Chapter sebelumnya...

"Terima kasih untuk tehnya, Megumi-kaasan," tutur Sakura diiringi seringai, kemudian segera pergi dari kamar Megumi.

Chapter 18 : Masquerade Party.

Sepasang kelopak mata bergerak-gerak, hendak menunjukkan isi di dalamnya. Perlahan, mata itu terbuka. Memperlihatkan iris berwarna emerald yang indah.

Mata yang masih sayu itu menoleh ke samping tubuhnya dan melihat adik kembarnya masih tertidur. Ya, Hanabi dan Hinata tidur bersamanya malam ini. Kamar mereka berdua kosong sekarang, sayang sekali. Bangun perlahan agar tak membangunkan si kembar, Sakura lalu pergi ke kamar mandi. Setelah selesai, ia melihat si kembar belum terbangun. Sepertinya ia bangun terlalu awal hari ini. Kemudian Sakura pergi keluar kamar.

Sekarang Sakura ada di lantai yang berbeda. Ia sedang membuka pintu sebuah kamar dengan setangkai bunga matahari di tangannya. Masuk dengan perlahan, mendekati seorang pemuda yang masih tertidur. Menatapnya lekat, kemudian membungkuk, mendekatinya. "Selamat pagi, My Sun," bisiknya pelan. Setangkai bunga di tangannya ia letakkan ke meja nakas. Kembali berdiri tegak, lalu terlihat berpikir sesaat.

Setelah itu, dengan gestur tubuh yang sedikit ragu dan canggung ia kembali membungkuk, dan ...

Cup!

Menyecup pelan dan cepat pipi yang memiliki tiga guratan seperti kumis kucing. Dengan wajah bersemu ia segera bergegas pergi dari kamar itu.

Di kamar Sakura, si kembar Hinata dan Hanabi mulai terbangun dari tidurnya. Keduanya menggeliat lalu tangannya meraba kasur, mencari keberadaan Sakura yang seharusnya ada di antara keduanya. Merasa tak menemukan yang mereka cari, keduanya perlahan membuka mata. Menoleh ke samping dan yang mereka lihat adalah wajah kembarannya. Tanpa adanya Sakura.

Dengan mata yang masih sayu keduanya bangun dan duduk di kasur. Hanabi kemudian menguap seraya bertanya. "Di mana Nee-chan?"

Hinata menyingkirkan helai rambut yang menempel di wajahnya, menyelipkannya ke belakang telinga. "Sepertinya Nee-chan sudah bangun sejak tadi. Sisi kasurnya sudah dingin," ujarnya saat menyadari ketika meraba tadi, ia merasakan bahwa kasur di mana bagian seharusnya Sakura tidur, sudah tidak hangat.

Setelah itu, pintu lamar terbuka. Seseorang masuk, dan ternyata itu adalah Sakura. "Ah, sudah bangun rupanya," kata Sakura.

"Nee-chan dari mana?" tanya Hanabi.

Sakura berjalan mendekati si kembar. "Hanya mencari udara pagi," jawabnya santai.

"Tidur nyenyak semalam?"

"Hu'um."

Setelah menyuruh keduanya mandi bergantian, sedangkan dirinya memesan sarapan untuk mereka bertiga selagi menunggu keduanya selesai. Sekarang, mereka bertiga sedang menikmati sarapan di kamar Sakura. Di kamar Sakura terdapat satu meja dan dua kursi sofa. Satu sofa single untuk satu orang dan satu lagi sofa sedang yang bisa untuk 2 sampai 3 orang duduk. Mereka bertiga menikmati sarapan sederhana dengan nikmat.

Selesai sarapan, kini Hinata dan Hanabi hanya harus menghabiskan segelas susu yang masih tersisa setengah. "Nee-chan, aku akan memakai liontinnya nanti malam," ujar Hanabi. Hinata mengangguk setuju. Sepertinya dia juga ingin melakukan hal sama.

"Hmm. Pakailah."

"Mereka mengerjai kami. Heh!"

Sakura tertawa kecil. "Mereka hanya bercanda," ujarnya kemudian.

"Kupikir itu sungguhan, Nee-chan," ucap Hinata.

"Mereka berkata, jika hanya mereka berempat yang mendapatkan hadiah liontin dam cincin dari Nee-chan," tutur Hanabi.

"Berkata jika itu hadiah istimewa dan hanya untuk mereka. Kami tak bisa mendapatkannya karena kami sering mendapat dan meminta sesuatu darimu, Nee-chan," tambah Hinata.

"Kata mereka, itu hadiah khusus darimu," lanjutnya. Sakura hanya tertawa mendengarnya.

"Nee-chan, kami pikir jika ulang tahun kami tak dirayakan," ucap Hanabi.

"Namun ternyata, Nee-chan sudah menyiapkan semuanya," tutur Hanabi.

Hanabi teringat dengan penampilan Sakura. "Pakaian, mata, rambut, topeng, keranjang dan bunga itu, wah, Nee-chan sangat mengagumkan," ujar Hanabi.

"Penampilan Nee-chan benar-benar terlihat eksentrik," ucap Hinata.

Keduanya berdiri lalu menghampiri Sakura. Berjongkok di kedua sisinya lalu memeluknya erat. "Terima kasih banyak, Nee-chan," ucap mereka bersamaan.

Sakura mencium puncak kepala mereka berdua. "Baiklah, sekarang habiskan susu itu lalu pergilah ke ruangan bersama. Saudara-saudara kalian dan yang lainnya ada di sana."

Pagi dan siang hari telah terlewati, dan kini sore hari telah datang menghampiri. fashion show hari kedua akan dimulai sebentar lagi. Kali ini masih dengan tema musim semi, tetapi dengan pakaian bergaya formal, bukan busana santai, hingga semi formal seperti sebelumnya.

Sama seperti hari sebelumnya, peragaan busana kali ini juga berjalan dengan lancar. Setelah selesai, para tamu diberi jeda istirahat selama setengah jam untuk persiapan acara selanjutnya, yaitu pesta topeng. Para tamu sudah diberitahu melalui undangan dan tiket, jika malam kedua fashion show akan ada pesta topeng, sebagai perayaan ulang tahun salah satu perancang busana sekaligus pemilik butik.

Saat ini orang-orang yang mengikuti pesta topeng sudah mulai memasuki ruangan lagi. Para pria mengenakan setelan yang bagus, membuat mereka terlihat gagah dan menawan meski wajah mereka tertutup topeng. Selain itu, para wanita mengenakai gaun berbagai model yang indah dengan topeng yang juga ada di wajah. Meja-meja bundar beserta kursinya yang ada di pinggir tersusun dengan rapih. Beberapa orang duduk di sana, menunggu rekan atau kenalannya datang sembari menanti pesta dimulai.

"Teme, apa kau melihat Ino-chan?"

Seorang pemuda berambut raven yang sedang duduk di salah satu kursi menoleh ke samping, dan ia melihat seorang pemuda mengenakan topeng rubah, yang tak lain adalah Naruto. "Belum," jawabnya singkat.

"Kau sendirian, Dobe?"

"Ya, Iruka-ojisan tidak mengikuti pesta ini. Dia ingin berjalan-jalan ke daerah sekitar. Ada yang ingin dia beli," jawab Naruto pada pemuda yang mengenakan topeng bermotif ular.

Perwakilan dari keluarga Namikaze-Senju ada dua orang, yaitu Naruto dan Iruka, sedangkan dari keluarga Uchiha adalah Sasuke seorang. Kemudian dari keluarga Yamanaka, Ino dan ayahnya datang. Mana mungkin seorang Inoichi Yamanaka membiarkan anak gadisnya pergi sendiri, apalagi tanpa Shikamaru ataupun Chouji.

Suasana di ruangan sudah semakin ramai, dua orang pembawa acara menaiki panggung yang setnya sudah diubah. Panggung yang awalnya berbentuk T kini hanya berbentuk persegi panjang dengan posisi horizontal. Dekorasi ruangan juga sudah diubah, meski masih memakai tema musim semi. Begitu juga dengan pencahayaannya.

Dua orang pria bersurai pirang pajang dan merah berantakan yang mengenakan topeng bermotif ledakan kembang api dan topeng wajah Ken yang hanya sampai filtrum, menaiki panggung. Mereka menjadi MC malam ini.

"SELAMAT MALAM SEMUANYA!"

Para tamu yang duduk lekas berdiri dan yang lainnya langsung memfokuskan diri mendengar dan melihat kedua orang yang ada di pangggung, menghargai kedua pembawa acara. Setelah menyambut para tamu dan mempersilakan beberapa orang untuk muncul dari backstage, maka dengan segera anak-anak Shimura beserta Guren dan para manager juga wakilnya keluar dari balik panggung, sedangkan di salah satu meja, Megumi dan empat ibu lainnya sedang memperhatikan mereka.

Saat Deidara dan Sasori sedang berbicara menyambut Guren dan yang lainnya, dari pintu masuk, seorang lelaki dan perempuan datang. Keduanya memakai topeng polos berwarna perak, si wanita mengenakan gaun berwarna putih dengan bagian bawah gaun terdapat bordiran pohon bunga matahari yang mekar sempurna. Tangannya menggapit lengan lelaki bersurai putih keperakan yang berpakaian setelan jas berwarna putih. Keduanya nampak memesona dan berhasil mencuri perhatian semua orang. Bahkan para tamu mengalihkan pandangannya guna melihat keduanya.

Dari atas panggung Guren tersenyum melihat tampilan si wanita, yang mengenakan gaun rancangannya. Ya, Guren dan semua yang ada di panggung tahu siapa mereka. Kedua orang itu adalah Sakura dan salah satu tuan muda keluarga Otsutsuki, Toneri Otsutsuki.

Seakan tersadar, Sasori dan Deidara segera mempersilakan Guren untuk mengucapkan beberapa patah kata kepada para tamu. Kemudian Guren mewakili semuanya untuk menyampaikan terima kasih pada para tamu, dan juga menjelaskan bahwa pesta topeng ini adalah perayaan ulang tahun salah satu perancang busana sekaligus pemilik butik. Saat menyebutkan itu, Guren menatap Sakura dan tersenyum padanya. Sakura balas menatap dengan senyum kecil di bibirnya.

'Walau hanya pesta topeng tanpa lagu ulang tahun, kue, ataupun hadiah. Setidaknya ini masih bisa disebut pesta ulang tahun. Otanjoubi omedetou, Sakura-chan.' batin Guren.

* * *

"Pilihanmu untuk jenis pesta cukup unik, Saki. Bagaimana jika ada penjahat di antara para tamu?"

Sakura melirik pria di sampingnya. "Maka Nii-san akan berguna di sini," jawabnya santai. Membuat lelaki berambut putih keperakan itu terkekeh.

"Aku datang sebagai tamu, bukan pahlawan yang memburu penjahat," ucap Toneri. Sakura hanya menggumam.

Di sisi lain seorang lelaki yang memakai topeng bermotif burung gagak menghampiri Sasuke, Naruto dan Ino. Ya, gadis itu sudah datang beberapa saat lalu bersama ayahnya.

"Naruto, kau sendirian?" Naruto menoleh melihat si penanya, ia bingung, siapa lelaki itu. Dasar lambat. Bukankah, dari suaranya saja harusnya ia tahu siapa lelaki itu? Namun, kebingungannya hilang saat Sasuke mengucap satu kata.

"Aniki?"

"Oh, Sasu-chan. Kau di sini?"

Sasuke menatapnya kesal. "Harusnya aku yang bertanya begitu. Kenapa kau ada di sini, Aniki? Satu lagi, jangan pernah memanggilku begitu, menjijikan," ucap Sasuke ketus.

"Itachi-nii? Kenapa baru datang sekarang?" tanya Naruto.

"Ah aku sedikit malas, Naruto-kun. Jadi baru datang malam ini. Apa aku melewatkan sesuatu yang bagus?" Itachi lalu menatap Ino.

"Ino-chan, apa kau datang bersama ayahmu?" tanya Itachi.

Ino mengangguk. "Iya, Itachi-nii. Aku datang bersama Tou-chan."

Naruto mengingat-ingat. "Ti-ah! Iya. Kemarin malam ada pesta ulang tahun, dan kami bertiga mendapat bunga dari seorang wanita yang berpenampilan eksentrik," tutur Naruto dengan semangat.

"Wanita eksentrik?" Dahi Itachi mengernyit.

"Ya." Naruto mengangguk.

"Dia memakai topeng dua warna dan rambutnya juga memiliki dua warna yang sama dengan topengnya, dan dua warna itu adalah warna rambut gadis kembar yang sedang berulang tahun. Wanita itu juga memakai gaun putih polos dengan lipstik merah cerah. Dia memainkan piano lalu berjalan dengan tenang di runway sambil membawa keranjang berisi bunga dan hadiah. Tiga bunga berbeda ia berikan pada kami," ungkap Ino.

"Kurasa mereka mengenal siapa wanita itu," ucap Sasuke sembari mengarahkan dagunya ke arah panggung. Di sana masih adik-adik Sakura, Guren, dan yang lainnya.

"Eh? Maksudmu Shimura bersaudara itu? Tetapi kenapa begitu?" Sasuke menatap Naruto tidak percaya. Kenapa otakmu lambat sekali? pikirnya.

"Karena wanita itu ada dalam video yang diputar, dan saat dia datang mereka tidak bingung tentang sosoknya, lalu si kembar itu juga langsung memeluknya erat," jelas Ino. Naruto mengangguk-angguk.

"Bunga apa yang kalian dapatkan? Apa wanita itu memberi bunga pada semuanya?" tanya Itachi.

"Aku mendapat bunga tulip merah, Teme mendapat bunga sakura, dan Ino-chan mendapat bunga alstroemeria," jawab Naruto. "Dia juga hanya memberi bunga pada kami bertiga," lanjutnya.

Di panggung, Guren meresmikan bahwa acara pesta topeng, dimulai. Kemudian mereka turun, lalu beberapa orang naik ke atas panggung. Ya, suguhan pertama sebagai pembuka pesta adalah salah satu grup musik yang sudah dipersiapkan menunjukkan penampilannya. Merekalah alasan kenapa di panggung itu terdapat beberapa alat musik dan peralatan lainnya.

Di tempat Sakura, ia melihat Itachi datang. "Nii-san, aku ingin menemui adik-adikku. Apa kau ingin menemu Itachi-nii? Dia sudah datang."

"Hmm, pergilah temui mereka," kata Toneri.

Sakura pergi menemui adik-adiknya sedangkan Toneri tetap di tempatnya. Seorang pelayan datang lalu menawarkan minuman dan ia memilih red wine. Dengan sesekali menyesap cairan berwarna merah, ia menikmati menonton pertunjukkan musik di panggung. Tak lama kemudian, seseorang menepuk pelan bahunya.

"Menikmati minumanmu, Tuan Muda Otsutsuki?"

Toneri menoleh. "Lumayan."

Seorang pelayan yang membawa nampan dengan beberapa gelas minuman di atasnya lewat di dekat keduanya. Toneri menghentikannya lalu mengambil gelas berisi minuman yang sama dengannga.

"Satu gelas red wine tak akan membuatmu mabuk bukan, Itachi Uchiha?" Itachi terkekeh, lalu menerimanya segera. Kemudian keduanya bersulang dan menyesap cairan merah yang secara umum terbuat dari hasil fermentasi buah, terutama anggur.

Di lain sisi, Ino memberitahu Sasuke dan Naruto jika dirinya ingin pergi ke toilet. Kalau ayahnya bertanya, maka keduanya bisa memberitahu di mana Ino berada. Naruto ingin menemani Ino, tetapi gadis itu menolak. Tanpa Ino sadari, sepasang mata berwarna emerald mengawasinya sejak tadi.

Menggenggam tas tangan, Ino memasuki area toilet wanita. Dengan segera ia memasuki bilik toilet yang kosong. Setelah selesai, ia keluar. Pergi ke area wastafel yang berjejer. Hendak mencuci tangan dan merapihkan riasan wajahnya.

Ino mencuci tangan lalu mengeringkannya dengan tisu. Kemudian melepas topengnya lalu menatap wajahnya di cermin yang menempel di dinding tepat di hadapannya. Seorang wanita di sampingnya sedang mengeringkan tangannya menggunakan tisu, lalu wanita itu berbalik badan, hendak pergi. Namun wanita itu menabrak Ino. Ino tersentak terkejut, begitu juga dengan si wanita yang langsung meminta maaf. Ino sempat terpesona dengan bola mata berwarna emerald itu, tetapi ia dengan cepat tersadar dan berkata jika dirinya baik-baik saja, lalu wanita itu pamit pergi lebih dulu.

Usai merapihkan riasannya yang meski akhirnya tertutupi oleh topeng hingga filtrum, Ino bersiap pergi. Namun saat melangkah kakinya menyentuh sesuatu. Menunduk, ia melihat sebuah kotak kecil berwarna hitam. Dahi Ino mengernyit melihat itu, benda itu bukan miliknya. Ia membungkuk, mengambil kotak itu. Berpikir sejenak, kira-kira milik siapa benda itu. Seingatnya, saat datang ke toilet ia hanya melihat dua orang wanita. Satu saat ia datang dan wanita itu sedang memakai lipstick, dan kedua wanita yang menabraknya tadi. Wanita pertama sudah pergi saat ia keluar dari bilik. Itu berarti, kotak ini milik wanita yang menabraknya.

"Kotak ini milik wanita tadi," ucap Ino. Melihat kotak pengait kotak itu yang tidak terkunci, bola mata dengan warna aquamarine itu menunjukkan binar penasaaran. Dasar Ino.

Menengok sesaat ke pintu, dan meyakinkan dirinya jika situasi aman terkendali. Dengan lancangnya dan entah keberanian dari mana, gadis dengan rambut pirang pucat itu membuka kotak hitam yang ia temukan.

Saat melihat isinya, Ino bingung. Ia pikir kotak kecil itu berisi benda berharga seperti cincin berlian, kalung emas, atau jam tangan bermerek. Meski hanya kotak kecil berwarna hitam, tetapi ukirannya yang indah membuatnya berpikir begitu. Dengan keberanian yang bertambah besar, tangannya mengambil kain merah di kotak itu. "Kotak kecil yang indah ini hanya digunakan untuk menyimpan sebuah kain, sayang sekali," gumamnya.

Mengeluarkan kain merah dari tempatnya, ia kembali bersuara. "Eh, ini bukan kain sapu tangan?" Tangannya semakin mengeluarkan kain itu dari tempatnya. "Ini ... ini kain pita," ujarnya kemudian. Ia menyimpulkan bahwa itu adalah kain pita berdasarkan bentuk dan ukurannya.

Menutup kotak hitam itu ia berdecak. "Hanya kain pita biasa, bukan benda berharga. Kenapa harus disimpan di kotak yang bagus? Dasar aneh." Ino lalu kembali bercermin guna memastikan lagi penampilannya. Beberapa helai rambutnya kini telihat tidak rapih, ia segera merapihkannya.

Di luar, tepatnya di samping pintu. Orang yang menabrak Ino tadi tersenyum sedih mendengar ucapan Ino, lalu ia segera pergi dari sana.

oOo

Melihat Sakura sudah kembali, Toneri segera menghampirinya. "Jii-san dan yang lainnya menunggumu di mansion. Segera pulang jika acaramu sudah selesai." Toneri mengelus pucuk kepala Sakura. "Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa di mansion nanti," lanjutnya. Sakura menanggapi dengan anggukan kecil.

Setelah Toneri pergi, Sakura mengedarkan pandangannya. Emerald itu lalu terpaku pada pemuda yang mengenakan topeng bermotif rubah berwarna jingga. Senyum nakal tercipta di bibirnya. Ia melangkah mendekati mangsanya. Saat sudah ada di dekat pemuda itu, Sakura kehilangan keseimbangan lalu menabrak pundaknya. Tangannya segera memeluk tubuh pemuda itu, mengunakannya sebagai penopang tubuhnya. Matanya terpejam. Hidungnya mengendus tengkuk pemuda itu, menghirup aromanya dalam-dalam. Ia sempatkan juga untuk mengusap lengan pemuda itu.

Pemuda bernama Naruto yang terkejut karena seseorang menabraknya hingga membuatnya sampai membungkuk, lalu seketika ia merasakan tangan yang memeluknya erat, serta embusan hapas yang terasa hangat di tengkuknya. Membuatnya merinding. Untuk sesaat, sempat ia rasakan usapan lembut dan sensual di lengannya. Membuat dirinya terdiam kaku.

"Ah, ma-maaf, maafkan aku. Sungguh, maafkan aku." Sakura lekas berdiri tegak lalu membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Meminta maaf pada orang yang ia tabrak.

Tentu agar tak mengacaukan pesta, ulah Sakura berakhir damai. Si pemuda bertopeng rubah, yaitu Naruto. Memaafkannya dan berkata jika itu hanya hal kecil dan tak perlu dipermasalahkan. Bahkan ia berpesan untuknya agar lebih berhati-hati agar tidak terjatuh. Sungguh pemuda yang baik.

Dari salah satu kursi di meja pojok, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan tingkah Sakura dan kini dia mendecih kesal. "Dasar payah," ucapnya pelan tetapi penuh penekanan.

Beberapa waktu telah berlalu. Pertunjukan musik dan beberapa permainan telah selesai. Sekarang saatnya berdansa. Dengan instruksi kedua MC, para tamu sedikit bergeser ke pinggir, menyisakkan lantai kosong di tengah ruangan. Kemudian pencahayaan disesuaikan dan musik pengiring dansa segera dinyalakan.

Seseorang yang datang membawa pasangan, langsung berdansa. Bahkan orang yang datang tanpa pasangan, tetapi mendapat pasangan dansa di sini, juga ikut meramaikan lantai dansa. Orang yang ingin berjoget dan tak ingin berpasangan pun ikut bergabung menggerakkan tubuh beramai-ramai, seperti Shimura bersaudara dan kelima ibu mereka. Mereka menari bersama tanpa mempedulikan jika mereka menari tidak berpasangan seperti para tamu lainnya yang berdansa.

"Sakura-chan, apa kemarin kau menjadi wanita dengan penampilan eksentrik?"

Sakura menatap Itachi yang duduk di dekatnya dan berada di satu meja yang sama dengannya. Keduanya tidak menari. Begitu juga dengan Naruto dan Sasuke yang sedang duduk di meja lainnya, sedangkan Ino sedang berdansa bersama ayahnya. Awalnya Itachi bersama Naruto dan Sasuke, tetapi ia menghampiri Sakura saat gadis itu berhenti menari bersama adik-adiknya. Ia meninggalkan Sasuke dan Naruto yang duduk menikmati suasana pesta sembari sesekali meminum jus buah dan memakan sajian kue di meja.

"Hanya memberi kejutan untuk Hanabi dan Hinata," ucap Sakura. "Lavender dan cokelat muda adalah warna yang identik dengan keduanya, begitu juga dengan lensa kontak yang kupakai, kau tahu itu," lanjutnya.

"Bagaimana dengan tiga bunga yang berbeda?" tanya Itachi sembari menghirup aroma red wine pada gelas di tangannya.

Sakura mendecih lalu menatap tajam Itachi. "Haruskah memiliki alasan untuk memberi bunga secara acak?"

Itachi melirik Sakura sekilas. Menyesap red wine lalu memutar-mutar gelasnya. "Tidak. Hanya saja, kau tahu Sasuke sama sepertimu, tidak menykai bunga. Namun kau memberinya bunga," tutur Itachi santai. "Selain itu, bunga yang kau berikan adalah bunga sakura."

"Bunga yang memiliki sedikit hubungan waktu saat bibiku pergi." Itachi menatap Sakura yang terdiam. Gadis itu sedang balas menatapnya sinis tanpa mengatakan apa pun.

Musik pengiring pertama berhenti. Beberapa pasangan yang mundur, tidak melanjutkan dansa untuk musik pengiring yang kedua. Begitu juga dengan Ino dan ayahnya yang memilih berhenti.

Sepasang mata berwarna aquamarine milik Ino melihat Itachi sedang mengobrol dengan wanita yang menabraknya di toilet. Wanita dengan warna rambut yang tergolong langka itu terlihat hendak pergi. Dengan cepat Ino pamit pada ayahnya.

Berjalan cepat ke meja Naruto dan Sasuke, lalu mengambil kotak hitam dan berkata pada keduanya, ia hendak mengembalikan kotak itu pada pemiliknya. Ya, Ino sempat bercerita pada mereka tentang insiden di toilet tadi. Ia angkat sedikit gaun malamnya lalu berjalan tergesa mengejar Sakura yang sudah melewati pintu keluar.

"Hei, tunggu!" seru Ino.

* * *

Saat berbincang dengan Itachi, Sakura tahu jika sepasang mata aquamarine beberapa kali mencuri-curi pandang padanya saat berdansa dengan ayahnya. Ketika musik pengiring pertama berhenti, ia menduga jika gadis berambut pirang itu tak melanjutkan dansa, dan ia benar. Terlihat dari kedunya yang perlahan meninggalkan area dansa. Sakura melihat gadis itu saat dia menatap ke arah kotak hitam di meja yang ditempati dua pemuda lalu kembali menatapnya, beruntung ia cepat menoleh, jadi tak tertangkap.

Menyadari jika gadis itu akan mengembalikan kotak hitam miliknya, dan merasa jika pembicaraannya dengan Itachi sudah cukup, Sakura segera pergi.

Ia terus berjalan keluar hingga beberapa langkah setelah melewati pintu keluar, dirinya mendengar sebuah suara.

"Hei, tunggu!"

Mendengar suara itu Sakura tersenyum. Beruntung posisinya memunggungi si pengucap, yang membantunya menyembunyikan senyumnya. Tanpa menghentikan langkahnya, Sakura menoleh ke belakang. Bereaksi seakan ragu jika dirinya yang dimaksud.

"Iya, kau Nona. Topeng perak." Sakura berhenti melangkah ketika kalimat itu terucap. Ia berdiri di tempat, membiarkan gadis pirang berjalan menghampirinya.

Gadis berambut pirang dengan topeng berwarna ungu pekat menyodorkan sebuah kotak hitam pada Sakura. "Ini milikmu, bukan? Terjatuh saat kau di toliet."

Sakura menatap kotak itu lalu beralih menatap gadis di hadapannya yang tak lain adalah Ino. "Kau menemukannya, jadi kau bisa menyimpannya, Nona," ucap Sakura.

Sakura hendak berbalik dan melangkah pergi, tetapi cekalan di lengan kanan menghentikannya. "Kau menyimpannya di kotak yang indah meski hanya sebuah kain. Tidakkah ... ini berharga bagimu?"

"Sebuah kain?" Sakura tersenyum kecil. "Kau sudah melakukan hal yang lancang, Nona. Lagi pula itu bukan 'hanya' jadi tentu benda itu berharga bagiku." Ino terkejut. Ia menyadari jika dirinya kelepasan bicara. Bagaimana dirinya bisa membongkar perbuatannya yang memalukan itu dengan santai? Astaga.

Dengan cepat ino membungkuk meminta maaf. "Ma-maafkan aku, karena tak bisa menahan rasa penasaranku, aku sudah membukanya tanpa izin. Sungguh aku minta maaf."

Ino kembali menyodorkan kotak hitam itu. "Aku tidak merusaknya dan sekarang berniat mengembalikannya. Kau bisa meminta ganti rugi jika terdapat kerusakan yang kusebabkan."

"Tidak apa-apa. Kau bisa tetap menyimpannya."

Ino terkejut, ia mendongak menatap wanita di hadapannya yang lebih tinggi darinya. "Eh, kau memberikannya padaku?" tanya Ino tak percaya. Sakura mengguman dan mengangguk kecil. Kemudian segera berbalik badan dan mulai melangkah pergi.

"Kenapa kau memberikan benda berhargamu padaku?"

Langkah kedua Sakura terhenti. Ia sedikit menoleh. "Karena kupikir pita itu telah menemukan pemiliknya."

* * *

Sebuah mobil berwarna putih memasuki area mansion besar. Setelah berhenti, Sakura keluar lalu segera memasuki mansion besar itu. Berjalan menuju lift lalu menekan tombol angka empat, lantai teratas mansion.

Berjalan keluar dari lift, ia memasuki sebuah pintu berukuran besar dan tinggi berwarna putih. Emerald miliknya disambut dengan ruangan besar yang sudah di dekorasi oleh kain putih, dan tanaman. Nuansa putih dan hijau mendominasi. Terlihat simple dan elegant. Di tengah ruangan sudah ada meja persegi panjang berlapis kain putih dengan di atasnya terdapat lilin bertingkat, bunga, dan peralatan makan yang lengkap.

Di sisi kiri meja terdapat dua orang lelaki muda, kedua kakaknya. Salah satu dari mereka datang ke pesta topeng, sedangkan si sisi kanan, terdapat dua orang lelaki, ayah dari kedua kakaknya. Kemudian di sisi meja yang kecil ada sang kakek, ayah dari mendiang ibunya. Tersedia juga satu kursi untuknya yang berhadapan dengan sang kakek. Mereka semua memakai pakaian berwarna putih, sama seperti gaun yang ia pakai.

Sakura tersenyum haru melihat semuanya, hingga mata berwarna emerald itu berkaca-kaca. Melihat Sakura yang hanya diam berdiri, salah satu kakaknya mengeluarkan korek api dari saku celana lalu menyalakannya.

"Tanganku panas, Saki. Bisa menolongku?"

Menatap kakaknya yang tadi datang ke pesta topengnya, dan kini sedang menahan bantalan korek api model lama agar tetap menyala. Ia tahu, mereka tidak menyiapkan kue untuknya. Karena ini pertama kalinya sejak kepergian ibunya, Sakura merayakan ulang tahunnya lagi.

Menyadari jika Sakura belum sepenuhnya siap bergembira di hari yang membuatnya kehilangan sang ibu tercinta, membuat mereka sengaja tak menyiapkan kue ataupun kado untuknya. Mengubah perayaan ulang tahun menjadi acara makan malam biasa dengan dekorasi ruangan yang lebih indah.

Di tanggal ini juga mereka kehilangan orang tercinta yang sama. Semua merasakan hal yang sama. Namun, Sakura adalah puteri Hamura dan orang yang saat itu paling dekat dengannya, dan dia juga seorang perempuan. Makhluk yang notabene mempunyai perasaan lebih kuat dibanding pria, seperti mereka.

Ketidaksiapan ini jugalah yang membuat Sakura meminta mengadakan pesta topeng tanpa adanya hal-hal yang berkaitan dengan acara ulang tahun, seperti kue, lilin anggka atau lilin lidi, balon, kado, lagu, dan lain sebagainya.

Menunduk sekilas karena tak bisa membendung kristal cair di matanya, ia mengusap sekilas sudut matanya lalu perlahan mengangkat wajah lagi, kemudian mendekati Toneri yang masih setia membuat korek api tetap menyala.

Saat sudah dekat, bukannya meniup api korek, Sakura malah mengambil korek itu dari tangan Toneri. "Korek ini model lama, akan kubelikan model terbarunya," ujar Sakura. Mereka menatap Sakura sendu.'Benar-benar belum siap rupanya.'

Sakura membungkuk, lalu mencium pipi kanan Toneri yang baru saja kehilangan koreknya. "Maaf dan Terima kasih, Toneri-nii," bisik Sakura. 'Maaf karena aku belum siap, dan terima kasih untuk ini semua.'

Toneri tersenyum. Menatap Sakura lalu memegang sisi samping kepalanya, kemudian mencium dahinya. "Kutunggu korek api darimu, Saki." Sakura tertawa kecil mendengarnya.

"Apa aku hanya patung di sini?" Suara sinis yang di akhiri decihan itu membuat Sakura menoleh menatap si pengucap.

Sakura menggeleng pelan lalu tersenyum lembut. "Aku datang, Jii-san. Kau tampak lebih muda malam ini. Sungguh kakekku yang tampan," kata Sakura sambil menghampiri kakeknya di sisi ujung yang duduk sendirian.

Setelah selesai acara ulang tahun berkedok makan malam itu, semuanya sudah kembali ke kamarnya masing-masing, kecuali dua orang. Sakura dan Indra. Kedunya kini sedang ada di area terbuka di lantai empat. Lantai yang hanya dihuni oleh kakek Sakura sekaligus ayah Indra, Hagomoro Otsutsuki.

Sakura dan Indra sedang duduk di kursi kayu dengan teh yang tersaji di meja. Menuang teh untuk pamannya itu, lalu menyodorkannya langsung pada Indra.

Indra menghirup aromanya. "Bagaimana persiapan coassmu? Besok kau akan memulai coass, bukan?"

Sakura yang hendak menuang teh untuk dirinya sendiri menatap Indra sekilas. "Semua sudah selesai. Iya, besok hari pertamaku memulai coass."

"Hm, itu bagus," ucap Indra lalu meniup tehnya kemudian menyesapnya perlahan.

Sakura baru saja meletakkan teko teh saat Indra kembali bersuara. "Selamat untuk acaramu, Saki."

"Terima kasih, Oji-san."

Beberapa saat terlewati dengan obrolan santai keduanya. Sampai pada akhirnya Indra bertanya tentang kemajuan pendekatan Sakura.

"Kemajuan apa yang sudah kau lakukan untuk mendekatinya?"

Sakura lekas menatap Indra. "Eh?" Sakura terdiam sesaat. "Belum lama sejak kau memberiku waktu tiga tahun, Oji-san. Kemajuan signifikan macam apa yang kau harapkan bisa kubuat dalam kurun waktu dua minggu?" Indra menatapnya tajam, tetapi tak mengatakan apa pun.

"Bagaimana caramu mendekati bocah itu?" tanya Indra kemudian.

Sakura sedikit terkejut mendengar pertanyaan Indra. Namun, dengan cepat ia bersikap santai. "Aku akan mendekatinya dengan cara yang normal seperti gadis pada umumnya," jawab Sakura santai atau lebih tepatnya berusaha santai.

Indra berdiri sembari memegang gelas berisi teh. Meniupnya beberapa kali, lalu menenggak habis isinya. Kemudian meletakkan gelas itu ke meja.

"Jangan terlalu lama di sini, ini sudah sangat larut," tutur Indra. Ia lalu berbalik pergi. Meninggalkan Sakura yang sedang meminum tehnya. Namun, di langkah ketiga ia berhenti. Kemudian menoleh ke samping lalu suaranya terdengar.

"Aku baru tahu jika 'mendekati dengan cara normal seperti gadis pada umumnya' itu berarti mendekatinya secara sensual, dengan cara berpura-pura kehilangan keseimbangan, memeluknya, mengendus tengkuknya, dan mengusap lengannya secara seduktif, Saki." Setelah berkata begitu, Indra melenggang pergi meninggalkan Sakura yang sedang tersedak teh.

Chapter 18 selesai.

-oOo-

A/N : Pertama kali cerita ini di publish pada bulan desember, dan sekarang sudah ada di bulan yang sama. Beberapa hari lagi satu tahun dan fic ini belum juga tamat huhuhu :( sedihnya. Di bulan dengan nuansa Natal dan Tahun Baru, adakah yang mau nonton ulang film langganan yang sering diputar, yaitu Home Alone? xixixix.

Beberapa hari ini lagi sering nonton Gose, variety show-nya grup k-pop Korea, Seventeen. bahkan kutonton ulang lagi eps yang lama. Sengaja nulis ini, siapa tahu di sini ada yang nonton juga :3

Untuk mdani0838, Sudah kuduga itu kamu wkwkwk. Ini udah up, semoga suka ya :)

Sampai jumpa di chapter depan :)