Tamparan Paling Menyakitkan.
Kebersamaan mereka tidak pernah puitis dengan saling memandang mata ke mata, atau sekedar duduk berdua menikmati teh hangat sambil melihat senja. Ia dan Haibara selalu saja bertengkar, berdebat, dan berselisih idiologi, dan mereka bersetubuh hanya jika ia yang meminta lebih dulu, itu pun selalu di detik-detik terakhir sebelum mereka bertengkar lagi.
Shinichi muak. Benar-benar muak.
Ia tidak tahu lagi apakah sekarang yang dimilikinya pada Haibara adalah cinta, atau justru benci. Ada kala dimana ketika ia memeluknya, ia berpikir untuk meremukan Haibara menjadi berkeping-keping sehingga ia bisa menyimpan wanita itu dalam berangkas kaca, hanya untuk memastikan bahwa Haibara telah menjadi miliknya, seutuhnya, dan tidak akan mendengarnya membantah lagi.
Dan, kecuali perasaan kepada Haibara itu, Shinichi Kudo telah mati rasa. Ia tidak dapat merasakan apapun pada yang lainnya. Hanya Ai Haibara yang memenuhi hidupnya, dan bagaimana cara untuk mempertahankan kebersamaan mereka.
Tapi kebersamaan mereka kembali diguncang bertengkar pada hari pertama mereka resmi tinggal bersama, di malam hari yang seharusnya menjadi waktu memadu cinta bagi pasangan-pasangan seperti mereka. Bentakan yang bersahutan. Emosi yang berlomba-lomba memenangkan perdebatan. Dan kekerasan fisik yang tidak hanya berasal dari tamparan Haibara, namun juga dari Shinichi yang telah mengangkat tangan di udara dan menyapu kekosongan di antara jarak mereka dengan kecepatan yang tidak bisa diukur melalui pandangan mata sebiru langit cerah yang mendung dan bergemuruh dengan mata sebiru samudera yang beriak ombaknya.
Satu mili saja, Shinichi akan menghabiskan seluruh hidup dalam penyesalan, disadarinya.
Mata Ai Haibara berkilat dan kakinya melangkah maju, menantangnya untuk melepaskan tamparan, sementara Shinichi justru menurunkan tangan dan mundur satu langkah.
"Lakukan, Kudo. Kenapa kau berhenti? Pukul aku sampai kau puas, atau sekalian saja kau bunuh aku." Panasnya nada di suara Haibara juga membakar emosi Shinichi yang kini mengepalkan tangan dan menggertakan gigi.
Tapi Shinichi memilih tidak menyahut kali ini. Ia bergerak maju melewati Haibara untuk meraih sakelar lampu dan menerangi mansion mereka yang penuh kesuraman. Meneruskan langkahnya menuju dapur, lalu membuka kulkas untuk mengambil salah satu kaleng bir yang dibelinya tadi siang bersama Heiji, mencoba mendinginkan sekujur tubuhnya yang terbakar emosi.
"Kau boleh menyakitiku sesuka hatimu, asal kau tidak menyakiti istrimu lagi." Haibara kembali berkata. Wanita itu kini berada di belakangnya, nampaknya tidak ingin menghentikan perdebatan yang sudah mereka mulai dari meninggalkan restoran tadi. "Bukankah dia sudah cukup menderita selama ini? Kenapa kau masih ingin membuatnya tahu kalau kita tinggal bersama?"
Mendengar pertanyaan itu Shinichi berhenti meneguk bir, diremasnya kuat kaleng bir yang ada di tangannya. Ia masih tidak ingin menjawab karena jika ia menjawab mereka akan terus bertengkar sampai pagi, atau lebih buruk, Shinichi bisa saja benar-benar menampar Haibara. Ia tidak ingin kehilangan kendali lagi.
"Bagaimana kalau Toyama juga percaya pada ceritamu dan memberitahu istrimu kalau aku hamil?" Pertanyaan itu masih keluar tanpa gentar dan penuh kemarahan, dan kata-kata berikutnya mencaci penuh kebencian, "Mau sebrengsek apa kau terlihat di mata istrimu sendiri—!"
PRANK!
Shinichi melempar keras-keras kaleng bir di tangannya ke lantai, lalu berbalik dan memperlihatkan matanya yang berkilat penuh amarah. Makian itu memancing emosinya juga.
"Apapun! Sampai dia menceraikanku!" Shinichi membentak. Tubuhnya kembali terbakar, atau mungkin malah semakin panas karena bir yang baru diteguknya membuat api kemarahannya makin berkobar. "Kau sendiri yang melarangku menceraikannya! Jadi aku akan membuatnya menceraikanku!"
Haibara tidak mendebat lagi. Entah karena sudah lelah berdebat, atau mungkin karena tidak mampu mendebat. Matanya terlihat terkejut sebelum kepalanya menunduk perlahan. Saat menyadarinya, Shinichi mengambil langkah mendekat dan berhenti tepat di sebelahnya.
"Kau pikir aku sudah gila, kan?" Shinichi berkata tanpa menengok Haibara yang masih menunduk. "Tapi aku bisa jauh lebih gila dari ini kalau kau meninggalkanku."
Haibara tidak menemukan Shinichi Kudo di sebelah ranjangnya pagi itu, maupun di sofa ruang depan atau di ruangan lain dalam mansion mereka, tapi menemukan pesannya di dalam ponsel yang memberi kabar bahwa pria itu pergi ke Kyoto.
Seraya memejamkan mata, Haibara meletakan ponsel ke atas meja, lalu menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Ia tidak yakin mereka bisa hidup bersama lebih lama. Mereka jauh berbeda. Mereka tidak saling mencintai, melainkan bersaing untuk menghancurkan hidup masing-masing.
Mata Haibara kembali terbuka ketika mendengar bel pintu berdenging memecah kesunyian. Ditegakan tubuhnya dari sofa setelah beberapa detik terdiam memikirkan siapa yang datang. Ia berjalan ke pintu dan melihat tamunya dari layar interkom, lalu menemukan wajah Heiji Hatori di sana. Dengan sedikit heran, Haibara kemudian menekan tombol sandi di bagian bawah knop pintu itu, membukanya.
"Ohayou, Neesan." Heiji menyapa sedikit canggung, namun masih berusaha tersenyum.
"Ohayou, Hatori-kun." Jawab Haibara, tiba-tiba ia juga merasakan kecanggungan yang sama. "Apa kau ada perlu dengan Kudo?"
"Oh, tidak." Pria muda yang mengenakan seragam polisi lengkap dengan topi itu menggaruk kepala sebentar. "Kudo bukannya sudah berangkat ke Kyoto? Aku ke sini mau mengembalikan dompetmu. Kemarin tertinggal di restoran."
Haibara akan menjawab andai Heiji tidak lebih dulu mengangkat dompet di tangan kanannya, membuatnya menahan suara untuk menerima benda berwarna cokelat muda itu.
"Terima kasih." Ucapnya seraya membungkuk ringan. Lalu setelah menegakan badan dan meluruskan pandangan, ia bertanya, "Kau mau masuk? Akan kubuatkan kopi atau teh kalau kau mau."
"Sebenarnya aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu, kalau kau tidak keberatan." Heiji berucap pelan dan ragu-ragu.
Melihat tekad di mata pria muda itu yang kontras dari suaranya, Haibara sedikit termangu. Ia mengangguk dan menyingkir dari depan pintu setelah beberapa detik, mempersilahkan Heiji masuk, lalu menutup pintu dan berjalan mengiringinya ke sofa.
"Kau mau minum apa?" Tanya Haibara yang masih berdiri selagi sosok lain itu duduk.
"Tidak perlu, aku tidak akan lama." Heiji mendongaknya, ada senyum kecil membentuk bibir pria itu.
Haibara mendudukan diri di sofa seberang Heiji dan meletakan dompetnya ke meja di dekat ponsel, sebelum bertanya dengan suara netral, "Apa yang mau kau tanyakan?"
Alih-alih menjawab, Heiji justru menunduk menyembunyikan matanya di bawah topi yang ia kenakan, dengan kedua tangan yang berada di atas pangkuan menjalin jari-jarinya. Haibara tidak bisa tidak penasaran melihat hal itu, meski ia hanya mengangkat sebelah alis dan memutuskan untuk tidak menuntut, hanya menunggu.
"Aku ingin menanyakan apa yang Kudo ceritakan kemarin." Suara itu pelan tapi telah lebih tegas dari sebelumnya. Heiji kemudian mengangkat pandangan untuk mempertemukan mata mereka. "Apa kau... benar-benar hamil?"
Haibara tidak terlalu terkejut mendengar pertanyaan itu. Meski ia juga tidak menduga bahwa ternyata Heiji pun mempercayai lelucon bodoh Shinichi. Sebuah dengusan nyaris lepas dari mulutnya saat memikirkan hal ini, tapi ia menahan diri untuk menjaga ekspresinya tetap lurus.
"Tentu saja tidak, dia hanya bercanda." Ia membuat suaranya sedatar mungkin meski mulai kesal. "Lagi pula aku juga tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tubuhku tidak akan siap."
"Syukurlah..." Heiji langsung menghembuskan napas lega, dan secara bersamaan gestur tubuhnya juga terlihat santai. Pria itu bahkan menghilangkan suara canggung yang sejak tadi dibawanya kemari. "Aku pikir dia juga bercanda, tapi karena dia bicara hal-hal aneh aku jadi bingung. Ah, sial! Dia mengerjaiku, awas saja akan aku balas nanti! Aku sampai tidak tidur semalaman karena memikirkannya."
Pria berlogat Kansai itu mulai banyak bicara, kembali ke mode aslinya.
"Jadi sebenarnya hubungan kalian normal-normal saja, kan?" Ia menambahkan. "Maksudku, kalian memang berselingkuh, tapi kalian hanya seperti orang pacaran biasa dan tidak aneh-aneh."
Alis Haibara mengkerut, lebih terkejut mendengarnya mempertanyakan hal satu ini dari pada pertanyaan mengenai kehamilannya tadi. Ia pikir hubungannya dengan Shinichi sudah sangat jelas, apalagi dengan kenyataan mereka sekarang tinggal bersama. Tapi sepertinya kepolosan Heiji dalam tingkatan level yang tidak dapat menyadarinya.
"Karena kalian tinggal bersama, jadi Kazuha pikir..." Heiji berhenti bicara untuk menggaruk kepala. Wajahnya terlihat memerah karena malu, lalu tertawa sebelum melanjutkan, "Sebenarnya aku sudah bilang pada Kazuha kalau itu tidak mungkin, tapi dia ngotot, apalagi waktu Kudo bercerita kemarin. Kazuha pikir—"
"Dia tidak serius." Potong Haibara dengan suara lebih tinggi tanpa menyalurkan emosi. Namun jika pemirsanya jeli, ada keliatan di mata biru itu. "Kudo hanya mengarang. Hubungan kami biasa-biasa saja."
Heiji nampak semakin lega, tawa renyah pria itu membuktikannya. Dan itu juga membuktikan pada Haibara bagaimana orang-orang sangat menyayangi Shinichi. Mereka memiliki harapan dan kepercayaan tinggi pada pewaris Kudo tersebut. Atas dalih itulah Haibara tidak bisa menghancurkan kepercayaan mereka. Terlebih Heiji yang merupakan teman baik Shinichi.
Dan, Shinichi Kudo seharusnya juga... masih sepolos dan berpikir optomis seperti Heiji Hatori saat ini, kalau bukan karena Haibara sendiri.
"Sebenarnya aku tidak terlalu setuju dengan hubungan kalian." Tawa Heiji telah berganti saat Haibara kembali memberinya perhatian. Pria dua puluh empat tahun itu masih tersenyum, hanya saja semangatnya sedikit menurun. Selagi merendahkan muka, ia kemudian menambahkan, "Tapi aku benar-benar lega, karena setidaknya wanita yang bersama Kudo sekarang adalah kau, Neesan."
Kali ini, perkataan Heiji sedikit menyakiti hati Haibara. Pandangannya ikut terbuang ke bawah, menatap kaca meja yang gelap dan memantulkan bayangannya. Bukankah jauh di dalam nuraninya ia memang pribadi yang segelap itu? Ia merasa tidak pantas menerima kepercayaan Heiji di saat seperti ini.
"Aku mungkin tidak mengerti kenapa Kudo bisa mengkhianati istrinya karena aku hanya pernah jatuh cinta satu kali selama ini. Tapi mulai sekarang aku akan mencoba untuk tidak ikut campur dengan hal itu, dan hanya akan fokus membantunya mendapat pekerjaan." Heiji kembali bicara setelah kebisuan mereka yang panjang, menatap Haibara lagi. "Karena sekarang aku paham, kau adalah orang yang paling pantas mendapat kebahagiaan saat ini."
Mata Haibara memejam, memalingkan muka. Ia ingin menarik semua kebohongannya, namun tidak bisa.
"Baiklah, karena semuanya sudah jelas..." Sosok itu terdengar menghembuskan napas, kemudian saat Haibara membuka mata, memandangnya, ia menemukan Heiji sudah berdiri. "Aku akan pergi. Sebenarnya aku tadi menyelinap di tengah-tengah pekerjaan."
Pria yang tingginya hampir sama dengan Shinichi itu menunjukan cengiran lebar sebelum berbalik. Haibara segera berdiri untuk menyusulnya. Ia mengantarkan Heiji ke pintu sekaligus membukakan jalan bagi pria itu.
"Hatori-kun?" Panggilnya sesaat sebelum sosok lain itu keluar. Ia mendongak dan menatap wajahnya sembari berkata, "Terima kasih..."
"Hm!" Heiji membalas dengan bergumam dan mengangguk.
Haibara masih menatapnya yang sudah berjalan pergi tanpa menengok. Heiji justru menengok saat pria itu sudah berada di dalam lift pada ujung lorong gedung. Begitu sosoknya tertutup oleh pintu lift, gadis ini menghela napas berat yang sejak tadi tertahan.
Ia tidak berbohong untuk menutupi keburukannya sendiri, sebenarnya. Ia berbohong untuk Shinichi. Akan tetapi mendengar kata-kata Heiji membuatnya berpikir bahwa kebohongannya adalah hal yang salah. Haibara dikelilingi orang-orang yang terlalu baik selama ini.
Meraih dan menarik rambutnya ke belakang, Haibara berbalik dan hendak masuk ke dalam mansion setelahnya. Hanya jika ia tidak terlebih dulu melihat tiga sosok wanita di dalam lift yang berbeda dari lift yang dipergunakan Heiji untuk turun, yang membuatnya berhenti seketika.
"Berhenti kau, bocah sialan!"
Mata Haibara melebar, diteruskan dengan meluruskan badannya ke arah suara itu datang. Sonoko Kyogoku berlari ke arahnya, diikuti Ran Kudo yang setengah berlari mengejar dari belakang, dan sosok Kazuha Toyama berjalan pelan mengikuti mereka. Sebelum Haibara mampu berkata-kata, sebuah tamparan keras sudah mengenai wajahnya.
"Dasar pelacu—!"
"Sonoko!" Ran menarik wanita yang sudah menampar Haibara itu, menjauhkannya yang hampir melayangkan tamparan kedua. "Hentikan!"
Suara itu serak seperti menangis, dan Haibara membuktikan kebenarannya setelah mendongak seraya memegangi pipi kirinya yang perih. Ia juga menemukan Kazuha yang telah berdiri sejejar dengan Sonoko dan Ran.
"Aku sudah memberitahumu sebelumnya untuk tidak melakukan kekerasan!"
"Ini bukan kekerasan jika ditujukan pada seorang gadis murahan!"
Haibara melihat mereka yang berdebat, kembali memperdebatkannya. Ini seperti de javu kecuali bagian pipinya yang kali ini benar-benar mendapat tamparan dan kehadiran sosok Kazuha.
"Kami mau bicara, boleh kah kami masuk?" Wanita tunangan Heiji itu meminta izin. Meski suaranya jauh lebih tenang dari kedua temannya, namun matanya menatap jauh lebih tajam ke arah Haibara.
Haibara hanya mengangguk dan berjalan masuk lebih dulu. Ia tahu mungkin keputusannya adalah kesalahan. Akan tetapi ia tidak mau kabur atau bersembunyi di dalam.
Segera setelah ketiga wanita itu masuk dan menutup pintu, Haibara mempersilahkan tamunya. "Duduklah, akan aku buatkan minum."
"Kami tidak perlu minuman dari pelacur sepertimu." Sonoko maju, salah satu tangannya yang dipegangi Ran menggenggam geram.
Istri Shinichi itu kemudian mengajak Sonoko duduk, yang diikuti Kazuha setelahnya.
"Kau tidak perlu repot-repot. Kami hanya ingin bicara sebentar." Ran adalah sosok yang mengatakannya dengan suara pelan, namun Haibara cukup jeli untuk mendengar perbedaan nada dari yang biasanya wanita itu gunakan.
Untuk beberapa detik, Haibara sudah memperkirakan apa yang hendak mereka bicarakan, sebelum mengambil duduk si sofa seberang meja dari ketiganya.
"Kau hamil kan, bocah sialan?" Sonoko tidak sabar menyemburnya, bergarak maju dan menggebrak meja kaca yang memisahkan tempat duduk mereka.
"Sonoko—"
"Tidak." Haibara menjawabnya dengan cepat, dengan tenang dan dengan memotong perkataan Ran.
"Lalu kenapa kau tinggal bersama Kudo, hah? Kau tinggal bersama pria yang sudah punya anak dan istri tanpa sebuah alasan!" Wanita yang telah menanggalkan marga Suzuki setelah menikah itu, setengah berdiri dengan tangan masih menumbuk meja, sementara Haibara menunduk menghindari tatapannya. "Apa kau bahkan tidak sadar berapa umurmu? Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu? Oh, aku lupa, kau tidak punya orang tua."
Suara Sonoko yang berubah lebih rendah justru lebih menyakiti Haibara. Matanya mulai memanas, tapi ia menahan diri untuk tidak menangis. Ia menelan ludahnya, lalu mendongak. Saat itu Kazuha mengajak Sonoko untuk kembali duduk, sementara Ran menatapnya lurus-lurus.
"Kalau kau memang hamil," Kazuha bicara setelah Sonoko sudah lebih tenang. "Kami akan membantumu, tapi kalau tidak, bisakah kau meninggalkan Kudo? Aku rasa kau tidak punya alasan untuk tetap bersamanya."
"Tunggu, Kazuha..." Ran memegang tangan wanita itu menyeberangi tubuh Sonoko, menengoknya sebelum kembali menatap Haibara. "Ai-chan, kalau ada kesalahpahaman... kau bisa menjelaskannya sekarang. Aku minta maaf... karena tidak memikirkan alasanmu sebelumnya... aku tidak pernah terpikirkan kalau mungkin saja, Shinichi, yang salah selama ini. Aku bahkan lupa, kalau kau hanya anak-anak..."
Wanita itu berhenti dan menelan ludah, menelan pahitnya kenyataan seraya meteskan air mata. Haibara bisa melihatnya, meski hanya bisa diam.
"Tapi, setelah aku melihat perilaku Shinichi akhir-akhir ini, aku menyadari, mungkin saja, dia memang melakukan sesuatu padamu." Ia melanjutkan. Luka dan sakit kini membaur di mata coklat itu. "Meski kau tidak hamil. Kalau memang dia..."
Ran kemudian berhenti dengan sendirinya. Mungkin mencari kata-kata yang tepat sebelum mengatakan, "... memaksamu, aku akan membiarkan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya... dan, menceraikannya."
Haibara meremas ujung roknya, kuat-kuat. Inilah yang direncanakan Shinichi sejak awal. Pria itu benar-benar sudah gila, Shinichi pasti tahu betapa sakitnya perasaan Ran dengan kenyataan ini. Padahal sudah sejauh ini Haibara berusaha membantunya menyelesaikan permasalahannya dalam hukum, tapi Shinichi masih memperkeruh suasana.
"Haibara-san?" Absennya jawaban Haibara nampaknya membuat Kazuha cemas. Mata yang semula menatapnya tajam itu, kini berubah nanar. "Kudo... benar-benar memperkosamu?"
Shinichi benar-benar memperkosanya?
Itu benar.
Tapi apakah Haibara berusaha menghindar setelah itu?
Atau minimal membenci Shinichi?
Jawabannya adalah, tidak.
Kenyataannya Haibara tidak melakukannya sampai detik ini. Justru ia ikut terbawa napsu waktu pertama kali Shinichi menyetubuhinya, dan persetubuhan mereka berikut-berikutnya juga tidak didasari pemaksaan meski Shinichi yang selalu menariknya ke atas ranjang lebih dulu. Haibara sama sekali tidak membenci keintiman mereka. Justru menikmati.
Ia mendengus saat sampai pada pemikiran ini. Ironisnya, ia memang gadis murahan tidak tahu diri, pelacur yang sudah merebut Shinichi.
"Aku tidak tahu, bahwa usia empat belas tahun masihlah anak-anak di mata orang lain." Seulas senyum membentuk seringaian di bibir Haibara. Tapi ia bersumpah, rasa sakit hatinya jauh lebih dalam saat ini. "Yang aku tahu, aku mencintainya, dan aku tidak perduli berapa jauh jarak usia kami."
"Ai-ch—"
"Tapi aku hanya meminjamnya sebentar." Ia tersenyum dan membuat ekspresi senang pada wajahnya yang biasa terlihat kaku, yang justru terkesan ganjil. "Akan aku kembalikan nanti, karena dia mulai kehabisan uang dan tidak lagi punya pekerjaan."
Haibara melihat langsung bagaimana kata-katanya menusuk hati Ran sampai-sampai wanita itu terperangah dengan air mata yang kembali turun. Perlu sekuat tenaga baginya mempertahankan diri untuk tersenyum. Tapi ia tidak perlu berlama-lama. Setelahnya Sonoko langsung berdiri, yang pastinya hendak menamparnya lagi, hanya saja Ran sudah lebih dulu berlari ke dekatnya, menatapnya dengan pandangan mata yang terluka. Haibara mendongak mempertemukan pandangan mereka, dan satu detik kemudian tamparan paling menyakitkan menyapu wajahnya keras-keras.
"Pelacur!"
Haibara tidak tahu saat itu, apakah tamparan Ran yang terlalu keras, atau air matanya sendiri, yang membuat pandangannya kabur. Saat sadar, ia telah terjatuh dan melihat air bening menetes diikuti tetesan darah yang mengotori sofa. Sebelum ia juga mampu mencari tahu apakah darah itu keluar dari hidung atau mulutnya, ia melihat langkah Sonoko mendekat, diteruskan dengan rambutnya yang dijambak, lalu tamparan lain yang bertubi-tubi menghampiri wajahnya.
Setelah terjatuh ke lantai, Haibara mendongak Ran yang berdiri diam seraya membuang muka, tidak mencoba menghentikan Sonoko sama sekali kali ini. Ia muntah darah, lalu melihat tiga pasang kaki melangkah pergi meninggalkannya.
Setelah menyelesaikan kasusnya di Kyoto selama kurang lebih lima belas jam, dan sembilan jam sebelumnya meninggalkan mansion setelah bertengkar dengan Haibara, Shinichi Kudo pulang pukul 10.00 malam, tepat pada jam yang sama dengan kepergiannya kemarin. Ia membuka pintu dan menyalakan lampu mansion, mencari keberadaan wanita bertubuh remaja yang kini merupakan teman hidupnya.
Shinichi menemukannya bergelung di bawah selimut merah muda yang warnanya nyaris putih di dalam keremangan, lalu ia melangkah pelan mendekatinya. Dinyalakannya lampu meja yang berwarna kekuningan untuk sedikit menerangi ruang kamar itu, seraya menaruh ponsel dan dompet serta kunci, sebelum beranjak naik ke atas ranjang yang sama dan memeluk Haibara dari belakang, dengan pelan dan tidak berusaha mengejutkan. Ia sudah sangat merindukannya meski baru berpisah selama dua puluh empat jam, itupun dengan pertengkaran parah dan perdebatan panjang.
Bibir Shinichi bergerak mencium puncak kepala Haibara seraya menelusupkan tangan kanannya masuk ke dalam selimut lewat bagian depan, sedikit berharap wanita itu akan terbangun sehingga mereka bisa bercinta sekali saja sebelum hari berganti. Ia sedikit frustasi karena tidak menyentuh Haibara seharian. Kejantanannya bahkan sudah menegang hanya dengan meraba dada wanita itu seperti ini.
Sambil memasuki selimut yang sama, Shinichi melanjutkan ciumannya ke tengkuk belakang Haibara. Tangannya meraba melalui ujung gaun tidur yang Haibara kenakan dan bergerak naik hingga meraih dadanya kembali, kali ini langsung, tanpa penghalang apapun. Ia kemudian semakin mendekatkan diri dengan menekan tubuh bagian bawah mereka sampai berhimpitan, lalu menggerakan satu tangannya yang lain di bawah tubuh wanita itu, merangsek maju, ke depan perutnya, sebelum meraih salah satu bagian di dalam celana dalamnya.
"Hentikan, Kudo." Suara itu keluar saat jari-jari Shinichi telah berhasil menelusup di antara kedua paha Haibara, terdengar pelan dan datar, juga dingin seperti biasa. "Aku sedang tidak mau melakukannya."
Ia mendongak lalu mendapati wanita berwajah muda itu masih memejamkan mata. Akan tetapi mengetahui fakta bahwa Haibara sudah terbangun, ia justru menyeringai dan melanjutkan kerja kedua tangannya yang sempat tertunda. Bibirnya juga kembali mencium leher Haibara.
"Kau masih marah?" Bisik Shinichi setelah merasakan kedua belah paha Haibara berhimpitan semakin rapat, menutup ruang bagi tangan kirinya sehingga kesulitan bergerak. "Tapi aku sangat merindukanmu." Ia menambahkan, lalu menggesekan kejantanannya yang menegang di balik celana ke bagian belakang tubuh wanita itu.
Tidak melihat adanya reaksi maupun sekedar mendengar desahannya (karena biasanya Haibara akan bereaksi jika Shinichi sudah meraba kewanitaannya), Shinichi menarik kedua tangannya mundur untuk membuka resleting celana. Ia juga menarik celana dalam bagian belakang yang Haibara kenakan, sedikit menurunkannya sebelum kembali menghimpitnya dari belakang bersama kejantanan yang sudah ia keluarkan. Shinichi bersenang-senang dengan menggesekan bagian bawah tubuh mereka seraya memeluk wanita itu sekaligus meremas dadanya, dan setengah tertawa.
"Kau masih tidak mau?" Tanyanya dengan nada main-main. Ia melihat wajah lawan mainnya sudah mulai berekspresi saat itu, membuatnya memutuskan untuk menyibak selimut dan merubah posisi mereka.
"Matikan lampunya." Haibara yang mempertahankan diri dari tarikan tangan Shinichi, berbicara.
"Kenapa kau selalu menyuruhku mematikan lampunya? Kau punya semacam fetish atau apa?" Ia bertanya dengan nada bercanda, masih menyeringai usil dengan wajah mesum.
"Iya." Jawaban singkat dan jelas itu membuat pendengar tertawa kembali. Namun bukan karena percaya, Shinichi tahu bahwa Haibara tidak memiliki fetish sama sekali. Setidaknya kegelapan bukan fetish-nya, kalaupun wanita itu punya.
Shinichi bangkit untuk sekalian menurunkan celananya agar tidak mengganggu, lalu menggulingkan tubuh Haibara secara paksa dan naik ke atasnya yang kini sudah berbaring terlentang. Wajahnya masih menyisakan tawa pada detik-detik terakhir sebelum melihat satu sisi pipi Haibara yang memar parah dengan luka sobekan di sudut bibir kirinya, dan detik berikutnya, segala macam ekspresi terkuras habis dari wajah Shinichi.
"Apa yang terjadi padamu?" Ia bertanya dan meraih wajah Haibara nyaris seketika.
Gadis itu meringis sakit sehingga Shinichi mengendurkan pegangannya pada pipi kiri Haibara. Ia kemudian melihat akhirnya mata itu terbuka dengan birunya yang menggambarkan kedalaman telah menggelap seperti relung di dalam samudera, dengan bagian kelopaknya yang membengkak.
"Aku terjatuh." Jawaban itu tenang dan terdengar jujur, akan tetapi Shinichi adalah orang yang cukup pintar sehingga tidak mempercayainya.
"Terjatuh dimana?" Kali ini suaranya menuntut dengan nada dingin yang mengintimidasi
"Aku terpeleset di kamar mandi." Haibara membuang muka, menengok ke arah dinding kaca yang pemandangan luarnya nampak lebih terang dibanding kamar mereka.
Shinichi meraih wajahnya lagi, kali ini memegang dagunya agar Haibara meluruskan muka dengan tidak menyentuh lukanya. Mata bengkak dan pipi memar yang nyaris membiru, dan darah mengering di sudut bibirnya yang robek, semua itu hanya berada di bagian wajah kirinya. Katakanlah wanita itu memang terpeleset dan terjatuh dengan posisi miring ke kiri, lalu mungkin terbentur sesuatu, tetap saja tidak mungkin seluruh wajah bagian kirinya terluka. Kalau memang dahinya terbentur lebih dulu, matanya akan jauh lebih bengkak dari pada pipinya saat ini, dan jika pipinya yang lebih dulu, mata dan bibirnya tidak mungkin ikut terluka. Kecuali jika ia jatuh lebih dari sekali, dan dia merupakan semacam bocah bodoh yang tidak tahu seberapa licin pijakannya.
"Kau terpeleset seperti apa sampai terluka separah ini?" Mata Shinichi dipenuhi kemurkaan setelah tidak dapat juga memikirkan kemungkinan paling logis dari cerita Haibara.
"Kau bayangkan saja sendiri, kenapa juga aku harus menjelaskan posisiku saat terjatuh." Wanita yang bukan lagi bocah itu kembali memejam dan membuang muka, kali ini menatap sisi lain karena tangan Shinichi menghalangi bagian kiri wajahnya.
"Yang aku bayangkan ada seseorang yang sudah memukulmu," Pria ini melihat sosok dibawahnya membuka mata dan meluruskan pandangan saat ia bicara. "Dan seseorang itu pasti memiliki semacam jurus bela diri karena bibirmu sampai robek seperti ini."
Dilihatnya mata biru itu terkesiap dalam persekian detik bersamaan dengan ekspresi wajah pemiliknya yang menegang. Shinichi memincingkan mata dan giginya bergertakan, tangannya menggenggam lalu suaranya melanjutkan dengan geram, "Kecuali seseorang telah memukulmu berkali-kaki dengan sebuah benda."
"Kau kadang punya imajinasi yang berlebihan, Kudo." Kata Haibara masih setenang sebelumnya. "Aku terpeleset di bak mandi dan mataku terbentur pinggiran bak, saat aku mencoba keluar, aku malah terpeleset lagi dan pipiku terbentur di lantai."
Mendengar hal itu, Shinichi membayangkannya. Bayangan itu akan lucu jika wajah Haibara tidak sememar ini. Apalagi jika bayangan itu sedikit saja masuk akal. Memangnya seberapa tinggi bak mandi di mansion mereka sampai pipi seseorang legam kebiruan setelah jatuh dari dalamnya?
"Lagi pula lukaku tidak separah itu." Suara Haibara kembali sebelum sosoknya menarik sebuah senyum janggal. "Selain itu, kau juga harus menyelesaikan apa yang sudah kau mulai, bukan?" Ia melanjutkan, dan selanjutnya meraih kejantanan Shinichi yang sudah tidak menegang.
Selera bercinta Shinichi sudah hilang sejak beberapa menit lalu, tapi Haibara terus merangsang dengan mengocok kejantanannya. Ia menegang bukan karena mendapatkan napsunya kembali, tubuhnya hanya bereaksi secara alami tanpa disertai birahi. Mata birunya mengawasi mata biru Haibara dengan tajam, selagi bergerak mundur dan mengambil tempat di antara kedua paha wanita itu dalam selangkangan. Ia hanya menyibak sisi celana dalam Haibara dan tidak melepaskannya sebelum memasukan diri, lalu mendengarnya mendesah pelan seolah menikmati.
Mereka sudah bercinta lebih dari puluhan kali, Haibara pasti mengira bahwa Shinichi sebodoh itu saat mereka bersetubuh sampai tidak akan pernah bisa membedakan apakah reaksinya palsu atau asli. Tapi Shinichi tahu. Ia selalu mengamati. Bahkan Haibara tidak pernah membiarkan wajahnya membuat ekspresi yang terlalu jelas selama ini, seperti ini.
"Kudo... ah..." Haibara mendesah lagi, terlalu awal, dan terlalu sering, bahkan Shinichi bergerak lebih pelan dari biasanya saat mereka bercinta.
Dengan meremas kedua pinggang Haibara, Shinichi menghentaknya lebih cepat kali ini, membuatnya benar-benar membuka mulut untuk berteriak. Segera saat itu salah satu tangannya meraih dagu Haibara dan menekan sisi bibir kanannya pada bagian bawah dengan ibu jari, menariknya turun sebelum ia menunduk dan memasukan lidahnya ke dalam mulut wanita itu. Lidah Shinichi bergerak mengecek seluruh mulutnya, dan sesaat sebelum Haibara memisahkan ciuman mereka, pria ini merasakan robekan luka di bagian kiri rongga mulut itu. Ia juga menyadari bahwa Haibara berusaha menghindar dengan memejamkan mata dan menariknya ke dalam pelukan setelahnya. Sesuatu di dalam dadanya berdenyut pedih sekarang, ia sepertinya tahu apa yang terjadi.
Membalas pelukan dan mencengkramnya erat-erat, Shinichi berusaha menunjukan pada Haibara keposesifannya, betapa ia mencintainya, dan tidak akan melepaskan siapapun yang berani melukainya. Shinichi Kudo bersumpah saat itu juga, ia akan membuat siapapun yang melukai Haibara, membayar dua kali lipat lebih sakit dari pada yang dirasakan kekasihnya.
"Kudo!" Suara Haibara adalah suara terikan kesakitan yang tidak disebabkan dari gerakan Shinichi yang semakin cepat. Wanita itu mengerang dan menangis di bawahnya, di dalam pelukannya, terluka dari hal yang lainnya, membuat Shinichi begitu emosi dan ke luar kendali.
Saat sadar setelah tubuhnya mencair bersama Haibara, Shinichi menemukannya terisak dengan menyaingi cepatnya napas mereka. Ia mencoba menguasai napasnya, selagi mengusap air mata wanita itu.
"Kau terlalu cepat, aku benar-benar kesakitan, dasar brengsek." Haibara memaki tanpa membuka matanya, lalu mengusap air matanya sendiri dengan kedua tangan, menyingkirkan tangan Shinichi.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang ia ucapkan sebagai balasan, yang tidak pernah ia lontarkan sebelumnya dalam situasi yang sama, terlebih dengan nada dingin dan tatapan mata tajam. Biasanya, Shinichi akan menyeringai puas setiap kali Haibara kesakitan seusai mereka bercinta.
Dengan menegakan tubuhnya, ia melepaskan diri dari Haibara, kemudian turun dari ranjang dan membenarkan celana. Wanita itu masih menutupi wajahnya sementara Shinichi menyelimutinya dengan selimut (yang entah kapan terjatuh ke lantai), memandangnya cukup lama sebelum menuju kamar mandi yang terletak tepat di sebelah kamar mereka.
Kini, Shinichi telah berdiri di sana, di depan bak mandi yang kering seolah belum pernah dipergunakan sebelumnya. Ia mengamati dan mengedarkan pandangan, lalu matanya tertumpu pada saluran air di lantai yang berada di bawah selang shower. Ada helaian rambut pirang kemerahan tersangkut di bagian penyaringnya, yang pastinya milik Haibara. Tangan Shinichi yang langsung mengepal, menumbuk dinding kamar mandi penuh kemurkaan. Ia kemudian kembali ke kamar hanya untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja, dan membawanya keluar.
Seraya membuka dan menutup pintu kaca di ruang depan, Shinichi menekan layar ponselnya. Ia berdiri di tepi pembatas beranda, memandang ke kejauhan langit malam yang gelap, dengan ponsel yang sudah menempel di telinga.
"Hatori, kau punya rekaman CCTV mansion ini?"
13.
Note: Sorry, im kind of pervert who cant leave sekk scenes even it come to sad chapter *pfft* if you mind and already missed the m scenes, i will put some hints on the next chapter, im promise.
Thanks for read and feel free to leave any review. Correct me too if you find there is mistake. Oh, and everyone can also support me in trakteer id. See you, soon!
