Time to come back. Untuk semua pembaca yang banyak membaca kisahku. Inilah saatnya aku kembali untuk kalian.

Disclaimer

Naruto dan Highschool DxD bukanlah milikku. Mereka adalah milik pembuat mereka dan aku hanya membuat kisah fanfiksi berdasarkan tokoh mereka semata sebagai kesenangan belaka tanpa ada keinginan raupan pribadi. Mereka dan tokoh lainnya disini juga.


Prologue


Lembah itu sudah tidak berbentuk.

Ada dua patung besar seharusnya disana. Dua patung dari dua legenda perang Shinobi yang bertarung hingga menghancurkan lembah itu dan patung mereka dibuat sebagai pengingat bahwa telah terjadi pertempuran besar hidup dan mati disini.

Tapi seperti candaan, sejarah terulang kembali dan lembah itu kini hancur lebur. Lembah itu kini menjadi saksi dari pertarungan legenda yang baru dari dua orang pemuda yang membawa hal yang mereka percayai.

Satu ingin memutus segalanya dan menjadi penjahat dibalik layar agar Shinobi seluruh dunia terus bersatu sementara dimana dunia hanya akan mengenal dia sebagai satu-satunya penjahat sementara satunya ingin menyelamatkan temannya dari memutuskan ikatan yang ada dan membuatnya untuk sadar bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan.

Pertarungan mereka adalah sebuah legenda untuk disaksikan dan akhir dimana mereka mengakhirinya dengan Jutsu khas dari masing-masing mereka membawa mereka pada situasi ini.

Terbaring bersisihan satu sama lain.

"Kau masih hidup?" Tanya pemuda berambut pirang yang memiliki kumis pada wajahnya ketika mendengar lenguhan disisinya. Wajah pemuda yang babak belur itu memandang langit yang mulai menghitam.

"Uhh…? Dimana aku?" Gumam pemuda dengan rambut hitam Raven. Pemuda itu merasakan rasa sakit pada sekujur tubuhnya terutama pada bagian lengan kiri miliknya.

"Kita masih berada pada lembah kematian. Sepertinya aku menghajarmu terlalu keras hingga kepalamu bermasalah ya Sasuke." Balas pemuda berambut pirang pada pemuda disampingnya yang terbaring. "Dua Jutsu kita membawa kita pada keadaan kita sekarang. Kau bahkan sampai pingsan." Dari pucuk mata pemuda berambut pirang itu dia bisa melihat temannya mencoba untuk bergerak. "Jangan terlalu banyak bergerak atau kau akan mati kehabisan darah. Masing masing lengan kita yang telah tiada masih mengeluarkan darah."

Sasuke, pemuda berambut Raven hitam itu melihat bagian lengannya. Memang benar lengan kirinya kini hanya bersisa setengah dan masih mengeluarkan darah jadi dia memilih untuk diam sambil memandang pula langit yang mulai menghitam.

"Kau memukul Sakura-chan terlalu keras tadi jadi sebaiknya kita menunggu hingga Kakashi Sensei membangunkan Sakura-chan dan berharap mereka bergegas kemari."

"...Kurasa kau benar Dobe." balas Sasuke pada pemuda pirang disampingnya dengan memanggil nama ejekannya. Tidak ada balasan dari pemuda disampingnya yang masih saja melihat langit malam membuat Sasuke terdiam sejenak sebelum kemudian memanggil nama dari pemuda pirang itu.

"Hey Naruto." Panggil Sasuke pada pemuda pirang disampingnya.

"Hmmm? Apa Teme?" Balas Naruto pada Sasuke dengan nama ejekan mereka. Sesuatu yang membuat Sasuke entah merasakan rasa lega pada hatinya.

Sasuke terdiam sejenak. Kata-kata yang ingin dia tanyakan terasa berada pada ujung lidah namun sulit untuk dikatakan. Dengan penuh keyakinan, dia kemudian bertanya lagi pertanyaan yang pernah dia tanyakan dahulu ketika mereka berhadapan setelah dia membunuh Danzo. "Naruto… Kenapa? Kenapa kau selalu mencoba untuk menghalangiku? Apa aku artinya bagimu?"

"Kau temanku Sasuke." Balas Naruto yang tidak mengalihkan pandangannya. "Haruskah ada alasan lain selain itu?"

"Kurasa pasti ada alasan lainnya Dobe. Kau sudah berulang kali mengatakan hal itu tapi pasti ada yang lebih dari itu. Ini adalah dunia Shinobi. Kata seperti teman tidak akan membawamu sejauh ini untuk menghalangiku." Kata Sasuke yang membuat Naruto kemudian berbalik memandangnya disertai senyuman ketika mata mereka saling bertemu.

"Kurasa kau benar Sasuke." Kata Naruto. Mata birunya kemudian beralih lagi. Entah mengapa bagi Sasuke, Naruto seperti menganggap langit malam jauh lebih menarik.

Angin kemudian membelai mereka sebelum Naruto kemudian angkat bicara.

"Apa yang kau katakan tadi benar Sasuke. Aku memang punya sesuatu yang lain kenapa aku harus terus menghalangimu." Kata Naruto. "Menjelaskannya akan terasa begitu sulit ketika hatiku lebih kepada menuntunku selama ini."

"Ketika aku melihatmu telah jauh begitu menyimpang. Saat aku melihatmu telah jatuh ke dalam jalan yang jauh lebih gelap, aku serasa ikut merasakannya kau tahu." Ujar Naruto. "Kita adalah buah dari sistem yang buruk Sasuke. Kita telah kehilangan masing-masing dari yang kita cintai. Aku yang kehilangan kedua orang tuaku dan guruku begitu juga dengan kau yang juga kehilangan kedua orang tuamu dan juga kakak yang luar biasa telah mengerti arti dari penderitaan. Kita telah kehilangan banyak hal dan kita kemudian mencoba untuk meraih jalan yang berbeda. Kau dengan jalan pembalasan dendammu dan aku dengan jalanku yang ingin agar semua bersatu akan bentrok diakhir dan disinilah kita kemudian. Ketika kemudian kau mengatakan arti revolusimu aku bahkan merasakan hatiku tersayat. Jalanmu hanya akan dipenuhi dengan duri dan kesendirian. Kau bahkan akan menemui akhir yang buruk dan sebagai orang yang telah kuanggap sebagai saudaraku karena kau adalah ikatan pertama yang kubuat katakan padaku Sasuke..."

Naruto memandang lagi Sasuke kali ini dengan sebuah senyuman tulus yang mengatakan apa yang seharusnya Sasuke tahu.

Untukmu yang telah melalui banyak hal bersamaku.

Kenangan kita yang tidak akan pernah pudar. Kita melihat kenangan masing-masing ketika kita saling beradu tinju kita. Menyampaikan perasaan kita masing-masing.

Ikatan kita yang tidak akan pernah terputus.

Kita yang telah bersandingan dengan situasi hidup dan mati bersama-sama. Kita yang telah terikat sejak kecil.

Seorang saudara terkadang tidaklah harus terikat dengan ikatan darah.

"...Bisakah aku membiarkan hal tersebut?" Tambah Naruto dengan penuh keyakinan yang dimilikinya yang membuat Sasuke begitu tertegun.

Keyakinan itu. Pancaran mata itu. Keteguhan hati itu.

Itu mengingatkan Sasuke pada orang yang sangat disayanginya dimana dalam rasa tertegunnya dia melihat sebuah siluet lain.

Aku selalu menyayangimu, Sasuke.

Itachi?

Sasuke tercekat. Hatinya meraung. Tenggorokannya terasa kelu hingga dia hanya bisa memalingkan wajahnya dari tatapan Naruto. Sasuke… Dia hanya bisa membalas ini.

"Kau menang Dobe." Kata Sasuke "Aku mengaku kalah kali ini."

"Benarkah? Akhirnya kau mengakui bahwa aku ini sangat kuat bukan?

"Hanya kali ini. Aku tidak akan membiarkanmu menang untuk kedua kalinya Dobe." balas Sasuke yang membuat tawa kecil terdengar dari sampingnya. Naruto tertawa.

Tawa itu terdengar cukup lama hingga kemudian akhirnya reda. Sasuke melirik Naruto yang kini terdiam kembali menyebabkan keheningan diantara mereka berdua hingga kemudian kali ini Naruto-lah yang kemudian memanggil Sasuke.

"Hey, Sasuke… apa yang akan kau lakukan setelah ini?" Tanya Naruto pada Sasuke.

Sasuke berfikir. Apa yang akan dia lakukan? Dia haruslah menjalani hukuman dari semua yang dia perbuat dimasa lalu. Kejahatan yang dia lakukan tidaklah bisa dibirakan begitu saja.

Tapi meskipun begitu jika diizinkan maka dia ingin melakukan satu hal.

"Kurasa aku ingin berkeliling dunia?" Jawab Sasuke.

"Tidak ingin jadi Hokage?" Tanya Naruto yang membuat Sasuke menaikkan alisnya. Dia rasa dia tidak lagi menginginkan hal itu jadi dia menggeleng. "Kurasa tidak. Kau bisa ambil jabatan itu. Aku sudah tidak menginginkannya." Jawab Sasuke yang kemudian memandang Naruto yang kemudian tersenyum secara tiba-tiba.

"Tidak bahkan untukku?"

"Ha?... Apa maksudmu Dobe?" Kata Sasuke yang tidak mengerti.

"Waktuku tidak banyak lagi Sasuke." Kata Naruto yang seketika membuat Sasuke terkesiap. Darahnya berdesir dan Sasuke melihat Naruto.

Tidak! Apakah dia salah dengar?

Tidak! Dia tidak salah mendengarnya ketika Naruto terus memandangnya seperti itu.

Tapi … apakah benar?

Tidak! Apapun asal bukan itu!

"Dobe?"

"Waktuku tidak banyak karena kau telah kehilangan begitu banyak darah ketika pertarungan kita dan aku harus mati matian menjagamu agar hidup setelah kau pingsan akibat pertarunan kita. Aku harus terus menyalurkan Chakra Asura padamu agar kau bisa bertahan hidup Sasuke. Setidaknya Chakra itu akan membuatmu bertahan hingga Sakura-chan datang menyembuhkanmu. Untukku… kurasa waktuku memang telah begitu dekat sekarang."

"Bodoh! Apa yang kau lakukan Dobe! Kau seharusnya tidak melakukan itu!" Teriak Sasuke yang merasakan rasa marah pada dirinya akibat perbuatan Naruto. Yang dilampiasi rasa marah hanya masih tersenyum. "Kau seharusnya tidak melakukan itu!"

"Dan membiarkan saudaraku yang telah melihat jalannya harus tewas? Tidak Sasuke." Balas Naruto. "Kau sudah mendapatkan kesempatan keduamu Sasuke. Pergunakan dengan baik dan jadilah Hokage untukku. Bebaskan para Bijuu dan biarkan mereka hidup bebas."

"Tidak! Tidak!" Tolak Sasuke keras. Harusnya dia yang mati. Harusnya Naruto tidak menyalurkan chakra Asura yang tersisa padanya karena Sasuke tahu mereka berdua telah menderita kehabisan Chakra yang begitu parah hingga secuil Chakra yang berada titik jantung mereka tidaklah boleh diberikan untuk yang lainnya.

Tapi Naruto adalah seorang keras kepala yang Sasuke tahu. Untuk orang lain dia bahkan dia akan melakukan ini.

Karena ini adalah sesuatu yang menurutnya benar.

"Tidak Dobe…" Sasuke meratap. "Tidak… Harusnya kau yang menjadi Hokage."

Naruto hanya masih tersenyum. "Bebaskan mereka dari Mugen Tsukoyomi Sasuke dan hiduplah saudaraku." Kata Naruto yang kemudian merasakan nafasnya semakin berat. Pandangan matanya lelah dan memburam. Dia masih samar-samar mendengar teriakan dari Sasuke yang berada disampingnya.

"Tidak! Dobe! Kau jangan berani menutup mata!" Teriak Sasuke keras namun itu semua sudah terlambat.

Dalam tangisan air mata Sasuke, dalam raungan yang tiada berarti Sasuke menyaksikan hari itu sebagai hari yang benar benar mengubah pribadinya menjadi jauh lebih baik di kemudian hari.

Hari dimana saudaranya memberinya sebuah kesempatan kedua. Hari dimana dia kehilangan saudara yang sangat berarti baginya.

Dan hari dimana dia menyaksikan dengan mata berairnya, tangisan terakhirnya.

Uzumaki Naruto meninggal hari itu dengan senyuman diwajahnya yang mengatakan bahwa dia sudah berhasil melakukan apa yang seharusnya dia lalukan.

Menyelamatkan saudaranya dari jalan paling buruk yang akan didapatkannya.


Untukmu jiwa yang telah melalui banyak hal.

Yang menyelamatkan apa yang seharusnya diselamatkan. Yang meletakkan pondasi perdamaian pada tempatnya.

Jiwa yang begitu suci. Uzumaki Naruto.

Untukmu yang telah membuktikan jiwamu berkali kali. Inilah waktunya.

Waktu terakhir dari perjalananmu pada dunia asalmu kali ini.

Semoga jiwamu kembali memilih hal yang benar. Semoga jalanmu akan menemui akhir yang berakhir berbeda pada waktu terakhir perjalananmu ini

Aku selalu menyertaimu.


Terkadang seorang yang berjiwa pahlawan tidak akan pernah tahu keputusan yang diambilnya ini akan berdampak apa nanti kedepannya. Apakah pengorbanan yang dilakukannya akan berarti atau tidak, dia tidak pernah tahu itu dan terima kasih atas apa yang dilakukannya, sebuah hal besar selalu terjadi kedepannya sementara yang berjiwa pahlawan terkadang tidak memiliki hari untuk melihat hal besar yang terjadi akan apa yang dia lakukan.

Yang ada dalam hati mereka yang memiliki jiwa pahlawan hanya satu. Sebuah keyakinan begitu besar dan dengan lompatan itu keajaiban akan tercipta.