Chapter sebelumnya...

.

.

"Liburan musim semi! Aku datang!" seru Hanabi semangat. Dengan kepala yang melongok keluar jendela mobil. Beruntung mereka masih ada di area komplek, jadi tak terlalu ramai kendaraan.

.

.

.

.

-oOo-

My Family

Naruto by : Masashi Kishimoto

Story by : Awy77 Andrian

Warning : OOC, OC, Typo(s), AU, Dsb.

Rated : T

Genre : Family, Romance

Main Pair : Narusaku (slow)

Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut fanfic, kan?

If you don't like don't read

Happy Reading! :)

-oOo-

.

.

.

Matahari sudah akan mulai tenggelam ke ufuk barat, membuat langit menampakkan rona teduh berwarna kejinggaan. Terlihat indah dan memanjakan mata orang yang melihatnya. Pemandangan yang disukai oleh para pemburu senja.

Hal itu terjadi ketika Sakura dan adik-adiknya sampai di salah satu vila yang berjejer rapih di jalan yang sebelumnya mereka lalui. Wajar jika mereka sampai saat siang sudah akan berganti menjadi malam, karena mereka berangkat saat hari sudah mulai sore.

Sekarang hari minggu, yang artinya mereka berangkat lebih cepat. Karena seharusnya mereka akan berangkat besok pagi. Namun, si bungsu sudah tidak sabar ingin menikmati liburannya. Hingga membuat mereka berangkat tepat setelah hari sebelumnya mereka masih sekolah.

Pukul delapan malam. Sesuai perkataan Sakura saat malam ketika mereka berkemah. Bahwa mereka akan berlibur tetapi juga akan tetap belajar.

Itu terbukti karena kini, Sakura sedang mengawasi keenam adiknya yang sedang belajar bersama di ruang tengah. Tangannya memegang buah apel merah yang sudah tidak berbentuk sempurna. Tentu itu karena ia sudah menggigitnya.

Sekarang mereka sedang belajar, setelah sebelumnya menyantap makan malam yang mereka pesan pada pelayanan vila.

Satu setengah jam berlalu, yang berarti waktu belajar mereka telah selesai.

"Nee-chan, apa yang akan kita lakukan besok?" tanya Hanabi dengan kaki yang menjuntai ke dalam kolam renang.

Mata pucatnya menatap Sakura yang sedang berdiri bersandar pada salah satu pilar, sembari bersedekap tangan dengan mata yang menatap langit malam.

Mereka berenam kini sedang ada di area kolam renang di dalam vila.

Hinata yang duduk di tepi kolam seperti Hanabi juga menatap Sakura, ikut serta dalam menanti jawaban kakaknya.

Sakura yang mendapat pertanyaan dari Hanabi, lekas mengalihkan pandangannya dari menatap langit malam. Namun, jawaban yang hendak terlontar dari mulutnya terhenti, tatkala suara teriakan keras masuk menerobos indra pendengaran.

"HEI! COKLAT STROBERI, BODOH! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!"

ketiganya lekas melihat ke arah sumber suara yang ada di tengah kolam. Pandangan Sakura, Hanabi dan Hinata terarah pada Shion yang baru saja berteriak.

Keributan terlihat di mata mereka. Siapa saja mereka? Tentu saja seperti biasa. Si duo K, Kiba dan Karin. Keduanya saling mendorong, memukul dan mencipratkan air, juga saling berusaha menenggelamkan satu sama lain.

Hanya mereka berdua yang terlibat, tapi kenapa Shion berteriak?

Hah, tentu Shion merasa kesal. Karena keduanya membuat ulah di sekitarnya, yang sedang tiduran santai di atas bebek mainan besar berwarna kuning yang terapung di atas air kolam.

Pakaian Shion menjadi basah akibat ulah kedua kakaknya yang usianya sebaya dengannya. Dirinya bahkan hampir jatuh ke dalam kolam, karena Kiba dan Karin juga mendorong dan menarik bebek mainan yang ia naiki.

Awalnya ia tidak masalah jika terciprat sedikit air. Tapi lama kelamaan, bukannya berhenti, keduanya malah menjadi jadi. Hingga kini bisa dibilang jika pakaiannya sudah mendekati basah kuyup meski tanpa mencebur ke dalam kolam.

"Ada apa, Nee-san? Kenapa Shion-chan berteriak?"

Dari sisi Sakura, Shisui datang lalu bertanya. Pemuda itu baru ikut bergabung ke area kolam, dia belajar lebih lama karena harus menyelesaikan tugas musim seminya.

"Seperti biasa, Nii-chan," ujar Hanabi malas.

"Duo K sedang membuat ulah, dan Shion-nee yang menjadi korbannya," sambung Hinata melengkapi kalimat adikknya.

Hela napas lega Shisui lakukan setelah mendengar ucapan adik kembarnya. Ia pikir ada hal buruk yang terjadi. Yah, meski pertengkaran Karin dan Kiba bukanlah hal baik, tapi baginya itu belum masuk dalam ketegori hal buruk.

Keempatnya juga tak memiliki niatan untuk menghentikan tingkah Karin dan Kiba ataupun menolong Shion keluar dari kolam.

Melihat keributan ulah dari Kiba dan Karin dengan Shion sebagai korban atau sebagai pihak luar yang ikut terlibat, sudahlah biasa bagi keempatnya.

Setengah jam kemudian, Karin dan Kiba keluar dari kolam. Menyusul Shion yang sudah lebih dulu keluar.

Ketiganya kini sedang pergi berganti pakaian. Meninggalkan Sakura, Shisui juga si kembar yang kini masih ada di sekitar kolam.

Tak lama, Shion muncul dengan memakai piyama putih polosnya. Beberapa menit kemudian, Kiba datang lalu disusul dengan Karin yang juga sudah mengganti pakaiannya menjadi piyama berwarna putih dengan corak abstrak merah tua.

"Tata, Bubu. Keluarlah dari kolam dan ganti pakaian kalian," perintah Sakura pada Hinata dan Hanabi yang kakinya masih berendam di air kolam.

Keduanya patuh. Mereka lekas melakukan apa yang dikatakan Sakura.

Setelah Hinata dan Hanabi pergi untuk mengganti pakaiannya, Sakura dan yang lainnya masuk ke dalam karena malam semakin larut.

Sekarang, Sakura dan keenam adiknya sedang duduk di ruangan santai. Televisi menyala. Namun bukan acara televisi yang mereka tonton. Melainkan film horor Indonesia.

Sakura dan Shisui duduk di sofa dengan di antara mereka terdapat dua manusia dengan wajah serupa, siapa lagi kalo bukan Hinata dan Hanabi. Sedangkan Shion, Karin, dan Kiba sedang duduk di bawah beralaskan karpet berbulu tebal berwarna coklat muda.

Setelah menonton film, kini mereka sedang berbincang santai. Tak lupa beberapa camilan dan minuman juga buah segar ikut serta menemani.

Televisi yang tadi digunakan untuk menonton film horor, kini berubah menjadi monitor game yang sedang dimainkan oleh dua lelaki di antara mereka. Kiba dan Shisui.

"Karin-nee, apa yang kau tonton?"

Karin yang sedang menonton sesuatu di tab berwarna merah, menoleh menatap Hanabi sekilas, lalu kembali fokus pada tontonanya sembari menjawab. "Video bullying."

"Ah, kenapa itu mengingatkanku pada mereka bertujuh," tutur Hanabi.

"Bertujuh siapa?"

Kiba yang sedang memegang stik game bertanya ingin tahu.

"Pelaku lima kasus di sekolah kita, Kiba-nii," jawab Hanabi.

"Bagaimana akhir dari lima kasus di sekolah kalian?"

Shisui yang kini duduk di bawah, bersebelahan dengan Kiba, ikut bertanya. Keduanya sedang memainkan game sepak bola, dan kini skor mereka imbang.

Karin, Kiba, Shion, juga si kembar memang menceritakan juga tentang kasus di sekolah mereka pada Shisui. Jadi Shisui tahu tentang itu.

"Berakhir buruk bagi mereka, tapi itu memang pantas mereka dapatkan," komentar Shion sembari matanya tetap fokus pada buku bergenre horor di tangannya.

"Seperti apa akhirnya?" Shisui penasaran.

"Yeah! Golll!!!" pekik Kiba ketika berhasil mencetak gol pada gawang tim Shisui.

"Berisik! Bodoh," ketus Karin kala merasa terganggu dengan seruan senang Kiba.

Kiba mendengkus. "Aku tidak mengusikmu."

"Suaramu mengusik telingaku." Kiba mendecih mendengarnya, lalu kembali fokus pada gamenya.

Mengabaikan Kiba dan Karin, yang lainnya kembali membahas tentang kasus di sekolah.

"Dikeluarkan. Dan bukan hanya itu, karena sekarang mereka tidak bisa melanjutkan sekolah di sekolah umum manapun di Konoha. Mereka sudah masuk blacklist semua sekolah di Konoha, Nii-chan."

"Benarkah?" sahut Shisui santai ketika mendengar ucapan Hanabi.

Sepertinya ia sama sekali tidak terpengaruh dengan kekalahan skornya dengan Kiba.

Hanabi mengangguk. "Ya. Kurasa, sebelum link itu muncul, mereka pasti masih bisa melanjutkan sekolah."

Shion melirik Hanabi. "Hal yang bagus jika link itu luncul. Karena dengan begitu, kebenaran menjadi terungkap."

Dahi Shisui menyernyit bingung. "Link apa yang kalian bicarakan?"

Hinata yang sedari tadi diam, kini ia bersuara. "Link yang terhubung ke sebuah website . Di mana, web itu berisi informasi dan bukti kuat tentang lima kasus itu, Nii-chan."

"Bukti dalam web itu juga membuat mereka benar-benar tak bisa berkilah dan membela diri lagi," tambah Hanabi.

Karin mematikkan tab merahnya lalu ia letakkan ke pangkuannya. Menghela napas panjang ia berkata. "Siapa pun dia yang ada dibalik ini semua. Dia sangat mengagumkan."

Shisui tertawa kecil. "Kau jarang mengagumi seseorang, Karin-chan. Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu dengannya?"

Dengan malas Karin menjawab. "Jika dia laki-laki akan kujadikan suami, dan jika dia perempuan akan kujadikan saudari."

Kiba mendengus. "Kau tidak hidup dalam cerita rakyat Indonesia, baka."

Tangan Karin bergerak cepat meraih bantal sofa, lalu melemparkannya pada kepala belakang Kiba sembari berkata.

"Kau pun tidak hidup sebagai komentator pribadiku, baka."

Kiba merespon dengan mendengus. Lalu menjadikan bantal sofa yang dilempar Karin sebagai tambahan alas duduknya. Sedangkan saudaranya yang lain menatap mereka bosan.

"Karin-chan, dari mana link itu muncul?"

Pertanyaan Shisui membuat obrolan mereka kembali pada jalur awalnya.

"Tidak ada yang tahu, Nii-san," jawab Karin.

Dahi Hanabi mengkerut, berusaha mengingat sesuatu. Tak lama kemudian, suaranya terdengar. "Link itu muncul setelah dua hari kasus itu tersebar."

"Pada hari senin kasus itu tersebar, lalu saat hari rabu, link itu muncul. Tidak ada yang tahu siapa orang yang menempelkan link itu di sekolah," lanjut Hanabi.

"Di tempel?"

Hanabi mengangguk. "Ya, Nii-chan. Saat hari rabu, link itu tertulis di sebuah kertas dan di tempel di mading mini setiap kelas, juga di dinding lorong dan mading utama sekolah."

"Karena penasaran, para siswa membukanya di ponsel masing-masing. Ternyata, di dalam website itu berisi bukti dari lima kasus itu," sambung Hinata.

Shion mendecih. "Money Talks memang mengagumkan. Tetapi jika melawan Ghost Angel, mereka tidak bisa menang," ucap Shion dengan nada sinis.

"Apa maksudmu, Shion-chan? Apa sebelumnya mereka hampir lolos dengan mudah? Lalu siapa itu Ghost Angel?" tanya Shisui heran.

"Benar, Shisui-nii. Pada hari selasa, saat orang tua mereka datang ke sekolah. Hari itu juga pihak sekolah memberi pengumuman jika gosip kasus yang tersebar itu adalah bohong," ujar Karin menjawab pertanyaan Shisui menggantikan Shion.

"Kami tidak tahu bagaimana mereka meyakinkan pihak sekolah bahwa anak-anaknya tidak bersalah," ucap Karin.

"Apakah mereka melakukan pembelaan yang kuat, atau membuat bukti palsu lalu menunjukkannya pada pihak sekolah, kami tidak tahu. Tetapi apa pun itu, tentunya hal itu membutuhkan koneksi kuat dan juga pasti membutuhkan uang," lanjutnya kemudian.

Kiba mendecih, dengan tangan yang menekan keras tombol-tombol pada stik di tangannya, ia berkata. "Karena kaya, mereka hampir lolos dengan mudah,"

"Tetapi untunglah keesokan harinya link itu muncul, dan menghancurkan usaha para orangtua mereka dalam melindungi tindakan salah anak-anaknya. Ghost Angel memang mengagumkan," tutur Hinata sembari menghela napas lega.

"Baikalah aku mengerti itu," ucap Shisui. "Tapi siapakah Ghost Angel yang kalian maksud?" lanjutnya.

"Itu sebutan dari kami untuk siapa pun orang yang ada dibalik semua ini, Nii-chan," kata Hanabi.

"Karena siapa pun dia, dia sudah mengungkap kejahatan yang beberapa murid lakukan, dan juga secara tidak langsung sudah menolong para murid yang menjadi korban," ungkap Hinata.

"Itu semua dia lakukan tanpa mengungkapkan identitasnya. Dua kali, dia sudah dua kali muncul. Saat gosip kasus dan saat alamat website tertempel di banyak lokasi di sekolah. Namun, tidak ada yang pernah melihatnya, seakan di tak terlihat," papar Karin.

Buk!

Shion menutup buku tebalnya dengan keras. Membuatnya menimbulkan bunyi yang khas.

"Ghost Angel memang sebutan yang cocok untuknya," ujar Shion.

Mereka terlalu tenggelam dalam pembahasan yang dibicarakan, hingga tak melihat dan tak menyadari jika kakak tertua mereka, memiliki seringai tipis di bibirnya, dengan mata yang berkilat berbahaya.

Waktu terus berlalu. Hingga akhirnya rasa kantuk datang menyapa. Meminta mereka untuk segera memejamkan mata.

Akhirnya ketujuh orang itu menyambut datangnya kantuk dengan mendatangi alam mimpi.

Malam terasa berlalu dengan cepat, tetapi sunrise belumlah terlihat.

Namun, anak-anak keluarga Shimura sudah tidak berada di kasurnya. Mereka kini sedang kelelahan akibat berlari, dengan keringat yang bermunculan di dahi.

"Nee-san, aku lelah. Bisakah kita beristirahat sebentar?" tanya Shion sembari mengatur napasnya yang memburu.

Karin mengangguk. "Benar. Kami sudah berlari sebelas kali bolak balik dari sini hingga ujung jalan sana, Nee-san."

Saat ini Sakura dan adik-adiknya sedang berada di jalan lebar berpaving tepat di depan vila yang mereka tempati.

Sakura membangunkan keenam adiknya saat masih pagi buta. Memerintahkan mereka untuk berganti pakaian. Mengganti piyama dengan celana sport dan baju kaos yang terlapisi hoodie, kemudian menyuruh mereka berlari bolak balik, dari depan vila hingga ujung jalan yang yang masih termasuk dalam area vila keluarga Otsutsuki.

"Sepuluh menit," ucap Sakura santai.

Ucapan Sakura sukses membuat keenam adiknya menghela napas lega. Akhirnya kakaknya itu memberi mereka waktu istirahat sebentar. Kemudian mereka duduk di teras depan vila.

Saat adik-adiknya masih kelelahan karena berlari, Sakura sedang santai berdiri di atas hoverboard sembari memegang mug berisi coklat panas yang tersisa sedikit.

Ya. Sakura menyuruh mereka berlari bolak balik, sedangkan dirinya mengikuti dari belakang mengendarai hoverboard. Jadi tentu saja dia tidak kelelahan.

Ketika adiknya berlari saat pagi buta dengan menahan dinginnya udara pagi, Sakura tidak ikut serta berlari. Melainkan berdiri di atas hoverboard, mengendarai benda itu di belakang keenam adiknya dengan menggenggam mug berisi coklat panas. Sungguh hebat!

Sakura lalu turun dari hoverboard berwarna hitam yang ia naiki, lalu masuk ke dalam vila. Meninggalkan adik-adiknya yang sedang duduk beristirahat di teras.

Beberapa saat kemudian, Sakura kembali dengan membawa empat botol air mineral, lalu memberikannya pada adik-adikknya yang dengan segera mereka minum.

Setelah merasa adik-adiknya cukup beristirahat, dan matahari mulai terbit, Sakura mengajak mereka ke pantai.

"Ayo ke pantai," ucapnya.

.

.

.

Chapter 11 selesai.

-oOo-

Halo semuanya apa kabar? I'am Back!

A/N : Syaratnya terpenuhi, jadi di sini di up. Terima kasih banyak untuk kalian. Seperti sebelumnya, fic ini slow up dan alurnya lambat, apalagi kalo ide dan real life menghambat, yah makin lama deh hehe. Harap bersabar dalam menanti kemajuan alurnya terutama yang menanti romancenya. dan scene Sakura megang mug sembari mengendarau hoverboard itu cuma karangan. Aku gatau beneran bisa apa gak orang naik noverboard sembari megang gelas wkwk.

Muhammad Dani : Hai, iya ini dilanjut di sini juga dan ini juga berkat kamu. Romancenya lambat ya, karena genre family lebih dominan di sini. Tapi ya semoga Sakura gercep wkwkwk. Terima kasih sudah membaca dan mengisi kotak review ya :)

agusrr : Tambah lagi dong bang jangan cuma asem. Ajak juga temennya, si pait, manis, getir, pedes dll. wkwk

Guest Kitsune : Iya ini dilanjut lagi. Bener, udah mulai sepi dan jarang di up fic2nya padahal bagus2. Sampe aku pernah DM tu Author2nya, saking penasaran sama ceritanya dan pingin ceritanya di up, yah walau gak dapet balasan dan entah dibaca apa gak DM-ku, sepertinya yg ju DM sudah pensiun. Kuhargai juga dirimu yang sudah meluangkan waktu untuk menulis review. Terima kasih sudah membaca dan menunggu kelanjutannya.

Guest 1 : Ini di sini dilanjut juga. Terima kasih sudah membaca cerita ini.

Guest 2 : Tentu kulanjutkan jika aku mampu (secara fisik, ide, waktu).

Untuk review di sana memang ada, dan mereka juga memberi krisar di tulisanku, dan itu membuat tulisan mengerikanku membaik.

Dan kamu yang terganggu dgn iklan wattpad dan merasa kenyamanan sebagai pembaca seolah dibatasi karena pop-up iklan. Maaf aku harus bilang, kalo kamu errr... egois. Kamu memikirkan posisimu sebagai pembaca, tp apa kamu mikirin gimana posisiku sebagai yg menulis cerita?(yah meski abal dan banyak kekurangan). Kamu terganggu dgn iklan disana, tp disini, di tempat yg kamu merasa nyaman dan gak dibatasi sebagai pembaca, kamu bahkan gak sudi mengetik satu kata 'lanjut' yg gak lebih dari 5 detik untuk melakukan itu. Kamu merasa nyaman saat tanpa iklan, aku juga merasa nyaman saat mendapat tanggapan. Kamu ngerti?

Entah, mungkin ini pribadiku yang buruk dan mental pemulaku yang merasa senang mendapat tanggapan dari orang yg membaca ceritaku, hingga membuatmu tak nyaman.

Kamu juga menulis, "kalo sekedar cari reviewer,silahkan pindah server!"

Aku pemula(author) di sini, ini fic pertamaku, sebelum menulis tentu aku harus tau setidaknya istilah2 dasar fanfiction. Ada istilah, RnR (Read n Review) artinya, permintaan seorang author agar ceritanya dibaca dan di review oleh reader.

Kalau istilahnya saja ada, kenapa saat mengaplikasikannya ke cerita, itu seolah dilarang dan tabu serta memalukan? Bahkan sampai disuruh pindah server? Apa istilah itu cuma lelucon? Atau itu tidak berlaku bagi author baru netes sepertiku? Hem?

Lagian, meski aku meminta pembaca untuk meninggalkan jejak di setiap chap (kecuali chap6), mereka yg melakukannya bisa dihitung hanya dgn jari tangan, yg bahkan jumlah jarinya masih sisa banyak. Tapi aku tetap sangat senang untuk itu.

Kamu gak tau, saat aku mabuk laut dan darat karena perjalanan antar pulau, mendapat notifikasi kalo ada review di fic-ku, membuatku mengabaikan rasa mabuk karena senang, aku liat berulang kali dan buka tutup berkali kali kotak review, yang bahkan gak lebih dari dua kata yang singkat.

Aku gak tau siapa kamu, entah kamu pembaca lama, baru, atau author senior dan terkenal yg gamau identitasnya diketahui, yg mungkin bagimu fic-ku ini hanya remahan rengginang bagimu, karena kamu bersembunyi di kata Guest. Tapi siapa pun kamu, bukti kalau kamu muncul di chap pengumuman, membuktikan bahwa kamu membaca fic ini dari awal, meski keberadaanmu tidak terdeteksi. Karena itu, kuucapkan terima kasih sudah membaca. Aku gak akan menyuruh kamu pindah server seperti yg kamu lakukan, karena siapalah aku. Dan aku juga gak akan menyuruhmu berhenti mengikuti fic ini, karena kalaupun kamu baca, kamu gak terdeteksi. Untuk itu, maka terakhir, kukembalikan boomerang-mu ya, "Kalau terganggu dengan sikapku, silahkan pindah cerita!"

.

Note : Untuk yang membaca cerita ini, aku minta maaf kalau tindakanku yang meminta jejak saat update itu mengganggu kalian. Setelah ini, aku gak akan seperti itu lagi. Aku juga tidak akan menulis 'Halo apa kabar?' lagi. Lagi pula dari semua chap (kecuali chap6) yang kutulis begitu, tidak ada yang pernah menjawabnya. Kalopun itu basa-basi, kaliam bisa jawab 'baik' yg sebenarnya bukan kondisi kalian sesunguhnya. Tp ya, sepertinya itu gak penting untuk dijawab.

Tadinya kupikir, bisa berinteraksi dgn pembaca itu menyenangkan. Seperti Author yang lain. Karena itu, mencoba bersikap hangat dengan tanya kabar di hampir semua chap (kec.chap6) kulakukan. Di chap 6, gak ada tanya kabar/An, karena merasa itu sia-sia, di chap7 aku mulai optimis lagi dan mulai tanya lagi, juga nulis an singkat. Tp harapan tetaplah harapan ya. Sekarang baru sadar, kalo meminta jejak pun rasanya kek mengemis ya.

Sepertinya mental pemula dan pribadiku yang buruk membuat tingkahku begini. Maaf untuk yang merasa tidak nyaman. Mohon abaikan saja.

Terakhir, pokoknya terima kasih banyak untuk yang sudah membaca, apalagi yang mem-fav dan mem-Follow juga menulis review. Terima kasih banyak semuanya. Fic ini kuusahakan bakal di lanjut jika (ide, fisik, waktu) bisa di ajak kerjasama. Dah, bye bye, sayonara, sampai jumpa, chapter depan.