Sebelumnya...

.

.

Shisui berjalan perlahan mendekati Sakura, lalu segera memeluknya dari belakang. Menempatkan kepalanya pada perpotongan bahu dan leher Sakura.

Setelah beberapa saat membiarkan Shisui memeluknya dengan erat, Sakura mengangkat tangannya lalu menyentuh kepala Shisui. Mengusap rambut yang berwarna hitam legam, seraya bertanya.

"Ada apa, My Dear?"

.

.

.

.

.

-oOo-

MY FAMILY

Naruto by : Masashi Kishimoto

Story by : Awy77 Andrian

Warning : OOC, OC, Typo(s), AU, Dsb.

Rated : T

Genre : Family, Drama, Romance

Main Pair : Narusaku (slow)

Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut fanfic, kan?

If you don't like don't read

Happy Reading! :)

-oOo-

.

.

.

.

.

Shisui tidak menjawab, tetapi semakin menelusupkan kepalanya di perpotongan bahu dan leher Sakura sembari memejamkan matanya.

Kemudian Sakura meraih tangan kanan Shisui yang memerangkap tubuhnya, tangan yang beberapa kondisi jarinya tidak dalam kondisi baik. Shisui tak menghindar lagi saat Sakura meraih tangannya.

Sakura mendekatkan tangan Shisui ke wajahnya. Menatap jemari adiknya yang dalam kondisi buruk, membuat tatapan Sakura sedikit melembut.

Menyadari jika Sakura memperhatikan jarinya, dengan mata yang masih terpejam Shisui berkata. "Aku akan baik-baik saja, bukankah kau akan mengantarku ke rumah sakit, Nee-san?"

"Tidak akan ada yang kedua kalinya."

Shisui menggumam menyetujui. "Hmm."

"Shisui."

Sakura berbalik, membuat pelukan Shisui terlepas. Ia menatap Shisui.

"Aku mengenal semua adikku. Aku tahu kemampuanmu."

Sakura mengangkat sebelah tangannya, membelai lembut sisi samping wajah adik didepannya itu. "Dengar, jangan menempatkan dirimu sendiri dalam tekanan. Tak ada yang menuntutmu untuk menjadi yang terbaik. Bahkan jika ada, maka orang itu adalah aku. Kau mengerti, Dear?"

Shisui tertegun, lalu tak lama ia mengangguk.

Benar. Memang tidak ada yang menuntutnya menjadi yang terbaik. Dia belajar dengan keras hingga membutuhkan sarung tangan khusus dan mengabaikan kesehatannya, agar ia bisa menjadi contoh yang bagus bagi adik-adiknya dan membuat kelima ibunya senang dan bangga memilikinya sebagai putra pertama yang pandai dan berprestasi.

Melihat Shisui mengangguk, Sakura menurunkan tangannya.

"Mengurangi jam belajarmu tak akan membuat nilaimu turun, ataupun sampai beasiswamu dicabut. Aku tahu kemampuan. Beasiswamu tetap aman, bahkan jika kau sedikit bermalas-malasan dalam belajar," ucap Sakura.

Sebenarnya, diantara keenam adiknya, Shisui adalah yang paling cerdas. Dalam belajar, bertindak, bicara, ataupun pengendalian diri, Shisui adalah yang terbaik.

Setelah itu Salura melangkah mendekati meja belajar Shisui. Meraih gelas susu yang tadi ia bawa.

Dengan gelas susu di tangannya, Sakura hendak keluar dari kamar kedua adik lelakinya itu. Namun ia sempatkan untuk menengok ke arah Shisui. "Jika beasiswamu sungguh dicabut, aku masih sangat sanggup untuk membiayaimu. Dan jika bisnis rintisanmu gagal lagi, larilah padaku, aku ada di belakangmu, aku bersamamu dan selalu mendukungmu, My Dear. Ingat itu."

Dengan itu, Sakura pergi dari kamar Shisui dan Kiba. Di dalam kamar, Shisui masih tertegun di tempatnya. Taklama senyum kecil terbit di bibirnya. 'kau memang selalu tahu, Nee-san.' batinnya.

"Maaf dan terimakasih, Cherry-nee."

Ucap Shisui pelan pada Sakura yang sosoknya sudah tak terlihat lagi. Karena pintunya sudah di tutup oleh Sakura.

Setelah itu, Shisui menutup gorden jendela lalu berjalan ke tempat tidurnya. Lampu tidurnya sudah menyala, pasti kakaknya itu yang menghidupkannya.

Saat ia duduk di tepi kasur, tangannya menyentuh sebuah benda asing di kasurnya. Ia lalu menyibak selimut guna melihat apa itu.

Ternyata sebuah kotak kecil. Shisui menyernyit bingung.

'Apa ini?'

Batinnya heran.

Ia meraih benda itu, lalu ia membaca baik-baik tulisan di kotak itu.

'I-ini.'

Shisui terkejut. Pasti ini dari kakak perempuannya.

Ini adalah kotak berisi sarung tangan motor.

Shisui tersenyum sedih. Pantas saja kakaknya itu sangat kesal dengan keadaan jarinya. Karena jika kondisi jarinya belum sembuh, Sakura pasti tak akan membiarkannya memakai sarung tangan itu.

Memandangi pintu kamarnya yang barusaja dilewati Sakura lalu menatap kotak kecil berisi sepasang sarung tangan motor. Shisui terkekeh kecil dengan mata berkaca-kaca.

Shisui tahu jika Sakura dan adik-adiknya yang lain pergi bersama Sakura sepulang sekolah. Bahkan ia tahu, jika Karin melakukan pemeriksaan mata bersama Sakura.

Saat sore hari, ibunya memberitahu. Dan saat makan malam adik-adiknya banyak bercerita. Ia juga mendapat dua baju kaos. Untuknya itu sudah cukup. Tapi ternyata kakaknya itu membelikan sarung tangan motor untuknya.

"Cherry-nee ..." ucap Shisui dengan suara pelan.

Di sisi lain, Sakura berjalan menuju dapur dengan sebuah gelas di tangannya.

Sesampainya di dapur, ia melihat ada seseorang. Sakura sedikit terkejut dengan kehadirannya, namun dalam sekejap ia berhasil bersikap biasa. Seolah ia sendirian di dapur itu.

Sakura berjalan mendekati wastafel, berniat meletakkan gelas yang ia bawa ke wastafel itu. "Ingin Kaa-san buatkan kopi, Sakura-chan?"

Sakura tak menjawab.

"Ah! Kaa-san lupa, kalau kau tak terlalu suka kopi."

Wanita itu sedang memegang cangkir kopi.

"Atau kau ingin coklat panas? Kaa-san akan membuatkannya untukmu, tunggu sebentar," ujarnya sembari meletakkan cangkir kopinya di meja.

Ia hendak membuatkan minuman panas untuk Sakura. Namun, ucapan Sakura membuat gerakannya terhenti.

"Jangan bersikap manis padaku dan jangan bersikap seolah aku dan dirimu sedekat itu," ucap Sakura dingin. Lalu berbalik dan melangkah menjauhi wastafel.

"Kenapa?"

"Kenapa kau bisa menerima anak-anak kami tetapi tidak dengan kami? Kenapa?"

Tanya wanita yang menjadi salah satu ibu di kediaman Shimura ini.

Langkah Sakura terhenti. "Aku mungkin kakak perempuan mereka, tapi aku bukanlah putrimu. Berhenti bersikap seolah kau ibuku. Karena aku hanya memiliki satu orang ibu. Hanya. Satu. Ibu. Ingat itu baik-baik, Tayuya-san," ujar Sakura tanpa berbalik.

Tayuya termenung mendengar itu. Lalu ia berkata. "Sudah hampir 10 tahun. Apakah kami belum mendapatkan tempat di hatimu? Kami tahu, kami tak akan bisa menyamai posisi ibumu di hatimu, namun adakah? Adakah sedikit saja ruang untuk kami dalam dirimu?"

Tangan Tayuya meraih cangkir kopi yang tadi ia taruh di meja. Menghirup aroma kopi, lalu kembali bersuara. "Hem, mereka sudah bergantung padamu. Sebagai kakak tertua kau berhasil menjadi teladan bagi mereka. Jika mereka diberi pilihan, mungkin mereka akan lebih memilihmu dibanding kami, ibunya. Shisui bahkan lebih terbuka padamu."

Mendengar itu Sakura sontak berbalik.

Sakura mendecih. "Cih, aku baru tahu jika kau suka menguping."

Memalingkan wajahnya ke samping, Sakura berkata.

"Harusnya kau tahu, Tayuya-san. Bahwa jika seseorang memberimu perak, kau tidak boleh meminta emas."

Sakura lalu menoleh ke arah depan, tepat menatap Tayuya. "Dan kau harusnya sadar, jika beberapa tahun ini, aku sudah berusaha keras memperlembut sikapku padamu, pada kalian. Sadari tempatmu, jangan meminta lebih."

Nada kejam Sakura gunakan saat mengucapkan kalimatnya, hingga membuat Tayuya sedikit tersetak akibat ucapan dan nada suara putrinya.

Sakura menunduk sesaat, kemudian melangkah mendekati Tayuya seraya berkata. "Lagipula, kenapa aku harus menerima kalian, menerimamu? Hm?"

Kini mereka berdua berdiri berhadapan. Karena Sakura lebih tinggi, ia membungkuk lalu mencondongkan tubuhnya pada Tayuya yang jauh lebih pendek darinya. Dengan wajah saling berhadapan, Sakura menatap tepat ke mata Tayuya, lalu berkata.

"Katakan, kenapa aku harus menerima dirimu sebagai ibuku. Jika kau bahkan sebagai seorang ibu, tega menghabisi darah dagingmu sendiri."

Sakura berkata dengan nada rendah dan seringai yang melekat di bibirnya.

Setelah berkata begitu, gadis bersurai merah muda itu melenggang pergi dengan santai.

Meninggalkan Tayuya yang seluruh tubuhnya gemetar hebat dengan mata terbelalak. Tangannya yang memegang cangkir kopi bergetar hebat, air di dalam cangkir itu ikut bergerak liar karena gemetar di tangannya.

Lalu tubuh Tayuya sedikit limbung. Ia menjaga keseimbangan tubuhnya dengan menyangga sebelah tangannya ke meja. Air kopi di tangannya sedikit tumpah mengenai punggung tangan dan jemarinya.

Rasa panas dari kopi itu bahkan tidak bisa ia rasakan.

oOo

Dengan senyum cerah, si bungsu Shimura dengan semangat menuruni tangga menuju ruang makan.

Mata besarnya memantau semua orang di sana yang membuat dahinya mengernyit. "Dimana Nee-chan dan Nii-chan?"

"Mereka sudah pergi, Hanabi-chan." Hikari, ibu kandungnyalah yang menjawab.

Hanabi melongo. "Sudah pergi?"

"Ya, Hanabi-chan. Mereka pergi bersama pagi-pagi sekali. Dan hanya Nee-chanmu yang membawa kendaraan," jelas Megumi.

"Sekarang, cepatlah duduk. Kau bangun terlambat hari ini. Lihat saudaramu, mereka sudah mulai sarapan," ujar Samui memberitahu.

Ya. Ia bermalas-malasan lebih lama di tempat tidur tadi pagi. Meski kakak kembarnya sudah membangunkannya dan juga jam alarm barunya sudah menyala, ia tetap berbaring malas di tempat tidur. Sengaja mengulur waktu, karena ia pikir Sakura akan mengantarnya lagi hari ini.

Hanabi menghela napas panjang. "Aku yang membuat Nee-chan tidur di rumah ini semalam. Kenapa Shisui-nii yang berangkat bersamanya? Tidak adil."

Hanabi berkeluh sembari mulai mendekati kursinya lalu duduk di sana.

Mendengar keluhan dan wajah kesal Hanabi, membuat putra putri Shimura dan para ibu tersenyum geli.

"Tayuya-nee, kau baik-baik saja? Hari ini kau terlihat pucat," tanya Hikari.

Tayuya sedikit tersentak. "Ah! Ak-aku baik-baik saja."

Tayuya menjawab dengan agak terbata dan senyum canggung di bibirnya.

.

x X x My Family x X x

.

"Restoran ini benar-benar terbuka."

"Kau sendiri yang merekomendasikan tempat ini , Oba-san."

Sakura menanggapi ucapan Guren sembari menatapnya, yang kini sedang sibuk menyingkirkan helai rambut di wajahnya.

Hari ini Guren tampil anggun. Rambut biru panjangnya terurai dengan dibuat agak keriting di bagian ujungnya. Lalu ia memakai dress berwarna coklat muda dengan desain yang simple dan elegan. Sebagai alas kaki, dia memakai sepatu hak rendah berwarna senada dengan pakaiannya.

"Aku melihatnya di internet. Dari foto-fotonya tempat ini indah, banyak orang yang datang ke sini. Ulasan tentang makanannya juga bagus. Jadi wajar jika aku tertarik."

Sakura dan Guren sekarang sedang ada di sebuah restoran laut yang benar benar ada di laut. Kenapa mereka ada di sini? Tentu itu karena Guren membuat Sakura berjanji untuk pergi ke restoran laut saat di chapter empat.

Restoran yang ada di atas laut itu memiliki beberapa area. Ada area terbuka di luar, tempat mereka berdua berada saat ini. Lalu ada area di dalam ruangan. Terakhir, ada tempat makan khusus untuk pasangan di lantai atas. Ya, restoran ini berlantai dua.

Sakura mengambil sesuatu dari tasnya, lalu memberikannya pada Guren. "Pakai ini, Oba-san."

Guren melihatnya. "Ini hiasan rambut dari suamiku, bukan?"

Guren menerimanya lalu memakainya untuk menahan sisi samping rambutnya agar tidak terlalu berkibar tertiup angin.

"Iya, itu dari Genma-jisan." Sakura membenarkan.

Benar. Itu memang benda yang diberikan oleh Genma sesaat sebelum mereka makan siang bersama di Hunian. Yang juga terjadi di chapter empat.

"Kapan kau akan datang ke butik? Pain menanyakanmu. Dia berkata, cincin dan liontin yang kau pesan untuk adik kembarmu sudah selesai dibuat."

"Dia sudah memberitahuku. Tapi aku cukup sibuk, jadi belum sempat datang."

Pain sudah menghubungi Sakura dan memberitahunya tentang cincin dan liontin itu, saat malam kedua kemahnya bersama keenam adik dan kelima ibunya.

Tak lama pelayan datang membawa pesanan mereka. Bibi dan keponakan itu menikmati makan siang dengan diselingi obrolan ringan. Meski Guren lah yang mendominasi percakapan.

Beberapa waktu berlalu, kini Sakura dan Guren sedang menikmati pemandangan berupa hamparan air laut. Tak lupa sepiring buah siap makan tersaji di atas meja sebagai pencuci mulut.

"Bagaiaman berkas coass-mu? Apa sudah selesai?"

Menatap Guren sekilas, Sakura menjawab. "Sepertinya besok atau lusa semuanya akan selesai."

"Itu bagus. Lebih cepat lebih baik," tutur Guren.

Setelah itu, Guren kembali bertanya. "Apa kau sudah memberitahu adik-adikmu mengenai rencana peragaan busana itu?"

"Belum."

Dahi Guren mengernyit mendengarnya. "Pastikan mereka dalam kondisi siap saat acara di adakan, Sakura-chan."

Sakura menanggapi dengan gumaman tak berarti sembari memakan sepotong buah apel merah yang sudah dikupas kulitnya.

Guren menghela napas panjang lalu berkata. "Kuharap acara kita berjalan lancar tanpa kendala apapun."

Setelah itu Guren melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya. "Kita kembali sekarang, Sakura-chan?"

"Aku akan di sini sebentar lagi."

"Baiklah. Aku akan pergi lebih dulu," papar Guren.

Guren berdiri lalu meraih tasnya guna memakainya. Kemudian tangannya melepas hiasan rambut di kepalanya lalu meletakan benda itu ke atas meja.

"Terimakasih," ujar Guren.

Sakura menanggapinya dengan gumaman lagi.

Setelah beberapa saat Guren pergi, datanglah seorang pemuda.

Pemuda itu menarik mundur kursi di hadapan Sakura. Duduk dengan santai di sana.

Satu alis pemuda itu terangkat saat matanya melihat hiasan rambut di atas meja.

"Benda itu milikmu?" tanya pemuda itu heran.

Sakura hanya diam tak menjawab.

Melihat respon Sakura, pemuda itu tertawa pelan, kemudian berkata.

"Kau bahkan tak terlalu menyukai bunga sakura. Bunga dengan nama yang sama denganmu dan warna yang serupa dengan rambutmu," tutur pemuda itu.

Sakura mendengus menatapnya.

Menyadari jika Sakura tidak dalam kondisi bisa di ajak bicara santai, raut wajah pemuda itu berubah serius.

"Baiklah, kita mulai," ucap pemuda itu.

"Bagaimana?" tanya Sakura.

"Aku semakin yakin jika dugaanku benar," ujarnya.

"Hm?" Sakura menaikkan sebelah alisnya.

Pemuda itu lantas meletakkan sebuah foto ke atas meja. Seraya berkata.

"Lihatlah"

Sakura meraih foto itu guna melihatnya.

Sebuah foto tua.

Itu dapat diketahui dari kualitas foto dan latar, juga style pakaian orang yang ada dalam foto itu.

Sesaat kemudian, pandangan Sakura terpaku pada salah satu orang di foto itu. Terdapat tiga orang dalam foto itu, satu lelaki dan dua perempuan.

"Foto itu asli. Aku sudah memeriksanya," ujar pemuda itu.

Melihat sakura yang memandang salah satu orang di foto itu dengan tatapan yang rumit, membuat pemuda itu bersuara lagi.

"Pemuda itu adalah ayahku, dan gadis di sampingnya adalah ibuku. Gadis yang ada di samping ibuku itu, meski wajahnya masih muda, aku yakin kau tahu siapa dia."

Sakura masih menatap lekat salah satu wanita dalam foto itu saat suara si pemuda itu terdengar lagi.

"Lihatlah bagian belakang foto itu."

Sakura lantas melihat bagian belakang foto itu. Saat melihatnya, Sakura cukup terkejut. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.

Memejamkan mata sesaat dan menghela napas panjang, Sakura berusaha menekan berbagai perasaan dan emosi dalam dirinya. Lalu ia meletakkan kembali foto itu ke atas meja.

"Dia keturunan Uchiha. Itu berarti Shisui adalah adikku, Sakura-chan."

Brak!

Emosi yang ia tahan hingga dasar, kembali memucak saat mendengar ucapan pemuda itu

Sakura menggebrak meja lalu berdiri dan langsung mencengkram kerah kemeja pemuda yang duduk di hadapannya. Menatapnya tajam, Sakura berkata.

"Persetan dengan klan sialanmu itu! Shisui adalah adikku, dan akan selamanya begitu. Ingat itu baik-baik."

Setelah berkata begitu, Sakura melepaskan cengkraman tangannya di kerah kemeja itu, lalu kembali duduk dengan kesal.

Menghadapi kemarahan spontan Sakura, pemuda itu tak terganggu sedikit pun. Dengan tenang pemuda itu berkata. "Aku tidak berkata jika Shisui tidak akan menjadi adikmu lagi, Sakura-chan."

Mengingat bagainana sikap Sakura tadi, pemuda itu tersenyum geli.

Dengan tangan yang merapihkan kemejanya, dia berkata. "Kenapa kau masih bersikap denial, Sakura-chan? Foto itu hanyalah tambahan, semua fakta dan bukti yang kita dapatkan harusnya cukup membuatmu percaya."

Setelah menyelesaikan pembicaraan serius, mereka berdua berbincang santai selama beberapa menit. Tak lama kemudian Sakura pamit pergi lebih dulu.

Berdiri dari kursinya sambil memasukkan hiasan rambut ke dalam tasnya, Sakura pamit.

"Aku pergi lebih dulu, Itachi-nii."

Pemuda yang kini diketahui bernama Itachi itu menanggapi dengan gumaman, pertanda mengiyakan.

Sesaat setelah Sakura pergi, Itachi berdiri dan berjalan ke tepi pembatas.

Berdiri menghadap hamparan air laut dengan tangan yang ada di saku celana, pemuda itu berkata dengan pelan.

"Jii-san, jika sekarang kau tahu dia masih hidup, dan memiliki seorang putra yang cerdas. Apakah kau akan merasa menyesal?"

.

.

.

.

.

Chapter 9 selesai.

-oOo-

Halo semuanya, apa kabar?

Ini chapter terpendek yg kutulis huhuhu. semoga kalian suka. jgn lupa kesan, kritik, dan sarannya.

A/N : Kurasa kalian udh gak heran kalo fic ini lama updatenya. karena di summary udh tertera 'slow update' kuharao kalian masih ngikutin fic abal ini.

Oh iya, untuk yg baca fic ini semoga kalian berkenan untuk memberi review. Tolong hargai yg nulis dengan memberi review. itu juga bisa menambah semangat untuk lanjutin fic ini.

Minna-san. Aku mau kasi tau kalo fic ini juga di publish di wattpad dengan judul yang sama. untuk yg punya wp silahkan mampir disana, akunku @awy77Andrian (no spasi). jgn lupa vote dan komennya ya. penulisan disana lebih baik daripada disini karena udh ada beberapa chapter kebelakang yg sambil kurevisi.

.

.

Balasan Review :

Guest : Ini udah dilanjut ya. (lain kali tulis nama kamu sebelum tulis komentar, biar gak cuma kutulis guest.

Kio7 : Sepertinya ada kesalahpahaman disini. Tentu Shizuka tahu semua pelaku lima kasus itu, bahkan siapapun yg baca kertas yg ditempel didepan kelas pasti tau pelakunya. tapi sayangnya, pelaku yg merek bahas bukan pelaku lima kasus itu tp pelaku yg menyebarkan kasus itu. coba dibaca ulang chapter sebelumnya, perhatikan kalimat Shizuka, Shika dan Sasuke. Btw terimakasih banyak untuk review nya, kalo ada kritik dan saran jgn sungkan. Tetap tunggu kelanjutannya ya.

Chapter in spesal untuk kalian berdua *

.

.

.

Ingat! Jangan lupa tinggalkan jejak!

Sampai jumpa!