Chapter sebelumnya...

"Teman-teman, siapa yang meletakkan setangkai bunga matahari di atas meja samping ranjangku?"

-oOo-

My Family

Naruto by : Masashi Kishimoto

Story by : Awy77 Andrian

Warning : OOC, OC, Typo(s), AU, Dsb.

Rated : T

Genre : Family, Romance

Main Pair : Narusaku (slow)

Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut fanfic, kan?

If you don't like don't read

Happy Reading! :)

-oOo-

.

.

.

Mereka sontak menoleh menatapnya.

"Bunga matahari?"

Pemuda yang masih bisa disebut remaja itu mangangguk. "Ya, ini." Ia lalu mengangkat setangkai bunga matahari di tangannya.

Teman-temannya heran dan bingung.

"Tidak, itu bukan aku," ucap Shizuka.

Fuu menggeleng. "Itu juga bukan aku."

"Aku juga bukan," ucap Tenten sembari mengernyitkan dahi.

Kemudian ketiganya menatap Ino, satu-satunya perempuan di antara mereka yang belum mengucapkan sangkalan. Bahkan ada sepasang mata sipit bak kuaci yang ikut melirik Ino dengan sudut matanya.

Mendapat tatapan dari ketiga temannya, Ino mendengkus. "Aku memiliki toko bunga. Aku lebih suka menjualnya, dibanding memberikannya dengan percuma."

Ucapan Ino membuat pemilik mata sipit bak kuaci itu mengendurkan otot wajahnya yang sebelumnya sedikit terlihat kaku.

Mendengar pernyataan Ino, Shizuka kembali menatap Naruto. "Itu berarti bukan kami. Lagi pula kami tak punya kunci kamarmu, Naruto-kun."

Naruto lalu menatap teman laki-lakinya bergantian.

"Apa maksud tatapanmu itu, Naruto?" tanya Shikamaru.

Chouji mengernyitkan dahi. "Apa kau berpikir jika salah satu dari kami yang melakukannya?"

Naruto menatap mereka bingung. "Memangnya bukan kalian?"

Ia lalu menatap bunga matahari di tangannya. "Bunga ini tidak memiliki kaki."

Sasuke yang berdiri di sampingnya mendengkus. "Hanya karena bunga itu tidak memiliki kaki, kau mengira kami menyukai sesama lelaki? Jangan konyol, Dobe."

Para lelaki memang tak antusias menjawab. Karena merasa jika itu bukanlah ulah mereka. Tentu saja bukan mereka, mereka masihlah menyukai wanita!

Karena itu, mereka membiarkan para gadis untuk menjawab bergiliran. Namun ternyata, mereka semua menyangkal. Itu agak di luar dugaan.

"Lagi pula, jika aku menyukai lelaki, kau bukanlah tipeku, Naruto," sambung Sai dengan senyum khasnya. Senyum yang terlihat palsu dan aneh.

"Apa maksud kalian? Aku tidak berpikir begitu. Aku hanya ingin tahu siapa yang meletakkan bunga ini, itu saja," jelas Naruto yang merasa disalahpahami.

Sasuke melirik Naruto sinis. "Lalu apa kau berpikir jika seorang lelaki heteroseksual memberi bunga pada lelaki lain, saat tidak dalam keadaan mengucapkan selamat, itu adalah hal yang normal?"

Ino menatap keduanya bergantian, lalu menepuk tangannya dua kali. "Baiklah, tak perlu diperpanjang. Sekarang sudah jelas jika yang melakukannya bukan kami."

"Melakukan apa?"

Suara Karui terdengar dari arah dapur. Di belakangnya ada Shino, Gaara, dan Neji yang mengikuti. Mereka baru saja selesai membuat sarapan. Hari ini adalah jadwal mereka berempat untuk memasak.

"Seseorang meletakkan bunga di kamar Naruto-kun. Tapi kami tidak tahu siapa yang melakukannya," jawab Shizuka.

"Apa itu kau, Karui-chan?" tanya Naruto.

Karui adalah perempuan terakhir yang belum mengatakan penyangkalannya.

"Aku?" Karui menunjuk dirinya sendiri.

"Tidak. Itu bukan aku," lanjutnya dengan gelengan kepala.

Naruto lalu menatap ketiga lelaki di belakang Karui.

"Hentikan tatapanmu. Aku heteroseksual," ucap Neji. Merasa tertuduh dengan tatapan Naruto.

"Aku juga," ujar Gaara singkat.

"Begitu juga denganku," tutur Shino.

"Kalau begitu, lalu siapa?" tanya Naruto entah pada siapa.

"Empat puluh dua, empat puluh tiga, empat puluh empat."

Mendengar seseorang berhitung, mereka lekas menoleh ke arah sumber suara.

Terlihatlah salah satu teman mereka, yang bercirikan rambut bob dengan mata besar dan bulat, juga bertubuh ramping yang sedang memakai pakaian lentur berwarna hijau. Lee, itu teman mereka, Rock Lee.

"Apa yang kau lakukan, Lee?"

Tenten bertanya pada Lee yang sedang menuju ke arah mereka dengan posisi handstand.

"Empat puluh delapan, empat puluh sembilan, lima puluh." Setelah hitungan kelima puluh, Lee berdiri dengan bertumpu pada kedua kaki.

Dengan napas yang sedikit memburu, Lee menjawab dengan semangat. "Aku baru saja menyelesaikan lari pagiku. Lalu memasuki area vila dengan posisi berdiri terbalik. Aku ingin berolahraga saja. Semangat masa muda!"

Lee lalu menatap teman-temannya dengan wajah bingung. "Kalian berkumpul di sini? Apa sarapan sudah selesai?"

"Sarapan bahkan belum dimulai. Kami baru saja ingin memberitahu jika sarapan sudah siap," ucap Karui.

"Sarapan belum dimulai? Lalu kenapa kalian masih di sini?" tanya Lee heran.

"Lee, apa kau menaruh bunga di kamar Naruto?" tanya Sai santai dengan senyum khasnya. Mengabaikan pertanyaan Lee sebelumnya.

Sontak Lee menoleh pada Sai, lalu pada Naruto. Kemudian menggeleng. "Tidak. Untuk apa aku melakukannya?"

"Lagi pula, memberinya peralatan olahraga itu lebih baik. Kami bisa berolahraga bersama," lanjutnya.

Diskusi mereka tentang bunga matahari berakhir di sini. Biarlah setangkai bunga itu tetap menjadi misteri, karena perut sudah mulai keroncongan meminta diisi.

Setelah sarapan, beberapa dari mereka segera pergi ke pantai, dan sisanya masih berada di vila. Ini hari kedua mereka ke pantai, tentu mereka masih bersemangat.

Mereka yang masih ada di vila adalah orang yang bertugas memasak hari ini. Mereka adalah Neji, Shino, Karui dan Gaara. Mereka belum sempat mandi, karena harus memasak sarapan untuk diri sendiri dan yang lainnya.

Selain mereka, ada tiga orang lainnya yang juga masih ada di vila. Mereka adalah Sasuke, Naruto, dan Lee. Lee harus mandi lagi karena tadi ia berolahraga. Lalu Naruto, ia juga belum mandi karena bangun kesiangan. Sedangkan Sasuke, ia sedang menunggu Naruto sembari membaca buku. Naruto memaksanya untuk pergi ke pantai bersama. Yah, meski di sertai adu mulut, pada akhirnya Sasuke tetap memilih menunggu sahabatnya yang bersurai blonde itu, dibanding pergi ke pantai lebih dulu.

Setelah beberapa saat, Lee keluar dari kamarnya memakai kaus berwarna hijau polos dan celana panjang yang juga berwarna hijau. Membuatnya terlihat seperti daun pisang berjalan. Entah kenapa dia sangat menyukai warna hijau. Itu masih menjadi misteri yang tidak menarik untuk dipecahkan.

Melihat Sasuke sedang duduk sambil membaca buku, ia menghampirinya.

"Hei, Sasuke. Kau akhirnya menunggu Naruto?"

Lee pergi mandi saat Sasuke dan Naruto masih bertikai. Ia pikir, Sasuke sudah pergi ke pantai bersama yang lainnya.

"Hn."

Sasuke menjawab dengan jawaban khasnya setelah melirik Lee sesaat.

Beberapa saat kemudian, Gaara dan Neji muncul. Lalu tak lama, Naruto juga keluar dari kamarnya.

Kini kelima lelaki itu sedang duduk di sofa sembari menunggu Karui.

"Hei Sasuke, aku tadi melihat seseorang yang mengingatkanku padamu," ucap Lee tiba-tiba.

Sasuke sontak melihat Lee dengan satu alis yang terangkat. Bertanya melalui ekspresinya.

"Siapa yang kau lihat, Lee," tanya Neji.

Lee menggeleng. "Aku tidak mengenalnya, hanya melihatnya saja."

"Kau bilang seperti Sasuke?"

"Ya, Gaara." Lee mengangguk.

"Dia berambut gelap, berkulit putih pucat dan mata yang hitam pekat," ungkap Lee.

"Fitur wajahnya juga sedikit mirip dengan Sasuke," lanjut Lee.

"Di mana kau melihatnya, Lee? Eh, apa dia juga mempunyai ekspresi wajah sedatar triplek seperti Teme?"

Sasuke sontak melempar buku yang ada di tangannya pada wajah Naruto, yang sayangnya mudah dihindari oleh si target. Sayang sekali.

Buku yang menghantam sandaran sofa itu berakhir tergeletak di samping Gaara, yang kemudian ia ambil lalu membacanya sebentar. Setelah itu Gaara menutup buku Sasuke, lalu meletakkannya di atas meja. Sepertinya buku itu bukan seleranya.

"Tidak. Dia terlihat sedikit lebih hangat dibanding Sasuke," ucap Lee.

"Aku melihatnya saat lari pagi," lanjutnya kemudian.

"Pagi tadi?" tanya Shino memastikan.

Lee mengangguk. "Ya. Ketika aku berangkat lari pagi, aku berpapasan dengan mereka."

Dahi Neji mengernyit mendengar ucapan Lee. Ia lalu bertanya. "Mereka? Apa ada banyak orang yang seperti Sasuke?"

Perkataan Neji sontak mengundang tatapan tajam Sasuke. Ia merasa jika kata-kata Neji membuatnya seolah menjadi barang buatan pabrik yang di produksi secara masal!

Meninggalkan Sasuke yang menatap tajam Neji, dan Neji yang berpura-pura tidak menyadarinya. Maka kita akan kembali pada pemuda penyuka warna hijau.

Remaja penyuka warna hijau itu menggeleng cepat. "Tidak, hanya satu. Tetapi dia tidak sendiri."

"Dia, bersama Shimura bersaudara."

My Family

"Nii-chan, apa begini bagus?"

Setelah kalimat pertanyaan Hanabi, terdengarlah suara dengkusan, lalu kalimat saran yang terdengar agak menyebalkan. "Tidak. Berposelah lebih feminim, kau ada di laut bukan di area bertarung."

"Shion-nee, kalau begitu ayo ajari aku," keluh Hanabi pada Shion yang mengomentari posenya.

Gadis pirang yang mengomentari Hanabi itu sedang bersandar pada besi pembatas pinggiran kapal, dengan tangan yang terlipat di depan dada.

Sakura dan adik-adiknya sedang ada di atas kapal menuju perairan, yang menjadi tempat mereka akan melakukan snorkeling.

Sebenarnya wajar jika Shion berkata begitu. Karena tadi Hanabi berpose dengan tangan di pinggang lalu menatap tajam ke depan, tepat ke arah kamera di tangan Shisui yang bersiap akan memotretnya.

"Kau adalah model dari butik Nee-chan. Apa semua yang diajarkan padamu sudah terhempas jauh dari kepalamu?"

Hanabi memanyunkan bibir. "Kita tidak pernah melakukan pemotretan busana di atas kapal," ucapnya membuat pembelaan.

"Shion-chan, berdirilah bersama Hanabi-chan. Aku akan memotret kalian berdua," pinta Shisui yang merupakan triknya, agar mereka tidak berlanjut menjadi pertikaian.

Meninggalkan mereka bertiga dia area terbuka kapal, kini di area dalam kapal ada anak-anak Shimura yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Anak tertua, yaitu Sakura. Dia sedang menikmati semangkuk sup rumput laut buatan koki kapal yang mereka naiki. Ya, kapal yang mereka sewa bukan hanya sekedar kapal, tapi ada juga fasilitas makanan, internet gratis, tempat tidur portable dan juga tenaga profesional.

Dalam satu paket kapal yang mereka sewa, sudah ada kapten kapal, dua orang teknisi, satu orang penyelam bersertifikat, satu koki profesional, dan juga dua perenang laut yang handal.

Mereka sengaja menyewa kapal yang cukup mahal, selama itu sebanding dengan yang mereka dapatkan. Karena mereka berencana setelah melakukan snorkeling, maka mereka akan pergi ke pulau wisata lalu melakukan diving di sana, kemudian kembali ke vila pada sore hari. Tentu mereka tidak bisa melakukan itu semua tanpa adanya orang yang membantu mereka, apalagi jika ada kemungkinan terburuk yang terjadi.

Setelah ada Sakura yang sedang menikmati sup, kini duo K, yaitu Kiba dan Karin, yang sedang mempersiapkan peralatan memancing di bantu oleh dua orang perenang. Sepertinya sebentar lagi mereka berempat akan mulai memancing.

Di sisi lain, ada Hinata yang sedang ada di dapur bersama koki mereka, mungkin sedang memasak sesuatu. Hinata dan si koki itu terlihat akrab. Mungkin karena keduanya menyukai kegiatan memasak, jadi mudah saling berinteraksi.

"Nee-san, apa kau ingin memancing juga?"

Sakura menoleh pada Kiba yang baru saja bertanya padanya.

Menelan sup yang ada di mulutnya, ia lalu menjawab. "Siapkan alat pancing untukku, aku akan menyusul."

"Baiklah."

Setelah menyiapkan satu set perlengkapan memancing untuk Sakura, mereka berempat lalu pergi keluar untuk memulai kegiatan memancing.

Setelah menghabiskan semangkuk sup rumput laut lalu menaruh mangkuknya ke dapur kapal, Sakura kemudian keluar untuk ikut serta dalam kegiatan memancing.

Netra emerald Sakura melihat Shisui yang sedang memotret Shion dan Hanabi di sisi luar kapal bagian belakang. Ia lalu pergi ke area samping kapal, tempat di mana Kiba, Karin, dan dua orang perenang laut yang sedang memancing. Namun, hanya satu perenang yang ikut memancing, karena satu orang lainnya bertugas membantu Karin memancing, juga membantu melepaskan kail pancing dari ikan yang memakan umpan mereka.

"Nee-chan, aku ingin memancing juga."

Suara Hanabi terdengar setelah mereka mendapat sekitar setengah ember ikan.

"Kemarilah."

Bungsu Shimura itu lalu mendekati Sakura. Setelah itu Sakura memberikan pancingnya pada Hanabi.

Setelah mendapat ikan sebanyak dua setengah ember, mereka tiba di perairan yang akan menjadi lokasi untuk melakukan snorkeling. Dengan segera, Sakura dan adik-adiknya, kecuali Shion tentunya. Melakukan snorkeling bersama dua orang perenang laut handal.

Waktu terus berjalan, dan kini mereka sudah menyelesaikan kegiatan snorkeling sekitar setengah jam yang lalu. Selesainya mereka snorkeling bertepatan dengan waktu makan siang, sangat bagus. Dengan segera mereka berganti pakaian dan menanti makan siang, meski ada dua di antara mereka yang ikut membantu si koki menyiapkan makan siang.

Sakura, Shion, dan Kiba sedang duduk bersama sembari menungu makan siang, yang sedang di siapkan oleh koki bersama Hinata dan Shisui yang ikut membantu. Sedangkan Hanabi dan Karin, mereka sedang berganti pakaian.

Tak lama kemudian, Karin dan Hanabi datang. Kelima orang itu kini sedang menunggu makan siang datang.

"Nee-chan, apa besok kami akan lari pagi lagi?"

Sakura menatap Hanabi. "Iya, kenapa?"

"Tadi pagi saat pulang, kami berpapasan dengan salah satu siswa yang satu sekolah dengan kami," ucap Hanabi.

"Ah, si rumput berjalan itu maksudmu?" tanya Karin.

Sakura bingung. "Rumput berjalan?"

"Dia siswa yang menyukai warna hijau, Nee-san. Saat olahraga pun dia mengenakan pakaian ketat berwarna hijau. Dia juga sekelas denganku," jelas Kiba pada Sakura. Sakura menggumam, tanda mengerti.

"Dia baru mulai lari pagi, saat kami berpapasan dengannya ketika pulang," ucap Shion.

"Nee-chan tidak ikut lari pagi, jadi tidak melihatnya. Yah, meskipun jika ikut pun, Nee-chan pasti akan mengendarai hoverboard. Sebenarnya, dia cukup keren, lucu, dan menggemaskan," ucap Hanabi, ia lalu tertawa kecil saat mengingat sosok yang disebut 'rumput berjalan' oleh Karin.

Kiba melirik Hanabi heran. "Hanabi-chan, apa kau baik-baik saja?"

"Apa maksudmu, Kiba-nii? Tentu saja aku baik-baik saja," ujar Hanabi.

"Dari sisi mana kau bisa mengatakan jika dia keren, lucu, dan menggemaskan, Hanabi-chan?" tanya Karin penasaran.

"Tentu saja dia menggemaskan. Dia beralis hitam tebal, berambut bob, mermata besar dan bulat, juga sosok yang penuh semangat, juga dia mahir beladiri," jawab Hanabi dengan santai.

"Aku tak tahu jika seleramu untuk kategori keren, menggemaskan, dan lucu adalah seperti itu, Hanabi-chan," komentar Karin.

"Lagi pula dia bukan penuh semangat, tetapi terlalu bersemangat. Aku lebih bisa menerima jika kau berkata begitu untuk Namikaze daripada untuknya, Hanabi-chan," ucap Kiba. Dia masih belum bisa menerima jika sosok penggila warna hijau di kelasnya itu, di nilai keren dan lucu oleh adik bungsunya itu. Meski ia mengakui jika Lee mahir beladiri, tetapi itu tidak membuatnya masuk kategori keren, menurutnya.

Shion mendengkus, lalu berkata dengan sinis. "Aku tak tahu jika seleramu untuk kategori keren, menggemaskan, dan lucu adalah sperti itu. Aku bisa mengerti saat kau berkata jika Akamaru lucu dan menggemaskan. Lalu masih sedikit kuterima saat kata lucu dan menggemaskan itu juga berlaku untuk sepasang ikan hiasmu. Namun, untuk 'kura-kura hijau' itu? Oh, yang benar saja. Sulit dipercaya."

"Apa yang sulit dipercaya, Shion-nee?" tanya Hinata yang datang dengan membawa salah satu menu makan siang mereka, diikuti oleh Shisui dan si Koki.

"Bukan apa-apa Hinata-chan," ucap Karin.

Setelah makan siang di sajikan, dengan salah satu menu utamanya adalah ikan hasil pancingan mereka tadi. Sakura dan adik-adiknya beserta semua orang di kapal itu, kecuali sang kapten, menyantap makan siang dengan lahap. Si kapten sudah makan saat mereka melakukan snorkeling ternyata.

Mereka menikmati makan siang di atas kapal yang sedang melaju menuju tempat tujuan mereka selanjutnya, yaitu pulau wisata. Di sana nanti mereka akan melalakukan diving dan beberapa kegiatan lainnya.

awy77Andrian

Malam hari telah tiba. Langit yang berwarna gelap terlihat indah, berkat bintang-bintang yang berkedap-kedip menggoda, dan juga kehadiran sang dewi malam dengan tubuh sempurna.

Banyak orang berkata, jika tak baik bagi seorang wanita untuk berada di luar sendirian, terutama saat malam hari. Namun, saat ini ada wanita yang sedang berjalan sendirian. Mari kita lihat, apa yang akan dia lakukan.

Sesosok wanita bersurai merah yang memegang sebuah seruling, dan ponsel dengan fitur senter yang menyala sebagai penerangan tambahan, karena lampu jalan yang tidak terlalu terang. Ia sedang berjalan mendekati sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat sebuah sungai.

Wanita itu terus melangkah hingga sampai di lantai jembatan. Kemudian, ia melangkah ke samping, yang ternyata di sana terdapat sebuah tangga. Ia menuruni tangga itu yang mengarah ke bawah, ke tanah berlapis rerumputan yang menjadi tepi sungai.

Berdiri di tepi sungai, ia memejamkan kedua matanya, lalu menghirup napas dalam-dalam.

Setelah itu ia duduk di atas tanah yang berlapis rerumputan, lalu meletakkan ponselnya ke atas tanah di samping tubuhnya.

Kemudian, mulai memainkan seruling yang ia bawa. Memainkan sebuah lagu dengan penuh perasaan dan penjiwaan.

Suara seruling yang ia manikan terdengar sarat akan kesedihan dan penyesalan, yang teramat besar hingga ke relung hati yang terdalam. Ekspresi wajahnya juga menggambarkan rasa sedih, kecewa, juga penyesalan yang teramat dalam.

Suara serulingnya terasa seperti mencabik-cabik perasaan dan hati orang yang mendengarnya. Seakan ikut terlarut dalam perasaan dari suara seruling yang dihasilkan.

Bahkan, ia yang memainkannya juga larut dalam permainannya sendiri. Hingga dari kedua mata yang tertutup itu, air matanya keluar lalu mengalir di kedua pipi. Menciptakan dua jejak aliran air mata.

Dari matanya yang tertutup, air mata itu terus mengalir, hingga membasahi tangan dan mengenai seruling yang ia mainkan.

Wanita itu menangis tanpa suara. Hingga hidungnya mulai tersumbat dan mengganggu pernapasannya, lalu mau tak mau membuatnya terpaksa menghentikan permainan serulingnya.

Namun, setelah berhenti bermain seruling, ia tidak berhenti menangis, tetapi semakin menangis. Air mata terus mengalir di pipinya tiada henti. Di sela tangisannya, terucap kata maaf dari bibirnya.

Maaf.

Satu kata yang ia ucapkan dalam tangisnya.

Satu kata, yang terdengar penuh akan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.

Satu kata, yang tetap ia ucapkan berulang kali, meski dengan suara yang terbata akibat sesenggukan karena tangisnya.

Cara dan suaranya saat mengucapkan kata itu juga seakan menggambarkan, jika ia sudah melakukan hal keji yang tak termaafkan.

Menyadari jika suara isak tangisnya yang terdengar semakin lama semakin besar disertai sesenggukan, ia lalu segera menutup mulutnya dengan telapak tangan. Berusaha meredam suara tangisnya.

Setelah cukup lama, tangisnya berhenti. Menghasilkan mata dan hidung yang memerah. Dengan tangis yang sudah terhenti, ia tetap duduk di sana. Seperti enggan untuk beranjak pergi.

Terhitung dari sejak ia datang, maka ia sudah ada di area sungai itu sekitar satu jam.

Wanita bersurai merah itu termenung dengan mata yang terarah pada air sungai yang mengalir. Hingga pada akhirnya, suara dering ponsel menyadarkannya.

Mengangkat panggilan, telinganya segera mendapati sebuah pertanyaan.

Berusaha menormalkan suaranya, ia lalu menjawab pertanyaan dari si penelfon.

"Aku dalam perjalanan pulang."

Setelah mendengar jawabannya, si penelfon memintanya membeli sesuatu di supermarket 24 jam.

"Baiklah, akan kubeli."

Setelah mendengar ucapan terima kasih, ia memutus sambungan. Wanita bersurai merah itu lalu kembali menghidupkan fitur senter di ponselnya sebagai penerangan, yang tadi sempat ia matikan sebelum meletakkan ponselnya ke atas tanah.

Tak lama kemudian, ia bangkit berdiri. Menghadap sungai dengan air yang terus mengalir dengan arus sedang, ia lalu berkata dengan suara pelan.

"Sampai jumpa lagi ..."

"... anakku."

.

.

Chapter 13 selesai.

-oOo-

Untuk Muhammad Dani dan Guest, terimakasih atas reviewnya ya. :)