Sebelumnya...
.
.
"Mana yang sebenarnya?"
Mereka mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan yang tidak mereka mengerti.
"Apa maksudmu Sasuke-kun?" Tanya Karui.
"Sosok mereka." Ucap Gaara.
Neji melihat Shimura bersaudara bergantian. Lalu memperjelas pertanyaan Sasuke dan menggabungkannya dengan ucapan Gaara.
"Mana sosok mereka yang sebenarnya. Antara mereka yang terlihat kaku, pendiam dan tenang saat bersama orang lain atau mereka yang terlihat ceria, aktif dan hidup saat bersama saudaranya?"
.
.
.
.
.
-oOo-
My Family
Naruto by : Masashi Kishimoto
Story by : Awy77 Andrian
Warning : OOC, Typo(s), AU, Dsb.
Rated : T
Genre : Family, Drama, Romance
Main Pair : Narusaku (slow)
Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut Fanfic, kan?
If you don't like dont'read
Happy reading! :)
-oOo-
.
.
.
.
.
Semua diam mendengar itu.
Tenten menghela napas. "Haahh. Ini membingungkan." Komentarnya memecah keheningan.
"Kurasa saat mereka bersama saudaranyalah sosok mereka yang sebenarnya."
Karui menatap Tenten. "Apa yang membuatmu berpikir begitu, Tenten-chan?"
"Keluarga adalah lingkungan pergaulan pertama setiap orang. Dengan berada di sekitar keluarganya, bukankah sosok mereka yang sebenarnya akan terlihat? Mereka pasti menjadi diri mereka yang sesungguhnya saat berada di sekitar keluarganya." Gadis pirang dengan style ekor kudalah yang menjawab pertanyaan Karui. Yap gadis itu adalah Ino.
Beberapa mengangguk menyetujui ucapan Ino. Karena penjelasan Ino masuk akal.
"Saat ini kita sedang dalam masa-masa remaja. Muda-mudi seperti kita terkadang akan lebih terbuka pada seorang teman dibanding keluarga." Ucap Shino. Beberapa dari mereka juga menyetujui ucapan Shino. Karena memang begitulah realita yang sering terjadi. Sesama teman lebih saling mengetahui dibanding dengan orangtuanya sendiri.
"Saat masa pubertas, sosok teman sebaya kadang lebih di butuhkan daripada keluarga. Tetapi, karena mereka menjauhi pergaulan maka sepertinya mereka tak memiliki teman dekat." Ujar Shizuka
"Benar! Bersama teman akan terasa lebih bebas dan menyenangkan saat berada di masa-masa ini. Semangat masa muda!" Ucap Lee dengan semangat
Fuu bertopang dagu, menghela napas pelan. "Astaga, kenapa aku merasa kita seperti sedang memecahkan misteri?"
"Shikamaru, bagaimana menurutmu?" Tanya Neji pada pemuda berambut bak buah nanas itu.
Orang yang ditanya menguap bosan. "Hoamm. Hah, merepotkan. Keduanya memiliki kemungkinan yang hampir sama besarnya. Tetapi kemungkinan yang pertama lebih besar karena mereka tidak bergaul dengan murid-murid lainnya, dengan kata lain, mereka tidak mempunyai teman yang bisa menjadi tempat berkeluh kesah atau melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama. Dan itu berakibat pada kemungkinan bahwa sosok mereka yang sebenarnya adalah saat mereka bersama saudaranya."
"Kenapa harus repot-repot menjadi sosok yang berbeda saat bersama keluarga dan saat bersama teman?" Tanya pemuda bernama Naruto dengan ekspresi bingung di wajahnya.
"Tidak harus menjadi sosok yang berbeda, sebenarnya." Ujar Gaara
"Eh?" Naruto menatap bingung Gaara, meminta penjelasan.
"Saat memasuki usia remaja dan sedang dalam masa pubertas, teman dan keluarga akan terasa sedikit berbeda." Ujar Gaara.
"Apa maksudmu Gaara? Aku tidak mengerti." Ucap Naruto yang mendapat anggukan persetujuan dari Lee.
"Ah Ittai! Teme! Kenapa kau menginjak kakiku, sialan?!" Sungut pemuda yang memiliki guratan kumis kucing di pipinya itu saat merasakan sakit di kakinya. Dan ia yakin pelakunya adalah pemuda yang ada tepat di depannya, pemuda tampan berkulit putih pucat namun tak sepucat Sai dan bersurai raven. Yang kini sedang memasang ekpresi datar yang sangat menyebalkan bagi korbannya, Naruto.
"Aku ingin mengijak lalat, mana kutahu jika ada kakimu disitu." Jawabnya tanpa rasa bersalah.
Mendengar ucapan Sasuke membuat Naruto geram. Lantas ia berdiri lalu menarik kerah seragam Sasuke. "Bohong! Kakiku ada di bawah meja, pantat ayam! Bagaimana kau bisa melihat lalat dengan meja sebagai penghalang ha!"
Tangan Sasuke berusaha menyingkirkan tangan Naruto dari kerahnya seraya berkata dengan tenang. "Aku tidak sengaja, rambut durian."
"Heh! Tidak sengaja kau bilang?! Apa kau tahu arti dari 'tidak sengaja' ha?!"
Sasuke menunjukkan seringai nakalnya, "Aku lebih pintar darimu. Pertanyaan itu lebih cocok untukmu."
"Kau!-" perkataan Naruto terhenti saat suara Ino terdengar.
"Naruto, Sasuke. Bisakah hentikan pertengkaran tidak berguna kalian?" Ujar Ino dengan senyum 'manis' nya. Aura sebagai seorang Onee-san seakan menguar dari tubuh dan suara Ino.
Naruto melepaskan tangannya dengan kasar. "Cih, Dasar Teme."
"Cih, Dobe."
Yang lainnya hanya diam menjadi penonton. Tanpa ada niatan untuk menjadi penengah diantara Naruto dan Sasuke. Mereka sudah biasa menyaksikan pertengkaran tidak berguna keduanya.
"Kau sengaja menginjak kakinya, Sasuke." Komentar Shikamaru.
"Hn." Jawaban khas Sasuke mendapat tatapan tajam Naruto.
Shikamaru yang tadi memperhatikan Sekitarnya tentu mengetahui apa alasan Sasuke menginjak kaki Naruto.
Lalu Shikamaru berkata. "Kau mengenalnya lebih lama dibanding kami. Aku yakin kau tahu jika Naruto sosok yang sederhana dan murni."
Sasuke mendengus. "Tidak. Dia lamban dan bodoh." Sangkalnya, enggan mengakui jika perkataan pemuda nanas itu benar.
Ya, Sasuke enggan mengakui jika sahabat pirangnya itu terlalu polos untuk anak seusianya. Sahabat pirangnya itu tumbuh menjadi seperti pemuda yang murni, sosok yang tidak terpengaruh oleh kejamnya banyak hal di dunia ini. Pemikirannya yang simple nan polos atau yang lebih suka ia sebut bodoh dan lamban itu kadang membuatnya gemas cenderung kesal.
"Merepotkan." Shikamaru mengucapkan kata andalannya lalu membenamkan kepalanya diantara kedua tangannya di atas meja. Enggan membahas Sasuke lebih jauh.
Tentu Shikamaru tahu jika Sasuke menginjak kaki Naruto karena ia kesal. Kenapa si pirang itu tidak tahu bahwa saat memasuki masa pubertas, kebanyakan dan rata-rata para remaja cenderung lebih banyak menghabiskan waktunya dan lebih merasa nyaman saat berada di sekitar teman-temannya dibanding keluarganya. Ada banyak penyebannya, bisa karena pencarian jati diri, hormon remaja yang meluap-luap, pembuktian diri sebagai yang terkeren atau yang terbaik ataupun karena karena ada hal-hal yang tidak bisa di katakan pada keluarganya dan hanya bisa dikatakan dan dimengerti oleh orang yang sebaya.
Seseorang memang tidak harus berubah saat bersama teman dan keluarga, tetapi, ada hal yang hanya bisa dengan nyaman dikatakan pada teman dan ada hal yang hanya boleh di ketahui oleh anggota keluarga. Ada orang yang merasa bebas saat berada diantara temannya dan ada juga orang yang merasa lebih nyaman berada di anatar keluarganya. Itulah kenapa, kadang orang terlihat seperti sosok yang berbeda saat bersama keluarganya dan saat bersama temannya.
Merurut Shikamaru, harusnya Sasuke mengerti jika Naruto adalah sosok yang transparan. Dalam artian benar-benar sama saat berada bersama teman dan keluarganya. Jadi wajar jika ia merasa bingung dengan pembahasan tadi.
"Teman-teman," Suara Chouji si siswa tambun terdengar. Yang lainnya menatapnya dan menunggu kelanjutan ucapannya. Lalu si tambun dengan tato berbentuk spiral di kedua pipinya itu melanjutkan ucapannya.
"Terlepas dari yang mana sosok mereka sebenarnya, tidakkah kalian juga penasaran dengan alasan kenapa mereka tidak mau berbaur dengan orang lain?" Ucap Chouji.
Karui menghela napas seraya mengangkat kedua tangannya, seperti tanda menyerah, "Cukup, teman-teman."
"Aku merasa semakin kita membahas mereka, semakin aku merasa bingung, ya ampun." Keluh Karui kemudian.
"Benar aku setuju. Dan setelah ini ujian kami selanjutnya adalah matematika. Jadi tolong jangan buat kepalaku berasap sebelum pelajaran laknat itu selesai." Ucap Fuu menyetujui perkataan Karui, sepupunya. Membahas Shimura bersaudara itu sudah seperti membahas teka-teki bagi saudara sepupu ini. Dan setelah itu ia akan mengikuti pelajaran yang tidak disukainnya. Oh! Demi spatula kesayangan Spongebob! Ia ingin hari pertama pekan ini dimulai dengan hal-hal yang menyenangkan! Astaga.
Tertawa, terkekeh dan tersenyum geli adalah reaksi yang diberikam teman-temannya saat mendengar ucapan Fuu.
Ino tertawa kecil, lalu berkata "Baiklah Karui-chan, Fuu-chan. Pembicaraan ini berhenti disini."
Setelah ucapan Ino mereka benar-benar berhenti membahas Shimura bersaudara dan kini kembali berbincang ringan. Meski hanya beberapa saja yang aktif berbicara.
Tak lama terdengar dering ponsel Shizuka berbunyi. "Moshi-moshi..." Shizuka menjawab panggilan di ponselnya.
Shizuka terlihat mengernyitkan dahinya seraya melihat kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah. Aku akan datang sekarang." Ucap Shizuka.
Respon yang dilakukan Shizuka menarik perhatian yang lainnya.
"Siapa yang menghubungimu, Shizuka-chan? Ada apa masalah?" Tanya Ino.
Shizuka menjawab sembari mulai berdiri dan bersiap pergi. "Wakilku. Dia memintaku datang ke ruang klub, ada sesuatu yang terjadi. Masih ada tujuh menit sebelum waktu istirahat habis, jadi aku akan kesana." Jawab Shizuka kemudian berjalan pergi menuju ruang klub berita.
.
x X x My Family x X x
.
"Kukira Nee-chan tak akan menjemput kami." Ujar gadis bersurai coklat seperti latte di dalam mobil, tepatnya ia sedang duduk di kursi belakang sembari mengunyah biskuit kentang.
"Benar. Kupikir juga begitu." Ujar gadis bersurai lavender yang memiliki rupa yang sama dengannya.
Satu-satunya pria di dalam mobil itu bertanya. "Pekan ini Nee-san mengurus persiapan dan berkas coass, bukan? Apa persiapan coass Nee-san sudah selesai?"
Gadis bersurai merah muda yang mendapat pertanyaan itu, menggeleng kecil sembari tetap fokus pada jalanan di depannya. Tentu sebagai pengemudi kendaraan, fokus pada jalan adalah salah satu hal yang utama, bukan?
"Belum. Hari ini kami mendatangi rumah sakit untuk mengurus berkas dokumen yang diperlukan, dan masih butuh waktu dua sampai tiga hari lagi hingga selesai. Lalu kami mencari rumah yang disewakan untuk dijadikan sebagai kantor rapat dan bimbingan sekaligus sebagai tempat tinggal rekan coass-ku yang lain." Jawab Sakura.
"Sepertinya cukup lama." Komentar gadis dengan surai merah dan memakai kacamata dengan bingkai berwarna hitam.
"Nee-san, sepertinya kita salah jalan. Ini bukan jalan ke arah rumah kita." Komentar gadis bersurai pirang pucat sembari memandang arah luar melalui kaca jendela mobil.
Setelah mendengar ucapan gadis bersurai pirang pucat yaitu Shion, saudaranya yang lain mulai melihat keadaan luar melalui kaca.
Kiba, satu-satunya lelaki di dalam mobil itu sekaligus orang yang duduk di depan dengan cepat mengarahkan pandangannya ke depan guna memastikan ucapan saudarinya. Dan seketika itu juga dahinya mengernyit. "Shion-chan benar." Ucapnya kemudian. Yang disambut dengan anggukan saudaranya yang lain di belakang mereka.
Sepertinya Kiba tak menyadari jika kakaknya menyetir mobil bukan ke arah kediaman Shimura meski ia duduk di kursi depan, di samping pengemudi yang notabene kakak perempuan pertamanya.
"Kita tidak salah jalan."
Ucapan Sakura membuat bingung adik-adiknya.
Sebelum adiknya sempat mengatakan sesuatu ia lalu berkata. "Hubungi Kaa-san, beritahu jika kalian bersamaku dan akan pulang terlambat."
Sebuah mobil putih melaju menuju sebuah rumah sakit.
"Nee-chan, kenapa kita ke rumah sakit?" Tanya Hinata
"Apakah Nee-san sakit?" Lanjut Hanabi.
"Pemeriksaan. Tidak." Jawab Sakura singkat sembari menepikan mobilnya di dekat gerbang masuk rumah sakit.
Setelah menghentikan mobilnya, sembari melepas sealtbelt ia berkata. "Aku membuat janji dengan dokter spesialis mata setelah mengurus dokumen coass di rumah sakit. Pemeriksaan mata ini untuk Karin." Setelah itu Sakura meraih tasnya, mengambil dompetnya dari tas itu kemudian mengeluarkan dua buah kartu.
Sambil memberikan kedua kartu kredit itu pada Kiba di sampingnya, Sakura berkata. "Pergilah ke pusat perbelanjaan. Kau bisa membeli apa yang kau mau. Dan berikan satu kartu ini pada Shion." Lalu sakura melihat ke arah kaca di atasnya yang menghadap penumpang belakang. Ia menatap Shion melalui kaca itu. "Belilah seri terbaru buku horormu atau apapun yang kau mau. Itu pengganti oleh-oleh dariku."
Shion yang mendengar itu wajahnya berubah sangat cerah. "Apapun!? Arigatou Nee-san, aku mencintaimu!" Seru Shion yang mendapat balasan senyum kecil dari Sakura.
Lalu Sakura kembali menatap Kiba. "Jangan pulang sebelum aku datang. Aku dan Karin akan menyusul. Ayo Karin."
Tangan Sakura lalu bergerak membuka pintu mobil tetapi terhenti saat suara Hanabi terdengar.
"Bagaimana dengan kami?" Tanya Hanabi yang pertanyaannya di angguki Hinata. Jika untuk oleh-oleh, maka mereka berdua sudah mendapat oleh-oleh spesial dari Sakura.
"Tentu bersenang-senang bersama Kiba-nii kalian." Jawab Sakura ringan. Tentu semua tak meragukan jika si kembar adalah kesayangan Sakura. Saat mereka berdua mendapat oleh-oleh spesial, saudaranya yang lain tidak dapat. Dan saat saudaranya yang lain membeli sesuatu sebagai pengganti oleh-oleh, mereka berdua juga tetap bisa membeli sesuatu yang mereka inginkan. Sungguh beruntung.
"Arigatou Nee-chan!" Seru si kembar bersamaan.
Sakura dan Karin turun dari mobil. Mobil Sakura lalu dikendarai oleh Kiba menuju pusat perbelanjaan sedangakan ia dan Karin berjalan memasuki area rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan mata pada Karin.
oOo
Dua orang perempuan turun dari sebuah taksi dan berjalan memasuki area pusat perbelanjaan. Mereka adalah Sakura dan Karin.
"Hubungi saudaramu." Pinta gadis berambut merah muda pada gadis di sampingnya.
Gadis bersurai merah yang mendengar itu mengangguk. "Baik."
Mereka berdua berjalan berdampingan di dalam mall besar itu dengan Karin yang berjalan sembari menghubungi saudaranya untuk mengetahui dimana keberadaan mereka.
Setelah mengetahui dimana saudaranya, Karin memberi tahu Sakura.
"Nee-san, Shion ada di toko alat tulis." Ucap Karin memberitahu dimana Shion berada.
"Apa kita akan menyusulnya?" Tanya Karin. "Ya." Jawab Sakura singkat.
Di depan toko perlengkapan alat tulis, seorang gadis remaja berdiri sembari membawa dua tas belanjanya.
Netra ungu pucatnya tampak bersemangat saat menangkap dua sosok yang berjalan ke arahnya. Gadis dengan rambut pirang pucat berponi itu melambaikan tangannya pada dua sosok yang menjadi kakak perempuannya itu.
"Kau sudah selesai?" Tanya Karin pada Shion.
Shion mengangguk mengiyakan. "Ya. Aku sudah ke toko buku dan membeli beberapa buku. Dan sekarang aku sudah selesai membeli perlengkapan belajar kita yang baru." Ucap Shion sembari mengangkat satu tangannya yang membawa dua tas belanja.
"Dimana mereka bertiga?" Tanya Karin yang mengacu pada Kiba, Hinata dan Hanabi.
"Aku sudah menghubungi mereka dan meminta mereka untuk datang kesini." Ujar Shion.
"Ah itu mereka!" Seru Shion saat matanya melihat tiga sosok yang di kenalnya datang dari arah yang sama dengan datangnya Sakura dan Karin tadi.
Gadis kembar mempercepat langkahnya sedangkan Kiba menyusul di belakangnya dengan membawa tiga tas belanja.
Setelah berada di dekat kakaknya, si kembar berkata.
"Nee-chan-" Ujar Hinata.
"Kami lapar." Sambung Hanabi.
Mengikuti saran Karin kini mereka berenam sedang duduk menunggu pesanan datang di sebuah restoran Indonesia yang ada di lantai empat.
"Bagaimana ujian kalian?" Tanya Sakura.
Mendengar pertanyaan Sakura membuat Kiba mendengus. "Menyebalkan."
Sakura lantas menatap yang tepat duduk di depannya. Pemuda bertato segitiga terbalik di pipi itu kini sedang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari memejamkan matanya.
"Memangnya ada apa dengan ujianmu, Kiba-nii?" Tanya Hanabi penasaran.
Kiba membuka matanya dan menatap Hanabi yang duduk di samping kanan Sakura dengan tatapan malas.
"Pengawas saat ujian matematika hari ini mencurigaiku berbuat curang hanya karena aku mengambil alat tulisku yang jatuh di dekat siswa lain." Jelas Kiba.
Kiba mendengus lalu menambahkan. "Dia mengira aku mencontek jawaban murid itu, Cih."
"Benarkah itu, Kiba-nii? Lalu bagaimana dengan ujianmu? Apa pengawas itu menyita kertasmu?" Tanya Hinata yang duduk di samping kiri Sakura.
Mereka duduk berhadapan. Tiga di sisi Sakura dan tiga di sisi Kiba. Sakura bersama Hinata dan Hanabi sedangkan Kiba bersama Karin dan Shion.
"Untungnya tidak. Tetapi dia memeriksa pakaianku, laci meja dan bahkan membandingkan kertas ujianku dengan siswa itu. Heh, menyebalkan." Jawab Kiba.
Dengan sebelah tangan yang menyangga wajahnya, Karin berkata. "Mungkin saja pengawas itu benar. Kau mungkin benar-benar ingin mencontek dan berniat melihat jawaban murid lain dengan 'alat tulis jatuh' sebagai trik."
"Hei! Aku tak serendah itu." Sanggah Kiba dengan kesal sembari menatap Karin di samping kanannya.
'Mulai lagi'. Batin yang lainnya sembari memutar bola mata bosan.
"Kau yakin? Aku tahu kau tidak terlalu baik di pelajaran matematika." Ucap Karin dengan wajah mengejek.
"Tentu saja aku yakin. Kau tahu ungkapan terkenal dalam perang 'lebih baik mati secara terhormat dibanding menang sebagai penghianat', hmm?" Tanya Kiba.
Karin menaikkan sebelah alisnya sembari menatap adik lelakinya itu. "Dalam kasusku maka itu berarti bahwa aku memilih, lebih baik mendapat nilai kecil hasil sendiri dibanding mendapat nilai besar dari hasil mencontek." Ucap Kiba dengan percaya diri. Ucapan Kiba membuat Sakura tersenyum tipis.
Setelah ucapan Kiba, seorang pelayan datang membawa nampan dengan enam gelas di atasnya.
"Silahkan minumannya." Dengan senyum sopan si pelayan memindahkan gelas dari nampan ke atas meja. "Makanannya akan menyusul, mohon menunggu sebentar lagi." Ujar si pelayan itu. Mereka mengangguk mengiyakan dan berucap terimakasih pada pelayan wanita itu.
"Besok ujian terakhir, bukan?" Tanya Sakura. Ujian kenaikan kelas sudah dimulai sejak senin pekan lalu dan akan selesai besok pada hari selasa.
Pekan lalu ujian diadakan sampai hari jum'at. Pada hari jum'at adalah ujian praktek dan pengambilan nilai klub. Karena ujian pada hari jum'at menguras tenaga para murid maka hari sabtu diliburkan, dan itu juga menjadi waktu tambahan untuk para murid belajar karena pada hari senin dan selasa mereka akan kembali melakukan ujian yang didominasi pelajaran eksak. Dan karena libur itulah pekan lalu mereka bisa berkemah selama dua hari, pada hari sabtu dan minggu.
"Benar."
"Besok hari terakhir ujian lalu hari rabu sampai jum'at, untuk remedial nilai perbaikan ujian dan menyelesaikan kegiatan klub. Lalu hari sabtu adalah pembagian rapor nilai dan pengumuman kenaikan kelas sekaligus ucapan kepala sekolah dan guru-guru sebelum libur kenaikan kelas sekaligus liburan musim semi." Ujar Karin dengan cermat.
"Setelahnya kami akan berlibur ke pantai! Yeyyy!!" Seru Hanabi melengkapi perhitungan Karin. Yang diiringi wajah gembira dan tepukan tangan Hinata.
"Bagaimana dengan kalian?" Ucap Sakura sembari menatap Karin dan Shion bergantian.
Karin mengangguk. "Berjalan lancar. Kurasa aku akan mendapat nilai besar." Karin menjawab sembari melirik Kiba dengan senyum bangganya.
Pemuda yang ditatap mendengus. "Kenapa menatapku seperti itu? Nilaiku juga tidak akan begitu buruk." Kiba berkata dengan sinis.
Tak mau mendengar adu mulut Kiba dan Karin. Sakura menatap Shion, bertanya melalui matanya.
"Cukup bagus. Aku hanya kurang mengerti di beberapa soal saja." Ucap Shion. Sakura merespon dengan berkata 'bagus'.
"Hinata-chan, Hanabi-chan. Bagaimana dengan kalian?" Tanya Kiba sembari menatap si kembar yang duduk di kedua sisi Sakura secara bergantian.
"Tidak begitu bagus." Keluh Hanabi yang membuatnya menarik perhatian saudaranya yang lain. "Ada apa dengan ujianmu?" Tanya Shion.
"Aku sama sekali tidak mengerti tiga pertanyaan di ujian matematika lalu aku mengosongkannya. Saat mengumpulkannya ke pengawas, pengawas itu memarahiku dan mengomel cukup lama di depan kelas, ughh, itu memalukan." Ucap Hanabi. Lalu ia melanjutkan "Setelahnya dia menyuruhku untuk tetap mengisinya meski aku tak tahu jawabannya. Astaga, itu menyebalkan"
Melihat wajah manyun Hanabi, Sakura menepuk sayang kepala Hanabi, mengacak sedikit rambutnya sembari berkata. "Kau sudah berusaha, itu bagus."
Karin menatap Hinata. "Hinata-chan bagaimana denganmu?"
Dengan senyuman di wajahnya dan semburat merah muda di kedua pipinya ia menjawab. "Umm, itu, berjalan lancar. Aku termasuk murid yang menyelesaikan ujian dengan cepat."
"Waa, itu bagus." Ucap Kiba bangga pada adik kembarnya itu. Yang di setujui saudaranya yang lain. Membuat semburat merah muda tipis di pipi Hinata kian terlihat.
Percakapan mereka terhenti saat dua pelayan datang membawa pesanan mereka. Keenam orang itu makan dengan tak lupa diawali dengan ucapakan 'ittadakimassu' terlebih dahulu.
"Hm hm. Nasi goreng kambing ternyata enak." Ujar Shion.
"Milikku juga enak." Kata Hanabi. Mereka berdua memesan nasi goreng. Shion memesan nasi goreng kambing sedangkan Hanabi nasi goreng telur sosis dengan menu tambahan ayam goreng crisspy.
Melihat makanan yang di santap Kiba, membuat Hanabi bertanya. "Kiba-nii, visual makananmu terlihat menggugah selera." Kiba menatapnya sekilas lalu kembali fokus pada makannya, tak lupa ia menjawab.
"Lain kali pesanlah Kepiting Soka sepertiku. Rasanya lezat dan itu sudah terlihat dari tampilannya, bukan?" Ucap Kiba. Salah satu makanan khas Kalimantan Utara yang berbahan dasar kepiting dengan bumbu yang terlihat merah kental menggoda nan menggugah selera menjadi makanan pilihan Kiba kali ini.
Setelah mengunyah beberapa kali lalu meminum jus mangganya, Shion menatap makanan yang di pesan Sakura. "Nee-san, apa itu ikan mentah?"
Sakura yang sedang menikmati makanannya lantas menatap Shion lalu kembali melihat makanannya seraya menjawab setelah menelan makanan dimulutnya.
"Ya. Ini makanan khas Indonesia Timur tepatnya Maluku Utara. Berbahan dasar dari ikan tuna mentah, nama makanan ini adalah Gohu." Jelas Sakura. "Mau mencicipi?" Tanya Sakura sembari menyendok hidangan bernama Gohu itu.
Shion mengangguk lalu membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Sakura. Shion mengunyah sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanda ia menyukai makanan itu.
"Karin-nee, aku ingin ayam milikmu." Ujar Hanabi.
Karin yang sedang meminum jus Stoberinya menatapnya sesaat lalu ia segera memotong Ayam Taliwang miliknya dan memberikannya pada Hanabi. Meski Hanabi sudah memesan nasi goreng telur sosis dan memesan menu tambahan berupa ayam goreng, ia masih tergoda dengan ayam pesanan Karin.
"Kau menyukainya?" Tanya Karin pada Hanabi yang sedang memakan Ayam Taliwang darinya.
"Em, iya. Ini enak." Jawab Hanabi sembari memakan ayam dari kakak perempuannya yang berkacamata itu.
"Nee-san, dari daerah Indonesia mana menu Ayam Taliwang ini?" Tanya Karin penasaran.
Sakura menatap Karin lalu melihat ayam pesanan adikknya itu. "Ayam Taliwang adalah hidangan dari daerah Nusa Tenggara Barat." Jawab Sakura.
"Hinata-chan, sepertinya kau sangat menyukai makanan berkuah itu. Kurasa ini sudah ketiga kalinya kau memesan itu." Ucap Kiba sembari tangannya meraih minumannya.
"Eh?" Hinata sontak mendongakkan kepalanya menatap Kiba.
Ia lalu berkata. "Ya, aku suka makanan ini. Dan makanan bernama Soto Banjar ini yang kutahu berasal dari daerah bernama Banjarmasih, Kalimantan Selatan. Apa aku benar, Nee-chan?" Ucap Hinata. Sembari menatap Sakura.
Sakura mengangguk kecil guna membenarkan ucapan Hinata.
Ini ketiga kalinya Hinata memesan hidangan bernama soto banjar. makanan yang terbuat dari bahan utama ayam dan kuah kaldu dengan berbagai bumbu rempah-rempah yang menghasilkan aroma dan rasa yang lezat ditambah dengan telur rebus dan sayuran hijau diatasnya juga taburan bawang goreng, membuat hidangan ini juga memiliki tampilan yang bagus. Rasa dan aroma yang nikmat dari Soto Banjar telah memikat lidah gadis bersurai lavender ini.
Sekarang keenam orang itu sudah selesai makan dan kini sedang menikmati buah yang mereka pesan sebagai membersih mulut.
Sembari mengambil potongan nanas di piring,Hanabi bertanya. "Shion-nee, apa yang tadi kau beli?"
"Aku membeli tiga novel horor dan dua komik untukku dan lima set lengkap peralatan menulis untuk kita berlima. Bagaimana dengan kalian?" Jawab sekaligus tanya Shion.
"Ah! Kami tadi bermain di area game lalu membeli satu jam weker, empat botol kuteks, dua botol sunblock dan dua pelindung ponsel karakter. Lalu kami juga membeli corndog dan ice cream." Jawab Hanabi dengan semangat.
"Bagaimana dengan Kiba-nii? Apa yang dia beli?" Tanya Shion
"Kiba-nii membeli satu kacamata hitam dan empat baju kaus, dua untuknya dan dua untuk Shisui-nii." Ucap Hanabi.
"Ah, Karin-nee, apa yang kau bawa di tas kecil itu?" Tanya Shion pada Karin. Ia sudah melihat Karin membawa itu sewaktu mereka bertemu di depan toko alat tulis.
"Eh, oh ini." Karin mengangkat tas kecil yang ada di samping tangannya. "Ini adalah kacamata baru, Nee-san yang membelikanku." Jawabnya dengan senyum senang di bibirnya.
"Sepertinya Karin-nee sangat senang." Komentar Hanabi. Yang didukung dengan anggukan bersemangat Hinata.
"Kacamata ini bentuknya berbeda dan bingkainya berwarna merah. Aku sangat menyukainya." Jelas Karin dengan senyum yang masih setia melekat di bibirnya.
Kiba mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan kartu yang Sakura berikan padanya, begitu juga dengan Shion. Mereka berdua mengembalikan kartu itu pada Sakura.
"Terimakasih Nee-san/Nee-chan." Ucap mereka bersamaan pada Sakura. Sakura menanggapinya dengan gumaman.
Seusai menghabiskan buah dan minuman masing-masing, lalu memesan beberapa makanan lagi untuk dibawa pulang, kini mereka sudah dalam perjalanan pulang.
"Kiba-nii, apa kau tahu sesuatu mengenai berita tentang beberapa murid di sekolah hari ini?" Tanya Shion.
Kiba menggeleng sesaat. "Hee? Berita apa?"
"Ada gosip yang beredar tentang beberapa murid yang sedang mengalami hal buruk." Ucap Karin.
Shion mendecih mendengar ucapan Karin. Lalu berkata, "Jangan kau perhalus Karin-nee."
Dengan nada sinis Shion melanjutkan. "Itu bukan mengalami hal buruk tapi terungkapnya kelakuan buruk."
"Ah! Aku juga mendengar tentang itu. Di kelasku, para murid terutama mereka yang senang bergosip membahasnya dengan semangat sebelum dan sesudah jam ujian hingga membuatku risih." Keluh Hanabi.
"Bisakah kalian perjelas berita apa itu? Aku hanya tahu ada sesuatu yang sedang hangat di perbincangkan para murid hari ini. Tapi aku tidak tahu secara jelas apa itu. Jadi ada yang bisa menjelaskan?" Ucap Kiba.
Karin menghela napas sesaat. "Ada gosip tentang terungkapnya hal buruk yang di lakukan oleh beberapa siswa dan ada orangtua mereka juga yang terlibat." Jelas Karin
"Hal buruk seperti apa?" Tanya Kiba sembari memejamkan matanya.
"Manipulasi nilai," Ucap Karin.
"Penyuapan," Ujar Hanabi
"Kasus kecelakaan." Ucap Hinata dengan suara pelan.
"Kecurangan dalam ujian." Ujar Shion dengan nada sinis.
"Dan... Tindakan Bullying." Ucap Karin seraya menatap keluar jendela.
Kiba lantas membuka matanya, terkejut mendengar apa yang dikatakan saudari-saudarinya. Dirinya menyadari dan tahu jika ada berita yang sedang hangat diperbincangkan di sekolah, tapi ia tak peduli dan itu bukan urusannya. Hal itu membuatnya tak mencari tahu ataupun mendengarkan dengan jelas perbincangan siswa lain, karena itulah ia tak tahu jika beritanya tentang hal buruk yang seperti itu.
Di saat fokus Karin, Shion, dan si kembar sedang tenggelam dalam gosip yang ada di sekolah, dan Kiba yang terkejut dengan apa yang dikatakan para saudarinya. Ada si pengemudi bersurai merah muda yang sedang mendengarkan perbincangan adik-adiknya, kini diam-diam sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah seringai.
Ap-apa!!??
Sebanyak itu gosip kasusnya?
"Sebanyak itu? Apakah semua gosip itu sudah terbukti benar?" Tanya Kiba.
Dahi kiba mengernyit. "Ah tunggu? Darimana kalian tahu banyak tentang gosip itu? Dan kau Hinata-chan, kau bahkan tahu tentang gosip itu?" Lanjut Kiba.
"Ak-aku membaca sebuah kertas yang tertempel di dinding depan kelasku, dari sana aku mengetahuinya, Kiba-nii." Jawab Hinata. Setiap kelas memiliki area untuk menempelkan kertas berita, pengumuman, pemberitahuan dan mading di depan kelas. Saat izin ke tolilet pada jam ujian, ia membaca kertas yang menjadi objek kerumunan para murid, dan mana ia tahu jika ada banyak berita tentang gosip yang sedang hangat diperbincangan disana.
"Entahlah, belum ada bukti tentang itu. Hanya saja meski gosip itu belum dijadikan berita secara resmi oleh klub berita dan belum tertempel di area mading utama, gosip itu sudah menyebar luas. Jadi jika itu hanya omong kosong, kurasa siapapun yang menyebarkan gosip itu, dia sudah keterlaluan. " Jawab Shion santai.
Hanabi menggangguk menyetujui. "Iya aku setuju dengan Shion-nee. Tapi, bagaimana jika gosip itu ternyata benar?"
"Jika gosip itu benar, maka siapapun dia yang ada dibalik semua ini, dia hebat." Ucap Karin.
"Eh, 'Dia'? Apa kau berasumsi jika hanya ada satu orang yang ada dibalik hal ini, Karin-nee?" Tanya Kiba.
Karin mengangguk. "Ada lima kasus dalam gosip itu dan semua itu muncul disaat yang bersamaan. Akan menjadi takdir yang terlalu 'cantik' jika kelima kasus itu terungkap disaat bersamaan karena ulah dari lima atau tujuh orang yang berbeda."
"Jika lebih dari satu orang, kenapa kau berpikir jika itu lima atau tujuh orang?" Tanya Kiba penasaran.
"Karena ada lima kasus berbeda." Ujar Hanabi.
"Dan ada tujuh orang murid yang terlibat di dalamnya." Lanjut Hinata.
.
x X x My Family x X x
.
"Woaaa!!! bayi-bayi rusa itu imut sekali." Seru pemuda pirang dengan tiga guratan seperti kumis kucing di kedua pipinya. Matanya berbinar gemas melihat bayi-bayi rusa di kandang khusus itu.
"Kau benar Naruto-kun! Mereka sangat menggemaskan, aku sangat terharu. Semoga mereka tumbuh dengan baik." Ujar Lee. Pemuda bersurai hitam mengkilap yang terlihat seperti mangkuk terbalik itu berkata sembari tanggannya saling menggenggan dengan mata bulatnya yang berderai airmata haru. Oh! Kami-sama!
Mereka yang melihat tingkah berlebihan Lee hanya memandang bosan padanya.
"Ada berapa bayi rusa yang lahir, Shikamaru?" Tanya Neji.
"Ada enam." Jawab Shikamaru.
Kini Naruto dan kawan-kawan sedang ada di penangkaran rusa keluarga Nara. Pekan lalu beberapa induk rusa melahirkan dan hari ini mereka datang untuk mengucapkan selamat sekaligus melihat bayi-bayi rusa itu.
"Teman-teman! Kemarilah."
Para pemuda yang sedang melihat-lihat bayi rusa itu menoleh kebelakang, melihat si gadis bersurai hijau yang memanggil mereka.
Kini mereka sudah ada di Gazebo dengan ukuran yang cukup besar di bagian pinggir. Menikmati makanan yang mereka beli sebelum kesini. Lalu di siapkan oleh anak perempuan.
Selesai makan, mereka kini bersantai-santai mengelilingi area sekitar sembari melihat rusa yang berkeliaran terutama bayi-bayi rusa yang baru lahir di kandang khusus itu.
Sembari menjauhi bayi-bayi rusa itu, Shizuka berkata "Sayang sekali mereka berempat tidak bisa datang, mereka tidak melihat rusa-rusa kecil yang menggemaskan itu."
Karui disampingnya menyetujui. "Ya. Benar, sayang sekali."
Empat orang itu adalah Sai, Shino, Gaara dan Tenten yang tidak bisa datang bersama mereka. Sayang sekali.
"Hei Shikamaru-kun, apa penangkaran rusa ini terhubung langsung dengan Hutan Nara di belakang sana?" Tanya Fuu penasaran.
Shikamaru melihat ke arah belakang penangkaran rusa, dimana Hutan Nara berada, "Tidak. Ada sungai kecil sebagai pemisah dengan sebuah jembatan yang menjadi penghubungnya."
"Benarkah?"
"Hmm."
"Jika kalian mau, kalian bisa kesana untuk sekedar melihat-lihat."
Mendengar ucapan Shikamaru, dahi Shizuka mengernyit. "Apa disana tidak berbahaya?" Tanyanya.
"Ada petugas disana. Selama kalian mematuhi pertaturan yang ada dan tidak melakukan kesalahan, kalian aman." Ujar Ino.
"Kau pernah kesana Ino-chan?"
Selama datang ke sini, mereka hanya datang ke area penangkaran rusa. Mereka hanya melihat rusa jinak yang berkeliaran di area penangkaran. Juga melihat kandang-kandang rusa untuk rusa yang baru lahir, rusa yang sakit dan rusa-rusa lainnya.
Mereka belum pernah memasuki area Hutan Nara yang ada di belakang Penangkaran rusa, tempat mereka berada saat ini.
Ino mengangguk. "Ya."
"Aku, Shikamaru dan Chouji sering datang ke sana untuk sekedar melihat-lihat, ikut Yoshino-obasan melakukan pemeriksaan, ataupun hanya sekedar bosan dan ingin mencari udara segar." Jelas Ino.
Chouji ikut menggangguk lalu berkata. "Kami juga pernah berkemah disana." Ucapnya.
"Waaa!! pasti menyenangkan." Ucap Karui yang disetujui oleh Fuu
Tak jauh dari Shikamaru, Fuu, Ino, Shizuka dan Karui juga Chouji. Ada Naruto dan Sasuke dan Neji yang sedang mendekati rusa-rusa muda, berusaha berinteraksi dengan mereka. Sedangkan Lee, sedang berlari melarikan diri karena dikejar oleh dua rusa kecil yang sangat aktif.
"Kenapa rusa-rusa itu menjauhiku." Keluh pemuda pirang itu.
Pemuda bernama Naruto itu sudah berkali-kali mencoba mendekati rusa-rusa itu, tetapi rusa-rusa itu malah menghindarinya dan bahkan menjauhinya. Bahkan sudah ia goda dengan makanan di tangannya, namun hewan berkaki empat itu tidak juga mendekat.
Sasuke yang sedang dikerumuni oleh rusa menatap Naruto mengejek. "Lain kali mandilah dulu, Dobe, rusa itu tak mau mendekati orang bau, kau tahu."
"Hei! Aku sudah mandi, dasar Teme!" Sungut Naruto.
"Benarkah? Aku tidak yakin." Ujar Sasuke. Pemuda Uchiha itu lalu berkata. "Lihat ini, Dobe."
Naruto melihat Sasuke yang sedang dikerumuni rusa itu perlahan menjauhi rusa-rusa itu, namun rusa-rusa itu mengikutinya. Lagi-lagi mengerubungi bungsu Uchiha itu. Membuat Naruto melongo melihatnya.
"Te-Teme, ternyata kau bukan hanya populer di kalangan manusia tetapi juga hewan." Ucap Naruto dengan polos.
Sahabatnya yang bersurai raven itu sangat populer di sekolah dan memiliki banyak penggemar terutama murid perempuan. Dan kini para hewanpun mengerubunginya. Sungguh kepopuleran antar makhluk.
Apakah jika tumbuhan bisa bergerak sesuai keinginannya, maka mereka juga akan mengerubunginya? Jika iya, maka sahabatnya itu menjadi idola diantara tiga jenis makhluk hidup di dunia. Wa! Daebak!
Ctak!
Ucapan Naruto membuat siku-siku muncul di dahi Sasuke, dan kini pemuda raven itu sedang menatap kesal Naruto. Sedang yang di tatap tak mengerti apa salahnya.
'Idola para hewan? Yang benar saja!'
Neji yang berada tak jauh dari mereka terkekeh melihat interaksi keduanya. Pemuda berambut coklat panjang itu sedang berjongkok, memberi makan rusa-rusa kecil dengan wortel mentah.
Pemuda bernama lengkap Neji Hyuuga itu mengerti satu hal tentang Sasuke. Bahwa Sasuke itu hanya akan dengan mudah berbicara jika lawan bicarannya adalah pemuda pirang itu, Naruto. Dan apapun yang dikatakan Naruto, semenyebalkan, seburuk atau sekasar apapun itu, maka Sasuke tidak akan pernah benar-benar marah padanya. Sangat berbeda jika orang lain yang mengatakannya. Sekalipun itu dirinya, yang bisa dikatakan sudah cukup lama mengenal keduanya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, Teme?" Tanya Naruto tidak mengerti.
Sasuke hanya mendengus dan memalingkan wajahnya, tak menjawab. 'Bodoh'. Batinnya.
Selesai bermain-main dengan rusa dan mengelilingi penangkaran rusa, sekarang mereka sedang duduk kembali di Gazebo karena hari sudah mulai gelap.
"Ahh aku merasa lumayan lelah, tapi kenapa rusa-rusa kecil itu mengejarku ya?" Ucap Lee.
"Mungkin mereka menyukaimu, Lee." Ucap Karui. "Eh, benarkah?"
"Mungkin saja." Jawab Karui santai sembari memberi sebotol air pada Lee.
"Hei Shikamaru, seberapa luas Hutan Nara dibelakang sana?" Tanya Neji penasaran.
Shikamaru melirik Neji sekilas lalu memandang ke arah Hutan Nara. "Sekitar lima kali lipat dari penangkaran ini."
Ap-apa!!?
Mereka terkejut.
"Apa!? Lima kali lipat!?" Seru Naruto
Penangkaran ini saja sudah cukup luas. Jika itu lima kali lipat maka Hutan itu sangat luas.
"Jika aku sendirian masuk kesana, mungkin aku tidak akan bisa kembali." Ucap Naruto bergidik ngeri.
"Tentu saja kau tidak akan bisa kembali, karena kau tidak pernah membaca peta dengan benar." Ucap Sasuke.
"Diam kau! Heh, Seperti kau pernah kesana saja." Ucap Naruto ketus
Sasuke menatap Naruto angkuh. "Tentu saja aku pernah."
Naruto dan yang lainnya terkejut mendengar jika Sasuke pernah kesana.
Naruto menatap Sasuke curiga, orang yang ditatap hanya balas menatapnya angkuh lalu menunjuk Shikamaru dengan dagunya yang diangkat. Naruto lalu bertanya pada Shikamaru. "Benarkah itu, Shikamaru?" Yang lain juga ikut menatap Shikamaru
Shikamaru mengangguk. "Ya, Sasuke sudah dua kali menjelajah dan berkemah di Hutan Nara bersama kakak dan sepupunya." Jelas pemuda keluarga Nara itu.
Sasuke pernah memasuki hutan Nara bersama kakak dan sepupunya, yaitu Itachi dan Obito.
"Apakah itu menyenangkan Sasuke-kun?" Tanya Shizuka.
Sedangkan Sasuke hanya membalas dengan kata andalannya. "Hn."
Jawaban singkat Sasuke membuat Neji tersenyum tipis.
Benar. Neji memang benar. Jika bukan atas kemauannya sendiri, maka Sasuke hanya akan banyak bicara jika lawan bicaranya adalah Naruto, tidak dengan orang lain. Sekalipun pembicaraan dengan Naruto membahas hal tidak penting dan kekanakan, Sasuke akan dengan sukarela meladeninya.
"Ah, Shizuka-chan, apa ada masalah di klub berita? Bukankah anggota klubmu menghubungimu saat istirahat tadi?" Tanya Ino penasaran.
Shizuka menatap Ino. "Aku tidak tahu ini disebut masalah atau bukan sebenarnya." Ucapnya.
He? Apa maksudnya?
Shizuka menatap teman-temannya satu-persatu. "Apa kalian tahu gosip yang beredar dan banyak di perbincangkan hari ini?" Tanya Shizuka
"Apa maksudmu gosip tentang lima kasus itu?" Tanya Karui
Naruto dan Lee bertanya bersamaan. "Lima kasus apa?"
"Kalian tidak tahu?" Tanya Fuu heran.
Naruto dan Lee menggeleng.
"Aku juga tidak tahu dengan jelas. Hanya tahu jika ada sesuatu yang sedang hangat di perbincangkan di sekolah." Ucap Neji
"Aku tahu itu dari membaca kertas di dinding depan kelas yang menjadi objek kerumunan banyak murid. " Lalu Ino menatap Shikamaru dan Chouji. "Shika, Chou, apa kalian tahu?" Dua pemuda yang ditanya Ino hanya menggeleng. Tanda mereka tidak tahu.
"Baikalah, akan kuberitahu apa yang kutahu." Ucap Ino.
"Hari ini tersebar gosip tentang lima kasus yang dilakukan beberapa murid di sekolah. Lima kasus itu adalah manipulasi nilai, penyuapan, kecelakaan, kecurangan dalam ujian dan tindakan bullying." Jelas Ino.
"Benarkah itu?" Tanya Lee
"Begitulah yang tertulis di kertas itu. Tidak ada yang tahu itu benar atau tidak." Ucap Fuu.
"Apa klub berita akan merilis tentang ini di mading utama besok?" Tanya Neji.
Shizuka menatap Neji sesaat lalu memejamkan mata. "Awalnya aku tidak tahu gosip itu. Lalu saat jam istirahat tadi, anggota klubku memberitahuku dan mereka meminta pendapatku tentang gosip itu. Apakah gosip itu akan kami konfirmasi sebagai berita bohong atau tidak." Ucap Shizuka.
"Lalu apa yang akan kau lakukan, Shizuka-chan?" Tanya Fuu.
"Bukankah kau sempat mengadakan rapat klub sepulang sekolah tadi?" Tanya Karui. "Apa rapat itu membahas gosip ini?" Lanjutnya.
Sepulang sekolah tadi Shizuka mengadakan rapat dengan klub beritanya selama kurang lebih satu jam. Dimana itu membuatnya tidak bisa datang bersamaan dengan yang lain. Ia tadi terlambat datang ke penangkaran rusa.
"Gosip itu sudah diketahui para guru dan mereka memberitahu Wakil Kepala Sekolah. Dua dari lima kasus itu melibatkan pihak sekolah, saat rapat klub, Wakil Kepala Sekolah datang. Dia berpikir jika itu ulah kami, klub berita. Tapi untungnya kami berhasil menyakinkan jika itu bukan ulah kami, tentu saja itu bukan ulah kami." Ucap Shizuka. ''Memangnya mereka pikir darimana anggota klub berita mengetahui hal-hal seperti itu?'. Batin Shizuka
Ia menghela napas lalu berkata. "Kalian tahu? Bahkan orang yang menempelkan kertas yang berisi gosip di setiap dinding kelas tidak diketahui siapa orangnya."
"Jadi apa yang akan dilakukan klub berita besok?" Tanya Neji.
"Wakil kepala sekolah berkata jika besok setelah ujian, mereka akan memanggil siswa yang terlibat juga orangtua mereka untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut." Ujar Shizuka.
Lalu ia melanjutkan. "Jadi kami akan merilis berita tentang tiga hal. Pertama yaitu bahwa kami, klub berita. Tidak terlibat dengan tersebarnya gosip itu." Anggota klub berita bisa menjadi kambing hitam dalam kasus penyebaran gosip itu jika mereka tidak cepat memberitahu bahwa mereka tidak terlibat dan tidak tahu apa-apa. Sebagai ketua klub berita, tentu Shizuka mempunyai tanggung jawab melindungi anggotanya, bukan?
"Kedua, gosip itu belum dipastikan kebenarannya jadi kami menghimbau untuk tidak terlalu tenggelam dalam gosip itu. Ketiga, Karena kebenarannya belum di pastikan, maka di harapkan jika para murid tidak memperbincangkan hal itu terus menerus dan melakukan penghakiman terhadap dugaan pelaku dalam kasus itu hingga mengakibatkan suasana sekolah yang tidak kondusif." Ujar Shizuka memberitahu mereka.
"Pihak sekolah sudah menyetujui berita yang akan kami rilis besok." Ucap Shizuka mengakhiri penjelasannya. Mereka mengangguk mengerti apa yang dilakukan Shizuka.
"Apa pendapatmu, Sasuke." Tanya Neji.
"Jika itu benar maka dia hebat dan jika itu bohong maka dia idiot." Jawab Sasuke acuh tak acuh.
Beberapa dari mereka mengernyit tak paham.
"Apa maksudmu, Sasuke-kun?" Tanya Fuu tidak mengerti. Begitu juga dengan beberapa dari mereka yang kini menatap Sasuke seolah meminta penjelasan atas ucapannya.
Mendapati tatapan-tatapan itu, Sasuke hanya menatap Shikamaru sebagai solusinya.
"Teme, apa maksudmu? Kenapa kau malah menatap Shikamaru?" Tanya Naruto bingung. Sasuke hanya mendengus. "Dasar Dobe." Sasuke lalu memejamkan matanya, dimana itu membuat Naruto menyepak kaki pemuda Uchiha itu dan membuatnya mengaduh lalu balas menyepaknya. Keduanya terus mengganggu bergantian hingga lemparan sepasang sepatu yang mengenai tubuh keduanya membuat mereka berhenti. Tentu saja pelakunya si gadis ponytail.
"Jadi apa maksudmu, Sasuke-kun?" Tanya Lee. Dimana itu hanya mendapat tanggapan berupa Sasuke yang hanya melirik Shikamaru dan Neji bergantian.
Mendapati tatapan Sasuke membuat Shikamaru menguap. "Hoamm." Tentu pemuda Nara satu ini mengerti apa maksud ucapan Sasuke juga tatapannya.
Shikamaru berdecak. "Ck. Aku setuju dengan Sasuke." Ucapan Shikamaru menarik perhatian yang lainnya.
Dengan teman-temannya yang menatapnya meminta penjelasan, ia berkata. "Pelaku dibalik tersebarnya gosip itu orang yang hebat jika memang semua itu benar. Karena dia bisa tahu itu semua, dimana kita yang satu sekolah bahkan mungkin ada yang satu kelas dengan dugaan pelaku dalam kasus itu malah tidak tahu apa-apa. Dan kelima kasus itu terungkap disaat bersamaan saat ujian kenaikan kelas sedang berlangsung, yang mungkin itu akan berpengaruh pada nilai mereka. Dan terakhir, dia berhasil menyebarkan gosip itu tanpa diketahui siapapun."
"Bagaimana jika semua itu bohong?" Tanya Lee penasaran.
"Seperti kata Sasuke. Jika itu bohong maka pelaku penyebaran gosip itu idiot."
"Kenapa?" Tanya Karui
"Karena dalam kasus penyuapan, manipulasi nilai dan bullying, maka pasti murid yang terlibat bukanlah dari keluarga biasa. Mereka pasti dari keluarga berkecukupan, karena tiga kasus itulah yang paling membutukan kemampuan finansial untuk bisa melakukannya. Dan jika gosip itu bohong, maka si pelaku sama saja dengan bunuh diri. Karena dia melakukan pencemaran nama baik dan bisa dikatakan bahwa dia melawan beberapa keluarga kalangan atas sekaligus dengan tangan kosong. Apa aku benar, Sasuke?" Jelas Shikamaru. Teman-temannya terdiam, mencerna apa yang dikatakan Shikamaru.
"Hah, merepotkan. Jangan membuatku menjadi juru bicaramu, Sasuke. Karena kau tidak membayarku." Keluh Shikamaru, yang menyadarkan teman-temannya dari lamunan mereka.
"Tunggu, tadi Sasuke-kun mengatakan 'dia' dan Shikamaru-kun berkata 'pelaku'. Apa kalian berpikir jika orang yang ada dibalik ini semua hanya satu orang?" Tanya Shizuka
"Bukankah kau juga berpikir begitu, Neji?" Tidak menjawab Shizuka, Shikamaru malah bertanya pada Neji.
Shizuka menatap Neji. "Ya. Itu mudah. Jika lima kasus berbeda itu terungkap disaat yang bersamaan, maka kemungkinan besar itu ulah dari satu orang. Jika pelaku penyebaran setiap kasus berbeda, maka kemungkinan untuk munculnya kasus itu disaat bersamaan sangatlah kecil." Ujar Neji
"Ngomong-ngomong, ada berapa murid yang terlibat dalam kasus itu?" Tanya Chouji.
"Tujuh, ada tujuh. Lima dari angkatan kita dan dua dari angkatan di bawah kita." Ucap Shizuka.
"Benarkah? Apa ada diantara mereka yang sekelas dengan kita?" Tanya Lee.
"Ya. Ada satu dari kelas Ino-chan dan satu dari kelas kalian berlima." Jawab Shizuka sembari menatap Lee, Chouji, Naruto, Karui dan Fuu. Tiga pemuda yang di tatap Shizuka terkejut, karena mereka memang tidak tahu gosip itu, berbeda dengan Karui dan Fuu yang sudah tau jika satu dari tujuh murid itu satu kelas dengan mereka.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" Tanya Neji.
"Tiga orang dari kelas 11-4, lalu satu dari kelas 10-1, kemudian satu lagi dari kelas 10-2." Kini Ino yang menjawab.
Mereka berbincang ringan hingga matahari terbenam lalu taklama kemudian mereka pulang kerumah masing-masing.
.
x X x My Family x X x
.
Pukul dua malam, kediaman Shimura terasa sunyi, tentu itu karena penghuninya sudah ada di dalam kamar masing-masing.
Namun seorang gadis bersurai merah muda sedang menuruni sebuah tangga lalu menuju dapur. Setelahnya ia menuju sebuah kamar di lantai satu dengan membawa segelas susu di tangannya. Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, tangannya yang lain membuka pintu dengan kunci yang ia bawa. Membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar.
Terlihat lampu utama kamar sudah dimatikan, hanya lampu tidur Kiba, layar monitor komputer, dan satu lampu belajar yang menyala dan menjadi sumber penerangan kamar itu. Seorang pemuda bersurai hitam legam duduk di kursi belajar, yang kini sedang menghentikan kegiatan menulisnya guna melihat Sakura.
"Nee-san..." Ucapnya.
Pemuda bersurai hitam legam dengan bulu mata yang lebat nan lentik itu menoleh pada sebuah jam di meja belajarnya. Pukul 02.08. Ada apa kakaknya itu datang menemuinya? Bahkan Kiba sudah terlelap di salah satu ranjang kembar di kamar itu.
"Ada apa, Nee-san?" Tanya Shisui pada Sakura yang sedang berjalan ke arahnya
Sakura tak menjawab. Ia meletakkan susu yang ia bawa ke atas meja belajar Shisui lalu tangannya meraih kursi belajar milik Kiba yang bersebelahan dengan Shisui, membuat kursi itu lebih dekat dengan Shisui. Lalu duduk dikursi milik adiknya yang sedang tidur dikamar itu.
Tangan Sakura lalu mengambil buku cetak yang ada di hadapan Shisui, buku yang beberapa hal penting di dalamnya Shisui catat ke buku tulisnya tadi. Seraya bertanya. "Bagaimana kuliahmu?"
Shisui yang bukunya direbut Sakura hanya diam lalu tangannya meraih gelas berisi susu yang dibawa kakaknya itu, menggenggamnya, membuatnya mendapatkan rasa hangat di telapak tangannya. "Baik-baik saja." Jawabnya.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Sakura.
Dengan dahi mengernyit, Shisui melihat lagi jam di meja belajarnya. "02.10." Jawabnya.
"Dan kau masih terus belajar." Ucap Sakura.
Shisui diam sesaat, lalu berkata. "Aku suka belajar, Nee-san."
Shisui mendekatkan segelas susu pada hidungnya, menghirup aroma susu itu lalu meminumnya secara perlahan.
Sakura terus membaca buku milik Shisui. Kini ia membalik halaman lalu lanjut membaca. Sedang Shisui yang melihat itu, kini hanya bermain-main dengan gelas berisi susu di tangannya sembari sesekali melirik sang kakak yang membaca bukunya itu.
Meski Sakura mahasiswa Kedokteran sedangkan Shisui mahasiswa Hukum, Sakura masih bisa membaca dan menikmati buku bacaan milik Shisui. Itu karena dulu dirinya cukup sering membaca buku yang berkaitan dengan Hukum milik kedua pamannya, Indra dan Ashura. Yang membuatnya cukup mengerti dengan bacaan buku milik Shisui.
Setelah menyelesaikam halaman yang tadi ia balik, Sakura menutup buku itu.
Melihat gelas susu itu tersisa seperempatnya, Sakura berkata. "Habiskan." Yang langsung di taati Shisui.
"Kau tahu? Semakin erat seseorang menggenggam pasir maka semakin banyak pasir yang jatuh dan akhirnya semakin sedikit yang bisa ia genggam?" Sakura bertanya dengan santai.
Gerakan tangan Shisui yang hendak meletakkan kembali gelas kosong itu terhenti sesaat.
"Aku tak secerdas dirimu, Nee-san." Ucap Shisui pelan.
Pemuda bermata segelap jelaga ity menghela napas pelan. "Aku putra tertua dan kakak laki-laki tertua mereka. Aku harus melakukan semuanya dengan baik dan menjadi contoh yang bagus bagi adik-adikku."
Shisui lalu menatap Sakura. "Aku harus berusaha lebih keras dalam hal apapun, termasuk belajar. Karena aku tidak secerdas dirimu ataupun memiliki kemampuan Midas Touch sepertimu, Nee-san."
Kakaknya itu mengikuti kelas akselerasi lalu mendapat beasiswa penuh di Universitas Tokyo dan lagi, fakultasnya adalah fakultas kedokteran. Bahkan kini kakaknya akan menjalani coass , dan dia memulai coass lebih cepat dari yang seharusnya. Kakak satu-satunya itu terlihat seolah mendapatkan semua itu dengan mudah. Sedangkan dirinya harus belajar dengan keras untuk mendapatkan beasiswa penuh. Dirinya bahkan tidak bisa bersantai terlalu lama dan melewatkan waktu belajarnya, karena jika nilainya turun, maka beasiswanya akan dicabut.
Sakura memutar kursi Shisui menghadap dirinya, lalu meraih tangan kanannya. Shisui berusaha menyingkirkan tangan Sakura dan menolak genggaman kakaknya itu pada tangannya, namun Sakura bersikeras. Merasa kakaknya mengetahui apa yang berusaha ia sembunyikan, ia pasrah.
Shisui hanya memalingkan wajahnya saat tangan Sakura meraih kulit di pergelangan tangannya kanannya. Berusaha menariknya hingga lepas dan ya, itu lepas.
Namun bukan kulit Shisui yang lepas, melainkan sesuatu yang melapisi kulit tangan adikknya. Sesuatu seperti sarung tangan dengan warna yang terlihat amat serupa dengan kulit Shisui. Ia memperhatikan benda di tangannya, benda seperti sarung tangan. Berbahan lentur dengan warna yang seperti kulit adiknya, sepertinya adiknya itu memesan warnanya. Dua bagian jari, yaitu jari jempol dan telunjuk, memiliki lapisan yang lebih tebal namun juga tetap lentur. Sepertinya benda itu berbahan sejenis karet atau semacamnya.
Sakura mendengus, lalu melemparkan benda itu ke atas meja belajar Shisui.
Sakura memeriksa jari-jarinya Shisui terutama jari jempol dan telunjuk.
Melihat kondisi jari Shisui membuat raut wajah Sakura berubah dingin dengan emerald yang menggelap.
Menyadari perubahan ekspresi dan suasana hati Sakura, Shisui berkata. "Aku baik-baik saja, Nee-san. Jangan khawatir."
Shisui berusaha menarik tangannya, namun Sakura tak membiarkannya. Gadis bersurai merah muda itu menahan tangan adikknya. Sakura memperhatikan jemari adikknya dengan lebih detail. Semakin dia memeriksa jemari Shisui semakin dirinya merasa marah dan kesal.
Hingga ia berkata. "Besok kau akan ke rumah sakit."
"Tapi, aku masih harus kuliah, Nee-san." Shisui berusaha menolak dengan alasan harus kuliah.
Iris hijau menatap kesal manik hitam gelap. "Dengan jari seperti ini?"
Shisui mengalihkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Sakura. "Sudah kubilang, aku baik-baik saja, Nee-san. Tidak perlu khawatir."
"Perlahan ini akan sembuh seiring berjalannya waktu." Lanjut Shisui.
Mendengar itu membuat Sakura makin kesal. "Benarkah?"
"Ten-Akhh! Ittai!! Akhh!"
Sakura menyerang tangan Shisui yang jarinya sedang tidak dalam kondisi baik, ia juga menekan titik saraf vital tangan adikknya itu.
"Ingat, Kiba sedang tidur. Kendalikan suaramu, Dear." Ucap Sakura dengan senyum miring.
Shisui langsung menutup mulutnya dan menolehkan kepalanya untuk melihat Kiba, memastikan adiknya itu tidak terbangun. Dengan desisan dan ringisan juga gigi yang bergemerutuk menahan sakit dan sebelah tangannya yang berusaha melepaskan tangan Sakura. Shisui menatap Sakura di hadapannya dengan pandangan memohon.
"Nee-san..."
Sakura balas menatap Shisui dengan tegas. "Besok kau kuantar dan kujemput. Tidak ada penolakan." Setelahnya, Sakura melepaskan tangan Shisui.
Beberapa saat mereka lalui dengan diam. Hingga suara Shisui memecah keheningan.
"Maaf." Shisui berkata dengan pelan.
Sakura yang sedang memejamkan mata sembari bersandar di kursi belajar milik Kiba, mengernyitkan dahinya.
"Kenapa kau meminta maaf?" Sakura bertanya.
Shisui diam tak menjawab dengan kepala tertunduk.
"Kau tahu? Kiba yang melanggar janjinya padaku untuk tidak berkelahi lagi pun tidak meminta maaf padaku. Dan aku senang akan hal itu." Sakura lalu membuka matanya. Melihat Shisui yang menundukkan kepalanya, membuat Sakura mengulurkan tangannya lalu menyentuh dagu Shisui, lalu membuat Shisui menatapnya. "Kau tau kenapa?" Lanjut Sakura.
"Karena dia ingat jika aku pernah berkata, bahwa aku tidak menyukai permintaan maaf dari adik-adikku. Aku lebih menyukai bukti nyata perubahan karena penyesalan, alasan kuat saat melakukannya, dan keinginan untuk tidak akan mengulanginya lagi. Aku lebih menyukai itu dibanding permintaan maaf, setulus apapun itu." Ujar Sakura menjawab pertanyaannya sendiri.
Dihadapkan dengan emerald yang menatapnya tajam, membuat mata Shisui sedikit bergetar. "Ak-aku lupa hal itu, Nee-san."
Menghela napas pelan seraya melepaskan tangannya dari dagu Shisui, Sakura lalu berdiri dan mematikan komputer dan lampu belajar milik Shisui. Sambil berkata. "Pergilah ke kamar mandi."
Shisui patuh. Ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar untuk menggosok gigi dan mencuci tangan serta kakinya. Sedangkan Sakura berjalan menuju adik lelaki keduanya yang sedang terlelap.
Sakura memperbaiki posisi tangan dan selimut Kiba. Lalu memandang wajah Kiba yang terlihat polos dan damai. Tidak ada senyum seringai nakalnya, tidak ada tatapan tajam dari iris vertikal, juga tidak ada wajah dengan banyak ekspresi.
Tangan Sakura terulur ke wajah Kiba untuk menyingkirkan beberapa helai rambut di wajahnya. Kemudian, Sakura semakin menunduk, lalu mengecup dahi Kiba penuh sayang.
Setelah beberapa saat, pintu kamar mandi terbuka, menampilkan pemuda tampan berambut hitam legam. Mata segelap langit malam milik pemuda itu melihat sekeliling kamarnya, mencari keberadaan kakak perempuannya. Yang ternyata sedang berdiri di depan jendela kaca, menatap keluar jendela. Memanjakan iris emeraldnya dengan suasana malam hari.
Shisui berjalan perlahan mendekati Sakura, lalu segera memeluknya dari belakang. Menempatkan kepalanya pada perpotongan bahu dan leher Sakura.
Setelah beberapa saat membiarkan Shisui memeluknya dengan erat, Sakura mengangkat tangannya lalu menyentuh kepala Shisui, mengusap rambut yang berwarna sekelam malam. Seraya bertanya,
"Ada apa, My Dear?".
Chapter 8 Selesai.
-oOo-
Halo apa kabar??
Semoga semuanya baik-baik aja ya :)
A/N :
Up! Up! Up! Chapter 8 update.
Maaf lama updatenya.
Dunia RL-ku lagi kacau.
Tunggu kelanjutannya ya :)
Jangan lupa tinggalkan jejak!
Sampai jumpa...
.
.
Big Thanks to :
@MANASYE dan @Guest yang udah ninggalin jejak. luv luv *
