"Hei, kalau tidak salah seharusnya ini sudah dimulai sejak lima belas menit yang lalu, bukan?"
"Huh? kurasa kita sudah menunggu lebih lama dari itu."
"Apa yang mereka pikirkan, ya?"
"Tapi benarkan Rokudaime menyuruh kita semua berkumpul hari ini?"
"Iya, katanya ada pengumuman yang sangat penting."
"Apa yang dimaksud adalah 'itu' ya?"
"Entahlah, tapi bukannya kita semua menunggu hari itu tiba?"
"Haha, tentu saja, aku tidak sabar."
"Orang itu benar-benar merubah kita semua ya."
"Benar, kadang aku merasa masih berutang maaf, kita benar-benar kejam kepadanya dulu."
"Hei, sudahlah lupakan masa lalu, kita harus menyambutnya dengan senyuman, bukan?"
Entah apa yang terjadi hari ini, sang Rokudaime, Hatake Kakashi, meminta seluruh penduduk desa untuk berkumpul hari ini, membuat mereka semua meninggalkan kegiatan sehari-harinya untuk sementara, menunggu pengumuman penting yang dimaksud.
"Ehem."
Suasana yang riuh akibat para penduduk yang sedang menerka-nerka apa yang terjadi mendadak berhenti setelah suara mic yang disalurkan melalui pengeras suara bergema.
Semua mata sekarang tertuju ke arah sosok Kakashi yang berdiri di atas menara hokage, memasang seluruh mata dan telinga untuk mendengar apa yang akan dikatakan sang pemimpin desa.
"Terima kasih untuk semua orang yang telah hadir di hari yang cerah ini."
"Saya Hatake Kakashi, selaku Hokage keenam, akan membuat pengumuman penting hari ini."
"Dengan ini saya nyatakan bahwa mulai hari ini saya akan mengundurkan diri dari jabatan saya selaku hokage keenam."
Suasana mendadak riuh, walaupun mereka sudah menduga hal ini akan terjadi, mereka tetap saja kaget.
Lebih dari itu, mereka semua hanya tidak sabar menunggu kelanjutannya, karena mereka tahu siapa yang akan menjadi pengganti selaku hokage ketujuh.
"Saya ingin berterima kasih kepada seluruh penduduk desa yang sudah bekerja sama membangun desa ini selama jabatan saya berlangsung."
"Saya juga ingin meminta maaf apabila dirasa adanya kekurangan selama masa jabatan saya."
"Sejujurnya, suatu kehormatan bagi saya memimpin desa yang indah nan hebat ini, saya sungguh berterima kasih telah diberikan kesempatan yang besar ini."
Kakashi melepas topi hokagenya, membuat para penduduk kembali tenang, menunggu apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh Kakashi.
"Tentu setelah saya turun dari jabatan ini akan ada sosok yang menggantikan saya, dimohon untuk para penduduk menerima dengan bulat hati keputusan petinggi desa dan negara api perihal sosok yang akan menggantikan saya mulai hari ini."
"Tolong beri sambutan yang hangat dan meriah untuk hokage ketujuh kita-"
Satu jam sebelumnya...
"Wuah!"
"Hehe, papa akhirnya bangun."
Sinar terik matahari menembus ruangan, akibat dari tirai jendela yang dibuka entah oleh siapa, Naruto tidak ingat apa yang terjadi padanya kemarin malam.
"Hanami?"
Si gadis kecil hanya tertawa kecil sambil mengatakan, "Papa mengompol, Hihi"
"Mengompol? kenapa celanaku basah?"
Naruto terkejut menyadari celana tidur yang biasa ia pakai basah tanpa sebab, apalagi airnya benar-benar terasa dingin, mungkinkah ini yang menyebabkan ia bangun tanpa sebab?
"Tou-chan mengompol?" Shina yang berbicara mengintip dari balik celah pintu setelah mendengar teriakan ayahnya.
"Ini pasti perbuatanmu kan, Hanami?" Naruto mendelik ke arah anak gadisnya yang hanya terus tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Hehe."
Drap..
Drap..
"Hanami!"
"Ya, mama?"
"Papa sudah kamu bangunkan?"
Hanami berjalan santai menghampiri meja makan, duduk di sebelah kiri sang adik kecil, Arashi.
"Sudah!" sahutnya sambil tersenyum puas.
Sakura yang bergerak menghampiri meja makan nampak kebingungan, "Lalu mana papamu?"
"Lagi ganti celana!"
"Ganti celana? memang papamu mengompol saat tidur?" Sakura menaikkan salah satu alisnya, tak percaya jika sang suami yang hampir menginjak usia kepala tiga mengompol saat tidur.
"Mama tanya sendiri saja." Hanami tetap memasang senyumnya.
Drap..
Drap..
"Ohayou!"
Shina dan Naruto serentak tiba di meja makan, berbeda dengan Shina yang tersenyum, Naruto memasang ekspresi wajah kesal.
Sakura yang sadar suaminya mengganti celana tidurnya seketika sadar bahwa perkirannya tepat.
"Kamu mengompol?"
"Tentu saja tidak, ini ulah mereka!" Naruto menunjuk Shina dan Hanami bergantian.
"Ehh, aku tidak ikut-ikutan!" sanggah Shina yang tak ingin terlibat dengan keributan di pagi hari, apalagi hari ini adalah hari yang penting.
"Abisnya udah aku pake semua cara buat bangunin papa ga ada yang berhasil, yaudah deh aku siram aja celana papa." Hanami masih tertawa.
"Ga gitu juga dong, pasti masih ada cara lain selain-"
Tuk.
"Aduh."
Naruto meringis, kata-katanya tak ia lanjutkan setelah Sakura memukul kepalanya pelan dengan sebuah nampan.
"Jangan salahkan anak kita, kamu juga yang salah udah tahu ini hari penting tapi kemarin malam malah keluyuran sama yang lain sampe tengah malam, dasar," ketus Sakura setelah meletakkan sarapan di atas meja.
"Ah, papa nakal!" Shina dan Hanami serentak memojokkan.
"Maaf." Naruto pasrah, tak ada lagi yang akan menjadi pembelanya, bahkan sang anak bungsu ikut menghakimi dengan tatapannya.
"Ittadakimasu!"
Naruto beserta ketiga anaknya bersiap untuk menikmati makanan yang sudah dihidangkan, sementara Sakura terlihat sedang bersiap-siap.
"Kau mau kemana?" Naruto bertanya ditengah kunyahan pertama.
"Ah, ini tentang mantel yang kemarin, bukannya kemarin kau sudah liat jahitannya ada yang salah?" Sakura nampak terburu-buru.
"Ah, iya-iya, tapi memangnya bakal keburu?" Naruto bertanya sekali lagi, walaupun rasanya kemarin dia sudah pasrah tentang hari ini, dia tetap ingin berpikir optimis, mengetahui sang sensei, Hatake Kakashi, juga memiliki masalah yang sama.
"Tenang saja, lagipula nenek itu yang memaksa, semoga saja hari ini sudah jadi." Sakura mencoba bersikap tenang, walaupun dia agak khawatir melihat kondisi sang nenek penjahit yang terlihat sudah 'sangat tua.'
Sakura sebenarnya ingin membantu, mengingat dia pernah berpengalaman dengan hal menjahit, tapi nenek itu memaksa untuk melakukannya sendiri, katanya itu bersifat sakral.
Ya Sakura hanya bisa berharap semua berjalan lancar hari ini.
"Oh, iya karena acaranya sebentar lagi dimulai kau pergi saja bersama anak-anak, aku akan menyusul nanti, kupastikan mantelmu ada saat acara itu berlangsung." Sakura memsang senyum tipis.
"Oke, terima kasih Sakura-chan."
"Aku pergi dulu!"
"Hati-hati di jalan!"
Hup...
Fyuhh..
"Jam berapa sekarang? ah 30 menit lagi!"
Naruto yang sudah bersiap-siap segera bergerak keluar kamarnya, lima menit ia habiskan di depan cermin untuk memastikan penampilannya hari ini sempurna, terlebih hari ini akan dikenang sepanjang hidupnya.
"Hanami, Shina, kalian sudah siap?"
"Sudah!"
"Oke, lalu Arashi?"
Naruto terdiam di tengah lorong, sang anak bungsu nampak menunjukkan ekspresi yang tak terduga, entah kenapa ia rasa anak bungsunya itu tak pernah tersenyum padanya hari ini, padahal ini kan hari yang penting baginya.
"Mau papa gendong?" Naruto menghampiri Arashi yang terdiam.
Arashi sontak menggeleng, membuat Naruto bingung.
"Ga au, papa au, abis mpol!"
Kata-katanya begitu tajam, seakan berubah menjadi sebuah panah besar yang menusuk tepat di harga diri Naruto, ayolah dia ingin lebih percaya diri hari ini.
"Papa gak ngompol, lagian papa udah mandi kok, ayo papa gendong!" Naruto berusaha tetap tersenyum.
Namun, lagi-lagi Arashi menanggapinya dengan gelengan kepala, membuat Naruto harus memutar otaknya agar sang anak bisa tetap ikut.
"Arashi mau jalan sendiri?"
Di luar dugaan Arashi mengangguk, nampaknya anak bungsunya sudah semakin dewasa, Naruto merasa semakin tua sekarang.
"Oke!"
Arashi yang mendapat lampu hijau sontak berlari menuruni tangga, menghampiri kedua kakaknya yang sudah menunggu di depan pintu.
"Shina, Hanami tolong jaga Arashi ya, kayaknya dia lagi ga mau dekat-dekat sama papa."
"Oke! serahkan pada kami, ayo Arashi!"
"Wah, apa desa selalu ramai seperti ini?"
"Tidak, kurasa hari ini memang benar-benar ramai!"
"Hei, jangan kemana-mana, kita bisa keliling setelah acaranya selesai, sekarang kita harus pikirkan bagaimana caranya menembus keramaian ini!"
Naruto tak tahu harus merasa beruntung atau tidak, keputusannya untuk berangkat tiga puluh meint lebih awal adalah keputusan yang tepat, jika dia telat semenit saja, Naruto tidak tahu harus dengan cara apa menembus keramaian ini.
Naruto bisa saja dengan mudah melompat melalui atap-atap bangunan sekeliling desa, dengan itu berarti dia akan meninggalkan ketiga anaknya sendirian, Shina dan Hanami mungkin bisa mengikutinya, tapi tidak dengan Arashi.
"Tou-chan, bagaimana ini? kalau seperti ini terus kita bisa telat."
"Berapa menit lagi sebelum caara dimulai?"
"Sepuluh menit."
Naruto terdiam, itu berarti dia sudah menghabiskan dua puluh menit hanya untuk menembus keramaian yang tak ada ujungnya ini, yang Shina katakan tadi benar, mereka sekarang bisa saja telat.
"Shina, kau bisa menggendong adik-"
"Papa!"
Naruto menghentikan perkatannya, menatap ke arah di mana teriakan berasal, suara itu familiar, itu suara Hanami.
"Ada apa Hanami?"
"Arashi... hilang.."
"HAH?"
Naruto dan Shina terkejut, Hanami yang tau akan respons seperti ini sudah siap dengan luapan kekesalan yang akan ditunjukkan ayahnya itu.
Tapi itu tak pernah datang, Naruto sadar betul ini kesalahannya yang tak menjaga anak bungsunya dengan lebih baik, sementara itu Shina seakan merasa gagal menjadi seorang kakak yang seharusnya bisa diandalkan dalam hal menjaga adik bungsunya itu.
"Maafkan aku.." lirih Hanami yang segera dibalas tepukan di atas pundak oleh Naruto.
"Ini bukan salahmu, katakan dimana terakhir kau bersamanya?" tanya Naruto yang pikirannya semakin kalang kabut.
"Aku bersamanya tadi di sini, tapi baru beberapa detik aku berpaling darinya... Arashi sudah tidak di sampingku." Jawab Hanami yang masih merasa bersalah.
'Sial tidak ada pilihan lain!'
Naruto dengan cepat mengaktifkan mode sage-nya, berharap dengan kemampuan sensoriknya itu, Arashi bisa ditemukan dengan cepat.
Naruto terdiam cukup lama, bahkan dua menit sudah berlalu tapi tetap saja Arashi tidak bisa ia temukan.
'Aneh, kenapa aku tidak bisa menangkap chakra Arashi?'
'Dia menyembunyikan chakranya.'
'Apa maksudmu Kurama?'
'Singkatnya dia menyembunyikan hawa keberadaannya, kemungkinannya anakmu ini benar-benar sangat jenius, bahkan mungkin melebihikakaknya.'
'Tidak mungkin, anak seusianya tidak mungkin menguasaiteknik seperti itu.'
'Tapi itu faktanya, mode sage-mu harusnya dapat dengan mudah mendeteksikeberadannya.'
'Tapi aku masih tak percaya, ada kemungkinan dia diculik benar?'
'Kau sekarang memikirkan kemungkinan yang lebih buruk, sebegituinginnnya kah kau anakmudiculik?'
'Bukan itu maksudku, ah sial tapi.'
Naruto terus berdebat dengan Kurama dalam pikirannya, sementara kedua anaknya yang ada di sampingnya menanti dengan cemas, berharap adik kecil mereka dalam keadaan baik-baik saja.
"Bagaimana ini Nii-chan? apa kau punya rencana? biasanya kau dan kakak Shikadai punya rencana brilian kan?" Hanami menaruh harapan kepada kakak satu-satunya itu.
Shina yang ditanya hanya bisa diam, jika dia punya rencana brilian, itu adalah rencana menjaga adiknya sebaik mungkin, tidak membiarkan adiknya menghilang di kerumunan orang sebanyak ini.
Shina semakin cemas melihat sang ayah yang sepertinya kesulitan menemukan adiknya, raut wajah ayahnya bahkan mulai pucat, Shina tau ayahnya tak akan pernah menyalahkannya karena hal ini, tapi tetap saja, sejak awal ayahnya lah yang menitipkan Arashi padanya.
Shina tak punya pilihan lain selain bertanggung jawab mencari solusi dalam masalah ini.
"Maafkan aku telat."
Sakura nampak terburu-buru, dengan cepat bergerak ke arah Shikamaru dan Kakashi yang sudah menunggu di atas menara kantor hokage.
"Sakura, syukurlah kau datang!"
"Apa aku telat?"
"Tidak kau tepat waktu, lalu sekarang dimana Naruto?"
"Dia belum datang?"
"Bukannya kalian kesini bersama?"
Sakura menggelengkan kepala sebagai jawaban, Shikamaru dan Kakashi yang menanggapinya hanya bisa terkejut dan tak berkata sepatah kata pun.
"Jadi maksudmu, Naruto belum datang?" tanya Sakura setelah memperhatikan sekitar tak mendapati sosok Naruto ada di sini.
"Tidak, kami kira-"
"Shikamaru aku titip ini!"
"Sakura tunggu!"
"Tou-chan."
"Ada apa, Shina?"
"Begini.."
'Sial, kemana anak nakal itu? kenapa dia begitu pintar?'
'Naruto.'
'Diam Kurama, aku sedang berkonsentrasi.'
'Aku tidak peduli dengan itu, tapi setidaknya dengarkan apa yang ingin anakmu katakan.'
'Ah.'
Naruto baru saja mengabaikan anak sulungnya, dia sadar akan hal itu, hilangnya Arashi benar-benar membuat pikirannya kalang kabut.
"Maaf Shina, bisa kau ulangi perkataanmu tadi?" tanya Naruto hati-hati, takut Shina tersinggung.
"Ah, baiklah.. jadi begini.. apa Tou-chaningat tentang jurus yang waktu itu?"
"Maksudmu tentang Hiraishin no-jutsu? jika kau ingin memintaku mengajarimu sekarang, ini bukan waktu yang tepat."
"Tidak, bukan itu, aku ingin mengatakan... sepertinya aku berhasil menguasai jurus itu."
Naruto menoleh kembali pada Shina, heran sekaligus terkejut, Shina seorang jenius di kelasnya tapi menguasai Hiraishin no-jutsu di usia muda sepertinya terdengar mustahil.
"Shina, ini bukan waktunya-"
"Aku serius." tegas Shina.
Naruto terdiam, walau dia belum sepenuhnya paham maksud anaknya mengatakan hal itu, jika untuk pamer ini bukanlah waktu yang tepat.
"Aku sudah menandai Arashi sewaktu kita pergi dari rumah."
Kedua mata Naruto membulat, kenapa anaknya baru mengatakan hal itu sekarang?
"Jadi kau bisa melacaknya bukan? tunggu apalagi? ayo tunjukkan hasil latihanmu itu!" titah Naruto yang sedikit gemas dengan sikap anaknya itu.
"Tapi, aku masih tidak yakin-"
"Kau pasti bisa!"
Naruto menaruh cahaya harapan kepada anak sulungnya, membuat Shina yang sebelumnya masih ragu sedikit mendapat secercah semangat.
"Ayo lakukan, kau pasti bisa, lagipula kau adalah anakku." Naruto menasang senyum lebarnya, dia ingin mempercayakan hal ini sepenuhnya pada Shina.
"Baiklah."
"Hiraishin no-jutsu!"
Sring..
"Eh, papa? onii-chan?"
Hanami yang sebelumnya sibuk menangis karena rasa bersalah seketika bingung mendapati ayah dan kakaknya sudah tak ada di dekatnya.
Kejadian di depannya itu membuat rasa bersalahnya semakin menjadi, kali ini dia merasa bersalah karena papa dan kakaknya ikut hilang karena dia tak menjaganya lagi.
"Huwaa... papa! onii-chan! Arashi kenapa kalian semua menghilang?!"
"Ketemu kau anak nakal!"
Naruto dengan cepat menangkap Arashi kedalam dekapannya, memeluknya dengan sangat erat.
"Uuu lepas, papa au!" Arashi berusaha memberontak.
"Kerja bagus, Shina."
Naruto tidak tahu harus bersikap apa, Arashi yang pandai menyembunyikan hawa keberadaannya dan Shina yang sudah menguasai Hiraishin no-jutsuembuatnya sangat kagum sekaligus mempertanyakan apakah dirinya yang bodoh ini memang benar ayah dari dua anak yang sangat jenius.
Duar!
Shina yang belum sempat menerima pujian dari ayahnya itu mendadak terjatuh akibat tanah yang berguncang di sekitar mereka, suara ledakan yang cukup dekat juga membuat mereka semua seketika terkejut.
'Ada apa lagi ini?'
'Seseorang yang jenius lagi mungkin?'
'Jangan berbicara seenaknya, tenaga yang bisa membuat tanahbergetar dan suara ledakan seperti itu hanya Sakura-chan.'
'Atau mungkin alis tebal, tapi mereka berdua tidak mungkin membuat kekacauan seperti itu sih, terutama Sakura-chan.'
'Bagaimana kalau itu anakmu?'
'Hah mereka semua ada di-'
Naruto memperhatikan sekitar, ada yang dia lupakan, seorang gadis kecil bersurai merah muda yang bersamanya tadi.
"Shina, kemana adikmu?"
"Eh?"
Shina dan Naruto saling bertemu pandang, merasa salah satu dari mereka harusnya tau keberadaan gadis kecil itu.
"Kau tidak ikut memindahkannya?"
"Eh, kukira Tou-chan sudah memegang Hanami, jadi aku langsung saja berpindah ke tempat Arashi."
Duar!
Tanah berguncang lagi, kali ini kekuatannya terasa lebih kuat dari yang pertama kali.
"Tou-chan.." lirih Shina yang sepertinya sadar apa yang akan terjadi.
"Itu bukan kaa-san, kan?"
Naruto menggeleng dengan ekspresi ketakutan.
"Itu juga bukan paman Lee, kan?"
Naruto menggeleng lagi dengan menelan ludahnya sendiri, bahkan Arashi pun terlihat ketakutan sekarang.
Shina yang melihatnya seketika merinding, selesai sudah solusi yang ia kerjakan, masalah baru yang lebih berbahaya sekarang sudah terjadi.
"Hanami!"
Duar!
"Huwa kalian semua kemana?"
"Lari semuanya!"
"Hiii hampir saja!"
Duar!
"Huwa ini semua salahku!"
"Gadis kecil tolong tenang seben-"
Duar!
"Hiii!"
Semua luluh lantak, tanah yang biasa dipijak tak lagi sama rata, hanya menyisakan kawah sedalam lima meter dan retakan yang sebentar lagi menjalar ke bangunan di dekatnya.
Para penduduk sudah tak ada lagi di sana, sepakat untuk menjauh dari lingkaran wilayah dampak dari tenaga monster yang muncul dari balik tubuh seorang gadis kecil mungil nan manis.
Mereka bergedik ngeri melihat apa yang sedang terjadi, tak ada yang berani menghentikan, semua orang sudah terlalu takut untuk terlibat.
Duar!
Suara itu terus bergulir mengikuti suara yang lainnya, tak ada kesempatan untuk berhenti, si gadis kecil sudah dikuasai dengan tangisan yang tak kunjung berhenti, semua ia luapkan pada tanah malang yang sebenarnya tak hidup dan juga tak mati.
Beberapa Shinobi sudah berada di sekitar lokasi kejadian tapi tak satupun dari mereka yang mendekat, mereka sadar bahwa keterlibatan mereka lebih jauh hanya akan berakibat kematian mereka yang akan tiba lebih cepat.
"Huwaa, aku ingin ketemu papa! pengen ketemu mama, pengen ketemu semua!"
Duar!
Hanami terus memukul tanah dengan membabi buta tanpa memeprhatikan sekitar bahwa sekarang dia menjadi perhatian semua orang, banyak yang iba ingin menolong, ada yang berusaha menenangkannya, dan kebanyakan hanya bergedik ngeri.
Mereka semua tak berhasil meredakan kebrutalan gadis itu, sekuat apapun mereka berteriak gadis itu tak akan mendengarnya.
Jika terus dibiarkan semua orang akan dalam bahaya, bangunan disekitar mereka akan runtuh sebelum mereka sempat menyelamatkan diri.
"Huwaaaa, kenapa semuanya pergi?"
Sebuah pukulan hendak dilayangkan kembali, tapi kali ini mengarah ke sisi samping kawah, dengan kekuatan sebesar itu gedung di atas kawah akan runtuh dan gadis itu akan dalam bahaya.
Syut..
"Huwaaa!"
Tep.
Semua orang memejamkan mata, pasrah dengan keadaaan yang terjadi, tak satupun dari mereka mampu untuk menyelematakan gadis malang sekaligus penyebab kekacauan itu.
Beberapa detik berlalu, suara ledakan tak pernah terdengar membuat semua orang perlahan memberanikan diri untuk membuka matanya.
Semua orang terkejut di sana, seseorang berhasil menghentikan amukan gadis itu atau lebih tepatnya sang ibu lah yang menghentikan anaknya.
"Sakura-sama!"
Si gadis yang terus menangis juga ikut merasa aneh, tangannya tak terasa sakit, sebuah bantalan lembut ia rasakan di balik kepalan tangannya, sesuatu yang lembut tapi mampu menghentikan pukulannya.
"Mama?" Hanami membuka matanya untuk mendapati sosok sang mama di hadapannya, memeluknya dengan spontan tanpa menghiraukan kerusakan yang telah ia lakukan.
"Hanami! apa yang terjadi?" Sakura tidak marah, dia lebih menghawatirkan keadaan anaknya, terlebih melihat kerusakan yang anaknya perbuat sudah pasti tangan anaknya itu akan terluka.
"Huwaa mamaa! papa, onii-chan, Arashi hilang!" Hanami menangis di dalam pelukan sang ibu.
"Kenapa? coba ceritakan pada mama." Sakura hanya bisa mengusap kepala anaknya pelan, berusaha menenangkan anaknya itu.
"Huwaaa aku tidak tahu!"
Hanami terus menangis, sementara semua orang di sana sudah mulai merasa tenang, keberadaan sang ibu benar-benar menjadi penyelamat mereka semua.
Syut..
"Tsuma, Hanami!"
"Naruto-sama?"
Semua orang terkejut dengan keberadaan Naruto, bukankah seharusnya orang itu sudah berada di menara hokage, apa yang orang itu lakukan di sini?
"Hanami?"
"Anata, apa yang terjadi? kenapa kalian masih di sini?"
"Ah, ceritanya panjang, tapi sebelumnya apa yang terjadi di sini?"
Sakura tak menjawab, bukan kesal karena pertanyaannya tak dijawab, melainkan keadaan Hanami lebih penting sekarang.
Sakura tak ingin anaknya merasa bersalah akibat kekacauan yang terjadi, cukup, ini seharusnya menjadi hari yang bahagia bagi keluarganya.
'Aku benarkan?'
'Jadi..'
"Ini semua perbuatan Hanami?"
Shina meneguk ludahnya sendiri, kali ini dia bersumpah untuk tak lagi membuat adiknya marah atau menangis, cukup tanah bumi lah yabg jadi korban.
'Sebenarnya aku ini ayah dari tiga anak manusia atau tiga anak monster?'
"Akhirnya kau datang!"
Shikamaru nampak lega melihat kedatangan keluarga Naruto, walaupun dia sudah memikirkan solusi lain demi acara penobatan tetap berlangsung, kedatangan Naruto benar-benar menjadi keajaiban sekarang.
"Ah, maaf-maaf aku telat ya." Naruto merasa bersalah, acara yang seharusnya berjalan lancar sekarang menjadi acara yang dipenuhi kekacauan.
"Dari mana saja kau? apa yang terjadi? bukannya ini hari penting bagimu?" Shikamaru melontarkan banyak pertanyaan dalam satu kesempatan.
"Yah, ceritanya panjang.."
"Huh? apa yang lebih-"
"Sudahlah Shikamaru, Naruto cepat siap-siap acaranya akan segera ku mulai," Kakashi mengehentikan obrolan yang tak ada gunanya itu, keberlangsungan acara lebih penting sekarang.
"Ah, ya, Sakura-"
"Kau menunggu ini kan?"
Naruto terdiam, walaupun mantel jubah itu pernah dia pakai tempo hari, tetap saja rasanya dia masih tak percaya akan tiba hari dimana dia akan memakainya di depan banyak orang.
Tentunya ditambah dengan menyandang gelar yang tak lagi sama sebagai seorang shinobi Konoha, melainkan seorang Hokage.
Naruto benar-benar gugup sekarang, Hari yang ia nantikan telah tiba, Kakashi sudah membuka acara penobatan dan dia harus sudah siap untuk muncul di hadapan seluruh penduduk desa setelah aba-aba dari Kakashi tiba.
Sakura juga sadar dengan kegugupan Naruto, tapi apalagi yang bisa ia lakukan sekarang, jubah mantel telah ia berikan, dan ia harus memasang sebuah senyuman demi sang suami yang hendak menggapai impiannya.
Naruto memakainya, mantel jubah dengan corak api khas desa Konoha bertuliskan 'Nanadaime Hokage'
Tapi karena kegugupannya jubah itu tak terpasang dengan benar, bahkan hampir terlepas karena hembusan angin jika refleks Sakura tak cepat menahan jubah itu tetap berada di tubuh Naruto.
"Anata, kau harus mengancingkannya." Sakura merapihkan mantel jubah itu sambil tersenyum kecil.
"Haha, maaf Tsuma kau tau kan perasaanku sekarang."
"Tidak perlu gugup, kau pasti bisa melakukannya sekarang, kau sudah berjuang demi hari ini." Sakura memancing rasa percaya diri sang suami yang sepertinya hilang tertiup angin tadi.
"Tapi-"
"Tidak Naruto, kau sudah berjuang untuk ini semua, tidak ada kata mundur sekarang, ingatlah semua orang juga berusaha agar hari ini terjadi." Sakura memandang kearah Shikamaru lalu pada Kakashi yang tengah berpidato.
"Jadi jangan kecewakan semuanya oke? jika kau mundur sekarang, aku lah yang akan pertama kali memukulmu."
Naruto langsung menegak ludahnya sendiri, entah kenapa candaan Sakura sepertinya akan terasa nyata jika dia benar-benar mundur sekarang.
"Ingatlah, kau adalah ayah dari tiga anak yang sangat hebat, menurutku itu adalah syarat yang cukup bagimu untuk menyandang gelar ini sekarang." Sakura kembali serius.
'Dan tentunya seorang pria hebat yang berhasil mengubah semua orang, termasuk diriku, Anata, aku sungguh bersyukur memiliki suami sepertimu, jadi kali ini aku ingin kebahagiaanmu lah yang menjadi prioritasku.'
Perkataan itu hanya bisa terlintas di pikiran Sakura, pendapatnya sekarang tak terlalu penting, yang terpenting di sini adalah impian Naruto.
"Naruto kau sudah siap?" bisik Shikamaru.
"Anata, panggilanmu sudah tiba."
"Ya, terima kasih Tsuma, atas semuanya."
"Tidak, berterima kasihlah pada dirimu sendiri, jerih payahmu lah yang pantas mendapatkan itu semua."
"Ya, aku pergi dulu Sakura-chan."
Dengan begitu, Naruto melenggang pergi menghampiri tempat Kakashi berada, menampilkan sebuah peristiwa pertanda seorang hokage baru akan memulai eranya.
Sebuah perubahan besar.
"Tolong beri sambutan yang hangat dan meriah untuk hokage ketujuh kita-"
"Uzumaki Naruto!"
'Lakukan yang terbaik Naruto, semua orang sudah menunggu.'
Dengan itu sang hokage baru telah dinobatkan, dilepas oleh senyuman dan bulir air mata dari seorang wanita yang sangat mencintainya.
Semua itu diakhiri dengan tepukan yang meriah, semua berbahagia, Naruto tersenyum lembut, dia ada di sini sekarang.
'Ayah, ibu, aku sudah menepati semua janjiku, kan?'
The End.
