Kukatakan di awal bahwa ini adalah remake dari The Last Adventure v2 dimana kalian akan mendapati hal yang berbeda dengan kisah itu. Kalian akan mendapati bahwa Naruto is not alone. No! Kalian akan mendapati kejutan seperti yang biasa kalian dapatkan ketika menyimak ceritaku dan remake dari The Last Adventure ini akan membawa kalian untuk menyadari bahwa terkadang akan ada sebuah pengorbanan untuk sesuatu yang besar. Life is not fair for everyone. Untuk melaluinya kalian akan mendapati permasalahan kalian sendiri dan akan mengambil keputusan yang kalian pikir paling benar.

Emosi yang kalian perlihatkan nantinya ketika kalian mencapai bagian itu. Aku ingin mengetahuinya nanti.

Untuk setiap pembaca yang membaca chapter terbaru dari Re: Stranded, terima kasih banyak ya atas respon positifnya. Itu membawa angin segar bagiku. Dengan ini kupersembahkan chapter pertama dari Re: Last Adventure. Semoga kalian menyukainya.



Aku melihat ini lagi.

Tatapan-tatapan mata mereka yang menatapku seolah aku adalah sesuatu yang tidak pantas untuk hidup.

"Lihatlah anak iblis itu. Harusnya dia mati saja."

"Benar! Dia harusnya mati. Kenapa Hokage membiarkannya hidup!"

"Dia hanya membawa keburukan pada desa kita."

Bisikan-bisikan yang mereka katakan dibelakangku.

Aku mendengar itu semua dan bertanya.

Kenapa?

Kenapa mereka menatapku dengan raut wajah demikian? Kenapa mereka mengatakan kata-kata itu seolah aku tidak mendengar apa yang mereka katakan?

Apakah aku benar hanya anak dari iblis? Apakah aku tidak diperbolehkan untuk hidup di dunia ini?

Tatapan mereka.

Perkataan mereka.

Penolakan mereka saat aku mencoba untuk bersikap ramah kepada mereka.

Aku melalui itu setiap hari dan bertanya kepada diriku sendiri.

Apakah orang tuaku hanya melahirkan anak iblis sepertiku? Apakah mereka tidak memiliki rasa sayang padaku dan meninggalkanku seorang diri?

Aku bahkan ditendang keluar dari panti dimana disana tidak ada ubahnya seperti di Neraka. Jika aku melakukan kenakalan maka jatahku makan akan hilang. Aku yang mencoba untuk berbuat baik sesama anak panti hanya menerima hujatan mereka.

"Jauh-jauh dariku dasar iblis!"

"Jangan mendekat iblis!"

"Pergi! Jangan dekat-dekat denganku!"

"Iblis! Jangan curi mainanku!"

Hujatan mereka. Perkataan kasar mereka. Aku menerima semua itu bahkan ketika aku melihat anak-anak panti yang mendapatkan orang tua baru dimana aku tidak pernah terpilih untuk itu, yang kulihat hanyalah hanyalah kesendirianku dimana aku melihat dari kejauhan.

Aku iri dengan mereka.

Aku ingin seperti mereka.

Tapi kenapa?

Kenapa?

Aku selalu bertanya akan hal itu bahkan ketika aku sendirian memandang langit malam dengan bintang. Angin dan suara hewan malamlah yang hanya menemaniku. Pikiranku melayang. Untuk seorang pikiran anak kecil ini pernah terlintas dalam benakku meski sesaat.

Apakah aku harus mati saja?


[Re: Last Adventure]


Mata itu terbuka dan berkedip. Satu dua hingga beberapa kali mata itu berkedip sebelum pikiran yang masih buram itu kembali dengan seutuhnya meninggalkan sang pemilik yang kemudian mengusap wajahnya karena lelah.

Mimpi itu datang lagi padanya. Mimpi yang selalu menghantui dirinya sejak kecil. Mimpi yang terus menemaninya dengan segudang misteri yang tidak mampu dia pecahkan apa arti dari bunga tidur yang selalu muncul setiap kali matanya terpejam dan jiwanya melayang.

Mimpi itu pertama kali datang padanya ketika dia berumur sepuluh tahun dan sampai sekarang mimpi-mimpi itu masihlah terus menemaninya. Mimpi yang dia alami adalah mimpi yang menceritakan tentang satu orang yang memiliki nama sama dengannya namun takdir yang dia lihat menimpa pemilik nama yang sama dengannya tidak pernah mudah.

Dia melihat segalanya karena mimpi yang dialaminya adalah mimpi yang acak dan dengan setiap mimpi yang ada dimana dia kemudian menerima mimpi itu menjadi bagian dari dirinya, dia kemudian belajar akan banyak hal.

Itu tidak apa-apa selama yang kau lihat memberi begitu makna dalam kehidupan.

Apakah kau menjadi seorang yang gampang menyerah atau justru kau menjadi orang yang tangguh dalam menghadapi kehidupam yang keras, kau yang menentukan jalanmu.

Mimpi yang dia alami seolah mengatakan itu padanya dan setiap mimpi yang dia alami selalu mengajarkannya hal baru dan dia dengan senang hati menerimanya.

Tubuhnya yang masih terbaring kemudian mencoba untuk bangun. Dengan menyibak selimut yang masih menutupi tubuhnya, dia— pemuda yang memiliki nama Uzumaki Naruto kemudian bangun dan menuju ke kamar mandi setelah dia melirik jam yang berada dekat dengan tempat tidurnya.

Dalam kamar mandi, Naruto— panggilan yang biasa dia gunakan kemudian membasuh mukanya dengan air lalu dengan sabun. Setelah itu kemudian dia menggosok giginya sembari memperhatikan wajahnya sendiri.

Wajahnya tidaklah tampan. Itu menurut dirinya apalagi dengan mata biru miliknya yang terasa kusam. Mata birunya telah melihat banyak hal lewat berbagai mimpinya dan itu telah kehilangan kecerahan yang dimilikinya meskipun jika dia bandingkan dengan Naruto yang ada dalam mimpinya, rasanya dia sebenarnya ingin jika mata biru kusamnya setidaknya menemukan arti dirinya.

Yah, itu dia harap akan cepat dia temukan karena yang dia bisa lakukan saat ini adalah berharap bukan? Itulah yang selalu dia pegang hingga sekarang.

Lepas dari kegiatannya dalam kamar mandi, Naruto kemudian bersiap untuk pergi ke akademi. Memakai seragam miliknya dia kemudian pergi dari tempat tinggalnya dimana itu hanyalah sebuah apartemen sederhana yang berharga sangat murah karena apartemen itu katanya terkenal karena keangkerannya tapi hal itu justru tidak menjadi masalah bagi pemuda itu.

Dengan berbekal sepotong roti yang dia makan, Naruto kemudian menikmati paginya dengan tenang.

Suara burung yang berkicau.

Angin pagi yang masih segar.

Canda tawa dari mereka yang seusia dengannya yang berjalan bersama temannya atau bahkan kehidupan para orang dewasa yang memulai pagi mereka adalah yang tampak dalam matanya setiap kali dia berangkat menuju ke akademi tempatnya belajar.

Akademinya hanyalah berjarak dekat dengan apartemennya. Dengan jarak sekitar lima ratus meter, Naruto hanya perlu berjalan kaki kesana apalagi ketika itu juga menghemat biaya yang dia keluarkan karena dia tidak harus naik kereta karena jarak tempatnya tinggal yang dekat tersebut. Pernah dia berpikir untuk membeli sebuah sepeda tapi urung dia lakukan karena dia merasa sepeda masih bisa menjadi prioritas kedua yang dia pilih dalam mencapai akademinya.

Bangunan akademinya sudah terlihat begitu juga dengan gerbang akademi itu yang terlihat. Akademi yang Naruto masuki adalah akademi Kuoh dimana akademi itu adalah sebuah akademi yang berkelas. Biasanya yang masuk ke akademi itu adalah anak-anak perempuan dari kalangan mampu karena dulunya akademi ini adalah akademi khusus perempuan tapi itu kemudian berubah dimana akademi itu kemudian menjadi akademi campuran yang memperbolehkan anak laki-laki masuk kedalamnya. Meskipun begitu itu masihlah sebuah akademi yang berkelas dan ujian masuknya juga ketat. Yang bisa masuk ke akademi ini akan dipandang sebagai anak yang pintar dimana Naruto sendiri bisa masuk ke dalam akademi itu juga berkat dia mendapatkan progam beasiswa dimana itu hanya diperuntukkan untuk murid murid yang memiliki kemampuan akademik yang tinggi.

Naruto kemudian mengingat bagaimana ujian masuk untuk progam beasiswa seperti apa. Itu sangatlah berat dimana dia harus belajar banyak untuk mencapai itu. Naruto adalah anak yatim piatu dan jika dia ingin berhasil dalam kehidupannya nanti setidaknya dia harus tahu untuk mencapai keberhasilan dia harusnya berusaha lebih keras dari yang lain karena dia hanya didukung oleh dirinya sendiri. Naruto sendiri meskipun anak yatim piatu dia sudah tidaklah tinggal di panti asuhan karena dia sudah keluar dari sana. Oh jangan salah, dia keluar juga karena itu adalah keputusannya sendiri akibat dia ingin mulai hidup mandiri meskipun pada awalnya itu mendapat tentangan dari ibu panti yang tidak rela Naruto keluar tapi Naruto berhasil meyakinkan ibu panti dimana dia bisa hidup mandiri dengan kerja kerasnya hingga dia bisa mendapatkan pekerjaan dan apartemen murah untuk dia tinggali juga beasiswa untuk belajar di akademi Kuoh.

Naruto kemudian semakin mendekati akademinya. Gerbang akademinya kini terlihat begitu jelas dengan tambahan beberapa siswa disana.

Mereka adalah anggota Osis akademi Kuoh yang bertugas melihat apakah setiap murid yang datang memakai perlengkapan seragam dengan baik atau tidak. Biasanya ada anggota Osis yang lain yang ada disini namun kali ini dia melihat tambahan ketua Osis, Souna Shitori namanya dan wakil ketua Osis, Tsubaki Shinra juga ikut berada disana. Yah itu bukan hal yang aneh karena jika Naruto ingat mungkin ini jadwal mereka juga untuk melakukan pengecekan.

Naruto berjalan melewati mereka dengan tenang. Dia tidak menyapa mereka atau bahkan melihat karena Naruto hanya berjalan lurus saja memandang ke depan. Toh dia juga tidaklah melakukan kesalahan dengan pakaian yang dia pakai juga karena Naruto tidaklah ingin menyapa atau bicara dengan mereka karena suatu hal.

Itu adalah aura hitam yang menyelimuti mereka yang membuat Naruto merasa tidaklah nyaman dan karena Naruto tahu bahwa mereka bukanlah manusia.

Tidak. Mereka bukan manusia karena mereka sebenarnya adalah iblis. Iblis yang berbaur dengan manusia sekitarnya dan mungkin memperbanyak jumlah mereka karena tidak hanya anggota Osis saja yang merupakan iblis tapi anggota dari klub lain dimana itu adalah klub penelitian supranatural.

Dan jika ditanya apakah iblis itu nyata adanya, Naruto akan menjawab bahwa mereka memang benar adanya. Apalagi dengan mitologi dan mitos yang hanya merupakan legenda saja ternyata itu memiliki kebenarannya. Naruto mengetahui itu ketika dia pertama kali membuka kekuatannya dimana hal itu dimasukkan kedalam otak miliknya yang kemudian hal itu mengubah pandangannya akan dunia.

Dunia ini hanyalah abu-abu semata dan penuh kebohongan.

Dia masih ingat bagaimana Shinra Tsubaki dulunya tidak mempunyai aura hitam milik iblis dan kemudian berganti keesokan harinya. Naruto juga ingat beberapa siswa juga mulai memiliki aura hitam disekitar mereka dan Naruto tahu bahwa mereka telah menjadi iblis.

Tapi Naruto tidak ingin ikut campur dengan hal itu. Itu adalah urusan mereka selama itu tidak mengusik dirinya.

Naruto kemudian berjalan menuju ke kelasnya. Lorong masih terisi banyak sekali siswa dan saat dia sampai pada kelasnya, sapaan lain menyapanya.

"Yo Naruto. Baru datang?"

Naruto menoleh dan mendapati pemuda dengan rambut coklat muda jabrik menyapanya dengan senyum. Kerah atas pakaiannya terbuka dan menampakkan kaos dalam hitam yang dipakainya.

Naruto mengangguk pada pemuda itu. "Kau datang lebih dulu? Tumben Issei." Balas Naruto pada pemuda yang menyapanya.

"Hehehe…" Issei menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk. "Kau tahu kan kalau ada PR matematika." Kata Issei yang membuat Naruto langsung mengerti maksud dari Issei dan memutar bosan matanya.

"Kau selalu seperti ini Issei." Balas Naruto.

Issei Hyoudou. Itu adalah nama lengkap dari pemuda yang kini tertawa kecil garing kepada Naruto. Dia adalah teman yang setidaknya dekat dengan Naruto atau bahkan bisa dia katakan bahwa Issei adalah satu-satunya teman yang berhasil menembus tembok yang Naruto buat untuk menjaga dirinya dengan orang lain. Naruto sendiri bukanlah orang yang mudah akrab dengan yang lain dan dia terkesan dingin kepada yang lain tapi Issei bisa menembus sikap Naruto itu dan mengetahui sikap asli pemuda berambut putih itu.

Dia adalah pemuda terbaik yang pernah Issei tahu.

Seperti saat ini pula dengan mudahnya Naruto mengambil pekerjaan miliknya untuk diberikan kepada Issei. "Jangan tiru semuanya. Cobalah berusaha sebagian." Kata Naruto yang membuat Issei yang sudah menerima bukunya langsung merangkul Naruto dengan tertawa renyah.

"Terima kasih Naruto. Aku tahu kau tidak akan melupakanku!"

"Berhentilah merangkulku. Kau membuatku risih Issei" Balas Naruto yang mendorong tubuh Issei menjauh darinya. Dia kemudian duduk pada bangkunya yang bersebelahan dengan bangku Issei dan Issei mengikuti sambil kemudian membuka buku pekerjaannya sendiri dan mulai bekerja dengan menyalin beberapa pekerjaan Naruto.

"Hey Naruto." Kata Issei disela-sela menyalinnya. "Kemarin Matsuda dan Motohama dipukuli lagi oleh klub Kendo."

"Karena mengintip lagi?"

"Yah. Mereka kan biasa seperti itu." Kata Issei. "Mereka mesumnya gak ketulungan."

"Dan kau juga hampir jadi seperti mereka jika aku tidak mengajakmu pergi dahulu ketika kau mendengarkan cerita aneh dari seorang kakek tua mesum." Kata Naruto yang membuat Issei mengingat kejadian dahulu.

Dahulu rumah Issei itu berdekatan dengan panti asuhan tempat Naruto dibesarkan. Issei sering bermain ke panti dan dari situlah dia tahu Naruto yang telah berbeda dengan yang lain dibanding anak lainnya. Hal itu bahkan membuat Issei langsung tertarik untuk berteman dengan Naruto apalagi kepribadian Naruto sendiri di panti sangatlah baik.

Meski ditolak berulang kali, itu tidak pernah menyurutkan niat Issei untuk berteman dengan Naruto hingga Naruto saat itu akhinya luluh dan mereka berteman. Pada suatu hari kemudian mereka pergi ke taman bermain dan ketika disana hingga sore hari, Naruto dan Issei kemudian melihat orang tua yang menceritakan hal yang mesum kepada mereka. Naruto sebagai anak yang peka akan apa yang diceritakan oleh orang tua itu belumlah pantas untuk mereka kemudian memaksa Issei pergi dari sana ketika Issei terlihat terpesona dengan cerita orang tua itu yang terlihat bodoh sekali.

Bukan begitu caranya mengapresiasi seorang perempuan.

Mereka cantik dengan apa yang mereka miliki dan sebagai laki-laki tidaklah pantas jika kita mengatakan sesuatu yang jorok kepada mereka seolah tidak menghargai mereka.

Entah apa yang akan terjadi jika seandainya Issei masih berada disana maka mungkin dia akan jadi orang mesum juga.

Mereka berdua; Naruto dan Issei sempat berpisah ketika masa sekolah menengah pertama karena Issei pindah rumah dan kemudian bertemu lagi ketika berada pada ujian masuk akademi Kuoh. Sejak saat itu rasanya Issei terlihat selalu menempel pada Naruto.

"Kurasa kita berdua sama-sama mendengarkan tapi kau saat itu sangat risih sekali."

"Cerita pak tua itu belum pantas kita dengar Issei. Harusnya saat itu pak tua itu ditanyai pihak berwajib akan ceritanya dan menceritakannya kepada anak seusia kita."

"Yah kau benar akan hal itu Naruto." Kata Issei lagi. Pemuda itu kemudian seolah mengingat sesuatu dan kemudian mengambil telepon genggamnya dari saku. Membuka dan mencari sesuatu lalu menunjukkan sebuah foto dimana Issei tengah berada di samping gadis.

"Hey Naruto. Ini mungkin belum kuberitahu padamu kemarin karena kau tidak masuk karena ada urusan penting. Tapi kemarin aku dapat pacar lho." Kata Issei sambil menunjukkan fotonya yang membuat alis Naruto terangkat.

Issei? Dia dapat pacar?

"Kau ditembak kapan?" Kata Naruto yang kemudian melihat gadis yang ada pada foto Issei yang tersenyum manis disana namun Naruto bisa melihat bahwa itu adalah bukan senyuman manis.

Itu adalah senyuman yang menunjukkan hal lain dan ketika Naruto terasa familiar dengan wajah gadis itu pikirannya terasa melayang.

Dimana?

Dimana wajah gadis itu terlihat olehnya dan kenapa perasaannya kemudian mengatakan hal yang tidak menyenangkan?

"Kemarin." Balas Issei dengan senyuman semangat. "Dia ramah lho. Aku tidak menyangka dia akan menembakku karena aku sendiri sadar aku bukan tipe orang populer. Kami kemudian memutuskan berkencan setelah jadian secara langsung. Aku merasa kami klop sekali."

"Dia bukan siswa akademi Kuoh?"

"Oh dia siswa dari sekolah sebelah." Kata Issei.

"Jika dia dari sekolah sebelah bagaimana dia bisa tahu dirimu Issei?" Tanya Naruto.

"Katanya sih dia pernah melihatku menolong seorang nenek dan dia kagum akan diriku saat itu." Kata Issei yang membuat Naruto tersenyum kecil. Issei mungkin tidak terlalu pintar tapi dia adalah juga orang yang baik kepada siapapun yang dilihatnya membutuhkan bantuan. "Dia sering mengamatiku waktu aku pulang sekolah katanya."

"Dia stalker?"

"Ngawurlah kau. Ya tidak dong. Dia hanya memastikan aku seperti apa orangnya saat mengamatiku. Yah karena aku ingin tahu rasanya punya seseorang ya aku terima saja waktu dia nembak. Nyatanya setelah menghabiskan waktu dengannya kurasa aku cocok dengannya. Lain kali kupertemukan. Hari ini aku mau kencan lagi nanti sehabis sekolah." Balas Issei lagi yang membuat Naruto terdiam dan mengangguk saja mengiyakan. Dalam hati Naruto meskipun demikian dia bertanya dalam dirinya sendiri akan bagaimana foto dari gadis yang ditunjukkan Issei masih mengirim sinyal tidak nyaman padanya.

Apakah ini sesuatu yang disebut kecemburuan karena Issei mendapatkan pacar lebih dulu darinya? Bukan. Ini adalah suatu hal yang lain lagi dan ketika Naruto kemudian memandang wajah Issei yang memasukkan ponselnya ke saku lagi dan melanjutkan menyalin, Naruto memutuskan untuk mencoba mencari tahu apakah rasa tidak nyaman ini akan membawa pengaruh buruk pada satu-satunya teman yang dia miliki ini.

Naruto mungkin akan berkata dia tidak peduli dengan yang lain— tidak ketika hal lain yang dilihatnya tidak membuat hatinya tergerak untuk melakukan kebaikan.

Namun ketika dia merasa temannya terancam, dia akan bertindak kali jika saja rasa nyaman ini benar adanya membawa hal buruk pada temannya ini.

Karena dalam hatinya, Naruto menganggap Issei adalah saudara yang tidak terikat darah olehnya.

Dan untuk saudara... Mereka menjaga satu sama lainnya.


[Re: Last Adventure]


Issei pikir bahwa kencannya kali ini akan membawa hal yang menyenangkan untuknya.

Pacarnya adalah gadis termanis yang dia tahu. Dia tertawa renyah akan guyonan garing Issei dan bahkan tertawa untuk sebuah hal remeh seperti kucing yang Issei pernah selamatkan malah mencakar Issei ataupun Issei sempat terpeleset karena mencoba bermain seluncuran pada musim dingin. Kencan yang mereka lalui hari ini harusnya berjalan dengan sukses hingga mereka sampai pada taman di saat petang menjelang.

Harusnya di taman ini kenangan masa mudanya berakhir dengan sesuatu yang indah seperti ciuman. Bukankah hal itu adalah hal yang lumrah ya untuknya jika sepasang kekasih mengakhiri kencan mereka.

Hanya saja Issei tidak menyangka ini akan terjadi padanya.

"Nee Issei, maukah kau mati untukku?"

Pertanyaan itu mungkin akan dikira Issei sebuah candaan. Issei tertawa akan itu pada gadis kekasihnya hingga dia melihat senyuman kekasihnya yang tadinya merupakan senyuman manis berubah menjadi senyuman sinis dan kemudian kekasihnya terlihat melakukan hal yang diluar pikiran Issei dengan melayang dan berubah menjadi gadis yang memiliki sepasang sayap hitam dibelakangnya.

Hilang sudah gadis bernama Yuuma Amano— gadis yang Issei kenal dan mengajaknya kencan.

Itu berubah menjadi Raynare. Malaikat Jatuh— makhluk mitos yang diluar khayalan Issei yang kini terlihat mencemoohnya

"Jujur aku jijik jika harus berakting seperti itu tadi tapi kupikir jika dengan ini bisa dekat lalu membunuhmu maka kurasa ini sepadan." Yuuma— bukan Raynare, gadis yang dikencani Issei dan berubah menjadi Malaikat jatuh itu menciptakan sebuah tombak trisula dari cahaya yang membuat Issei melebarkan matanya dan dia merasakan ketakutan dalam dirinya yang tidak bisa bergerak karena merasa kosong dengan perubahan milik Yuuma yang sedrastis ini. Hasrat membunuh yang dikeluarkan Raynare memenuhi udara dan membuat Issei terasa seperti hewan mangsa dihadapan predator.

Dia tidak bisa lari kemana mana lagi.

"Oh maafkan aku Issei. Kupikir aku mulai menyukaimu. Sayang dalam tubuhmu tersimpan sesuatu yang harusnya tidak ada. Maafkan aku dan matilah ya." Raynare memutar tombak cahayanya. "Jika kau ingin menyalahkan ini salahkan Tuhan yang menaruh benda itu ditubuhmu Issei-kun." Tambah Raynare yang kemudian melesatkan tombaknya ke arah Issei yang tidak bisa bergerak sama sekali.

Dia akan mati.

Tombak itu akan mencapai tubuhnya dan menembus dirinya.

Apakah ini kematian yang seharusnya dia jalani?

Issei berpikir demikian bahkan semua ingatan sempat terlintas pada dirinya. Tahukah engkau bahwa jika orang akan mati, ingatan mereka semua terlintas begitu saja dengan cepatnya. Itu adalah yang dialami Issei dan ketika takdir pada dunia lain mungkin mengijinkan tombak itu untuk menembus tubuh Issei, itu tidak terjadi kali ini.

Karena Issei melihat hal menakjubkan lainnya dimana tombak yang mengarah padanya terpecah menjadi berkeping-keping. Sebuah lesatan cahaya kemudian menembus tubuh Raynare dari dada dan kemudian membuat tubuh Malaikat Jatuh itu kemudian meledak menghujankan potongan daging dan darah…

Dan Naruto yang berada dibawah guyuran hal kejam itu dengan menatapnya dalam mata birunya.

Akan hal yang Issei kemudian ketahui ini akan merubah hidupnya dan hidup Naruto kemudian.

"Issei…"

"...Ini saatnya untuk tahu kebenaran yang sesungguhnya."