Karena Cinta.

Di ruang kerja Heiji pada salah satu tempat di rumah Hatori, Shinichi Kudo berdiri menyaksikan rekaman CCTV. Terekam sosoknya sendiri berserta sosok Haibara yang bertengkar dan itu artinya kamera berada di atas pintu kaca, pada dinding luar kamar yang menghadap seluruh ruang bagian depan termasuk dapur dan pintu utama, tepat di pojok. Kamera itu merekam segalanya seolah pertengkaran Shinichi dan Haibara adalah potongan adegan dari salah satu drama paling krusial. Perbedaanya hanya terletak pada absennya suara makian Haibara yang bersahutan dengan suara bentakan Shinichi, dan juga dentang kaleng bir yang memantul di lantai.

Shinichi benci melihat adegan pertengkaran itu, tetapi alasan yang membuatnya bertahan adalah rekaman esok harinya. Kini Heiji sedang mempercepat rekaman, dan sempat terlihat sosok pria Osaka itu sendiri di dalamnya yang datang ke mansion mereka. Mereka kelihatan membicarakan hal serius, pikir Shinichi, namun menahan dulu pertanyaan-pertanyaan mengenai hal itu.

Sekali lagi, rekaman CCTV itu berputar normal, menampilkan drama bisu. Ia tidak segan mengumpat di sebelah telinga Heiji yang sedang duduk di depan komputer. Imajinasinya meliar dan menyentuh rasionalitas di balik luka memar Haibara saat melihat kekasihnya berdiri di ambang pintu dan ditampar seseorang saat itu. Haibara terlihat diam menatap sesuatu, lalu berjalan masuk diikuti sosok wanita yang tidak lain adalah tunangan Heiji, kemudian disusul dua sosok tidak kalah familiar bagi mereka, yaitu Ran dan Sonoko.

Kedatangan Ran bersama Sonoko juga dalam salah satu prediksi Shinichi, sebenarnya. Cerita tentang kehamilan Haibara dan bagian Shinichi memperkosanya itu setidaknya akan membuat Ran ingin mencari tahu sebelum benar-benar mengajukan perceraian. Istrinya tidak akan cukup tega untuk menyakiti seseorang atau membiarkan seseorang tersakiti di depan matanya, itu yang ia percaya. Meski Haibara adalah selingkuhan Shinichi, tetap saja Ran memiliki sisi baik hati yang akan membuat wanita itu menahan diri. Tapi, ternyata ia salah, satu-satunya hal yang masih dijadikan pegangan oleh otak logisnya untuk menghargai Ran, kini ditanggalkan rekaman CCTV yang merekam kejadian pagi tadi.

Ran menampar Haibara sampai Haibara jatuh ke kursi. Sonoko menjambak Haibara dan Ran tidak berusaha menghalangi. Di bawah pandangan mata tunangan Heiji dan istri Shinichi sendiri, Haibara di tampar berkali-kali dan di seret ke lantai.

Haibara jatuh. Muntah darah. Dan ditinggal pergi begitu saja oleh ketiga wanita itu.

Haibara bahkan tidak dapat berdiri, tubuh remaja itu terselungkur. Perlahan demi perlahan air matanya jatuh. Darah juga mulai keluar dari telinganya. Dia tidak terlihat seperti masih hidup andai tubuhnya tidak gemetar beberapa saat kemudian. Tangan-tangan kecilnya yang kurus mencakar bulu-bulu karpet yang melapisi kaki-kaki meja dan sofa, seolah mencari pertolongan, atau justru mencari Shinichi yang biasa datang melindunginya. Jarinya sesaat mencapai dataran meja, sebelum terjatuh kembali dan tidak bergerak.

Belum bergerak.

Masih tidak bergerak.

Tidak bergerak sama sekali.

Darahnya mendidih. Lalu, Shinichi mematikan komputer di atas meja yang dihadap Heiji. Gambar di dalam rekaman itu terlalu keji untuk terus ditonton mereka.


Telinganya berdengung untuk sesaat. Ia hampir tidak mendengar langkah Shinichi kecuali tiga yang terakhir sebelum pria itu menyergabnya dengan pelukan satu tangan dari arah belakang, sementara tangan satunya mengibaskan sebuket bunga mawar merah yang berhias daun-daun segar dan beberapa tangkai bunga baby's breath.

"Happy anniversary."

"Oh, sudah setahun?" Tukas Haibara dengan pertanyaan datar seperti tidak berniat melucu. Tangan kanannya meletakan spatula di atas tatakan setelah membalik adonan okonomiyaki di dalam wajan, dengan tangan kiri yang memegang penutupnya, menutup. "Aku pikir baru satu bulan."

Shinichi tersenyum, tidak biasanya tidak kesal dengan sindiran Haibara, justru setelah itu mencium pipinya lalu menyandarkan dagu di pundaknya. Sesekali mata birunya memang seperti ini, hangat seperti langit musim semi. Mungkin Haibara masih takut menggantungkan harapan di sana. Takdirnya bukan Shinichi, ia masih percaya hal itu. Salah satu alasannya masih bersama pria ini adalah untuk mencari cara agar semua bisa kembali ke asalnya. Namun, mata sebiru langit itu selalu membuatnya terlena. Haibara tidak benar-benar pernah bisa membuang hasratnya untuk memiliki Shinichi.

"Selamat hari jadi kita yang ke tujuh." Mata biru itu menatap semakin lekat ke mata birunya. "Sejak kita pertama bertemu."

Haibara ikut tersenyum. Bukan tersanjung, malahan ia menganggap Shinichi sedang bercanda. Tujuh tahun lalu, pertemuan pertama mereka adalah pertemuan ironis antara penjahat dan pahlawan. Bahkan, hari ini bukan benar-benar hari pertemuan pertama mereka. Shinichi pasti hanya mengada-ada untuk mencari dalih agar mereka bisa bermesraan.

Ia meraih spatula itu kembali, lalu berbalik masih dari dalam pelukan Shinichi dan memukul kepalanya pelan.

"Okonomiyakinya akan hangus." Sergahnya sambil tertawa kecil, nyaris tidak bersuara. Kemudian berbalik kembali menghadap penggorengan untuk mengangkat masakannya.

"Ceh!" Didengarnya pria itu mendecah lidah.

"Taruh bunganya di vas, Kudo. Kau tega sekali memotong bunga seindah itu." Haibara sedikit menggodanya.

Namun Shinichi sepertinya sudah kesal sehingga menaruh buket bunga tersebut di atas bar dapur begitu saja, sebelum sosoknya berjalan ke sofa di ruang depan dan menyalakan televisi. Seraya memotong okonimiyaki menjadi beberapa bagian, Haibara mendengus geli meliriknya. Ia menaruh makanan itu di bar, bersanding dengan saus dan rumput laut yang sudah disiapkannya lebih dulu beberapa menit yang lalu, lalu berjalan keluar dari dapur seraya membawa buket bunga untuk mendekati kekasihnya.

"Selamat hari jadi." Haibara menyalin seraya mengecup pipi pria muda itu, membuatnya yang masih menghadap televisi, menengok seketika. "Kita bisa bermesraan setelah kau sarapan, bagaimana?"

"Aku lebih memilih bermesraan dulu baru sarapan." Jawab Shinichi yang sudah menyeringai seraya menatapnya.

Sebelum mampu menyanggah, tangan kiri Haibara sudah diraih dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri Shinichi merampas buket bunga yang ia pegang untuk di pindahkan ke meja. Pria itu menciumnya, kemudian meraba pipi serta mengusap telinganya. Haibara berusaha keras untuk menahan mulutnya tetap bungkam selagi Shinichi memperdalam ciuman mereka.

"Kau mau aku antar ke dokter?" Bisikan Shinichi terdengar dekat. Saat Haibara membuka mata, ia melihat wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja. "Lukamu jauh lebih parah dari yang aku duga."

"Aku sudah mengobatinya." Ia menggeleng dengan senyuman, meski rasa sakit sempat menoreh salah satu bagian di dalam dadanya saat gambaran Ran dan Sonoko yang menamparnya terbelsit dalam ingatan. Egonya tersinggung, dan sakit sebenarnya, tapi ini adalah hutang yang harus ia dibayar karena sudah berkhianat.

"Silly..." Suara ejekan tiba-tiba itu diselingi tawa pemiliknya. "Sebaiknya kau lebih hati-hati, sekarang aku jadi berpikir tidak bisa meninggalkanmu lebih dari satu jam."

"Ini tidak seperti akan terjadi lagi." Haibara menjawabnya dengan senyum yang hilang lalu menyandarkan diri ke dada Shinichi.

"Tentu saja tidak." Kali ini suara itu menyahut lebih cepat, terdengar serius sehingga Haibara mendongak dan mendapati sepasang mata biru yang sudah tidak lagi hangat. "Aku tidak akan membiarkannya."

Bulu kuduk Haibara berdenging, seketika. Tanpa sadar ia telah mengambil jarak dari Shinichi dengan berdiri di atas kedua kakinya sendiri dan mengendurkan pelukan. Pelukan Shinichi, pun. Kemudian pria itu berdiri dan berjalan melewatinya.

"Aku akan memasang karpet karet besok agar kau tidak terpeleset lagi." Ia menambahkan.

Saat Haibara menengok, didapatinya Shinichi sudah berada di dapur sedang membuka lemari di atas wastafle. Pria itu kemudian mengambil sebuah toples kaca dan mengisinya dengan air. Mengerti apa yang hendak dilakukan kekasihnya, Haibara meraih buket bunga di atas meja lalu berjalan mendekat.

"Kebetulan aku ingin membeli beberapa peralatan dapur dan gorden." Ucap Haibara ketika Shinichi berbalik. Ia membuka buket bunga di tangannya, sementara pria itu menaruh toples berisi air tersebut di bar dapur. "Kalau kau sudah punya uang kita bisa pergi setelah sarapan."

Shinichi mengangguk, menyetujui ajakannya tanpa suara, kemudian berjalan memutar ke luar dari dapur menuju bagian belakang bar. Haibara menaruh bunga-bunga dari buket itu ke dalam toples selagi Shinichi duduk di salah satu kursi kayu di sebelahnya. Pria itu merogoh saku celana lalu mengeluarkan dompet dan menarik sebuah kartu.

"Aku mendapat cukup banyak imbalan dari kasus kemarin." Shinichi memberitahu begitu Haibara mengambil duduk, dengan sedikit tersenyum dan menggunakan suara yang lembut. "Kau boleh menggunakannya sesukamu."

Haibara meraih dan mengambil alih kartu berwarna biru tua itu, membolak-balikannya sebentar sebelum berkomentar.

"Bukankah kau terlalu pelit, Tuan Detektif? Kenapa kau tidak memberiku kartu berwarna hitam itu?"

"Aku masih memerlukannya untuk menyelesaikan sidang. Sebagian uangnya juga masih uang orang tuaku." Suara lembut itu lebih tegas sekarang, namun tidak terdengar kesal meski senyum pemiliknya juga sudah hilang. "Itu rekeningku yang lain, semua uang imbalan dari kasus yang aku selesaikan akan masuk ke situ mulai sekarang. Lagipula kau hanya akan menggunakannya saat aku tidak ada, aku yang akan membayar belanjaanmu nanti."

"Hmm..." Ia bergumam ringan setelah paham.

"Beri aku waktu." Kata-kata Shinichi kali ini memancing Haibara untuk menengoknya. "Aku janji aku akan mencari uang lebih banyak nanti."

Mendengar hal itu, Haibara menarik senyuman yang mengganti ekspresi datarnya sebelum ini. Tangannya yang memegang kartu itu menyangga dagu selagi wajahnya menghadap pada Shinichi.

"Aku hanya bercanda, Kudo."

Pemilik marga Kudo itu balas menatapnya dari balik tatapan yang aneh. Dia tidak lagi tersenyum, namun wajahnya juga bukan merupakan gambaran dari kekesalan. Ekspresinya terlihat... terluka?

"Sepertinya enak." Ucapnya tiba-tiba seraya meraih piring di depan Haibara, menarik benda berisi okonomiyaki hangat itu mendekat, lalu menggenggam sumpit di sebelahnya.

Untuk beberapa lama gadis ini masih diam memperhatikan bagaimana kekasihnya bertingkah sedikit janggal. Bahkan pergi pagi-pagi buta pagi ini dan baru pulang dengan membawa sebuket bunga juga bukan hal-hal yang biasa Shinichi lakukan. Haibara tidak bisa tidak curiga dengan apa yang pria muda itu sedang lakukan.

"Ini enak sekali." Shinichi kembali memandangnya, tersenyum seraya memakan potongan okonomiyaki itu dengan lahap.

"Aku meniru resep di restoran yang kemarin." Jawabnya sebelum mengalihkan pandangan dan meraih sumpit untuk ikut mencicipi makanan itu.

"Bagaimana kau tahu?" Suara itu sedikit bergumam karena pemiliknya masih sibuk mengunyah remahan yang tersisa.

"Aku bisa merasakan bahan-bahannya." Haibara menjawab ringan kali ini, lalu menggigit sepotong okonomiyaki di sumpit yang ia genggam.

Senyumnya mendengus sesaat kemudian, merasakan pancake lembut itu berkombinasi dengan baik bersama daging dan sayuran. Mungkin ia akan mencoba menambahkan beberapa bahan lain saat membuatnya lagi nanti. Waktu luangnya terlalu banyak sekarang, tidak sekolah dan tidak memiliki pekerjaan. Pada akhirnya Ai Haibara juga berakhir seperti istri-istri yang menunggu kepulangan suaminya dengan mempelajari resep makanan. Ini sedikit ironis, pikirnya.

"Oh iya," Eksklamasi kecil dari Shinichi menarik perhatiannya kembali. "Aku akan kembali ke Beika lebih dulu karena harus mendiskusikan beberapa hal dengan pengacaraku yang baru."

Haibara menelan remahan makanan di dalam mulutnya lebih dulu seraya menatap Shinichi yang sedang menyumpit satu potong lagi okonimiyaki. Setelah melihatnya menggigit ujung makanan itu dan mengunyah, ia baru mengajukan pertanyaan seperti ini, "Kapan?"

"Besok." Shinichi menjawab singkat. Namun sebelum Haibara mampu berkata-kata, pria lawan bicaranya sudah lebih dulu menambahkan seraya menengok. "Atau kau mau ikut?"

"Kapan sidangnya?" Tanyanya lagi, sedikit kehilangan selera.

"Dua hari lagi." Shinichi menggigit potongan okonomiyaki terakhir di sumpitnya masih dengan mempertemukan pandangan mereka. "Setelah aku pikir-pikir sebaiknya kau juga ikut besok. Aku takut kau mengalami kecelakaan bodoh lagi dan kepalamu sudah hilang saat aku kembali."

Haibara hanya mendengus menanggapi lelucon bodoh itu.

"Aku masih lelah dan tidak ada yang bisa aku lakukan juga kalau datang sehari lebih cepat." Ia membalas seraya memejamkan mata dan meluruskan muka ke arah dapur, meninggalkan tatapan Shinichi yang mungkin akan melihat alasan sebenarnya mengapa ia enggan pergi. "Kau berangkat saja sendiri, lusa aku akan menyusul." Tambahnya dengan membuka mata.

"Terserah kalau begitu." Jawab pria itu acuh.

Haibara menengoknya ketika mendengar kursi kayu yang diduduki Shinichi berdecit. Pria yang tingginya dua puluh centi dari tinggi Haibara itu berjalan ke dinding kaca dan menggeser pintunya terbuka, membiarkan udara hangat musim semi masuk ke mansion mereka. Setelah menghabiskan satu potong okonomiyaki yang tersisa, Haibara kemudian menyusulnya yang berdiri di beranda. Ia memeluk punggung Shinichi dari belakang dan menyandarkan kepala. Sebenarnya, hatinya mulai terasa kembali sakit, dan satu-satunya yang bisa membuat ia lebih baik adalah dengan memeluk Shinichi. Haibara tahu ia salah dengan tinggal bersama suami orang lain dan pantas mendapat tamparan dari seorang istri sah. Tidak seharusnya ia sakit hati setelah mendapat hukuman dari kesalahannya. Namun ia adalah manusia munafik sama dengan yang lainnya, yang ingin dilindungi saat terluka, dan merasa ingin dekat dengan pria yang ia cinta.

Kemudian, pria yang ia cintai itu menangkap dan menggenggam tangannya, jari-jarinya mengisi ruang kosong di antara jari-jari Haibara. Shinichi menguatkan, dan menghangatkannya.


PLAK!

Ran menyentuh pipinya yang panas, yang baru saja mendapat tamparan keras dari Shinichi. Namun yang terasa sakit bukan wajahnya, melainkan sesuatu di dalam dadanya. Sesuatu di dalam dadanya terluka dan pedih. Air matanya keluar dengan cepat, lalu ia melihat sosok Shinichi melalui pelupuknya yang basah.

Padahal Ran sempat merasa bahagia saat suaminya pulang. Awalnya ia mengira bahwa Shinichi sudah menyadari kesalahan dan telah meninggal Haibara untuk kembali padanya. Alih-alih, pria yang baru datang satu menit lalu itu justru menyeretnya keluar dari kamar anak mereka, lalu menamparnya.

"Aku lupa memperingatkanmu sebelumnya, jadi aku memberimu peringatan sekarang." Pria yang sudah menikahinya selama lima tahun itu berkata dengan kejam, dengan membalas tatapan mata Ran tanpa menunjukan sedikit pun belas kasihan. "Jangan pernah kau menyakiti Haibara lagi."

Mendengar hal itu, tangan Ran menggenggam dengan geram, mencari pegangan untuk perasaannya sendiri yang semakin dilukai. Air matanya tidak lagi hanya terjatuh, ia menangis dengan badan gemetaran. Bukan karena telah mengaku kalah, justru karena ia masih berusaha bertahan sekuat tenaga.

"Apa kau bahkan tahu alasanku, Shinichi!" Teriakan itu keluar tanpa gentar meski suaranya sedikit gemetar. "Kalau dia merebutmu karena dia benar-benar mencintaimu aku tidak akan melakukan hal serendah itu! Tapi dia hanya seorang pelacur yang mengejar uangmu!"

Ran sempat melihat tangan Shinichi kembali melayang menggantikan balasan bagi kelimatnya itu beserta mata biru yang mendekat ke arahnya, berkilat penuh amarah. Matanya sendiri langsung memejam secara spontan dan kepalanya menunduk, hingga lima detik kemudian ia tidak juga merasakan tamparan.

"Ini peringatan terakhir dariku." Didengarnya Shinichi berkata. Nampaknya perkataan itu juga sebagai ganti tamparan yang telah suaminya tahan. "Aku tidak akan menahan diri lagi kalau kau tidak menjaga tingkah dan omonganmu."

Ran tidak langsung menyahut. Ia mendongak untuk menatap kembali mata biru yang masih dipenuhi beragam emosi itu. Ditemuinya juga tangan Shinichi sudah turun dan kini tergenggam erat. Mungkin karena masih sangat mencintai suaminya, ia tidak bisa menggerakan tangan sekedar untuk membalas perilaku kasar tadi. Meski, kalaupun bisa, Ran pun tidak akan melakukannya karena ia sangat ingin mempertahankan rumah tangga mereka.

"Kalau memang itu hal yang harus aku bayar agar kau sadar, aku akan menerimanya. Aku tidak mau membiarkanmu terjebak dengan orang yang salah." Ran menarik keberaniannya dan berdiri tegap, menyentuh bagian di atas dadanya seolah memberitahukan bahwa dirinya dapat menjadi obyek pelampiasan bagi kemarahan Shinichi. "Kau boleh menamparku sepuasmu, setelah mendengarkanku."

Shinichi tidak bereaksi kali itu, juga tidak menjawab sampai setengah menit berlalu. Sosoknya yang tinggi diam mempertahankan wajah penuh kemarahannya, terlihat sedikit gelap di depan cahaya matahari siang yang mencuri celah di antara gorden-gorden jendela yang mengepak. Ran sedikit takut melihat suaminya saat ini, ia merasa Shinichi memang telah dibutakan oleh Haibara. Nurani pria itu ditelan kegelapan, tapi meski takut, Ran ingin menyelamatkannya.

"Aku sudah mengenal Ai jauh sebelum dirimu, dia berbeda, Shinichi. Dia tidak seperti gadis pada seusianya." Suaranya mulai stabil sedikit demi sedikit, sembari ia menurunkan tangan dan menatap tangan suaminya, berpikir untuk meraih dan menggenggamnya dengan erat. Menyelamatkannya. "Kau mungkin berpikir dia adalah gadis yang polos, tapi dia tidak. Ai sering menjadikan hal-hal yang tidak pantas sebagai candaan, seperti mayat dan kematian seseorang. Dia gadis yang kejam. Dia bahkan bilang kalau dia akan meninggalkanmu karena kau tidak lagi memiliki uang dan pekerjaan."

Untuk suatu alasan, Shinichi malah mendengus dan menyeringai geli mendengar semua ceritanya, dan itu membuatnya berhenti bicara.

"Aku tidak bohong, Shinichi!" Ran menukas sedikit tegas. "Itulah kenapa aku menamparnya! Ai bukan gadis baik-baik, dia hanya menipumu! Apa kau akan tetap meninggalkanku dan Ichigo hanya karena gadis seperti itu?!"

Rasanya ia sudah tidak sanggup lagi berkata-kata, baik karena semakin emosi maupun karena tidak tahu lagi harus mengatakan apa agar suaminya mengerti. Suaminya bahkan hanya menatap dingin seolah-olah apa yang ia katakan tidak berarti sama sekali. Yang bisa Ran lakukan setelahnya hanyalah menarik perhatian pria itu dengan menarik tangannya, ketika ia membiarkan air matanya kembali jatuh, sambil berharap masih ada sedikit cinta Shinichi yang tersisa untuknya, atau sekedar rasa iba.

"Kumohon, Shinichi, akulah yang benar-benar mencintaimu... bukan dia..."

Tiba-tiba saja perasaan pedih yang ia pendam sejak tadi berlipat ganda karena Shinichi tetap tidak menghiraukannya, sembari terus menggenggam tangannya erat-erat. Mungkin karena jauh di dalam hatinya Ran mulai menyadari bahwa Shinichi tidak akan meninggalkan Haibara, ia memegangnya semakin erat agar tidak pergi. Meski samar dari balik air matanya, ia masih bisa melihat seluruh perasaan yang tergambar di wajah suaminya, kemarahan yang mulai kembali, tatapan dingin yang berangsur berubah menjadi benci, kediamannya yang beranjak, sementara di antara semua itu tangan didalam genggaman Ran melepaskan diri.

"Tapi dialah yang benar-benar aku cintai, bukan kau."

"Shinichi!" Hanya namanya yang mampu Ran sebutkan ketika Shinichi berbalik dan berjalan pergi. "SHINICHI!"

Shinichi tidak menjawab atau bahkan menengoknya. Pria itu telah menuruni tangga ketika Ran menjatuhkan diri di atas kedua lututnya dan menangis tersedu-sedu. Kini, tidak cuma rasa pedih yang menyakiti hatinya, rasa sepi dan dingin juga mulai muncul. Ia semakin takut jika rumah tangga mereka tidak akan bisa diselamatkan lagi. Ia merasa tidak akan pernah sanggup menarik Shinichi keluar dari cinta butanya kepada Haibara.

Kemudian, pintu di belakangnya terbuka dan Ichigo keluar dari sana, menatapnya polos dan memanggilnya mama. Ran meraih dan memeluknya sebagai kekuatan terakhir yang ia punya agar tetap dapat bertahan.


"Jadi..." Matsuya Yagami, seorang pria berjas dan berpotongan rapi, yang juga merupakan pengacara Shinichi, meletakan berkas yang baru dibacanya ke meja, lalu memandang lurus sembari membuka suara setelah terdiam cukup lama mendengarkan ceritanya. "Anda berselingkuh dengan seorang gadis empat belas tahun, dan rekan kerja Anda yang memeras Anda saat ini menggunakan foto-foto ini, tapi setelah sidang pertama kasus itu, Anda malah mendapat sidang disiplin polisi dan pengacara Anda mengundurkan diri?"

Dari balik jari-jarinya yang terjalin di depan mulut, Shinichi menjawabnya pelan dan singkat, "Iya."

"Sekaligus sidang hukum perlindungan anak di bawah umur?"

"Tidak." Lelaki yang duduk bersandar di atas kursi dengan menumpuk kakinya menjadi satu itu menjawab berbeda kali ini, dan lebih cepat. "Ai Haibara, gadis itu, hanya memiliki satu wali, dan walinya itu sudah menolak kasus ini dibawa ke pengadilan. Selain itu Haibara juga menggunakan haknya untuk menolak menjalani fisum sehingga tidak satu pun jaksa yang dapat menuntutku."

Pria bermata coklat terang itu mengernyitkan kening. "Apakah Anda benar-benar sudah berhubungan fisik dengannya, Kudo-san?"

"Itu adalah urusan pribadi kami, dan tidak ada hubungannya dengan kasus yang akan kau tangani." Shinichi melepaskan kaitan jari-jari di kedua tangannya, menegakan duduk sekaligus membuka lipatan kaki. Ia menatap dingin dan serius sebelum kembali bicara dengan nada tenang yang sama, "Aku tidak akan memaksa jika kau ingin mengundurkan diri juga."

Matsuya berangsur mengendurkan ekspresinya selagi menghela napas tipis. Seraya menunggu balasan pria dua puluh empat tahun itu, Shinichi mulai menimbang untuk mencari pengacara lain meski itu berarti ia harus merogoh koceknya lebih dalam. Lagi pula ia berada dalam mood yang buruk saat ini setelah menemui Ran. Ia tidak ingin semakin emosi dengan mendengar presepsi orang-orang mengenai hubungannya dengan Haibara.

"Anggap saja saya mengabaikan fakta bahwa Haibara-san masih berusia empat belas tahun, tapi apakah pengadilan tidak akan menggunakan hal itu sebagai bahan pertimbangan untuk memberatkan Anda?"

Pertanyaan itu menahan rencana Shinichi. Ditatapnya pria itu lurus-lurus sehingga kini ia bisa melihat ekspresinya yang bimbang seakan sedang berpikir keras untuk memutuskan sesuatu.

"Sebagai seorang polisi, Anda pasti tahu bahwa kasus yang melibatkan anak-anak sangat sensitif bagi para penegak hukum." Tambah pria yang sama seraya membuka laptop di atas meja. Shinichi hanya berharap pria itu tidak menyalakan alat perekam suara atau bahkan kamera. "Mereka akan berusaha keras untuk menjatuhkan Anda. Jika tidak dapat membuat Anda dipenjara, setidaknya mereka akan membuat Anda membayar denda sebanyak mungkin dari sidang polisi ini. Atau lebih buruk, mereka bisa saja menggerakan beberapa lembaga untuk menuntut Anda atas kasus perlindungan anak."

Rasa-rasanya semua ini hanya omong kosong bagi Shinichi. Ia ingin mendengus karena masih duduk di ruang kerja pengacara itu. Pengacara itu mungkin bahkan tidak akan membantu meski dia sendiri yang telah menghubungi Shinichi untuk menawarkan bantuan.

Kasus yang melibatkan anak-anak sangat sensitif, siapa yang tidak tahu?

Shinichi tidak mengulur waktu untuk menangkap Kenji hanya karena menunggu Haibara menemukan kasus itu, ia melakukan hal itu juga untuk berpikir matang-mantang seandainya penawar aptx4869 tidak manjur bagi Haibara yang sudah terlalu lama terkontaminasi racun. Ia sudah memperkirakannya, dan tahu resikonya jika Ai Haibara tidak bisa kembali menjadi Shiho Miyano. Tapi ia tidak takut karena tahu bahwa Haibara akan selalu dipihaknya. Apapun yang akan orang-orang lakukan, wanita itu tidak akan membiarkan Shinichi dipenjara.

"Tapi bagian Haibara-san menolak melakukan fisum itu mungkin bisa sedikit membantu." Suara Matsuya memenuhi ruang kerja itu lagi. "Anda bisa menghadirkannya sebagai saksi untuk bersaksi bahwa tidak ada hubungan fisik di antara kalian, dan kedatangan kalian ke Okinawa hanya untuk berjalan-jalan."

Shinichi sendiri telah merencanakan hal yang sama selama ini, dan Haibara juga sudah pasti akan datang sebagai saksi besok. Namun ia tidak akan mengatakannya. Ia ingin mendengar apakah Matsuya ini benar-benar sejalan dengannya.

"Tapi karena di sidang pertama Anda sudah mengakui hubungan perselingkuhan kalian, saya tidak akan menjamin bahwa Anda bisa bebas sepenuhnya dari jeratan hukum. Saya hanya bisa membantu untuk sedikit membersihkan nama Anda dari tuduhan pelecehan anak." Matsuya meyakinkan, lagi-lagi sembari melakukan sesuatu pada laptopnya. "Dan jika tebakan saya benar, Anda ingin tetap melanjutkan hubungan Anda dengan Haibara-san, maka dari itu Anda mengakui hubungan kalian di persidangan—yang seharusnya tidak Anda lakukan sejak awal, benar? Jadi mungkin Anda juga tidak keberatan untuk menikahinya seandainya beberapa lembaga ikut campur dalam masalah ini."

Baru kali ini Shinichi serasa ingin menarik seringaian semenjak lima belas menit yang lalu mendudukan diri.

"Itu salah satu rencanaku." Ia berkata seraya tanpa sadar telah mulai mencairkan tatapan dinginnya pada Matsuya.

"Tidak ada masalah kalau begitu." Pemilik marga Yagami itu menjawab dengan nada puas. "Mengenai kasus pemerasan juga tidak ada masalah, saya pastikan Anda akan menang."

"Kau akan membantuku pada sidang disiplin polisi, iya atau tidak?" Shinichi sekedar ingin memastikan sebelum berdiri dari duduknya dan menjabat tangan pria di balik meja itu.

"Sebelum itu, izinkan saya bertanya satu hal." Matsuya menatap lurus-lurus pada Shinichi dengan wajah serius seraya menarik kedua tangannya untuk mengatup bersamaan di atas meja. "Mengapa Anda mengencani Haibara-san? Anda sudah menikah dan memiliki seorang anak, saya benar-benar tidak mengerti."

Shinichi tidak menahan seringaiannya kali ini, meski bibirnya juga tidak menggambarkan kebahagiaan. Sembari membalas tatapan Matsuya sama dinginnya, ia berkata dengan suara tenang, "Aku tidak punya seksualitas yang menyimpang, jika itu yang kau pikirkan. Aku mencintai Haibara, itu saja."

Matsuya Yagami memisahkan kedua tangannya yang saling bertahutan setelah lima detik diam. Wajahnya tidak menggambarkan keraguan, namun juga tidak seperti percaya akan jawaban Shinichi. Seraya kembali meraih laptopnya, pria berambiy hitam itu akhirnya kembali bersuara.

"Anda memanggilnya dengan nama marga? Atau itu hanya sebuah formalitas di depan saya?" Pertanyaannya sedikit di luar prediksi, dan matanya tidak lagi menatap Shinichi sehingga tidak terlihat seperti apa ekspresi yang dibuatnya saat ini.

"Kami memang tidak saling memanggil dengan nama kecil." Jawab Shinichi meski sedikit enggan. "Haibara tidak pernah memanggilku dengan Shinichi, dan aku menghargai pilihannya sehingga tidak pernah berusaha mengubahnya."

Kali ini pria lawan bicara Shinichi hanya mengangguk sebelum meninggalkan pandangan dari layar laptop untuk mempertemukan kembali mata mereka. Dilihatnya pria itu kemudian berdiri meninggalkan kursinya, menjulurkan tangan kanan ke arah Shinichi dan tersenyum formal.

"Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya ingin membantu Anda. Saya akan menjadi pengacara Anda pada kedua kasus itu."

Shinichi tidak perlu berpikir lagi untuk segera bangkit dan menjabat tangan Matsuya. Namun ia masih sedikit penasaran sehingga tepat setelah mereka melepaskan tangan masing-masing, ia mengajukan pertanyaan.

"Boleh aku tahu kenapa kau mengajukan diri sebagai pengacaraku, Yagami-san?"

Pria muda itu tidak menjawabnya melalui kata-kata, melainkan memutar laptopnya dan membuat layarnya menghadap ke arah Shinichi. Di layar itu tertera berita penculikan dan pembunuhan yang menimpa sebuah keluarga pada delapan tahun yang lalu, dan Shinichi adalah orang yang mengungkap fakta bahwa penculikan itu hanya kemuflase pelaku yang ingin membunuh ayah dari korban penculikan, sekaligus penyelamat bagi anak-anaknya yang diculik. Foto anak-anak itu juga ada di sana, di belakang foto Shinichi yang menatap penuh percaya diri pada kamera. Dan judul dari berita itu adalah, Misteri pembunuhan dan penculikan keluarga Yagami yang diungkap oleh Detektif SMA.


Ai Haibara berdiri mematung di hadapan gedung pengadilan. Bagian depannya yang menghadap Haibara, dihiasi anak-anak tangga permanen yang hanya berjumlah sepuluh baris, tidak menghalangi pemandangan pintu-pintu lebar yang berjajar di bagian depan bangunan, selain pegangan besi sebagai alat bantu bagi orang-orang yang mungkin kesulitan melalui tangga itu.

Dengan mulutnya yang menghembuskan napas manual, Haibara mengambil langkah untuk menaiki anak tangga pertama, semua dilakukannya seraya menggenggam erat tali tas slempang berwarna hijau tua yang serasi dengan gaunnya yang berwarna tosca. Selesai melewati semua anak tangga, ia menuju salah satu pintu yang merupakan jalan menuju ruang tunggu para saksi. Haibara tidak tahu apakah musim panas akan datang lebih cepat tahun ini sehingga suasana di dalam ruangan terasa panas, atau itu hanya halusinasinya saja karena semua mata memandangnya begitu sosoknya masuk ke ruangan itu. Hanya satu hal yang Haibara tahu, ia tidak bisa meninggalkan tempat itu sekarang.

Ia kembali berjalan, masuk semakin dalam dan mengambil duduk di salah satu kursi kosong paling jauh dari kumpulan orang-orang yang lebih dulu datang. Bungkam dan menulikan telinga, ia mencoba diam di sana. Sampai akhirnya salah satu sosok yang berusaha ia abaikan datang mendekat, dan berdiri tepat di depannya.

"Kau benar-benar punya nyali."

Perkataan itu membuat Haibara mengangkat wajah dan mempertemukan pandangannya dengan sosok Sonoko, sekaligus dapat melihat Ran yang duduk di dekat pintu masuk bersama keluarganya, keluarga Mouri, sedang menatap ke arahnya seolah menunggu adegan sinetron pada bagian paling seru, bagian penyerangan yang akan dialami karakter antagonis yang telah merebut suami seseorang.

"Aku rasa tamparan tidak mempan pada bocah tidak tahu malu sepertimu karena wajahmu terlalu tebal."

Bocah. Anak-anak. Anak kecil.

Haibara sungguh mulai benci julukan-julukan itu.

"Kau pelacur sialan."

"Terlahir di keluarga kaya tanpa kekurangan apapun ternyata tidak menjamin pribadi seseorang." Haibara tidak dapat menahan diri lagi, namun setidaknya ia bisa membuat suara yang cukup datar dan tenang. "Aku merasa cara bicaramu terlalu frontal, Kyogoku-san."

"Beraninya kau—!"

Plak!

Seruan dan suara tamparan itu menggema dan memancing semua mata mengarah pada mereka. Saat Haibara bangkit menegakan tubuhnya masih dengan meremas tangan Sonoko, ia memperhatikan ekspresi terkejut wanita itu. Kali ini tamparannya tidak mengenai wajah Haibara, melainkan udara, karena Haibara telah menahan pergelangan tangannya.

"Aku hanya berhutang sekali, jadi aku juga hanya akan membayarnya sekali." Haibara mendahuluinya yang hampir berkata. "Aku bukan dermawan yang mau membayar lebih banyak dari hutangku."

"Ngomong apa kau, bocah!" Sonoko jelas semakin emosi. Wanita itu menarik tangannya sekuat tenaga sehingga lepas dari tawanan, bahkan Haibara sampai-sampai nyaris terjatuh karena tertarik tenaganya.

"Kau pikir satu tamparan sudah membayar semua hutangmu?" Suara Ran terdengar membalasnya, entah sejak kapan wanita itu sudah mendekati mereka, yang juga diikuti oleh kedua orang tuanya.

Haibara menegakan tubuhnya yang semula berpegangan pada dinding, lalu menghadap empat orang itu. Lawannya bertambah lagi, dan bagian terburuknya ada sosok lelaki kali ini. Kali ini mungkin ia akan benar-benar mati jika melawan mereka. Tenaga mereka jelas jauh berbeda, namun Haibara juga tidak mau mengalah begitu saja.

"Harga seorang suami dan sebuah keluarga tidak semurah itu, Haibara-san. Apalagi seorang ayah." Lanjut wanita istri Shinichi itu, dan nama yang digunakannya untuk memanggil Haibara sedikit membuat gadis ini terkejut meski tidak heran. "Karena kau tidak punya orang tua sejak awal, kau tidak akan pernah tahu rasanya kehilangan mereka. Tapi aku tahu, dan aku tidak akan membiarkan anakku merasakan hal yang sama denganku."

Haibara tidak menjawabnya, ia tidak bisa. Padahal ia ingin sedikit melawan karena sakit hatinya terasa sampai sekarang, bahkan dibalik make-up yang ia pergunakan bekas tamparan Ran dan Sonoko masih ada.

"Kau masih sangat muda, Haibara." Ibu Ran, Eri Mouri, ikut bergumang. "Masa depanmu masih panjang dan kau bisa mencari pria lain, tidak harusnya kau bersama Shinichi."

"Ya, dan kau juga cantik dan pintar, bocah. Kenapa kau menyia-nyiakan hidupmu untuk lelaki yang sudah punya anak dan istri?" Timpal Kogoro senada istrinya, Haibara bahkan masih belum menemukan sebuah kata pun saat itu.

Ia mendongak hanya untuk mengamati wajah-wajah mereka yang mengekspresikan emosi berbeda-beda, dari benci dan marah milik Ran, kekesalan Eri, sampai wajah acuh tak acuh yang dipasang Kogoro, dan seringaian puas Sonoko. Haibara merasa dikeroyok dan tidak diberikan celah untuk membela diri. Meski, jika memiliki kesempatan, ia pun tidak tahu harus membalas apa kecuali memasang topeng wajah datar untuk memutupi segala perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.

"Karena dia mencintaiku." Suara itu begitu jernih dan merupakan angin segar di dalam ruang tunggu yang semakin panas tersebut.

Ketika Haibara mendongak, nyaris bersamaan dengan empat sosok lain di depannya yang menengok, Shinichi Kudo berdiri di ambang pintu. Pria berjas biru tua itu kemudian melangkah maju membelakangi cahaya matahari pagi, mendekati Haibara dengan melewati sosok Ran dan Sonoko yang memblok jalannya. Tangannya mendarat di pundak Haibara selagi sosoknya yang tinggi dan menawan berbalik, menghadap orang-orang itu dari sisi Haibara, bersamanya. Shinichi meremas pundaknya kuat, dan itu memberi Haibara kekuatan untuk tetap menegakan kepala.

"Dan aku juga mencintainya. Itulah kenapa dia mau menyia-nyiakan masa mudanya bersamaku."

14.


Note: uakhirnya kita sampai pada chapter yg paling krusial, ah sial! Beberapa waktu lalu sebelum saya hiatus(dari ffn), saya sudah tahu kalau bagian kasus perlindungan anak ini bakal jadi yg paling sulit, saya bahkan menyesal kenapa memilih usia Haibara 14 tahun. Kenapa? Kenapa? Begoknya lagi nih ya, saya sampai sekarang tidak menemukan materi hukum perlindungan anak di japang sana. Dan mungkin kedepannya akan sedikit tidak masuk akal, dan saya berharap semuanya melupakan hukum jepang yang asli dan menerima saja bahwa ini adalah fiksi, karena saya sudah pusing memikirkan ribuan teori-teori wajar agar shinichi tidak dipenjara :') atau sebaiknya si brengsek mesum itu dipenjara saja? Ahahaha /no/

Untuk Ran, sebenarnya posisi dia sama seperti Haibara disini, sama-sama mencintai Shinichi sepenuh hati dan tidak ingin Shinichi salah jalan. Bedanya Ran sudah punya anak dan merupakan istri sah jadi dia merasa perlu berjuang, terus dia juga punya banyak dukungan jadinya ia terlihat lebih beruntung dari Haibara, padahal sebenarnya sama saja, mereka sama-sama wanita yang tersakiti, kalau Ran peran utama, pasti Haibara bakal terlihat sebagai pelakor murahan apalagi Ran memang tidak tahu alasan sebenarnya Haibara selama ini. Betul kata Shinichi, yang bikin rumit itu ya Haibara sendiri karena terobsesi menjadi orang baik(yang juga bakal runtuh pelan-pelan hahaha!). Satu-satunya vilain di ff ini sebenarnya Shinichi sendiri. Saya ingin membuat hal itu jelas dengan mengambil sudut pandang Ran untuk menjelaskan dia juga wanita yang baik (meski saya pribadi tidak suka tokoh Ran di anime aslinya, bahkan Ran itu tokoh yang paling tidak saya sukai dari semua tokoh wanita karena kerjaannya nangis menyek-menyek padahal punya keahlian yang lumayan maskulin.)

Yang terakhir, saya mau tanya, apakah chapter di ff ini terlalu panjang? Beberapa waktu lalu saya menemukan (di ff saya yang lain) ada yang bilang bahwa 2k-3k word itu masuk kategori normal dan 5k+ dalam satu chap itu terlalu panjang dan mungkin pembaca merasa bosan. Saya merasa khawatir karena, you know, hampir seluruh cerita saya 1 chapternya berisi 4k+! Aduh gimana ini, bahkam di fandom kpop 1chapter saya bisa habis 10k+ :')

Oh iya, saya membuka akun ig dan tw untuk promosi tulisan2 saya di ikanteri43kg silahkan follow kalo berkenan. Dan bisa support saya juga di trakteer. id/ikanteri43kg (please!)

Thanks for read, leave your review, and correct me if you find any mistakes.