Chapter sebelumnya...

.

.

Berdiri menghadap hamparan air laut dengan tangan yang ada di saku celana, pemuda itu berkata dengan pelan.

"Jii-san, jika sekarang kau tahu dia masih hidup, dan memiliki seorang putra yang cerdas. Apakah kau akan merasa menyesal?"

.

.

.

.

.

-oOo-

My Family

Naruto by : Masashi Kishimoto

Story by : Awy77 Andrian

Warning : OOC, OC, Typo(s), AU, Dsb.

Rated : T

Genre : Family, Drama, Romance

Main Pair : Narusaku (slow)

Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut fanfic, kan?

If you don't like don't read

Happy Reading! :)

-oOo-

.

.

.

.

.

Saat matahari sudah condong ke arah barat, sebuah mobil putih memasuki kediaman keluarga Shimura. Kemudian keluarlah Sakura dan Shisui dari dalam mobil itu.

Waktu terus berjalan, hingga kini tak terasa malam sudah tiba. Bahkan keluarga Shimura sudah menyelesaikan makan malam mereka setengah jam yang lalu.

Kini keluarga Shimura sedang ada di ruang tengah. Ada Karin dan Kiba yang sedang adu argumen hal yang tidak penting, ada si kembar Hanabi dan Hinata yang sedang membaca buku hadiah dari Sakura. Lalu ada Shion yang sedang memakan buah bersama Shisui.

Sedangkan para ibu sedang berbincang tentang apa yang terjadi pada mereka hari ini sembari memakan agar-agar dan menonton televisi.

Sakura datang dari arah dapur dengan membawa mug berisikan coklat panas.

Melihat Sakura, Hanabi bertanya. "Nee-chan, kau akan tidur di sini malam ini?"

"Tidak."

"Kenapa tidak? Aku sedang tidak ingin berangkat sekolah dengan menaiki kendaraan umum," ujar Hanabi dengan wajah penuh keluhan.

Hanabi mengangguk setuju lalu berkata. "Ya, bisakah kami tidak menaiki kendaraan umum hingga akhir pekan?"

Saudaranya yang lain menatap Sakura, penasaan akan jawabannya.

Mereka sebenarnya sama, sedang tidak ingin menaiki kendaraan umum. Namun, mereka tak berani mengatakannya dengan santai seperti Hanabi dan Hinata.

"Kalian tidak akan menaiki kendaraan umum hingga pekan ini berakhir."

"Benarkah?!"

Seru kelima adiknya yang masih berstatus siswa sekolah.

Sakura lalu berjalan mendekati Shisui. Lalu mengulurkan sebelah tangannya. "Kunci motormu."

Tingkah Sakura membuat mereka bingung. Tak terkecuali para ibu yang ikut memperhatikan mereka.

"Sakura-chan, apa ada masalah dengan motor Shisui-kun?" Samui memberanikan diri bertanya.

"Tidak." jawab Sakura singkat.

Sakura menatap Shisui penuh arti. "Bukan pada motor letak masalahnya."

Shisui yang mengerti maksudnya sedikit tersentak. Dengan segera merogoh sakunya lalu memberikan kunci motornya pada Sakura.

"Lalu apa masalahnya, Sakura-chan?" Megumi bertanya.

Kecuali Tayuya, mereka semua bingung. Namun, Sakura tak melanjutkan pembahasan masalah yang membuat mereka bingung.

Sakura lalu berbalik sembari mengantongi kunci motor Shisui, tangannya merogoh sakunya yang lain, mengambil kunci mobilnya sendiri.

Sakura berbalik lalu melempar kunci itu pada Shisui. Beruntung Shisui mempunyai reflek yang bagus. Pemuda itu dengan cepat dan tepat menangkap kunci mobil yang dilempar Sakura ke arahnya.

"Gunakan mobilku untuk kuliah dan mengantar mereka sekolah."

Setelah mengucapkan kalimatnya, Sakura berbalik. Namun tak lupa, ia sempatkan untuk melirik Tayuya. Membuat wanita bersurai merah itu tersentak dengan tangan yang sedikit gemetar lalu segera menundukkan kepalanya.

Tengah malam telah tiba. Tetapi Sakura kini sedang berjalan mendekati sebuah kamar.

Mengeluarkan sebuah kunci, lalu segera membuka pintu kamar itu. Membuka pintu perlahan, lalu masuk dengan langkah yang tenang.

Menatap sekilas sosok yang sedang tertidur pulas, lalu berjalan mendekati jendela kaca besar. Ia membuka gordennya, membuat cahaya lampu dan sinar bulan memasuki kamar dan menyinari orang yang sedang tertidur.

Sosok yang sedang tertidur itu sedikit merasa terganggu dengan cahaya yang menyinarinya. Sedikit menggeliat lalu membuka mata, kemudian tangannya berusaha melindungi matanya dari cahaya. Mengerjap beberapa kali lalu ia tersentak kala ia mengingat sesuatu.

Dirinya ingat jika ia tak pernah lupa mengunci pintu, menutup gorden dan mematikan lampu saat akan tidur. Lalu darimanakan cahaya yang menimpanya itu berasal?

Panik menguasainya. Namun keinginan untuk mengetahui apa yang terjadi, membuatnya memberanikan diri untuk duduk lalu melihat sekitarnya.

Dirinya terkejut, tatkala melihat Sakura sedang duduk santai di kursi kayu dekat jendela yang gordennya terbuka lebar. Setelah terkejut dengan kehadiran Sakura, Megumi menghela napas lega. Ia pikir ada penjahat seperti penjuri atau pembunuh tadi. Namun ternyata itu adalah Sakura, putrinya.

Megumi dan yang lainnya tahu jika Sakura mempunyai kunci duplikat semua kamar di rumah ini. Jadi, dia tak akan bertanya bagaimana Sakura bisa masuk ke kamarnya.

"Sa-Sakura-chan, sedang apa kau di sini?"

"Bukan urusanmu jika aku ingin mendatangi kamar ibuku, Megumi-san."

Sakura menjawab dengan santai. Namun jawabannya membuat tubuh lawan bicaranya sedikit menegang.

Bagi Megumi, ucapan Sakura menohok hatinya. Perasaan tidak nyaman muncul dalam dirinya. Tubuhnya sedikit tegang, lalu tatapannya berubah sendu dengan kedua tangan yang meremas selimut.

Sakura menatap gelapnya suasana malam dari balik kaca jendela.

Keheningan tercipta di antara keduanya.

Hingga akhirnya Megumi menjadi yang pertama memecah keheningan itu.

"Kau belum pergi, Sakura-chan?"

Sakura sedikit menoleh, namun tak benar-benar menatapnya. "Kau mengusirku?"

Megumi gelagapan, ia salah bicara. Dengan cepat ia menjelaskan.

"Ah, tidak tidak. Buk-bukan begitu. Maksudku, kau tadi berkata tidak akan tidur di sini, malam ini. Jadi, jadi aku, aku ingin tahu apa kau akhirnya tidak jadi pergi," jelas Megumi dengan terbata dan suara yang semakin kecil di akhir kalimatnya.

"Setelah aku berbicara denganmu."

Mendengar perkataan Sakura, Megumi lantas menatap sosok Sakura yang sedang memandang gelapnya malam.

Megumi bingung. Dengan kernyitan di dahinya ia bertanya. "Apa yang ingin kau bicarakan, Sakura-chan?"

Sakura merogoh sakunya lalu mengeluarkan kunci motor Shisui sembari bertanya. "Shisui memiliki otak dan fisik yang bagus. Menurutmu, darimana itu berasal?"

"Apa maksudmu, Sakura-chan. Aku tidak mengerti."

Sakura terkekeh. "Gen, gen siapa yang lebih mendominasi Shisui?" tanya Sakura. "Kau, atau suamimu?" Sakura melanjutkan.

Tangan Megumi semakin meremas selimutnya. Mulutnya bak terkunci rapat. Namun wajahnya berusaha ia buat setenang mungkin.

"Selain dari jenis rambut dan bentuk jari kaki, Shisui tak memiliki kemiripan lainnya dengan suamimu."

Setelah terdiam beberapa saat, Megumi berhasil mengendalikan ketenangan dirinya. "Aku ibunya, hal yang wajar jika dia mendapatkan gen dariku. Kau tentu tahu itu, Sakura-chan."

Sakura menunduk menatap kunci motor yang ada di tangannya, berusaha menutupi bibirnya yang memiliki seringai tipis.

Dengan masih menunduk ia berkata. "Kalau begitu, kau memiliki kualitas yang bagus."

Sakura lalu menoleh menatap Megumi. "Aku jadi ingin melihat keluargamu yang lain. Mereka pasti cantik, tampan, dan juga pandai, bukan?"

Mendengar itu, tangan Megumi yang meremas selimut, kaku seketika. Tubuhnya menegang. Matanya yang sebisa mungkin ia buat santai, menjadi terbelakak, dan ekspresi tenang di wajahnya juga ikut runtuh.

Melihat respon tubuh Megumi, Sakura menunduk lalu terkekeh. Mata emerald itu kini fokus menatap kunci motor di tangannya. Tak lama suaranya kembali terdengar. "Kenapa wajahmu pucat, Megumi-san? Apa aku salah bicara?"

Setelah tak mendapat jawaban dari Megumi, Sakura tak mendesaknya.

Setelah itu ia menggenggam kunci motor itu lalu bersandar pada sandaran kursi, sembari menselonjorkan kakinya kemudian memjamkan mata, seraya berkata. "Bukan salahku jika aku ingin tahu. Rasa penasaran itu manusiawi. Lagipula, itu salahmu yang tak pernah memperkenalkan keluargamu pada kami, bahkan pada Shisui pun tidak."

Sekitar satu menit keheningan terjadi lagi di antara keduanya. Namun kini, Sakura yang menjadi pemecah keheningan itu.

Menghela napas pelan. Sakura bangkit dari duduknya. "Rawat kamar ibuku dengan baik."

Sakura menatap Megumi yang masih termenung. "Aku pergi, hasta la vista, Megumi ..." Sakura menggantung kalimatnya. Lalu berjalan mendekati Megumi lalu sedikit membungkuk, menatapnya.

"... Kaa-san," lanjut Sakura dengan senyum miring di wajahnya.

Setelah itu Sakura pergi dari kamar ibunya, meninggalkan Megumi yang masih diam seakan membeku.

Megumi masih tetap diam di tempatnya, hingga terdengarlah samar-samar suara motor yang semakin lama semakin kecil dan menghilang.

Sakura pergi dari kediaman Shimura dengan mengendari sepeda motor milik Shisui.

OoO

Disalah satu balkon gedung bertingkat, sesosok manusia sedang menyirami tanaman. Setelah merasa cukup, ia lalu mengelus pelan tanaman itu dengan sebuah senyum yang melekat di bibirnya.

"Sebentar lagi aku akan melihatmu dengan tampilan yang indah," ucap sosok itu pelan.

Matanya lalu melihat sebuah gunting rumput berukuran sedang di sebuah rak di pojok balkon. Mengambil gunting itu, lalu ia memotong daun yang sudah berwarna kuning kecoklatan yang telah layu.

Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Lalu ia segera menjawab panggilan itu.

Setelah sosok di sebrang telfon mengatakan sesuatu, ia berkata.

"Jadikan satu dan lakukan besok. Jangan ada kesalahan. Ingat."

Setelah mengucapkan kalimatnya, ia menutup panggilan. Dengan seringai kejam ia berkata dengan pelan.

"Tanggunglah akibat dari mengusik permataku, Idiot."

OoO

Hari berlalu dengan cepat. Kini tibalah saatnya bagi mereka untuk menikmati liburan kenaikan kelas, sekaligus liburan musim semi.

"Nee-chan, bantu aku."

Sakura yang sedang membaca buku horor milik Shion menoleh ke arah tangga. Iris emerald itu melihat Hanabi yang sedang menuruni tangga dengan membawa dua koper berukuran sedang.

Dengan segera Sakura menghampirinya dan mengambil alih kedua koper itu.

"Dimana Tata?" tanya Sakura sembari menuruni tangga bersama Hanabi.

"Hinata-nee sedang ke toilet," jawab Hanabi.

Tak lama setelah Hanabi dan Hinata duduk di sofa ruang tengah, Kiba dan Shisui muncul dengan membawa barang bawaannya masing-masing. Setelah itu disusul dengan Karin dan Shion.

Kiba yang melihat barang bawaan saudaranya mengernyit heran. "Hei, kenapa setiap kali kita berlibur, kalian seperti akan pindahan?" tanya Kiba saat iris vertikalnya menatap barang bawaan saudari-saudarinya.

Dengan sewot Karin menjawab. "Kami perempuan, jangan samakan dengan lelaki."

"Kau pasti terbiasa tidak mengganti pakaianmu, sedangkan aku harus selalu menjaga kebersihan. Itu perbedaan yang jauh," ujar Karin dengan sinis.

"Hei! Aku tidak seperti itu," bantah Kiba dengan kesal.

Keduanya seperti biasa, adu argumen tentang hal yang tidak penting. Hingga akhirnya dua ibu datang dengan membawa makanan dari arah dapur.

"Ada apa ini? Kenapa kalian berisik sekali?" tanya Tayuya sembari meletakkan pudding dan potongan buah siap makan ke atas meja.

"Apa yang kalian bahas, sepertinya heboh sekali," tambah Hikari dengan meletakkan dua tote bag ke meja.

"Tidak ada hal penting, Kaa-san," ujar Hanabi.

"Hanya tingkah Karin-san dan Kiba-nii yang seperti biasa, Kaa-san," ucap Shion santai sembari meraih salah satu potongan buah lalu segera memakannya. Sedang dua orang yang ia sebut hanya mendengus.

Kedua ibu itu tertawa mendengarnya.

Tak lama, Tayuya datang dengan membawa sebuah kotak.

"Itu apa, Kaa-san?" Shisui bertanya.

"Ini berisi berbagai obat dan vitamin. Kalian harus menjaga kesehatan," jawab Tayuya.

Shisui menerima kotak itu. "Terimakasih, Kaa-san."

"Kesehatan memang penting, karena nyawa tidak bisa dikembalikan," ucap Sakura.

"Benar bukan, Tayuya ... Kaa-san?" lanjut Sakura sembari menatap Tayuya penuh arti. Membuat Tayuya sedikit tersentak dan tangannya sedikit gemetar.

"Benar. Itu benar, Sakura-chan," Ayame menyetujui ucapan Sakura dengan Semangat.

"Megumi-kaasan dan Samui-kaasan belum pulang?" tanya Karin setelah menelan sesendok pudding.

"Mungkin sebentar lagi."

Tak lama setelah itu, Megumi dan Samui pulang dengan membawa belanjaan bulanan. Keduanya juga membeli beberapa bungkus daging, sosis, jagung dan juga marshmallow untuk dibawa anak-anak mereka berlibur.

Saat akan berangkat, tentu si bungsu membuat ulah. Ia dengan dramatis menghentikan Sakura yang hendak melajukan mobilnya. Ia berkata, jika dirinya belum memberi makan kedua ikan hias kesayanganna, Alex dan Alexa. Ia juga belum mengucapkan salam perpisahan pada kedua ikannya, karena ia tak akan melihat keduanya selama seminggu ke depan. Astaga, saudaranya yang lain hanya melongo menatapnya.

Kiba saja tak sampai berlebihan seperti itu pada Akamaru, meski ia sudah bertahun-tahun merawatnya.

Kini mereka dalam perjalanan menuju vila dekat pantai, milik keluarga Otsutsuki.

"Liburan musim semi! Aku datang!" seru Hanabi semangat. Dengan kepala yang melongok meluar jendela mobil. Beruntung mereka masih ada di area komplek, jadi tak terlalu ramai kendaraan.

.

.

.

.

Chapter 10 selesai.

-oOo-

Halo apa kabar?

ini aku update lebih cepat dari biasanya, tapi dengan word yang sedikit. sekaliam mau kasi info kalo mungkin cerita ini cuma akan di lanjut di wattpad.

Sekian terimakasih.