dia meremas helai sayap Jimin di genggamannya, lalu menghempaskannya seraya berjalan mendekati lelaki itu dengan tatapan setajam elang, sarat keki dan rasa tersinggung.
"Sayang—"
"Diam! Kamu kurang ajar!" Yoongi mendorong lelaki itu, kemudian menduduki perutnya sehingga dia tidak bisa bangun. "Aku yang mengada-ngada atau justru kamu … kamu yang mengada-ngada?!"
"Sabar …."
"Sabar, sabar, pantatmu lebar?!"
"Sayang—"
"Jelaskan dulu padaku tentang semua ini sebelum kamu panggil aku sayang—"
"No," kata Jimin. Dengan tegas, dia menarik Yoongi jatuh ke pelukannya. "Kamu harus tenang dulu. Oke?"
Yoongi tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya dikunci dan wajahnya kini berhadapan langsung dengan wajah lelaki itu. Matanya begitu biru jernih seperti air laut yang berkilauan, juga seperti langit pada waktu cerah maksimal di musim panas. Ketika Jimin memegangi kepalanya dan membuatnya tersungkur, dia dapat mencium aroma yang sangat dia suka menguar dari rambut dan pakaian lelaki itu: aroma kucing yang habis mandi cahaya matahari.
"… siapa kamu?" Dengan suara yang lemah dia bertanya. Jimin sedang membuainya dalam kasih, dan Yoongi luluh terlena.
"Pacarmu, tentu saja."
"Enggak, bukan. Pacarku … dia … seorang lelaki yang bajunya bau rokok. Dia jarang memelukku dengan erat …."
"Benarkah? Tetapi kini dia sedang melakukannya, bukan?"
"L-lepaskan," pinta Yoongi malu-malu. Pipinya sudah mulai memerah gara-gara kata-kata dan perlakuan lelaki itu.
"Santai saja. Bukankah bergelung bersama yang terkasih di atas kasur adalah sesuatu yang setiap orang idam-idamkan, termasuk kamu? Beri aku ciuman selamat pagi."
Yoongi menatap mata biru itu, menelisik, mencari kebenaran. Jimin yang ini punya pesona yang lembut, dan dia pikir tidak ada salahnya untuk memberi sekecup bibir pada lelaki yang telah memberinya pelukan yang hangat itu.
Kemudian bibir mereka pun bertemu dalam detik-detik yang syahdu. Setelah bertatapan lagi untuk yang kedua kali, dalam jerat hasrat yang bangkit seperti mentari yang baru terbit, mereka berbagi ciuman yang lebih mesra.
"Ammh…"
Yoongi yang semula ada di atas, digulingkan supaya berubah posisi. Kini Jimin yang menjajah. Yoongi menyangkutkan lengannya di leher dan pundak kokoh sang malaikat. Dia terlalu menikmati sentuhan Jimin. Pagutannya, juga suaranya yang begitu merdu merasuk ke sukma, sampai-sampai dia tak sadar kalau celananya telah dilucuti, dan kakinya telah ditekuk untuk kemudian disangkutkan di pinggang lelaki itu.
"Maukah kamu menyerahkan dirimu padaku, wahai bidadariku yang cantik?"
Biip, biip, biip, alarmnya berbunyi. Dia terkesiap. Matanya melebar lihat langit-langit kamar yang terang karena cahaya matahari. Dia tidak menemukan apa-apa kecuali jendela yang tirainya sudah dibuka. Selimutnya diangkat, dan dia mengintip ke dalam, untuk memastikan apakah celananya basah lagi atau tidak.
"Yoongi, are you okay?" tanya Jimin yang kepalanya menyembul dari balik dinding. Dia berhasil membuat Yoongi terlonjak kaget. "Aku dengar kamu ngeden tadi."
Yoongi mengerjap-erjap bingung sekaligus takut. Suara lembut si malaikat terngiang-ngiang, kecup manjanya terbayang-bayang. Dia mengelus dada, merasakan degup jantungnya yang keras seperti genderang. Kakinya ditekuk rapat untuk sembunyikan sesuatu di selangkangan. Dia tarik selimut, lalu gulung diri. Jimin yang sedang menating cangkir kopi itu mendekat untuk sentuh keningnya, memeriksa apakah kekasihnya sakit atau tidak karena pipi dan telinganya begitu merah.
"Aku mau berangkat ke kantor, tetapi kalau kamu sakit, aku bakal tinggal saja."
"A-aku enggak sakit, kok. Kamu pergi saja, nanti terlambat."
"Baiklah. Kalau ada apa-apa, kabari, ya."
"Iya, Hyung."
Jimin menaruh kopi yang belum habis diminum itu di atas meja, kemudian meraih tas dan kunci motornya untuk bersiap pergi. Dengan helm HJC Venom yang diapit di ketiak, dia melambaikan tangan pada Yoongi sebelum menghilang di balik pintu.
Sebetulnya, Yoongi masih sebal kalau melihat helm itu sebab harganya mahal dan Jimin mendapatkannya dari Kim Taehyung; mantan pacarnya. Akan tetapi, dia juga tidak bisa apa-apa. Dia belum mampu memberi barang mahal pada lelaki itu karena dia belum punya penghasilan sendiri. Biaya hidupnya saja masih ditanggung orang tuanya.
Dengan helaan napas, Yoongi bangkit dari kasur untuk beranjak ke kamar mandi. Dalam setiap langkahnya, dia memikirkan mimpinya yang barusan. Kemudian terbersit pertanyaan: bagaimana kalau si setan dan si malaikat muncul lagi di saat yang bersamaan seperti sewaktu pertama kali mereka menampakkan diri? Sedangkan, makin hari mimpinya makin parah. Bisa-bisa di lain waktu, dia betulan habis dikuras nafsu dan kewarasannya oleh entitas-entitas yang tak jelas itu.
Di kamar mandi, yang Yoongi lakukan pertama kali tentu saja membuka celana. Sialnya, seperti yang telah dia duga, burungnya bersin gara-gara mimpi itu. Dia pikir dia butuh waktu untuk merenung. Setidaknya dengan berdiri di bawah pancuran selama satu jam.
***NEBULOUS BOYFRIEND***
"Aku pulang lebih awal hari ini. Nanti aku mampir ke apartemenmu, ya."
"Mampir, doang?"
"Baiklah, sekalian menginap, deh."
"Tetapi biasanya kamu Sabtu masuk lebih pagi, ya?"
"Ya, sudah, maunya apa?"
"Menginap saja."
"Ribet banget," sungut Jimin. "Sudah, ya."
Telepon ditutup. Yoongi mengusap layar ponsel yang mengkilap karena terkena minyak dari muka. Saat sedang melakukan itu, tak dia sangka Hoseok memerhatikannya. Kemudian ada tawa yang menghambur.
"Pacarmu ketus begitu, kenapa kamu masih tahan?"
"Hanya nada bicaranya yang kedengaran ketus. Orangnya biasa-biasa saja, kok. Kapan-kapan kalian mesti bertemu, biar kamu tahu sebodoh apa dia sebetulnya."
"Malu. Dia lebih tua dari kita, bukan?"
"Iya, memang."
"Kok, dia mau-maunya, ya, berpacaran dengan bocah sepertimu?"
"Soalnya aku macan lumut, sih. Manis, cantik, lucu, imut."
"Hoek …."
Sore itu, mereka sedang mengerjakan tugas bersama sepulang kuliah. Karena Yoongi paling ndableg urusan mengarang, dia membawa Hoseok ke indekosnya supaya bisa ditanya-tanya atau sekalian dicontek hasil kerjanya.
Hoseok adalah teman sekelas Yoongi di kampus. Dulunya mereka hampir selalu menghabiskan waktu bersama tetapi sejak ada Jimin yang hadir dalam kehidupan Yoongi, Hoseok mundur pelan-pelan. Katanya, dia cuma tidak mau ganggu quality time orang pacaran.
"Hoseok."
"Hem?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu."
Hoseok yang tadinya sedang anteng menulis dibuat berhenti karena nada bicara Yoongi yang terdengar cukup serius. Dia punya perasaan tak enak.
"Jangan bilang kalau kamu mau putus dari pacar—"
"Apaan?" sanggah Yoongi sewot. "Enggak. Tetapi memang yang mau kukatakan ini berhubungan dengan dia."
"Ya, sudah, apa?"
"Begini," katanya. Dia merebahkan badan di atas kasur kemudian berguling supaya bisa tengkurap. Dia pun melanjutkan, "kalau sekiranya kamu tahu pacarmu bukan manusia, apa yang bakal kamu lakukan?"
"Hah?" Hoseok yang kaget sampai-sampai memindahkan laptopnya dari pangkuan ke lantai. "Gimana, gimana?"
"Akhir-akhir ini … aku melihat Jimin-hyung dalam bentuk-bentuk lain yang enggak pernah kubayangkan sebelumnya, dan aku pikir … enggak mungkin manusia biasa bisa seperti itu. Pasti ada sesuatu yang salah, bukan?"
"Sorry, aku enggak paham."
"Sama, aku juga."
"Ya, sudah, buat apa cerita?"
"Maka dari itu aku bicara denganmu, siapa tahu aku jadi ngerti!"
"Mana ada! Aku juga enggak ngerti soal apa yang kamu bicarakan!"
"Hoseok, please! Aku stres! Suatu kali mereka ngajak aku ngewe, lalu dua kali mereka hampir saja menggagahiku dalam mimpi! Aku takut, tahu, enggak?!"
Hoseok sangat bingung. Dia merengut sampai dahinya terlipat-lipat. Akan tetapi, dalam pusaran badai itu dia mendapatkan sesuatu, seolah-olah ada secercah cahaya yang menyingkap tabir. Dia menepuk pundak kawannya seraya berkata, "Yoongi, apa akhir-akhir ini kamu kepingin nganu tetapi enggak mendapat kesempatan untuk nganu-nganu dengan pacarmu?"
"H-hah? E-enggak, kok," bantah Yoongi.
"Enggak usah gengsi, aku, 'kan, kawanmu."
"Y-ya, tetapi …."
"Menurutku, mimpi-mimpimu tentang mereka mungkin hanya fantasi-fantasi yang muncul karena ada keinginan yang tidak tersampaikan, hasrat yang tak tuntas, nanggung, membumbung, dan itu membuatmu bingung. Sudahlah, ada baiknya kamu bicarakan ini dengan pacarmu saja, barangkali dia bisa mengerti apa maumu."
"Tetapi, bukan itu maksudku. Aduh, gimana menjelaskannya, ya? Aku seperti melihat hantu, Hoseok. Aku terganggu."
"Jadi pacarmu kemari jam berapa?"
"Mungkin jam enam atau jam tujuh," jawabnya. "Hei, jangan tiba-tiba mengalihkan pembicaraan!"
"Aku rasa enggak perlu ada yang dibahas lagi."
"Hoseok! Please—"
"Ssut … kok lampunya goyang?"
"Gempa?!"
Lantai berguncang; benda-benda di atas lemari dan kulkas berjatuhan; teve yang semula menyala menjadi kesemutan. Di tengah kekacauan, Yoongi dan Hoseok saling berpelukan. Saat mereka sedang panik dan ketakutan seperti itu, dari lantai muncul setitik lubang hitam yang perlahan mulai meluas seiring menguatnya guncangan. Lubang itu membualkan lidah api dan hawa panas membakar. Kemudian, dari situ, seorang lelaki muncul dengan kemuliaan yang menggetarkan.
"Park Jimin … kembalilah ke Event Horizon …." Suaranya menggema, merasuk ke sukma.
Setelah menyaksikan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal seperti itu, Hoseok jatuh pingsan meninggalkan Yoongi yang gentar. Jangankan untuk kabur, bergerak saja dia tidak mampu. Dia memandang lelaki jangkung yang mengenakan pakaian rapi seperti aristokrat abad pertengahan itu dengan ngeri. Ketika tatapannya ditangkap, buru-buru dia berpaling.
"Tunggu sebentar … kamu bukan Park Jimin …."
Hanya saja, nada bicara lelaki tersebut berubah drastis, dari yang semula mengancam, jadi kedengaran jelas bingungnya.
Yoongi dengan takut-takut membuka mata, mencuri pandang. Saat melihat lantai, lubang hitam juga api yang berkobar itu sudah tidak ada, hanya menyisakan jejak-jejak kehitaman dan bau hangus. Gempanya juga sudah berhenti. Dia mendongak untuk lihat wajah lelaki itu, supaya dia tahu siapa gerangan yang datang dari antah berantah ke rumahnya pada sore hari yang mestinya santai menjurus suntuk tanpa ada huru-hara. Kemudian ketika tatapan mereka berserobok, Yoongi berjengit. Ada kilatan yang sama seperti pada mata Jimin versi setan yang dia lihat dalam mimpi waktu itu. Dia diintimidasi oleh sepasang manik merah almandine yang besar dan begitu cantik.
"Di mana Jimin? Katakan padaku!"
"K-kerja … belum pulang …."
"Kerja apa? Di mana?"
"Editor … di studio animasi, di Gangnam …."
"Demi naga, satu-satunya pekerjaan yang mesti dia lakukan adalah memimpin kerajaan kami! Argh! Dasar, Jimin sinting! Mau-maunya! Seharusnya aku tiba lebih awal untuk menyeretmu pulang sebelum kamu terjebak di dunia manusia sebagai budak korporat!"
Yoongi terheran-heran karena lelaki itu malah bermonolog, kemudian capai sendiri sampai jatuh bersujud dengan tangan remas rambut seperti orang sedang di puncak rasa frustrasi.
"Jimin, astaga, Jimin, eungh, Jimin … kamu benar-benar membuatku bobrok …"
Meski masih tidak paham dengan situasi yang sedang terjadi, nuraninya terketuk karena gelagat risau dari lelaki itu. Dia merasa kasihan, apalagi ketika nama Jimin digumamkan berkali-kali. Lantas, dia memutuskan untuk melepaskan pelukannya pada Hoseok yang tak kunjung bangun dari pingsan, dan pergi ke dapur mengambil sesuatu untuk membantu lelaki itu menenangkan diri.
"Mau ke mana, kamu?!"
Ketika dibentak, Yoongi terperanjat. Dia menunjuk kulkasnya sembari menjawab, "M-mau ambil air, kupikir kamu perlu minum dulu."
"Aku enggak minum air, aku minumnya darah!"
Mendengar itu, Yoongi langsung lemas tidak bertenaga. Apa lelaki ini vampir?! Dia bertanya dalam hati. Tepian meja dipegangi untuk menopang badan, tetapi karena nyalinya kadung melempem, dia tidak bisa bertahan untuk tetap berdiri, jadi tubuhnya merosot sampai dia terduduk di lantai.
"Jangan berani-berani kamu beranjak dari situ."
"B-baik. A-aku enggak bakal ke mana-mana." Dia menelan ludah dengan susah.
Lelaki itu lalu mendengkus sebelum berucap, "Aku mencium bau Jimin dari tempat ini, makanya aku kemari. Tetapi dengan sangat mengesalkannya dia malah tidak ada di sini."
Memang tak heran kalau bau Jimin bakal tercium pekat, sebab lelaki itu sangat sering berkunjung untuk tidur, mandi, makan dan berleha di tempat tinggal Yoongi. Bahkan di lemarinya ada beberapa lembar kancut dan beberapa potong pakaiannya yang sengaja disimpan untuk cadangan kalau-kalau dia tiba-tiba menginap. Jejaknya ada di mana-mana.
"Kuberitahu sesuatu. Jimin adalah pangeran Event Horizon yang tidak seharusnya berada di dunia manusia. Apa kamu tahu kalau aku adalah tunangannya? Kami seharusnya segera menikah, tetapi dia malah kabur, dan gara-gara dia, aku mesti kelimpungan menghadapi keluarga, sanak saudara, dan rakyat jelata yang bertanya-tanya di mana Putera Mahkota yang seharusnya ada di istana."
"Sebentar. Apa? Tunangan? Putera Mahkota? Hah?"
Yoongi tersingahak. Edan. Dia merasa kesemuanya sangat sulit dimengerti seperti mimpi di siang bolong sehingga dia pun menampar pipinya sendiri. Kemudian, dia merasa sakit karena tidak mengontrol seberapa besar tenaga yang perlu dikeluarkan untuk melayangkan tangan. Kini dia menyesal. Pipinya berdenyut panas.
"Lalu siapa kamu, wahai manusia rendahan?"
"A-aku … aku Yoongi, p-pacarnya …."
"Apa katamu? Pacarnya? Haa? Yang benar saja! Jimin enggak mungkin memacari seorang manusia yang enggak ada bagus-bagusnya seperti ini! Beraninya kamu mengaku-ngaku!"
Yoongi bergetar, mau menangis. Melihat lelaki di depannya yang begitu cantik luar biasa dengan hidung bangir, bibir tebal merah merekah, rambut hitam berkilapan, dan juga matanya yang besar, bundar, memikat, dia tahu dia tidak ada harganya; tidak sebanding sama sekali. Meski begitu, rasanya tetap saja sakit ketika hal tersebut diungkapkan lewat ucapan.
Dia meratap, insecure parah. Selain itu, dia juga masih tidak percaya kalau Jimin yang dia duga bukan manusia memang betulan bukan manusia—dan di dunia lain, dia sudah punya tunangan. Jadi, ternyata, ini bukan lagi hanya perkara Jimin dengan wujudnya yang lain, tetapi juga Jimin dengan kehidupannya yang lain. Yoongi mengerang, merasa serba salah. Dengan kasar dia menyeka air mata yang meleleh basahi pipi.
"Jimin-hyung enggak pernah mengatakan apa-apa tentang ini," cicitnya dengan tersengguk-sengguk. "Maaf, eung, bagaimana baiknya aku memanggilmu?"
"Kim Seokjin. Yang MuliaKim Seokjin."
"Maaf, Y-yang Mulia …."
"Permintaan maafmu enggak diterima, dan aku pikir, ada baiknya kamu kumusnahkan saja."
"A-apa? Jangaan!"
Lelaki bernama Seokjin itu mengangkat tangannya, kemudian api menyelimuti jari-jarinya yang panjang dan lentik. Yoongi bergidik, menyeret pantatnya mundur seiring dengan langkah Seokjin yang semakin mendekat. Sekilas ucapan Jimin tentang dia yang bakal mampir terngiang di telinga, dan saat itu, Yoongi hanya berharap Jimin cepat datang. Astaga! Jimin, cepatlah datang!
"Aku pulang."
Keduanya terdiam. Perhatian mereka teralih pada lelaki berjaket varsity hijau yang baru saja menapakkan kaki di tempat itu.
"JIMIN!" teriak mereka kompak.
Jimin memandang apartemen Yoongi yang kacau balau seperti kapal pecah dengan tanda tanya besar. Barang-barang berserakan, Hoseok tergeletak pingsan, Yoongi duduk terpuruk, dan yang paling mencolok adalah Seokjin yang juga hadir di situ. Jimin ternganga, sampai-sampai helmnya jatuh saking tidak percayanya makhluk dunia bawah bisa datang ke tempat itu dan membuat kekacauan. Belum sempat melakukan apa-apa, Seokjin sudah lebih dulu menghambur padanya dengan girang.
"Akhirnya aku menemukanmu!" kata Seokjin sambil memeluk tunangannya kencang-kencang. Akan tetapi, Jimin tidak menyukai perlakuannya, sehingga dia didorong mundur, dan dengan belenggu gaib, gerakannya dikunci. "Akh, Jimin, lepaskan aku!"
"Nanti dulu!" bentak Jimin tegas.
Yoongi melihat bagaimana Jimin menembak kening Hoseok dengan finger gun yang mengeluarkan cahaya sejenis laser. Hoseok kejang sebentar, kemudian kembali tidak sadarkan diri. Sebelum Yoongi mau bertanya tentang apa yang baru saja Jimin lakukan pada temannya, lelaki itu telah lebih dulu menunjukkan ekspresi tidak mau diajak bicara. Aura yang keluar dari tubuhnya tidak terasa membuat nyaman sama sekali.
"Kim Seokjin, untuk apa kamu kemari?" tanya lelaki itu pada tunangannya.
"Jimin! Lepaskan!"
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Tentu saja untuk mencarimu! Aku akan membawamu pulang ke Event Horizon!"
"Jangan mimpi. Aku enggak bakal pulang ke sana. Lagipula aku enggak pernah memintamu menyusulku kemari."
"Tetapi kamu harus kembali! Demi aku dan semuanya di istana!" kata Seokjin kukuh.
"Sudah kubilang aku enggak mau pulang, demi siapa pun itu tidak terkecuali kamu! Masa bodoh dengan kalian semua!"
"Berhentilah bersikap egois! Kamu lari dari tanggung jawabmu sebagai putera mahkota. Kamu bahkan lari dari aku yang seharusnya kamu jadikan pengantin! Apa kamu tahu kalau kamu sudah membuatku susah? Jangan abaikan aku!"
"Aku sudah katakan kalau aku enggak mau menikah denganmu, jadi untuk apa kamu tetap mengejarku!"
"Kamu berpaling dari aku karena manusia satu ini? Jimin, jawab!"
Yoongi menyahut, "J-jimin-hyung pernah berpacaran juga dengan manusia lain, namanya Kim Taehyung."
"Aish! Yoongi, tutup mulutmu!" titah Jimin keki. Kemudian dia berdeham-deham untuk menahan malu. Seokjin sudah kadung tahu. "Dia benar. Aku pernah berpacaran dengan manusia lain juga sebelum ini."
"Aaa! Jimin, kamu membuatku murka!"
Blarr! Belenggu Jimin lepas, meledak, dan efeknya membuat benda-benda di sekitarnya terhempas oleh energi kegelapan yang membuncah. Seokjin mengulurkan tangan dan dalam sekejap leher Yoongi tercekik walau tak ada yang menyentuh.
"ARANITH!" Jimin berteriak, menyebut nama asli Seokjin dengan marah. "Lepaskan dia!"
"Kembalilah padaku, Park Jimin, atau aku akan membunuhnya!"
"Kamu ini—cih!"
Tanpa banyak ba-bi-bu lagi, Jimin melompat, menyergap Seokjin, dan di saat yang sama dia menciptakan lubang dimensi yang kemudian menelan dirinya juga tunangannya itu. Dalam sekejap lubangnya hilang begitu saja, meninggalkan percik-percik api juga helai-helai bulu sayap putih gading yang beterbangan di udara.
Dengkeraman tak kasat mata itu telah lepas; Yoongi terbatuk-batuk. Masih dengan rasa panas yang membakar paru-paru, dia berusaha untuk berdiri, kemudian melangkah gapai pintu geser menuju balkon dan dia membukanya dengan sekali entak. Di langit, ada bayang kehitaman yang berkelebat belingsatan juga sebentuk sayap besar yang mengepak-ngepak dalam kecepatan tinggi. Mereka saling menyerang, saling menghancurkan, tetapi keduanya kelihatan punya kekuatan yang kurang lebih setara sehingga belum ada yang jatuh dan kalah. Yoongi menyaksikan perkelahian itu dengan takjub sebab tak pernah sekali pun dalam hidupnya dia mengira bakal dihadapkan pada suatu peristiwa yang demikian aneh bin ajaibnya.
"Yoongi! Menyingkir dari situ!"
Dia mendengar Jimin berteriak, tetapi sebelum sempat dia bergerak, sesuatu menghantamnya.
***NEBULOUS BOYFRIEND***
"Hyung, aku baru tahu kalau dia juga ternyata suka baca bukunya Stephen King."
"Itu punyaku, kutitipkan di sini supaya aku bisa membacanya sambil ngelepus malam-malam."
"Ooh, pantas. Habis, Yoongi itu katanya enggak begitu suka horor, makanya aku aneh melihat koleksi buku horornya yang sebanyak ini."
Yoongi samar-samar mendengar percakapan tersebut. Dia mengerjap-ngerjap, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatannya. Kerongkongannya terasa kering, jadi kepengin mereguk air bening dingin dari kulkas.
"Hyung …," panggilnya lemah.
Jimin mendekat, kemudian menepuk-nepuk pipi gembilnya dua kali sebelum memencet hidungnya sehingga dia kesulitan bernapas. Setelah menghirup udara dengan rakus, Yoongi bangkit dudukkan diri di atas kasur, kemudian melihat Jimin dan Hoseok yang sedang membereskan barang-barang di apartemennya. Sesaat kemudian, dia baru sadar kalau tadinya ada gempa, rumahnya kacau, ada vampir yang datang, Hoseok pingsan, Jimin berkelahi dengan vampir itu, dan sesuatu membuatnya lupa akan apa yang terjadi selanjutnya.
"Lho, kok?!" Dia bingung setengah mampus. Kalau yang barusan itu benar terjadi, seharusnya dia sudah mati.
Hoseok menerangkan, "Tadi ada gempa, tetapi kamu yang sedang tidur seperti mamalia hibernasi itu bahkan enggak sadar sama sekali. Barang-barangmu berjatuhan. Aku sedang membereskannya dengan Jimin-hyung."
"Pas banget, begitu aku datang, gempa. Itu kutukan atau apa, sih?" keluh Jimin sembari menaruh pajangan-pajangan Yoongi kembali ke tempatnya. "Hoseok, selebihnya biar aku saja yang urus. Kamu bisa pulang kalau kamu mau. Katamu kamu busnya enggak sampai malam, bukan?"
"Hyung, kamu seperti sedang mengusirku. Tetapi, kamu memang benar. Aku pikir sudah saatnya aku pulang. Kalau sampai kemalaman, aku enggak berani berjalan sendirian."
"Hati-hati, banyak setan di jalan."
"Hyuung!"
Mereka kelihatan akrab dan begitu santai. Yoongi kemudian menyentuh lehernya sendiri. Dia ingat bagaimana perihnya sewaktu dia dicekik oleh kekuatan Seokjin. Tetapi, dia tidak lagi merasakan apa-apa saat itu. Dia bingung, apa benar yang dia alami hanya sekadar mimpi?
Hoseok lalu pulang kira-kira jam delapan malam. Jimin yang membawa beberapa potong roti dari toko dekat kantornya membagi Hoseok satu supaya dia bisa memakan itu dalam perjalanan menuju rumah. Kemudian di apartemen itu, tinggallah Jimin dan Yoongi berdua saja dalam keheningan. Sementara Jimin duduk di lantai menonton teve, Yoongi duduk di tepian kasur, memandang punggungnya.
"Hyung," panggil Yoongi.
"Apa?"
"Kurasa kamu berhutang penjelasan padaku."
Jimin menoleh. Agak lama dia menatap Yoongi dalam diamnya, sampai kemudian dia melepas dengkusan yang panjang. "Baiklah. Percuma juga menyembunyikannya darimu terus-terusan. Kamu mau aku menjelaskannya mulai dari mana dulu?"
"Konfirmasi. Kamu manusia tulen atau bukan? Kalau bukan, kamu ini apa? Tolong jelaskan."
"Bukan, aku bukan manusia tulen. Oh, enggak, aku bahkan enggak bisa menyebut diriku manusia. Aku berdarah campuran. Ibuku malaikat surga kelas atas dan ayahku iblis raja Event Horizon. Aku punya banyak wujud karena mereka, tetapi aku memilih hidup dalam wujud manusia karena bebannya lebih ringan. Selain itu, aku memang suka tinggal di dunia ini."
"Kenapa kamu yang lain datang ke dalam mimpiku dengan cara yang—eng, kurang senonoh? Sampai tiga kali."
"Hah? Tiga kali? Jadi selain waktu itu, kamu memimpikan mereka lagi? Aku hanya pernah menunjukkan diri sekali saja, ketika kamu bilang ada dua orang aku yang mengajakmu ngew—eeng, ya, itu memang benar aku sebab aku memang kepingin nyam-nyam denganmu tetapi juga enggak. Kamu telah membuang dua batang rokokku yang masih tersisa dalam kotaknya gara-gara kamu mengira isinya sudah kosong. Aku masih ingat seberapa sebalnya aku padamu saat itu. Sisanya kamu yang ngarang sendiri, bukan?"
"Serius!"
"Aku serius!"
"Cih. Oke. Lalu, apa benar yang dikatakan vampir yang kayak model iklan kosmetik di teve itu tentang kamu dan dia yang sudah bertunangan? Jadi selama ini kamu telah membohongi aku dengan menyimpan rapat-rapat rahasia itu?"
"Yoongi. Maafkan aku. Soal itu …."
Ketika serangan Seokjin hampir saja menghantam Yoongi, Jimin menggunakan kekuatannya untuk membuat tameng; melindungi Yoongi yang semestinya tidak terlibat. Yoongi disihir untuk tertidur seperti Hoseok, namun mantera untuk membuat memori tentang kejadian tersebut terlupakan luput dari rapalan. Setelah mengalahkan Seokjin dan menenangkannya, Jimin membuat sebuah perjanjian: dia bakal kembali ke Event Horizon untuk menghadap orang tuanya dan mempertanggungjawabkan apa yang telah dia perbuat, sekaligus juga menyelesaikan urusannya dengan vampir itu.
Setelah Jimin bercerita, Yoongi jadi paham kalau masalah yang dihadapi kekasihnya tidaklah sepele. Meski begitu, tetap saja, semuanya terdengar seperti omong kosong bagi dia yang seorang manusia biasa.
"Jadi kamu bakal pergi untuk menikahinya?"
"Enggak, Yoongi. Aku akan berusaha membatalkan pernikahan itu dan memutuskan ikatan kami, meski aku belum tahu aku bisa atau enggak." Jimin naik ke kasur, kemudian duduk di samping Yoongi. Tangannya bergerak menangkup wajah bulat kekasihnya itu, dan dengan sorot mata yang jujur dia berucap, "Dengarlah. Sejak awal, aku enggak pernah punya rasa padanya, dan aku juga tahu, kalau dia hanya ingin bersamaku karena aku punya kedudukan yang tinggi. Ada seorang lelaki yang lebih layak mendapatkan cintanya yaitu Namjoon, sepupuku. Dia iblis yang tampan, tinggi, cerdas, berwibawa, penuh tanggung jawab serta lemah lembut dan penyayang. Dia lebih pantas menikahi Seokjin karena dia memang memiliki perasaan yang tulus pada tunanganku itu, dan kupikir juga … dia lebih pantas jadi penerus tahta ketimbang aku."
"Jadi kamu mau memilih untuk menjadi manusia saja?"
"Ya, kalau bisa. Aku ingin hidup sebagai manusia, dan mencintai kamu selamanya," tukas Jimin.
"Itu sangat manis, Hyung."
"Cringe."
Lelaki itu terkekeh garing, kelihatan jijik pada ucapannya sendiri. Akan tetapi, Yoongi merasa tersentuh. Lalu si mungil pun memberikan pelukan yang hangat pada kekasihnya, beserta ciuman di bibir dan senyum yang penuh arti.
"Kamu pernah bilang kalau kamu bakal tetap mencintaiku, meski aku bukan manusia sekali pun, bukan?"
"Betul."
"Terima kasih."
Jimin membuka mata dan memperlihatkan irisnya yang merah dan biru. Dengan senyumnya yang lembut, pesona dua warna yang kontras itu menyatu menjadi sebuah keindahan yang sureal.
"Min Yoongi, aku mencintaimu."
"Aku juga. Aku juga mencintaimu."
Mereka berciuman mesra, berbagi deru nafas bercampur berahi. Di kamar itu, mereka meluapkan emosi, juga keinginan-keinginan yang lama terpendam dalam diri masing-masing.
***NEBULOUS BOYFRIEND***
Pagi menjelang. Alarm berbunyi. Yoongi segera bangun karena merasa kehausan. Ketika mau turun dari kasur, dia merasa pegal di beberapa bagian tubuhnya terutama selangkangan. Seks semalam benar-benar dahsyat. Dia terpejam membayangkan betapa gagahnya Jimin saat itu. Wajah frustrasinya, erangannya, peluhnya yang licin dan asin, sodokannya yang kuat, dan bagaimana dia melepaskan klimaksnya dengan sempurna membuat Yoongi tersipu-sipu.
"Hyung? Hyung, kamu sedang di kamar mandi?"
Yoongi memanggil sebab Jimin tak ada di kasur. Sejenak dia diam untuk mendengar bebunyian di sekitarnya, barangkali lelaki itu sedang mandi atau apa. Akan tetapi, tidak terdengar apa-apa. Tidak ada bunyi pancuran, atau juga flush toilet. Kompor mati dan teko dalam keadaan dingin tak tersentuh.
Ketika melirik meja nakas, dia baru sadar ada secarik memo yang ditindih pulpen. Kemudian dia mengambil kertas tersebut dan membaca pesan yang tertulis di sana.
"Aku enggak bisa menjanjikan apa-apa, tetapi aku akan berusaha supaya semuanya bisa berjalan seperti yang kuinginkan. Aku hanya pergi sebentar. Tunggu aku dan jangan berpaling dariku, oke? Love you, Kitten."
Bahu Yoongi merosot karena sedih. Jimin benar-benar telah berangkat ke Event Horizon.
***NEBULOUS BOYFRIEND***
Seoul, dua bulan kemudian.
Yoongi tidak tahu kenapa, tetapi belakangan dia merasa melulu tidak enak badan dan terus-terusan merasa mual kepingin muntah. Sekali waktu Hoseok memberinya cracker asin dan ternyata itu dapat meredakan mual yang dia rasa sampai-sampai pada hari-hari berikutnya dia selalu membawa makanan itu di kantong.
"Pacarmu ke mana memangnya?"
"Dinas."
Begitulah alasan Yoongi ketika ditanya mengapa dia luntang-lantung sendirian dalam keadaan sakit, sementara dia punya Jimin yang mestinya menemani dan mengurus keperluannya. Hoseok tidak ambil pusing, karena dia mengganggap bahwa orang yang sudah bekerja memang tidak selalu punya waktu untuk dicurahkan pada yang terkasih.
Malam itu, di kamar, Yoongi berebahan tak punya tenaga karena sudah habis dipakai muntah. Dalam keadaan yang mengenaskan seperti itu, dia hanya mengharapkan kehadiran Jimin supaya dia bisa minta dipeluk dan dimanja.
Akan tetapi, di sisi lain, dia juga tidak yakin benar Jimin bakal kembali padanya. Di benak Yoongi, terbayang Jimin yang sedang makan hidangan pernikahan bersama keluarga juga Seokjin di sampingnya. Rakyat bersorak sorai, mereka tampak bahagia. Bayangan akan pesta yang megah itu lalu membuat hatinya tercukil. Sembari menggigit bibir, dia menahan air matanya yang mulai lumer.
"Min Yoongi, kenapa kamu menangis begini, sih?! Dasar lemah!" umpatnya pada diri sendiri.
Dia tidak bisa bohong kalau dia benar-benar merindukan lelaki itu. Namun, daripada tenggelam dalam kesedihan, dia memutuskan untuk tidur saja. Lantas, dia menggulung diri dalam selimut, menutup matanya yang masih basah. Siapa tahu dengan tidur, dia dapat sedikit melupakan perasaannya yang berantakan.
"… gi, Yoongi. Yoongi …."
Yoongi yang baru saja terlelap mendengar panggilan dari suara yang tak asing di telinga. Karena menganggap bahwa itu sekadar mimpi, dia tidak menghiraukannya.
"Yoongi, geser sedikit."
"Aah, Hyung, sempit. Tidur di lantai saja," gumamnya risi.
"Memangnya kamu enggak mau tidur sambil dipeluk olehku?"
Dia tersentak karena bisikan yang begitu nyata menggetarkan telinga. Matanya terbuka lebar. Dengan horor dia menoleh ke belakang, lalu dia pun menemukan lelaki yang tak dia kira akan muncul tiba-tiba di malam itu.
"HYUNG?!"
"Pelankan suaramu, nanti tetangga bangun."
Yoongi tidak mendengar peringatan Jimin. Tanpa basa-basi, dia langsung menggabrukkan dirinya di atas tubuh lelaki itu, kemudian memeluknya dengan sangat erat.
"Astaga, aku sangat merindukanmu! Sangat … uuh, rindu … aku rindu kamu, Hyung … engh, rindu … hiks …."
"Cengeng."
"Gimana aku enggak cengeng, kalau kamu pergi meninggalkanku selama dua bulan lamanya tanpa kabar atau apa pun dan tiba-tiba saja muncul seperti hantu begini? Selama kamu tak ada, aku kacau. Mau telepon pun percuma, enggak tersambung."
"Jelas, lah. Kami enggak pakai telepon di sana."
Yoongi tidak bisa menahan tangis. Dia tumpahkan itu di perpotongan antara leher dan pundak Jimin, tidak peduli meski ingusnya meleleh basahi kaos yang dikenakan lelaki tersebut. Jimin merespon luapan emosi kekasihnya dengan cara yang kalem-kalem saja. Dia membelai rambut Yoongi, dan membiarkannya tetap seperti itu sampai semua benar-benar terlimpahkan.
Setelah tangis Yoongi reda, Jimin memberi spasi yang nyaman bagi si mungil itu untuk berbaring, dan barulah dia mengisi tempat yang tersisa. Kini mereka saling berhadapan, memandang wajah masing-masing. Yoongi yang senang melulu tersenyum, dan Jimin tidak bisa berhenti mengangumi cerah mukanya.
"Omong-omong … kamu bisa datang kemari apakah karena masalahmu telah terselesaikan, Hyung?"
"Ya, kamu benar. Tetapi kamu tidak perlu repot-repot memikirkan apa yang kulakukan di sana supaya semuanya selesai. Itu tidaklah penting. Yang lebih penting adalah ini. Aku kemari karena ini."
"Ini?" Yoongi kebingungan ketika tangan Jimin menyentuh perutnya.
"Apakah kamu tidak menyadari kalau di dalam perutmu ini ada anak-anakku yang sedang bertumbuh?"
"Tunggu sebentar. Apa maksudmu? Anak-anak? Anak-anak?"
"Kamu hamil, Yoongi. Ada dua bayi di dalam situ."
"Haaa?!"
"Aku sengaja menghamilimu sebelum pergi ke Event Horizon, supaya aku punya alasan untuk kembali kemari. Yaa, dan karena itu pula, orang tuaku menyerah untuk memaksaku tinggal di istana dan menikahi Seokjin."
"Gimana?"
"Kayaknya aku harus mulai berhenti merokok, deh, mulai sekarang."
"Hyung! Jelaskan padaku—"
"Jangan teriak-teriak, kamu mau tetangga marah karena tidurnya terganggu?"
"Hyung, tetapi—"
"Ssut, mari tidur saja. masih ada hari esok untuk mengobrol."
Jimin menyusupkan kepala Yoongi ke ketiaknya kemudian memejamkan mata untuk beristirahat. Malam itu, meski rapat dalam dekapan kekasihnya, Yoongi tidak bisa tidur.[]
.
.
.
NEBULOUS BOYFRIEND
SELESAI
