050819
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Último Ano du Melodioso
mysticahime™
© 2020
.
.
Season 1: Primo
Chapter 16
.
.
.
.
Di tengah musim panas yang seolah tidak ada habisnya, Shikamaru berandai-andai mengenai betapa enaknya terlahir dalam sebuah keluarga yang bukan pengusaha laundry.
Matahari musim panas cemerlang—kemilau sinarnya menyelip di celah-celah jemari saat dia mendongak menatap langit yang sangat biru—dan limpahan panas yang lebih panjang dari biasanya membawa keberuntungan. Cucian lebih cepat kering dari biasanya, ditambah orang-orang menjadi lebih malas dari biasanya untuk mencuci. Di saat-saat seperti ini, kedua orangtua Shikamaru memanfaatkan anaknya yang punya waktu luang sebagai tambahan tangan.
Baiklah, Shikamaru tidak punya banyak waktu untuk berdialog dengan kepalanya sendiri. Delapan mesin cuci mereka masih memutar pakaian dari delapan keluarga. Tiga ember besar yang mengelilingi kakinya minta diperhatikan sekarang juga. Maka, setelah sekian menit bergumul melawan keengganannya sendiri, salah satu kakinya menekuk. Ia berjongkok, mulai meraup isi ember. Memisahkan pakaian berwarna terang dan gelap, mencegahnya saling melunturkan warna.
Bel berdenting ketika Shikamaru baru saja menyelesaikan satu ember.
"Kau terlihat sibuk."
Shikamaru mengangkat kepalanya. Kuncir rambutnya lemas ke belakang, basah oleh keringat.
Sakura, di sana, memeluk sebuah tas kain dari kanvas putih tua dalam lengannya yang sehat. Tas kain yang, Shikamaru kira, adalah pakaian lainnya yang akan masuk ke dalam ceruk ember sebentar lagi.
"Dan kau terlihat... berbeda." Shikamaru mengangkat bahu, mencoba tidak acuh. "Sehat dan menganggur."
Kernyit di kening Sakura nyata. Kepang rambutnya berantakan, anak rambut mencuat ke segala arah dari jalinan rambut kembar dari puncak kepalanya. "Kalau sehat, aku akan mencuci semua ini sendiri," ujarnya, mengulurkan tas kain yang setelah dilihat-lihat nampak lebih padat dari sekadar baju belaka.
"Apa ini?"
"Sepatu kanvasku." Shikamaru melongok ke dalam sana, menemukan sepasang sepatu warna merah marun dengan sol yang dekil. Sepatu sehari-hari Sakura bila mereka tidak ada kegiatan di sekolah. "Sudah liburan musim panas, tapi aku belum mengenakannya sama sekali. Saat menemukannya di sudut rak sepatu, ternyata... berdebu." Cara Sakura membicarakannya seolah-olah ia baru saja menemukan bangkai anak tikus di dalam lubang sepatunya. "Tanganku belum boleh banyak bergerak, maka!" Jeda, "Kurasa kau bisa menolongku."
Itu pernyataan, bukan pertanyaan.
Ketegangan di bahu Shikamaru mengendur. "Tinggalkan saja di meja itu. Besok sore sudah bisa diambil."
Hanya sepasang sepatu. Perkara mudah. Nara Shikamaru nyaris berdecak pada dirinya sendiri. Memangnya apa yang kauharapkan, Shikamaru? Sepasang pakaian dalam? Shikamaru menatap Sakura yang sedang melihat-lihat mesin cuci yang berputar kencang.
"Wow," katanya, takjub. "Berapa banyak mesin cuci yang kalian punya? Seingatku, lima tahun yang lalu kalian hanya punya... tiga?"
"Ada kira-kira dua ratus orang di pemukiman ini, Sakura." Tanpa mengalihkan pandangan dari Sakura, Shikamaru menjawab. "Dari dua ratus orang itu, kira-kira ada enam puluh perempuan yang bertanggungjawab atas cucian masing-masing. Anggap saja sepertiganya mengalami sakit atau cedera setiap tiga bulan—seperti kau. Kira-kira apakah itu tidak menjawab kebingunganmu?"
Memperoleh jawaban sepanjang itu, dari seseorang yang merasa menjelaskan adalah pekerjaan merepotkan, membuat Sakura tersenyum geli. Di balik kata-katanya, Shikamaru selalu menyelipkan humor sarkastik, persis seperti barusan. Orang-orang seperti Sakura-lah, menurut Shikamaru, yang menyebabkan mesin cuci keluarga Nara bertambah dari tiga menjadi delapan. Merek terbaru, pula. (Sakura sekilas pernah menemukan merk tersebut di lembar katalog online ibunya kemarin.)
"Aku mengerti." Melangkah mundur dari mesin cuci-mesin cuci tersebut, tatapan Sakura bersirobok dengan Shikamaru. Pemuda itu menatapnya lebih lama sedetik, sebelum merenggut tas kanvas Sakura dari atas meja. Tas itu kemudian diletakkan di rak, tepat di bagian 'BELUM DIKERJAKAN'.
"Itu saja?"
"Mm-hmm," gumaman Sakura disusul gelengan ringan. Tatkala sepasang alis terangkat milik Shikamaru menjadi pertanyaan tanpa suara, Sakura buru-buru menjawab, "Sebenarnya aku berniat mengajakmu makan es krim."
"Es krim?"
"Bersama Chouji. Dia sih, sebenarnya sudah siap di kafe gelato dekat sekolah kita."
Ide itu sebenarnya tercetus dari Chouji, dalam mail pertama di pagi hari ketika Sakura berusaha mematikan dering alarm-nya yang berisik. Memastikan hari ini hari Minggu di mana tidak ada jadwal latihan, Sakura segera mengiyakan. Chouji sempat bilang, ajak Shikamaru, ponselnya dimatikan dari semalam, maka berbekal sepatu yang memang ingin dicuci, Sakura beranjak ke rumah Shikamaru.
Bunyi berdencing mampir ke telinga Sakura. Ketika ia mengangkat kepalanya, Shikamaru tengah menjejalkan kakinya ke dalam sandal. Dua tangannya masuk ke dalam saku, saat berjalan, bunyi berdencing barusan kembali mengudara.
"Ayo." Pemuda itu mendahului Sakura, yang segera menyusul langkah-langkahnya.
.
.
.
.
Kepala Sakura mengangguk-angguk mengikuti irama lagu yang diputar di dalam kafe gelato, telinganya berjuang keras menyaring suara Adele di tengah-tengah percakapan-percakapan di sekitar meja mereka. Ada semangkuk gelato berwarna kuning semi oranye, gelato mangga kesukaannya. Isinya tinggal separuh, pertanda sedari tadi yang dilakukannya adalah menyantap es krim favoritnya, sekaligus mengabaikan tatapan penuh selidik dari dua orang yang berbagi meja dengannya.
Chouji, dari balik mangkuk es krim jumbonya, menginjak-nginjak kaki Shikamaru di bawah meja.
Shikamaru, beserta segelas es teh berembun, menjauhkan kakinya dari injakan sepatu raksasa Chouji.
Beberapa hari telah berlalu dari kejadian inap-menginap di rumah Sakura, namun hingga hari ini gadis itu belum membuka mulutnya sama sekali untuk menceritakan lebih detail pada Shikamaru dan Chouji. Dari luar, sepanjang pengamatan keduanya selama di auditorium, semua nampak baik-baik saja. Mereka tidak dapat menebak apa yang terjadi di dalam.
"Habis ini," Sakura berbicara untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sendok es krim ada di mulutnya, "kita mau makan apa?"
Masih ada kira-kira satu jam sebelum waktunya makan siang. Ketiganya bisa mendapatkan tempat lebih awal di restoran favorit kalau berangkat sekarang. Konoha City terbilang mencapai kepadatan populasi tertinggi pada musim panas di setiap tahunnya. Tak terkecuali tahun ini, ketika populasi kota kecil ini mulai dipenuhi oleh remaja-remaja seusia Sakura, Shikamaru, dan Chouji. Kloter umur para penjelajah, ditambah arus dari Suna City, kota metropolitan yang hanya berjarak dua jam dari perbatasan Konoha City. Selama satu tahun ke belakang, Konoha City menjadi salah satu tujuan pariwisata yang namanya melesat di kalangan pecinta traveling. Segmen wisata yang meningkat drastis itu kebanyakan dimotori oleh bisnis kuliner. Toko gelato kesukaan tiga sekawan ini pun melalui renovasi besar-besaran tiga bulan yang lalu. Sekarang, spasinya semakin lapang, ada tambahan lantai dua, dan dekorasinya sangat mediteranian. Papan menunya mulai menyajikan menu-menu makanan khas Italia, selain es krim manis dingin yang meleleh di mulut mereka.
Sakura mengerutkan kening ketika tidak ada seorang pun menjawab pertanyaannya. Kedua temannya sibuk menyendok suapan demi suapan es krim ke dalam mulut. Chouji sesekali menyambar toping dari mangkuk Shikamaru, yang direlakan begitu saja tanpa perlawanan.
"Kalian gumoh makan gelato?" tanya Sakura lagi. Ia mengelap sudut bibir yang terasa lengket dengan tisu. "Kalau sudah makan yang manis, kita harus makan yang—"
"Asiiinnn!" jawab Chouji segera. "Cumi bakar oke tidak menurut kalian? Di belakang rumahku ada yang punya kedai seafood dan aromanya sedap sekali. Dari kemarin aku ingin ke sana, tapi belum sempat. Habis ini ke sana, yuk?"
"Kau traktir?" Sakura tersenyum geli. Chouji dan makanan tidak dapat dipisahkan sejak dulu. Topik pembicaraan mengenai makanan akan selalu menarik bagi Chouji, apa pun jenisnya.
"Kalau iya, aku mau." Shikamaru turut berpartisipasi. Tumben-tumbennya.
Sakura menyipitkan matanya. "Bilang saja kau mau kabur dari pekerjaan laundry-mu."
"Memang."
"Ibumu pasti bakal mengomel."
"Pasti."
Bahu Sakura bergidik. "Aku tidak mau membayangkannya."
Tatapan mata Shikamaru jatuh kepadanya, kepalanya miring sedikit. Selama beberapa detik, pemuda itu diam. Lalu, "Bayangkan saja dirimu mengomel. Kira-kira begitu."
"Hei!" Tangan Sakura menampar bahu Shikamaru yang berada dalam jangkauannya. "Jaga mulutmu kalau bicara. Dasar teman durhaka. Aku tidak suka mengomel. Enak saja. Jangan samakan aku dengan ibumu."
Pada Chouji, pemuda berkucir itu melemparkan pandangan, seolah-olah berkata, apa kubilang, kan? Dan Chouji menanggapinya dalam tawa berderai. Menonton kedua temannya bertengkar adalah kegiatan seru untuk menemani sisa es krimnya yang tinggal sedikit.
"Dengar tidak, Shikamaru?! Awas kalau bilang aku suka mengomel lagi." Sebagai penandas ucapannya, Sakura melipat kedua lengan di depan dada—di saat bersamaan menyenggol mangkuk es krimnya sendiri hingga terlempar dari meja dan es krim di atasnya tumpah membentuk genangan menyedihkan di atas lantai.
Ketiganya terkesiap, sama sekali tidak menyangka insiden seperti ini bakal terjadi di tengah siang bolong. Muka mereka berkerut-kerut; Sakura menahan jengkel, Shikamaru karena gatal menahan tawa, dan Chouji yang bingung bisa-bisanya ada tragedi semacam ini ketika es krim Sakura dalam perjalanannya menuju habis.
"Es krimku!" Sepersekian detik kemudian, Sakura menjerit, memancing semua kepala di sana menoleh ke arah mereka. Tanpa memedulikan tatakrama lagi, Sakura berjongkok bersama segumpal tisu, mulai membersihkan lantai toko gelato yang lengket oleh sisa es krim manis di sana. Mangkuknya dipakai untuk menampung lembaran-lembaran tisu berlumpur warna kuning-oranye.
"Hei, kita bisa minta tolong seseorang dari sini untuk membersihkan." Shikamaru meraih tangan Sakura, menahannya membersihkan lantai di dekat kursi tempatnya duduk. "Sakura, cukup. Tanganmu kotor, bajumu juga." Shikamaru ingin menambahkan, perbanmu juga, begitu mendapati noda di perban cokelat yang membalut lengan bawahnya hingga ke batas siku. Tapi, pemuda itu tidak menambahkan apa pun lagi, langsung ditariknya Sakura agar duduk ke kursi.
Chouji, yang tadi sempat menghilang, kembali bersama seseorang berapron khas seragam para pelayan di toko gelato. Sakura meminta maaf atas kekacauan yang dibuatnya barusan, kemudian duduk sambil cemberut dan membiarkan laki-laki berseragam itu menyelesaikan pekerjaannya. Selalu ada kekacauan dalam harinya. Selalu ada terselip kesialan di hari yang menurutnya seharusnya berjalan baik. Sakura tidak yakin apakah dengan satu lengan sehat seperti ini tidak akan menambah kekacauan di muka bumi lagi. Ngomong-ngomong, ini hari pertamanya benar-benar pergi keluar rumah tanpa dibantu gendongan lengan yang sudah dua minggu menemaninya.
Begitu lantai bersih dan kembali mengilat seperti semula, Sakura masih terlihat muram.
"Hei, kita jadi ke tempat makan cumi bakar?" Chouji berusaha memecahkan kekeruhan di meja mereka. Mangkuk es krimnya sudah licin tandas ke dasar, begitu pula mangkuk Shikamaru. Hanya milik Sakura yang sudah diamankan oleh pelayan.
"Entah." Bahu Sakura terangkat sedikit. "Aku sudah tidak nafsu makan."
"Ergh. Tadi kau yang mengajak ke sana," cibir Shikamaru.
"Itu kan tadi."
"Sudah, sudah. Jangan bertengkar." Chouji melerai keduanya, seperti biasa. Peran itulah yang biasa ia lakukan, menjadi penengah setiap kali Sakura dan Shikamaru mulai terlibat perang. "Kalau sudah tidak mau makan, bagaimana kalau ke rumahku saja? Kita bisa nonton DVD atau semacamnya…."
Dan di sanalah mereka berakhir setengah jam kemudian, bersila di atas karpet tipis kamar Chouji, masing-masing memeluk bantal sofa setengah kempes. Chouji kembali ke kamarnya bersama dua botol besar soda dan kantung besar berisi cemilan, entah dari mana ia mendapatkan itu semua. Situasi di dalam kamar masih sama: Shikamaru menyandarkan kepala dengan jemu di bantalnya, dan Sakura memijat-mijat tombol untuk mencari film yang ingin mereka tonton dari televisi kabel di kamar Chouji.
"Sudah lama kita nggak seperti ini." Chouji meletakkan semua barang dari tangannya ke lantai, berhati-hati agar tidak menggulingkan botol soda raksasa. "Sejak SMA, kita semakin sibuk."
"Siapa yang sibuk," tukas Shikamaru, menghindari kantung cemilan Chouji. Udara panas dan lembap membuatnya malas bergerak. Kulitnya lengket oleh keringat, anak-anak rambutnya sampai melekat di dahi.
"Maksudmu aku?" Sakura melirik dari layar televisi, memberikan delikan tajam pada Shikamaru. Kenapa pemuda itu senang sekali mencari masalah dengannya hari ini? "Setiap orang punya kehidupannya sendiri-sendiri, tahu. Lagipula, akhirnya kau juga mau ikutan sibuk bersama klub drama."
"Kita nonton Harry Potter yang ketiga saja, yuk!" Chouji memutus pertengkaran mereka sebelum tersulut. Pemuda yang bertubuh gempal itu melompat ke antara keduanya, memaksa Sakura dan Shikamaru bergeser agar tidak terjepit, kemudian mengambil alih remot di tangan Sakura. "Shika, kau paling dekat dengan gelas plastik. Ayo tuangkan soda buatku dan Sakura."
Shikamaru menyerah, beringsut mengambil gelas-gelas yang dimaksud dan membuka tutup botol, membiarkan bunyi mendesis pecah menggelegak di tengah siang hari terik.
"Gelasnya besar amat," celetuk Shikamaru, merasa soda sudah dituang banyak-banyak namun belum mendekati bibir gelas. "Nih, ambil sendiri-sendiri. Hati-hati tumpah."
Masing-masing kini menggenggam gelas plastik di tangan, merasakan telapak tangan lembap karena embun. Film di layar televisi menjadi fokus utama, menghentikan pertengkaran-pertengkaran kecil yang meletup. Mereka jarang berkelahi, sebenarnya. Selisih pendapat, seringnya. Terkadang, nada bicara yang meninggi bukanlah pertanda mereka bertengkar—terutama Sakura dan Shikamaru. Tetapi, seperti biasa, sedari dulu, Chouji akan selalu ada di tengah-tengah mereka. Menjaga agar denting percakapan tidak berubah menjadi api berkobar dan rasa sakit hati.
Seperti biasa, sedari dulu, mereka bertiga akan larut dalam tontonan mereka, sejenak melupakan hari-hari yang telah dilalui dan akan dihadapi.
Seperti biasa, sedari dulu, mereka bertiga hanyalah anak-anak kecil yang kini beranjak remaja, tiga orang di dalam tubuh-tubuh itu masihlah Sakura, Shikamaru, dan Chouji yang sama.
Seperti biasa, sedari dulu, hari-hari di dalam musim panas berlangsung menyegarkan, seperti soda di tangan mereka.
.
.
.
.
Sore hari, menjelang matahari terbenam, ketiganya sepakat untuk makan di luar. Kali ini ke tempat cumi bakar di belakang rumah Chouji.
Mulanya, Shikamaru protes karena mana mungkin mereka kenyang hanya makan cumi bakar, namun setibanya di sana, ternyata tempat itu semacam restoran kecil yang menjual seafood bakar. Ada banyak pilihan menu, namun Chouji merekomendasikan mereka semua memesan cumi bakar.
"Kita bisa ambil nasi sebanyak apa pun." Chouji menerangkan seolah-olah dia empunya restoran. Sakura dan Shikamaru mengangguk-angguk mendengar penjelasannya. Pantas saja Chouji ngotot sekali mengajak mereka ke sana. Ternyata nasinya bisa refill sesuka hati. Penghakiman sepihak itu terus timbul sampai mereka merasakan gigitan pertama pada cumi bakar yang terhidang.
"Enak!" Sakura tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Ia awalnya mengira Chouji melebih-lebihkan cumi bakar di sana. Makanan mana yang tidak enak untuk Chouji? Namun lembut dan empuknya cumi bakar dan bumbu saos yang dioleskan ke permukaannya benar-benar terasa sedap. Harumnya menguar. Sakura sempat khawatir rambutnya bau asap, namun ia mengabaikan semua itu ketika merasakan seluruh air liurnya menyambut sensasi cumi bakar seenak ini.
"Apa kataku," ujar Chouji, melahap satu cumi bakar bulat-bulat hingga pipinya penuh. Perlu beberapa saat sebelum ia sempat berkata lagi, "Aku tahu kalian sempat ragu. Tapi kumaafkan. Ayo kita makan saja. Aku ini benar-benar pemaaf."
Satu-satunya yang diam di sini hanyalah Shikamaru. Ia tidak seantusias Sakura melahap cumi bakarnya. Mengunyah dalam pelan, Shikamaru hanya mengawasi kedua temannya yang makan dengan rakus.
"Kau nggak lapar, Shika?" Ternyata, Chouji menyadari itu.
"Sedikit," dusta Shikamaru. "Harus ada seseorang yang mencegah Sakura menumpahkan apa pun ke lantai lagi."
Sakura mendengus. Tidak mau menjawab karena mulutnya penuh oleh makanan. Shikamaru begitu gemar meledeknya belakangan ini. Entah kenapa. Mungkin mengganggu Sakura menjadi satu-satunya alasan Shikamaru meninggalkan tempat tidurnya setiap pagi. Benar-benar misi mulia.
Suara desis dari grill di depan kedai, renyah percakapan orang-orang, dan sumpit yang berdenting dengan mangkuk menjadi musik latar belakang. Saking bisingnya, mereka sampai tidak menyadari lagu-lagu oleh pemilik kedai. Sakura baru sadar alunan musik ketika mendengar intro lagu yang dikenalnya.
Crazy Love dari Michael Buble.
I can hear her heart beat for a thousand miles
And the heavens open up every time she smiles
And when I come to her that's just where I belong
Yet I'm running to her like a rivers song
Sakura berpikir orang-orang yang menyanyikan lagu-lagu cinta sangatlah lucu. Perasaan mereka berbunga-bunga dan tertuang dalam lirik lagu. Apakah mereka benar-benar memikirkan itu ketika memandang orang yang mereka cintai?
Ia tidak mengerti.
Di tengah kunyahannya yang melambat, saat itulah sudut matanya menangkap sesuatu.
Shikamaru sedang memandanginya.
Apakah ia salah lihat?
.
.
.
.
to be continued….
.
.
.
.
Author's Bacot Area
First of all, WKWKWKWK banget. Like WKWKWKWK karena wkwkwk saat buka file ini, saya cuma bisa senyum-senyum lihat tanggal yang tertera di atas. Agustus 2019 men, 2019. Dua tahun berlalu, file-nya mengendap di hard disk begitu aja.
Dua tahun berlalu. Selama dua tahun ini saya benar-benar vakum dari FFN. Some of the reasons were real life stuffs, yea being an adult sucks. Alasan lainnya … saya migrasi ke platform lain karena mencoba nulis sesuatu yang lebih ke arah orific. Novel. You name it. Belakangan saya lebih aktif di wattpad dan GWP, dua-duanya masih pakai penname yang sama.
Belakangan juga, saya banyak merenung soal tulisan saya. Bertanya-tanya am I growing after all this time or I just stuck at the same place after 10++ years. Ada masa-masanya saya insekyur dengan tulisan sendiri, because after all, I'm just a mere human.
Menulis di FFN berbeda banget dengan di WP atau GWP. Selain karena nggak ada perfandoman tertentu, kita lebih bergantung dengan tag dari tulisannya. Saya sih, yang sudah biasa di FFN, jujur aja bingung. Mulai membiasakan diri, tapi sekaligus berusaha melawan insekyur yang hobi banget mampir kalau baca tulisan orang.
Banyak author FFN pergi dari sini, terutama teman-teman author FNI. LuthCi dan littleparadox sekarang lagi bikin AU (semacam fanfic juga) model sosmed di twitter mereka. blackpapillon sibuk jadi ibuk-ibuk dan lagi pindah archive ke tempat lain. Agak sepi juga rasanya liat entries tanpa mereka.
Saya nggak bisa janji kapan bisa update lagi cerita ini (dan Under The Same Sky), but since I have the whole outline, I'll try to. Jangan ditagih. Takut PHP karena memang sesulit itu rasanya nulis, dan seinsekyur itu saya sama tulisan sendiri.
Semoga pandemi ini cepat kelar biar beban di pundak kita berkurang sedikit. Buat sekarang, semoga update kecil ini jadi sedikit penghibur di kala penat.
Stay safe and sane. Sampai ketemu di lain waktu.
Me ke aloha,
mysticahime, 25102021
