Chapter sebelumnya...

"Dia dan ayahnya mendapat undangan dari acara spring fashion show sebuah butik yang akan diadakan akhir pekan ini," lanjut Shikamaru.

Chapter 17. Three Flowers.

Seperti jarum jam pada umumnya yang terus berputar ke kiri, maka begitu juga hari yang terus berganti, hingga tak terasa bahwa beberapa hari telah terlewati, dan akhir pekan telah datang menghampiri. Hari di mana acara spring fashion show akan terjadi.

"Astaga, ini gila!" pekik Hanabi saat membaca daftar nama yang tertulis pada sebuah buku di tangannya. Suaranya yang bernada tinggi menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

"Perhatikan nada suaramu, Hanabi-chan. Ada banyak orang di sini," tegur Shisui. Ia menyadari jika para model sewaan yang sekarang satu ruangan dengan mereka merasa sedikit terganggu dengan suara Hanabi.

"Maafkan aku, Nii-chan. Aku terlalu terkejut membaca ini," ucap Hanabi lalu tersenyum minta maaf pada para model sewaan.

Saat ini fajar belum tiba, tetapi Shimura bersaudara beserta para model sewaan sudah tidak ada di kasur yang nyaman. Karena mereka kini sedang ada di sebuah ruangan briefing kegiatan hari ini. Sekarang hari sabtu, jadi ini adalah hari pertama spring fashion show.

Begitulah para model. Terlihat glamour dan keren dengan memakai busana branded. Padahal di balik itu semua, apa yang mereka lakukan tidaklah semudah yang terlihat. Ketika ada acara, bahkan mereka harus sudah tiba di lokasi saat pagi buta, meski show akan dilakukan saat sore atau malam hari.

Jika acara dilakukan di sebuah mall, saat sore atau malam hari, maka para model akan datang saat subuh. Karena mereka harus banyak mempersiapkan segala sesuatunya, semua keperluan harus sudah siap, termasuk pakaian, sepatu, make up wajah, riasan rambut, dan lain sebagainya. Kemudian saat pagi hari sebelum mall dibuka, maka mereka akan melakukan gladi resik.

Hal baik karena acara akan diadakan di sebuah gedung khusus. Terlebih para podel dan staf lainnya sudah disediakan kamar. Jadi mereka tidak perlu datang ke lokasi saat pagi buta ketika udara terasa dingin menusuk kulit. Mereka semua sudah tiba di lokasi sejak kemarin siang.

Gedung yang disewa adalah gedung yang ada di dekat Taman Utara Konoha. Ada dua buah gedung, satu gedung besar dengan di dalamnya berbentuk tribun, lalu gedung kedua berupa gedung hotel. Kedua gedung itu dihubungkan dengan sebuah jembatan kaca. Dari gedung hotel, jembatan itu ada di lantai tujuh.

Lantai itulah yang menjadi lantai khusus para model dan staf. Selain mereka dan orang yang berkepentingan, maka tidak akan ada yang boleh datang ke lantai itu. Sedangkan lantai di bawah dan di atasnya, itu menjadi kamar para tamu undangan atau orang yang akan datang menonton acara. Mereka akan menyewa kamar di gedung yang sama.

"Apa yang membuatmu terkejut, Hanabi-chan?" tanya Kiba.

Hanabi menoleh menatap Kiba. "Daftar tamu undangan VIP, Kiba-nii," ucapnya.

Hanabi mendekati Kiba, lalu tangannya mengulurkan sebuah buku. "Coba baca ini."

Mendengan ucapan Hanabi, membuat Karin, Shion, dan Hinata penasaran. Mereka lalu mendekati Kiba. Ikut membaca daftar nama yang tertulis, hingga akhirnya mereka terkejut saat membaca sebuah nama keluarga yang tidak asing, lalu terus berlanjut, dan menemukan bahwa ada beberapa nama marga yang mereka tahu.

'Yamanaka Family'

'Uchiha Family'

'Namikaze-Senju Family'

'Mereka...'

"Ini-"

"Ya. Itu nama marga keluarga mereka, bukan?"

"Siapa yang kalian maksud?" tanya Shisui. Ia ikut mendekat.

"Beberapa marga murid terkenal, Nii-san," jawab Shion.

Shisui hendak bertanya, tetapi suara pintu yang terbuka menghentikannya.

"Halo minna-san, kalian sudah siap?" tanya orang yang baru saja membuka pintu, seorang staf rupanya.

Shisui dan adik-adiknya juga para model sewaan mengangguk kompak. "Kalau begitu ayo pergi ke gedung seberang." Mereka akhirnya pergi meninggalkan ruangan yang digunakan untuk briefing.

Melewati jembatan kaca yang menjadi penghubung gedung, mereka lalu memasuki ruangan make up. Memakai make up tipis, menata rambut, lalu mencoba pakaian, sepatu dan semua perlengkapan yang telah disiapkan. Setelah siap, mereka melakukan gladi resik bersama para model sewaan. Waktu terus berlalu, hingga siang hari telah tiba. Latihan sudah selesai, dan semua juga sudah siap seperti musik, panggung, dekorasi, lighting semua aman terkendali.

Para model sewaan dan semua staf juga beristirahat dan menikmati makan siang di kamar ataupun ruang makan di luar, sebelum acara sore nanti.

Kini Shisui dan adik-adiknya memasuki sebuah ruangan. Tak lama para pegawai di butik Sakura datang. Seperti Guren, Konan dan yang lainnya. Lalu mereka memesan makan siang dan menikmatinya bersama. Setelah itu, Guren dan yang lainnya pergi keluar, dan kini hanya Sakura dan adik-adiknya yang masih di ruangan itu, mereka masih menikmati hidangan penutup.

Atas permintaan Sakura, Guren memesan satu ruangan seperti ini. Sakura tahu jika adik-adiknya sedikit tidak nyaman dengan orang baru dan cukup membatasi interaksi dengan orang lain. Karena itu, setiap ada show seperti ini, maka akan ada satu ruangan khusus untuk mereka.

Saat menikmati hidangan penutup, mereka berbincang-bincang santai, hingga Karin teringat dengan daftar nama tamu undangan yang membuat Hanabi memekik terkejut. Ia lalu bertanya pada Sakura. "Nee-san, apa kali ini tamu undangan VIP akan datang bersama seluruh keluarga?"

Sakura menatap Karin. "Tidak. Hanya perwakilan saja seperti biasanya. Hanya satu sampai tiga orang untuk setiap keluarga," ucap Sakura.

"Itu bagus, berarti ada kemungkinan jika bukan mereka yang datang," ujar Shion.

"Siapa?" tanya Sakura.

Hanabi lalu berdiri dengan sendok kecil yang terapit di bibirnya. Ia sedang menikmati es krim sebagai hidangan penutup. Berjalan ke arah meja, lalu mengambil sebuah buku, kemudian memberikannya pada Sakura. Rupanya, saat kembali dari latihan, Hanabi pergi ke ruang briefing lalu mengambil buku daftar tamu undangan VIP, kemudian membawanya ke runganan mereka dan menaruhnya di meja kecil.

"Kami mengetahui beberapa nama keluarga itu. Salah satu anggota keluarga mereka satu sekolah dengan kami. Mereka murid populer, kalau Nee-san ingat," kata Shion. Sakura membaca daftar nama-nama yang tertulis. Tak lama, satu sudut bibirnya tertarik ke atas.

"Apa Nee-chan yang mengurus daftar tamu undangan VIP ini?" tanya Hinata.

"Tidak. Itu termasuk tanggung jawab tim divisi showroom dan atas persetujuan Guren-obasan," jawab Sakura. "Ini juga pertama kalinya aku membaca daftar tamu undangan VIP acara ini," lanjutnya.

Setelah itu Sakura berdiri. "Kalian punya waktu satu jam lagi sebelum persiapan terakhir. Datanglah ke gedung seberang nanti, aku akan menunggu kalian di sana."

Di sebuah kamar yang ada di lantai tujuh, terlihat Sakura sedang berdiri menghadap keluar, ke arah bawah melalui dinding kaca. Salah satu tangannya memegang hiasan rambut berbentuk bunga matahari yang mekar sempurna, hadiah dari Genma atas kepulangannya beberapa minggu yang lalu.

Kemudian, Sakura melihat waktu dari arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Setelah itu ia menatap keluar, tepatnya ke arah gerbang gedung. Tak lama beberapa mobil mewah datang, para tamu undangan. Sakura sudah menduga jika para tamu akan datang lebih awal, sebab acara ini dilakukan di tempat yang dekat dengan lokasi hiburan. Seperti taman bunga yang terkenal, taman bermain, gedung khusus game, distrik pertokoan kelas atas, dan jejeran kedai makanan tradisional, juga toko-toko cinderamata khas setiap daerah. Terlebih saat ini masih termasuk dalam liburan musim semi, tentu mereka ingin bersenang-senang.

Acara akan berlangsung saat sore hari. Maka para tamu punya waktu lebih untuk menikmati apa pun yang mereka inginkan sebelum acara dimulai. Bahkan jika waktunya kurang, mereka bisa melanjutkannya besok. Karena acara akan berlangsung selama dua hari.

Mata Sakura lalu terpaku pada satu mobil yang baru saja datang. Senyum tipis mengembang tanpa disadarinya. Emerald cerahnya terus mengikuti mobil itu hingga tak terlihat lagi dalam pandangannya, karena mobil sudah memasuki area parkir bawah tanah.

Tangannya yang memegang hiasan rambut terangkat setinggi wajah. Dengan senyum tipis ia berkata dengan pelan. "Kau datang, Naruto Namikaze."

Setelah sosok yang ia tunggu sudah datang, Sakura tak juga segera pergi dari tempatnya berdiri. Ia terus menatap ke arah yang sama seperti sebelumnya. Tak lama sebuah mobil berwarna ungu metalik masuk area gedung, mobil kedua yang mencuri perhatian Sakura.

Sembari memperhatikan mobil itu, tangan Sakura menyimpan hiasan rambutnya di sakunya, lalu merogoh saku jaket bagian dalam, mengambil sebuah benda. Dengan segera, Sakura mengeluarkan tangannya yang sudah memegang sebuah kotak kecil berwarna hitam.

Mobil berwarna ungu yang ia perhatikan sudah memasuki area parkir hingga tak terlihat lagi di matanya. Kini ia membuka benda kotak yang ada di tangannya. Terlihatlah sebuah kain berwarna merah. Sakura Mengeluarkan kain itu dari kotaknya, yang ternyata kain itu berukuran sedikit panjang dengan diameter yang kecil. Seperti sebuah kain pita. Sakura terus menatap kain di tangannya dengan tatapan sendu.

Setelah beberapa saat termenung menatap kain pita di tangannya, Sakura lalu menyimpan lagi benda itu seperti semula. Menatap keluar sesaat, lalu melihat waktu melalui arlojinya, kemudian berbalik melangkah pergi dari kamarnya.

Waktu terus berjalan, dan siang hari telah berganti menjadi sore hari. Acara akan dimulai sepuluh menit lagi. Sakura kini sedang ada di ruangan tempat para model berkumpul termasuk keenam adiknya. Semua sudah siap, bahkan mereka sudah berbaris, hanya menunggu musik pengiring diputar dan mereka akan berjalan di runway satu per satu.

Di depan, tempatfront row sudah terisi penuh. Orang penting seperti tamu undangan VIP dan perwakilan sponsor sudah duduk di kursi itu dengan rapih. Begitu juga dengan kursi reguler di belakangnya dan kursi di tribun yang sudah terdapat banyak orang. Panitia pengawas yang memperhatikan keadaan di sana memberi kode pada tim pencahayaan, dan seketika lampu ruangan dimatikan. Setelah itu, lampu runway segera dinyalakan.

Beberapa saat kemudian, tim musik menyadari jika ini saatnya mereka memutar musik pengiring. Tak lama, musik pengiring mengalun di telinga mereka semua. Diiringi dengan model yang keluar dari belakang panggung dan berjalan dengan percaya diri di runway.

Para fotorgafer dan kameramen segera bekerja dengan baik. Begitu juga dengan para model yang berhasil menunjukkan set busana santai hingga semi formal bertema musim semi yang dikenakan. Setelah semua model berganti baju dengan waktu yang singkat sebanyak tiga kali saat fashion show, kini saatnya bagian terakhir. Di mana semua model akan keluar bersamaan lalu berjalan di runway dengan rapih, kemudian berdiri berjejer di panggung. Setelah itu, Guren selaku salah satu perancang dan termasuk penyelenggara acara, keluar dan menaiki panggung.

Berdiri di tengah para model dengan memegang mikrofon, Guren menyampaikan rasa terima kasihnya pada semua tamu dan sponsor yang sudah datang dan ikut memeriahkan acara. Setelah itu, orang-orang yang menghargai dan ingin memberikan hadiah berupa bunga pada Guren, naik ke atas panggung dan bisa memberikannya secara langsung.

Setelah selesai, tepat sebelum Guren dan para model, termasuk Shisui dan kelima adikknya yang sedang menjadi model pergi dari panggung. Lampu tiba-tiba padam. Seketika, ruangan menjadi gelap gulita. Semua bingung dan ruangan menjadi cukup riuh dengan suara yang seperti dengungan ribuan lebah.

Namun sebelum benar-benar terjadi kekacauan, layar LED panggung menyala. Menampilkan sebuah video. Para model dan Guren segera menyingkir ke samping, penasaran video apa yang diputar dan juga agar tak menutupi para penonton lainnya yang juga penasaran. Dua orang panitia segera datang mendekati Guren, guna mengambil alih bunga yang ia dapat.

Video awal berupa kalimat 'Happy Birthday, The Twins'. Kalimat itu mengundang sorakan dan tepuk tangan yang riuh dari semua orang di sana.

Setelah itu dilanjut dengan video ucapan selamat dan harapan untuk si kembar. Dimulai dari satpam kediaman Shimura, para pegawai butik yaitu Konan, Deidara, Sasori, termasuk Guren dan yang lainnya. Kemudian, semua kakak si kembar kecuali Sakura, dan terakhir kelima ibu mereka.

Video itu bukan hanya membuat Hanabi dan Hinata terharu hingga menangis, tetapi juga tamu undangan ikut terharu. Setelah video itu selesai, tepuk tangan riuh terdengar. Kemudian lampu ruangan tiba-tiba menyala, dengan lagu selamat ulang tahun yang mengalun dari arah belakang panggung. Terlihatlah lima orang wanita datang dengan dua di antara mereka mendorong troli kue yang di atasnya terdapat kue ulang tahun tiga tingkat. Kelima wanita itu adalah ibu mereka. Semua orang di sana ikut serta menyanyi untuk si kembar.

Hinata dan Hanabi segera memeluk kelima ibunya bergantian, lalu memeluk keempat kakaknya juga. Kemudian mereka berdua berdiri di tengah dengan kue di hadapan keduanya. Dengan segera Shisui mengambil pemantik api yang ada di tingkat bawah troli, lalu segera menghidupkan lilin kue yang berbentuk angka 16. Diiringi nyanyian semua orang dan lampu utama menyala, juga lampu sorot warna-warni. Suasana menjadi begitu hidup.

Sebelum meniup lilin, keduanya melihat kiri-kanan, seperti mencari seseorang. Namun, lilin yang sudah menyala harus segera ditiup agar tak meleleh dan mengotori kue. Setelah menutup mata guna mengucapkan permohonan dalam hati pada Kami-sama, keduanya meniup lilin bersama, yang disambut tepuk tangan semua orang.

Setelah itu, lampu ruangan tiba-tiba redup. Tak lama, terdengat alunan suara piano dari video di layar LED di belakang mereka. Lagi-lagi mereka harus sedikit menyingkir ke samping. Terlihatlah seseorang yang mengenakan gaun putih polos, bersurai dua warna, separuh berwarna lavender dan separuh lagi berwarna cokelat. Sosok itu juga mengenakan topeng sebatas ujung hidung dengan warna yang sama dengan warna rambutnya. Ia sedang bermain piano. Kamera merekam dari sisi samping dan sedikit maju ke depan, jadi bisa terlihat sosoknya.

Jemari lentiknya menekan tuts piano dengan lihai, tanpa adanya kesalahan satu pun. Ia memainkan lagu ulang tahun bagian reff dengan sempurna. Setelah itu, sosok itu menghadap kamera, memperlihatkan irisnya yang berwarna sama dengan si kembar.

"Tata, Bubu. Otanjoubi omedetou."

Mendengar suara itu, Hinata dan Hanabi segera menyadari, jika sosok itu adalah orang yang sedari tadi mereka cari, Sakura.

Tiga lampu sorot tiba-tiba mengarah ke satu titik di samping ruangan. Lalu dentingan piano terdengar. Hal itu mengundang rasa penasaran semua orang. Membuat semuanya melihat ke arah sumber suara.

Semua orang dapat melihat sosok yang ada dalam video kedua ada di sana. Sedang memainkan piano dengan lagu ulang tahun dari awal. Penonton terpukau dengan permainan dan juga sosoknya yang tampak eksentrik, terutama rambut dan topeng dua warnanya.

Suara dentingan terakhir terdengar. Dengan santai ia berdiri lalu meraih keranjang putih dari atas piano, kemudian menuruni tangga panggung kecil, tempat ia bermain piano. Diiringi tatapan mata semua orang, ia tetap berjalan dengan tenang ke arah panggung utama.

Saat akan menaiki tangga panggung, satu tangannya yang tidak membawa keranjang anyaman berwarna putih, mengangkat sedikit gaun putihnya. Ia berjalan dengan tenang di atas runway, lalu berhenti sesaat ke sisi kanan.

Tangan kanannya merogoh keranjang yang ada di tangan kiri. Mengambil sesuatu di sana. Kemudian terlihatlah jemari tangannya yang menggenggam sebuah ranting pohon bunga sakura, dengan beberapa bunganya yang mekar sempurna. Ia lalu memberikannya pada salah satu orang yang duduk di front row sisi kanannya. Pemuda dengan setelan semi formal itu berdiri lalu menerimanya, tak lupa ia mengucapkan terima kasih.

Setelah itu ia mengambil bunga lagi dari keranjangnya. Bunga tulip merah. Lalu memberikannya pada seorang pemuda yang duduk di samping pemuda sebelumnya. Merasa kurang, ia mengambil bunga ketiga dari keranjangnya. Kali ini adalah bunga alstroemeria. Ia memberikannya pada seorang gadis di samping pemuda kedua.

Tiga macam bunga telah ia berikan pada tamu VIP. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya mendekati keluarganya. Saat sudah ada di dekat adik-adiknya, Hinata dan Hanabi menghambur ke pelukannya.

Dengan suara yang parau, air mata yang mengalir dan hidung memerah Hanabi berkata. "Kukira ... kukira Nee-chan lupa."

"Nee-chan, terima kasih," ucap Hinata dengan kondisi yang sama dengan Hanabi.

Sakura membalas pelukan keduanya, lalu berbisik pelan. "Happy birthday, My Twin Pearls." Kedua adik kembarnya semakin memeluknya erat.

Setelah melepas pelukan, Sakura mengambil sesuatu dari keranjangnya. Rupanya itu adalah dua buah kotak kecil berwarna putih dengan pita berwarna ungu muda dan cokelat muda. Ia lalu memberikannya pada si kembar. Tentu keduanya dengan senang hati menerimanya. Dibukalah kotak itu oleh keduanya, dan terlihatlah sebuah cincin dan liontin.

Keduanya menatap tak percaya pada dua benda di dalam kotak itu. "Nee-chan ... ini ..." Kalimat Hinata terhenti.

"Kami ... mendapatkannya juga?" tanya Hanabi dengan menatap hadiahnya dan Sakura bergantian. Keduanya menatap mata Sakura yang berwarna sama dengan mata keduanya. Mendapat respon begitu, Sakura hanya tersenyum.

Hinata dan Hanabi lalu menatap Shisui, Karin, Kiba, dan Shion bergantian. Keduanya menatap marah pada keempatnya, sedangkan mereka hanya menunjukkan senyum seringai. Kini keduanya tahu, jika mereka dipermainkan. Melihat respon keempat kakaknya, si kembar mendengkus sebal.

Sakura terkekeh, dari respon dan pertanyaan adik kembarnya. Ia menyadari jika adiknya yang lain mengerjai si kembar. Mungkin mengatakan jika hadiah itu hanya mereka berempat yang mendapatkannya. Entahlah, Sakura tak tahu pasti. Hanabi dan Hinata lalu menatap Sakura lagi, dan memeluknya erat. "Terima kasih, Cherry-nee," ucap keduanya bersamaan.

Para ibu dan anak-anak Shimura yang lainnya tersenyum haru melihat ketiganya. Bahkan semua yang ada di sana juga terharu, dan itu mengundang tepuk tangan serta sorakan gembira.

"BAIKLAH SEMUANYA, SUDAH CUKUP WAKTU MENGHARUKANNYA. SEKARANG, SAATNYA UNTUK BERSENANG-SENANG!"

Suara keras yang tiba-tiba terdengar disertai datangnya beberapa orang dengan setelah hitam membuat suasana menjadi hening seketika.

"PESTA ULANG TAHUN AKAN BERLANJUT. JIKA INGIN TURUT SERTA, TETAPLAH BERDIRI DI TEMPAT, DAN JIKA TIDAK, MAKA DIPERSILAHKAN UNTUK MENINGGALKAN TEMPAT INI."

Semua orang melihat ke arah seseorang di panggung piano yang sedang berbicara dengan pengeras suara. Mendengar apa yang ia katakan, orang-orang yang tidak ingin bergabung dengan pesta dadakan bagi mereka itu, memilih pergi, orang yang pergi didominasi oleh orang dewasa hingga paruh baya.

Setelah tak ada orang yang akan pergi lagi, orang-orang berpakaian hitam datang dan segera menyingkirkan kursi front row dan reguler. Kemudian, menyusunnya menempel ke dinding.

Seseorang bersurai pirang panjang dengan poni yang menutupi satu matanya, dan sedang berdiri di panggung piano itu kembali bersuara.

"AREA LANTAI SUDAH DIBERESKAN, UNTUK YANG ADA DI TRIBUN, KALIAN BISA TURUN KE BAWAH. AYO CEPAT!"

"Anak-anak, kami akan pergi keluar. Kalian bersenang-senanglah," ucap Megumi mewakili yang lainnya.

"Baik, Kaa-san."

Para penonton di tribun sudah turun. Kini semua berkumpul di lantai bawah. Shisui menyingkirkan troli kue yang di atasnya terdapat ulang tahun ke pojok panggung. Terlihat juga orang-orang yang membereskan kursi pergi keluar. Lalu dengan cepat kembali dengan mendorong beberapa troli berisi berbagai makanan dan minuman, juga ada yang membawa meja. Dengan segera mereka menyusun makanan dan minuman itu, lalu segera pergi keluar.

"BAIKLAH SEMUANYA. SEKARANG SAATNYA BERPESTA! MUSIK NYALAKAN UN!" teriak Deidara dari panggung piano dengan tangan yang terarah pada satu titik, tepat ke arah tempat kecil yang menggantung. Di mana ada Sasori di sana dengan peralatan DJ yang lengkap.

"Kalian ingat lelaki itu? Yang berambut dan bermata gelap? Dia lelaki yang kita lihat saat liburan bukan?" tanya Ino.

"Ya, aku ingat. Sepertinya dia memang kakak Shimura bersaudara," ujar Naruto sembari menatap bunga tulip merah di tangannya.

"Teme, kenapa kau diam saja?" tanya Naruto sambil melirik Sasuke.

Pukul sebelas malam. Acara sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Kini mereka bertiga ada di balkon kamar Ino. Ayah Ino meminta Sasuke dan Naruto untuk menemani putrinya, karena dirinya akan menemui temannya yang ternyata datang ke acara fashion show juga.

"Aku hanya berpikir, siapa perempuan itu. Perempuan berpenampilan unik yang memberi kita bertiga bunga. Bukankah tindakannya sedikit aneh?" Tangan Sasuke bergerak memutar-mutar ranting bunga sakura.

Naruto menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu, Teme? Aneh apa? Mungkin memang begitu penampilannya," ucap Naruto. "Lagi pula, tema acara ini adalah musim semi. Bunga adalah salah satu khas musim semi, jadi memberi bunga adalah hal yang normal," lanjutnya.

"-No ... Ino? Ino Yamanaka!"

"A-Ah! Ya?"

"Kenapa kau melamun? Apa kau lelah?" tanya Naruto.

"Ti-tidak. Ucapan Sasuke-kun membuatku berpikir, kenapa dia memberi tiga jenis bunga yang berbeda pada kita," tutur Ino. 'Juga tatapannya padaku, kenapa dia menatapku seperti itu?'

Mendengar ucapan Ino, Naruto bingung, sedangkan Sasuke terlihat berpikir sesaat. Tak lama pemuda bersurai raven itu bertanya pada Ino.

"Apa arti ketiga bunga ini?"

Sakura berjalan di lorong hotel, ia lalu melihat seorang pelayan yang membawa nampan berisi teko dan cangkir sedang menuju sebuah kamar. Ia tahu, itu kamar milik salah satu ibu adik-adiknya. Sakura segera menghampirinya sebelum pelayan itu sampai tepat di depan pintu.

Meyakinkan pelayam agar dirinya saja yang mengantar minuman yang ternyata teh hijau itu, Sakura lalu mengetuk pintu.

Pintu terbuka, memperlihatkan seorang wanita bersurai gelap, Megumi. Ia terlihat terkejut, melihat bahwa Sakura yang mengantar pesanannya. Dirinya memang tak bertanya siapa yang mengetuk atau melihat dari lubang di pintu lebih dulu. Karena ia tahu, jika lantai tujuh ini sudah disewa dan yakin jika tak ada orang asing yang tidak berkepentingan bisa ada di lantai ini. Namun, ia tak menduga jika Sakura yang datang.

"Sa-Sakura-chan, kenapa kau yang mengantar?"

"Pelayan yang mengantar sedang bermain layang-layang, jadi aku yang menggantikan," jawab Sakura santai dan tak masuk akal. Mana mungkin bermain layang-layang ketika sedang bekerja terlebih saat malam hari!

Megumi tahu Sakura berbohong secara terbuka, dan Sakura yakin Megumi tahu ia berbohong. Lagi pula ia memang sengaja melakukannya. Mengucapkan kebohongan secara terbuka, adalah pilihan bagus karena dirinya tak mau repot-repot mencari jawaban yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan itu.

"Selamat, Sakura-chan. Hari pertama acaramu berjalan lancar." Gerakan tangan Sakura yang menuang teh hijau ke cangkir terhenti sesaat. Setelah selesai menuang, ia meletakkan cangkir itu ke sisi meja yang dekat dengan Megumi.

Keduanya sedang duduk di kursi kayu dekat dinding kaca. Dengan teh hijau yang sedang Sakura sajikan. Selesai menuang teh untuk Megumi, Sakura kini menuang ke satu cangkir lainnya untuk dirinya sendiri. Untung saja pelayan tadi membawa dua canggir.

"Itu membuatku senang. Bagaimana denganmu? Apa kau merasa senang?" tanya Sakura sambil menuang teh di cangkirnya.

"Tentu saja senang, Sakura-chan."

Tak! Suara pantat keramik teko beradu dengan piring alasnya.

"Apa yang paling membuatmu senang?"

Sakura menatap Megumi yang sedang menghirup aroma teh. "Tentu karena tidak ada kendala, dan pesta Hanabi-chan dan Hinata-chan juga sangat mengagumkan," jawab Megumi.

"Benarkah begitu?" Sakura menatap keluar, melihat gelapnya malam dari dinding kaca yang belum tertutup gorden.

"Tentu saja," tutur Megumi yakin. Ia kini hendak meminum teh hijau itu.

"Ah, begitu rupanya." Satu sudut bibir Sakura terangkat. "Kukira kau senang karena melihat seseorang dengan wajah yang familiar," lanjut Sakura santai, lalu ia mengalihkan pandangannya dari gelapnya suasana malam, dan kembali menatap Megumi di hadapannya.

Emerald miliknya melihat mata Megumi membulat, wajahnya terlihat kaku, dan tubuhnya menegang seketika. Satu tangannya yang memegang cangkir terhenti di dekat mulutnya.

Sakura meraih cangkir tehnya, meniupnya beberapa kali lalu meminumnya dalam sekali teguk. Kemudian ia segera berdiri.

"Terima kasih untuk tehnya, Megumi-kaasan," tutur Sakura diiringi seringai, kemudian segera pergi dari kamar Megumi.

Chapter 17 selesai.

-oOo-

A/N : Terima kasih yang sudah membaca sampai sini.

mdani0838 : Ini dilanjut ya. Ini orang yang sama dengan akun Muhammad Dani bukan? namanya kaya sama soalnya.