Dangerous Thirst
Jimsu (slight Minv, mentioning Kookv)
Alpha!Jimin x Omega!Yoongi
R18/Porn with a bit Plot/ABO!dynamic/BP/lemon/pregnant sex/male lactation/voyeurism/drama/hurt/comfort
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
Yoongi merasa sakit di pangkal tenggorokan, yang mana seperti ada sesuatu yang menekan bagian itu; membuatnya sempit. Ada kata-kata yang ingin dia lontarkan, tetapi tidak berhasil keluar dari mulutnya. Itu tertahan di lidah, dibungkam tatapan Jimin. Yoongi dapat melihat pedih yang terpancar dari sepasang ochre itu. Kendati demikian, dia tak lantas jadi iba, tetapi malah jengkel.
Kenapa kamu begini? Dalam hati dia bertanya. Ingin marah, tetapi juga ingin tahu.
"Biarkan aku masuk. Dingin."
Dingin, kata Jimin. Nada bicaranya pun sedingin udara di malam berhujan itu. Sungguh dingin yang menyesakkan. Yoongi tidak bergeming ketika Jimin mengecup pipinya lalu berjalan melewatinya untuk masuk ke rumah. Dia hanya menoleh untuk lihat apa yang bakal lelaki itu lakukan di tempatnya setelah datang tanpa janji, tanpa diundang.
"Tidurlah kembali," ucap Jimin sembari menanggalkan jaket.
Jam dinding berdetak. Sudah hampir pukul sebelas malam. Hujan lebat mengisi kekosongan menjelang pergantian hari. Jimin, kamu memang bajingan. Yoongi mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tidak sedang tidur sebelum Jimin datang. Ada banyak hal dalam pikirannya yang membuat dia terjaga sampai selarut itu. Jimin muncul dan membuat runyam. Dia pikir dia tidak lagi bisa menahan siksaan dalam dirinya sehingga dia harus memuntahkannya lewat kata-kata.
Akhirnya dia pun membuka mulut dan bertanya, "Kenapa kamu datang kemari?"
Dia tidak bertanya ke mana Jimin selama ini. Dia hanya butuh alasan mengapa Jimin kembali padanya setelah menghilang begitu lama.
"Tidurlah kembali. Tidak perlu hiraukan aku."
"Tidak bisa. Jawablah aku, Jimin. Kenapa kamu datang kemari?" tanyanya sekali lagi dengan suara yang mulai bergetar. "Kenapa kamu datang kepadaku secara tiba-tiba seperti ini?"
Jimin membalik badan, mendengkus, kemudian memandang Yoongi dengan wajah yang lesu.
"Karena memang itu inginku."
Yoongi terdiam membisu. Butuh waktu baginya untuk mencerna jawaban yang singkat itu. Dia menengadah ke langit-langit; pada lampu yang pijarnya kekuningan. Kemudian ketika dia menundukkan kepalanya, ada genangan di kelopak mata yang kapan saja bisa tumpah. Rasa sakit itu kini telah menjalar ke seluruh tubuhnya; mendesak keluar sebagai tangis tanpa suara.
"Don't cry."
Yoongi menyeka air matanya sendiri. "Baiklah. Kalau begitu, jika aku tidak menginginkanmu untuk berada di sini, apa kau bisa pergi?"
"Kenapa begitu? Bukankah seharusnya kamu senang melihatku?"
"Kenapa aku harus senang?"
Mereka saling bertatapan. Pedih di mata Jimin masih ada, tetapi lebih kental dari yang tadi, dan itu membuat Yoongi makin jengkel. Begitu jengkelnya sampai dia pikir dia bisa saja membunuh Jimin saat itu juga.
"Yoongi, aku—"
"Terserah."
Dia bisa saja memecahkan vas bunga di atas meja kemudian menggunakan serpihan tajamnya untuk menusuk jantung Jimin. Akan tetapi, dia tidak melakukan itu. Dia menahannya. Dengan gondok yang berkumpul di dada, dia memalingkan wajah, berlalu, dan coba abaikan Jimin.
Dia tidak mau menuruti kata-kata lelaki itu, tetapi dia melakukannya juga. Dia masuk ke kamar, naik ke kasur, menarik selimut sampai ke dada, kemudian memejamkan matanya sambil berharap bahwa apa yang dia lihat dan dia dengar pada malam itu hanyalah mimpi.
"Kamu tidak matikan lampunya?"
Yoongi tidak menggubris. Bahkan sampai lampu benar-benar mati, Yoongi tidak juga menggubris. Dia merasa hina karena Jimin masih ingat kalau dia tidak bisa tidur dalam ruangan yang terang-benderang.
Dia pikir Jimin akan membiarkannya sendiri setelah mematikan lampu, tetapi lelaki itu justru mendekat padanya, duduk di tepian kasurnya, dan memegangi pipinya dengan tangan yang dingin.
"Yoongi."
Dia membuka matanya pelan-pelan. Pendar sinar dari lampu di jalan menembus lewat celah jendela yang tidak sepenuhnya tertutupi tirai. Dalam temaram, dia memandang lelaki itu. Kepedihan dalam sepasang mata berwarna ochre milik Jimin masih terlihat.
Kenapa kamu begini? Lagi-lagi pertanyaan itu muncul dalam benaknya.
"Maaf telah mengganggu tidurmu."
Tidak. Yoongi tidak mengharapkan maaf yang itu. Yoongi mengharapkan maaf untuk hal yang lain; yang semestinya sudah dikatakan oleh Jimin sejak dia muncul di pintu.
Jimin telah menghilang selama lima bulan lamanya; tanpa kabar via telepon atau pun surat, tanpa titipan pesan pada siapa-siapa. Dia benar-benar lenyap dalam musim panas yang panjang, dan baru kembali malam itu, kala hujan pertama turun di bulan September.
Dalam diamnya, Yoongi merasa marah. Ketika dia telah merasa rela ditinggal, Jimin malah kembali ke kehidupannya. Perjuangannya untuk mengubur perasaan dan angan-angan menjadi amat sia-sia. Baginya, lebih baik Jimin tak pernah datang lagi selamanya. Lebih baik jika Jimin benar-benar lenyap. Akan tetapi, mata yang sendu itu menggoyahkan hati. Pedihnya membuat gentar.
Dia sendiri tidak mengerti mengapa justru lelaki itu yang tampak menderita, padahal menurutnya hanya dia yang boleh merasakan itu.
"Dia sudah besar, ya."
Mata sewarna tanah liat itu mengarah pada perut buncit Yoongi yang terbalut piyama tipis. Jimin memerhatikannya dan Yoongi merasa risi.
"Apa pedulimu soal dia?"
"Dia anakku."
Yoongi tertawa remeh ketika Jimin mengatakan itu. Dia merasa geli, tidak terima dengan pengakuan Jimin meski benar bahwa lelaki itu adalah ayah dari bayi yang telah berdiam selama enam bulan dalam kandungannya.
Jimin adalah bajingan. Yoongi heran saja. Semestinya, lelaki itu kembali padanya dengan wajah tanpa dosa; cerita penuh tawa dan rayu manja seperti yang selalu dia tunjukkan di hari-hari lalu. Akan tetapi, ada apa dengan matanya yang sendu itu? Jimin membawa sesuatu yang tidak Yoongi mengerti ke rumahnya. Seperti mega yang kelabu, kelam membingungkan.
"Katakan apa yang kamu inginkan dariku?"
Jimin tidak menjawab. Yoongi tidak tahu apakah lelaki itu memang butuh berpikir untuk menemukan jawabannya atau memang tidak ingin mengatakan apa-apa.
Lantas dia bangun untuk mendudukkan diri di kasur. Dia melihat Jimin lamat-lamat; mencoba untuk membaca apa saja yang tergambar di wajah itu. Dia menerka-nerka, tetapi sulit mendapat simpulan yang jelas. Jimin sangat keruh, memuakkan.
"Kenapa, Yoongi?"
"Aku yang harusnya tanya kenapa. Kenapa kamu diam saja ketika kutanya apa maumu? Apa yang kamu inginkan dariku, Jimin?"
Jimin menundukkan kepala. Yoongi menjauhkan tangannya dari wajah itu. Namun, Jimin menahannya di udara. Setelah menghela napas yang panjang, tangan Yoongi digamit dan dikecup.
"Kenapa diam saja?"
Jimin masih tak mau bicara.
"Kukira kamu sudah bosan denganku. Dengan kemunculanmu yang sangat tiba-tiba seperti ini, menurutmu bagaimana perasaanku?"
"Yoongi—"
"Bingung, kamu tahu? Bingung. Kepalaku jadi pening. Kenapa kamu tidak pergi saja?"
"Hujan."
"Bercanda, kamu."
"Aku butuh tempat untuk berteduh."
"Dan kenapa mesti aku?"
Jimin menjawab pertanyaan itu dengan kedikan bahu. Sungguh konyol. Yoongi memutar bola matanya; merasa ikut bodoh.
"Aku sudah sangat siap untuk mengakhiri ini, Jimin, tetapi kamu malah muncul tiba-tiba. Kamu menghancurkanku."
"Aku masih ingin bersamamu, percayalah."
Alsannya terdengar klise. Jika memang benar Jimin masih ingin bersamanya, mengapa bisa dia menghilang tanpa jejak seperti hantu beberapa bulan belakangan? Yoongi mengerti, tetapi juga tidak. Alasan pasti yang dia tahu hanya ada satu, tetapi itu pun hanya merujuk pada sebuah nama, tidak disertai penyebab lainnya.
"Aku sudah terbiasa tanpamu. Aku baik-baik saja tanpa kamu."
"Berhentilah bersikap begini."
"Ya, ya, berhentilah bersikap begini," beo Yoongi dengan niat mengejek.
Jika bisa, dia mau menyalahkan semua kepada Jimin. Akan tetapi, dia juga sadar kalau dirinya pun salah telah menitipkan cinta dan kepercayaannya pada lelaki itu. Kini, yang dia punya hanya secuil sisa. Itu pun mulai habis digerus waktu. Kesabarannya sudah sangat tipis. Lima bulan bukan waktu yang singkat baginya.
"Aku kembali karena aku masih ingin bersamamu. Apa ucapanku ini tidaklah cukup untuk meyakinkanmu?"
"Bayiku bakal lahir sebentar lagi. Aku sudah punya rencana untuk kami berdua, dan kamu tidak ada dalam rencana itu."
"What? How dare you say that to me? I have to be there because I'm the father of this baby."
"You don't have to, because my baby doesn't need you."
"Yoongi—"
"Just … leave. Leave us alone."
"Please, listen—"
"Enough. Kamu bisa menghilang selama berbulan-bulan tanpa kabar, dan mungkin tidak ada baik tentang aku atau pun bayi ini dalam pikiranmu. Kenapa untuk mengakhiri hubungan denganku kamu tidak bisa?"
"Yoongi—"
"Jika kamu memang hanya mau berteduh di sini, silakan. Aku tidak keberatan. Selain dari itu, aku tidak mau tahu."
Yoongi kembali berebahan lalu menutup matanya. Dia sudah jengah, Jimin juga tahu. Kilat petir muncul lebih dulu dari suara guntur. Hujan itu tak akan berhenti dalam sekejap. Dia pasrah saja kalau memang Yoongi tidak mau lagi berbicara padanya.
"Selamat tidur, Yoongi."
Lantaran tak ada yang bisa dilakukan, Jimin bangkit dari duduknya, kemudian keluar dari kamar itu. Setelah pintu benar-benar tertutup, Yoongi membuka mata. Lelaki itu telah membuat perasaannya terluka.
.
.
.
Awal 1987, Yoongi bertemu Jimin di gathering ulang tahun perusahaan. Dari situ mereka berkenalan, bertukar nomor telepon, lalu menjadi teman. Seperti dua kutub magnet yang saling menarik, secara cepat hubungan itu berkembang menjadi lebih intim dengan persetubuhan yang panas penuh gelora. Beberapa kali mereka bertemu di hotel hanya dengan niat untuk berhubungan badan.
Suatu waktu, Yoongi pergi ke kantor cabang kota sebelah untuk mendampingi atasannya. Dia bakal bertemu Jimin dalam suatu proyek. Tadinya dia sangat bersemangat, terpikir juga berbagai rencana yang mungkin bisa dilakukan dengan lelaki itu sementara dia berada di sana. Akan tetapi, ketika melihat Jimin duduk dalam suatu rapat, Yoongi menyadari ada cincin kawin yang tersemat di jari manis lelaki itu.
Saat mereka bisa berbicara berdua secara privat, Yoongi barulah tahu bahwa Jimin sebetulnya telah beristri. Tentu saja dia sangat terkejut sekaligus kecewa.
"Kenapa kamu menyembunyikan itu dariku?"
"Aku sudah lama punya niat untuk mengatakannya padamu, tetapi urung selalu karena takut kamu tidak terima."
"Apa istrimu tahu tentang hubungan kita?"
"Tidak. Belum."
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Sumpah, aku tidak mengira kalau aku adalah selingkuhan seseorang."
"Yoongi. Dengar. Terlepas dari statusku, aku masih menginginkanmu. Ayolah, kamu ini omega yang luar biasa. Aku tidak bohong."
Jimin mendekat, begitu dekat sampai Yoongi merasa tidak aman. Dia celingukan, kemudian menahan Jimin dengan tangan yang ditaruh di dadanya.
"Mundur."
"Kamu luar biasa. Bahkan melihatmu bernapas saja sudah membuatku gelisah. Kamu bisa membuatku berdiri hanya dengan sedikit desah yang kamu loloskan dari mulut kecilmu itu."
"Jimin, stop."
"I can kiss you here and make you melt. Kamu menginginkan itu juga, bukan? Aku bisa membacanya dari matamu. Kamu tidak mampu menolakku."
"Stop. Tidak bisa begini, Jimin. Aku takut. Bagaimana kalau istrimu tahu?"
"Dia tidak akan tahu aku menciummu di sini."
Jimin mengadukan dahinya dengan Yoongi. Tangannya diselipkan ke pinggang dan punggung omega itu.
"Ada alasan juga mengapa aku berpaling darinya."
"Kenapa?"
"Tentu saja karena kamu lebih baik."
"Siapa namanya?"
"Kim Taehyung," jawab Jimin. Dia mengecup daun telinga Yoongi sebelum berbisik, "Kamu lebih baik dari Kim Taehyung."
"Engh …."
Setelah Yoongi melenguh nista, dengan talah Jimin memakan bibirnya yang merah ranum. Mereka berciuman mesra di suatu sudut yang sepi; mengisi ruang itu dengan napas yang berat, panas, dan erotis. Karena sama-sama tidak bisa menahan diri, mereka melanjutkan percumbuan itu di toilet yang sempit.
Kata-kata Jimin adalah sebuah penghargaan bagi Yoongi. Dia senang mendapatkannya dari seorang alpha seksi dan kharismatik yang pastinya diinginkan banyak orang. Dia merasa menang atas Kim Taehyung dan omega lain yang mungkin saja hanya bisa gigit jari sebab alpha ini lebih memilih dirinya ketimbang mereka.
Yoongi dan Jimin terus menjalin hubungan, meski secara sembunyi-sembunyi. Lelaki itu acapkali menelepon lewat tengah malam untuk bersenda gurau atau melepas hasrat seksualnya via suara. Terkadang dia juga mengirimi bunga atau surat yang berisi kata-kata manis sekaligus nakal. Kunjungan dari Jimin adalah sesuatu yang selalu Yoongi tunggu-tunggu. Lelaki itu secara rutin datang setiap dua minggu sekali ke tempat tinggalnya untuk menginap selama satu atau dua malam, dan dalam kesempatan itu mereka bersetubuh seperti binatang liar.
Semuanya terasa aman, sampai suatu kali, mereka kelepasan knotting saat keduanya sama-sama sedang dalam masa puncak berahi. Hasilnya, Yoongi positif hamil.
"Kamu punya rencana?"
"Belum."
Yoongi kira akan ada sambutan hangat. Akan tetapi, Jimin malah tampak tidak terlalu antusias dengan berita ini. Malam itu, ketika Yoongi menunjukkan hasil tes kehamilannya, Jimin hanya diam memandang cangkir kopi.
Yoongi tahu kalau Jimin pasti sedang berpikir, tetapi dia juga merasa tidak sabar menunggu lelaki itu berkata-kata. Dia resah. Meski selalu ada seks hebat yang didapat, tetapi Yoongi juga tidak mau kalau harus selamanya back street dengan sang alpha. Kini ada bayi dalam kandungannya. Dia mau ada suatu kepastian dari lelaki itu.
"Mau sampai kapan kita begini?"
"Entahlah."
"Kamu tidak akan meninggalkanku, bukan?"
"Kamu bicara apa? Tentu saja tidak."
"Kalau begitu, apakah bisa kamu menjadi milikku seutuhnya? Apakah bisa kamu melepaskan istrimu demi aku?"
"Kurasa tidak—ah, maksudku belum. Belum bisa."
"Kamu bilang aku lebih baik darinya."
"Iya, tetapi … aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Apalagi sekarang."
"Kenapa? Aku butuh kamu. Aku hamil anakmu."
"Taehyung juga." Jimin menunduk penuh sesal. Tangan Yoongi digenggam erat-erat. Dia frustrasi. "Taehyung juga sedang hamil anakku."
Mata Yoongi membulat, kemudian dia menarik tangannya yang digenggam Jimin. Dia mengelus dahinya sambil berdiri, lalu membalik badan untuk pergi dari tempat itu.
"Aku butuh angin."
"Tunggu."
Jimin menyergapnya dari belakang. Yoongi terdiam, tidak mampu bicara atau juga mengekspresikan perasaannya.
"Sayang, dengarkan aku. Dia pergi setelah bertengkar denganku tiga bulan lalu. Kami tidak saling bicara sejak saat itu, tetapi kemarin dia meneleponku dan memberitahu kalau dia sedang hamil. Aku sempat menyetubuhinya dengan brutal sebelum dia pergi; dalam keadaan kalut dan marah sampai-sampai dia menangis tersedu-sedan. Aku tidak tahu dia bakal hamil setelah itu. Aku tidak tahu. Ah, seharusnya aku tidak knotting denganmu malam itu. Maafkan aku, Yoongi."
"Apa-apaan kamu ini?!"
Yoongi melayangkan tangan dan menampar lelaki itu. Jimin terhuyung. Dia memegangi pipinya yang merah. Amarah Yoongi mendesak hingga matanya berkaca-kaca. Dia menatap Jimin dengan sorot yang begitu tajam. Dia benci mendengar pengakuan lelaki itu, dan paling benci pada kalimatnya yang terakhir.
"Kamu menyesal sudah knotting denganku? Kamu tidak senang karena sekarang aku hamil?"
"Yoongi—"
"Oh, seharusnya aku tahu kalau kamu memang mau denganku 100% karena tubuhku saja. Padahal aku punya perasaan padamu, Jimin, tetapi kelihatannya kamu tidak sama seperti aku."
"Aku mau denganmu bukan hanya karena tubuhmu! Oke, kamu memang hebat di ranjang. Aku tidak mendapatkan itu dari Taehyung. Akan tetapi, aku suka padamu juga, Yoongi. Aku suka kamu, bukan hanya tubuhmu. Hanya saja, aku tidak bisa meninggalkan Taehyung seperti yang kamu pinta."
"Kenapa? Kenapa tidak bisa?"
"Aku telah menyakitinya. Dia hamil karena aku. Aku tak tega mengabaikannya. Aku masih sayang padanya, Yoongi. Aku masih sayang padanya. Kumohon mengertilah."
Air mata Yoongi meleleh, membasahi pipi. Yoongi pikir Jimin mungkin tidak sadar kalau dia telah tersakiti oleh kata-kata itu. Dia terisak-isak. Jimin masih betah memeluknya dengan begitu erat.
Dengan lirih Yoongi bertanya, "Lantas aku harus bagaimana?"
"Aku tidak tahu … tetapi … tolong tetaplah seperti ini. Aku memang tidak bisa melepas Taehyung, tetapi aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Aku bakal tetap berada di sisimu … seperti biasa, seperti sebelumnya."
.
.
.
Ketika tengah melamun, Jimin ingat apa yang dikatakannya pada Yoongi lima bulan lalu. Dia merasa bersalah pada omega itu. Ada hal-hal yang terjadi dalam kehidupannya, yang belum mau dia beberkan secara terus terang. Yoongi berhak marah dan benci padanya, tetapi dia tidak mau kalau itu sampai membuat Yoongi berhenti menginginkan kehadiran dan perhatiannya.
Jam dua malam, Jimin mematikan teve. Tidak ada bir di kulkas Yoongi. Dia merasa hampa. Di atas sofa, dia berbaring dengan mata yang tak kunjung dapat terpejam. Karena resah tak dapat melakukan apa-apa, dia pun memutuskan untuk melihat Yoongi diam-diam sebab dia pikir itu tak mengapa. Dia pikir omega itu pasti telah tertidur lelap di sepertiga malam yang sunyi senyap.
Jimin mendorong pintu kamar Yoongi pelan-pelan. Dia terdiam di ambang selama beberapa saat sebelum mantap melangkahkan kaki untuk masuk. Jimin duduk di samping omega itu. Yoongi tidak bergerak, tampak tidak terusik. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia menyadari ada orang yang tengah memerhatikannya dari dekat. Jimin sengaja menyalakan lampu meja hanya supaya bisa melihat wajah Yoongi secara lebih jelas. Cahayanya temaram, benar-benar ramah. Yoongi yang cantik tertidur dengan mata yang sembab.
"My baby … I'm so sorry."
Jimin membelai pipi yang tembam itu dengan punggung tangannya. Perlahan tangannya merambat ke bagian lain seperti dagu, leher, kemudian kembali lagi ke pipi, dan ketika ujung jarinya tak sengaja bersentuhan dengan bibir Yoongi, dia berhenti. Sejenak dia diam memerhatikan bibir yang tipis itu.
"Why are you so pretty…"
Dengan bobot tubuh yang ditopang oleh tangan, Jimin mengungkung Yoongi dari atas, kemudian melandai rendah untuk mendaratkan sebuah ciuman di bibir omega itu. Dia sesapi bagian atas dan bawahnya secara bergantian; dijilat, diraup, dicucup.
Setelah meninggalkan bekas yang basah, dia bangkit, kemudian dengan tangan kanannya dia meraba tubuh Yoongi mulai dari ubun-ubun sampai ke dada. Bagian itu telah diisi oleh lemak yang lebih banyak dan kemungkinan bakal segera siap menampung susu untuk bayi mereka yang bakal lahir tak lama lagi. Jimin meremas buah dada Yoongi sembari menutup mata; untuk ikut merasakan tiap sentuhan yang dia beri pada bagian tubuh yang kenyal dan lembut itu.
"Mhhh…"
Yoongi melenguh, menggeliat sedikit, tetapi masih terpejam. Jimin merasa kerongkongannya penuh ketika dia menyadari bahwa puting Yoongi mencuat tegang karena rangsangan. Lantas dengan hati-hati dia membuka kancing-kancing baju Yoongi, kemudian menyisikannya supaya dia bisa melihat bagaimana rupa dari perut dan buah dada omega hamil yang sedang tertidur di bawahnya itu.
Jimin meneguk ludah. Buah dada Yoongi bahkan lebih indah dari yang dia bayangkan. Dengan perutnya yang membusung, Yoongi terlihat begitu sempurna.
Dia menyurukkan kepalanya ke dada Yoongi dan menggosok-gosokkan hidung dan bibirnya di permukaan kulit yang hangat itu. Yoongi melepaskan lenguhan yang patah-patah ketika Jimin meraup putingnya; menggunakan bibir yang tebal itu untuk mengisap sesuatu dari sana. Lama-lama, makin keras Jimin mengisap, makin berat Yoongi melenguh.
"Anghh!"
Akhirnya omega itu terbangun dari tidur. Melihat Jimin menyusu di dadanya, dia terkejut.
"Shit, Jimin! Apa yang sedang kamu lakukan?!"
Jimin melihat kepadanya tanpa melepaskan puting yang sedang dia isap. Yoongi membanting kepala ke belakang saat Jimin mulai menggigit sekaligus memelintir puting satunya lagi.
"No! Jangan—akh! Stop! Stop!"
Jimin berhenti setelah Yoongi mendorongnya mundur. Napas omega itu terengah-engah. Bibirnya bergetar. Dadanya sakit berdenyut-denyut.
"I want you," kata Jimin putus asa.
"I don't want you!"
"I want you, Yoongi. I want you, I need you …."
"No! Fuck off!"
Alih-alih mendengarkan, Jimin malah mencengkram pergelangan tangan Yoongi dan menjarah bibirnya secara paksa. Yoongi tidak mau membuka mulut. Dia menelengkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk menghindar, tetapi Jimin tidak membiarkannya lolos. Dia memaksa Yoongi untuk memberi akses dan tidak akan berhenti sampai dia berhasil mendapatkannya.
"Mmh! No!"
Yoongi tertangkap. Jimin mencium secara tergesa dan berantakan, sampai-sampai Yoongi kewalahan untuk meneguk air liur yang encer melimpah memenuhi rongga mulutnya. Dia tersedak, lalu memutus tautan bibirnya dengan Jimin. Setelah terbatuk dua kali, dia memukul dada lelaki itu keras-keras.
"Kenapa?!" Yoongi berteriak tepat di depan muka sang alpha. "Kenapa kamu tidak pulang ke rumahmu dan menggauli istrimu saja? Kenapa aku, Jimin?!"
"Menurutmu kenapa?"
"Park Jimin!"
"Diamlah dan biarkan aku menyentuhmu," kata Jimin sembari memegangi kedua sisi pundak Yoongi.
"Tidak! Pergi kamu!"
"Hujannya belum reda."
Gemuruh datang. Yoongi mengerang. Dia tahu itu hanya omong kosong. Lalu air matanya keluar begitu saja tanpa bisa ditahan-tahan. Dia meraung di balik kedua tangan yang menutupi wajahnya.
"Don't cry, please."
"Pergilah, Jimin!"
"Tidak bisa."
"Pergi! Pergi …."
Suara Yoongi memelan, tertelan pelukan yang tiba-tiba saja Jimin beri. Emosi Yoongi meluap luber membanjiri. Dia memeluk Jimin balik dan mengubur mukanya di pundak lelaki itu.
"I hate you …."
"I'm so sorry."
Bau kompleks serupa patchouli, oud wood dan vanilla yang menguar dari tubuh Jimin adalah bau yang dia hapal betul; bau yang dia idam-idamkan selama dia sendirian dan kesepian. Dia tidak bisa bohong kalau dia sangat merindukan lelaki ini.
"Kumohon, berhentilah menangis."
Jimin mengendurkan pelukan. Dia menatap omega itu lamat-lamat sebelum memberi sebuah kecupan di kening. Itu berhasil menenangkan Yoongi sedikit.
"Kamu benar-benar bajingan."
"Ya, aku memang bajingan."
Kali ini Yoongi tidak menolak ketika lelaki itu mencium bibirnya. Tangannya pun justru secara otomatis dikalungkan di leher kokoh Jimin. Dia tahu kalau di situlah dia perlu bergantung.
"Amhh. Mmh."
Dengan dorongan yang lembut Jimin membuat Yoongi kembali berebahan di atas kasur. Satu tangannya berdiam di perut Yoongi sementara satunya lagi menahan tubuh yang membungkuk dalam. Lalu dengan mudah dia melucuti celana piyama yang Yoongi kenakan.
Yoongi tersentak ketika tangan Jimin membelai kemaluannya yang sudah mulai basah sejak lelaki itu menciumnya tadi. Bau damascena rose dan papyrus merebak ketika sedikit dari slick-nya merembes keluar. Harumnya merasuk ke otak, membuat adrenalin Jimin terpacu lebih cepat.
Dia mundur, kemudian membuka kaki Yoongi lebar-lebar dan memposisikan kepalanya di tengah-tengah selangkangan omega itu.
"No, don't …."
Jimin menghujani paha dalam Yoongi dengan ciuman, isapan, dan gigitan-gigitan kecil. Kemudian setelah puas memberi jejak di sana, dia menempelkan bibirnya secara diagonal di kedua belah bibir vagina sang omega.
"Ahhh … nggh!"
Jimin menjilatnya. Dia menjilat cairan bening wangi yang meleleh dari lubang kemaluan Yoongi. Tanpa banyak pikir dia mencucup bibir vagina yang kemerahan itu, kemudian mengabsen setiap lipatannya dengan lidah, dan membuat Yoongi melenguh panjang tepat ketika klitorisnya tersentuh. Damnya bocor, slick-nya keluar deras sekali.
Jimin melahap semua. Dia menelan setiap tetes dari slick yang keluar secara terus-menerus dari lubang itu.
"Jimin … hentikan … aku ingin kamu … ahh … ingin kamu …."
Jimin menegakkan badan, kemudian turun dari kasur untuk menanggalkan pakaian. Dia melangkah keluar dari celananya dan kembali dalam keadaan telanjang. Penisnya sudah berdiri dan merah membengkak. Ujungnya sudah sedikit mengeluarkan precum. Yoongi merentangkan tangannya dan menyambut dengan hangat ketika Jimin hendak memeluk. Perut mereka saling bersentuhan. Sejenak Jimin seperti diingatkan bahwa Yoongi sedang berbadan dua.
"Promise me you will be gentle."
"Yes, my dear, I promise."
Selagi bibirnya mencium, tangannya menyentuh kemaluan Yoongi dan perlahan-lahan dia pun mulai memasukkan jari-jarinya ke situ.
"Enggh …."
Yoongi menerimanya dengan baik. Dia memekikkan rasa sakit, tetapi masih dalam batas normal sebab beberapa detik kemudian otot vaginanya dapat mengetat dan meregang menyesuaikan gerakan jari Jimin di dalam sana.
"Good, baby, good."
"Ahng … di situ … iya, di situ, Jimin, teruskan …"
"Tidak. Kamu tidak boleh klimaks hanya dengan jariku. Kamu hanya boleh klimaks dengan penisku."
"Jangan! Ahh! Jimin! Kumohon!"
"Ssut! Jangan melawan!"
Yoongi berteriak ketika Jimin menarik jarinya keluar satu per satu. Dia tidak mau kenikmatan yang sedang dia rasa hilang gara-gara itu. Dia merajuk karena kekosongan yang tiba-tiba.
"Jahat …."
"Tidak, aku tidak jahat. Kamu akan mendapatkan yang lebih baik kalau kamu mau bersabar."
Jimin mencium pipi sang omega, sementara di bawah sana dia sedang menggesek-gesekkan penisnya ke selangkangan Yoongi untuk menggoda.
"Ahh, cepat, Jimin … cepat …."
"No, baby. Kamu yang minta aku untuk melakukan ini dengan lembut, bukan?"
Yoongi seperti mau menangis. Jimin menyunggingkan senyum jahil. Dia senang karena telah membuat sang omega merajuk seperti itu. Dia mencium perut Yoongi sebelum meluruskan punggung. Lubang vagina yang menganga itu ditahan dengan dua jari, kemudian perlahan dia mulai memasukkan penisnya ke sana.
"Mmhh … sempit, Yoongi. Relax. Biarkan aku masuk."
Jimin memegangi lutut Yoongi selagi mendorong penisnya masuk lebih dalam. Yoongi melampiaskan sakitnya dengan meremas sprei kuat-kuat. Jimin menggeram rendah. Setelah batang penisnya dapat dibenamkan di lubang sang omega, dia menengadah lega kemudian membuka mata.
"Bagus … kamu bisa melumatnya. Kamu hebat."
Ketika dia kembali melihat pada Yoongi, yang didapatinya adalah pemandangan di mana omega itu terbaring dengan wajah dan telinga yang merah padam, rambut berantakan, buah dada yang tumpah, juga puting susu yang mencuat tegang. Jimin menyeruput air liurnya yang mendadak terasa membanjiri mulut. Yoongi tampak begitu lezat dan harum. Dia tidak lagi bisa mengendalikan libido yang meledak-ledak.
"Let me suck it."
"Jangan, ah, tidak!"
Dia menyungkur, meraih buah dada kiri Yoongi, meremasnya dengan kencang kemudian meraup putingnya dengan rakus. Yoongi berteriak, lalu merintih. Akan tetapi, rintihannya yang lemah itu membuat Jimin tambah bernafsu. Dia menyusu seperti bayi kelaparan. Isapannya begitu kuat sampai-sampai pada suatu momen, ada segumpal cairan kental kekuningan yang keluar dari situ.
Dia berhenti menyusu, tetapi masih terus memijat. Wajah Yoongi sudah tidak keru-keruan ketika Jimin memerah kolostrum dari puting susunya. Cairan itu terus keluar, menjadi lebih encer sedikit, hingga sedikit-sedikit merembes dari puting yang satunya lagi.
"Shit. Yoongi …"
"Sakit … gatal … keluarkan, Jimin … keluarkan itu semua … isap saja sampai habis …"
"Uh, sialan. Tanpa kamu meminta, aku akan mengisapnya sampai kering."
Jimin tentu tidak menolak. Dia memerah susu Yoongi sampai tangannya lengket dan basah. Sesekali dia menelannya sembari sedikit-sedikit menggerakkan pinggul untuk menyodok lubang kemaluan sang omega.
Yoongi penuh kejutan, dan Jimin hanya ingin membuat omega itu kepayahan; benar-benar kepayahan dalam persetubuhan ini. Lantas dia melepaskan pijatannya pada buah dada yang kenyal itu, dan beralih untuk fokus mengentak. Yoongi mengerang kesal karena Jimin tidak benar-benar menuruti apa maunya. Akan tetapi, tubuhnya tidak bisa menolak kenikmatan lain yang Jimin beri. Buktinya, ketika ritme entakan itu menjadi kuat dan cepat, dia justru merintih dengan merdu.
Kasur menandak-nandak. Kerit rangkanya bersahutan dengan suara becek persetubuhan dan hujan yang menderas. Jimin menyodok dengan cepat dan penuh semangat. Yoongi kewalahan dengan sodokan-sodokan perkasa itu.
"Jimin, bayiku! Ahh, ahh! Bayiku!"
Dia memegangi bagian bawah perutnya karena baru ingat dia punya bayi yang hidup di dalam sana dan sudah tentu ikut terguncang seiring badannya bergerak maju-mundur dalam tiap tumbukan. Bahasa tubuh penuh proteksi itu membuat Jimin makin ingin membuat Yoongi acak-acakan. Setan dalam dirinya berkata bahwa dia mesti membuat Yoongi menangis sampai matanya bengkak.
"Jimin, nghh …."
Suara Yoongi bergetar. Jimin menutup mata untuk merasakan gelombang yang mengalir di tubuhnya. Gelombang itu datang secara bertubi-tubi, makin besar, makin kuat.
"Oh!"
Jimin mendongakkan kepala saat mendapatkan klimaksnya. Cairan sperma yang panas dan kental telah ditembakkan ke ruang sempit dalam vagina Yoongi. Tempat itu kini penuh terisi, bahkan ada yang berceceran karena tidak seluruhnya dapat tertampung.
Dia dan Yoongi sama-sama terengah-engah. Sementara Yoongi menata napas dengan mata yang tertutup rapat dan kedua tangan di atas perut buncitnya, Jimin memandangi dan diam-diam menyunggingkan seringai. Sungguh lima belas menit yang luar biasa.
"Itu tadi sangat nikmat," gumam Yoongi. "tetapi aku merasa bersalah pada bayiku."
"Dia tidak apa-apa. Yang tadi itu hanya kejutan-kejutan kecil."
"Kurang ajar, kejutan kecil apanya?"
"Fuck, Yoongi. Kenapa kamu sangat seksi?"
Yoongi hanya terkekeh garing saat Jimin mulai menyodok lagi. Dia sudah tidak bisa apa-apa kecuali berbaring dengan tangan memeluk perut. Jika Jimin masih mau menyetubuhinya sampai pagi, dia tidak akan menghentikannya. Itu mungkin sebuah pelampiasan, tetapi biarlah saja. Yoongi rasa dia perlu membuat kesenduan di mata Jimin lenyap sepenuhnya.
.
.
.
Hujan sempat berhenti jam lima subuh, tetapi turun lagi sekitar jam tujuh. Yoongi dan Jimin duduk di dapur dalam keheningan pagi. Di antara mereka ada secangkir teh dan kopi yang masih panas.
Seks semalam amatlah penuh gairah, tetapi itu nyatanya tidak membuat sendu mata ochre itu hilang. Sendunya seperti sang hujan yang sempat pergi dan datang lagi tak lama kemudian.
"Apa yang terjadi, Jimin?"
"Banyak. Jika aku menceritakannya secara detail, itu akan menjadi sebuah dongeng yang sangat panjang. Aku juga tak yakin kamu mau dengar," jawab lelaki itu sembari menopang dagu. Senyumnya tipis dan terkesan dipaksakan.
"Mau. Aku mau dengar, kok. Aku ingin tahu mengapa kamu bersedih. Matamu menunjukkan itu dan aku dapat membacanya dengan jelas."
Jimin berhenti menatap Yoongi dan melemparkan matanya ke titik yang lain. Yoongi memegangi rahang lelaki itu supaya dia mau kembali melihatnya.
"Katakan saja. Ada apa dengan kamu dan istrimu?"
Mata Jimin terpejam. Pertanyaan Yoongi begitu tepat mengarah pada apa yang dia simpan dalam katup bibirnya sejak semalam.
"Aku …."
"Tidak bakal ada yang membuatmu sesendu itu kecuali Kim Taehyung, bukan?"
"Ya."
"Apakah dia sudah tahu hubungan kita?"
"Ya. Tidak. Entahlah." Jimin mendesah lelah. "Waktu itu aku tidak sampai hati membiarkannya hamil tanpa dampinganku di tempat yang jauh."
"Di mana itu?"
"Di dekat pantai Vrouis. Dia punya unit apartemen di sana. Teleponku tidak pernah diangkat, jadi aku bolak-balik ke kota itu untuk melihat keadaannya. Akan tetapi Taehyung tidak suka dengan itu. Suatu hari, ketika aku memaksanya makan siang denganku, dia sempat mengatakan kalau dia sudah tahu aku punya affair dengan seseorang, ya, walau sepertinya dia tidak tahu kalau itu kamu, dan mungkin juga tidak tahu kalau kamu sedang hamil, tetap saja … itu menjengkelkan."
"Lantas kenapa kamu datang kemari? Bukankah seharusnya kamu sedang menjaganya di sana sampai tiba waktunya dia bersalin?"
"Bayi kami sudah lahir akhir bulan Agustus. Prematur. Aku bahkan tidak tahu kalau Taehyung pergi ke rumah sakit untuk bersalin malam itu karena aku terlalu capek mengurusi pekerjaan dan menghadapi tekanan keluarga. Taehyung meminta cerai padaku sebulan lalu. Suratnya sudah ditandatangani. Kemarin status kami sudah resmi sebagai mantan suami istri."
"Lalu bayi kalian?"
"Dia yang bawa. Aku baru tahu juga kalau ternyata dia punya gandengan. Pantas saja mudah baginya untuk minta cerai denganku."
"Sungguh memusingkan."
"Kami memang tidak begitu intim sejak awal, tetapi kala itu aku merasa benar-benar bobrok. Aku mau gila. Aku hancur, Yoongi. Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena ini terlalu rumit."
"Tetapi kamu telah mengatakannya."
"Benar, dan itu membuatku ingin tertawa. Rupanya ini tidak sesulit yang kupikirkan. Terima kasih karena sudah mau mendengar. Kehidupan asmaraku sangat konyol, ya?"
"Kamu berselingkuh denganku, dan istrimu memilih lelaki lain. Kurang konyol apa lagi, Jimin?"
"Ya. Ha ha ha."
"Siapa nama gandengannya?"
"Jeon Jungkook. Kenapa kamu suka bertanya tentang nama seseorang?"
"Ingin tahu saja. Aku rasa jauh di dalam lubuk hatimu dan Taehyung, kalian masih sama-sama saling mencintai."
"Mungkin, tetapi apa yang bisa kami lakukan? Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Tidak ada jalan kembali. Sudah saja begini, tamat. Bubar, jalan."
"Apa kamu tidak ada niat untuk mempertemukanku dengannya?"
"Really? Kamu mau bertemu dengannya?"
"Memangnya kenapa? Aku belum pernah melihat bagaimana rupa mantan istrimu sama sekali. Lagipula, bukankah tidak akan ada pengaruh apa-apa? Kalian sudah cerai, bukan?"
Jimin tampak menimbang-nimbang. Taehyung sudah betulan pindah ke rumah kekasihnya. Jika dengan sengaja mengatakan bahwa alasannya adalah Yoongi yang ingin bertemu, dia tidak yakin Taehyung bakal mau.
"Kenapa?"
Sesaat Yoongi melihat mata Jimin berkilat. Rupaya lelaki itu baru ingat akan sesuatu.
.
.
.
Malam Sabtu, gerimis turun riwis-riwis. Jimin menelepon mantan istrinya sambil berdiri. Di bawah, ada Yoongi yang berlutut mengulum penisnya. Sesekali dia menunduk untuk lihat bagaimana lihainya lidah itu bekerja.
"I love your cock." Yoongi berbisik basah.
"Hm."
Tidak ada kesepakatan mengenai ini. Jimin hanya menceletuk tentang betapa seksinya Yoongi dengan perut buncit dan bokong besarnya itu dan tahu-tahu saja dia mendapat servis blowjob tanpa diminta.
"Dengar. Ada sekotak barang berharga milikmu yang masih tertinggal di rumahku dan aku ingin kamu mengambilnya sekarang juga. Datanglah kemari—ah, Kim Taehyung. Aku tidak peduli kalau kamu mau membawa pacarmu juga. Oke. Tidak. Umh. Kamu yang harus mengambilnya kemari. Aku tidak bisa menggunakan tanganku untuk menyentuh benda itu. Sialan. Datanglah saja—akh!"
Jimin membanting gagang telepon dengan kasar. Ujung lidah Yoongi yang menusuk tepat di lubang uretranya membuat dia terkinjat. Kemudian setelah telepon itu ditutup, dia menggenggam rambut Yoongi dan menekan kepala omega itu semakin dekat supaya batang penisnya dapat terkulum lebih banyak.
"Ssh. Yoongi—ahh."
Jimin menyandarkan sebelah pundak di dinding; sudah terlena. Yoongi pandai sekali mengisap. Mulutnya bekerja dengan sangat baik untuk memanja. Jimin merintih ketika dirasanya ada sengatan yang mulai datang; tanda klimaksnya makin dekat.
"Jangan mundur! Tetap di situ!"
Dia membentak sebab tahu Yoongi mau melepaskan kuluman. Kepala Yoongi dipegangi dan dia mulai menggunakan pinggulnya untuk bergerak; menghujam mulut kecil itu dengan penisnya yang merah bengkak. Puncaknya dikejar lebih cepat.
"Fuck!"
Akhirnya dia dapatkan itu. Air maninya menyembur ke tenggorokan Yoongi. Cepat-cepat omega itu mundur karena mau batuk. Cairan putih sekental nira berceceran ke lantai. Jimin mencium ubun-ubun Yoongi sesaat sebelum merapikan celananya.
"Kamu mau melanjutkan ini? Ayo kita ke kamar."
"Tidak sekarang. Taehyung akan datang."
Jimin memutar bola matanya. "Baik. Kalau begitu setelah Taehyung pergi, kita lanjutkan ini di kamar."
"Oke. Aku tak keberatan. Omong-omong, apa barang miliknya yang tidak mau kamu sentuh itu?"
"Seperangkat perhiasan dan sepasang sepatu. Hadiah pernikahan dariku untuknya."
"Wow. Ketika kamu mengatakan pernikahan, aku jadi iri."
"Aku bisa menikahimu kalau kamu mau."
"Entahlah. Yang aku pikirkan hanya seks denganmu."
"Sial. Aku ditolak lagi, ceritanya?"
Yoongi hanya tertawa sembari berlalu. Dia perlu membersihkan diri di kamar mandi.
Sudah satu jam sejak telepon itu ditutup. Keduanya duduk di sofa ruang tengah; menonton sitkom yang disiarkan di teve. Tidak ada yang disiapkan dengan spesial untuk Taehyung. Hanya ada red wine yang kebetulan masih Jimin punya. Dia pikir mantan istrinya itu hanya akan datang sebentar lalu pergi lagi, jadi dia merasa tidak perlu menyediakan kudapan. Lagipula, Yoongi hanya ingin melihat wajah Taehyung, tidak ada keperluan lain. Setelah itu, ya, sudah.
"Baumu lebih strong."
"Masa?"
"Iya," yakin Yoongi, sembari mengendusi leher Jimin. "Oh, atau memang hanya penciumanku saja, ya? Sejak hamil, terkadang bau tertentu tercium lebih tajam dan menyengat."
Jimin terkekeh, kemudian pelan-pelan mencium bibir Yoongi. Omega itu memejamkan matanya dan membiarkan Jimin melakukan apa yang dia mau.
Ding, dong! Bel berbunyi. Jimin mendecih karena kegiatannya terganggu.
"Biar aku yang bukakan pintunya."
Yoongi beranjak dari sofa. Jimin tetap diam di situ. Dia sudah tahu siapa yang bakal datang, hanya tak mengira kalau Yoongi bakal sesemangat itu untuk menyambut. Sejujurnya Jimin enggan untuk berhadapan dengan Taehyung. Akan tetapi, pertemuan ini sudah tidak dapat dihindari. Dia kadung mengundang omega itu ke rumahnya.
Di ambang pintu, Yoongi menyambut Taehyung yang baru datang. Dia sendirian, tidak bawa siapa-siapa. Yoongi agak gugup karena tidak mengira bahwa mantan istri Jimin semenakjubkan ini. Wajahnya begitu cantik sekaligus mengintimidasi.
"Mana Jimin?"
Taehyung menyunggingkan senyum pelit setelah menjatuhkan pandangannya ke perut Yoongi.
"Di dalam. Masuklah."
Yoongi memerhatikan bagaimana Taehyung berjalan dengan elegan tanpa keragu-raguan, seolah-olah tidak punya beban mental untuk bertemu dengan mantan suaminya.
"Siapa namamu?"
"Min Yoongi."
"Oke."
Nada bicaranya begitu ketus, tetapi Yoongi tidak mengapa. Mana ada orang yang bakal bersikap ramah pada selingkuhan suaminya? Dia tahu diri, jadi agak tengsin juga.
"Jimin, barangnya masih ada di kamarku, bukan?"
Kamarku? Yoongi membatin. Dia merasa kalau Taehyung enggan mengakui bahwa Jimin juga pernah tidur di situ.
"Ya. Ada di atas kasur. Ambil saja."
Mereka bicara tanpa saling memandang. Langkah Taehyung lurus ke tangga, sementara Jimin tidak beranjak dari sofa tempatnya duduk. Yoongi diam di persimpangan; melihat kedua orang itu secara bergantian.
Setelah Taehyung naik ke lantai dua, barulah Jimin bangkit. Dia menggapai Yoongi kemudian dengan kasar berbisik, "Mana pacarnya?"
"Dia datang sendiri."
"Oh."
"Kenapa kamu kelihatan kecewa?"
"Tidak, aku dongkol. Dia tidak juga berubah, suka seenaknya saja. Menyetir sendirian tidak bagus apalagi di malam hari. Dia tahu itu, tetapi tetap melakukannya."
Yoongi melepas kekeh; menyembunyikan rasa sakit yang menggigit. Yang dia tak tahu, Jimin dapat membaca gelagatnya.
"Kamu cemburu?"
"Iya. Tidak." Dia meralat. "Itu tidak penting."
Jimin menariknya ke dalam dekapan, kemudian sisian kepalanya dicium. Yoongi tidak melawan sebab dia merasa bahwa dekapan ini ditunjukkan agar dia tidak merasa kecil. Hanya saja, dia agak terganggu ketika bau tubuh Jimin yang cukup pekat menusuk hidungnya. Otot-otot kelaminnya berkedut, terangsang oleh bau yang makin dihirup makin memabukkan.
Jimin dengan sengaja mengembuskan napasnya di telinga Yoongi. Dengan seduktif dia berbisik, "Aku sangat tidak sabar untuk melanjutkan yang tadi."
"Ah, jangan seperti itu—"
"Apakah kamu tidak berpikir untuk menghibahkannya pada orang lain? Atau menjualnya. Barang-barang ini masih bagus, masih ada harganya di pasar—oh."
Yoongi mendadak kikuk dan seketika melepaskan pelukan Jimin saat dia melihat Taehyung berdiri di titian tangga dengan kotak besar di tangannya. Sedetik Yoongi menangkap tatapan Taehyung yang dingin. Namun, di detik selanjutnya omega itu malah memberi senyum.
"Sorry," kata Taehyung.
Entah bagaimana, tatapan Taehyung dan senyumnya yang misterius membuat Yoongi merasa terancam.
Jimin berdeham-deham, lalu melangkahkan kaki ke ruang tengah sambil berkata, "Aku punya wine. Minum dulu sebelum pulang."
"Baiklah, tetapi aku hanya akan minum sedikit karena aku masih harus menyetir."
"It's okay."
Jimin membuka botol wine-nya, lalu menuangkan isinya ke dua gelas kaca kosong yang ada di atas meja. Yoongi tidak ikut minum. Dia sengaja memisahkan diri karena merasa kalau mungkin ada satu atau dua hal yang hendak mereka bicarakan di situ tanpanya. Jadi, dia berdiri di balik dinding, dan dari ekor mata mengintip bagaimana dua orang itu minum wine sambil berdiri.
"Wine-nya enak, tetapi aku sudah tidak lagi suka dengan merek yang ini."
"Kenapa? Karena ini merek favoritku?"
"Jimin, kamu cerdas."
Gelas Taehyung sudah kosong. Ada secuil rasa tenteram yang muncul di hati Yoongi karena itu tanda kalau Taehyung bakal segera pulang.
"Berhenti memandangku dengan matamu yang seperti itu."
"Sorry, aku hanya—"
"Kamu sangat menggelikan. Apakah kamu sadar kalau kamu sedang rut? Baumu tajam sekali, tahu."
Pertanyaan itu membuat Yoongi terkejut. Jimin rut? Jika Taehyung juga dapat mencium tajamnya bau Jimin, artinya itu benar. Ketika coba mengintip lagi, dia melihat Taehyung menaruh gelas dan kotaknya di atas meja. Omega itu mendekat pada Jimin, merebut gelas wine-nya dan meminum tetes-tetes yang tersisa sampai habis. Jimin membelai pipi Taehyung, kemudian mencium bibirnya. Mereka berciuman begitu mesra sampai-sampai Jimin dapat dengan mudahnya didorong jatuh ke sofa. Taehyung menaikinya, duduk di pangkuannya, dan tak melepas tautan dengan mantan suaminya itu. Selagi melahap bibir tebal Jimin, tangannya bergerak menuntun sang alpha menggerayangi tubuh moleknya.
Melihat itu, Yoongi hanya bisa menutup mulutnya sendiri. Dia gemetaran. Ada api yang berkobar dalam tubuhnya.
"Kalau kamu sedang rut, kamu maunya dimanja. Aku masih ingat itu."
"Taehyung—"
"Bagaimana rasanya?"
"Ungh," Jimin melenguh saat Taehyung memijat kejantanannya. "Aku membutuhkanmu …"
"Kamu yakin yang kamu mau adalah aku?"
"Yes. Yes, my dear. My love. My omega."
Taehyung menggusel-gusel di leher lelaki itu dan memberinya kecupan-kecupan kecil yang provokatif.
"Taehyung, please."
Lelaki itu putus asa. Penisnya kadung menjadi pejal. Dia butuh melampiaskan hasratnya pada sang mantan istri yang masih sama cantik dan indah seperti sebelum dia menceraikannya. Sialan. Jimin ingin mengumpat. Dia heran mengapa omega ini begitu menggairahkan.
Jimin meraba tubuh omega itu mulai dari pundak sampai ke pinggang. Kemudian tangannya bertengger di situ, untuk mengelus-elus sisa-sisa lemak yang tersisa sehabis Taehyung melahirkan. Di saat seperti itu, dengan sengaja Taehyung melepas desahan, kemudian menoleh pada Yoongi dan memperlihatkan senyum yang menghinakan.
Yoongi geram. Sembari mengepalkan tangan, dia menyeret kakinya pada dua orang yang sedang bercumbu di sofa. Dia melihat sendiri bagaimana Jimin begitu bernafsu pada orang yang seharusnya sudah tidak lagi dapat membuatnya tegang seperti itu.
Yoongi memang pernah bilang kalau dia tahu Jimin masih sayang Taehyung. Akan tetapi, begitu diperlihatkan sesayang apa Jimin pada omega itu, hati Yoongi terbakar.
Taehyung menelengkan kepala untuk menghindari Jimin yang sedang mencucup lehernya. Dia berdiri, kemudian menangkup wajah lelaki itu dan mengarahkannya pada Yoongi.
Menyadari omega itu menyaksikan perbuatannya, Jimin terlonjak. Dia mendorong Taehyung untuk memisahkan diri. Dengan tertatih dia hampiri Yoongi yang sedang menahan amarah.
"Yoongi, I'm sorry."
Permintaan maafnya sia-sia. Yoongi menarik kerah baju lelaki itu, lalu menampar pipinya sebagai wujud rasa kecewa. Taehyung tertawa keras.
"Min Yoongi, katakan. Apakah kamu betul-betul mencintai bajingan ini?"
Yoongi tidak bisa berkata-kata. Emosinya tumpah ruah dalam tangisan yang pedih.
"Jika kamu memang mencintainya, buktikanlah padaku."
Jimin memandang Taehyung dengan tanda tanya. "Apa maksudmu?!"
"Kamu tidak usah ikut campur! Yang aku ajak bicara itu dia, bukan kamu."
Taehyung berdiri di depan Yoongi. Dia melihat ke bawah, tidak menunduk atau juga membungkuk untuk omega yang jauh lebih pendek dan kecil darinya itu. Yoongi mendongak dan bertemulah mata mereka. Tiba-tiba, Taehyung meletakkan jari telunjuk di dadanya.
"Buktikan. Supaya aku tidak menyesal sudah menyerahkannya padamu."
"Sialan, Kim Taehyung, pergilah!"
Jimin mencoba menarik Taehyung untuk menjauhi Yoongi, tetapi omega itu tidak mau menurut. Dia menghempaskan tangan Jimin seraya memberinya tatapan yang menusuk. Kancing kemeja Yoongi dibuka satu per satu olehnya. Namun belum habis semua, Yoongi mencengkram pergelangan tangannya.
"Kenapa, hem? Kamu mau melakukannya sendiri? Silakan."
Yoongi menutup matanya rapat-rapat, kelihatan pasrah sekaligus frustrasi. Dia melanjutkan apa yang Taehyung mulai. Kancingnya dibuka semua. Kemeja itu ditanggalkan, dibiarkan jatuh begitu saja di lantai. Dengan tergesa-gesa, dia melepas celananya juga. Lalu dia berjalan pada Jimin dalam keadaan sudah telanjang bulat.
"Yoongi—" Jimin mundur selangkah.
"Aku pernah bilang kalau aku ingin memilikimu seutuhnya, bukan?"
Dia mengatakan itu dengan tatapan yang terarah ke bibir Jimin. Matanya melembut, menjadi sayu. Kemudian dia mencium bibir lelaki itu.
"My, oh, my," ucap Taehyung. Dia duduk di sofa, menyilang kaki.
Jimin tidak bisa menolak afeksi yang Yoongi tawarkan. Dia sedang berahi. Setiap sentuhan yang didapat akan jadi rangsangan yang kuat. Sudah begitu, aroma tubuh Yoongi yang manis dan lembut juga membuatnya tidak tahan untuk segera meringkus omega itu; untuk meninggalkan jejak kepemilikan di setiap inchi dari tubuh Yoongi dengan ciuman, jilatan, gigitan, dan apa saja yang bisa dia lakukan dengan bibir, tangan, dan kejantanannya.
Alpha yang sedang rut bakal lupa diri jika telah menemukan sesuatu yang dapat membuainya, dan Yoongi merasa cukup senang karena Jimin telah jatuh terbawa suasana. Ketika lelaki itu mulai memagut dengan tidak beraturan, Yoongi dengan sengaja mendongakkan kepala untuk memutus tautannya.
Jimin menggeram. Dia menangkap bibir mungil itu dengan beringas. Dalam ciuman yang sudah tidak keruan, Yoongi menyunggingkan senyum yang tipis. Selagi dia mengambil langkah mundur, kerah baju Jimin dipegangi, ditarik, dibawa ikuti irama permainannya.
Yoongi memutar posisi dan membuat lelaki itu duduk di atas meja. Kotak barang Taehyung terdorong jatuh. Isinya berceceran. Gelas-gelas juga terguling karena getaran. Hanya botol wine yang masih bertahan. Ketika Yoongi menghempaskan bokongnya di pangkuan Jimin, Taehyung mengambil botol itu seraya bersiul.
"Dasar jalang binal."
Taehyung menenggak wine-nya langsung dari botol, kemudian menertawakan kekacauan itu. Akan tetapi, Yoongi sudah tidak mendengar. Logika dan rasa malunya sudah terselimuti oleh kabut nafsu yang parah. Bau Jimin yang makin menguar kental dari peluh membuat dia menginginkan yang lebih dari sang alpha.
Setelah tautan bibir mereka terlepas, Yoongi segera memegangi buah dadanya sendiri, lalu dengan terburu-buru berbisik di telinga sang alpha.
"Isap inihh ... isap. Ahh. Aku punya susu sekarang. Kamu suka itu, bukan?"
Tanpa basa-basi Jimin menunduk untuk raup puting susu Yoongi. Omega itu mendongakkan kepala, mengulum bibir menahan desah. Dengan beberapa isapan, susunya mulai keluar.
Saat sedang menikmati gumpal-gumpal itu, tiba-tiba Jimin didorong mundur sampai kepalanya terbentur permukaan meja. Dia mengerang. Yoongi menahannya supaya tetap berbaring. Lalu di hadapannya, Yoongi meremas buah dadanya sendiri sampai kolostrum yang tadinya menggumpal itu muncrat jadi cair.
"Telanhh ... telanlah."
Cairan putih kekuningan itu menetes-netes ke wajah sang alpha. Jimin mau mengisapnya langsung, tetapi Yoongi tetap menahannya. Lelaki itu menggeram tak sabar, kesal juga karena hanya bisa menjilati tetes yang jatuh di sekitar bibirnya.
"Yoongi, don't play with me!"
Kemudian dia menyelipkan tangannya ke bawah untuk membuka ritsleting celananya dan membebaskan kejantanannya yang membengkak.
"Give me … give me your hole …."
Yoongi mundur sedikit supaya lubang vaginanya menyentuh batang penis Jimin. Sebelum memegangi benda itu, dia terlebih dulu menggesekkannya ke sekitar belahan bokong dan lubang analnya. Dia tidak yakin kalau vaginanya bisa menelan penis Jimin begitu saja tanpa penetrasi, akan tetapi, dia juga tidak mau menyerah sampai di sini.
"Fuck, just sit on it, Yoongi."
"Mhhh!"
"Beri aku tontonan bagus." Taehyung menyamankan posisinya di sofa. Di hadapannya, Yoongi meratap setelah memaksa dudukkan diri dengan entakan keras di atas kejantanan Jimin.
"Sakit, ya?"
"Diam … ahhng! Diamlah, kamu!"
Taehyung terkikik geli setelah Yoongi menyahuti. Dia hanya tak kira kalau omega itu bakal risi.
Penis seorang alpha yang sedang rut membengkak lebih besar dari biasanya sebab pada masa itu dia sangat siap untuk melakukan knotting. Besarnya membuat Yoongi sesak. Dia merintih sakit, sampai-sampai tidak tahan untuk membenamkan kuku jarinya di dada Jimin.
"Nggh … aku akan bergerak," katanya dengan lirih.
Dia mencoba menyesuaikan diri. Selagi dia menggoyangkan bokongnya ke kanan dan ke kiri, otot vaginanya merenggang biarkan batang penis Jimin masuk lebih dalam dan menyempit kembali ketika benda itu berkedut membesar. Perlahan, dia mulai menumbuk.
"Ahh … Yoong—mmh, Yoongih …."
Yoongi menggerak-gerakkan pinggulnya. Peluhnya sudah banjir ke mana-mana. Air susunya merembes tak habis-habis. Dengan tumbukan yang makin cepat, Jimin dibuat mabuk kepayang. Suaranya yang raspy keluar putus-putus. Itu sangat menggugah. Edan. Yoongi jadi stres.
Karena merasa belum cukup puas, dia menumbuk dengan lebih cepat lagi. Tangannya bertengger di bagian bawah perut, secara naluriah melindungi bayinya dari goncangan.
"Yoongi, berikan dia malam terindah dalam hidupnya."
"Berisik—akh!"
Dia meremang. Sweet spot-nya kena. Puncak kenikmatan tiba-tiba menghantam seperti ombak. Dia hampir saja roboh kalau tidak ditahan Jimin dari bawah. Ketika lelaki itu bangun dan mengangkat Yoongi supaya berdiri, slick mengalir dari lubang kemaluannya yangmenganga. Jimin melakukan itu hanya untuk membalik posisi duduk Yoongi supaya memunggunginya.
"You're so beautiful," kata Jimin sembari mengecupi tengkuk omega itu.
Dia mengelus perut buncit Yoongi, lalu mengakhirinya di pangkal paha. Yoongi menggeram tertahan saat Jimin mendesak penisnya masuk untuk kedua kali.
Bibir Jimin menempel di tengkuk Yoongi untuk menyesap, membirukan kulit putih itu. Lalu dia menyapukan lidahnya tepat di bagian yang akan dia gigit.
"Ahhng! Sakit! Sakit!" Yoongi memekik.
Jimin membenamkan gigi taringnya di situ sampai dia merasa ada amis darah yang terkecap. Tanpa peduli pada Yoongi yang kesakitan, dia menggerakkan pinggulnya, menyodok lubang vagina itu tanpa henti. Masih ada yang ingin dia kejar. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Engh, Jim—ahh! Ahh! No! Not your knot! Ahhhng! Aahh! Ahh … ahhh …."
Teriakan histeris itu memelan setelah sperma Jimin menyembur di dalam; melimpah ruah. Yoongi membanting kepalanya ke belakang untuk lepaskan lelah. Jimin menyambutnya dengan pelukan yang protektif. Sayangnya, engah napas dan cium-cium lemas sisa orgasme itu jadi tak lagi nikmat karena tepuk tangan dari Taehyung.
"Luar biasa."
Yoongi memandangnya dengan mata yang berkilat marah. Akan tetapi, Taehyung hanya tertawa saja. Baginya, tatapan Yoongi hanya sebuah gertak yang tiada arti.
"Sekarang kamu pergilah."
"Ouch."
"Pergilah, Taehyung. Pergi sebelum aku mengusirmu."
"Rupanya omega milik Mr. Park sudah mulai menunjukkan kuasanya di hadapan orang lain."
"Kamu—"
"Sudah. Diam, Yoongi."
Jimin menyela. Yoongi mengeritkan gigi.
"Jika dia memang masih ingin menonton kita bercumbu, itu tidak mengapa. Biarkan saja. Ayo. Ayo, kita mulai lagi. Kali ini aku akan menggagahimu sampai kamu memohon untuk berhenti."
Mulanya dia bingung kenapa alpha itu malah terkesan membela Taehyung. Akan tetapi, ketika Jimin membelai buah dadanya, dan menjilati bekas luka di tengkuknya, dia mengerti bahwa itulah cara Jimin untuk menunjukkan bahwa dia menginginkannya.
"Ayo, lagi. Setubuhi aku sampai kamu puas," kata Yoongi dengan nada yang manja.
Taehyung mendecih sebal. Setelah itu, dia benar-benar pergi, dan barang-barangnya yang berceceran di lantai tidak lagi dipedulikan.
.
.
.
Jimin memandang perhiasan dan sepatu Taehyung dengan malas.
"Ya, Tuhan. Kalau begini, aku benar-benar harus menyerahkannya langsung pada si Taehyung sialan itu."
Hari telah berganti. Kotak silver milik Taehyung masih tertinggal di rumah itu. Jimin mengusap kepalanya karena stres melihat barang yang tak diinginkannya ternyata masih eksis di depan mata.
Yoongi menyodorkan kopi panas seraya berkata, "Biar aku saja yang serahkan itu pada dia. Beritahu aku nomor teleponnya."
"Jangan. Kamu jangan sekali-sekali berani menghubunginya apalagi berniat untuk bertemu dengannya."
"Aku penasaran apakah kamu bersikap seperti ini karena kamu ingin melindunginya atau bagaimana."
"Aku tidak—tsk. Oke. Lakukan saja."
Gelas itu diambil, kemudian Jimin langsung menyeruput kopinya tanpa ditiup dulu. Dia mengumpat karena lidahnya terbakar.
"Nomor teleponnya ada di buku sakuku, di dalam tas. Kalau dia mau, mungkin dia bakal memilih bertemu denganmu di sebuah kafe atau apa, lah."
"Hm, baiklah. Di kafe pun tak apa. Aku bisa sekalian beli kue. Sudah lama aku tidak makan kue." Yoongi mengangguk-angguk. "Oh, ya. Aku akan pergi sendiri."
"What? Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa. Ingin saja."
"Naik apa?"
"Taksi. Kenapa kamu cemas begitu? Aku sudah terbiasa pergi sendirian, membawa bayi dalam perut, melawan sakit kaki dan mual-mual. Tidak ditemani siapa-siapa, tidak diantar siapa-siapa termasuk kamu."
"Sialan, Yoongi. Jangan jadikan itu sebagai kartu As untuk menyerangku."
Yoongi tertawa.
Lalu di sore harinya, dia dan Taehyung bertemu di sebuah kafe dan duduk di bangku yang ada di area semi outdoor. Taehyung bilang Yoongi tidak bakal masuk angin hanya karena gerimis yang payah. Ketika kotak silver itu diserahkan, Taehyung menghela napas dan memandang benda itu dengan malas.
"Aku lupa bertanya. Sudah berapa bulan?"
"Enam."
"Si bangsat itu benar-benar menganggap dirinya pejantan tangguh." Taehyung bergumam.
"Pardon?"
"Lupakan saja."
Yoongi memerhatikan omega berkulit kecokelatan yang baru saja menghabiskan secangkir kopi hitamnya itu. Taehyung begitu menarik. Dia tidak kelihatan seperti seseorang ibu yang baru saja melahirkan bayi sebulan lalu.
"Kim Taehyung."
"Yes?"
"Kenapa kamu mengabaikan lelaki yang menyayangi kamu dengan tulus?"
Taehyung terkekeh kecil. Kemudian, setelah kekeh itu habis, dia sedikit mencondongkan badannya ke depan dan melipat tangannya di atas meja.
"He is a beast," bisiknya. "And from that beast I got a child."
"Dia baik padaku."
"Kamu boleh membelanya, tetapi aku tidak akan berubah pikiran."
"Bukankah kamu menganggapnya begitu karena kamu tidak mencintainya?"
"Benar juga." Taehyung mengangguk. "Oh, snap. Karena kamu sama dengannya, makanya kamu tidak merasa ada yang salah, ya? You guys are beasts!"
"Beast apa—"
"Yes. Beast. You are a beast like that man. Admit it. Bercerminlah."
Yoongi terperangah. Taehyung tersenyum menang.
"Jika kamu bukan seperti yang aku tuduhkan, tidak bakal ada yang namanya tersinggung."
Omega itu membuat amarah Yoongi terpancing. Dia menggigit bibir untuk menahan diri padahal dia sangat ingin membungkam mulut yang melulu menghinakannya.
"Kamu kemari sendirian?"
"Ya."
"Bagus. Lebih baik untuk tidak selalu menggantungkan diri dan menempel pada orang lain apalagi alpha. Kamu bakal jadi parasit yang merusak."
Taehyung menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, kemudian mengambil kunci mobil dan dompetnya yang tergeletak di atas meja juga kotak silver yang seharusnya sudah dia bawa sejak kemarin.
"Sudah, ya. Aku harus pulang. Kopimu biar aku yang bayar sekalian."
Yoongi melihat omega itu melenggang ke kasir. Aneh karena Taehyung masih sama seperti sebelumnya; tanpa beban dan tampak begitu enjoy. Yoongi merasa iri dan cemburu. Dia tidak suka. Dia benci.
Hujan telah mereda. Mereka sama-sama berjalan keluar dari kafe itu dengan jarak yang tak dekat tak juga jauh.
"Apa rencanamu di hari yang mendung ini?"
"Apa perlu kamu bertanya? Kita tidak ada urusan."
"Kelihatannya kamu tidak suka berbasa-basi. Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa, Yoongi. Jimin pasti sudah menunggumu di rumah."
"Iya, pacarku sedang menungguku pulang."
Taehyung mendecih. Dia masuk ke mobilnya, tidak meninggalkan senyum. Lalu mobil sedan hitam itu menjauh, bergabung dengan mobil-mobil lain di jalanan yang basah sehabis hujan.
Yoongi menghela napas. Dia membenarkan letak tali totebag-nya, kemudian membalik badan hendak pergi juga. Saat sedang melangkah ke titik di mana banyak taksi terparkir, dia melihat lelaki yang dia kenal figurnya sedang berdiri menunggunya mendekat.
"Mari kita pulang."
Dia terdiam; tidak mengira kalau Jimin bakal berada di situ.
"Kamu membuntutiku?"
"Kenapa, memangnya? Kamu sedang hamil. Aku takut kamu mengejan di jalan."
"Apa-apaan."
Jimin mengekeh. Kemudian dia menunduk untuk cium bibir omega-nya.
"Ayo kita pulang dan bergumul dalam selimut."
"Lakukan di rumahku. Aku juga mau pulang ke rumahku sendiri."
"Oke, Sayang."
Jimin merangkul pundak Yoongi. Mereka berjalan sekitar 100 meter sampai di tempat Jimin memarkirkan mobil. Saat mau masuk, entah mengapa perhatian Yoongi tertuju pada bayangan di kaca pintu.
"Tidak bisakah kita melakukannya di mobil saja? aku sudah tak sabar."
"A-ah, jangan begitu. Orang bakal melihat."
Di situ ada dirinya juga Jimin yang sedang mengecupi tengkuknya. Dia memerhatikan dengan seksama sambil berkerut dari; masih tidak mengerti apa yang Taehyung maksud. []
END
