Tak lama kemudian, ia bangkit berdiri. Menghadap sungai dengan air yang terus mengalir dengan arus sedang, ia lalu berkata dengan suara pelan.

"Sampai jumpa lagi ..."

"... anakku."

-oOo-

My Family

Naruto by : Masashi Kishimoto

Story by : Awy77 Andrian

Warning : OOC, OC, Typo(s), AU, Dsb.

Rated : T

Genre : Family, Romance

Main Pair : Narusaku (slow)

Mohon maklumi semua kegajean, keanehan dan hal yang tidak masuk akal dalam cerita ini. Bukan tanpa alasan ini disebut fanfic, kan?

If you don't like don't read

Happy Reading! :)

-oOo-

.

.

.

Di ruang tengah kediaman Shimura, tiga orang wanita sedang duduk berbincang-bincang sembari menonton televisi.

"Kenapa Tayuya-nee belum pulang?" tanya wanita bersurai pirang sebahu sembari menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Mungkin sebentar lagi, Samui-chan," ucap Ayame. Wanita bersurai cokelat panjang itu menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi, yang sedang menampilkan adegan menangis seorang wanita.

"Hari ini grup musiknya tampil di acara lounching produk baru sebuah perusahaan, bukan?" tanya Megumi. Tangannya lalu meraih cangkir berisi teh hijau, kemudian ia menghirup aromanya.

Samui mengangguk. "Iya, itu benar."

Tak lama Hikari datang dari arah dapur. Di kedua tangannya membawa dua piring berisi kue kering.

"Aku tadi menghubungi Tayuya-nee. Memintanya membeli beberapa bahan untuk membuat kue," ucap Hikari.

Setelah beberapa saat mereka berbincang, bel pintu rumah berbunyi. Dengan segera, seorang wanita bersurai lavender di antara mereka berjalan menuju pintu.

Dengan tangan yang membawa dua tas belanja, Hikari kembali ke ruang tengah bersama Tayuya.

"Tayuya-nee, apa kau sudah makan?" tanya Ayame.

"Ya, sudah."

Mendengar suara Tayuya, Megumi bertanya sambil mendongak menatap Tayuya yang masih berdiri. "Kenapa suaramu agak par-" Pertanyaannya terhenti ketika ia menatap wajah Tayuya.

"Apa kau baru saja menangis, Tayuya-chan?" Megumi mengubah pertanyaannya.

Megumi bertanya ketika ia melihat mata dan hidung Tayuya agak memerah, ditambah suaranya yang terdengar parau.

Mendengar ucapan Megumi, mereka sontak menatap Tayuya dengan seksama. Setelah itu, mereka juga berpikir sama seperti Megumi setelah melihat wajahnya.

Hikari yang pertama melihat Tayuya, karena ia yang membuka pintu tidak memperhatikan wajahnya. Ia tidak menyadarinya, karena terlalu fokus pada belanjaan yang ia minta belikan. Ia juga hanya bertanya 'apa semuanya lancar, Tayuya-nee?' Yang dijawab dengan gumaman. Jadi, ia tak tahu jika Tayuya terlihat seperti orang yang baru menangis.

Semua menatap Tayuya ingin tahu.

Menyadari ia tak bisa mengelak, Tayuya mengakui. "Ya."

"Ada kejadian yang mengharukan tadi, dan itu membuatku menangis terharu." Namun, bukan jawaban sebenarnya yang ia ucapkan.

"Hidungku bahkan masih tersumbat, menyebalkan," ucap Tayuya sembari memencet hidungnya.

Mereka mengangguk mengerti. Begitu rupanya.

"Cepatlah mandi dengan air hangat kalau begitu," kata Megumi.

"Akan kubuatkan minuman hangat untukmu, Tayuya-nee," tutur Hikari sembari berjalan ke dapur dengan belanjaan di tangannya.

.

x X x My Family x X x

.

"Nee-chan, benarkah kami hanya perlu berlari sebanyak tiga kali saja?" tanya Hanabi.

"Ya."

Mendengar jawaban Sakura, senyum tercipta di bibir mereka. Biasanya, mereka akan berlari bolak balik setidaknya lebih dari sepuluh kali. Akan tetapi, kali ini mereka hanya akan berlari tiga kali saja. Tentu mereka senang.

Saat ini langit masih cukup gelap, meski nuansa kebiruan sudah mulai terlihat.

"Setelah berlari, akan dilanjutkan dengan beladiri," ungkap Sakura.

Kiba dan Hanabi sontak menyeringai mendengar itu. Jelas keduanya sangat menyukai ide kakaknya. Sedangakan Shisui, ia juga tak mampu menyembunyikan rasa senangnya, terlihat dari senyum tipis yang terbit di wajahnya sesaat setelah Sakura berucap. Tak lupa, tiga gadis remaja lainnya, yaitu Karin, Shion dan Hinata. Ketiganya juga menampilkan raut wajah senang dengan senyum yang mengembang. 'Ini akan menyenangkan'

Dengan segera, keenam adik Sakura melakukan peregangan otot, lalu dilanjut dengan lari sebanyak tiga kali. Setelah selesai berlari, kini mereka sudah kembali ke vila. Bersiap untuk kegiatan selanjutnya. Beladiri.

"Istirahat lima menit," ucap Sakura pada adik-adiknya yang sudah menyelesaikan lari pagi.

Lima menit mereka gunakan untuk minum dan istirahat sejenak. Setelah lima menit berlalu, kini mereka saling melawan satu sama lain.

Warna gelapnya langit kian memudar, tergantikan oleh rona biru yang semakin terlihat jelas. Fajar mulai menyingsing saat Sakura sedang memperhatikan keenam adiknya yang saling melawan satu sama lain.

Terlihat Shisui yang sedang melawan dua adik perempuannya, Shion dan Karin. Sedangkan Kiba, melawan si kembar bersurai panjang, yaitu Hinata dan Hanabi.

Kobaran semangat terpancar jelas di mata mereka, dengan senyum seringai yang menghiasi wajah masing-masing. Bahkan Hinata, yang paling feminim pun tak luput dari suasana penuh semangat yang tercipta.

Tatapan tajam saling di layangkan pada orang yang menjadi lawan. Senyum kemenangan dan tatapan puas juga terlihat, saat berhasil memberikan serangan pada si lawan. Begitu juga dengan decihan dan dengkusan, yang muncul saat serangan berhasil dihindari atau ditahan si lawan.

Memberi pukulan, tendangan, pelintiran, sepakan juga saling menyerang titik vital terus terjadi diantara mereka. Tak lupa, gerakan bertahan, elakan, dan menghindar dengan gesit juga saling di lakukan, saat pihak lain memberi serangan. Hingga tak terasa, warna kebiruan di langit sudah hampir hilang sepenuhnya.

"Tata, Shion, Karin. Kemarilah,"

Dengan deru napas yang memburu dan keringat bercucuran, tiga orang yang disebut sontak menghentikan gerakannya, dan langsung menoleh menatap Sakura. Sedangkan yang lainnya sempat berhenti sesaat.

Namun, saat nama mereka tak kunjung disebut, mereka kembali melanjutkan pertarungan. Kiba dan Hanabi terus bertarung, meski sudah pasti jika Kiba tak memakai tenaganya secara penuh.

Shion, Hinata, dan Karin berjalan mendekati Sakura. Menghampiri kakak mereka yang sedang bersandar pada tembok dengan tangan bersedekap.

"Istirahatlah, lalu mandi," ucap Sakura pada ketiganya, dengan tangan yang mengusap kepala Hinata sembari berjalan mendekati Shisui yang tak memiliki lawan.

"Menjadi lawanku, Nee-san?" tanya Shisui pada Sakura dengan senyum senang di wajahnya.

"Tidak saat ini," jawab Sakura.

Dahi Shisui mengernyit. Tak mengerti. Jika bukan untuk menjadi lawannya, maka untuk apa Sakura menghampirinya?

"Bawa Hanabi padaku, lawanlah Kiba."

Waktu terus berajalan, olahraga anak-anak Shimura juga telah selesai. Mereka kini sedang menyantap sarapan. Menu sarapan mereka hari ini adalah roti gandum dengan selai kacang sebagai karbohidrat dan protein, lalu minumnya adalah susu rendah lemak, dan ada juga kacang-kacangan sebagai tambahan.

Setelah mereka menyelesaikan sarapan, kini ketujuh orang itu duduk di sofa sembari memakan buah.

"Apa yang akan kita lakukan hari ini, Nee-chan?" tanya Hanabi.

"Kalian tidak ingin istirahan hari ini? Kemarin kita pulang malam, dan kalian berolahraga sejak pagi buta," ucap Sakura.

Kemarin mereka pulang malam karena terlalu banyak kegiatan yang dilakukan di pulau wisata. Mereka bukan hanya melakukan diving di sana seperti yang di rencanakan. Alhasil, mereka kembali saat malam tiba. Beruntung persediaan makanan di kapal masih ada, dan ada koki di kapal. Mereka makan malam bersama di kapal dalam perjalanan pulang.

"Kalau begitu kita akan beristirahat di vila. Setelah itu, siang nanti kita ke pantai. Di sana kita tidak akan melakukan kegiatan yang menguras tenaga," tutur Karin.

"Aku tidak mau menyia-nyiakan liburan," lanjut Karin. Jika hanya akan di vila, kenapa mereka tidak di rumah saja? Jadi tidak mengeluarkan uang untuk biaya liburan, bukan?

Hanabi mengangguk. "Benar. Aku setuju, Karin-nee."

"Ya, aku juga setuju," ucap Kiba dengan anggukan kepala.

Shimura yang lainnya ikut mengangguk menyetujui. Mereka mengerti jika Sakura khawatir. Tetapi, diam di vila saat liburan ke area dekat pantai? Yang benar saja!

"Kalau begitu, apa ada yang punya ide, kegiatan apa yang akan kita lakukan nanti?" tanya Shion.

"Bagaimana jika kita bersantai di pantai. Melakukan permainan kecil yang tidak menguras tenaga," usul Hinata.

"Ah, benar. Kita juga belum sempat berfoto di pantai, padahal sudah tiga hari ini kita berlibur," ujar Hanabi.

"Shisui, bagaimana denganmu?" tanya Sakura.

"Nii-chan harus ikut!" seru Hanabi.

"Karena Nii-chan yang paling baik dalam mengambil gambar," lanjutnya kemudian.

"Sebenarnya kalian bisa membayar fotografer pantai atau meminta tolong wisatawan untuk memotret. Tetapi baiklah, aku akan ikut," ucap Shisui yang membuat kelima adiknya tersenyum senang.

"Bagaimana denganmu, Nee-san?" tanya Kiba pada Sakura.

Sakura menatapnya. "Aku akan tetap di vila."

oOo

"Skor kalian tujuh belas sama," ucap Lee dengan semangat. Di sampingnya ada Chouji yang ikut menemani. Dengan tangan yang memeganng minuman.

Saat ini, Lee sedang menjadi wasit sekaligus orang yang mengatur papan skor dari permainan voli pantai, yang dimainkan oleh empat orang teman perempuannya. Tim pertama adalah Ino dan Karui dengan Tenten dan Fuu sebagai lawannya.

Semangat terpancar dari wajah keempatnya. Keringat yang bercucuran dan napas yang cepat terlihat dengan jelas. Namun, mereka tampak menikmati permainan voli pantai itu.

Di sisi lain, ada Sasuke dan Neji yang sedang duduk santai berselonjor di kursi pantai panjang berbahan kayu dengan meja payung. Di atas meja itu terdapat minuman dingin untuk keduanya. Di meja payung dan dua kursi lainnya di samping mereka, ada Sai dan Shino. Sedangkan di tepi pantai, ada Shizuka dan Shikamaru yang sedang berbaring di pasir beralaskan kain dengan payung yang mengalang sinar matahari ke mata mereka.

"Shikamaru-kun, apa yang kau tahu tentang Shimura bersaudara?" tanya Shizuka.

"Tiba-tiba kau bertanya begitu?"

Shikamaru menghela napas pelan. "Apa yang kutahu, mungkin sebanyak apa yang kalian tahu."

"Kenapa kau membahas mereka, Shizuka?"

"Tidak ada. Aku hanya tiba-tiba teringat saat secara tidak sengaja melihat Shimura bersurai pirang, mendapat gangguan dari murid-murid lain di area loker outdor."

Mata Shizuka seakan menerawang jauh. "Saat itu dia sendirian. Cacian, bisik-bisik, dan hinaan terlontar padanya. Para siswa lain berjumlah banyak, jadi mereka berani mengganggunya meski tidak secara fisik. Hah, kenapa dia seperti itu?" lanjut Shizuka.

"He?" Shikamaru melirik Shizuka.

Shizuka merubah posisi berbaringnya menjadi duduk. "Ketenangannya, Shikamaru. Sorot mata dan tindakannya sangatlah tenang. Matanya tidak menampilkan emosi apa pun. Gerak tubuhnya juga terkendali, tidak ada indikasi marah ataupun terganggu. Berdasarkan yang dilakukan para murid itu, jika aku di posisinya. Bahkan jika aku tidak membuka mulut, setidaknya tubuhku akan bereaksi. Entah sorot mataku, tanganku yang terkepal, ataupun tubuhku yang gemetar."

"Apa yang kau lakukan saat itu?" tanya Shikamaru.

"Tidak ada," jawab Shizuka.

"Kau tidak membantunya?"

"Aku sengaja tidak membantunya." Shikamaru merasa tertarik dengan jawaban Shizuka, membuatnya segera merubah posisi berbaringnya menjadi duduk.

"Apa alasanmu?"

"Mereka hanya tampak hidup saat bersama saudaranya, aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan pada murid-murid itu. Jadi, aku menunggu di balik tembok sembari mengawasinya. Namun, aku tidak mendapat apa-apa. Dia tak memberi merespon apa pun."

Mereka terdiam sesaat, hingga suara Shikamaru terdengar. "Kenapa kau mengatakan hal ini padaku?"

"Karena kupikir, kalau kau memiliki sesuatu yang bisa kau beritahu padaku juga," ucap Shizuka.

"Di kantin saat kita membahas mereka, kau terus memperhatikan Kiba Shimura. Aku yakin, bukan tanpa alasan kau melakukannya," lanjut Shizuka. Ternyata, saat itu, bukan hanya Ino yang menyadarinya, tetapi Shizuka juga.

Shikamaru menghela napas pelan. "Ya."

"Aku melihatnya berkelahi dengan jumlah yang tidak seimbang saat mengambil barang Ino yang tertinggal. Saat itu aku berteriak memanggil sensei. Berpura-pura jika ada sensei di sana, dan itu membuat perkelahian mereka terhenti," ungkap Shikamaru.

"Berkelahi? Kenapa tidak ada yang tahu hal itu?" tanya Shizuka.

"Saat itu sekolah sudah sepi. Lagi pula lokasinya juga tertutup, dan di antara mereka juga tidak ada yang mengadu ke pihak sekolah. Jadi, perkelahian itu tidak ada yang tahu," ucap Shikamaru.

"Lagi pula, bukankah tidak mengherankan jika hal itu tidak diketahui banyak orang? Kau ingat ketika Naruto menjawab pertanyaanku saat di kantin? Di antara kita juga tidak ada yang tahu perkelahian itu meski ada murid yang terluka parah, bukan?" lanjut Shikamaru. Shizuka terdiam. Benar. Memang mereka tidak tahu.

Di area bermain voli, Chouji bertanya pada Lee.

"Lee, bukankah waktu makan siang tak lama lagi?"

"Eh? Emm, sepertinya iya," ucap Lee.

"Berapa poin lagi hingga ada pemenangnya?" tanya Chouji.

Lee melihat papan skor di sampingnya. "Tim Tenten dan Karui akan memenangkan pertandingan jika mereka mencetak satu poin lagi," jawab Lee. Papan skor menunjukkan poin 12-14

Pada sesi pertama, tim Tenten dan Karui menang dengan poin akhir 18-21. Kemudian, pada set kedua tim Ino dan Fuu menang dengan poin 24-21. Saat ini adalah set ketiga. Tim Tenten dan Karui sedang memimpin dengan poin 12-14. Pada set ketiga, poin akan berjumlah 15, bukan 21 poin seperti dua set awal. Jadi, jika tim Tenten dan Fuu bisa mencetak satu poin lagi tanpa tim lain mencetak poin, maka Tim Tenten dan Karui akan memenangkan pertandingan.

Di kursi pantai panjang yang berjejer, empat remaja tampan sedang bersantai.

Mata pucat Neji menyipit ke arah lautan. Terfokus pada seorang remaja lelaki bersurai pirang yang asik berselancar. Dari bibirnya terucap pertanyaan.

"Kau tidak berselancar sepertinya?"

Sasuke yang sedang membaca buku melirik Neji sekilas. Ia tahu pertanyaan itu ditujukan padanya.

"Hn."

"Berbicaralah dengan bahasa normal. Aku tidak mengerti apa arti ucapan tak jelasmu."

"Hn."

"Kau berengsek, Sasuke."

"Hn."

Mendengar jawaban yang tidak ia inginkan untuk ketiga kalinya. Membuat Neji dengan segera mencopot buah ceri yang menggapit gelas minumannya, lalu melemparkannya pada Sasuke.

Sasuke tak merespon, meski kaos putihnya ternoda buah ceri yang di lempar Neji. Dia melanjutkan membaca bukunya.

"Kupikir kau akan selalu melakukan apa yang Naruto lakukan."

Buk!

Sasuke menutup bukunya.

Mata gelap Sasuke menatap Neji. "Kupikir kau juga akan melakukan apa yang dua orang itu lakukan."

"Apa maksudmu?" tanya Neji.

Sasuke mendengkus. "Rambut cepol dan rumput berjalan. Keduanya terlibat dalam permainan voli, kenapa kau tidak?" Mata Sasuke terarah pada orang yang menjadi pemain dan wasit dalam permainan voli pantai. Dua orang itu adalah Tenten dan Lee. Sama seperti Sasuke dan Naruto. Neji, Tenten, dan Lee, mereka sudah berteman sejak kecil.

"Hanya tidak ingin saja," ujar Neji.

"Kau mendapatkan jawabanmu," ucap Sasuke. Neji terdiam sesaat. Mencerna ucapan Sasuke. Akhirnya ia mengerti.

'Bukankah mengucaokan empat kata itu lebih mudah, dibanding berujung pembicaraan panjang seperti ini?' batin Neji sebal.

Pemuda bersurai cokelat panjang itu menghela napas. "Lagi pula, mereka sudah cukup orang. Lee juga sudah ada di sana. Kehadiranku, tidak diperlukan," tutur Neji.

"Begitu juga Naruto, sudah ada Gaara yang bersamanya."

Benar. Gaara memang ikut bersama Naruto berselancar. Neji melihat ke arah lautan. Terlihatlah pemuda bersurai merah bata sedang berselancar juga. Hanya Naruto dan Gaara yang berselancar di antara mereka.

"Naruto manusia biasa, bukan agenda harianku. Tidak semua yang dia lakukan, harus kulakukan juga," tutur Sasuke.

"Ya, kau benar. Begitu juga denganku." Meski dirinya dan Tenten juga Lee sudah akrab sejak kecil. Apa yang kedua temannya lakukan, tidak semuanya ia ikut melakukannya juga.

Tak lama para gadis yang bermain voli, juga Lee dan Chouji datang menghampiri.

"Hei teman-teman. Sebentar lagi jam makan siang, aku akan memesan meja untuk kita semua," ujar Chouji. Pemuda tambun itu segera pergi, guna memesan tempat untuk dirinya dan teman-temannya. Jika urusan makan, dia memang yang paling gesit.

"Aku akan ikut dengamu, Chouji. Ayo, Sai," ajak Shino pada Sai. Chouji menunggu keduanya.

"Kenapa aku harus ikut?" tanya Sai.

"Kita hanya duduk santai di sini. Berbicara pun tidak. Lagi pula aku malas melakukan apa pun yang membuat jaket bagian dalamku basah. Kau juga tak mau untuk sekedar berjemur, seakan tak mau merubah kulit pucatmu itu," ungkap Shino. Entah kenapa, pemuda berkacamata hitam bulat itu seakan sangat menyayangi jaket berkerah tinggi yang ia kenakan. Bahkan saat di pantai seperti ini, ia masih memakainya. Hah, sungguh aneh.

"Pergi bersama Chouji setidaknya membuat kita melakukan sesuatu," lanjutnya. Akhirnya Sai setuju. Ketiganya pergi bersama untuk memesan meja dan menu terlebih dahulu.

"Menyebalkan sekali, aku kalah," ucap Ino lesu. Tangannya menepuk pelan kaki Sasuke, mengisyaratkan untuk memberinya ruang agar dirinya bisa duduk. Sasuke mengerti, dan ia memberi ruang untuk Ino duduk.

"Kau sudah berusaha Ino. Kalah dan menang dalam permainan, itu hal biasa. Tetaplah semangat!"

"Kau benar Lee, terima kasih."

Tim Ino dan Karui kalah, yang berarti pemenangnya adalah Tenten dan Fuu.

"Terlepas dari hasil akhirnya, permainan ini menyenangkan," ujar Karui. Tangannya meraih minuman milik Chouji yang ditinggal di atas meja berpayung Sasuke dan Neji. Gadis berkulit gelap itu meminumnya sampai habis.

"Ayo berganti pakaian, sebentar lagi jam makan siang," ajak Tenten yang disetujui oleh tiga gadis lainnya. Sayang sekali, Ino baru saja duduk, sebenarnya.

Mereka berempat lalu segera pergi untuk berganti pakaian. Mungkin juga mereka akan mandi. Tubuh mereka berkeringat cukup banyak.

Kursi pantai panjang yang sebelumnya di tempati oleh Sai dan Shino kini kosong. Membuat Lee bisa duduk di sana. Tak lama, Shikamaru dan Shizuka datang.

"Di mana yang lainnya?"

"Para gadis sedang berganti pakaian. Chouji, Shino, dan Sai, mereka sedang melakukan pemesanan meja untuk makan siang kita. Sepertinya beberapa menu juga," ujar Lee menjawab pertanyaan Shizuka. Gadis itu kini melangkah mendekati kursi pantai yang kosong di samping Lee.

"Hei, Shikamaru. Apa saat berjemur tadi kau tertidur?" tanya Lee.

Shikamaru mendekati Lee, lalu menepuk pundaknya pelan, kemudian duduk di sampingnya seraya menjawab dengan nada malas seperti biasanya. "Entahlah, kurasa ya."

Setelah beberapa saat, dua orang bemuda berjalan mendekati mereka dengan papan selancar yang terapit di antara lengan dan tubuh keduanya masing-masing. Ekspresi wajah yang berbeda dimiliki oleh keduanya.

Pemuda pertama, bersurai pirang yang masih dalam keadaan basah, akibat dari aktifitas yang ia lakukan tadi. Pemuda itu memiliki ekspresi secerah matahari saat ini. Tak lupa, di wajahnya terdapat cengiran lebar yang turut menghiasi. Ia juga memiliki tiga guratan di masing-masing pipi.

Pemuda kedua nemiliki rambut berwarna merah bata. Dengan tato kanji di dahi yang berarti cinta. Wajahnya tak menampilkan ekspresi apa-apa. Kulitnya yang putih bersih juga nampak kontras dengan lingkaran hitam di kedua mata.

"Teme, berselancar itu menyenangkan. Kenapa kau tidak mencoba?" tanya Naruto.

"Hn."

"Kau tahu, kegiatan ini mungkin bisa memperbaiku warna kulit pucatmu itu." Tangan Naruto menunjuk tubuh Sasuke yang tidak tertutup pakaian.

"Orang-orang mungkin saja berpikir kau ini vampir," lanjutnya.

"Lagi pula, apa kau tidak bosan berurusan dengan buku menyebalkan, bahkan saat sedang liburan?" tanya Naruto.

Sasuke mendengkus. "Pemikiranmu itulah yang membuatmu bodoh. Liburan bukan berarti berhenti belajar. Lagi pula, aku lebih menyukai warna kulit putihku dibanding kulit gosong sepertimu," ujar Sasuke yang sorot matanya terarah pada tubuh Naruto dari atas sampai bawah.

"Apa katamu?! Hei! Ini bukan gosong, tetapi berwarna tan, dan ini seksi, kau tahu?" bantah Naruto.

"Hei, sudahlah. Sebentar lagi makan siang. Kalian berdua harus mandi bukan?" tanya Neji sembari memandang Naruto dan Gaara bergantian. Keduanya mengangguk, lalu pergi mengembalikan papan selancar di tempat penyewaan. Tak lupa, Naruto sempatkan memberi Sasuke tatapan tajam. Setelah itu mereka berdua pergi mandi.

Sasuke dan yang lainnya juga segera pergi ke tempat makan siang mereka. Menyusul Chouji, Shino, dan Sai yang sudah lebih dulu di sana.

oOo

"Beruntung kita masih bisa mendapat salah satu dari meja panjang ini. Kita semua bisa berada di meja yang sama," ucap Chouji.

Ketika mereka bertiga datang, meja panjang hanya tersisa satu. Meja sedang juga tersisa satu, lalu beberapa meja persegi.

"Sebaiknya sebelum mereka datang, kita harus memesan lebih dulu, untuk menghemat waktu," ujar Shino. Akhirnya mereka bertiga memesan menu lebih dulu.

Setelah selesai memesan, mereka duduk menunggu yang lainnya datang. Saat sedang menunggu, ada sekelompok orang yang datang, dan ketiganya tahu siapa mereka. Mereka adalah Shimura bersaudara, bersama satu orang yang tidak mereka tahu siapa dia.

Mata hitam Sai memperhatikan keenam orang itu, hingga manik hitamnya beradu pandang dengan netra ungu pudar milik Shimura bersurai pirang pucat. Namun, sang gadis seakan tak melihatnya. Kelompok Shimura itu memilih meja persegi panjang berukuran sedang. Mereka duduk di sana lalu segera memesa makanan.

"Apa lelaki bersurai gelap itu kakak mereka, yang juga tak memiliki kemiripan satu sama lain?" tanya Chouji.

"Jika pemuda itu kakak mereka, berarti ayahnya bukan berselingkuh dengan empat wanita murahan, melainkan lima," kata Sai santai.

Shino menatap Sai, meski ada kacamata hitam menghalangi pandangannya.

"Beruntung kau mengatakan itu saat para gadis tidak ada di sini, Sai," ucapnya.

"Jika mereka di sini, maka mereka akan menghajarmu dengan benda apa pun yang mereka miliki," sambung Chouji.

"Kalian lihat pemuda itu? Dia sedikit mengingatkanku pada Sasuke. Apa kalian juga merasa begitu?" tanya Shino.

"Ya, aku juga merasa begitu," ucap Chouji.

"Sedikit," kata Sai.

"Kurasa yang dimaksud Lee adalah pemuda itu," ujar Shino.

"Lee?"

"Ya. Saat kami yang pergi ke pantai terakhir, Lee berkata jika dia melihat pemuda yang mengingatkannya pada Sasuke, dan pemuda itu bersama Shimura bersaudara," jelas Shino pada Sai dan Chouji.

Setelah beberapa saat, Sasuke, Neji, Lee dan Shikamaru juga Shizuka datang. Kemudian disusul oleh Naruto dan Gaara. Terakhir, para gadis datang bersama dengan pakaian santainya.

Mereka yang baru datang, cukup terkejut melihat Shimura bersaudara ada di sana. Meskipun ini tempat umum yang siapa saja bisa bertemu, tetapi bertemu Shimura bersaudara tetaplah membuat mereka tak menyangka.

Namun, mereka tetap bersikap biasa. Seperti saat di sekolah, semuanya bertingkah seolah tidak pernah bertemu. Meski nyatanya mereka semua satu sekolah. Sesekali mata sipit milik Shikamaru beradu pandang dengan mata beriris vertikal.

Mereka menikmati makan siang dengan khidmat.

Kemudian, beberapa saat setelah selesai makan siang, sebagian besar dari mereka segera kembali ke tepi pantai untuk sekedar berjalan-jalan menyusuri pasir pantai, berfoto ria, dan mengobrol di kursi panjang ataupun duduk santai di pondok-pondok yang berjejer rapi. Lalu sisanya masih tetap berada si restoran.

Lima orang di antara mereka yang masih di restoran adalah Gaara, Sasuke, Neji, Naruto, dan Shikamaru.

"Kalian ingat saat aku berkata, jika aku bertemu orang yang mengingatkanku pada Sasuke dan dia bersama Shimura bersaudara?" tanya Lee.

"Dialah orangnya," lanjut Lee. Mata bulatnya melirik pada Shisui. Memperjelas kata-katanya.

"Kau pernah melihat mereka, Lee?" tanya Shikamaru. Di antara mereka berlima, hanya Shikamaru yang tidak ada saat itu. Dia sudah pergi ke pantai lebih dulu. Jadi wajar jika dia tidak tahu.

"Ya, saat aku lari pagi," jawab Lee.

Shimura bersaudara beserta laki-laki yang tak mereka ketahui itu, kini sedang memakan hidangan penutup berupa kue kecil. Beberapa potong buah siap makan juga ada. Tak lupa, ada tiga porsi es krim ikut menemani.

"Kau benar Lee. Dia memang sedikit mirip denganmu, Sasuke," ucap Neji.

"Bagaimana menurutmu, Teme?" tanya Naruto.

"Hn." Mendengar jawaban Sasuke membuat Naruto menatapnya tajam, namun tak Sasuke hiraukan.

"Apa menurut kalian, laki-laki itu adalah kakak mereka?"

Gaara mengangguk kecil. "Itu mungkin, kurasa."

"Kau mau ke mana, Shikamaru?" tanya Lee pada Shikamaru yang tiba-tiba berdiri.

Mata sipit nan tajam itu menatap Lee. "Hanya ingin melihat-lihat suasana di dekat tempat ini. Aku bisa tertidur jika terus duduk santai di sini."

"Kau bisa tidur di mana pun dan kapan pun, Shikamaru," komentar Neji. Shikamaru menaggapi dengan gumaman tak berarti. Ia lalu tetap melangkah pergi.

Di bawah sebuah pohon yang cukup rindang tak jauh dari restoran, ada sebuah kursi panjang. Sesosok pemuda sedang berbaring santai di atasnya dengan satu lengan yang menutupi mata, dan lengan lainnya menjadi bantalan kepala.

Sebenarnya ini agak tidak sesuai dengan ucapannya tadi. Sebelumnya dia mengatakan jika ingin melihat-lihat, tetapi kini, dia sedang berbaring santai di bawah rindangnya pohon. Oh, astaga.

Namun, kenyamanannya sedikit terusik oleh sebuah suara yang tiba-tiba menyapa telinganya.

"Apa yang kau inginkan? Aku tak mau berhutang budi padamu, Shikamaru Nara."

.

.

Chapter 14 selesai.