Ingatan masa lalu itu terus menghantuiku, semua kilas balik yang terus saja terulang di kepala ini membuatku trauma akan apa yang namanya mencintai ataupun dicintai.

Aku membutakan diriku sendiri, membuat semua rasa cinta yang ada di hati ini lenyap tanpa sisa.

Dimulai dari aku yang berumur empat tahun, ayahku selalu datang dengan keadaan mabuk, berakhir dengan sebuah adegan yang terus saja terulang tiap kali ayah pulang.

Dia akan selalu menyiksa ibuku hingga beliau menangis sejadinya, wanita itu tak bersalah sama sekali, dan tanpa belas kasih, Ayah menyiksanya.

Aku tak kuat untuk melihatnya saat itu, kejadian itu benar-benar membuatku trauma berat untuk menjalani kehidupan, sampai pada meninggalnya Ibu.

Aku sendirian waktu itu, ayah selalu meninggalkanku untuk bekerja, dan aku berumur sebelas tahun.

Dan apa yang kuterima saat ini sama seperti apa yang ibuku terima, Ayah terkadang menyiksaku untuk melampiaskan kemarahannya.

Entah kenapa, Ayah terus saja marah semenjak dia menikahi Ibu. Terlebih, marahnya Ayah itu tak bisa dimengerti, dia tiba-tiba akan langsung memukul Ibu atau aku.

Sampai saat dimana aku melihat sosok ayah yang sedang berciuman mesra dengan wanita lain, pria itu seolah tak menghiraukan hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang.

Aku sebagai putrinya tak kuasa untuk melihat adegan tersebut, segera aku bergegas untuk pergi meninggalkan mereka ke rumah, serta mulai merapihkan beberapa pakaian dan beberapa benda penting yang kumiliki.

Di umurku yang ke lima belas, aku sudah kabur dari rumah meninggalkan sosok ayah kejam yang selalu menyiksaku serta mendiang ibu.

Aku sudah tak peduli dengan dia, biarlah dia membusuk dengan wanita itu atau bagaimana, aku tak peduli sama sekali.

Di umurku ini, aku harus kerja sampingan sebagai pelayan setelah pulang dari sekolah, pekerjaan berat pun aku lakukan saat ini, sampai dimana aku lulus dari sekolah menengah atas.

Ada banyak hal yang terjadi padaku, dimulai dari perundungan yang menimpaku oleh murid sekolah menengah atas lainnya, lalu beberapa gadis di sekolahku mulai membully karena banyak dari pria di sekolah menyukaiku.

Aku tak memperdulikan pada lelaki itu, aku hanya peduli dengan diriku sendiri, egois. Ya aku memang egois.

Aku tak berpikir untuk memulai hubungan spesial dengan seseorang, terlebih dengan trauma yang masih menghantui pikiranku ini.

"Maafkan aku yang harus menolakmu, aku menghargainya, tapi aku tak bisa menerimanya."

Kata-kata itu terus keluar dari mulutku, hingga hari kelulusan.

Di hari itu, aku langsung pulang ke apartemen kecil yang ku sewa sekarang.

Aku berhasil menyembunyikan pekerjaanku sampai hari kelulusan, Murid sekolah dilarang untuk bekerja karena akan mengganggu berlangsungnya belajar dari murid tersebut.

Dan aku, Kushina Uzumaki. Seorang siswa yang baru saja lulus dari sekolahnya akan menghadapi kehidupannya yang baru setelah bersekolah.

Kushina POV End!

...

..

.

Naruto by Masashi Kishimoto.

Warning: Inseki/Incest, Smut, Lemon, OOC, AU, typo, dan hal lain.

Pairing: Naruto x Kushina.

Komisi dari: Peaceful Hermit.

...

..

.

...

Enjoy it!

Dua puluh tahun berlalu, Kushina hidup sendirian tanpa ada yang menemani. Dia tinggal di sebuah rumah hasil jerih payahnya selama dua puluh tahun.

Sekarang umurnya sudah hampir mencapai kepala empat, dan dia tak memikirkan seseorang sama sekali.

Wanita karir seperti Kushina yang masih perawan ini hanya akan memikirkan karir semata, dia tak pernah memikirkan hal lain seperti percintaan ataupun membangun sebuah keluarga.

Dia masih trauma akan masa lalunya, dia juga tak peduli dengan keadaan ayahnya saat ini. Dia sudah berusaha untuk melupakan orang itu, serta membiarkannya hidup dengan wanita lain.

Wanita cantik itu saat ini berada di sebuah bar yang menjadi langganannya untuk menghabiskan hari libur. Kushina menikmati tiap minuman alkohol yang disajikan, serta beberapa dessert yang ada.

Bartendernya sendiri sangat baik, dengan istrinya yang selalu menemani Kushina mengobrol.

Terkadang ada beberapa lelaki yang mencoba mendekati Kushina. Namun, dia biarkan para lelaki itu mengoceh seenaknya.

Kushina tak percaya jika dirinya akan menjadi magnet lelaki. "Tidak, aku mungkin akan terus menjomblo nanti."

"Astaga, apa kau benar-benar serius akan hal tersebut? Kau itu cantik, seksi, dan banyak lelaki yang mendekatimu."

"Mereka hanya mendambakan nafsu saja, tak ada sebuah perasaan cinta. Lagipula, aku tak percaya akan cinta."

Sahabatnya yang juga bartender itu memijit pangkal hidungnya. Temannya yang satu ini benar-benar serius ternyata.

"Master, Bir."

"Ha'i!"

Kushina terlihat tertarik dengan sosok pemuda yang duduk disampingnya. Kedua violetnya melirik ke sebelah, sosok pemuda yang umurnya dikisaran delapan belas tahun. Pemuda yang seolah masih duduk di bangku sekolah.

"Oi, kau itu! Kenapa masih minum saja?! Kau juga meminjam uangku lagi!"

"Diamlah Kiba!" Pemuda itu pun mengambil segelas penuh bir. "Aku hanya meminjamnya untuk meminum, nanti aku kembalikan jika gajian."

"Astaga, Naruto. Kau itu juga masih muda, umurmu sendiri masih tujuh belas tahun."

Kushina mengangkat kedua alisnya, pemuda berusia tujuh belas tahun sedang minum bir dengan nikmatnya.

Berbeda dengan dirinya yang malah meminum jus jeruk, serta memakan dessert.

"Kau kalah dengan bocah itu."

Kushina tergelak, dia tertawa halus karena penuturan dari temannya itu. "Itu haknya, Kurenai. Aku tak akan melarangnya, jikalau aku ibunya, mungkin aku akan sangat melarangnya."

"Bagaimana jika kau menjadi ibu angkatku?"

Kushina langsung menatap pemuda pirang itu, teman dari si pirang pun ikut menatap Naruto tak percaya.

"Kebetulan aku anak yatim piatu yang hidup sendiri tanpa orang tua sama sekali, kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat umurku tiga belas tahun."

"Malang sekali nasibmu."

"Aku tak butuh belas kasih, nyonya."

Kushina tersentak mendengar panggilan yang diterimanya dari pemuda itu. Si pirang itu di tegur oleh temannya, namun tak digubris sama sekali. Kushina tersenyum tipis mendengarnya.

"Baiklah, aku akan menerimamu sebagai anak angkat. Aku akan memberikan alamatku, kau besok datang padaku pukul delapan pagi." Kushina menjeda penjelasannya, dia juga mengambil secarik kertas serta pena untuk menulis nama serta alamatnya. "Ini, aku memberikannya padamu. Tapi dengan syarat."

"Apa itu?"

"Kau tak boleh kembali ke bar ini sebelum umurmu cukup untuk meminum minuman beralkohol."

"Apa ha--"

"Lebih baik kau tak minum sama sekali daripada meminum bir atau minuman beralkohol lainnya."

Pemuda itu terdiam beberapa saat, dia tak perlu meminjam uang pada Kiba untuk membeli minuman beralkohol lagi.

"Kau masih sekolah kan? Jika iya, keluarlah dari pekerjaanmu, dan aku akan membiayai seluruh kebutuhanmu."

Kushina tersenyum, dia menatap pemuda yatim piatu itu dengan tatapan penuh arti, wanita itu akan menganggap Naruto sebagai anak kandungnya sendiri walaupun dia tak menikah.

"Baiklah, mohon bantuannya, Kushina-san."

Keduanya tersenyum, namun tak tahu jika benang merah takdir mulai terikat pada keduanya.

Mereka tak akan tahu apa yang akan terjadi setelah keduanya menjadi satu keluarga.

-o0o-

Dalam jangka waktu satu bulan, Naruto memegang semua persyaratan yang Kushina berikan. Dia saat ini jarang sekali ke bar hanya untuk meminum, serta keluar dari kerjaannya sebagai kasir minimarket.

Kushina sendiri bekerja ekstra untuk menghidupi dirinya dan Naruto, hubungan mereka sendiri sudah terjalin, sebagai ibu dan anak.

Tak ada perasaan khusus dari Kushina pada Naruto, tiap hari Naruto selalu memanggilnya 'kaasan' dan itu membuatnya terbiasa. Kushina beruntung Naruto ada untuk menemaninya dimalam hari, atau ketika dia libur dan tak ingin pergi ke Bar.

Kushina menyuruh Naruto untuk menyimpan semua tabungan yang diberikan oleh mendiang kedua orang tua pemuda itu. Tapi yang Kushina heran adalah, kenapa Naruto meminjam uang dari Kiba, padahal dia ada tabungan.

"Ah, aku tak ingin menggunakan uang orang tuaku untuk hal seperti itu. Aku memang suka Bir, tapi aku tak mau menggunakan uang orang tuaku."

Begitu yang Kushina dengar dari Naruto.

Memang benar, Naruto tak pernah menggunakan uang dari orang tuanya untuk hal tak berguna seperti itu.

Dia juga beryukur, uang jajan yang dia berikan cukup untuk Naruto. Terlebih, dia memberikan fasilitas untuk Naruto serta menunjang kegiatan belajarnya.

Waktu pun berlalu, hari kelulusan Naruto telah tiba. Kushina datang ke sekolah Naruto sebagai orang tua angkatnya, banyak dari guru di sana memandangi dirinya.

"Err, nona? Sedang mencari adiknya?"

Kushina mengerjapkan kedua matanya, dia melihat pemuda berambut raven sedang bertanya pada dirinya. "Aku hanya mencari anakku, Tante sendiri sudah tua loh."

Pemuda itu terkejut, kemudian membungkukkan badannya. "Maafkan aku, oh ya, kenalkan, namaku Uchiha Sasuke salam kenal."

"Um, namaku Kushina Uzumaki, salam kenal Uchiha-kun."

Keduanya saling berjabat tangan satu sama lain, tanpa mereka ketahui ada sosok yang mengawasi dari kejauhan. Sosok pemuda berambut pirang jabrik dengan tatapan dingin.

"Oh, kaasan, kau datang untuk melihat upacara kelulusanku?"

Keduanya terkejut, Kushina merona saat Naruto tiba-tiba datang. "A-ah ya, aku hanya tak tau arah saja. Jadi aku bertanya pada Uchiha-kun."

"Wah, terima kasih ya Uchiha-san, kau baik sekali mau memberikan petunjuk pada Kaasan."

Suasana hening menyelimuti ketiganya, Naruto masih dengan wajah palsu yang dia keluarkan. Sementara itu, Sasuke serta Kushina merasakan hawa tak enak yang keluar dari tubuh Naruto.

Semenjak Naruto ditinggal kedua orang tuanya, sifat cerianya berubah drastis menjadi sosok dingin nan sarkastik. Dia memang mau menerima persyaratan dari Kushina, tapi...

"Jadi apakah kalian sudah selesai?"

"U-um, kita sudah selesai."

Naruto tersenyum tipis pada Kushina. "Ayo kita ke restoran keluarga yang kita sepakati Kaasan."

"Tentu, ayo! Sampai jumpa Uchiha-kun."

"Sampai jumpa Uzumaki-san."

Di restoran keluarga, keduanya makan dalam diam, Naruto sesekali melirik Kushina yang terlihat terus memainkan ponsel pintarnya.

Pemuda pirang itu sudah menghitung berapa kali Kushina membuka ponselnya.

"Sudah sebelas kali kau buka ponsel pintar itu Kaasan, ada apa memangnya? Apa ada pekerjaan yang sangat penting untukmu sehingga kau melupakan ini?"

Kushina tersentak, dia menyadari jika perkataan Naruto itu membuatnya merenung sejenak, kata-kata Naruto ada benarnya juga, dia sedang makan di restoran keluarga untuk merayakan kelulusan Naruto.

Dan pemuda itu menatapnya dingin.

"Teman Kaasan ada yang mengirim pesan, mereka butuh saran dariku untuk mengerjakan proposal lain."

"Begitu ya?"

Naruto menatap Kushina curiga, dia pun memenjamkan matanya dan kembali fokus pada makanan yang tersedia.

"Lebih baik kita habiskan, lalu pulang. Kaasan tak mau kan jika waktunya di buat hal tak berguna seperti ini?"

Perkataan Naruto benar-benar sarkastik, dia agak muak karena perkataan Naruto barusan. "Ada apa denganmu?"

"Ada apa denganku? Tak ada, aku hanya tak ingin mengganggu acara makan ini." Naruto menunjukkan sebuah senyuman tipis.

Senyuman itu tak bisa di artikan oleh Kushina. Naruto adalah pemuda yang penuh misteri.

-o0o-

Beberapa bulan setelahnya, Naruto mengetahui sebuah rahasia yang disimpan oleh Kushina.

Wanita berambut merah itu ternyata menjalin hubungan spesial dengan Sasuke Uchiha, sahabatnya.

Beberapa kali, dia memergoki Kushina sedang makan siang dengan Sasuke, dia juga melihat Sasuke mengajak Kushina ke sebuah mall besar di Konoha.

Semua kejadian itu, membuatnya uring-uringan. Lantas, dia kembali ke bar yang jika dilihat semakin besar daripada dulu.

Dia menggunakan uang hasil kerja untuk minum beberapa gelas bir. Walaupun begitu, dia tak mabuk sama sekali.

"Kurenai-san. Kaasan ini tak pernah mencintai seseorang kan?"

Kurenai yang sedang mengelap gelas pun menghentikan kegiatannya. "Ya, dia punya trauma mendalam saat masih kecil."

"Lalu kenapa dia bisa punya hubungan spesial dengan temanku? Apakah ada sebuah rahasia yang membuat Kaasan jatuh cinta."

Kurenai mengerjapkan kedua mata lentiknya beberapa kali, dia mendengar sebuah informasi langka dari sosok anak angkat sahabatnya itu.

Kushina jatuh cinta.

"Boleh aku melihat wajah lelaki itu?"

Naruto mengambil ponselnya, dia kemudian memberikan sebuah foto tentang Sasuke Uchiha pada Kurenai.

"Ah." Kurenai sedikit terkejut saat melihat foto tersebut. "Dia beberapa kali datang kesini, dan membawa wanita yang berbeda."

"Playboy?"

"Ya, dia datang dengan wanita yang berbeda. Kushina beruntung tak dibawa kesini, kebanyakan yang dibawa oleh dia itu berakhir dengan disetubuhi olehnya."

"Lalu?"

"Dan aku pernah hampir di perdaya olehnya."

"Bahkan kau yang punya suami?! Gila, dia gila."

Kurenai terkekeh geli. "Suamiku langsung memukulnya dibelakang bar saat itu juga."

"Dasar." Naruto tersenyum, dia kembali meminum bir miliknya. "Se--" Naruto menoleh kebelakang, dia melihat dua orang yang ia kenal masuk ke dalam bar.

Dengan segera, Naruto menutup kepala pirangnya dengan sebuah Hoodie. Pemuda itu berbalik, dan menikmati birnya.

"Butuh alat penyadap?"

"Ada?" Kurenai mengangguk kecil, dia memberikan sebuah alat pada Naruto. "Terima kasih."

"Aku akan mengatur frekuensinya pada meja itu, dan Naruto-kun." Naruto menoleh ke Kurenai. "Silahkan menikmati percakapan itu."

"Kau ingin aku memperkosamu?"

"Oh tentu tidak." Kurenai tertawa kecil, dia melihat Kushina yang berada di seberang meja sana. Lambaian kecil dia berikan pada wanita itu. "lihatlah, Sasuke mengeluarkan jurus andalannya."

"Apakah Naruto akan marah jika kau berhubungan denganku?"

"Tidak mungkin dia akan marah, lagipula dia anak angkatku kok."

"Wow, aku malah mengira kau sudah punya anak beneran, ternyata kau hanya punya anak angkat."

"Yah, itu hanya pertaruhan dengan diriku sendiri, aku yakin bisa menghidupi Naruto tanpa seorang lelaki, ternyata bisa."

Naruto langsung mencopot alat sadap tersebut, dia memberikan benda itu pada Kurenai.

"Kenapa?"

"Aku jijik."

Kurenai menghela napas lelah. "Kemarilah! Aku akan memberikanmu sesuatu."

Naruto berdecak kesal, dia melihat Kurenai yang menyuruh beberapa Bartender lain untuk menggantikan dirinya. Sementara Naruto mengikuti lambaian tangan Kurenai ke dalam sebuah ruangan yang entah kenapa membuat Naruto merinding.

Di sana, Kurenai mengunci pintu ruangan tersebut. Naruto berbalik menatap Kurenai. "Jadi ada apa?"

Kurenai tersenyum misterius, dia berjalan mendekati Naruto lalu jongkok tepat di depan celana Naruto.

Pemuda itu semakin dibuat bingung dengan tingkah Kurenai. Detik kemudian, dia dibuat terkejut dengan Kurenai yang menarik resleting celananya kebawah, kebetulan Naruto tak memakai celana dalam jadi

Penisnya menyembul dari dalam celananya.

Kurenai terkejut melihatnya, wajahnya merona disertai dengan senyuman menggodanya. Dia menggenggam benda itu dengan lembut, terasa sangat keras dan berurat.

Naruto meringis merasakan tangan lembut Kurenai yang menggenggam penisnya.

Kurenai menjulurkan lidahnya keluar, dia mengangkat penis Naruto dan mulai menjilati batang kemaluan tersebut.

Sebuah sensasi dingin terasa saat Kurenai menjilati penis Naruto, desisan nikmat keluar dari mulut Naruto. Lidah Kurenai naik turun dengan pelan, jemari lentik Kurenai bermain dengan buah zakar Naruto.

Wanita itu meremasnya pelan, membiarkan Naruto meringis merasakan sensasi aneh saat penisnya dimainkan oleh Kurenai.

Kurenai mulai mencopot seluruh pakaiannya hingga tersisa celana dalam hitam dengan renda di sekitarnya. Kedua payudara Kurenai begitu seksi saat keduanya memantul, puting berwarna merah jambu itu berdiri tegak.

"Kau lihat? Aku terangsang karena penis ini. Besar dan keras."

Kurenai mengalungkan kedua tangannya pada leher Naruto. "Apa kau tak dimarahi oleh suamimu?"

"Mantan."

"Mantan? Kau sudah bercerai dengan dia?"

"Dia ketahuan selingkuh dibekalangku dengan salah satu pelayan disini, jadi aku pecat pelayannya dan aku ceraikan suamiku."

"Bejat sekali."

Kurenai tersenyum menggoda. "Lebih bejat mana? Dia atau sahabatmu itu?"

"Aku tak tau, dan tak mau tahu."

Kurenai Pun mencium bibir Naruto, tubuhnya menempel pada tubuh Naruto, penis pemuda itu mencolek perut datar Kurenai. Naruto sendiri membalas ciuman Kurenai, dia memeluk pinggul ramping wanita itu dengan tangan kanannya yang bergerak turun hingga masuk ke celana dalam Kurenai.

Naruto meremasnya pelan saat dia memegang gumpalan pantat itu. Tubuh Kurenai menegang saat pantatnya di remas Naruto. Sontak, wanita itu menarik bibirnya, tubuhnya lemas seketika.

Napas Kurenai mulai memburu, sementara Naruto menciumi leher Kurenai. Wanita itu membuka mulutnya beberapa kali menikmati bagaimana Naruto menciumi lehernya. Sangat berbeda dengan mantan suaminya dulu.

Kurenai sendiri merasakan ada dua buah jari yang merangsek masuk ke liang duburnya, kedua kakinya tiba-tiba lemas saat Naruto memasukkan kedua jarinya itu ke dalam lubang belakang Kurenai.

Lenguhan nikmat keluar dari mulut Kurenai, kedua tangannya mencengkram bahu Naruto, dia meneguk ludahnya kasar saat liang duburnya di tusuk Naruto.

"Uhh, kau pemuda mesum."

Naruto tersenyum mirip, dia kemudian menarik jarinya dan melempar Kurenai ke atas ranjang. Kedua tangan Naruto dengan cepat membuka kaki Kurenai, dia melebarkannya hingga terpampang sebuah vagina berwarna merah jambu dengan bulu tipis yang menutupinya.

Cairan Kurenai membasahi vaginanya, wanita itu menatap Naruto dengan tatapan menggoda, lidahnya membasahi bibir seksinya.

Naruto yang melihat itu pun membuka seluruh pakaiannya, dia mengeluarkan liurnya untuk membasahi penis besarnya.

"Bagaimana jika kita mulai dengan lubang belakang? Kau belum pernah mencobanya kan?"

Kurenai menaikkan kedua alisnya, dia juga penasaran akan lubang duburnya. "Tentu, tapi masukkan dengan pelan."

"Aku akan mencobanya."

Naruto mengarahkan penisnya, dia mendorong kedua kaki Kurenai hingga liang dubur wanita itu terlihat, Naruto menggesek ujung penisnya pada liang tersebut. Pemuda itu mendorong pinggulnya pelan, tubuh Kurenai langsung menegang, kedua matanya melotot saat benda besar itu masuk ke dalam liang belakangnya.

Wanita itu merasakan sensasi yang sangat berbeda daripada saat vaginanya dimasuki penis, tubuhnya bergetar saat penis Naruto terus masuk ke dalam liang duburnya. Ada rasa nyeri saat benda itu masuk, namun dia menahannya karena sudah terbutakan oleh nafsu.

Naruto meringis merasakan penisnya yang mausk ke dalam tubuh Kurenai, lubang belakang Kurenai ternyata lebih sempit daripada yang dia bayangkan, pikirnya. Pinggulnya terus terdorong masuk hingga semua batangnya tertelan di dalam liang dubur Kurenai.

Wanita itu menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang bercampur dengan rasa nikmat. Naruto sendiri dengan pelan menggerakkan pinggulnya, penis itu keluar masuk di dalam liang tersebut.

"Uhhh."

Naruto mendengar lenguhan nikmat dari Kurenai, dia pun mencium bibir Kurenai sembari pinggulnya bergerak maju mundur

Kedua tangan Naruto meremas payudara Kurenai yang sangat menggoda itu. Lenguhan nikmat terus dikeluarkan Kurenai, sensasi yang sangat berbeda daripada saat dia bersama suaminya.

Salah satu tangan Naruto bergerak turun kebawah hingga menyentuh vagina basah Kurenai, dia memasukkan dua jarinya ke dalam liang senggama itu.

"Kau wanita mesum!" Naruto berbisik di sela-sela ciumannya bersama Kurenai.

Kurenai tak menjawabnya, dia menikmati bagaimana Naruto menyentuhnya saat ini. Ciuman Naruto pun beralih ke leher putih Kurenai, dia memberikan bercak-bercak merah di sekitar sana.

Pinggulnya masuk terus bergerak maju mundur di dalam sana. Namun beberapa saat kemudian, Naruto menarik penisnya. Dia tahu jika Kurenai klimaks untuk yang pertama kalinya.

Dia menarik dirinya dari atas tubuh wanita itu. "Kau klimaks tapi tak mengatakannya padaku."

"Apa aku harus mengatakannya? Atau harus meneriakkan namamu? Tidak Naruto, klimaks tak butuh hal semacam itu." Kurenai pun mengubah posisinya, dia menungging tepat di depan Naruto. "Ayo, lubang ini belum dimasuki sama sekali beberapa bulan ini, dan aku ingin benda milikmu itu." Kurenai membuka lapisan vaginanya dengan dua jarinya, cairan klimaksnya meluber keluar dari vagina tersebut.

Naruto menghela napas sejenak, kemudian mengarahkan penisnya ke liang senggama Kurenai. Naruto mendorongnya pelan hingga semua batangnya masuk ke dalam tubuh wanita itu, lenguhan nikmat kembali dikeluarkan oleh Kurenai.

Kedua tangan Naruto menggenggam bongkahan pantat seksi Kurenai, dia menggerakkan pinggulnya dengan pelan untuk menikmati denyutan dinding rahim Kurenai yang memijit penisnya.

"Uhh, penis suamimu kecil atau gimana?"

"Penismu saja yang besar di dalam sana, Naruto." Kurenai tersenyum menggoda. "Naruto, kau tahu harus bagaimana kan?"

Naruto menyeringai kecil, dia menarik kedua tangan Kurenai, kemudian menggerakkan pinggulnya. Wanita itu seolah tersedak akan sesuatu, wajahnya merona merah, serta tubuhnya yang menegang akibat tusukan yang diberikan Naruto dari belakang.

Sensasi berbeda dirasakan Kurenai, dia merasakan jika penis Naruto sangat berbeda saat dia membandingkannya dengan penis suaminya. Ada perasaan aneh saat Naruto menusuknya.

"Lihat putingmu, menegang." Naruto melepas genggamannya, tangan kirinya langsung beranjak ke depan untuk menyanggah perut ramping Kurenai, sementara tangan kanannya mencubit puting susu Kurenai. "Wah, lihat. Keluar air susu. Kau masih menyusui bayimu ternyata." Naruto hanya mendapatkan lenguhan nikmat dari Kurenai.

Tangan kanan pemuda itu terus memainkan puting susu Kurenai, sementara kepalanya mulai mendekati leher wanita cantik itu. Hidungnya hinggap di leher Kurenai, lalu mengendus aroma tubuh wanita itu, dia juga menjilati leher jenjang itu serta memberikan sebuah kissmark di area tersebut.

Kurenai benar-benar dibuat melayang ke angkasa saat ini.

"Aku keluar!"

Tubuh Kurenai menegang, dadanya membusung dengan air susunya yang keluar, sementara dia mengeluarkan klimaksnya yang kedua dengan membasahi penis Naruto yang masih ada di dalam tubuhnya.

"Dua kali keluar dengan penisku."

Kurenai hanya tertawa dengan tubuhnya yang masih di sanggah oleh Naruto. Pemuda itu kemudian melepas pegangannya pada tubuh Kurenai, dia kembali menggerakkan penisnya keluar masuk di dalam tubuh wanita itu.

"Be-berhenti... Ak-aku masih sensitif!"

Naruto tak menggubrisnya sama sekali, dia membuka belahan pantat Kurenai, dan terus menggerakkan pinggulnya. Kurenai meremas sprei yang membungkus tempat tidur itu, tubuhnya sudah tak kuat untuk merasakan nikmat.

Namun, Naruto tak menghentikan pergerakan pinggulnya. "Sempit." Dia meringis merasakan penisnya yang kembali di remas dinding rahim Kurenai. Naruto mendesis nikmat saat penisnya bergesekan dengan dinding rahim Kurenai.

Dia pun memajukan tubuhnya, pinggulnya mulai bergerak dengan tempo sedang, pemuda itu mendengar desahan nikmat yang mulai keluar dari bibir seksi Kurenai.

"Keluarkan desahanmu Kurenai-san."

"Ka-kau jahat ahhh..."

Tempo gerakan pinggul Naruto semakin cepat, sementara suara Kurenai seolah tersedak akan sesuatu.

"Le-lebih cepat Naruto!"

Naruto tak menjawab, dia semakin mempercepat gerakan pinggulnya hingga tubuh Kurenai bergetar nikmat, cairan klimaksnya kembali membasahi penis Naruto.

Sementara itu, Naruto menancapkan dalam-dalam penisnya, dia mengeluarkan semua spermanya hingga memenuhi rahim Kurenai.

Wanita itu sudah tak bisa bangun lagi setelah pergumulannya bersama Naruto.

"Uhhh..."

"Sepertinya kau langsung K,O ya?"

"Aku tak pernah merasa sepuas ini," gumam wanita itu, dia mendesah saat penis Naruto di tarik kembali oleh pemiliknya. Kurenai pun membalikkan tubuhnya, dia menatap Naruto dengan tatapan menggodanya lagi. "Pemuda perkasa yang di campakkan ibu angkatnya, kasihan."

"Diamlah! Atau kau akan kubuat tak bisa berjalan."

"Coba saja kalau bisa Naruto...Chan."

Naruto menyeringai saat mendengar tantangan dari Kurenai, mereka kembali bergumul untuk yang kesekian kalinya.

-o0o-

Naruto menguap lebar, dia baru saja sampai di tempat tinggalnya bersama Kushina. Namun, di saat dia ingin membuka pintu rumahnya, dia menghentikan gerakannya. Pemuda itu mengingat kembali kejadian demi kejadian yang dia alami setelah Kushina mengenal salah seorang sahabatnya yang ternyata Playboy.

Namun, dia juga mengingat kembali bagaimana permainannya bersama Kurenai tadi malam, senyuman kecil mengembang di bibirnya.

Dia menganggap jika Kurenai adalah hadiah kelulusannya.

Pemuda itu pun membuka pintu masuk rumahnya, dia masuk ke dalam tanpa mengatakan sepatah kata.

"Kemana saja kau semalam?"

Naruto mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, di depannya ada sosok wanita yang dia sukai. "Seharusnya aku yang bertanya, kemana saja kau, Kushina-san?"

Kushina mengerutkan dahinya mendengar panggilan yang diberikan oleh Naruto untuknya, wanita itu bisa mendengar nada yang keluar dari mulut Naruto yang terasa berbeda daripada biasanya.

"Kenapa kau malah bertanya balik? Kaasan hanya bertemu dengan klien untuk membicarakan beberapa hal."

"Membicarakan beberapa hal dengan klien? Benarkah? Atau aku harus mengatakan, berkencan dengan Sasuke Uchiha?"

Tubuh Kushina menegang, dia seolah ketahuan mempunyai hubungan spesial dengan sahabat dari anak angkatnya.

"Tapi biarlah, aku sendiri tak punya hak untuk mengaturku, karena kau hanya ibu angkatku." Naruto berjalan melewati Kushina, wanita berambut merah itu mencium aroma yang dia kenal.

"Kau dari Bar Kurenai?"

Langkah kaki Naruto terhenti. "Aku hanya memesan susu hangat yang disediakan oleh Kurenai-san." Naruto berbalik, lalu menatap Kushina. "Memangnya ada apa? Kau seperti cemburu dengan hal tersebut?"

Perkataan Naruto membuat Kushina terdiam, dia memang ibu angkat Naruto, namun dia tak punya hak untuk mengurusi hubungan Naruto.

"Apa kau ingin tahu apa yang kulakukan saat itu? Kau tahu tabiatku yang jika ada sebuah masalah akan pergi ke bar hanya untuk sekedar minum saja, walaupun minuman itu adalah susu."

"..." Kushina berpikir jika ini ada masalahnya dengan Sasuke. "Ka-katakan apa masalahmu?"

"Mencari informasi tentang playboy itu cukup mudah, karena memang aku tahu tabiat serta sifat yang dimiliki oleh pemuda Uchiha itu." Naruto berjalan mendekati Kushina, sampai jarak mereka hanya beberapa centi saja. "Dia akan membuangmu setelah memakaimu Kaasan."

Naruto mengatakan itu dengan suara pelan, suara Naruto membuat tubuh Kushina merinding, dia tak pernah mendengar suara serak seperti itu, terlebih tubuhnya mulai memanas. Berbeda saat dia bersama Sasuke, dia seolah tak merasakan apapun dari pemuda Uchiha selain kharismanya.

Tapi Naruto berbeda, kebanyakan pemuda akan langsung ke intinya tanpa basa-basi, namun Naruto.

"Ahh... Apa yang kau lakukan?!" Kushina terkejut saat salah satu payudaranya di remas oleh Naruto. "I-ini termasuk pelecehan!"

Naruto tak menghentikan tindakannya, pemuda itu mendorong tubuh Kushina hingga punggungnya menabrak tembok dibelakangnya, Kushina meringis saat merasakan sakit di punggungnya.

Naruto mulai menciumi leher Kushina, kedua tangannya juga bergerilya di bagian payudara wanita itu. "Kau tahu apa yang kulakukan bersama Kurenai-san?"

"..." Kushina tak menjawab, dia menggigit bibir bawahnya untuk meredam desahannya.

"Aku bermain dengan Kurenai sampai pagi hari," ujar Naruto. Dia kemudian menarik dirinya, kedua mata biru itu menatap Kushina dengan pandangan yang sulit diartikan. "Sudahlah, aku akan tidur. Jangan ganggu aku!" Namun, di saat Naruto akan berjalan ke lantai dua, dia berbalik dan mencium bibir Kushina dengan mesra seolah dia adalah istrinya. "Selamat malam."

Naruto pergi dari tempat itu, tubuh Kushina langsung merosot kebawah, dia terduduk sambil menyentuh bibirnya yang baru saja dicium oleh Naruto. Wajahnya merona hebat setelah Naruto melakukan hal yang ekstrim terhadapnya.

"Apa yang harus kulakukan?" Gumamnya yang saat ini dilanda kebingungan.

-o0o-

Beberapa hari kemudian. Kushina sedang duduk santai setelah mereka menunaikan sarapan sembari memainkan ponsel pintarnya. Kushina meminta izin pada atasannya untuk mengambil cuti beberapa hari.

Hubungannya sendiri dengan Naruto masih terjalin, walaupun dengan keadaan canggung yang hinggap di dalam dirinya, sementara dengan Sasuke malah mulai terlihat biasa saja. Dia hanya akan menerima ajakan kencan pemuda itu dan pulang ke rumah tanpa menerima ajakan dari pemuda itu untuk menginap di apartemennya.

Kushina punya prinsip, dia akan berhubungan seks setelah menikah. Kuno memang, tapi itulah prinsipnya.

Namun, wajahnya langsung memanas mengingat kejadian beberapa hari lalu, saat dia disentuh oleh Naruto. Jika boleh jujur, Kushina tak pernah disentuh oleh siapapun, disentuh dalam artian dimana dia melakukan foreplay bersama pasangannya.

Termasuk Sasuke, hubungan spesialnya dengan sang Uchiha itu memang agak lama dari yang dia bayangkan, namun dia tak pernah sekalipun disentuh oleh Sasuke. Karena dia akan langsung marah jika dirinya disentuh oleh pemuda itu, entah kenapa Kushina menolak semua sentuhan dari pemuda itu.

Namun tidak menolak saat Naruto menyentuhnya, bahkan meremas payudaranya. Kushina menyentuh payudaranya, dia seolah merasakan bekas remasan yang diberikan Naruto beberapa waktu lalu.

Kushina dikejutkan dengan sebuah bel rumahnya yang berbunyi, dia segera ke pintu masuk rumahnya.

"Ha'i!"

Kushina membukakan pintu rumahnya, dia melihat sosok pemuda yang tengah menjalin hubungan spesial dengannya.

"Hai, tumben?"

"Apa kau tak mau aku datang?"

Kushina tertawa kecil. "Aku mau saja jika kau datang kesini Sasuke. Masuklah!" Kushina mempersilahkan Sasuke untuk masuk ke dalam rumah. Namun dia berpikir sejenak, apa Naruto masih dirumah atau sudah berangkat?

"Ngomong-ngomong, Naruto ada?"

"Mungkin dia sedang bekerja. Aku tak tahu."

Tanpa Kushina sadari, Sasuke tersenyum kemenangan saat mendengar Naruto tak ada di rumah. Dan saat Kushina menutup pintunya, tubuh wanita itu tiba-tiba dipeluk oleh Sasuke.

"Aku rindu padamu Kushina-chan."

Kushina sedikit merona saat mendengar kata rindu dari kekasihnya. "Ya, aku juga sama."

Sasuke membalikkan badan Kushina, dia tersenyum menatap wanita itu, Kushina membalas senyuman Sasuke. Pemuda raven itu kemudian mendekatkan wajahnya bersiap untuk mencium bibir Kushina.

"Hai hai, sudah cukup!"

Kegiatan mereka terhenti saat ada sosok pemuda yang turun dari lantai dua rumah itu. Dia turun dengan menepuk kedua tangannya. Sasuke mengutuk orang itu di dalam hatinya, dia berani mengganggu kegiatannya dengan pasangannya itu.

Rencananya, dia akan mengambil keperawanan Kushina saat ini.

"Tolong, hentikan ya? Kau tak tahu jika kalian ini pasangan yang menjijikkan? Lihatlah Sasuke, dia muda tampan, dan punya kharisma, bahkan aku mendengar ada beberapa gadis yang masih terikat atau akan dilamar oleh dia."

Kushina terkejut setengah mati, dia langsung mendorong tubuh Sasuke. "Ka-kau!"

"Dia berbohong Kushina-chan! Percayalah padaku!"

"Lalu bisakah kau jelaskan saat kau dengan perempuan yang kau bawa ke bar milik Kurenai-san? Bahkan, Kurenai-san sendiri hampir kau ajak kencan sebelum suaminya datang serta memukulmu."

Kushina dan Sasuke terdiam sejenak, kemudian Kushina menjaga jaraknya dengan Sasuke, wanita itu langsung melayangkan sebuah tamparan keras pada pipi Sasuke, tak hanya satu, namun dua tamparan dia layangkan pada pemuda itu. "Pergi!"

"Ku-kushina aku akan jelas--"

"Tak perlu, aku tak perlu penjelasan dari mulut busukmu! Pergi!"

"..."

"Aku hanya ingin kau pergi dari tempat ini! Jangan menunjukkan wajahmu padaku lagi!"

Sasuke dengan kesal langsung pergi dari kediaman Kushina, dia pergi dengan perasaan marah yang amat setelah Naruto membeberkan semua rahasianya.

Kembali ke dalam rumah, Kushina menangis sejadinya saat dia mengetahui tabiat yang dipunyai oleh Sasuke.

"Aku tak mengira jika Kaasan akan berhubungan dengan lelaki." Naruto berjalan mendekati Kushina, dia mengangkat tubuh Kushina yang terduduk itu. " Kaasan bilang jika kau tak akan berhubungan dengan lelaki setelah trauma yang kau alami itu kan?"

Kushina mendongak menatap Naruto yang lebih tinggi darinya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Kushina, dia diam karena tak tahu apa yang harus dia katakan saat ini.

"Walaupun begitu, aku sebenarnya tak ingin mencampuri urusanmu dan si brengsek itu, tapi dia akan menyakitimu jika rahasianya terbongkar."

Suara isakan kembali keluar dari Kushina, dia langsung memeluk Naruto dan menangis di dalam pelukan pemuda itu.

"Maafkan Kaasan! Maafkan...Kaasan..."

Beberapa saat kemudian, setelah Kushina tenang, dia mendongak menatap putra angkatnya itu.

"Maukah kau memaafkan Kaasan?"

"Sebelum Kaasan meminta maaf, aku sudah memaafkanmu kok." Naruto menyentuh pipi Kushina, dia menghapus jejak air mata dari pipinya. Pemuda itu kemudian mencium kening Kushina, kedua matanya, lalu hidungnya, hingga bibir Kushina. Ciuman tanpa nafsu sama sekali.

Ciuman itu berlangsung cukup lama, dan berubah menjadi sebuah pagutan panas. Naruto menggigit bibir bawah Kushina, dia juga memiringkan kepalanya supaya bisa mempermudah pagutan tersebut. Kushina mendesah di dalam ciuman itu, dia kemudian mengeratkan pelukannya terhadap Naruto.

Kecapan demi kecapan mereka lakukan, kedua lengan Kushina secara reflek memeluk leher Naruto, dia juga mendorong kepala pirang itu untuk memperdalam ciuman mereka.

"Kaasan, aku mencintaimu."

"Naruto..." Mereka pun kembali berciuman setelah Naruto menyatakan perasaannya pada Kushina.

-o0o-

Keduanya saat ini berada di ruang tamu rumah itu, duduk berdampingan. "Apa kau yakin Kaasan?"

Kushina tertunduk malu dengan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus, wanita itu kemudian bergerak untuk duduk di atas pangkuan Naruto. Pemuda itu secara reflek memeluk pinggul ramping Kushina.

"Kita mungkin tak akan bisa kembali seperti dulu, namun kita masih bisa memulainya dari sekarang, memulai sebuah hubungan yang melebihi ibu-anak."

Kushina terdiam, dia tak mengatakan apapun setelah Naruto memberitahukan resikonya. "Umurku sudah kepala empat, tapi aku punya keinginan untuk berhubungan dengan seorang lelaki."

Naruto tertawa, dia pun mencium bibir Kushina. "Semoga kau menerimaku Kaasan." Dia kembali mencium bibir Kushina dengan salah satu tangannya yang mulai memasuki kaos yang dikenakan Kushina, pemuda itu mencari benda yang dari kemarin ingin sekali dipegangnya.

Naruto menemukan benda yang selama ini dia cari, namun masih tertutup oleh bra, Naruto menyingkap bra tersebut, dan membuat Kushina terkejut. Namun, tubuhnya kembali lemas, Kushina menerima sentuhan yang diberikan Naruto saat ini, dia pasrah saat tubuhnya mulai di gerayangi oleh putra angkatnya itu.

Desahan tertahan dikeluarkan oleh Kushina di sela-sela ciumannya bersama Naruto, tangan kiri Naruto turun kebawah hingga dia menangkap bongkahan pantat Kushina yang di tutupi oleh hot pants.

Naruto tahu tabiat Kushina yang tak pernah memakai celana dalam jika dia ada di rumah.

Naruto sendiri meremas pantat Kushina dengan lembut, dia juga memasukkan tangan kirinya ke dalam hot pants tersebut.

Pemuda itu melepaskan ciuman mereka, ia kemudian menarik kaos yang dikenakan Kushina serta membuangnya ke sembarang tempat. Kushina menutupi payudaranya yang masih dibungkus oleh bra, wajahnya kembali merona saat Naruto menatapnya intens. Dia kemudian melepas bra yang ikatannya berada di depan, Kushina menangkap bra yang akan melepaskan kedua payudaranya.

"Kaasan..."

Gumam Naruto, dia mencium kembali leher Kushina serta mengangkat kedua tangan Kushina. Dia melepas bra tersebut dan membuangnya, Kushina memenjamkan matanya menikmati ciuman yang diberikan Naruto. Dia menjilati bulir keringat yang keluar dari pori-pori kulit Kushina, kedua tangannya mulai memainkan payudara Kushina, meremasnya dengan lembut serta mencubit puting susu yang sudah berdiri tegap.

Kushina menutup mulutnya untuk meredam desahan yang akan keluar dari mulutnya. Jilatan Naruto terus turun hingga sampai pada puting susu Kushina, lidahnya menjilati puting susu tersebut, sesekali menggigitnya kecil.

"Kyah!"

Pekikan kecil nan imut keluar dari mulut Kushina, membuat Naruto semakin bersemangat untuk menghisap puting susu Kushina. Tangan kirinya terus meremas dada kanan Kushina dengan lembut. Tubuh Kushina beberapa kali menegang saat Naruto menyentuh beberapa bagian tubuhnya yang sensitif.

"Na-naruto..."

Naruto mendongak, dia menatap Kushina sembari kedua tangannya yang masih bergerilya di payudara Kushina. Tatapan sayu diberikan oleh wanita itu pada Naruto, dia pun mencium Naruto untuk yang kesekian kalinya.

Wanita itu merasakan bagian bawahnya yang sudah basah akibat cairannya sendiri, dia juga merasakan benda lain yang sedang 'mencium' vaginanya.

Kushina menarik dirinya, dia kemudian melepas hot pants miliknya hingga telanjang bulat, Naruto sendiri mulai melepas semua pakaiannya sendiri, dia dan Kushina saat ini telah telanjang bulat tanpa sehelai pakaian. Kushina menutupi sebagian payudaranya serta vagina basahnya.

Naruto menarik pergelangan tangan Kushina untuk duduk di atas pangkuannya, Kushina menatap ke bawah, dia melihat sebuah 'ular' berukuran besar yang siap untuk memasuki tubuhnya. Wanita itu menggigit bibir bawahnya, dia sendiri mulai menurunkan pinggulnya.

"Jadi kita akan langsung ke menu utama?"

Kushina terlihat bingung dengan apa yang dikatakan Naruto. "Menu utama?"

Pemuda itu tersenyum, kemudian mendekatkan bibirnya pada telinga Kushina. "Berhubungan seks."

Wajah Kushina merona hebat, namun dia tak menghentikan gerakan pinggulnya untuk turun ke bawah, Kushina merasakan kepala penis itu mulai masuk, wanita itu meringis merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya.

"Kau benar-benar perawan."

"Diamlah!"

Naruto tertawa, dia ikut membantu untuk menurunkan pinggul Kushina. Pelan namun pasti, Kushina terus menurunkan pinggulnya, hingga dia merasakan sakit di dalam sana, darah mengalir keluar dari vaginanya. Kushina menghentikan gerakannya saat itu juga.

"Sakit?"

Kushina menggangguk kecil, dia menggigit bibir bawahnya untuk meredam rasa sakitnya. Namun Naruto malah mengangkat salah satu tangan Kushina. "Hyah! Na-naruto hentikan! Di sana kotor!" Naruto malah menjilati ketiak Kushina, napas wanita itu begitu memburu saat Naruto kembali merangsangnya. Tanpa sadar, Kushina menggerakkan pinggulnya naik turun.

Naruto merasakan betapa sempitnya vagina Kushina, lebih sempit daripada milik Kurenai. Kushina mendesah nikmat saat penis Naruto menusuknya.

Penis Naruto keluar masuk di dalam tubuh Kushina, disertai dengan desahan-desahan nikmat dari wanita itu. Ruang tamu kediaman Kushina terasa sangat panas akibat pergumulan mereka.

Tempo gerakan Kushina semakin dipercepat, desahannya pun semakin keras saat penis itu menggesek dinding rahimnya.

Naruto mengangkat tubuh Kushina, dia juga berdiri dari duduknya, ia kemudian membawa Kushina ke meja makan, dan meletakkan tubuh Kushina di atas meja. Penis besarnya masih menancap di dalam tubuh Kushina, dan dia mulai menggerakkan pinggulnya.

"Ahhh~! Naruto..." Kushina mendesah menyebut nama Naruto. Kedua payudaranya bergerak naik turun mengikuti pergerakan pinggul pemuda itu, Kushina menatap Naruto yang tengah menyetubuhi dirinya. "Kau 'putra'ku yang mesum!" Umpat Kushina, dia kemudian mengalungkan kedua tangannya ke leher Naruto.

Naruto tersenyum dan mencium bibir plum Kushina sembari terus menggerakkan pinggulnya. Tubuh Kushina menegang hebat, klimaksnya yang pertama pun keluar membasahi penis Naruto yang berada di dalam tubuhnya, Kushina menggigit bibir bawah Naruto saat merasakan klimaksnya.

Sementara itu, Naruto menghentikan gerakan pinggulnya. Dia membiarkan Kushina untuk mengeluarkan semua cairan cintanya, serta membasahi penisnya.

"Sudah?"

"Um..."

"Kita lanjutkan."

Naruto menarik penisnya, dia juga mundur beberapa langkah. Kedua tangannya dengan cekatan membalikkan tubuh Kushina, wanita itu terkejut saat Naruto membalikkan tubuhnya.

"Ehh, Naru?"

"Kaasan akan suka ini." Naruto kembali menusukkan penisnya ke dalam vagina Kushina.

"Hnngghh!"

Kushina menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang akan keluar dari mulutnya. Sementara Naruto menggerakkan pinggulnya lagi, di tambah dengan penis Naruto yang diselimuti oleh cairan cinta Kushina, membuat tempo gerakan Naruto semakin cepat daripada tadi, desahan nikmat kembali dikeluarkan Kushina saat dinding rahimnya bergesekan dengan penis Naruto.

"Kaasan masih sensitif!"

"Walaupun sensitif, tapi kau menikmatinya kan?"

Kushina tak menjawabnya, namun dia hanya mendesah nikmat saat Naruto terus menggenjotnya.

Beberapa saat kemudian, Kushina kembali klimaks, kedua kakinya bergetar hebat saat cairannya keluar, tubuhnya menegang untuk kesekian kalinya.

"Naruto... Cukup... Kaasan tak kuat..."

Kushina mengatakannya dengan napas yang memburu, dia masih berada di atas meja, tergelatak dengan dandanan yang sudah berantakan.

"Padahal aku belum keluar loh."

"Cukup... Kumohon..."

Kushina menarik sebuah kursi, dia pun duduk tanpa memperdulikan cairannya yang berceceran di atas lantai. Naruto mengerutkan dahinya menatap Kushina yang duduk di kursi makan. "Lalu ini?" tanya Naruto sambil menunjuk ke penisnya yang masih berdiri tegap.

Kushina tak menjawabnya sama sekali, dia hanya bisa menghirup napas dan beristirahat di atas kursi.

Naruto memutar bola matanya malas, tangannya mulai bergerak ke vagina Kushina, dia menyentuh vagina basah itu serta memasukkan kedua jarinya ke dalam.

"Naruto!"

"Aku belum keluar!"

Tubuh Kushina menegang saat jari Naruto masuk ke dalam vaginanya. "Berhenti! Anhh!"

Naruto tak menggubrisnya, dia menarik tubuh Kushina untuk berdiri, lalu mengangkat salah satu kaki jenjang itu.

"Ku-kumohon jangan!"

Naruto mengarahkan penisnya untuk kembali masuk ke dalam vagina Kushina, dengan sekali hentak, Naruto mendorong penisnya hingga semuanya masuk ke dalam tubuh Kushina.

Pemuda itu kemudian mengangkat kaki Kushina yang lain, dan dia menggendong wanita itu sembari menggerakkan pinggulnya. Kushina secara reflek memeluk leher Naruto, dia juga menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Naruto.

"Kaasan, kau cantik... Aku mencintaimu."

"Naruto..." Tubuh Kushina kembali menegang saat mendengar bisikan itu. "Hamili aku... Jadikan aku ibu dari anak-anakmu."

"Kau akan mendapatkannya Kushina."

Wanita itu tersenyum, sementara Naruto menyemburkan banyak sperma ke dalam vagina Kushina. Dia mengisi rahim Kushina dengan spermanya yang sangat banyak.

-o0o-

Bar Kurenai, beberapa Minggu setelah kejadian itu, Naruto dan Kushina memutuskan untuk menikah, mereka berdua merayakannya di bar milik Kurenai.

"Selamat atas pernikahannya kalian berdua." Kurenai memberikan selamat pada keduanya.

"Terima kasih Kurenai," ujar Kushina, Naruto hanya tersenyum membalas perkataan Kurenai.

"Ngomong-ngomong, aku sebenarnya tak mau merusak kebahagiaan kalian tapi ada satu hal yang harus kukatakan."

Kushina mengerutkan dahinya. "Apa itu?"

Kurenai mengambil sebuah benda yang berada di dalam tas kecilnya, dia memberikan benda itu pada suami Kushina. "Kurenai-san?!"

"Sebelum kau menikah dengan Kushina, kita kan berhubungan badan, dan kau memasukkan spermamu ke dalam vaginaku. Jadi..." Kurenai tersenyum menggoda pada Naruto, sementara Kushina menatap Naruto tajam.

"Naruto!"

"A-aku bisa jelaskan!"

"Yah ini kejadian disaat Kushina-chan berpacaran dengan Sasuke. Lihat, dia bersama wanita lain." Kurenai menunjuk ke tempat yang telah di sewa oleh Sasuke. Pemuda raven itu tengah bersama dengan wanita lain, sepertinya wanita itu dari luar negeri.

"Aku juga menyesal saat itu, tapi Naruto!"

"Daripada begitu, maukah kau berbagi penis Naruto denganku, Kushina-chan?"

Kushina nampak terkejut saat mendengar permintaan Kurenai. "Aku sebenarnya tak ingin membagi penis Naruto dengan wanita lain, tapi mungkin kau akan menjadi pengecualian lain deh."

"Kalian berdua seperti penjahat saja!"

"Lagipula Naruto, kau akan menjadi ayah sebentar lagi."

Naruto mau tak mau harus tersenyum, dia mendapatkan dua orang anak dari dua wanita cantik yang berusia di atas tiga puluh tahun. "Baik, baik aku akan tanggung jawab."

"Yey!"

"Terima kasih Naruto-kun."

...

..

.

End!

Komisi dari Peaceful Hermit. Makasih njeng