Shinichi Kudo Sudah Mati.

Ran Kudo pertama kali merasakan kebencian merambas lewat sekujur saraf yang berdenging di tubuhnya sembari menyaksikan pintu kamar yang terbuka disusul sosok suaminya. Suatu dalam dadanya berdenyut pedih saat ia menyapukan pandangan pada pakaian pria itu; kemaja lusuh serta ikat pinggang yang sudah ditanggalkan dan entah ditinggalkan dimana.

Di situlah Ran mengetahui seperti apa dunia berjalan di belakang punggungnya selama ini, kotor dan menjijikkan. Ia bahkan tidak tahu sudah berapa lama telah terjadi, tapi saat menengok ia menemukan fakta bahwa interaksi Shinichi dan Haibara memang tidak pernah wajar selama ini, sejak awal, sejak mereka pertama bertemu dan Shinichi terlihat membenci anak itu sementara anak itu sendiri tidak pernah mau menatap mata Shinichi. Tapi, walau bagaimana pun, yang lebih tidak wajar adalah hubungan perselingkuhan antara anak dibawah umur yang terpaut sepuluh tahun dengan pria beristri.

Ran tidak mengerti, meski ayah dan ibunya pernah nyaris bercerai, namun ia tumbuh baik selama ini dan belajar nilai-nilai norma, dan agama, dan tidak pernah melewati batas yang sudah ditentukan. Orang-orang yang tidak belajar pun tahu dimana batasnya mereka bisa bertindak liar, tapi Shinichi, seorang polisi yang seharusnya paling mengerti hukum di antara mereka, sebagai anak tunggal dari keluarga terpandang dan berpendidikan, adalah yang keluar dari batasan. Lebih liar dari binatang, bukan begitu?

Seseorang yang keluar batasnya bersama pria itu kini juga hadir dari balik pintu sembari dia menatapnya, kemudian meluruskan lengan kaosnya dengan jari untuk menutupi lekukan-lekukan lusuh bekas lipatan dan tarikan, di sela-sela kebisuan. Beberapa noda basah dan keringat yang mengotorinya mungkin bukan hal-hal yang ingin dipikirkan oleh Ran dari mana asalnya, bahkan bukan sesuatu yang ingin dilihat seorang istri yang mencoba membawa pulang suaminya, yang datang setelah menunggu lama dan menyadari mobil Shinichi terparkir di halaman depan rumah tetangga, terlihat dari lantai dua, itu pun setelah ia susah payah menyiapkan makan malam dan menidurkan anaknya.

Ia hampir menjerit di depan semua kenyataan itu dan ingin seseorang membangunkannya dari kepedihan, dari mimpi buruk belaka. Melihat senyum Shinichi yang cendikiawan, dan kemudian menasehatinya untuk tidak tidur di sofa.

Shinichi... sangat mencintainya waktu itu. Ketika menemui Ran seusai kasus panjang yang mengharuskannya menghilang selama setahun, dan ia menunggu dengan setia kepulangannya, dan mereka menikah dengan pesta yang meriah dan Shinichi berjanji akan bersamanya sampai mati.

Shinichi-mu sudah mati. Tapi itu yang suaminya katakan ketika ia berlinangan air mata, air mata yang bening tanpa harapan.

Shinichi-mu sudah mati. Dan Ran tidak mungkin dibangunkannya dari mimpi buruk ini.

Shinichi telah mengingkari janjinya dan menodai rumah tangga mereka, dan dari wajahnya yang dingin Ran tidak menemukan adanya sisa-sisa cinta. Tidak ada sedikit pun lagi ruang baginya, berbayang status istri hanya oleh hukum dan surat negara. Tidak ada perasaan yang mengikatnya di hati pria yang merupakan suaminya dan merupakan ayah dari anaknya, menanggalkan hak dan martabat Ran sebagai wanita yang selama ini bertahan dalam sunyi kamar di rumah mereka. Tidak ada kewajiban yang ingin Shinichi laksanakan sebagai suami maupun orang tua. Tidak ada apa-apa. Tangan Shinichi yang menggenggam tangan Haibara adalah yang memberi tahu Ran semua.

Dan di tengah air matanya yang deras, Ran masih harus menjadi saksi dan interaksi kedua orang di depannya yang jauh lebih seperti pertengkaran sepasang suami istri yang sudah menikah lama dan ia hanya tamu yang tidak diperdulikan.

Ran tidak bisa menahan rasa sakit itu lagi. Yang ada hanyalah Ai Haibara di mata Shinichi Kudo dan mereka berdebat untuknya yang tidak bisa berkata-kata, membisu, membatu, membeku, melihat mereka mempertengkarkan apa yang seharusnya Shinichi lakukan terhadap istrinya saat ini untuk mengurangi permasalahan yang ditumbulkan sumber masalah itu sendiri. Ia menjerit dan dari perhatian yang akhirnya Shinichi berikan ia dengar, Haibara yang menyuruhnya. Remaja yang hanya tetangga dan selingkuhan suaminya. Ia mendengarnya berkata, memerintah suaminya, tidak ada tindakan Shinichi yang benar-benar dilakukan atas keinginan sendiri, menguatkan sisa-sisa martabat Ran sebagai seorang istri yang menarik dirinya mundur untuk menuju pintu dan berbalik.

Pergi.

Lari!

Mungkin wajah Shinichi yang dingin itu membuat Ran ingin lari padanya. Lari dari mimpi buruk, bayangan remaja yang mencuri suaminya di dalam sana, mengiringi Ran yang gemetar keluar dengan teriakan dan perintah lain untuk Shinichi.

Ran terus berlari.


"Biarkan saja dia pergi."

Waktu itu, Ai Haibara tidak dapat menarik kesimpulan dari apa yang dikatakan Shinichi. Tangannya masih menggenggam tangan Haibara dengan erat seolah sengaja menegaskan siapa yang lebih lelaki itu pilih di antara mereka, meski tidak ada satu pun yang mempertanyakannya.

Atau belum?

Alasan Ran kemari pasti bukan untuk memergoki suaminya main gila dengan tetangga, wanita itu bukan golongan masokis yang sengaja mencari luka. Ran pastilah ingin agar Shinichi pulang, lebih memilih istri dan anaknya ketimbang Haibara yang bukan siapa-siapa (kecuali sekarang jika ia telah dikenal sebagai perebut suami orang), dan atas dalih itu juga sejak awal ia menyuruh Shinichi untuk melepaskan tangannya dan pulang, setidaknya untuk malam ini saja.

"Apa kau bahkan tidak ingat seberapa kau dulu mencintainya?" Haibara merasakan percikan emosi, namun suaranya terjaga untuk tetap datar agar perdebatan mereka sedikit berkurang, meski, ia tidak dapat menjaga mulutnya tetap diam.

Sementara, lelaki lawan bicaranya yang masih menatap pintu itu, kini menengok, menatap Haibara seraya mengeratkan genggaman tangan.

"Haruskah aku jelaskan bahwa kelakuanmu yang membuatku melupakan segalanya?"

Dinginnya nada di suara itu mendengingkan pundak Haibara, bersamaan rasa sakit di pergelangan tangannya. Ia mencoba menarik diri dari Shinichi, akan tetapi pria muda itu sendiri bahkan tidak sedang berada di sana, yang di sana hanyalah sosoknya yang kejam dan tidak berhati, mungkin Haibara pun akan mencicipi sedikit amarahnya lagi.

"Kalau kau tidak membuatnya rumit sejak awal, orang-orang tidak akan menderita sebanyak ini." Gigi Shinichi berderit, dengan geram, dengan melepaskan lengan Haibara dari genggaman dan berjalan ke pintu utama rumah.

Ketika Ai Haibara melihat punggungnya yang semakin jauh dan menghilang di balik pintu yang tertutup itu, ia menyadari kalau ia salah. Salah... Shinichi masih di sana. Pria itu setidaknya masih memiliki hati karena sebenarnya dia bukan marah karena Ran datang, Shinichi marah karena mereka berdua telah menyakiti sosok malaikat yang tidak bersalah. Haibara tidak pernah menginginkan Shinichi untuk mendeklarasikan wanita mana yang lebih dicintainya saat ini, sebenarnya. Jadi seharusnya, dari pada menjaga hatinya seperti itu, seharusnya sejak awal Shinichi berpura-pura memahami Ran dan pergi bersama wanita itu, toh, pada akhirnya Shinichi sendiri merasa bersalah melakukannya, dan Haibara juga merasa diri lebih buruk untuk keduanya.


Ketika ia berhenti, pintu rumah tidak terkunci meski daun pintu tertutup rapat dan hanya beberapa lampu di dalam rumah yang menyala namun cukup penerangan untuk melihat, dan Shinichi melangkah. Shinichi masuk. Kakinya sampai di lantai dua dan menengok salah satu kamar yang terbuka diisi Ran dan anak mereka di atas ranjang sedang tertidur lelap dan melihat anak kecil tiga tahun itu menguap lalu bergerak merefleksikan mimpinya, ia tidak dapat lewat ke kamarnya begitu saja untuk mengemas beberapa pakaian dan barang. Ia tidak dapat pergi tanpa mengecup pipi Ichigo, putranya. Langkah kaki Shinichi berputar dan berjalan pelan masuk ke kamar, membuatnya dapat meraih bocah laki-laki yang merupakan replika mini dari dirinya sendiri itu, dan menyentuh pipinya yang gembil dan halus, dan...

... bergerak seperti sedang mengunyah cemilan, mungkin di dalam mimpi.

Dikecupnya anak itu sekarang. Turunan Kudo pertama yang akan menyandang status sebagai anak broken home, ayahnya kabur dengan wanita muda, dan kehilangan martabat.

Setidaknya untuk beberapa detik berselang, rasa bersalah Shinichi menahannya, berbisik pelan dalam kecupan dan memilin jari-jari Kudo kecil itu dengan hangat dan pelan. Apakah seharusnya ia membawanya saja? Tidak, tidak. Ia tidak akan, membawa Ichigo sekarang hanya akan memperkeruh suasana, dan tidak hanya Ran dan keluarganya, kemungkinan keluarga orang tua Shinichi sendiri akan ikut mencarinya. Ia hanya akan menunggu, ia tahu semuanya akan sesuai rencana seperti sekarang yang sudah berjalan.

Namun, ganti bocah tiga tahun yang tampan itu, Shinichi meraih foto dengan bingkai dan kaca di atas meja, membawanya, sebelum suara dalam tidur yang hampa dan tangan yang mengerjab, bekata, "Jangan pergi..."

Wanita itu sedikit mengejutkannya, menarik perhatiannya seakan tahu apa yang sedang terjadi di dunia nyata. Tapi dia tidak tahu, tidak tahu karena sekarang dunianya adalah mimpi, meski sepertinya juga tidak berbeda jauh.

Butuh beberapa detik sampai Shinichi meraih selimut di atas tubuh Ran dan menariknya sedikit naik agar pundak wanita itu tidak kedinginan, dan langsung melangkah pergi, inginnya. Namun ia berhenti, hanya satu langkah dari ranjang, kemudian berbalik untuk mengusap rambut wanita itu sebentar.

"Maafkan aku." Di tengah-tengah kegilaannya, ada ketika Shinichi berpikir dengan logika, bukan perasaan, dan logikanya telah memberitahu bahwa ia salah. Salah! Meski tidak juga bisa memperbaikinya, tapi setidaknya ia bisa mengurangi tingkat kebrengsekannya, sedikit, dengan mengucapkan maaf itu. "Aku tidak akan pernah kembali padamu."

Shinichi mengangkat lengkahnya kembali untuk pergi. Ia juga pergi ke kamarnya sendiri untuk berkemas, lalu datang ke rumah Profesor Agasa lagi dan mulai detik itu juga resmi hidup bersama Haibara, meninggalkan keluarganya, meninggalkan pekerjaan dan martabatnya, meninggalkan segalanya. Tanpa melihat, atau melihat, Ran telah terbangun semenjak di bawah tangannya dan menangis dalam diam mendengarnya.


Pertama kali Heiji Hatori datang ketika mereka berdiri di depan salah satu kamar mansion, dengan koper-koper dan tas mengantri di lantai, Haibara memandang janggal pemuda berkulit gelap yang tengah menyerahkan kunci ke Shinichi. Ia akhirnya tahu, setelah menyeret koper-koper dan tas masuk, bahwa mansion itu adalah milik keluarga Hatori dan Shinichi hanya meminjannya. Bukan masalah jika memang Shinichi sebangkrut itu sampai-sampai tidak dapat menyewa mansion atau sekedar apartemen, akan tetapi Heiji Hatori seharusnya bukan pilihan yang bagus saat ini.

"Kau menghubungiku terlalu mendadak, jadi aku tidak punya waktu untuk mempersiapkannya." kata pemuda sebaya Shinichi itu saat mereka di ruang depan mansion.

Secara harafiah, mansion itu sebenarnya hanya memiliki tiga ruangan yang terpisah, ruang depan yang menjadi satu dengan dapur dan hanya dibatasi bar setinggi dada dengan empat kursi di depannya, ruang kamar serta kamar mandi yang terpisah di seberang sofa. Tapi material dan interiornya cukup elegan, bahkan secara kebetulan termasuk selera Haibara. Terutama bagian dinding kaca yang membentang dari ruang depan ke kamar, dan merupakan pintu geser untuk jalan keluar masuk ke beranda.

"Tidak masalah, kami bisa membersihkannya nanti." Shinichi menjawab seraya duduk di sofa berwarna merah di ruang depan, Haibara meliriknya, sebelum gadis itu membuka pintu geser kaca dan membiarkan udara segar masuk menggantikan udara lembab di dalam ruangan itu. Ia kemudian berjalan ke beranda untuk menemukan pemandangan laut biru kepulauan Sakishima yang jernih.

"Jadi..." Sementara itu, Heiji bergabung di sofa bersama Shinichi, berbisik. "Kau benar-benar melakukannya?"

Pertanyaan itu dijawabnya seraya menengok Haibara yang masih berdiri di beranda, "Ya, aku berselingkuh dengannya."

"Apa orang tuamu sudah tahu?" Tambah pemuda berlogat kansai itu.

"Sepertinya belum." Kali ini Shinichi meninggalkan pemandangannya dari Haibara ke Heiji. "Mungkin tidak akan lama lagi mereka tahu. Tapi itu tidak masalah, mereka tidak akan mencampuri hidupku sejauh itu. Lagi pula mereka tahu siapa Haibara sebenarnya."

Heiji diam hanya untuk mempersiapkan pertanyaan lain pada temannya, "Bagaimana dengan Ran dan keluarganya?"

"Aku akan bercerai darinya, bagaimana pun caranya." Jawaban Shinichi itu dilengkapi dengan matanya yang berkilat dan bernada dingin, terlihat penuh tekad.

"Aku benar-benar tidak mengerti, Kudo." Heiji menghela napas yang terdengar berat masih sambil menatap pemilik marga itu. "Bagaimana bisa kau tiba-tiba memiliki hubungan semacam itu dengannya? Maksudku, selama ini kau terlihat baik-baik saja bersama istrimu, dan dia juga tidak memiliki satu pun kekurangan."

Shinichi telah membalas tatapan mata hijau di depannya dengan jawaban yang sudah siap, karena ia tahu akan mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Ia akan membuat suara ketika suara langkah dari beranda lebih dulu terdengar olehnya, membuatnya menengok dan menemukan Haibara telah masuk ke dalam ruang tengah. Diluruskan kembali raut wajahnya saat itu, lalu menghadap sosok gadis remaja yang telah berada di dekat sofa.

"Kau tidak lapar?" Shinichi tidak melemparkan pertanyaan asal, meski memang ia sengaja mengalihkan pembicaraan, mereka belum makan karena harus memburu pesawat pagi ini. "Kita bisa pergi makan di luar sebentar."

"Kau bisa pergi sendiri kalau kau sudah lapar, aku mau membongkar koper lebih dulu." Haibara menjawab seraya melirik koper-koper di dekat meja, menarik salah satu miliknya, lalu membawanya menuju pintu kamar.

Shinichi berkata, "Sebentar." pada Heiji setelah itu. Ia berdiri untuk meraih tas besar di lantai, satu koper besar miliknya, dan satu koper mini milik Haibara, membawanya mengikuti kepergian gadis itu yang sudah berada di dalam kamar.

"Aku akan makan di luar bersama Hatori kalau begitu." Ucapnya sambil meletakkan koper-koper itu, lalu menurunkan tas di atas ranjang, sebelum menambahkan, "Kau mau makanan tertentu?"

"Tidak." Haibara menjawab seraya membuka gorden lalu menggeser pintu kaca di kamar itu. "Apapun boleh." Ia menambahkan dengan menengok Shinichi kali ini.

"Hm." Jawabnya sebelum berbalik dan berjalan.

Pria muda itu kembali menemui Heiji untuk mengajaknya makan di luar sekaligus meneruskan obrolan mereka yang tertunda. Namun Heiji sedikit termangu dan masih duduk di sofa, untuk beberapa detik. Kemudian pemuda asli Osaka itu mengikuti Shinichi yang sudah berjalan ke pintu utama.

Sebuah pertanyaan terus mengganggu Heiji saat ini, yang akhirnya ia tanyakan begitu mereka berada di luar mansion dengan pintu yang sudah Shinichi tutup.

"Kau benar-benar mencintainya?" Suaranya terdengar ragu dan heran.

"Maksudmu?" Shinichi mendongak dengan alis terangkat mendengar pertanyaan tiba-tiba itu.

"Bukankah kalian sedikit, terlalu dingin satu sama lain?"

Sebuah seringai justru mengukir senyum pendengarnya, Shinichi baru paham. Ia tidak akan menyangkal jika orang melihat interaksinya dan Haibara terlihat dingin, karena memang begitu adanya. Mereka sempat kembali bertengkar semalam, dan juga pagi ini sebelum berangkat. Mau bagaimana lagi, wanita itu sungguh keras kepala dan Shinichi juga muak terus menurutinya. Akan tetapi, tentu saja mereka saling mencintai, dan dinginnya interaksi mereka selalu berganti panas setiap berada di atas ranjang. Andai saja Shinichi bisa membalas seperti itu.

"Mau bagaimana lagi? Dia ilmuan yang terlalu serius dan aku hanya seorang penggila kasus." Ia menjawab main-main seraya mengantongi kedua tangannya di saku celana dan mengangkat pundaknya sekilas. "Kami sudah terbiasa."

Jawaban itu tidak membuat Heiji lega, namun juga membuatnya tidak ingin lagi bertanya. Pada akhirnya mereka kambali berjalan tanpa membahas Haibara dan mulai mendiskusikan rencana.


Dunia mereka monokrom, bagi Haibara. Hanya ada hitam dan putih selain suara napas yang terengah dan erangan tertahan saat mereka bercinta. Tapi panas. Napasnya, perasaannya, tangan Shinichi, sampai kecupan yang menghampiri punggungnya.

"Kalau kau terus secepat itu," Haibara merenggut seprei di bawahnya, menggenggam erat sembari menahan diri untuk tidak berteriak di sela suaranya yang tercekat. "Aku bisa pingsan—Ngh!"

Shinichi menghentak tubuhnya dan meremas pinggangnya, dengan tangan kiri menarik tangan kiri Haibara ke belakang. Maniak itu mulai gila seks dan memaksanya bersetubuh di sore hari, tepat saat Haibara selesai mandi.

Napas Haibara terengah berkali-kali, bersaing dengan napas berat milik Shinichi. Tangan kanan pria muda yang ada di belakangnya itu kemudian beralih memeluk dadanya, menariknya tegak berdiri di atas kedua lututnya dan kembali menghentak. Ciuman bertubi-tubi di rasakan Haibara pada tengkuknya yang berjalan pelan ke pipinya, disusul dengan remasan pada kedua belah buah dadanya. Kini, kedua tangannya sendiri yang sudah bebas meremas balik tangan-tangan itu, melampiaskan rasa sakit yang mulai mengganggu.

"Kudo..." Ia memanggil susah payah, dengan mata terpejam dan badannya mulai lemah.

Namun Shinichi terus melanjutkan dan mencium bibirnya, membungkamnya untuk tidak mengeluh dan hanya memperbolehkannya untuk melenguh. Tubuh Haibara digulingkan ke kasur setelah itu, kemudian ditarik dan membuat mereka berhadapan sebelum pria yang sama memasukinya kembali dan menghentaknya berkali-kali.

"Aku sudah mau keluar..." Bisikan Shinichi terdengar di antara suara napas-napas mereka yang bersaing semakin cepat.

Haibara menjerit tertahan, lalu memeluk punggung Shinichi sekaligus mencari pegangan bagi tubuhnya yang diguncang gila-gilaan. Panas tubuh mereka mencapai batas maksimal panas tubuh manusia, dengan panasnya adrenalin yang terus bertambah dan memuncak bersamaan cairan sperma yang menyembur di dalam tubuhnya. Gerakkan Shinichi perlahan-lahan berhenti sementara Haibara tidak henti-hentinya melenguh dalam tahapan yang setara dengan menangis, atau mungkin ia memang menangis karena merasakan begitu banyak tekanan baik pada fisiknya maupun pada gairah seksualnya.

"Dasar cabul..." Suaranya setengah berbisik, setengahnya lagi terisak, sementara pria yang telah menemukan kepuasan itu justru tertawa pelan sebelum menjatuhkan diri di atas tubuhnya tanpa melepaskan persetubuhan mereka.

Ketika Haibara membuka matanya kembali, dunia monokrom mereka telah di dominasi oleh gelap yang pekat. Bahkan cahaya dari lampu-lampu gedung di dekat mansion mereka tidak mampu menembus kegelapan kamar itu. Padahal mereka memulainya pada saat senja baru saja turun, dan sekarang waktu selesai langit malam sudah sepenuhnya menyelimuti kepulauan Sakishima.

"Aku lapar..." Titian mata Haibara pada langit-langit kamar yang berwarna abu-abu terusik bisikan itu. "Ayo kita pergi makan di luar."

Ia lebih dulu melepaskan pelukkannya dari tubuh telanjang Shinichi sebelum membalas sambil melirik wajah pria itu yang berada di ruang pundaknya, "Kita bukan semacam binatang yang menghabiskan waktu hanya untuk seks dan makan."

"Mulutmu itu kadang-kadang terlalu jahat, kau tahu?" Shinichi menukas. "Aku juga akan bekerja kalau sudah mendapatkan kasus. Lagi pula aku tidak benar-benar kehabisan uang sekarang, aku meminjam tempat Hatori karena itu lebih cepat dari pada harus mencari ke seluruh Jepang. Kecuali kau tipe orang yang mau tidur di apartemen murah dan sederhana."

Mendengar hal itu, Haibara menarik mundur tubuhnya sekaligus membebaskan diri dari pria itu. Ia mendengus dan menjawab, "Kau bicara seperti aku yang menuntutmu. Aku bahkan tidak berkata apapun tentang tempat tinggal karena tahu seberapa sulit keuanganmu sekarang."

"Seriously, Haibara?" Shinichi menggunakan nada bertanya untuk mengucapkannya, lalu membalikkan badan untuk menyambung pandangan sambil menggunakan salah satu lengannya sebagai bantal kepala. "Kau tidak akan protes kalau kita tinggal di apartemen murah? Dengan tabiatmu selama ini, kau mau aku percaya hal itu?"

Haibara cukup tertohok, membuatnya memalingkan muka. Ia meremas seprei di bawahnya dan memejam. Bukan untuk menahan tangis, melainkan untuk menahan diri agar tidak memaki Shinichi.

"Dengan tinggal di mansion pinjaman saja kau bahkan tidak setuju, apa kau pikir aku tidak menyadarinya?" Lanjut pria lawan bicaranya. "Sebenarnya aku juga sudah menduganya sejak awal, makanya aku tidak memberi tahumu. Tapi kau seharusnya sedikit berpura-pura dalam keadaan seperti ini untuk menghargai usahaku."

"Kau tahu tabiatku, dan kau tahu aku tidak akan pernah berubah." Haibara membalas pada akhirnya, dengan kembali memandang Shinichi dan menunjukkan ekspresi sedingin nada suaranya. "Jadi kenapa kau tidak kembali pada istrimu saja? Aku yakin dia jauh lebih bisa menghargaimu."

Haibara tahu, bahkan sebelum mengatakan semua itu, reaksi seperti apa yang akan Shinichi lakukan. Dan benar saja, pria muda itu menarik tangannya dengan kuat dan membuatnya terjatuh, meremas lengannya lalu mengeritkan gigi penuh emosi. Tapi seperti yang selalu dikatakan Shinichi sendiri, mulut Haibara memang jahat, ia tidak bisa memperbaiki hal satu itu terlebih dalam keadaan mereka sekarang.

"Aku tidak menghancurkan hidupku sendiri untuk mempertahankannya, aku melakukannya agar bisa terus bersamamu." Pemberitahuan itu terbungkus nada geram, dan pemberitahuan itu jugalah yang membuat Haibara kembali diingatkan pada alasan mereka ada di Osaka sekarang.

Haibara mencoba menarik napas sekaligus menarik kembali amarahnya, semua itu dilakukan bersamaan dengan ia menarik dirinya turun dari ranjang. Dipungutnya jubah mandi yang tergeletak di lantai, lalu memakainya kembali.

"Aku mau mandi." Kata Haibara setelah memakai jubah mandi itu. "Kita bisa pergi makan di luar setelah ini."

Shinichi berdecak dan masih terlihat kesal ketika Haibara berjalan keluar kamar. Namun kemudian pria muda itu menyusulnya.


Sekitar jam delapan malam mereka sampai di restoran yang berada dalam Cosmo Tower Hotel, tidak jauh dari mansion yang mereka tempati. Langkah kaki Haibara memelan ketika matanya menangkap dua wajah familiar di salah satu set meja, dan itu adalah Heiji Hatori dan Kazuha Toyama. Haibara melepaskan lengannya yang menggelung lengan Shinichi seraya berhenti, tepat bersamaan dengan tatapan dua orang itu yang mengarah pada mereka. Ini pertemuan yang aneh jika sekedar kebetulan. Namun rasanya tidak mungkin Heiji dengan sengaja merencanakan pertemuan ini bersama Shinichi, terlebih membawa Kazuha yang jelas-jelas teman baik Ran, bahkan pemuda Osaka itu juga terlihat terkejut dengan kehadiran Haibara. Satu-satunya orang yang mungkin sengaja membuat pertemuan ini adalah Shinichi sendiri, sosok yang telah berada tepat di depan meja.

Tapi kenapa?

"Haibara?" Pria muda itu menengok padanya, seraya menarik salah satu kursi yang tepat berada di seberang Kazuha.

Seraya menghela napas samar, Haibara kembali berjalan. Ia kemudian duduk di kursi lain dari yang Shinichi persiapkan, tepat di depan Heiji, sementara Shinichi sempat melirik heran sebelum menempati sendiri kursi itu.

"Maaf kami sedikit terlambat." Pria di samping Haibara membuka keheningan.

Heiji tertawa canggung, "Aku pikir kau tadi bilang akan datang sendiri?"

"Dia akan bosan kalau di rumah sendirian, jadi aku mengajaknya." Jawaban Shinichi satu ini membuat Haibara yakin bahwa dugaannya benar, namun ia memilih untuk tidak bereaksi kali ini.

Dengan tenang gadis bergaun merah maroon itu meletakkan tas tangannya di meja, lalu meraih daftar menu di depannya.

"Apa kau bercanda?" Suara Kazuha yang dibuat sedikit lebih tinggi adalah yang menarik perhatian Haibara, meski hanya mampu membuatnya mendongak secara samar. "Bagaimana bisa kau membawa bocah tidak tahu diri itu? Kau benar-benar sudah gila, Kudo. Apa kau bahkan lupa kalau kau sudah punya anak dan istri?"

"Karena aku sudah gila, maka dari itulah aku meninggalkan anak dan istriku agar mereka tidak menderita." Shinichi membalas dengan sangat tenang, terlalu tenang malah.

"Sudah, sudah..." Tukas Heiji pelan untuk menghentikan tunangannya yang hampir meneruskan perdebatan itu. "Biarkan mereka makan dulu. Kudo, kau mau pesan sekarang?" Ia melanjutkan, berkata pada Kazuha, kemudian menatap Shinichi.

Shinichi mengangguk sebelum menengok pada Haibara yang menunduk ke daftar menu, sementara Heiji telah memanggil salah satu pelayan untuk datang ke meja mereka menggunakan isyarat tangan.

Begitu pelayan datang, pria muda di samping Haibara melemparkan pertanyaan, "Kau sudah memilih?"

Haibara sekedar menunjuk salah satu menu di buku yang sedang ia pegang, sebelum memberikannya pada Shinichi yang kemudian melanjutkannya ke pelayan.

"Dua." Katanya untuk memesan menu yang Haibara pilih, sekaligus menjadi menu pilihan Shinichi.

"Jadi," Heiji kembali membuka suara, sedikit ragu. "Setelah aku periksa, ada salah satu klienku yang mengajukan permintaan untuk memecahkan teka-teki di rumahnya. Kakeknya, yang sudah meninggal tiga bulan yang lalu, menyimpan beberapa emas dan berlian di dalam rumah itu. Sayangnya sebelum meninggal, Kakek itu terkena strok sehingga tidak bisa bicara maupun menulis untuk memberitahukan dimana letak harta itu di simpan."

"Apa kau sudah memberi tahu klien itu kalau aku yang akan menanganinya?" Shinichi mengajukan pertanyaan selagi suara itu membuat jeda panjang.

"Belum." Balas pria satunya, disusul dengan menggeleng pelan. "Aku mau memastikan dulu apa kau bersedia menanganinya, karena rumah yang dimaksud ada di Kyoto."

"Kapan dia ingin penyelidikannya dimulai?"

"Secepatnya." Heiji membalas nyaris tanpa jeda.

Mendengar hal itu, pemilik marga Kudo ini melempar tatapan bertanya pada Haibara, dan Haibara yang memang memperhatikan sejak tadi, meski hanya menunduk pada meja, menyadari tatapan itu. Gadis tersebut mendongak, namun menahan suara karena pelayan telah datang mengantarkan makanan mereka.

"Bagaimana menurutmu?" Shinichi sedikit menuntut.

"Terserah kau saja." Ia menjawab datar seraya kembali menatap meja yang kini telah ditempati sepiring okonomiyaki yang sudah siap dimakan, dan satu mangkuk kecil berisi irisan daun bawang.

"Kalau begitu aku akan mengambilnya." Putus pria muda itu, lalu meluruskan pandangan pada Heiji. "Kabari aku kalau klienmu menyetujuiku untuk menangani kasusnya."

Heiji mengangguk, dan Shinichi menyendok okonomiyaki miliknya. Sementara, Haibara mulai terganggu dengan tatapan Kazuha yang tidak berhenti menyorotnya sejak tadi.

"Ada hal yang menggangguku." Kazuha akhirnya bicara, tentu saja sambil menatap Haibara. Wanita seusia Heiji dan Shinichi itu meletakan sumpit ke meja, lalu meneruskan, "Aku sudah mencoba menahannya sejak tadi, tapi tidak bisa. Apakah, kau bahkan sudah menstruasi, Haibara-san?"

Pertanyaan konyol itu diajukan menggunakan nada yang sama main-mainnya. Tidak cuma Haibara yang bereaksi, Heiji bahkan hampir menyemburkan steak wagyu seharga 15.000 yen dari mulutnya, sedangkan Shinichi mendengus geli dengan level humor yang berbeda dari mereka.

"Sudah, sejak satu tahun yang lalu." Haibara membalas tenang, bahkan sejak pertama mendengar pertanyaan asal itu, wajahnya tetap lurus nyaris tanpa ekspresi.

"Kau benar-benar sesuatu." Wanita itu melanjutkan sambil menatap tajam. "Apakah ada yang salah dengan hormonmu? Kau baru saja puber tapi kau sudah mengejar lelaki yang sudah punya anak dan istri. Kudo juga, dia tidak tahu malu karena berselingkuh dengan bocah sepertimu."

Kali ini, Haibara mendongak, menatap Kahuza lurus dengan menarik senyum sinis nyaris tidak ketara.

"Kazuha!" Namun suara itu bukan milik Haibara, Heiji adalah yang lebih dulu menukas, dengan suara pelan namun penuh tekanan.

"Sudah aku bilang, aku tidak tahan untuk tetap diam." Tandas wanita yang sama.

"Saat kau melihat sisi gelap seseorang, apa kau benar-benar bisa melihat semua yang terjadi di dalam kegelapan itu?" Haibara menyela, ia berhenti sejenak hanya untuk mendengus geli. "Karena terlalu gelap, kau hanya bisa melihat sesuatu yang paling dekat. Tapi aku yakin orang yang selalu berada di bawah lampu sorot sepertimu, tidak akan mau masuk ke dalam kegelapan untuk mencari tahu."

"Omong kosong—"

"Apa bahkan kau pernah berpikir, dari kehidupanmu yang terang itu, di seberang lain ada seorang gadis yang menghabiskan masa pubernya dalam laboratorium yang dingin, sendirian, dan ketakutan, karena ada sebuah pistol yang menempel di kepalanya? Yang siap membunuhnya kapan pun jika dia membuat kesalahan." Haibara kembali menyela wanita itu, dengan senyum yang terkuras habis dari wajahnya, dan menatap lurus tanpa fokus. "Kalau tidak pernah, kau juga tidak akan pernah paham, kenapa bocah empat belas tahun bisa mengejar pria yang sudah punya anak dan istri, dan kenapa Kudo tidak malu saat bersama bocah itu."

"Jangan mengarang cerita." Kazuha mengambil kesempatan satu detik setelah suara Haibara berhenti, nyaris tertawa. "Gadis mana yang kau maksud? Aku mengenalmu sejak usiamu tujuh tahun, selain bocah sombong yang sok dewasa, tidak ada hal ironis dalam kehidupanmu."

"Itu memang sekedar cerita karangan, kenapa kau begitu serius mendengarnya? Aku hanya bercanda." Gadis itu kembali tersenyum, sebelum menunduk.

Heiji yang ikut mendengarkan semua perkataan Haibara, termangu. Ia merasa sedikit memahami keadaanya sekarang, karena semua tadi bukan sekedar cerita karangan. Namun setelah mendongak sosok di sebelah Haibara dan menemukan Shinichi menyeringai, ia kembali dibingungkan dengan apa yang terjadi.

"Kau punya imajinasi yang luar biasa."

"Kazuha," Heiji langsung menegur kali ini. "Hentikan."

"Bukankah dia—"

"Hentikan." Suara pria itu mengulang, hanya saja terdengar lebih tegas dan dingin sehingga Kazuha segera berhenti dan membuang muka.

Tidak ada lagi yang bicara. Tidak ada yang bertukar pandangan mata. Sampai pada Shinichi mendongak seraya tersenyum, lalu bertanya, "Sudah selesai?"

Dua kata pendek dalam bungkusan nada tenang itu menarik perhatian ketiga sosok lain di meja, nyaris bersamaan.

"Kalau begitu izinkan aku meneruskan cerita itu." Ia melanjutkan, menaruh sendok dan melipat jari-jari di kedua tangannya menjadi satu tumpukan di depan dagu, dan berkata dengan suara datar yang terdengar serius. "Gadis yang ditodong senjata dalam laboratorium itu kabur, lalu untuk pertama kalinya dia bertemu seorang pemuda yang mau melindunginya, dan dia jatuh cinta."

Haibara mengerutkan kedua alisnya, menatap Shinichi curiga. Namun sebelum ia mampu berkata-kata, pria yang sama telah kembali bercerita.

"Gadis itu mencoba mengejar pemuda ini selama satu tahun, lalu satu tahun kemudian mereka menjalin hubungan. Tapi gadis itu tiba-tiba bunuh diri." Shinichi tidak menatap siapapun saat itu meski pandangannya lurus ke depan, sementara Haibara yang menatapnya dari samping mulai meragukan kecurigaannya sendiri. "Saat gadis itu bereinkarnasi dan terlahir kembali, pemuda yang dicintainya sudah dewasa dan sudah memiliki anak dan istri, sehingga dia menyerah. Tapi pria ini tahu, gadis itu adalah gadis yang dicintainya, dan pria ini tidak perduli bahwa usia mereka jauh berbeda di kehidupan mereka yang sekarang."

Sampai di tahap ini Haibara tahu kecurigaannya benar, bahwa pria itu mencoba menceritakan hubungan mereka. Segera diraihnya ujung jas Shinichi saat itu juga, menariknya untuk berusaha menghentikan rencana pemiliknya. Ia tidak tahu apa lagi yang dipikirkannya, tapi ia tidak mau keadaan menjadin lebih rumit.

"Pada akhirnya, karena tidak bisa meyakinkan gadis itu, pria ini memperkosanya. Gadis itu lalu hamil, dan tidak punya pilihan lain kecuali menikah dengan pria ini. Setelah itu mereka hidup bahagia selamanya. Tamat." Nada final itu benar-benar mengakhiri cerita Shinichi, disusul dengan lipatan tangannya yang terbuka dan tarikan Haibara pada jasnya yang lepas.

Seraya menyeringai, pria muda itu menyapukan pandangan ke seluruh wajah pemirsanya, "Kenapa kalian diam? Bukankah itu cerita yang lucu?"

"Kau bercanda?" Kazuha merasa dipermainkan dan melepaskan dua kata itu untuk kesekian kalinya, namun kali ini ia benar-benar bertanya.

"Kau pikir aku serius?" Tandas sosok di depannya sebelum tertawa.

Haibara yang telah menunduk, meremas sisi gaunnya yang panjang, menjadikannya sebagai pelampiasan emosi sekaligus menariknya sedikit sebelum berdiri.

"Aku ke kamar mandi sebentar." Ia mengabari, lalu berjalan pergi.

Langkahnya keluar dari restoran untuk menuju lift yang ada di seberang ruangan. Kemudian berdiri diam setelah menekan tombol bertanda panah ke bawah. Haibara menunduk saat itu, dan menarik napas dalam-dalam dalam paru-paru.

Ia tahu, ia tahu. Ia adalah orang yang memulai semuanya dengan lelucon aneh mengenai masa lalunya. Tapi Haibara tidak menyangka Shinichi sudah segila ini. Pria itu menyiramkan minyak ke dalam api yang sudah membakar seluruh rumahnya.

"Haibara-san?" Panggilan dari suara perempuan itu sedikit mengenjutkannya meski reaksinya sekedar menengok dengan perlahan. "Apa itu benar? Kau hamil... dan Shinichi, benar-benar telah memperkosamu?"

Mata sebiru samudra itu melebar, membingkai wajah sosok Kazuha yang menatapnya gusar.

"Itu alasanmu kenapa kau bersamanya?"

"Kau percaya omongan orang gila itu?" Haibara menarik senyum ambigu dengan kepala condong ke samping.

"Tidak." Balasan wanita itu tidak terdengar meyakinkan. "Tapi aku merasa hal seperti itu tidak akan dijadikan bahan lelucon oleh Kudo, dan jika benar, aku tidak bisa membiarkannya."

"Jadi kau pikir aku pernah bunuh diri dan sekarang aku sudah bereinkarnasi?" Tanyanya, kemudian tertawa tanpa suara.

Wanita yang tingginya hanya lima centi di atas Haibara itu terdiam dan menatap redup. Mungkin ia sangat membenci Haibara sebelum ini karena bocah itu sudah merebut suami dari teman baiknya. Akan tetapi setelah mendengar cerita Kudo, Kazuha merasa cerita itu bukan lelucon. Bagaimana pun, jika dipikirkan, cerita itu terkait dengan cerita Haibara sendiri. Yang aneh, kesan dari cerita mereka bertentangan, karena dari sisi Haibara terdengar memihak, sedangkan dari sisi Kudo seperti menyalahkan diri sendiri.

Tapi... mungkinkah Shinichi Kudo orang yang seperti itu?


"Apa itu benar, Kudo?" Heiji menuntut, menatap mata lawan bicaranya, dan mengepalkan tangan. "Kau memperkosanya?"

Pria yang dilempari pertanyaan mendengus geli untuk sejenak, "Aku tidak punya pilihan lain. Dia terus saja menghindar."

"Kau sudah gila?!" Kalimat berlogat Kansai itu melambung tinggi sehingga beberapa orang di dekat meja mereka terkejut.

"Ya, aku benar-benar gila saat itu, aku tidak bisa menahan napsuku begitu tahu dia sudah dewasa." Shinichi masih menjawab tenang. Ia teringat saat itu, ketika membantu Profesor Agasa mengambil baju-baju Haibara untuk di kirimkan ke rumah sakit. Saat itu ia menemukan beberapa pembalut wanita di lemari Haibara dan menyadari bahwa sosok yang dicintainya sudah kembali dewasa. Ia langsung terpikirkan untuk mengajak Haibara bercinta, karena mungkin, mungkin saja, jati dirinya yang asli sebagai wanita dewasa akan menerima Shinichi dalam tahap itu, lalu Haibara akan sadar bahwa cintanya sangat besar pada Shinichi.

Tapi, Haibara lagi-lagi menolaknya, terus menolak, hingga akhirnya Shinichi tidak tahan lagi dan menjadi gelap mata. Ia bahkan tidak benar-benar mabuk saat memperkosa Haibara, alkohol hanya meningkatkan keberaniannya. Sejak awal, Shinichi Kudo sudah berniat untuk menyetubuhinya.

"Apakah kau bahkan masih Kudo yang aku kenal?" Suara bisikan Heiji terdengar, nadanya lemah dan gusar.

"Shinichi Kudo sudah mati, dan wanita itulah yang sudah membunuhnya." Pemilik nama itu sendiri yang mendeklarasikannya.

Kemudian Shinichi berdiri dan berjalan pergi tanpa mencari tahu seperti apa ekspresi yang Heiji tunjukkan. Ia sebenarnya sedikit khawatir sejak Kazuha tiba-tiba meminta izin ke kamar mandi, tepat setelah Haibara pergi. Ia takut mereka bertengkar di toilet atau semacamnya.

Tapi.

"Tapi aku merasa hal seperti itu tidak akan dijadikan bahan lelucon oleh Kudo, dan jika benar, aku tidak bisa membiarkannya."

"Jadi kau pikir aku pernah bunuh diri dan sekarang aku sudah bereinkarnasi?"

Shinichi menemukan mereka di depan pintu lift begitu kakinya melangkah keluar dari restoran. Tanpa berhenti, matanya terus menatap kedua wanita itu.

"Aku mencoba memberimu kesempatan, tapi kalau kau tidak menyangkalnya, aku akan kembali memandangmu sebagai gadis murahan."

"Kau tidak tahu," Shinichi berkata masih sambil berjalan, kemudian meneruskan saat berhenti di sebelah Haibara. "bahwa Haibara adalah wanita paling mahal di dunia ini? Dia bahkan tidak mau memakai baju dibawah harga sepuluh ribu yen."

Kazuha melempar tatapan tajam pada Shinichi, seketika.

"Dan tidak perlu khawatir, dia tidak hamil. Aku tidak mungkin menghamili bocah berusia empat belas tahun, kan?" Pria muda itu tertawa setelah menyelesaikan perkataannya, bersamaan dengan lengannya yang mengalung ke pundak Haibara.

"Kau yang paling tahu, Kudo-kun, apakah tindakanmu itu termasuk tindak kriminal atau bukan." Ucap Kazuha serius. "Jadi jangan sampai kau keluar batas, atau kau akan sangat menyesal."

"Bukankah kau tadi sangat membenci Haibara?" Tanya Shinichi yang juga telah menggunakan nada serius. "Kau terdengar sangat ingin melindunginya sekarang, Toyama-san."

"Aku tidak membenci seorang korban, aku benci pelakunya." Kazuha menegaskan sebelum berbalik dan berjalan.

Untuk beberapa saat, Shinichi mengikuti kepergiannya melalui pandangan, lalu tertawa pelan.

"Aku selalu bertemu wanita-wanita aneh. Apakah tidak ada wanita normal di dunia ini?" Katanya, kemudian menyelesaikan pertanyaan seraya menengok Haibara.

"Selamat kalau begitu, karena aku yang paling normal di antara wanita-wanita berjiwa pahlawan itu." Suara Haibara yang berhenti bersamaan dengan suara tanda lift yang terbuka, membuat gadis itu menengok lalu melepaskan diri dari Shinichi untuk masuk ke dalamnya.

"Maksudmu..." Shinichi ikut masuk ke lift dan bersandar ke dinding, sementara Haibara menekan tombol bertuliskan angka satu. "Karena kau masih tinggal bersama seorang penjahat yang sudah memperkosamu?"

Tepat bersamaan dengan pintu lift yang tertutup, Haibara menghadapnya, dan seolah tanpa jeda tangannya terangkat dan menampar pipi kiri Shinichi, dengan sangat keras.

"Aku mulai berpikir untuk meninggalkanmu karena kau terus saja melakukan hal-hal yang tidak aku sukai." Ia menggertakkan gigi dengan geram. "Haruskah aku meninggalkanmu sekarang?"

"Bagian mana yang tidak kau sukai?" Tanya Shinichi yang meleruskan pandangan dan membuat mata mereka bertemu secara langsung. "Saat kita bercinta?"

"Saat kau dengan sengaja mempertemukan aku dengan Toyama, dan saat kau menceritakan cerita bodoh itu, apa yang kau pikirkan?" Haibara tidak mengambil lelucon yang dilemparkan padanya, alih-alih, ia langsung menanyakan hal terus mengganggunya sejak tadi.

"Kedua-duanya bukan hal yang disengaja, dan aku hanya spontan melakukannya, jadi aku tidak memikirkan apapun."

"Orang licik sepertimu? Tidak memikirkan apapun?" Dengan cepat ia menyela. "Kalau kau tidak memberitahuku sekarang juga apa yang sedang kau rencanakan, aku akan benar-benar meninggalkanmu."

12.


Note: i almost forget this fic, so sorry n(_._)n and thank you so much to all people who love this fic, you guys still waiting after this long, im touched!

Ahm! Tentang diksi, rasanya akan sedikit berubah karena jarak penulisan yang terlalu jauh membuat feelnya juga berubah, jadi mohon dimaklumi, but im tried workin it out. Tentang karakter Kudo, i also dont know what happened to him! Seriuosly, he is turn evil, i cant handle! *tabokpalakudo* Terus scenes rateM-nya jangan dihiraukan, karena itu cuma hiasan karena lama nggak nulis ShinAi ;)

I will do my best next time. Thank you for reading!